3xgamesDisclaimer : Death Note selalu milik Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata sensei

Rating : M (Untuk jaga-jaga saja karena ada contens pembunuhan.)

Pairing : gak ada, L saja, Watari juga

Special makasih buat para RyuELF-san yang senantiasa mampir serta memberikan kritik atau saran di fic saya. Tak lupa juga makasih buat para pembaca lainnya.

Warning

Pembunuhan, dll

Semua tempat-tempat maupun kejadian yang ada fic ini merupakan fiktif.

Secara tak terduga terkadang plot meloncat-loncat, njelimet, membosankan dan lambat.

Cerita ini hanya fiktif. Tidak ada maksud menyinggung pihak manapun.

.

.

A/N

Maaf saya letakkan di awal dan agak panjang.

Saya memakai nama Lucios Lawliet di nama depan di fic ini karena memang alasan pribadi saya menyukai nama itu agar Wammy tidak kaku memanggil L di masa kanak-kanaknya. Tapi itu sebenarnya kesalahan saya karena pernah mengira nama itu tertulis di bagian akhir movie ke-2 DN, dan nyatanya tidak. Maaf karena di fic ini saja saya akan tetap memakai nama Lucious sampai cerita selesai walaupun kebenaran nama itu masih diperdebatkan serta belum adanya sumber pasti yang menyebutkan tentang nama Lucious Lawliet sebagai nama panjang L.

O,iya sekedar catatan untuk istilah-istilah yang terdapat di chapter sebelumnya:

SAS: singkatan dari Special Air Service yaitu pasukan khusus/elit Britania Raya dibentuk tahun 1941 yang dinobatkan sebagai pasukan elit terbaik di dunia. Pasukan elit ini memiliki fungsi menangani perang sipil/perang saudara, antiterorisme, pengumpulan informasi dan penyusupan. Sebuah artikel pernah menulis jika Koppassus Indonesia juga merupakan pasukan elit terbaik ke tiga di dunia. Masih selisih dua digit di bawah SAS tapi sama-sama keren.

Kriminalitas : segala sesuatu yang berhubungan dengan kejahatan. Bisa saja mengacu pada kriminologi, ilmu yang mempelajari tentang kejahatan beserta cara menyelidiki penyebabnya.

Profiling : Cara menggambarkan pelaku kriminal/ tersangka kejahatan berdasarkan perilakunya sehari-hari. Menetukan umur, jenis kelamin, sifat pelaku dengan menganalisa kebiasaannya lewat jejak-jejak yang ditinggalkan di TKP setelah ia melakukan kejahatan. Tekhnik yang disebut juga psikologi kriminal dan biasa dipakai oleh petugas forensik dalam mengolah TKP.

Pola pikir/sifat Ekstrimis : Hampir sama seperti oportunis, menghalalkan segala cara namun lebih radikal, lebih bebas, tanpa diduga-duga dan tanpa pandang bulu.

Therapys : Metode yang digunakan oleh dokter kejiwaan untuk memberikan relaksasi maupun ketenangan mendalam bagi pasien pengidap stres, depresi atau gejala-gejala gila. Metode ini juga digunakan untuk mengetahui tingkat kewarasan atau kesembuhan si pasien. Khusus di fic ini Elena Dempsey beserta Dr. Hendric Dawson secara khusus menangani orang–orang penderita skizofrenia suatu penyakit halusinasi yang dialami pengidap karena suatu tekanan dan trauma masa lalu. Tapi penyakit ini memiliki klasifikasi, ada juga yang berpendapat jika penyakit ini menurun.

Luger : Pistol semi otomatis dari Jerman. Bentuknya mirip handgun tipe klasik.

Sniper : Penembak jitu jarak jauh yang memiliki akurasi luar biasa.

Lalu untuk tokoh-tokoh asli yang sempat tercantum di fic ini di chap sebelumnya:

Margaret Tahtcher : Politikus wanita asal Britania Raya yang menjadi perempuan pertama menjabat sebagai perdana mentri Inggris di tahun 1979. Sama persis kayak tahun lahirnya L di manga Deathnote.

James sidis : Salah satu manusia terjenius di bumi di bidang matematika. Namun tidak banyak dikenal atau populer seperti Albert Einstein dan memiliki kisah hidup tragis.

Isaac Newton : Pakar/penemu teori gravitasi.

The Beatles : kalau yg ini semua pasti sudah pada tahu. Grup band musik legendaris dari Inggris beraliran rock.

.

.

Dan seperti biasanya akhirnya sampai juga di chapter 11, walaupun kasus pembunuhan ini belum terpecahkan hahaha.

ini kehidupan L versi saya sendiri

.

.

"Chapter 11"

.

.

Namanya waktu memang sulit ditangani. Bumi berputar cepat dari yang dapat kita perkirakan mengganti berlalunya satu hari menjadi pelengkap pengalaman hidup. Di hari ini setiap kali melihat ke arah kalender maka hampir separuh warga kota Winchester mampu disibukkan dengan mempersiapkan pakaian-pakaian terbaik mereka. Hari ini bukan bertepatan dengan perayaan festival melainkan tetap sama seperti hari biasanya. Pasangan pemuda-pemudi saling berjalan berhimpitan menyusuri jalanan kota sambil memegang segelas kopi kental espresso. Sebagian anak-anak kota bermain bola di sekitar taman memakai celana pendek longgar yang diikat sabuk kulit berwarna coklat guna meninggalkan rasa bosan mereka menunggu bus sekolah jemputan. Para pekerja kantoran mengenakan setelan rapi berbondong-bondong bergerak menuju area stasiun. Pemilik toko-toko kelontong sibuk mempertimbangkan barang dagangan yang akan di diskon. Sedangkan di suatu tempat, pembunuh senantiasa setia mengekor di belakang punggung.

