Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Yaoi, Alur kecepetan, gaje, typo, OOC,

Pair : Main NaruSasu, Slight NaruSaku, LeeSaku

Unknown Relationship

.

By Midori Spring

.

.

(LAST CHAPTER)

.

.

Sakura berbaring di kamarnya, memandang langit-langit dengan keluh di sekujur tubuhnya. Kepalanya pusing dan perutnya terasa aneh, ia mual. Sudah tiga kali ia bolak-balik ke kamar mandi, muntah, tapi rasa mual itu masih terasa.

Ia memejamkan mata emeraldnya. Tuhan sedang menghukumnya, mungkin ini balasan atas perbuatannya. Disinilah dia sekarang menanggung dosanya –sendirian. Tangan Sakura terangkat untuk mengelus perutnya, merasakan setiap sentinya.

Tidak lama lagi perutnya akan membesar… dan dia masih belum menemukan cara untuk memberitahu Naruto.

Suara pintu dibuka di ruang tamu, mengembalikan Sakura ke realita. Ia mengangkat tubuhnya lalu setengah berlari menuju ke ruangan itu, langsung terhenti ketika hampir menabrak Naruto.

"Kemana saja kau?" Tanya Sakura cepat.

Naruto hanya mengerlingnya sekilas, lalu kembali berjalan, tidak menghiraukannya. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan Sakura yang mengikutinya dari belakang.

"Naruto," Panggil wanita berambut pink itu.

Lagi-lagi Naruto tidak merespon. Ia bahkan tidak mau repot memandangnya. Naruto berdiri membelakangi Sakura seraya melepaskan jasnya.

Sakura menggigit bibir bawahnya, kesal. Ia melangkahkan kakinya ke Naruto lalu menarik lelaki itu untuk memandangnya. "Bagaimana mungkin kau meninggalkanku begitu saja! Aku terus menunggumu tadi malam! kau bahkan tidak mengangkat ponselmu!"

Sakura menunggu jawaban dari Naruto. Pemuda itu menghela nafas letih, lalu bergumam pelan.

"Maaf." Katanya, yang malah terasa begitu dingin.

Sakura sedikit terkejut, tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. "Apa?"

"Aku bilang maaf!" Ulang Naruto dengan suara yang lebih besar dari sebelumnya. Safirnya setengah melotot menandakan bahwa pemuda itu sedang tidak dalam keadaan yang bisa diajak bicara.

Tapi Sakura tidak perduli. Ia marah karena Naruto mencampakkannya begitu saja tadi malam, menghilang tanpa jejak di pesta yang asing baginya. Sakura bahkan tidak tahu siapa nama pasangan yang menikah itu.

Jika tahu bahwa Naruto akan meninggalkannya begitu saja di pesta itu, Sakura tidak akan memaksa Naruto untuk membawanya.

"Kau pergi kemana tadi malam? kau menginap dimana?" Sakura menuntut jawaban.

"Di Hotel."

"Hotel? dengan siapa?"

"Sasuke."

Kedua emerald Sakura melebar, "kau!" ia seperti kesulitan untuk bernafas. Jawaban Naruto menusuk tepat ke jantungnya. "Untuk apa kau menemuinya! Apa yang kau lakukan bersamanya!"

Naruto tidak langsung menjawab, ia menyibukkan dirinya untuk membuka kemejanya lalu menggantinya dengan kemeja baru dari lemari. Setelah selesai barulah ia memandang Sakura, memfokuskan mata safirnya ke wanita yang terpaksa dinikahinya itu.

"Untuk apa menurutmu?" Tantangnya dengan tatapan tajam menusuk, membuat Sakura sedikit mundur kebelakang, takut.

Tapi karena Sakura tidak kunjung menjawab pertanyaannya, Naruto memutuskan untuk menjawabnya sendiri, "aku menemuinya untuk rujuk kembali dengannya."

Sakura terbelalak mendengar jawaban Naruto. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Wajah pucatnya mengeras. "Bagaimana mungkin kau mengatakan ini padaku! Aku ini istrimu, Naruto!"

Naruto mendengus, merasa geli dengan pernyataan Sakura. "Benar, kau istriku. Lalu kenapa? Apa kau berharap aku berbohong padamu?" Safir biru Naruto berkilat memandang Sakura. "Untuk apa aku memikirkan perasaanmu! Memangnya kenapa kalau aku bersikap egois! Memangnya kenapa kalau aku mengorbankan perasaanmu demi kebahagiaanku! AKU JUGA INGIN BAHAGIA!"

Sakura shock. Emeraldnya bergetar dan mulai berkaca-kaca. Ia terguncang mendengar perkataan Naruto. sedangkan Naruto terlihat benar-benar tertekan. Seakan-akan ada tembok yang menghimpitnya, membuatnya tidak bisa bergerak. Ia memandang tajam Sakura yang kini menunduk. Takut menatap langsung ke matanya.

Tidak ada yang bicara selama beberapa saat, yang terdengar hanyalah suara isak-tangis Sakura.

Sampai akhirnya Naruto membuang nafas, dan mengalihkan perhatiannya dari Sakura. Ia menatap jam dindingnya, lalu berjalan menyambar dasinya.

"Naruto!" Sakura kembali bergerak ketika menyadari Naruto akan pergi. Ia menarik pergelangan tangan sang pemuda blonde.

"Aku harus ke kantor." Terang Naruto masih dengan nada yang tajam.

Tapi Sakura tidak melepaskannya, ia tetap mencengkram pergelangan Naruto.

"Ma-maaf." Wanita itu berbisik, membuat sang pemuda blonde menoleh padanya dengan alis berkerut.

Kata maaf sebelumnya tidak pernah keluar dari bibir Sakura. Entah itu kalimat terlarang atau memang tidak tertulis di kamusnya, tapi yang pasti kata itu asing bagi Sakura.

Naruto merasakan tangan Sakura gemetar dan wajahnya luar biasa pucat. Ia terlihat begitu lemah.

"Sakura," Naruto membuka mulut. Kali ini terdengar lebih lembut."Kau sakit?"

Sakura tidak menjawab, cengkramannya di tangan Naruto semakin mengerat. "Na-Naruto aku…" Kata-kata Sakura terhenti. Tubuh wanita itu oleng, dan hampir terjatuh.

Naruto yang sadar akan hal itu, langsung memegangi lengannya. "Kau kenapa?" Tanyanya khawatir.

