Title: Different
Pair: ChanHun (Chanyeol-Sehun)
Other pair: temukan saja di dalamnya
Genre: YAOI of course, INCEST, romance
Rate: M
ChanHun
.
.
.
.
.
Sehun memeriksa ponselnya, tidak ada panggilan atau pesan sama sekali dari Chanyeol.
Ia mengakui bahwa sikapnya cukup kejam ketika terakhir kali bertemu dengan hyung-nya itu. apa Chanyeol begitu terpukul akibat perkataannya?
Tapi Sehun sudah tidak tahan lagi dengan perbedaan prinsip diantara dirinya dan Chanyeol. mengapa Chanyeol begitu ingin mempertahankan jabatan dan kemewahan yang dimilikinya dari Grandma?
Sehun ingin dia dan Chanyeol mengabulkan permintaan sang Ibu sebelum meninggal dahulu, Ibu ingin mereka terus bersama dan saling menjaga satu sama lain.
Namun karena keegoisan masing-masing, mereka tidak bisa mengabulkan permintaan Ibu.
Sudah dua minggu Sehun dan Chanyeol tidak saling menghubungi.
Rasanya ada yang kosong, Sehun sudah terbiasa dengan kehadiran Chanyeol di sisinya maka kini dia merasa sangat kosong ketika Chanyeol tak ada.
"hah.. kenapa si loper koran itu selalu mengirim koran? Aku tak pernah membacanya" Minseok melempar koran ke atas meja makan.
Sehun menyeruput kopinya pelan sambil memandangi koran tersebut, "koran? Kau berlangganan koran memangnya?"
"aku sudah bilang pada anak itu bahwa aku tidak berlangganan koran, tapi dia masih saja mengirimkan koran ke sini setiap pagi" setelah berkata begitu, Minseok menyikat giginya.
Sehun mengambil koran itu, dia membukanya dari halaman pertama. "hyung, koran itu bermanfaat. Kau harus membacanya karena koran membuka wawasanmu" lalu Sehun tidak mendengar jelas apa yang Minseok katakan karena pria itu bicara dengan sikat gigi yang masih berada di dalam mulut.
Ia terkejut ketika membuka halaman ketiga, di sana terdapat artikel yang tertulis tentang wajah baru Presiden Direktur perusahaan keluarga Park.
Chanyeol bukan lagi Presiden Direktur, tapi gadis ini? wajah gadis ini pernah dilihat oleh Sehun. ah tentu saja, gadis ini adalah tunangan Chanyeol. lalu apa yang terjadi? Sehun tidak mengerti.
Ada sesuatu yang tidak beres. Sehun harus bertemu dengan Chanyeol sekarang.
"hyung, aku pamit ya!"
"apa? kau sudah mau berangkat? Tapi kuliah masih dimulai satu setengah jam lagi!" teriak Minseok yang baru menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
Sehun tidak menghiraukan Minseok lagi, dia sedikit berlari hingga sampai ke halte bus. Dia harus memastikan bahwa Chanyeol baik-baik saja karena berita ini sungguh mendadak.
Setelah perjalan lebih kurang selama dua puluh menit, Sehun sampai di depan rumah Chanyeol.
Menjadi ragu untuk masuk atau tidak karena mereka masih bertengkar. Tapi rasa khawatir Sehun mengalahkan egonya, dia pun masuk ke dalam rumah Chanyeol tanpa menekan bel lagi.
Chanyeol tidak akan mengunci pintu ketika sedang di rumah, jadi Sehun mendapatinya tengah sibuk menelpon orang sembari berjalan mundar-mandir di teras belakang.
"tidak Hyorin tidak, aku akan memakai sisa uang yang ada untuk menjalankan bisnis baru. Aku butuh relasi bisnis yang tepat"
Sehun melangkah pelan mendekat pada Chanyeol ─meski dalam jarak yang masih sedikit jauh.
Saat itu Chanyeol menyadari kehadiran Sehun. "aku akan menghubungimu lagi nanti" ia meletakkan ponselnya di atas sofa lalu memandang sepenuhnya pada sang adik.
"apa.. yang terjadi?" Sehun bertanya dengan nada canggung.
"tidak apa-apa, semua baik-baik saja. apa kabarmu?" Chanyeol bahkan baru ingat bahwa terakhir kali mereka bertemu adalah saat Sehun marah padanya dua minggu lalu. Dia sampai lupa menghubungi Sehun kembali karena sibuk menjalankan rencana baru.
"aku baik.." Sehun mengangguk pelan, "ada apa dengan perusahaanmu? Kau.. sudah tidak menjadi Presdir lagi?"
Raut wajah Chanyeol mengeras, namun mau tidak mau dia mengangguk pada pertanyaan Sehun barusan.
"aku melihatnya di koran" lanjut Sehun lagi.
"ya, beritanya sangat cepat menyebar. Aku rindu padamu" Chanyeol memeluk Sehun begitu erat lalu mencium pucuk kepala Sehun dengan lembut. "aku minta maaf soal yang terakhir kali"
"tidak apa-apa." Sehun tidak menyangka ini semua terjadi. Chanyeol sudah tak menjadi Presdir lagi, bukankah ini bagus? Sehun bisa membantu Chanyeol membuka usaha baru di tempat yang jauh, jauh dari segala masalah yang ada di sini.
"terimakasih kau sudah khawatir padaku"
Sehun merona tapi wajahnya tetap sedatar mungkin. "aku tidak khawatir.."