Di antara hiruk pikuk itu aku membuka mata sangat pagi ketika udara menusuk hidungku memberikan sensasi gelembung-gelembung dingin pecah setelah kuhirup masuk ke dalam kerongkongan. Badanku mulai ringan serta pening di kepala perlahan menghilang akibat mabuk tiga tablet aspirin sebagai ramuan penurun demam yang diberikan Wammy semalam. Aku menyibakkan selimut di atas tubuhku lalu berusaha merangkak turun dari ranjang. Seusai menuruni ranjang aku berjalan seringan kapas menuju kamar mandi untuk mencuci muka agar tampak sehat saat mengunjungi Ms. Gloria Perskin nanti di rumah sakit jiwa. Dan tiba-tiba aku merasa agak terhuyung pada langkah kesepuluh tapi tidak sampai beberapa detik berhasil tiba di depan wastafel dan segera kuputar kran airnya untuk mencuci telapak tangan kemudian membasahi wajah—merenung sebentar.

"Kenapa bisa pingsan di lorong?"

Seratus persen aku masih dalam keadaan sadar ketika berjalan melewati tempat itu. Perlahan aku merenungkannya di bawah pancuran air kran guna memastikan tidak terserang dampak halusinasi ataupun sejenisnya. Selesai mengelap wajah kubiarkan ingatan tentang si monster jangkung terselip di pikiranku. Lalu kugulung lengan panjang kaos putihku ke atas, meraba-raba, mencari-cari bekas luka cakaran yang mungkin saja menempel di sekitar tubuh. Sudah hampir separuh bagian kuamati tubuhku namun tak kutemukan bekas luka apa-apa ataupun bekas ganjil lainnya. Secara beruntun semua ini cukup mengejutkan. Dulu aku sering beranggapan bahwa mimpi buruk merupakan gambaran visual dari depresi atau kenangan menyakitkan yang sempat terjadi di dunia nyata. Saat seseorang sulit melepaskan dirinya terhadap prasangka semacam itu, maka secara otomatis bagian fungsi otak akan merespon lalu menyimpannya ke dalam memori otak. Hilangnya kesadaran sesaat membuat kinerja sistem tubuh berkurang sehingga memori otak mengambil alih penuh untuk memproyeksikan kenangan buruk seperti memberikan tiket gratis untuk menonton acara dokumentar. Setidaknya semua omong kosong ini sudah kupelajari dari penelitian ilmiah di buku pasaran Dr. Hendric Dawson mengenai pembahasan tentang cara mengatasi mimpi buruk. Namun timbul masalah lain di balik teori miliknya sebab aku lebih mempercayai hasil renunganku sendiri. Mengapa demikian?

Karena aku benar-benar merasa tidak mengalami halusinasi maupun mimpi buruk maupun penyakit lain semacamnya.

Maka memang diperlukan sembilan puluh tiga persen suatu hal paling masuk akal guna menjelaskan keadaanku. Di mulai pada pukul lima tigapuluh saat Matahari pelan-pelan terangkat naik dengan sinar cahaya magisnya yang melintas di kaca jendela kamarku. Aku sudah berada di kamar pribadi saat itu dan langsung membuka tirai jendela agar cahaya langsung masuk menyinari kamar. Setelahnya kugeser kursi di bawah meja belajar lalu berjongkok di sana beberapa detik sebagai metode efektif melakukan relaksasi. Selama berjongkok aku kembali berusaha mengingat-ingat rasa sakit ketika dicengkram oleh si monster jangkung. Rasa sakit tersebut seharusnya mirip ketika diserang oleh binatang buas. Namun rasa nyeri, perih serta sakit tidak kurasakan di semua bagian tubuh. Hanya pusing yang masih tersisa sedikit di sekitar kepala. Aku membiarkan sebuah dilema bergelut di dalam diriku kemudian berusaha menganggapnya dampak wajar tapi lumayan berbeda untuk kematian. Kenangan berada di dalam peti mati sendirian membuatku menelan ludah, terasa amat nyata karena menurutku bukan merupakan halusinasi. Gadis kecil berwajah rata ikut menghampiri emosiku menjadi serangkaian bentuk menyeramkan. Ujung-ujungnya bulu kudukku merinding membayangkan—siapa sebenernya dia dan mau apa—berubah dalam wujud asli. Di saat yang sama aku menyadari kalau metode menenangkan diriku gagal lalu kubuat pengalihan diri dengan memencet tombol turn-on komputer.

Komputerku menyala menampilkan screen saver model kuno dari monitor persegi. Dalam sekejap timbul harapan tersembunyiku agar tekhnologi bisa jauh berkembang daripada sekarang. Aku mengira jika perkembangan tekhnologi di masa mendatang dapat membantu cara penyelidikanku menjadi sangat fleksibel. Semua orang di dunia bisa mendapatkan bantuan L namun tidak untuk saat ini, sebab keinginanku mengirim e-mail ke DK terkesan lebih mendadak.

.

.

05.45 a.m today

To : DK

From : Wammy's House

Hallo DK

Bagaimana keadaanmu?

Langsung saja. Aku ingin mengetahui kabar terbaru tentang August Spark. Apa dia mengirim sebuah sinyal kalau akan ada seseorang yang akan dibunuh? Kirimkan kabar secepatnya jika kau mengetahui sesuatu. Dan ingat aku juga akan selalu membantumu.

Sahabat kecilmu

Ryuzaki.

.

.

Selesai mengirim pesan ke DK aku memutuskan kembali membuka file secret data Wammy's di bagian August Spark, buku kontroversi Robert Downey maupun kasus-kasus yang telah terjadi di baliknya. Tujuanku ialah mempelajari lagi detail isinya serta menghabiskan waktu sampai jam delapan janjianku dengan Wammy untuk pergi ke rumah sakit nanti. Berbagai macam makan-makanan manis sudah disiapkan di meja. Aku tak perlu merasa khawatir kemampuan otakku menurun karena kehabisan glukosa. Semua orang punya kebiasaannya masing-masing dan ini merupakan cara ampuhku dalam menyelesaikan masalah penenangan diri. Seusai memasukkan tiga macarone ke dalam mulut, jemariku lincah menekan tombol-tombol keyboard ataupun menggeser-geser mouse. Mataku hampir belum berkedip mengamati file-file terpampang di monitor supaya tidak ada bagian penting yang terlewatkan. Hingga lima menit berikutnya bola mataku berhenti di suatu titik.