Sakura tidak sempat menjawab, karena saat bibirnya bergerak untuk membalas, ia merasakan pandangannya mengabur. Dan beberapa detik kemudian semuanya menjadi gelap. Kesadarannya menghilang, membuat kakinya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya.

Ia pingsan di dalam dekapan Naruto.

.

.

Sasuke membalik dokumen di mejanya dengan malas. Walau matanya membaca setiap kata tapi otaknya menolak untuk mencernanya. Alhasil ia hanya membolak-balik dokumen itu dengan pikiran menerawang.

Sebenarnya ia sedang kesal berkat seseorang.

Si pemuda blonde yang tadi malam menghabiskan seluruh tenaganya, kini sama sekali tidak menjawab teleponnya. Padahal dia sendiri yang menyuruh Sasuke untuk menghubunginya. Tapi sekarang dia malah mengacuhkannya.

Yah, mungkin dia sibuk. Tapi Sasuke agak sulit untuk memaklumi hal itu. Ia ingin di prioritaskan terutama dalam situasi sekarang ini.

Sasuke menarik ponselnya keluar, ia menekan nomor yang sama kembali, menunggu selama beberapa detik, lalu berdecak sebal ketika suara costumer servicelah yang menjawabnya.

"Brengsek!" Umpatnya. Jika dia muncul lagi, Sasuke akan benar-benar menggeplak kepalanya.

Tapi walau begitu ia kembali menghubungi nomor yang sama, kembali menunggu si pria blonde untuk mengangkat teleponnya.

.

.

Naruto berdiri di depan ruangan emergency. Ia terlalu panik, sehingga langsung membawa Sakura yang tidak sadarkan diri kesana. Ia memijat kepalanya yang pening, ketika merasakan getaran di saku celananya. Naruto mengeluarkan ponselnya, membaca nama yang tertera di layarnya. Lalu menghela nafas, letih.

Kembali ia berada dalam kemelut. Dengan perlahan, Ibu jarinya bergerak untuk menggeser tombol hijau, tapi langkahnya terhenti ketika seseorang tiba-tiba keluar dari dalam ruangan Sakura. Dengan cepat ia masukkan lagi ponselnya ke dalam saku dan mendatangi sang dokter.

"Apa anda suaminya?" Tanya sang dokter, yang dijawab oleh anggukan dari Naruto. "Istri anda baik-baik saja. Ia hanya kurang vitamin dan terlalu stress. Tolong berhati-hati, kondisi kejiwaan sang Ibu sangat berpengaruh dengan kesehatan cabang bayinya…"

Naruto tidak mendengar kalimat dokter selanjutnya. Ia terperangah dengan kedua mata melebar sempurna. "Dokter…" Naruto memotong, ia menatap sang dokter dengan wajah luar biasa kaget. "Sakura hamil?"

Sang dokter mengangguk dengan bingung, "anda tidak tahu? Usia kandungan istri anda sudah hampir dua bulan."

Naruto seperti disiram dengan air es. Tubuhnya mendadak gemetar karena shock. kedua bibirnya masih terbuka seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, tapi tak satupun kata berhasil keluar. Alhasil ia hanya menatap sang dokter dengan ekspresi tidak percaya. Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin Sakura bisa hamil, ia tidak pernah menyentuhnya.

Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan dikepalanya membuatnya pusing seketika.

"Bisa saya menemuinya?"

"Ya, anda sudah bisa membawanya pulang. Cukup pastikan ia meminum semua obat dan vita…"

Naruto tidak menunggu sampai sang dokter mengakhiri kalimatnya. Ia langsung melewatinya menuju kamar Sakura.

Sakura tengah berbaring diranjang ketika Naruto masuk. Wajahnya kini sudah kembali menemukan warnanya, ia melirik Naruto sebentar lalu memalingkan wajahnya kembali. Ia mendudukkan dirinya ke ranjang, seakan siap menerima semua pertanyaan dari Naruto.

"Kau sudah tahu?" Sakura memastikan. Ia berusaha bersikap tegar, walau tangannya di dalam selimut bergetar hebat, menyembunyikan ketakutannya.

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menatap Sakura dengan dua alis bertaut. Safirnya menatap tajam Sakura seakan-akan menuntut sebuah jawaban.

"Siapa?" bentaknya, "Siapa ayah dari bayi itu?"

Tubuh Sakura menegang. Ia menelan ludah sebelum menjawab. "Apa maksudmu? Tentu saja kau adalah ayahnya."

Naruto membelalakkan matanya, murka. Ia mengepalkan tangannya, mendadak darahnya naik ke kepala. Ingin sekali ia berteriak, hanya saja ia masih sadar bahwa wanita itu tidak dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk diperlakukan seperti itu.

"Apa kau pikir aku idiot? Aku tidak pernah menyentuhmu. Bahkan saat mabukpun tak terlintas dipikiranku untuk melakukannya denganmu." Balasnya, "Berhenti berbohong dan katakan yang sejujurnya. Siapa ayah dari bayi itu?"

Sakura tidak menjawab, ia menutup mulutnya rapat-rapat, seakan-akan berusaha untuk menyembunyikannya.

Naruto mengernyit, "kau tidak mau memberitahukannya padaku? Baiklah akan ku cari tahu sendiri." Katanya lalu berbalik, ia baru akan melangkah ketika Sakura tiba-tiba berteriak.

"Lee!" Sahut Sakura keras. kedua matanya terpejam dan jemarinya meremas selimutnya. "Rock Lee!"

Naruto mematung, otaknya berusaha mencerna jawaban Sakura.

Rock Lee. Naruto mengenalnya. Kakak kelasnya di Senior High School. Ketua klub karate yang mengejar-ngejar Sakura sejak dulu. Ia tidak tahu bahwa Sakura terus berhubungan dengannya hingga sekarang.

"Naruto?" Sakura panik ketika melihat Naruto tiba-tiba berjalan mendekatinya.

"Kita pergi." Katanya tegas. Ia menyingkap selimut Sakura lalu menarik wanita itu turun dari ranjangnya.

Sakura gemetar tidak karuan saat mereka berjalan ke luar dari rumah sakit. Ia sedikit susah payah mengikuti langkah cepat Naruto, tapi tidak berani mengeluarkan protes. Ia naik ke mobil Naruto, pasrah. Dia sadar bahwa dirinya akan menghadapi amukan yang lebih besar. Kushina tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia akan lebih sulit di tangani dibanding Naruto sendiri.