"ayolah akui saja, kau datang ke hadapanku sekarang setelah membaca berita di koran. Itu karena kau khawatir padaku"
"bagaimana bisa kau sudah tidak menjadi Presiden Direktur lagi?" ini yang harus Sehun tanyakan sejak tadi.
Chanyeol terdiam, dia menjauh dari Sehun lalu menuju ke dapur untuk membuatkannya minuman sementara Sehun menatap Chanyeol curiga, dia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"kenapa tunanganmu yang mengambil alih perusahaan?"
"dia menyabotase semuanya, semudah membalikkan telapak tangan kini perusahaan itu sudah beralih padanya. ia dendam padaku karena aku memutuskan pertunangan"
Sehun terkejut di dalam hati namun matanya lebih memandang sendu pada punggung hyung-nya. Chanyeol pasti sangat depresi sekarang.
"wanita itu gila.." gumam Sehun. "lalu apa yang akan kau lakukan?"
"tentu saja aku akan membuka bisnis baru, aku harus tetap membawa nama Grandma dengan baik dalam dunia bisnis"
"kau mau membuka bisnis apa?" Sehun duduk di sofa ketika Chanyeol sudah membawakan teh untuknya.
"belum terpikirkan untuk saat ini, setidaknya aku masih punya uang untuk merebut kembali semua yang direnggut dariku" Chanyeol memandang lantai dengan amarah tertahan, tentu saja dia tidak akan emosi di depan Sehun.
"pikirkanlah bisnis yang menjanjikan, tidak usah terburu-buru" Sehun meminum tehnya dengan pelan, diam-diam menghela napas karena putus asa. Chanyeol sudah pasti tidak akan mau ikut dengannya pindah dari Seoul.
"yang membuatku semakin geram adalah; Ayah bekerja sama dengannya untuk merebut perusahaan"
Hampir saja Sehun menyemburkan tehnya, namun itu tidak terjadi. "apa?!"
"Yongra menebusnya dari penjara, meminta bantuan Ayah untuk membujuk para pemegang saham yang mana sejak awal tidak pernah menyukaiku sebagai Presdir. Mereka menganggapku selamanya hanyalah anak kecil yang tidak tau-menau soal bisnis"
"tapi yang kulihat sepertinya mereka semua menghormatimu"
"tentu saja aku tau mereka membicarakan aku di belakang. Ketika Yongra menawarkan peluang untuk menjatuhkanku, tentu saja mereka akan bergabung"
Sehun mengusap punggung Chanyeol, "tidak terpikirkan olehmu menjadi pebisnis adalah sesuatu yang melelahkan? Kau tidak bosan?" perlahan-lahan Sehun mulai melancarkan bujukkannya.
"maksudmu?" Chanyeol menoleh pada wajah cantik adiknya.
"kupikir pekerjaan lain yang lebih bagus itu banyak, dan juga tidak hanya ada di kota Seoul"
Chanyeol berpikir keras akan maksud ucapan Sehun.
"kau membuka bisnis baru, mengatur semuanya lagi dari awal, berpikir keras tentang modal, berkecimpung lagi ke dalam gelapnya dunia bisnis. Apa kau tidak merasa lelah?"
"Sehun, apa kau berusaha untuk mengajakku pergi dari sini seperti yang kau bicarakan saat kita bertengkar terakhir kali?"
Sehun meletakkan cangkir tehnya di atas meja kemudian balas menatap Chanyeol dengan tajam. "kau butuh ketenangan, hyung. hidup seperti Pangeran Kerajaan pasti membuatmu tertekan, apalagi kau mengalami kesulitan seperti sekarang"
"Sehun, aku mohon jangan membahas ini sekarang"
"hyung, kita bisa pergi ke tempat yang jauh.. melupakan semua masalah yang ada di sini. Menjalani hidup baru adalah sesuatu yang bagus"
Tidak, Sehun masih penasaran, masih ingin mencoba agar Chanyeol terbujuk olehnya.
"kau tidak harus─"
Lalu ucapan Sehun terputus ketika Chanyeol mengulum bibirnya, tidak segan-segan menghisapnya agar Sehun benar-benar berhenti bicara.
"eunhh!" Sehun mendorong kedua bahu Chanyeol, namun kedua lengan Chanyeol justru mengangkat tubuhnya seperti gendongan pengantin baru.
Ciuman merekapun terlepas, napas mereka terengah di depan bibir satu sama lain. "aku hanya ingin kau, Sehun. sekarang" ucap Chanyeol penuh penekanan.
Sehun siap untuk sesuatu yang terjadi selanjutnya, ia tidak menyangka Chanyeol benar-benar tidak mau memenuhi keinginannya untuk menjalani hidup yang baru.
.
.
.
.
.
"eunhh Chanyeol" Sehun meremas rambut Chanyeol hingga berantakan ketika mulut Chanyeol sibuk mengerjai puting kirinya.
Kedua kaki Sehun yang Chanyeol anggap sebagai kaki termulus di dunia dan hanya miliknya itu mengangkang lebar dengan indah, dengan pinggul Chanyeol berada di antaranya.
Bibir Sehun yang memerah bengkak terus terbuka, mendesahkan nama Chanyeol serta kata-kata gairah lainnya yang mengekspresikan bagaimana ia menikmati hantaman penis Chanyeol pada rektum dan prostatnya.