Tepat pada pukul delapan kurang lima belas menit kotak kecil hitamku berbunyi. Wammy mengirim pesan padaku untuk bersiap menuju ke halaman depan panti asuhan di tengah-tengah keasikanku menghabiskan satu cup muffin terakhir serta menganalisa file. Dalam menguji kesungguhanku maka segera kutelan muffin itu bulat-bulat memasuki rongga tenggorokan dan ternyata memberikan sebuah kejutan sensasi kurang menyenangkan, seperti kemasukan bola tenis padat. Rongga tenggorokanku terasa mengalami tekanan berat jadi secepat mungkin kuselesaikan masalah ini dengan meneguk enam kali segelas es lemon sampai habis yang sudah kusiapkan ketika menghadapi situasi darurat. Kemudian saat kumatikan komputer, Wammy sudah menghubungiku ke dua kalinya mengirim pesan pengingat agar tak lupa membawa topeng samaranku yang disimpan di laci lemari pakaian. Sementara aku ingin menghindari perdebatan merepotkan segera kulaksanakan perintahnya dengan berlebihan yaitu mengambil empat topeng samaran sekaligus sebagai cadangan.

Sampai di halaman depan panti asuhan tampak mobil Rolls Royce hitam diparkir di bawah pohon favorit Roger. Aku berjalan kasual mendekati mobil serta tak lupa memasukkan telapak tangan ke dalam kantong celana. Satu topeng menutupi wajah dan lainnya menggantung di ikat pinggang super nyentrik yang hari ini sengaja kupakai. Secara bersamaan Wammy muncul dari pintu kemudi mobil lalu melangkah ke arahku seraya merogoh saku tuxedonya.

"Ini identitas palsu permintaanmu," ia menyerahkan tiga kartu identitas palsu kepadaku.

Aku mengambil tiga kartu identitas palsu itu dari tangan Wammy. Melihat kartu-kartunya sebentar, foto di kartu ialah tampang seorang anak culun berkacamata, dan yang pasti bukan foto wajahku. Seusai melihatnya kuberikan tatapan tanda tanya pada Wammy dari balik topeng.

"Pilihlah!" kata Wammy.

Tanpa menjawab aku memilih satu kartu kemudian menyerahkannya kepada Wammy setelah menghiraukan kehebatannya membuat banyak kartu identitas palsu hanya semalam. Kemudian dalam waktu singkat ia mengamati kartu identitas palsu pilihanku.

"Lukas Lavotzky. Berkebangsaan Rusia," gumamnya.

Aku mengangkat bahu.

"Dua nama lainnya terlalu mencolok buatku."

"Eraldo Coil atau Deneuve terdengar seperti nama-nama detektif hebat," tambahku dengan wajah setengah menunduk. Jari-jariku berupaya mengeluarkan permen loli strawberry dari dalam saku celana.

Wammy mengangguk dan mengeluarkan senyum simpul.

"Well, setidaknya aku masih bisa memanggilmu L."

"Dan bagaimana aku harus memanggilmu nanti?" tanyaku spontan.

Kemudian Wammy membulatkan bola matanya ke arahku.

"Kau bisa memanggilku seperti biasanya."

Aku menaikkan topeng agak ke atas supaya mulutku leluasa menjilati permen loli strawberry yang bungkusnya sudah kubuka.

"Prioritas keselamatanku lebih penting," kataku intens.

"Ya—" jawab Wammy ringan. Telapak tangannya membuka pintu belakang mobil lalu memberikan tanda kepadaku untuk masuk ke dalamnya. "Ayo kita berangkat sekarang!" ajaknya.

Tanpa pikir panjang aku memasuki ke dalam mobil dengan santai sambil menikmati permen loli.

.

.

Perjalanan kami kira-kira memakan waktu sekitar satu setengah jam lebih. Wammy mengemudikan mobil secara hati-hati di area kota saat aku mengabadikan diri menyaksikan keramain kota dari balik kaca mobil. Winchester merupakan kota yang memiliki pemandangan menarik. Bangunan-bangunan katedral ditampilkan di beberapa bagian untuk menghibur warga ketika melintasi area perkotaan. Sama halnya manusia, kota ini juga memiliki berderet cerita. Dan bangunan-bangunan itu merupakan suatu simbol historik dalam mengenang Winchester sebagai sebuah kota dengan masa-masa kejayaannya di Inggris. Kota ini juga memiliki desain unik, jika melihatnya dari atas maka akan terpajang kombinasi warna coklat dan putih berjejer mirip tumpukan wafer vanilla karamel. Lalu melalui puncak lainnya awan-awan selembut busa sabun bergerak memutari pemukiman seakan memberikan suasana redup sekejap. Sedangkan di dalam mobil kakiku bertumpu pada kursi empuk serta lidahku menikmati permen loli manis yang hampir meleleh. Kemudian aku menoleh pada pemandangan menggelitik berikutnya.

Sekitar pukul delapan lebih keadaan kota begitu buram di antara balutan bangku-bangku kayu yang sengaja diletakkan di tepian jalan. Di salah satu bangku tersebut seorang bocah berambut emas dengan obsesi terhebatnya berupaya merebut mainan bocah berambut silver. Ketika mobil kami melintas tepat di depan mereka, si bocah berambut silver terpojok merelakan mainannya diambil oleh bocah berambut emas. Bocah berambut silver tidak menangis. Diam. Bersikap tenang mengamati bocah badung satunya bermain-main. Mobil kami melewati mereka sekilas melalui kecepatan normal. Tiba-tiba saja aku terganggu pada perasaan tak wajar dan membalikkan badan untuk kembali mengamati mereka dari kaca belakang mobil. Kesimpulan utamaku; empat puluh persen si bocah berambut emas cerdas tapi enam puluh persen bocah berambut silver lebih licik.

Lalu kugigit ujung ibu jari dan tampak Wammy melirikku dari kaca tengah mobil yang menggantung.

"Kau tak apa-apa Lucious?"

Cepat-cepat aku membalikkan badan ke posisi semula dan menggeleng.

"Tak apa," kataku santai.

"Bukan. Maksudku kondisi tubuhmu."

Aku menggeleng lagi.