Tapi diluar perkiraan, Naruto ternyata tidak mengantarkannya ke rumah utama, yang merupakan tempat tinggal Kushina. Ini juga bukan arah yang biasa di tempuh untuk sampai di kediaman mereka berdua. Sakura mulai khawatir ketika Naruto mulai mengambil jalur asing yang belum pernah dilewatinya.

"Ki-kita mau kemana?" Tanyanya.

Naruto melempar setirnya ke kiri, sebelum menjawab, "Aku akan mengantarkanmu ke tempat Lee. Bukankah anak di dalam kandunganmu itu adalah anaknya."

Kedua mata Sakura melebar horror. Sudah hampir dua bulan dia tidak bertemu dengan Lee. Ia takut Lee akan sadar dengan kehamilannya. Dan jika dia sampai tahu, ia akan melakukan hal-hal yang bisa menghancurkan perkawinannya dengan Naruto.

Dia tidak mau berpisah dengan Naruto! Dia sudah berkorban banyak untuk sampai ke posisinya sekarang ini!

"Tidak! Aku mau pulang saja!" Sakura tiba-tiba berteriak.

"Apa yang kau katakan? Perutmu sebentar lagi akan membesar dan kau akan membutuhkan Lee di sisimu." Sahut Naruto.

"Hentikan mobilnya!" Sakura mulai histeris, ia melemparkan tubuhnya ke Naruto berusaha memegang kendali stir.

Naruto yang kaget dengan tindakan Sakura, langsung menginjak rem, membuat mobil berhenti tepat di tengah-tengah jalan raya.

"APA KAU GILA!" Raung Naruto. Ia memelototi Sakura dengan murka. "KAU HAMPIR MEMBUAT KITA TERBUNUH!"

"AKU BILANG, AKU MAU PULANG!" Balas Sakura tidak kalah keras.
"Kenapa kau tidak pernah memahamiku!"

Naruto mendengus. Ia mengerjapkan safir birunya, berusaha untuk tidak terpancing emosi. Disisi lain, mobil-mobil dibelakang mulai menekan klakson merasa terganggu dengan posisi mobil Naruto yang menghalangi jalannya.

"Aku ingin kau bahagia, Sakura." Hela Naruto, " Dan aku yakin Lee bisa membahagiakanmu. Aku tahu kau wanita yang seperti apa. Kau membiarkan Lee menyentuhmu, kau membuka dirimu padanya, mungkin kau tidak sadar, tapi sebenarnya Lee memiliki arti dalam hidupmu. Kau mencintainya."

Naruto mengenal Sakura sangat lama. Ia tahu bagaimana sifat gadis itu. Ia tidak pernah bermain-main dengan pria. Ia tidak akan membiarkan seorang pria untuk mengambil bagian dalam kehidupannya. ia tidak suka bertopang pada pria, ia selalu mengandalkan dirinya sendiri. Naruto tidak begitu tahu seberapa dekat hubungan Sakura dengan Lee, tapi jika dilihat dari bagaimana hubungan itu membuahkan benih di dalam perut Sakura. Itu tandanya Sakura menyimpan perasaan kepada Lee.

Naruto senang dengan itu, sebagai seorang teman ia merasa lega. Karena akhirnya Sakura menemukan kebahagiaannya sendiri. Semenjak Sakura menikah dengannya, ia tidak pernah melihat Sakura tersenyum. Ia sadar bukan hanya dirinya saja yang tersiksa, Sakura juga merasakan hal yang sama. Dan Naruto tidak bisa memberikan kehidupan yang layak baginya.

Setiap hari ia selalu pulang malam, memberikan semua waktunya untuk bekerja. Ia bahkan sering menginap di kantor atau dirumah teman kerjanya. Naruto selalu menghindari Sakura, karena entah kenapa, setiap melihat Sakura ia akan kembali diingatkan kepada kekecewaan Sasuke. Akhirnya ia hanya akan berakhir dengan melimpahkan segala kesalahan kepada wanita itu. Dan ketika ego mengambil alih, sebuah pertengkaran besarlah yang akan terjadi.

"Kau salah paham!" Sakura berteriak, "aku tidak mencintainya, aku hanya-hanya…" dia berhenti sejenak berusaha menemukan kata yang pas untuk menggambarkannya, tapi setiap kata terasa begitu tabu.

"Kau hanya menginginkannya." Naruto melanjutkan perkataan Sakura yang terpotong. "Berhenti melihat ke arahku, dan lihatlah ke belakangmu. Kau punya sesuatu yang tidak bisa kau lepaskan."

Sakura menggigit bibir bawahnya, kedua emeraldnya mulai basah. Setetes demi setetes air mata membasahi pipinya.

Tidak, Semua ini salah! Dia hanya mencintai Naruto! Dia membiarkan Lee disisinya hanya karena dia kesepian! hanya karena dia ingin dicintai! Karena hanya Lee yang benar-benar mencintainya dengan tulus! Hanya Lee…

Sakura kebingungan dengan perasaannya. Sebenarnya apa arti Lee bagi hidupnya. Tempatnya bersandar, tempatnya memadu kasih, tempatnya mengeluarkan segala beban di hidupnya. Lalu apa arti Naruto bagi hidupnya?

Sakura tidak berani menjawabnya. Ia takut memikirkannya terlalu dalam. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan ini. Naruto dulu adalah sahabatnya, orang yang diyakininya bisa mengimbangi status sosialnya. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadikan Naruto miliknya. Naruto adalah ambisinya, ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa itu. Dia menyukainya, Naruto membuatnya nyaman. Tapi apa dia benar-benar mencintai Naruto? Mungkinkah dia mencintai dua lelaki disaat yang bersamaan?

Kepala Sakura sakit, mendadak dia ingin muntah. Ia tidak mengerti. Rasanya begitu sulit menerima semuanya. Ia ingin lari dari kenyataan ini. Tanpa berpikir dua kali, Sakura membuka pintu mobil lalu melompat keluar. Lupa bahwa mereka berada di tengah-tengah jalan raya.

Sakura blank selama beberapa saat, melihat mobil-mobil dengan kecepatan tinggi melesat hanya beberapa senti darinya. Ia berdiri di tengah jalan, kebingungan, lalu teriakan Naruto menarik perhatiannya. Ia memandang kembali ke dalam mobil, melihat Naruto bergerak cepat ke arahnya. Dan selanjutnya bunyi klakson memekakan telinga mengalihkannya. Kedua emeraldnya membesarpenuh horor, ketika sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Spontan ia menutup kedua matanya dengan jantung bertalu cepat.