Dengan lembut Sehun membelai punggung Chanyeol sekaligus mengusap keringatnya, memperhatikan Chanyeol yang mengerjai tubuhnya sedikit berbeda dari biasanya karena kini Chanyeol bermain lebih kasar.
Sehun mengerti, Chanyeol pasti terbawa efek frustasi.
"mhh kau begitu cantik, Sehun" Chanyeol mengangkat kaki kanan Sehun lalu ditekuk hingga ke dada adiknya itu, membuat penisnya menyodok lebih leluasa di dalam.
"arghh lebih.. pelan nghh" pinta Sehun susah payah, dia menggigit ibu jarinya untuk menghantarkan rasa perih pada rektumnya.
Chanyeol menggenjot Sehun sambil menciumi kembali dadanya, tangan kanannya menahan kaki Sehun untuk terus tertekuk.
Ia seperti tuli akan pekikan Sehun yang tersiksa, Chanyeol menikmati dengan baik bagaimana indahnya tubuh adiknya.
Tangan kiri Sehun meremas bantal dengan kencang seiring hentakkan penis Chanyeol di prosatnya, urat-urat di batang yang besar itu terasa membuat rektum Sehun robek seketika.
"oh Tuhan! Chanyeol akhh"
Chanyeol menggerakkan pinggulnya lebih kasar, dia menekuk kaki Sehun yang sebelah kiri lalu menahan keduanya agar dia lebih puas masuk dan keluar.
Tak tahan lagi, Sehun mencapai klimaksnya lebih dulu, menyembur hingga mengenai abs Chanyeol. penis itu tidak tersentuh sama sekali oleh tangan Chanyeol maupun tangan Sehun sendiri.
"eunhh ahh" Sehun mencengkram kedua bahu Chanyeol, bahkan tanpa sadar hingga bahu Chanyeol memerah. "hentikan!" akhirnya ia membentak.
Chanyeol refleks menghentikan seluruh gerakannya, ia menatap Sehun yang masih mengatur napas dengan wajah memerah.
"ada apa denganmu? Kau tidak seharusnya sekasar ini!"
"aku melakukan seperti biasanya, apa yang salah?"
Sehun beranjak duduk, dia menatap Chanyeol dengan ekspresi keras andalannya. "dengar, aku tau kau sedang banyak masalah.. tapi jangan jadikan aku seperti aku ini adalah samsak tinjumu"
Terpaku.
Chanyeol menyesali apa yang dia lakukan sejak tadi, dia melihat ke bawah, lubang Sehun sedikit meneteskan darah dan menodai sprei kasurnya.
Sehun mengusap pipi Chanyeol dengan lembut, "haruskah aku memperingatkanmu lagi?"
"maafkan aku" Chanyeol menghela napas sambil memejamkan matanya, dia memeluk Sehun dengan erat, mengecup tiap inci bahu Sehun yang mulus bukan main. "aku tidak bermaksud seperti itu"
"maka dari itu.." lupakanlah obsesi gilamu, Park Chanyeol. "tenangkanlah dulu dirimu, baru setelah itu kau bebas menyentuhku"
"tidak" Chanyeol seperti mencengkram Sehun dalam pelukannya, "aku membutuhkanmu, aku merindukanmu, tidak kah kau merasakan hal yang sama?"
"aku selalu merasakan hal yang sama. niatku ke sini adalah ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja, juga ingin menenangkanmu tentu saja. tapi apakah kau pikir aku tidak merasakan sakit?"
"aku akan lebih lembut"
Ciuman mereka menyiratkan rasa cinta mendalam, menyiratkan bahwa Chanyeol meminta maaf. Sehun menerima pergerakan bibir Chanyeol kemudian membalasnya juga dengan lembut.
Perlahan Chanyeol menarik Sehun untuk duduk di pangkuannya, membantu pinggul seksi Sehun bergerak naik dan turun melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda tadi.
Tidak ada suara, desahan mereka hanya diiringi oleh napas memburu meski mulut mereka sama-sama terbuka.
Tatapan Sehun layaknya orang mabuk ketika berkali-kali prostatnya mengenai penis Chanyeol, sementara yang lebih tua menikmati ekspresi Sehun yang langka ini sambil memainkan tonjolan manis di dada adiknya.
Naik dan turun,
Kemudian maju dan mundur.
Semua itu mereka nikmati dengan keringat membanjir serta gerakan sensual yang panas.
Sehun mencintai Chanyeol, begitupun sebaliknya.
Ia hanya berharap masalah yang mereka hadapi nanti tidak membuat dirinya atau Chanyeol semakin gila.
ChanHun
"Presdir, kau harus memutuskan hal yang tepat untuk menggunakan uangmu" Hyorin mengatakannya dengan mata dan tangan yang terfokus pada laptop.
"tentu aku akan menggunakan semuanya untuk bisnis baru. Kau sudah menemukan relasi yang tepat?"
"beberapa relasi bisnis Nyonya besar yang berada di Eropa tertarik dengan tawaranmu, Presdir. Ini adalah kabar baik"
Chanyeol memejamkan mata, Dewi Fortuna masih berpihak padanya. "mereka tidak menaruh curiga pada sabotase yang terjadi di perusahaan?"
"sepertinya mereka tau, tapi mereka memandangmu sebagai pebisnis hebat, Presdir. Tidak ada salahnya bagi mereka menanam saham di bisnismu yang baru"
Chanyeol mengepalkan tangannya dengan kencang ketika mengingat bagaimana liciknya sang Ayah, bekerja sama dengan mantan tunangan yang sama bejatnya.