"Aku baik-baik saja Watari.

Kemudian di perempatan jalan Wammy menghentikan mobil. Traffic light menyala merah. Sedangkan aku tetap asik menggigit ujung ibu jari, penyebabnya ialah permen loli kesayanganku telah habis. Kuurungkan niat memakannya lagi sebab tiga permen sisanya kusimpan aman di saku celana sebagai alat penghibur saat menangani Ms. Gloria Perskin nanti.

"Ngomong-ngomong jam berapa aku pingsan di lorong?"

Wammy menengok ke arahku sebentar dari kursi depan.

"Sekitar lima belas menit setelah kau meninggalkan ruang makan. Aku menemukanmu tergeletak di lorong," jawab Wammy.

Kugigit ujung ibu jari agak keras. Memikirkannya membuatku menahan sakitnya ujung ibu jari yang terbentur gigi. Terlalu lama bagi seorang L tak sadarkan diri selama lebih dari satu jam.

"Apa kau merasakan sesuatu yang aneh, Watari?"

"Sama sekali tidak. Aku tahu pola tidurmu lebih aneh dari siapapun. Kau terlalu lelah dan kendali terhadap tubuh bisa hilang kapan saja," ujar Wammy.

"Kau meminta bantuan petugas medis Wammy's untuk memeriksaku."

"Kau tak memerlukan bantuan petugas medis. Benarkan."

"Ya—kau benar,"aku masih menggigit ujung ibu jari. "Kau telah melakukan pilihan yang tepat Watari."

Traffic light menyala hijau. Wammy menginjak pedal gas perlahan sehingga mobil melaju tenang menyusuri jalanan lembab akibat sisa pergantian musim. Sedangkan aku terhanyut oleh dilema berkelanjutan di dalam otak. Aku tak bisa menahan keinginanku untuk berteriak kepada Wammy jika halusinasi maupun mimpi buruk tidak pernah datang meracuni pikiranku. Aku tetaplah menjadi seorang L yang realistis dan perhitungan.

"Apa alasanmu sebenarnya ingin menemui Ms. Gloria Perskin?" tanya Wammy tiba-tiba di tengah keseriusannya mengendarai mobil atau percakapan kami yang terpotong.

Lalu kulepaskan gigitan dari ujung ibu jari. Menahan hawa jahat agar tak sampai merasuki otak.

"Secret data Wammy's membingungkanku."

"Kau tak mempercayai keakuratan informasinya," seru Wammy.

"99% informasinya benar tapi menyakini seratus persen informasi malah akan menghambat penyidikan."

"Maksudmu kau ingin mengolah informasi yang diperoleh secara lebih mendalam."

Aku mengangguk. Secara ringan juga tenang.

"Oleh karena itu aku memerlukan sumber lain dan tentunya merasakan langsung perbedaannya di suatu tempat."

"Dan perkembangannya—?"

Di saat yang sama aku tak tahan mengambil satu permen loli di dalam saku celana. Sikap ini membuktikan bahwa terkadang aku terlampau senang mengingkari prinsip. Rasa manis permen loli mengejekku pada tabiat yang kurang baik.

"Ingatkan aku jika pekerjaan pertamaku sebagai detektif terjadi karena kebetulan."

Kuamati melalui pantulan kaca mobil Wammy menanggapi perkataanku dengan menarik sudut bibirnya. Dia kembali tersenyum memamerkan wajah ramah kebanggaannya.

"Kau tahu kalau selama ini Robert Downey membuatku tertarik karena berkaitan dengan kasus pembunuhan sekarang. Buku khususnya di terbitkan pada tahun 1974 dan di tahun itu pula menjadi sangat kontroversial. Buku itu resmi dihapus dari peredaran publik di tahun 1982 tapi anehnya perpustakaan Wammy's House menyimpannya sebagai salah satu properti penyelidikan. Bukankah sebuah buku tidak harus menjadi sangat kontroversial untuk disimpan di tempat kita."

"Akhirnya kau menyadarinya juga," gumam Wammy. "Lalu bagaimana menurutmu?"

Aku berpura-pura mendengarkan sindirannya selagi Wammy masih berkonsentrasi terhadap dua hal. Menyetir mobil serta mendengarkan ocehanku.

Namun sekarang aku juga berusaha pengertian. Aku memulainya ketika awal mula membaca berkas secret data.

"Lima belas tahun lalu untuk pertamakalinya terjadi kasus bunuh diri yang melibatkan pasangan gelap di Cattolica. kemudian diikuti enam kasus serupa di dataran Eropa. Kasus pertama hanya tampak seperti kasus bunuh diri biasa tapi lambat laun menjadi ganjil karena tiap tahun kasus bunuh diri ini terus terjadi—pola bunuh dirinya sangat mirip— di tempat-tempat yang berbeda. Dan pada mulanya pihak polisian belum merasa ambil pusing terhadap peristiwa semacam ini sebab tak perlu melibatkan orang lain untuk dijadikan tersangka," ujarku.

"Memang di masa itu bunuh diri sudah dianggap sebagai perilaku wajar. Bahkan sempat akan dibuat undang-undang yang melegalkan bunuh diri. Karena kenyataannya banyak masyarakat mengalami kesulitan di berbagai faktor akibat dampak dari perubahan sistem politik serta persaingan bebas antara negara-negara maju. Intinya banyak terdapat kisah kelam di balik terjadinya revolusi," sambung Wammy meyakinkan argumenku.

Sementara aku melihat-lihat ke luar jendela mobil. Tak ada yang menarik lalu kulanjutkan menjilati permen loliku.

"Jika melihat keadaannya maka seharusnya penyelidikan kasus bunuh diri bisa saja dihentikan dan tidak harus diungkit-ungkit terus. Namun setelah tujuh tahun terjadi peristiwa yang sama persis di tiap-tiap negara, pihak kepolisian lokal mulai dibuat gerah oleh pihak-pihak yang mengungkit lagi peristiwa bunuh diri itu," ujarku.

"Siapa pihak-pihak tersebut, L?" tanya Wammy.

