Kookie!

Manusia berubah, bersama berubahnya ruang dan waktu.

Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung.

Taehyung memandangi wajah lelap Jungkook yang begitu damai. Pria itu sesekali mengusap lembut pipi Jungkook yang menggemaskan. Memikirkan perasaannya yang masih tidak karuan sampai detik ini. Karena harusnya memang tidak ada yang salah. Tidak ada yang mengusik Taehyung. Tidak ada yang berubah dari Jungkooknya. Tapi Taehyung tetap merasa salah.

Mungkin satu hal yang tidak ia sadari.

Dirinya yang berubah.

"Selamat pagi Kookie." Taehyung tersenyum saat melihat Jungkook menggeliat dari tidurnya. Mata bulatnya mengedip membiasakan diri dengan cahaya. Jungkook balas tersenyum, bergerak mendesal ke pelukan Taehyung.

"Selamat pagi juga hyungie." Dalam hatinya Jungkook bersorak begitu gembira. Karena Taehyung kembali, pria kesayangannya kembali memanggilnya 'kookie' yang membuat Jungkook cukup yakin bahwa Taehyung baik-baik saja.

Tapi

Jungkook lupa lautan itu luas, dan dalam. Dia tidak bisa hanya melihat permukaan untuk memastikan laut itu tenang. Harusnya dia menyelam agar tahu betapa dalam dan kuat arus di laut itu. Harusnya dia tidak menilai begitu saja.

"Ayo bangun, aku harus ke kantor sayang." Taehyung menggoyang kecil bahu Jungkook yang masih memeluknya begitu erat. Jungkook mendongak lalu mengangguk.

"Hyung mandi, aku akan memasak." Dengan penuh semangat Jungkook bangkit dari ranjang, meraih sandal dengan kakinya, beranjak dengan senandung-senandung lembut dari belah bibirnya. Meninggalkan Taehyung yang masih memaku di tempatnya.

"Sadarkan dirimu Kim." Taehyung memijat kepalanya frustasi.

...

Taehyung sudah sejak 10 menit lalu menunggu Jungkook di meja makan. Sembari memeriksa beberapa pekerjaan di laptopnya. Kacamata full frame yang bertengger indah di wajahnya menambah kesan rupawan Taehyung di pagi hari.

"Hyungie ambilkan mangkok!" Taeriakan Jungkook dari dapur memecah konsentrasinya. Pria itu segera beranjak ke dapur, meninggalkan laptopnya sesaat setelah melepas kacamata yang sebelumnya ia pakai. Netranya mendapatai Jungkook yang tengah berusaha meraih mangkok yang sulit ia gapai. Taehyung mendekat, mengambil mangkok itu dengan mudah.

"Kenapa kamu bisa menaruh ini di rak, tapi tidak bisa mengambilnya? Aneh sekali." Ucap Taehyung kala menyerahkan mangkok itu pada Jungkook. Bocah yang di ajak bicara hanya cemberut menanggapi.

"Kalau menaruhnya aku masih bisa sampai, tinggal kudorong sedikit. Kalau mengambilnya jariku saja tidak menyentuh mangkoknya." Taehyung terkekeh.

"Besok taruh di bawah saja, aku tidak akan selalu bisa mengambilkan mangkok untukmu." Taehyung mengusak rambut Jungkook.

Jungkook diam, kalimat Taehyung sedikit mengganggunya. "Kenapa tidak bisa? Hanya mengambil mangkok, hyung melakukannya hampir setiap pagi kan?" Taehyung termenung, tatapan Jungkook padanya membuatnya sedikit gugup. "Kutanya kenapa hyung?"

"Kalau aku lembur, dan tidak di rumah saat kamu memasak. Siapa yang mau ambil?" Jawabnya. Taehyung berusaha keras mengontrol mimiknya setenang mungkin. Sungguh kalimat itu hanya kalimat biasa yang bahkan Taehyung saja tidak berpikiran aneh, tapi melihat tatapan Jungkook membuat Taehyung kebingungan sendiri.

Jungkook berbalik tanpa mengucapkan apapun, ia kembali sibuk dengan masakannya. Memasukkan makanan yang telah ia masak ke dalam piring dan mangkok yang telah ia siapkan. Taehyung menghela nafas, lalu beranjak kembali ke ruang makan.

Keduanya makan dalam diam. Tidak ada yang bicara. Taehyung berpikir apa dia melakukan kesalahan lain sampai ia di diamkan. Atau hanya karena masalah mangkok dirinya jadi korban kesewotan Jungkook. Sampai Taehyung akan berangkat Jungkook juga masih diam, dia akan menggumam, menggeleng atau mengangguk untuk menanggapi Taehyung kalau pria itu bicara dengannya.