Aku akan mati!

Brak!

Suara hantaman terdengar, diikuti dengan tubuh Sakura yang jatuh ke terotoar. Wanita itu memekik keras. Ia membuka matanya lebar-lebar, ketika menyadari bahwa ia jatuh ke arah yang salah. Seseorang mendorongnya, menyelamatkannya.

Dan bertepatan dengan itu ia melihat tubuh Naruto terlempar setelah menubruk kaca mobil dengan keras, lalu jatuh menghantam aspal. Terlihat begitu menyakitkan.

"Tidak!" Sakura berteriak dengan wajah pucat. Ia kembali ke jalan berlari ke sosok yang terbaring tak berdaya di aspal. "Naruto!"

Tubuh Naruto terpental cukup jauh. Saat Sakura sampai disisinya, pemuda blonde itu sudah tidak sadarkan diri. Darah segar keluar dari tubunya membasahi bagian kemejanya, mengalir ke sisi aspal. Banyak sekali, hingga membuat wajah Naruto memutih.

"Na-Naru…!"

Sakura ketakutan. Ia bahkan tidak berani menyentuh tubuh pria itu. Air matanya mengalir semakin deras, saat orang-orang mulai berlarian mengerubunginya. Otaknya menolak untuk bekerja seperti biasanya. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

Wajah Naruto benar-benar pucat, kedua safirnya terpejam, darah terus keluar entah dari bagian tubuh sebelah mana. Sakura menatap orang-orang disekelilingnya, memohon pada mereka untuk melakukan sesuatu.

"Siapapun ku mohon tolong dia!" Ia menjerit, dengan mata memerah penuh air mata.

Beberapa orang memutuskan untuk maju memeriksa Naruto, sedangkan yang lainnya mulai berlarian menjauh mencari pertolongan. Sakura mengawasi dengan tubuh gemetar, ia ketakutan. Lalu tiba-tiba suara dering telepon mengagetkannya. Dia menyambar telepon yang tergeletak di dekat pinggang Naruto. Dengan tangan gemetar dia menempelkannya ke telinganya.

"Tolong! Kumohon tolong Naruto! Dia sekarat! Dia akan mati!"

"Sakura? A-apa yang terjadi!" seseorang yang terdengar kaget disana membalas.

"Naruto! Dia sekarat! Dia terluka!" Tangisan Sakura semakin menjadi-jadi. Ia mengeratkan genggamannya di telepon, berusaha mengendalikan dirinya. Jantungnya berdetak begitu cepat, ia takut Naruto mati. Lalu tanpa bisa menahan emosinya lagi, ia berteriak sekeras-kerasnya.

"SASUKE, KUMOHON TOLONG NARUTO!"

.

.

Sasuke mondar-mandir di depan ruang emergency, sesekali ia melemparkan pandangannya ke ruangan tersebut, berharap ada seseorang yang keluar dari sana memberikan keterangan yang bisa menenangkannya. Ia melayangkan pandangannya pada Sakura yang hanya terduduk di kursinya memandang lantai dengan tubuh gemetar hebat.

Sebenarnya ia ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi Sasuke tidak tega, Sakura terlihat shock berat, bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Entah apa yang telah terjadi. Rasanya Jantungnya hampir berhenti saat mengetahui bahwa Naruto kecelakaan, sekarat dan kekurangan banyak darah. Dan sekarang ia tidak bisa melakukan apapun, hanya menunggu, membiarkan Naruto berjuang sendiri.

Sasuke melihat Sakura berdiri dari tempatnya, kedua iris emeraldnya melebar memandang seorang wanita berusia seperti Ibunya berjalan dengan tergesa-gesa ke arah mereka. Rambut merah panjangnya terlihat berantakan, dan wajahnya benar-benar pucat.

"Na-Naruto, anakku, dia kenapa?" Wanita itu menyahut kepada Sakura, kedua bibirnya bergetar terlihat hampir menangis.

"Bibi Kushina, tenangkan dirimu." Shizune berusaha menenangkan, ia memegang tangan Kushina berusaha menopang tubuhnya yang agak oleng.

Tapi Kushina tidak bisa tenang, ia hampir pingsan begitu mendengar putra semata wayangnya sekarat. Ia menepis tangan Shizune lalu mencengkram lengan Sakura, berusaha membuatnya bicara.

"Katakan padaku, Sakura! Apa yang terjadi pada putraku!"

Sakura menggigit bibir bawahnya, terlihat ketakutan, "Naruto… dia…" ia melirik ke arah ruang emergency berharap bisa melihat Naruto disana. Kemudian ia menancapkan pandangannya ke Sasuke, seakan-akan meminta Sasuke untuk menolongnya. "Sasuke…"

Kushina mengikuti arah pandang Sakura, ia menatap Sasuke, yang awalnya terlewat dari pandangannya. Dan tiba-tiba, pengertian muncul begitu saja dalam kepalanya, membuat emosinya naik kembali. Ia berjalan mendekati Sasuke, irisnya berkilat menahan amarah.

Plak –Sebuah tamparan dilayangkan ke pipi Sasuke, membuat pria itu memandang Kushina dengan tidak mengerti.

"Kau kan yang membuat putraku jadi begini!" Kushina berkata, suaranya bergetar penuh dengan kemarahan.

"Aku–"

"DIAM!" Bentak Kushina keras, "Semuanya gara-gara kau!" Kushina mencengkram bagian depan kemeja Sasuke, "Kau telah membawa pengaruh buruk pada putraku! Kembalikan Narutoku! KEMBALIKAN!"

"Bibi, hentikan!" Shizune datang menengahi. Ia menarik Kushina dari Sasuke, yang terlihat benar-benar terpukul.

"Jangan hentikan aku, Shizune!" Kushina memberontak, "Jika sampai terjadi sesuatu pada putraku, aku bersumpah akan membunuh lelaki ini!"

Sakura menatap adegan itu dengan ketakutan. Sedangkan Sasuke menerima semua cacian yang dilontarkan padanya tanpa berusaha membela diri. Ia bahkan diam saja saat wanita itu mulai memukulinya. Ia hanya menatapnya, dengan pandangan yang sama terlukanya. Entah kenapa, ia merasa pantas menerima semua ini.