"Tentu saja media massa Inggris beserta lembaga maniak kasus yaitu Wammy's House atau lebih tepatnya kau sendiri Watari," jawabku enteng sambil menghembuskan nafas lega.

Di kursi kemudi, Wammy membelokkan mobil menuju ke arah jalan besar. Maka sebelum tiga puluh lima menit sampai di jalan besar, aku bermaksud meneruskan argumenku ketika kami masih di jalanan kota yang cukup sepi. Lagi-lagi setelah kupertimbangkan dua hal tentang keadaan Wammy. Menyetir mobil serta mendengarkan ocehanku.

"Media massa Inggris baru bergerak karena kasus bunuh diri terakhir terjadi di Liverpool dan seperti yang kita tahu bahwa korbanya adalah Charles Hill—ayah dari Jonah Hill. Media massa membuat semacam artikel yang menyudutkan kinerja kepolisian lokal dalam menangani kasus bunuh diri semacam ini. Sebab peristiwa tersebut sudah menjadi tidak beres dan perlahan menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat. Keterlibatan media massa semakin berdampak besar ketika mereka memberitakan desas-desus miring tentang adanya sekte pemuja setan sebagai alternatif masuk akal guna menjelaskan peristiwa bunuh diri kepada publik sekaligus mempertahankan nama baik kepolisian."

"Kemudian muncul situs Eternal yang mendoktrin pasangan gelap melakukan bunuh diri," bisik Wammy.

Jeda.

Aku menyelesaikan permen loliku yang hampir habis. Rasa manisnya tetap melegakan bergoyang-goyang di sekitar lidah. Aku percaya jika kesenangan semacam ini tak akan pernah kulupakan. Seumur hidup. Meskipun suatu hari aku mati dengan tiba-tiba pada saat menanggung nama besar L.

"Well, situs rekayasa itu baru ramai dibicarkan saat masyarakat mulai paham terhadap keberadaan Internet. Di tahun 1974, saat peristiwa bunuh diri pertamakali dilakukan di Cattolica, situs Eternal belumlah ada lalu timbul tahun dimana masyarakat benar-benar penasaran terhadap Internet dan situs tersebut muncul sebagai suatu wujud konspirasi antara media massa beserta kepolisian lokal, efek dari peristiwa bunuh diri terakhir di Inggris. Pertama; Media massa memiliki kepentingan untuk membuat kisah bunuh diri terdengar lebih menarik sebagai bahan jualan dramatis. Kisah para petugas kepolisian dalam membokar kedok sekte pemuja setan dalam wadah situs Eternal mulai menjadi topik berita hangat yang ditunggu-tunggu. Kedua; dari pihak kepolisian tiap-tiap negara sudah membentuk sebuah kesepakatan untuk menyerahkan kasus ini pada kepolisian Inggris(Liverpool). Bhayangkan! Dari berjuta-juta penduduk di Eropa hanya terdapat tiga atau empat kali kasus bunuh diri yang sudah biasa terjadi. Ini bukanlah pembunuhan, tak perlu susah-susah mencari pelaku, bukti-bukti dan investigasi sulit yang membuang waktu maupun biaya. Oleh karenanya para pihak kepolisian antar negara sangat paham terhadap situasinya lalu memberikan porsi penting pada kepolisian Inggris(alasannya ialah peristiwa bunuh diri terakhir terjadi di Liverpool) segera mengambil tindakan dengan tujuan meringankan masalah."

Wammy tetap tenang mendengarkan argumenku. Tangan-tangannya masih lihai mengemudikan setir mobil. Aku sendiri sibuk memandangi batang permen loliku yang telah habis.

Beberapa detik setelahnya aku mengambil nafas sejenak, lalu meneruskan ucapan yang sempat tertahan.

"Akan tetapi Wammy's House memiliki cara pandang lain dalam menilai kasus bunuh diri tersebut. Seperti katamu Watari; mencari jarum di tumpukan jerami merupakan pengertian dasar dari memecahkan misteri, tak mudah. Merepotkan. Namun menarik," ujarku tenang.

Wammy melirikku melalui pantulan kaca. Aku bermaksud membalasnya dengan tatapan menyakinkan seolah jantungku berdetak lebih cepat darinya. Dua puluh dua persen kemungkinan ini merupakan situasi yang disebut diskusi serius sambil menghabiskan kejenuhan di perjalanan.

Kemudian aku memulainya lagi. Lumayan panjang lebar.

"Semua peristiwa bunuh diri menggunakan pola kematian sama yaitu laki-laki mencekik leher pasangan gelap perempuannya lalu menggantungnya dengan tambang. Setelahnya si laki-laki minum teh beracun yang sebelumnya sudah disiapkan si perempuan. Dan ketika mayat mereka ditemukan maka sepintas akan tampak seperti bunuh diri biasa antara pasangan gelap. Tapi berdasarkan penyelidikan intensif, secret data Wammy' House telah menuliskan informasi akurat bahwa si perempuan sudah mati terlebih dahulu sebelum digantung karena dicekik sedangkan si laki-laki minum teh beracun buatan si perempuan. Jika dicerna secara kasar mereka bukan melakukan bunuh diri melainkan 'aksi saling bunuh', sehingga membuatku teringat pada sajak teori gravitasi,"

Sayang, mereka akan selalu jatuh ke tanah

Mencekik leher kekasihnya kemudian masuk ke tanah

Merasakan kedua tangan kekasihnya yang terlepas kemudian masuk ke tanah

Mereka akan selalu saling mencari ke dalam tanah

Tapi, akankah tempat itu mempercayai mereka

Karena mereka sama-sama penipu

"Namun di dalam secret data belum ditulis informasi pasti mengenai alasan khusus para pasangan gelap melakukan aksinya dengan pola seperti itu. Sampai kau menyelidikinya terus untuk memastikan bahwa buku Robert Downey memiliki ikatan samar dengan peristiwa bunuh diri tersebut. Karena secara tidak sadar seakan kau berharap kalau para pasangan gelap melakukannya atas semacam perintah agar pola kematian mereka tampak lebih jelas. Kemudian di lain kesempatan, aku-pun juga menemukan bagian sajak yang terkait saat kuingat pembunuhan terhadap Crystal Limbrown,"

Dia rela menjadi apapun untuknya, menjadi apapun?