"aku ingin semuanya menjadi sempurna, Hyorin"
Hyorin mengalihkan perhatiannya pada sang Presdir, ia menatap was-was ke arah Chanyeol. "maksud Presdir?"
"aku benci pada orang-orang yang juga membenciku"
"aku mengerti, aku juga membenci mereka. maaf aku mengatakan ini di depan Presdir, tapi mereka itu memang setan jalang"
"ya, dan aku ingin menyingkirkan apapun yang menghalangi jalanku"
Hyorin meneguk ludahnya kasar, "aku berharap kau tidak memiliki rencana buruk, Presdir"
"mata dibayar dengan mata, nyawa dibayar dengan nyawa" Chanyeol menatap Hyorin dengan tajam, "kau tau seberapa sakit hatiku ketika tau bahwa Grandma kembali kritis karena ulah mereka? kau tau bagaimana sistem otakku semakin berantakan saat tau bahwa Pak Choi mengalami kecelakaan parah disebabkan oleh mereka?"
Gadis di depannya menunduk lalu mengangguk pelan.
Pengkhianatan merubah Park Chanyeol menjadi pribadi yang penuh dendam.
Ataukah mungkin ini adalah sisi gelap Chanyeol yang tidak pernah dia perlihatkan?
Hyorin hanya harus tetap berhati-hati mendampingi Presdir-nya. Jika tidak dikontrol, Chanyeol bisa saja melakukan hal jahat yang berujung fatal bagi dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
"Nenek rindu, kapan kau akan ke Jeju?"
Sehun tersenyum kala mendengar suara neneknya lewat sambungan telpon saat ini. "mungkin saat liburan nanti" saat aku sudah punya uang, lanjutnya dalam hati.
"Nenek juga rindu pada Ibumu. Kau merawat makamnya dengan baik?"
"tentu saja, tapi akhir-akhir ini aku sedang sibuk kuliah jadi aku belum sempat mengunjunginya lagi"
"katakan pada Nenek apa yang kau butuhkan, Sehun. Nenek tidak ingin kau serba kekurangan di sana"
"Nenek, aku baik-baik saja. aku bekerja paruh waktu dan selalu menabung"
Terdengar suara isak tangis dari seberang sana. Sehun tau pasti Neneknya menahan air mata sejak tadi, dia juga jadi ingin menangis kalau begini.
"cepat lah kunjungi Nenek.. agar kau tidak kesepian"
Air mata Sehun meniti pelan, "liburan nanti aku akan ke sana. Bagaimana keadaan Kakek?"
"Kakek bekerja dengan baik, dia juga sangat rindu padamu"
"beritau Kakek jangan terlalu lelah"
"tentu sayang. Nenek menunggumu datang, sampai jumpa. Nenek sayang padamu"
"sampai jumpa Nenek, aku juga menyayangimu" lalu Sehun mengusap air matanya, menghembuskan napas agar tangisannya tertahan.
Ia melihat Jongdae dan Kyungsoo dari jendela kafe, kenapa mereka baru datang? padahal Sehun sudah menunggu lama.
"maaf membuatmu menunggu" Jongdae melambaikan tangan dengan senyuman tanpa dosa.
"sudah biasa" jawab Sehun pura-pura ketus lalu tertawa sendiri setelahnya.
Kyungsoo seperti biasa, tersenyum hangat padanya. "bagaimana keadaanmu, Sehun? kuliahmu lancar?"
"iya, tapi alasanku ingin bertemu kalian karena aku mau meminta bantuan untuk mencari pekerjaan baru"
"apa?!" Kyungsoo dan Jongdae kompak terkejut.
"tapi nanti kau sulit mengatur jadwal kuliahmu lagi, Sehun" Jongdae berkata khawatir.
"mau bagaimana lagi? aku tidak bisa hidup seminggu ke depan dengan uang tabunganku yang tersisa"
"kami bisa membantumu kalau masalah keuangan"
Jongdae melirik kaget pada Kyungsoo setelah pacarnya berucap seperti itu. "pacarmu bukankah orang kaya?"
"lalu?" Sehun menatap lesu, "apa kau menganggapku seperti laki-laki matrealistis?"
"bukan begitu" Jongdae buru-buru mengklarifikasi.
"sudahlah, bantu saja aku. jika kau menemukan tempat yang membutuhkan pekerja paruh waktu, hubungi aku ya"
Kyungsoo menatap sedih pada Sehun, "Sehun.."
Sehun tau bahwa teman-temannya merasa peduli padanya, tapi Sehun bukanlah seseorang yang lemah. "jangan pandangi aku begitu, aku sudah biasa sepeti ini. aku tidak perlu dikasihani, aku hanya minta sedikit bantuan"
"maafkan aku soal tadi, Sehun" sesal Jongdae.
"tidak apa-apa, mulutmu itu kan memang terkadang tidak tau situasi" Sehun berkata penuh penekanan yang membuat Jongdae semakin menunduk dalam.
Lagipula Sehun memang tidak ingin menyusahkan orang. Meminta bantuan pada Chanyeol? itu lebih tidak mungkin lagi, karena Chanyeol berada dalam keadaan yang tidak baik sekarang.
Keinginan Sehun untuk pindah ke tempat yang jauh kembali muncul.