Kegaduhan berhenti ketika seorang wanita berpakaian putih dengan sebuah masker diwajahnya keluar dari ruangan emergency. Kushina spontan terdiam ia melangkahkan kakinya untuk mendatangi wanita itu.

"Bagaimana dengan Naruto? Putraku baik-baik saja?" Kushina menyahut, kedua irisnya membesar khawatir ketika menunggu wanita itu menjawab.

"Tubuh pasien benar-benar lemah, tapi kami masih berusaha semampunya untuk menyelamatkan nyawa pasien." Terangnya. "Dia masih kritis."

Mendengar ini Kushina menangis, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetaran, ia terlihat hampir terjatuh, jika saja Shizune tidak menopangnya.

Sementara itu, sang wanita melayangkan pandangannya ke Sasuke, "Apa anda yang bernama Sasuke?" Tanyanya membuat semua orang spontan menatap Sasuke.

Sasuke menelan ludah, berusaha mengeringkan kerongkongannya yang kering, sebelum menjawab.

"Ya."

Wanita itu menghela nafas lega, "Dokter menyuruh saya untuk membawa anda ke dalam. Pasien terus menyebut nama anda, kami berharap kehadiran anda bisa menguatkannya. Bagaimanapun juga yang bisa menyelamatkan nyawa sang pasien hanyalah pasien itu sendiri." Jelasnya. "Apa anda bersedia? Keadaan di dalam mungkin agak sedikit –"

"Saya bersedia." Sasuke cepat-cepat menjawab. Ia mengangguk pada wanita itu lalu mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruang operasi, meninggalkan ketiga wanita lainnya yang terpaku di luar.

"Shizune… Kenapa?" Kushina terperangah melihat pintu yang kembali tertutup. "Aku ibunya… tapi kenapa bukan namaku yang Naruto…?"

Shizune hanya menggeleng lemah. Ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan ini. Ia yakin Kushina sudah mengetahui jawabannya.

Mereka sadar bahwa Sasuke telah merasuk begitu dalam ke hati Naruto.

Kushina menolehkan wajahnya ke Sakura, "Kenapa dia tidak memanggil nama Sakura? Dia istrinya. Aku mempercayakan kebahagian anakku padanya."

"Bibi, Naruto telah memilih!" Shizune tidak tahan dengan kekeras kepalaan Kushina. Kenapa dia tidak mau menerima kenyataan. "Selama ini kita terlalu memaksakan keinginan kita pada Naruto. Kita melupakan sesuatu hal yang penting, kita melupakan kebahagiannya."

"Tapi aku berusaha untuk –" Kushina masih ingin menyahut, tapi tiba-tiba ia terdiam ketika melihat Sakura mendatanginya bersujud di dekat kakinya. "Sakura, apa yang kau…?"

"Maafkan aku! Semuanya gara-gara aku! Untuk menolongku, Naruto membiarkan dirinya ditabrak! Semuanya karena aku! Aku yang bersalah! Pukul aku, bibi! Aku…" Sakura tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air matanya mengalir begitu deras, dan bibirnya menolak untuk mengungkapkan persaannya, ia hanya bisa mengeluarkan isak tangis.

"Sakura, hentikan…" Shizune berusaha membuat Sakura berdiri. "Jangan begini!"

Tapi Sakura menolak untuk berdiri. Ia belum selesai. Tangannya yang gemetar bergerak ke perutnya. Ia memejamkan mata, berusaha mengeluarkan beban yang ada di punggungnya selama ini. "Aku hamil… ini bukan anak Naruto… Ini…"

"Kau apa?" Kushina terbelalak, tiba-tiba ia merasa dirinya dihempaskan dengan keras ke tanah. Kata-kata Sakura seperti tamparan yang keras di wajahnya.

Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, ia merasakan tangan Shizune di lengannya melemah. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, kedua tangannya mengepal, menahan sesak didadanya.

Kushina hanya mampu memegang dadanya

Kenapa semuanya bisa jadi begini? Ia menunduk menatap Sakura, kemudian mengalihkan wajahnya untuk menatap ruang operasi Naruto.

Naruto…

.

.

.

Naruto membuka matanya. Tubuhnya terbaring di atas lantai yang dingin. Ia bangkit lalu menatap sekelilingnya dengan bingung. Naruto seperti berada di suatu tempat yang gelap, ia tidak bisa melihat apapun selain dirinya sendiri.

"Ini dimana?" Suaranya menggema, memantul di tembok. Suara ini bukan suaranya, karena terdengar sedikit cempreng seperti suara anak-anak.

Heran dengan suaranya sendiri, Naruto memandang tangannya. keduanya terlihat begitu kecil, seperti bukan tangannya. Ia berpaling ke tubuhnya, ia mengenakan sebuah kaos hitam dengan celana pendek. Tubuhnya juga kecil seperti bukan tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" Naruto bertanya-tanya. Kenapa dia bisa menjadi kecil kembali. Umurnya mungkin hanya sekitar 5 tahun.

Lalu sebuah pintu tiba-tiba terbuka. Cahaya yang begitu menyilaukan langsung menghantam penglihatannya, membuatnya mengerjapkan matanya berkali-kali untuk membiasakan diri. Setelah matanya telah terbiasa ia mulai kembali meneliti sekelilingnya.

Ia perhatikan, pintu yang terbuka itu berada beberapa meter di depannya. Cahaya itu hanya meneranginya serta jalan menuju ke pintu, sehingga terlihat seperti sebuah jembatan putih didalam kegelapan. Dan yang membuat kedua iris biru Naruto membelalak kaget adalah ia melihat seseorang berdiri dibalik pintu, memandangnya dengan sebuah senyuman.

"A-ayah?" Naruto tidak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa melihat ayahnya. Dia sudah lama mati.

"Kemarilah, Naruto." Suara ayahnya masih tetap sama. Terdengar begitu menenangkan, membuat hati Naruto pedih seketika.

Ia rindu. Ia benar-benar merindukan ayahnya. Dan tanpa disadari, kakinya mulai beranjak, mengambil langkah menuju ke Ayahnya. Kedua safirnya hanya menatap lurus ke arah pintu. lalu ketika tinggal selangkah lagi, Naruto tiba-tiba berhenti.