Menjadi bunga, binatang, Matahari ataupun iblis

Dia rela melakukan itu untuk kekasihnya

Bahkan ketika kekasihnya itu telah membuka pintu kesedihan

Dan mengepakkan sayapnya yang berwarna hitam

Membunyikan suara lonceng kematian

Lalu membuat bunga-bunga bermandikan darah

Dia telah tersesat, dan sepasang tangan menariknya untuk bangun lalu meneruskan langkahnya

Dia rela menjadi apapun, menjadi iblis

Dia telah membunuh kekasihnya

Mengirimnya pergi

Dia tahu, Mereka tahu, tidak ada keabadian

Kehidupan tidak menginginkan mereka

"Sebagian besar isi tulisan di buku kontroversi Robert Downey mengambil sudut pandang penulis. Maka para kritikus buku menganggap jika karyanya yang satu ini hanyalah sebagai curahan hati murahannya. Tulisannya biasanya bergaya romantis, menyenangkan serta membangkitkan semangat. Namun pada 'Dilema seorang kekasih' ia menuliskan tentang kegelapan, kehampaan dan semacamnya. Sampai rata-rata kritikus buku membuat pernyataan tak bertanggung-jawab dengan menyebut karyanya gagal(Ditolak pasar/tidak laku). Pernyataan tersebut langsung ditelan mentah-mentah oleh Robert Downey, tetapi harga dirinya sebagai penulis membuatnya memilih melakukan tantangan tak masuk akal terhadap hidupnya sendiri yaitu; Ia tidak akan pernah menikahi kekasihnya Gloria Perskin sampai 'Dilema seorang kekasih' berhasil dicetak hingga limapuluh ribu eksemplar karena hal ini terus membuktikan jika cinta bukan cuma berisi kebahagiaan tapi juga kenyataan pahit serta penderitaan."

"Dan akhirnya harapan Robert Downey terkabul. Bukunya benar-benar tak laku di pasaran. Buku itu kurang memenuhi selera pasar karena standar bagi pembacanya yang tidak pasti. Sebab hakikatnya manusia selalu menginginkan hiburan yang dapat membuat mereka tenggelam ke dalam kesenangan maupun imajinasi. Tapi bukan di buku miliknya, 'Dilema seorang kekasih' bukan bacaan untuk ibu-ibu rumah tangga, remaja labil yang haus kisah opera sabun, pengkoleksi sastra, pemilik toko kelontong, pekerja kantoran, pekerja pabrik, penjaga rumah sakit, businessman... pokoknya orang-orang yang tertarik ingin membeli buku tersebut," ujarku dengan menelan ludah.

Wammy membuat gerakan di setir mobilnya kemudian mobil berbelok entah di tikungan ke berapa. Segera kuraih pegangan pintu mobil supaya tubuhku mampu mengatasi guncangan dari mobil yang berbelok.

"Dengan kata lain kau bermaksud mengatakan jika awal penyelidikanku mengarah pada Robert Downey benar, L," kata Wammy sambil membetulkan raut wajahnya berkonsentrasi mengendalikan laju mobil.

Sedangkan aku kembali pada posisiku semula. lalu mengangkat bahu satu kali.

"Apa kau mempercayai kalau firasat mampu mengalahkan pikiran realistis, Watari?"

Duduk nyaman di kursi kemudi, cepat-cepat Wammy menjawab.

"Kadang-kadang aku mempercayainya."

"Berapa persen?" tanyaku frontal.

"Tanpa kadar kemungkinan, L. Sebab firasat datang begitu saja, dan di waktu yang tepat."

Hening sekian detik lalu aku berkata santai,

"Yah, seperti ketika dulu kau memulai penyelidikan Robert Downey berdasarkan sebuah firasat."

Wammy menanggapinya dengan berdehem dua kali dan aku menahan sudut bibirku untuk tidak tersenyum. Kami sekumpulan manusia pengagum logika membicarakan tentang firasat, maka tujuh puluh enam persen hal itu merupakan salah satu yang disebut situasi mendesak. Namun aku masih saja berkeinginan mengomentarinya lagi.

"Jika buku tersebut gagal karena tak menemukan sasaran pasar, Robert Downey perlu menemukan sasaran pasarnya sendiri. Kau menyadari firasat ini tiba-tiba muncul di antara pikiran realistismu ketika menemukan keganjilan pada peristiwa bunuh diri ke-enam di Dublin. Walaupun terjadi di tempat acak maupun selang waktu berbeda-beda tapi para pelaku bunuh diri selalu melakukan cara 'bunuh diri'dengan pola yang sama. Dimulai dari analisa ini maka muncul dua macam pertanyaan mengganggu; Apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya. Lalu kau memastikan jawaban pertama bahwa perbuatan para pasangan gelap bukanlah kasus bunuh diri biasa melainkan aksi saling bunuh. Sedangkan untuk jawaban ke-dua perlu sedikit waktu menyelidikinya."

Aku menelan ludah setelah menyimpannya lama di rongga tenggorokan.

"Setiap orang yang melakukan bunuh diri pasti memiliki alasan berbeda-beda, namun pada kasus itu mereka haruslah mempunyai alasan sama. Jadi awal mula kita perlu menemukan kambing hitam sebagai dasar mutlak alasan pasangan-pasangan gelap melakukan aksi saling bunuh berkedok. Menyelidiki latar belakang korban tak cukup membantu sebab sebagian dari mereka mendapatkan kehidupan bahagia di dunia. Dan rata-rata korban memiliki keluarga layak, berkecukupan serta normal. Singkatnya lima puluh enam persen para korban tidak punya kualifikasi melakukan bunuh diri ataupun aksi saling bunuh sehingga menyelidiki alasannya bertambah sulit. Sampai tahap ini kambing hitam belum ditemukan."

Wammy menyambung kalimatku ketika aku hampir mengambil satu permen loli simpanan di dalam kantong celana.

"Oleh karena kesulitan sesaat itu kemudian aku melakukan suatu keadaan yang sudah kau perkirakan. Firasat, percintaan terlarang dan nasib buruk. Cuma tiga kata kurang ilmiah tersebut bisa digunakan untuk membantu mencari kambing hitam," ujarnya.