"tapi kau sudah wajib militer kan?" tiba-tiba Kyungsoo bertanya, karena akan sangat menyedihkan untuk Sehun menjalani wajib militer tanpa Ibunya yang mendoakan di rumah atau mengunjunginya di akhir pekan.
"sudah" Sehun melirik bingung pada Jongdae yang ikut menjawab.
Jongdae nyengir, "kau kan cerita padaku sudah melakukannya setelah lulus sekolah"
"memangnya ada masalah jika aku belum wajib militer?" Sehun menatap Kyungsoo penasaran.
Kyungsoo hanya menggelengkan kepala, dalam hati dia merasa lega.
"kalian ada kencan setelah ini? kalau begitu aku pulang dulu"
"kau tau saja, Sehun" Jongdae menyeringai dengan senang, sementara Kyungsoo jadi merasa tidak enak dan memukul bahu Jongdae.
"aku akan menghubungimu kalau ada lowongan pekerjaan paruh waktu" ucap Kyungsoo.
"terimakasih, hyung. aku pulang dulu, sampai jumpa"
Jongdae dan Kyungsoo melambaikan tangan dengan kompak, mereka memperhatikan Sehun hingga anak itu keluar dari kafe.
Sehun sendiri juga sedang bergulat dengan pemikirannya. Ucapan Jongdae mengingatkannya pada Chanyeol, bagaimana keadaan hyung-nya hari ini? apa rencana bisnisnya berjalan lancar?
Ia merasakan ponselnya bergetar, tanda satu pesan masuk.
Apakah dari Chanyeol?
Kemudian Sehun membuka pesan tersebut.
From: unknown
Hari-hariku di penjara, selalu teringat padamu. Apa yang membuat wajahmu murung seperti itu? aku ingin memelukmu. Aku mencintaimu, Sehun.
Penjara?
Wajah murung?
Sehun terbelalak, dia melihat ke segala arah memastikan bahwa Huang Zitao tidak berada di sekitarnya. Tuhan, jangan.. jangan sampai Huang Zitao menemukannya kali ini.
Sial sial sial!
Sehun berlari dengan kencang, tidak peduli dengan pandangan orang yang bingung dan aneh terhadapnya.
Tiba-tiba sebuah mobil menekan klakson dari belakang, lalu berhenti di depan Sehun untuk menghalangi langkahnya.
"brengsek! minggir, bodoh! Kau bisa membahayakan nyawa orang!" Sehun memekik kesal.
Lalu pintu mobil itu terbuka, seorang pria menarik tangan Sehun dengan kasar lalu membawa Sehun masuk ke mobil secara paksa.
Ia dikejutkan dengan seorang wanita yang kini duduk di hadapannya. Sehun mengenalnya tentu saja, dia kan Kang Yongra.
"sejak awal aku menduga kau memiliki hubungan khusus dengan Yeollie" ia berujar penuh kesombongan.
"lalu?" Sehun tidak mengerti kenapa dia jadi disekap oleh wanita menjijikan ini?
"kau sudah merebut Yeollie dariku!"
"tidak sama seka─"
BUGH!
Sehun mengedipkan matanya beberapa kali setelah satu tinjuan mendarat di pipi kanannya. pengawal sialan di sampingnya yang melakukan hal barusan.
"apa sebenarnya hubunganmu dengan Yeollie?" Yongra sudah mulai tak sabar, dia bahkan menampar Sehun.
Oh bagus, pipi kanan terkena tinju lalu pipi kiri terkena tampar.
"kau hanya membuang-buang waktumu menyekapku seperti ini. sudah jelas kau tau bagaimana hubunganku dengan Yeollie-mu, tapi kau masih saja bertanya" Sehun mengejek pada kata Yeollie.
BUGH!
Sehun mengeraskan rahangnya, dia juga punya batas kesabaran.
"dasar brengsek!"
Baru saja Sehun menarik kerah baju pengawal Yongra, ia sudah diancam dengan pistol yang mengarah ke dahinya.
"kau membuatku kesal! Gara-gara kau, Yeollie sudah tidak peduli lagi padaku!"
"kau yang gila! Chanyeol sejak dulu tidak punya perasaan padamu!" Sehun menuding wajah Yongra, gadis itu terlihat menahan tangisnya.
"tapi aku mencintainya!"
"apakah menyabotase perusahaannya adalah bentuk tanda cinta untuk Chanyeol darimu?" Sehun memejamkan mata saat pengawal itu mendorong kepalanya menggunakan pistol, menandakan dia jangan banyak bicara.
Yongra diam, tapi dia masih menatap tajam pada Sehun.
"jangan menangisi pria yang bahkan sama sekali tidak mencintaimu"
Tapi Yongra justru sudah menangis, lalu teringat bagaimana dulu Chanyeol tidak pernah meresponnya sama sekali.
Chanyeol selalu mencampakkannya.
Ayolah, bagaimana aku bisa keluar dari sini?
Sehun terus melirik ke arah pistol yang diarahkan pada kepalanya.
Yongra tersenyum pedih. "lalu kau muncul, dan membuat segalanya bertambah hancur!"
Oh tidak.
PRANG!
Yongra berteriak dan menghindar ketika tiba-tiba kaca jendela pintu di sebelah mereka pecah.
Kesempatan bagi Sehun melempar jauh pistol dari tangan pengawal, lalu dia tersentak ketika mobil menabrak sesuatu di depan sana.
Si pengawal pingsan, namun Yongra terus berteriak histeris karena kaget oleh situasi.