Ia terpaku di tempatnya sementara ayahnya masih tersenyum menunggunya untuk datang. Ada sesuatu yang menahannya, Naruto menolehkan wajahnya ke samping. Ia melihat Sasuke berdiri disisinya, menggenggam tangannya, begitu kuat seakan-akan takut Naruto akan meninggalkannya.

"Sasuke…" Suara Naruto kembali menggema. Suara yang berbeda dari sebelumnya. Dan mendadak Naruto sadar bahwa dia telah kembali ke tubuhnya yang sebenarnya.

"Jangan pergi!" Sasuke berkata, suaranya terdengar bergetar. Kedua Onyxnya menatap balik Naruto dengan memohon. Setetes air mata membasahi pipi putihnya.

Naruto tertegun, dan tanpa disadarinya ia balas menggenggam tangan Sasuke, sama eratnya. Tangannya yang bebas, bergerak untuk menghapus air mata sang Onyx. Ini selalu terjadi, hatinya berdenyut sakit setiap ia melihat Sasuke terluka.

"Kenapa kau menangis, Sasuke?"

"Aku takut kau akan pergi."

Naruto terdiam. Jemarinya bergerak mengelus pipi Sasuke. Sementara yang dijamah hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan Naruto yang menenangkan.

'Bagaimana mungkin aku bisa pergi.' Pikirnya.

Naruto menolehkan wajahnya kembali ke sosok ayahnya, Naruto tersenyum pahit. "Maafkan aku, aku tidak jadi pergi." Katanya.

Tanpa diduga Ayahnya malah tersenyum semakin lebar, lalu menghilang dalam udara. Dan tempat itu kembali menjadi gelap, seperti sebelumnya.

Naruto menghela nafas, lalu berbalik memandang Sasuke, "Aku tidak akan pergi." Katanya.

Sasuke tersenyum penuh kelegaan. Ia lalu bergerak mendekatkan wajahnya ke Naruto.

Naruto memejamkan mata ketika bibir lembut Sasuke menyentuh bibirnya.

"Kalau begitu, kau harus bangun." Kata suara Sasuke, terdengar bagai sebuah bisikan. "Bangunlah, Naruto."

.

Naruto terbangun di sebuah ruangan. Bau obat menguar ke indra penciumannya, membuatnya mengernyit tidak suka.

Tidak lama kemudian Ia mendengar suara pintu terbuka, dan selanjutnya sosok Sai muncul dalam pandangannya.

"Naruto kau sudah sadar!" Sai menyahut bahagia. Ia setengah berlari menuju ranjang Naruto. "Ya Tuhah, aku lega sekali." Katanya sambil menghela nafas.

"Ini dimana?" Tanya Naruto linglung.

"Dimana lagi! Ini rumah sakit!" kata Sai setengah jengkel, "dude, kau itu benar-benar merepotkan! Aku hampir mendapat serangan jantung begitu tahu kau sekarat! Setelah apa yang kulakukan padamu… kurasa aku berhutang maaf…"

"Berisik Sai!" Naruto menghentikan kalimat Sai, ia merasa tidak perlu mendengarnya. Lagipula semua bagian tubuhnya terasa sakit.

"Apa kau butuh sesuatu? Ingin ku panggilkan dokter?" Tanya Sai ketika melihat wajah Naruto seperti sedang menahan rasa sakit.

"Tidak perlu, aku tidak apa-apa." Kata Naruto sambil menghela nafas, "bagaimana dengan Sakura? Apa bayinya tidak apa-apa?"

Sai diam selama beberapa detik, ia menatap Naruto seakan-akan kasihan padanya. "Dia baik-baik saja. Dua-duanya sehat."

"Syukurlah." Balas Naruto penuh kelegaan. "Ngomong-ngomong sudah berapa lama aku disini?"

"Hampir sebulan mungkin."

"Sebulan?" sudah selama itu ia tidak sadarkan diri?

"Keadaanmu parah sekali, kau sempat koma." Jelas Sai, "Dokter bilang kami hanya tinggal menunggumu sampai kau sadar. Tapi kau tidak kunjung sadar juga! Kau tahu betapa khawatirnya kami semua!" Suara Sai terdengar begitu jengkel.

"Iya iya maafkan aku," Kata Naruto, merasa bahwa itu adalah salahanya. Walau begitu, mengetahui ada orang-orang yang mengkhawatirkannya membuat hatinya terasa lebih hangat.

Beberapa menit kemudian berlangsung dalam keheningan Sai sibuk mengutak-atik ponselnya dan Naruto hanya meneliti ruangan dengan bosan.

"Oi, Sai." Panggilnya.

"Hm?" Sai menyahut tapi tidak mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.

"Apa kau tidak pernah melihat Sasuke?" Tanyanya.

"Dia datang setiap malam ke sini. Tadi malam dia menemanimu sampai pagi." Jelas Sai.

Naruto terbelalak, "Baka! Kenapa kau tidak bilang dari tadi!"

"Loh, kau kan baru tanya sekarang."

Naruto menyeringai, hatinya tiba-tiba bergejolak penuh gairah. Mendadak ingin sekali ia cepat-cepat sembuh. "Kapan dia akan datang lagi?"

Sai memindahkan pandangannya ke Naruto, "aku tidak tahu." Katanya yang dihadiahi dengan geraman kesal Naruto.

"Kenapa kau tidak tanya?"

"Tanya sendiri sana!" Sai menyodorkan ponselnya pada Naruto.

Naruto terpaku sebentar menatap ponsel Sai. Mendadak dia bingung sendiri. Apa yang akan dikatakannya pada Sasuke?

"Tidak usah. Nanti juga dia datang sendiri." Kata Naruto dengan penuh percaya diri. Sai hanya mengangkat bahu melihat sifat gengsi sahabatnya itu.

.

.

Beberapa jam setelah Naruto sadar, Kushina tiba di rumah sakit. Dengan wajah kurus dan super pucat ia langsung merengkuh Naruto dalam pelukannya. Wanita itu menangis terseduh-seduh membuat Naruto bingung sendiri harus melakukan apa.

"Hentikan Ibu." Kata Naruto sambil mengelus rambut Ibunya, "aku tidak apa-apa."

"Maafkan ibu… ini semua gara-gara ibu hiks." Kushina terisak. "Aku begitu egois, begitu jahat pada putraku sendiri! Membuatmu menderita selama ini…"

Naruto hanya menghela nafas berat. Tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak untuk menenangkan ibunya. Kushina menangis dalam dekapannya cukup lama. Terlihat begitu kekanak-kanakan benar-benar berbeda dengan karakternya yang selama ini selalu terlihat berwibawa, apalagi dihadapan bawahannya.