Aku mengerjap di atas kursi empuk mobil dengan dua kaki berjongkok. Ucapan setengah hati Wammy membuatku menepis hasrat beku mengambil kesenangan berkelanjutan pada sebatang cantik permen loli.

"Peristiwa bunuh diri dalam kurun waktu enam tahun kejadiannya bersamaan dengan buku kontroversi Robert Downey. Orang awam mungkin tak akan menyadarinya namum berbeda bagi orang-orang Wammy's House. Mulanya kau mengira jika peristiwa bunuh diri hanya sekedar kasus sampingan guna menghibur diri. Setelah kau menyelidikinya, tapi lama-lama kasus ini berubah menjadi misteri pembunuhan menarik dan firasatmu juga mengatakan kasus berkaitan dengan Robert Downey. Hingga sejak saat itu kau mulai melakukan penyelidikan lebih terhadapnya, mencermati isi tulisan pada buku miliknya, menjadi penggemar fanatiknya"

.

Dia rela menjadi apapun untuknya, menjadi apapun?

Dia rela menjadi apapun, menjadi iblis

Dia telah membunuh kekasihnya

Mengirimnya pergi

.

.

Mencekik leher kekasihnya kemudian masuk ke tanah

Tapi, akankah tempat itu mempercayai mereka

Karena mereka sama-sama penipu

.

.

Akhirnya dia datang dengan senyum yang terbuang, tampak menakutkan seperti hukuman Tuhan

Jiwanya ingin berlari namun hati tak kuasa menahan sunyi

Takdir memilih berada terus di sampingnya, berdua meneteskan benih pengasingan

Setiap nafasnya, setiap kata cinta darinya adalah kekuatan untuk mengakhiri satu kisah hidup

Mereka sendirian, dunia tak mengenal mereka

Seorang kekasih telah putus asa untuk mencintai atau membunuh

Perwujudan cinta dari sebuah penolakan

.

"Dari beberapa bait yang ditulis oleh Robert Downey jika digabungkan maka kau bisa membuat asumsi sementara bahwa alasan para pasangan gelap melakukan aksi saling bunuh karena buku Robert Downey. Sekaligus dia juga menciptakan sasaran pasar untuk bukunya yaitu 'pasangan cinta buta'. Tidak ada hal apapun yang lebih menyenangkan ketika karya fiksi berubah menjadi kenyataan."

Wammy tersenyum.

"Jadi kesimpulannya Robert Downey merupakan pelaku utama pada serentetan bunuh diri yang telah terjadi di Eropa," ujarnya.

Aku menggigit ujung ibu jari kesekian kali.

"Tidak" aku berseru menggunakan nada panjang. "Memang tujuh puluh persen kuperkirakan Robert Downey dalang dari peristiwa bunuh diri tersebut. Tapi untuk urusan pekerjaan mempengaruhi orang lain melakukan aksi saling bunuh secara sukarela bukanlah keahliannya. Bahkan jika para korban merupakan penggemar fanatiknya, dia masih tak mempunyai kemampuan semacam itu."

"Sama seperti dugaanku, L," sambung Wammy. "Sebelum penyelidikanku dulu terhambat oleh satu peristiwa bunuh diri di Liverpool yang dinyatakan 'bubar' oleh pihak kepolisian. Aku merasa ada orang lain yang lebih berbahaya di balik kasus ini."

"Dalam peristiwa bunuh diri tersebut, Robert Downey memang memerlukan keahlian orang lain. Dan saat ini, kita hanya bisa menyebut orang itu sebagai 50% tiruan Robert Downey atau 30% orang lain yang memanfaatkan reputasi Robert Downey atau 20% orang yang bekerjas sama dengan Robert Downey. Tapi lebih baik, kita tetap menilainya berbahaya," ujarku pasti.

Wammy mengangguk paham.

Sementara aku menggigit ibu jari agak keras seraya otakku memikirkan informasi secret data lainnya tentang kebakaran yang pernah terjadi di rumah persembunyian Robert Downey sepuluh tahun silam. Di dalam peristiwa kebakaran itu korbanya adalah seorang gadis, yaitu anak adopsi sang penulis buku bersama kekasihnya Gloria Perskin. Melalui hasil investigasi khusus Wammy menyebutkan jika keberadaan gadis itu sebagai anak adopsi disembunyikan dari jangkauan mata publik. Sehingga data-data mengenai dirinya sangat tipis, mungkin hanya Wammy yang mengetahui keberadaan si anak adopsi berdasarkan penyelidikannya.

Kematian gadis adopsi misterius, keberadaan Robert Downey misterius, peristiwa kebakaran misterius, peristiwa bunuh diri misterius, pernyataan Ms. Gloria Perskin nantinya serta orang berbahaya dibaliknya menjadi satu paket di dalam pikiranku yang harus segera kutemukan bukti-buktinya untuk membantu menyelesaikan kasus pembunuhan di Winchester.

Dan aku masih menggigit ujung ibu jari sampai Wammy tiba-tiba memanggil,

"L."

Aku tak menjawab, tetap asik bergelut dengan analisa yang bermain-main di otak.

Namun Wammy pengertian, dia tak mempersalahkan sikap acuhku. Lalu di antara bayangan buku kontroversi Robert Downey serta kasus pembunuhan Winchester dapat kurasakan laju mobil bertambah cepat. Aku melirik ke arah kaca jendela, pemandangan petak-petak bangunan di pemukiman berganti menjadi hamparan luas jalanan yang melebar. Kami tiba di jalanan besar, dan percakapanku dengan Wammy sejenak terhenti.

.

.

Sudah sekitar satu jam lebih perjalanan ditempuh. Kini aku berada di sebuah kawasan pinggiran kota. Jalanan aspal membelah rumput-rumput hijau berair. Pohon-pohon tinggi dengan dedaunnya yang mulai tumbuh tebal memayungi pergerakan mobil kami dari hangatnya sinar Matahari. Dan aku tercekat saat mobil melewati papan bertuliskan WINTON INSTITUTION. PSYCHIATRIC HOSPITAL- 1 km.