Mobil sudah berhenti. meski Sehun tidak tau siapa yang memecahkan kaca dari luar, ia sungguh beruntung kali ini.
BRAK!
Sehun menendang kuat pintu mobil agar dia dapat keluar. setelah ia bebas, Sehun justru merasa tertiban sial lagi karena ternyata Zitao lah yang memecahkan kaca mobil dari luar. ia menggunakan motor dan kini segera menghampiri Sehun untuk menolongnya.
"Sehun! kau baik-baik saja?"
Dengan cepat Sehun mengambil langkah lebar untuk berlari, meski pinggangnya terasa sakit saat ini.
"Sehun! aku rindu padamu!" Zitao berusaha mengejarnya.
"rindu apa?! dasar gila!" teriak Sehun sambil memegangi pinggangnya.
Tiba-tiba saja suara senjata api yang terlepas menggema hebat ke seluruh kompleks apartemen yang lumayan sepi itu.
"Akh! Aku mati!" Sehun kaget karena ternyata ia tetap ditembak oleh pengawal Yongra.
Tidak.
Bukan dia.
Sehun memeriksa seluruh tubuhnya, tidak ada sama sekali yang terluka ─terkecuali pinggangnya yang cidera─ lalu dia kembali terkejut karena di belakangnya, Huang Zitao berlutut di aspal sambil mencengkram bahunya.
Lalu terlihat Yongra yang memegang pistol dengan tangan gemetar, ia sendiri kaget karena salah menembak.
Dia tidak bisa menggunakan senjata, dan akhirnya ia bukan menembak Sehun melainkan orang lain.
"sialan! Aku harus bagaimana?" Sehun bingung antara harus kabur, atau menolong Zitao, atau malah mengejar Yongra.
Untuk apa dia menolong Zitao?
Untuk apa dia mengejar Yongra?
Oh tentu saja, dua orang ini harus dilaporkan ke Polisi!
"jangan kabur kau!" Sehun cepat-cepat bergerak karena melihat Yongra yang melepas sepatu hak tingginya lalu berlari menjauh dari mobil yang bagian depannya sudah rusak parah karena menabrak tiang lampu di pinggir jalan.
"Sehun.." suara serak Zitao terdengar.
Mau tidak mau Sehun memilih untuk mengurusi Zitao terlebih dahulu. Ia bersyukur karena mobil-mobil yang melintas di kompleks apartemen yang sepi itu mulai berhenti untuk menolongnya.
.
.
.
.
.
"Presdir!" Hyorin berteriak memanggil Chanyeol saat pria itu akan menaiki pesawat jet pribadinya.
"ada apa, Hyorin? Aku harus ke Cina sekarang. kau langsung saja ke Tokyo, nanti kutemui di sana"
"tidak, bukan masalah itu" gadis itu memberikan ponsel Chanyeol yang tertinggal.
"ah ya, aku lupa. Terimakasih"
"Presdir, sebaiknya baca pesan yang terkirim. Baru saja terkirim" ekspresi Hyorin nampak cemas saat mengatakannya.
"pesan apa?"
Chanyeol membuka pesan yang terkirim. Ia terkejut saat membaca pesan dari Sehun, dadanya bergemuruh emosi.
"tunda penerbanganku!"
ChanHun
Sehun mengerang pelan ketika seorang suster selesai membebat pinggangnya dengan perban.
"jangan terlalu banyak bergerak dulu, Tuan"
"aku tau, terimakasih suster" Sehun kembali memakai bajunya dengan gerakan yang hati-hati.
"kami akan memeriksa kejiwaannya lebih lanjut jika memang benar selama ini kau diuntit olehnya, Tuan Park" ujar sang Dokter.
"sebelum ini aku pernah membawanya ke kantor Polisi, tapi dia berhasil dibebaskan entah oleh siapa dan sekarang berulah lagi"
"kalau begitu kami akan mengurusnya dulu, istirahat lah Tuan Park"
"terimakasih, Dokter"
Sehun melihat Dokter itu yang keluar dari ruang UGD, berselisih dengan sosok Chanyeol yang baru saja datang dengan tergesa-gesa.
"apa yang terjadi padamu?! Ada apa sebenarnya?!" ia bertanya frustasi sambil mengatur napas.
"Yongra yang membuatku jadi begini. laporkan dia pada Polisi, kalau aku yang melapor, Polisi tidak akan percaya" kata Sehun sebal.
Chanyeol mengusap kasar wajahnya. Sial sekali, Yongra sudah bermain terlalu jauh.
"tentu saja aku akan melaporkannya. Huang Zitao bersamamu?"
"dia menolongku tadi" benar juga, Sehun jadi kasihan pada Zitao. "tapi dia masih gila, jadi tetap harus dibawa ke Rumah sakit jiwa"
"yang penting kau baik-baik saja" Chanyeol memeluk Sehun dengan erat.
"aduh! Pinggangku sedang cidera, tidak bisa bergerak spontan" Sehun meringis, ia memegangi pinggangnya lagi.
"maafkan aku" pria itu langsung menggendong Sehun lalu membawanya keluar dari ruang UGD.
Sehun menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol sambil memejamkan mata, "aku sangat lelah, hyung" setelah kejadian menakjubkan yang secara tiba-tiba muncul lalu membuat Sehun hampir mati hari ini.
"maaf aku terlambat menolongmu" ia mencium kening Sehun dengan lembut.
Ya, karena kau sibuk dengan obsesi barumu.