Naruto baru bisa beristirahat dengan tenang ketika Shizune datang membawa Kushina pulang. Membujuknya untuk beristirahat di rumah demi menjaga kesehatan tubuhnya. Ternyata Kushina sempat di opname selama beberapa minggu saat Naruto tidak sadarkan diri. Bahkan sudah hampir seminggu dia tidak bisa tidur.

Keesokan harinya Sakura datang. Wanita itu terlihat sama pucatnya dengan Kushina, tapi dibalik itu semua Naruto bisa melihat bahwa cahaya di mata Sakura yang sempat hilang, ternyata telah kembali. Ia terlihat lebih bahagia.

"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya sambil duduk di sisi ranjang Naruto.

Naruto mengangguk. "Bagaimana denganmu? Apa kalian sehat?"

Sakura tersenyum, tangan kanannya terangkat untuk mengelus perutnya yang kini terlihat agak membesar. "Terima kasih Naruto." Katanya. "Aku hampir membuat anak ini terbunuh karena kebodohanku." Tambahnya sambil memandang perutnya dengan penuh penyesalan, seakan-akan dia bisa melihat sang bayi di dalam perutnya itu.

"Kau harus menjaganya, Sakura." Pesan Naruto.

Sakura mengangguk sambil tersenyum lembut.

Suasana sempat menjadi hening selama beberapa menit, sampai akhirnya Sakura memutuskan untuk kembali berbicara.

"Aku sudah memberitahu Lee." Katanya, emeraldnya terlihat menerawang ke arah jendela di kamar Naruto, "dia senang sekali."

Naruto tertawa kecil. Haaah dia merasa takut pada dirinya sendiri, istrinya ketahuan berselingkuh tapi dia sama sekali tidak merasa terganggu apalagi marah. Mungkin selama ini dia hanya terus melihat Sakura sebagai sahabatnya. Tidak bisa lebih. Ia senang Sakura akhirnya menemukan lelaki yang tepat untuk hidupnya.

"Dia bilang ingin menikah denganku." Lanjut Sakura, "tapi aku menolaknya."

Alis Naruto berkerut, bingung. "Kenapa kau menolaknya?" suaranya terdengar sedikit jengkel. Kebahagiaan sudah di depan mata kenapa dia masih ragu?

Sakura tersenyum sinis. "Kau pikir aku wanita macam apa? Menikah disaat kau sedang sekarat? Lagipula saat ini aku masih memegang status sebagai istrimu." Dia bangkit lalu menarik sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. "Aku minta cerai." Katanya sambil meletakkan amplop itu ke ranjang Naruto. "Datanglah ke pengadilan ketika kau sudah baikan."

"Ck, padahal aku sudah berniat untuk menikah sekali seumur hidupku." Ia menambahkan.

Naruto hanya mendengus mendengar ucapan Sakura. Ia membiarkan wanita itu memukul pelan lengannya sebelum pergi.

"Kau harus sembuh." Kata Sakura sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.

Ketika ia telah kembali sendiri, Naruto menghela nafas. Ia merasa begitu lega, seakan-akan semua beban di pundaknya telah terangkat. Tapi dibalik itu semua ia jadi sedikit kesal. kenapa pemuda angkuh itu belum memunculkan wajahnya sampai sekarang? Apa dia sama sekali tidak khawatir dengan dirinya?

.

.

"Kau sudah siap?" Kushina telah mengepak barang-barang Naruto masuk ke dalam tas.

"Ya." Sahut Naruto.

Hari ini Naruto keluar dari di rumah sakit. Setelah diyakini telah cukup sehat, dokter mengizinkan Naruto untuk pulang.

"Beritahu Ibu, jika tiba-tiba badanmu terasa sakit." Kata Kushina yang duduk di kursi kemudi.

Naruto tidak menjawab, ia hanya menatap jalan dengan ekspresi lelah. Tadi malam dia tidak bisa tidur. Dia kesal, bahkan dimalam terakhirnyapun, Sasuke tidak datang untuk menjenguknya. Dia bahkan tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Sebenarnya dia tidak tahu mau menanyakan Sasuke pada siapa. ponselnya hilang saat dia kecelakaan, Sakura tidak ingat dimana ia meletakkannya. Dan Sai tidak punya nomor Sasuke. Bahkan ketika Naruto telah membuang gengsinya jauh-jauh dia baru sadar bahwa dia tidak bisa menemukan cara untuk menghubungi si pemuda berambut raven itu.

Naruto tertidur selama sisa perjalanan, dia baru dibangunkan ketika sampai di tempat tujuan.

"Ayo turun." Kata Kushina seraya keluar dari mobil.

Naruto yang baru bangun, turun dari mobil dengan sedikit mengantuk. Ia menggosok kedua matanya untuk mengembalikan kesadarannya. Setelah semuanya telah menjadi jelas, ia mengerutkan alisnya bingung.

Ini bukan rumah yang ditinggali Ibunya, ini juga bukan rumah yang ditinggalinya dengan Sakura dulu. Ini adalah rumah yang dulu ditinggilanya bersama Sasuke.

Naruto melihat Ibunya telah menaiki tangga teras rumah dan masuk ke dalam tanpa berbalik. Heran, Naruto mengikuti langkah Ibunya. Jantungnya berdetak cepat ketika melihat lampu yang menyala. Entah kenapa ini malah terasa seperti dejavu baginya.

Setelah meneguk ludah, nervous, Naruto masuk ke dalam rumah. Ia langsung sampai di ruang tamunya. Tidak ada yang berubah, dekorasinya masih sama dengan yang pernah ditata oleh Sasuke dulu. Yang berbeda hanyalah ikan-ikan kecil yang dulu dibeli Sasuke telah digantikan oleh lima ikan besar dengan sirip berwarna emas. Dua diantara mereka memandang ke arah Naruto dengan bergairah ketika Naruto berjalan mendekati aquarium itu.

"Wah, Mikoto kau seharusnya menungguku!"

Naruto mendengar Ibunya berseru dari arah dapur. Terdengar begitu akrab dengan seseorang yang bernama Mikoto.

Mikoto?

Bibi Mikoto?