Dan ketika Taehyung sudah pergi. Jungkook mendesah lelah "Aku ini sebenarnya kenapa." Ucap Jungkook frustasi.

...

Beberapa waktu lalu Jungkook menelfon Jimin memintanya untuk membelikan vakum cleaner baru di toko elektronik. Mikiknya yang lama sudah tidak berfungsi jadi dia butuh Jimin dan mobilnya untuk ia suruh-suruh.

Bel rumahnya sudah berbunyi beberapa kali. Jungkook sedang cuci piring jadi memang sedikit lama. Dia sudah berteriak pada Jimin supaya Jimin langsung masuk saja. Toh dia tau kode password rumah Jungkook. Tapi tetap saja belnya tetap tidak berhenti berdering.

"Sebentar Jim." Jungkook mengelap kedua tangannya. Lalu mendekat ke arah pintu, membukanya dengan kesal sesekali merutuki Jimin dan bokog besarnya. "Kan sudah ku suruh masuk." Matanya membola, karena itu bukan Jimin.

...

"Ayah mau apa kemari." Pria yang Jungkook panggil ayah itu, langsung menerobos masuk. Tanpa permisi, tanpa izin. Jungkook mengekor, menatap pria paruh baya itu duduk di sofa rung tengahnya begitu tidak sopan.

"Rindu saja pada putraku. Ah apa kau punya minum?" Jungkook mendekat. "Mau minum apa?" Tanyanya.

"Alkohol."

...

Jungkook sudah berkali-kali menelfon Jimin. Mengirimi pria itu agar segera datang. Jungkook tidak suka hanya berdua dengan pria yang dengan terpaksa harus ia panggil 'ayah'. Dia bukan ayah Jungkook, hanya saja sial karena dia jadi suami dari Ibunya Jungkook. Bedebah sial.

"Jimin kamu dimana." Monolognya panik. Jungkook berdiam diri di dapur setelah membuatkan minum ayahnya. Bukan Alkohol tentu saja. Jungkook tidak punya barang semacam itu dirumahnya, baik dirinya ataupun Taehyung bukan tipe orang yang suka mabuk.

"JEON JUNGKOOK KEMARI!" Gema suara pria itu membuat Jungkook bergidik ketakutan. Jungkook hilang arah, takut, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi tidak menuruti ayahnya berarti cari mati jadi Jungkook berlari kecil ke arah rung tengah.

"Kenapa?"

"Di mana suami mu?" Pria itu bangkit, mendekati Jungkook.

"Kenapa ayah ingin tahu?"

Dia tertawa remeh. "Tidak, aku hanya penasaran." Pria itu beranjak, melewati Jungkook begitu saja. "Dimana kamarmu?"

Jungkook menarik lengan ayahnya. "Keluar." Matanya berkaca-kaca. Jungkook takut, memang benar. Tapi dia juga tidak bisa diam saja. Pria ini tidak bisa sembarangan mengusik hidupnya. Jungkook tidak ingin berurusan dengannya. Itu kenapa Jungkook melawan rasa takutnya.

"Kubilang keluar dari rumahku ahjussi." Lawan bicaranya hanya terkekeh. Menampik kasar genggaman tangan Jungkook pada lengannya. Pria itu mendorong Jungkook begitu kuat dan kasar sampai menubruk tembok di belakang Jungkook.

"Akh.."

"Kau bodoh."

Jungkook menatapi pria itu beranjak ke arah kamarnya, segera dirinya meraih ponsel di kantungnya, menekan speed dial nomer satu diponselnya. Speed dial milik Kim Taehyung.

"Hyung angkat telfonnya." Jungkook bangkit, memegangi bahunya yang berdenyut nyeri akibat menghantam tembok.

...

Taehyung sedang di ruang meeting. Dia bersama beberapa staff dan rekan kerjanya tengah melaksanakan meeting penting untuk program kerja di kantornya. Ponselnya beberapa kali berdering. Matanya melirik sekilas.

Nama Jungkook mengerdiap di layar ponsel Taehyung. Suara ponsel itu berdering begitu keras dan tidak berhenti dan dengan tergesa pria itu meraih ponselnya, menekan tombol reject lalu menghidupkan mode silent pada ponselnya. Pria itu kembali melanjutkan meeting sesaat setelah memasukkan ponsel ke dalam sakunya.

"Maa atas gangguannya, Sekarang bisa kita lanjutkan."

To Be Continue...

Bangtan bawa pulang 3 piala dari MAMA. That's my boys. Yeaaay

Walaupun sempet panas karena banyak yang sedang sebal sama Mnet.

Ikut senang siapapun yang menang dia pasti layak. Jangan terlalu dipermasalahkan ya. Damai itu kan indah.

Jangan lupa tetap review sayang-sayangku.