Sehun ingin menangis rasanya.
.
.
.
.
.
"apakah belum ada sama sekali, hyung?" Sehun tersambung dengan Kyungsoo sejak semenit yang lalu melalui telpon.
"belum kutemukan. Kalau ada, aku pasti akan langsung menghubungimu"
Sehun mengusap rambutnya dengan frustasi. "maaf, aku hanya sangat membutuhkannya"
Kyungsoo terdiam sejenak.
"aku mengerti, Sehun. aku pasti memabantumu"
Ia melirik ranjang di sisinya, Chanyeol tidak berada di sana.
Sehun mengalami cidera yang merepotkan di pinggangnya sementara Chanyeol sejak tadi masih tetap sibuk bolak-balik melewati kamar mereka sambil menelpon orang dan membawa dokumen-dokumen entah apa itu.
Hanya Chanyeol tempat Sehun bergantung sekarang, dia satu-satunya saudara kandung Sehun dan Sehun sangat mencintainya.
Apakah keinginannya terlalu muluk?
Ia hanya ingin Chanyeol menemaninya.
"ada yang ingin kau ceritakan?" suara Kyungsoo membuyarkan lamunan Sehun.
Kyungsoo orang yang tidak terlalu banyak macam-macam, Sehun bisa saja bercerita padanya.
"ingin, tapi bukan sekarang. aku belum siap"
"apa yang terjadi? Kau membuatku khawatir"
"tidak, hyung. semuanya baik-baik saja, aku hanya butuh pekerjaan paruh waktu" dengan cidera seperti ini? Sehun menghela napas saja.
"baiklah, jika kau ingin bercerita padaku, kau bisa hubungi aku kapan saja"
"terimakasih banyak, hyung. sampaikan salamku untuk Jongdae hyung"
"tentu. sampai jumpa"
"sampai jumpa" Sehun menutup sambungan, lalu dia melempar ponselnya ke sisi ranjang. namun setelahnya, ponsel itu berdering kembali dan Sehun melihat nama Minseok tertera sebagai pemanggil. "halo, hyung?"
"Sehun, ada sesuatu yang harus kau jelaskan padaku" kata Minseok dengan tegas.
"jelaskan soal apa?"
"apa kau mengenal Huang Zitao?"
Kedua alis Sehun menyatu, ia menyernyit kaget sekaligus bingung. Dari mana Minseok mengetahui hal ini?
"Huang Zitao adalah adik sepupu Victoria, dan saat ini dia terus memanggil nama Sehun seperti orang gila. Apa kau mengenalnya? Beritau aku bahwa Sehun yang dimaksudnya bukanlah kau"
Huang Zitao adalah adik sepupu Victoria?
Sehun tersenyum miris.
Dunia ini sempit sekali ternyata.
"Sehun" kini suara Victoria yang terdengar. "apa yang sebenarnya sudah Zitao lakukan padamu selama dia di Seoul? Apa dia pernah melakukan sesuatu yang buruk padamu sehingga waktu itu kau menjebloskannya ke penjara?"
Jadi Victoria lah yang menebus Zitao dari penjara?
"noona, Huang Zitao menerorku dengan selalu menguntitku kemanapun, dia selalu mengirimkan surat-surat aneh dan mengatakan bahwa dia mencintaiku"
Hening di seberang sana, namun tak lama kemudian Sehun mendengar suara isak tangis Victoria.
"aku minta maaf, Sehun. aku tidak pernah tau sebenarnya apa yang Zitao cari di sini, apa yang sebenarnya dia lakukan di sini, apa tujuannya di sini, aku sama sekali tidak tau. aku hanya menebusnya dari penjara agar dia bisa menjalani hidupnya dengan baik, tapi ternyata dia berulah kembali sekarang"
Ini seperti sebuah palu besar yang menghantam kepala Sehun hingga remuk.
Kejutan dari Tuhan untuk yang kesekian kalinya, Sehun benar-benar tidak menyangka semua ini saling berhubungan sejak awal.
"dan sekarang Dokter mengatakan bahwa Zitao sudah mengalami gangguan jiwa, ia mengakibatkan sebuah kecelakaan di jalan raya.. dan itu melibatkan dirimu?"
Sehun memijat keningnya, "ya, noona. Aku berada di sana saat kecelakaan itu terjadi"
"sungguh Sehun, aku tidak tau bahwa selama ini dia menerormu. Maafkan aku" Victoria berucap dengan penuh sesal.
"tidak apa-apa noona, aku lega bahwa Zitao sudah berada di tangan Dokter yang bisa mengurusnya. Tapi aku juga berterimakasih padanya, karena sebenarnya dia menyelamatkanku dalam kecelakaan itu"
.
.
.
.
.
Sudah dua hari Sehun beristirahat di rumah Chanyeol.
Mereka berdua di dalam rumah, tapi Sehun tetap merasa bahwa dia sendirian.
Chanyeol tidak punya waktu untuk menemaninya. Meski begitu, Chanyeol terkadang masih bertanya khawatir atau membantu Sehun mengurus cideranya.
Tapi Sehun tetap risih melihat Chanyeol yang tidak jauh berbeda dengan Huang Zitao sekarang.
Ia seperti orang gila. Sesekali marah, sesekali ramah, sesekali terlihat frustasi.
Seperti saat ini.
"brengsek! coret dia dari daftar calon penanam saham, aku bisa cari yang lain" lalu dia melempar ponselnya ke meja kerja begitu saja.