Jantung Naruto seperti akan melompat mendengar nama itu. Ia berlari menuju dapur. Begitu sampai apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Wanita bermata Onyx itu terlihat sedang mengenakan celemek putih, rambut panjangnya di ikat ekor kuda. Ia berdiri di dekat Ibunya, terlihat sibuk menata meja makan.

"Bi-bi…!?" Seru Naruto kaget.

Mikoto mengangkat wajahnya, tersenyum ketika melihat Naruto.

"Naruto." Sapanya. "Maafkan aku, karena tidak sempat menjengukmu disaat kau telah sadar." Katanya sambil memeluk Naruto. "Aku benar-benar senang kau baik-baik saja, nak."

Naruto masih terbengong-bengong. Ia menatap ibunya yang hanya balas tersenyum padanya.

"Bagaimana bisa bibi dan ibuku…"

"Ibu hanya ingin memperbaiki segalanya." Sahut Kushina, " Yah demi putraku apapun akan ku lakukan. Selama ini kau telah menjadi anak baik dengan mengikuti kemauan Ibu, sekarang giliran ibulah yang mengikuti kemauanmu."

"Kami akrab sekarang." Sambung Mikoto sambil berjalan kembali ke sisi Kushina.

Naruto terperangah, benar-benar tersentuh dengan pemandangan yang sebenarnya terlihat begitu ganjil di matanya. Ibunya dan Bibi Mikoto terlihat saling menukar senyum ramah. Dia bahkan tidak pernah memimpikan hal ini.

"Sayang sekali padahal kami ingin membuat kejutan untukmu." Kata Mikoto, "Geezt Sasuke, dia terlambat."

"Tidak apa-apa, toh Naruto terlihat benar-benar terkejut melihat kita berdua." Kushina tertawa geli, melihat Naruto yang masih mematung. "Ngomong-ngomong ini apa Mikoto? Rasanya enak sekali."

Mikoto menatap makanan yang baru saja dicicipi Kushina, ia tersenyum, "itu makanan kesukaan suamiku dulu."

"Benarkah? Ini benar-benar enak. Kau harus mengajariku, Mikoto."

Suara ketukan di pintu, mengalihkan perhatian Naruto. Ia menolehkan wajahnya ke ruang tamu.

"Ah, itu pasti Sasuke. " Sahut Mikoto. Ia terlihat akan beranjak membukakan pintu, sebelum Naruto mendahuluinya.

"Biar aku saja." Katanya sambil berjalan secepat kilat ke ruang tamu.

Sasuke terlihat kaget ketika melihat Narutolah yang membukakan pintu untuknya.

"Eh, Naruto?" Sahutnya sedikit canggung. Sepertinya semua yang telah direncanakannya tidak berjalan dengan mulus. "Kau sudah– "

Sasuke tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba Naruto menarik pergelangan tangannya dan menghimpit tubuhnya ke tembok. Bibirnya dibungkam oleh bibir Naruto dalam sebuah ciuman lapar dan penuh kerinduan.

Sasuke terbelalak menerima aksi mendadak Naruto. Ia meremas kemeja depan sang pemuda blonde, ketika pertahanannya berhasil di jebol Naruto.

"Jelaskan Uchiha?" Tanya Naruto setelah melepaskan ciumannya. "Kemana saja kau selama ini?"

Sasuke yang sempat terhanyut dengan ciuman panas Naruto, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya. "Ada sedikit urusan di Cina." Jawabnya. "Aku pergi ketika Sai mengatakan bahwa kau sudah sadar."

"Sai?" Alis Naruto berkerut mendengar nama itu.

Kemarin si brengsek itu bilang dia tidak tahu apa-apa tentang Sasuke!

"Ingatkan aku untuk menghajar si brengsek itu ketika aku bertemu dengannya." Desis Naruto. Kesal karena kembali berhasil di bohongi.

Sasuke hanya tertawa, melihat ekspresi berang Naruto. Dia tidak bisa memungkirinya ia benar-benar merindukannya. Dengan reflek, jemari Sasuke bergerak mengelus rambut blonde Naruto. "Aku senang bisa melihatmu lagi." Katanya.

"Ya aku juga." Balas Naruto, kembali mencium Sasuke dengan lembut.

"Mereka didalam?" Tanya Sasuke.

Naruto mengangguk. "Aku masih sulit mempercayai mataku. Bagaimana mungkin mereka bisa…"

"Ibumu, benar-benar menyayangimu, Naruto." Kata Sasuke. "Dia datang ke rumahku, memohon pada Ibuku agar dia mau mengizinkan kita bersama."

Naruto tertegun, "Ibuku?"

"Ya, aku benar-benar kaget. karena pada awalnya dia seperti membenciku." Sasuke tersenyum pahit ketika kejadian di rumah sakit kembali muncul dalam ingatannya. "Tapi di hari berikutnya dia meminta maaf padaku sambil menangis."

Naruto terdiam. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaannya sekarang. Ia merasa sedih, terharuh, bahagia, dan lega di saat bersamaan.

"Dia memintaku untuk tidak meninggalkanmu apapun yang terjadi." Sasuke menangkupkan kedua tangannya di pipi Naruto lalu mencium bibir pemuda itu cepat.

Naruto tersenyum dari lubuh hatinya yang paling dalam. "Aku benar-benar beruntung." Ungkapnya.

"Kurasa kita tidak boleh membiarkan mereka menunggu terlalu lama." Sambung Sasuke. ia menggenggam tangan Naruto lalu menariknya ikut bersamanya ke ruang makan.

Naruto mengikutinya. Hatinya terasa begitu damai. Ia menggenggam tangan Sasuke erat, membuat sang empu menoleh memandangnya dengan senyuman merekah.

Sepertinya, mulai sekarang hidupnya akan jauh lebih menarik.

-The end-

Aaaarggh Midory gak bisa bikin ending, rasanya jadi greget sendiri. Maaf ya jika mengecewakan teman-teman.

Terima kasih karena telah mengikuti cerita ini sampai tamat.

Terima kasih untuk dukungannya selama ini…

Special thanks:

Uchiha diy - chan Gremory, Aicinta, Uzumaki Narusasu, alta0sapphire, CA Moccachino, Ndah D. Amay, Dewi15, Beautiful Garnet, Tomoyo to Kudo, iche. cassiopeiajaejoong, Arum Junnie, Ivy Bluebell, rylietha. kashiva , Archilles, Amour-chan, chika, Naminamifrid, Mumomimame, Ahn Ryuuki