"hyung, tenangkan dirimu" Sehun berkata kalem.
"aku tidak bisa tenang Sehun, semuanya berkumpul menjadi satu di dalam pikiranku" Chanyeol kembali sibuk dengan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, kemudian mengetik sesuatu pada komputernya.
"memangnya apa saja yang kau pikirkan?"
"semuanya. Bisnis baruku, uangku, musuh bebuyutanku, dan Grandma"
Sehun tertohok di hati dan jantungnya. Hanya itu saja yang Chanyeol pikirkan?
"apa keadaan Nenekmu memburuk?"
"entahlah, aku tidak jadi berangkat ke Cina saat kau bilang mengalami kecelakaan" Chanyeol tetap fokus pada komputernya.
"jadi kau menyalahkanku?"
Chanyeol seketika berhenti bergerak, dia memandang Sehun dengan penyesalan sekaligus ketakutan.
"bukan begitu maksudku, aku hanya─"
"kau tidak memikirkanku, hyung"
"Sehun, aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak mungkin tergesa-gesa menjemputmu di Rumah sakit waktu itu kalau aku memang tidak memikirkanmu"
Sehun berdecih, dia beranjak dari sofa untuk menuju ke pintu.
"aku tau mungkin aku egois, tapi aku hanya butuh bantuanmu saat ini. aku cidera, dan karena ini aku akan sulit mencari pekerjaan paruh waktu"
Chanyeol menghampirinya dan langsung menarik tangan Sehun untuk berhadapan dengannya.
"kau mau cari pekerjaan paruh waktu lagi?"
"ya. kau pikir aku tidak perlu cari uang? Aku harus menanggung biaya kuliahku dan juga makanan untuk mengisi perutku"
Oh Tuhan, Chanyeol apa yang sudah kau lakukan selama ini? bahkan eskpresi Sehun saat ini seakan mengatakan bahwa dia sudah bosan hidup.
"aku bisa membiayaimu, Sehun. aku sudah katakan padamu, kau cukup percaya saja padaku"
"dalam keadaanmu yang seperti ini?! kau bahkan tidak memikirkanku!"
"aku peduli padamu!" Chanyeol berkata lantang penuh emosi.
"kalau begitu ikut denganku"
Sehun menyipitkan matanya, mencoba mencari ketulusan dalam tatapan Chanyeol namun ia tidak menemukannya.
"apa maksudmu?"
"ikut denganku, pergi dari tempat ini, memulai hidup baru seperti keinginan Ibu"
"itu bukan keinginan Ibu, tapi keinginanmu!"
Sehun tersentak.
Dadanya sudah bergemuruh hebat, dia melirik sinis pada ponsel Chanyeol yang kembali berdering. Akhir-akhir ini deringan ponsel Chanyeol adalah hal yang paling Sehun benci di dunia.
Chanyeol bergetar, menyesali apa yang barusan dia katakan. "Sehun.. aku tidak bermaksud─"
"urusi saja bisnismu yang baru dan juga keselamatan Nenekmu" pengucapan Sehun sudah seperti sebuah final.
"tidak, Sehun!" Chanyeol mencengkram Sehun dalam pelukannya, ia tidak sadar bagaimana Sehun menahan sakit akan cidera pinggang sekaligus sakit di dalam hatinya.
Sehun mendorong Chanyeol dengan kuat hingga Chanyeol pasrah terhadap perlakuan adiknya. matanya nanar memandang Sehun, dia belum siap jika harus kembali berpisah dengan Sehun.
Inilah yang memang harus mereka hadapi.
"aku.. dan kau sangat berbeda" Sehun tersenyum pedih, "kau menganggap bahwa kau bisa mempertahankan aku maupun obsesimu sekaligus, tapi pada kenyataannya kau bahkan sudah tidak menyadari kehadiranku di sini"
"aku mencintaimu, Sehun" Chanyeol dengan lelah menggenggam tangan Sehun, tapi Sehun menepisnya kembali.
"kita memang tidak bisa bersama, hyung. bagaimanapun juga, hubungan ini sudah salah sejak awal. Kita adalah saudara kandung"
"aku mohon, Sehun!" pria itu berusaha menarik Sehun ke dalam pelukannya lagi, tapi Sehun melangkah mundur darinya.
Sehun menjilat bibirnya gugup, "kita sangat berbeda, hyung" ini berat, sungguh berat, tapi Sehun tetap harus mengatakannya. "kau dan keinginanmu, lalu aku dan keinginanku. Kita sangat jauh berbeda"
"jangan tinggalkan aku!" Chanyeol frustasi ingin memeluknya, tapi Chanyeol tidak ingin menyakiti tubuh Sehun lebih dari ini lagi.
"kita tetap saudara, aku tetap menganggapmu sebagai hyung-ku. Tapi maaf, lebih baik kau dan aku tidak saling bertemu"
Chanyeol tidak siap jika hubungan mereka kembali seperti dulu.
.
.
.
.
.
To be continue
Abaikan saja typonya ya, kalau merasa ceritanya udah engga asik atau udah engga jelas, ya engga usah dibaca. Ini imajinasiku, penggambaranku, aku berusaha menjadi Chanyeol sekaligus menjadi Sehun di sini agar lebih terlarut.
Makasih buat kalian semua yang selalu menunggu ffku, mereview, follow, dan fav *bow* aku sayang kalian.
p.s: maaf kalau membuat kalian kecewa dengan alurnya.