"Kita hampir sampai, cepat pakai topeng maupun alat penyamar pita suara!"

Perintah Wammy membuatku berinisiatif untuk segera mengeluarkan dua buah benda, yaitu kabel tipis beserta benda yang mirip earphone di bawah jok mobil. Terminal kabel bersembunyi di saku belakang celana panjang sedangkan kabelnya tipis kulilitkan melingkar di tubuh dan pada ujungnya terdapat semacam perangkat elektonik mungil yang dilapisi magnet serta dibentuk semirip earphone. Aku menempelkan benda itu tepat di leher lalu menutupinya rapat menggunakan jaket parasit.

EhmTes. Tes. Tes.

Bukan suara robot yang keluar melainkan suara cempreng bocah laki-laki berdengung. Tak ingin protes aku lebih memilih menikmati pemandangan jalan.

Lima belas menit kemudian mobil kami melintasi sebuah jembatan berwarna merah bata. Ketika tepat melawatinya, aku melirik sebentar ke arah sungai di bawah jembatan. Batu-batu sungai yang kokoh membuat aliran air bergerak berubah-ubah serta menyeret bergerombol daun-daun rontok pepohonan akibat adanya banjir dari sisa musim dingin. Mobil menderu mulus melewati jembatan dan di tapak tanah basah seekor kelinci melompat-lompat lalu masuk ke dalam semak-semak. Aku sempat mengintainya ketika tak sengaja tatapan mata kami saling bertemu. Dari sudut pandangnya, dua puluh dua persen aku bagaikan semacam manusia pengganggu yang menerornya dalam dominasi rantai kehidupan pada bagian teratas, sama persis dengan skestsa tentang kemuliaan manusia di buku bergambar Rachel. Maka sekejap saja kelinci itu lenyap meninggalkan luka di sudut pandangku, sebab kurasa dia belum berhasil membaca pikiranku pada pertemuan singkat kami.

Memasuki gerbang rumah sakit, pemandangan pertama yang terpampang ialah kolam air pancuran berdiameter lebar. Obelisk biru muda berukiran makhluk penjaga Scylla berdiri tegak di tengahnya sebagai aksesoris seakan dibuat sengaja untuk memberikan ucapan selamat datang istemewa kepada pengunjung dan mengingatkan kalau anggota keluarga mereka telah ditempatkan di sebuah taman bermain. Selesai memahami kesan awal, tiga detik kemudian suara mesin mobil berhenti karena Wammy memarkirkan mobilnya pada area luas dekat bangunan dengan atapnya yang memiliki bentuk bergerigi layaknya mahkota raja.

Setelah penampilanku sempurna dalam setelan celana jeans, sepatu kets, kaos, jaket parasit, topeng dan tentunya penyamar suara. Perlahan kubuka pintu mobil lalu menuruninya sambil membentulkan untaian rambut yang agak mengganggu terselip di sela-sela topeng. Lalu Wammy mengajakku memasuki bangunan beratap mahkota. Aku berjalan membungkuk mengikuti punggungnya sampai sekitar tujuh belas langkah kami tiba di depan pintu masuk, di sana seorang petugas rumah sakit berseragam serta bercelana kain putih menyambut kedatangan kami.

Wammy membuat perkenalan singkat, mengenalkan nama lain terbaruku yang sudah tertera di kartu identitas palsu, "Lukas Lavotzky." Dibarengi oleh ekspresi menghibur petugas rumah sakit itu dengan bola mata amat bulat seperti kelereng hitam. Mendelik. Memandang detail penampilanku.

Aku tak bisa bergerak oleh situasi yang mengakibatkan jantungku sedikit demi sedikit berubah berdetak cepat. Hingga tanpa berkedip dari balik topeng bola mataku yang juga mirip kelereng hitam ikut pula merasakan tekanan tak terduga. Akhirnya secara tidak sadar aku menarik ujung kemeja lengan panjang Wammy.

Wammy mengerjap, menoleh ke arahku lalu cepat-cepat mengeluarkan suara.

"Anak ini saudara jauh Ms. Gloria Perskin. Dan dia sangat ingin bertemu dengan beliau."

Mendengar perkataan Wammy, sang petugas rumah sakit enggan berkomentar apa-apa, dia malah mendekatiku melalui tatapan yang sama. Setelah itu membungkukkan tubuhnya agar tingginya menyamaiku. Dari dekat aku dapat mencium pekat bau kloroform (obat bius)bercampur samar-samar bau obatberjenis analgesik(penghilang rasa sakit) menempel di seragamnya. Selang satu detik, wajah petugas rumah sakit semakin dekat denganku.

Tak mampu banyak berkutik, secara reflek aku mengulurkan tanganku ke depan; menjabat tangan. "Selamat pagi Tuan, saya Lukas. Apa Ms. Gloria Perskin dirawat di sini?" ucapku setengah gugup.

Bola mata petugas rumah sakit itu menyipit. Menghindari jabat tanganku, melalui gerakan cepat tangannya menelusup ke atas rambut emo-ku, dan menepuknya ringan.

"Anak yang sopan. Saya menyukai topengmu, topeng yang bagus nak," ucapnya.

Aku hanya diam, tiga puluh empat persen aku cuma bisa menoleh ke arah Wammy.

"Maaf, dia anak pemalu," seru Wammy begitu pengertian.

Lalu sang petugas rumah sakit bangkit dari posisi membungkuknya serta memberikan senyum sekilas terhadapku sekaligus juga membingungkanmenurutku. Kemudian ia berbincang-bincang dengan Wammy, mengarahkan prosedur-prosedur, memberitahu agar menemui seorang dokter serta menunjuk arah ke bagian ruang tunggu. Aku menguping pembicaraan mereka meskipun tak dapat dipungkiri jika dari balik topeng kuingin menghembuskan nafas lega keluar dari dalam mulut. Aku tahu pengalaman pribadiku menangani hubungan sosial perlu ditingkatkan sepuluh persen, batinku berbisik.

Setelah sekitar sepuluh menit kami dipersilahkan menunggu, seorang dokter bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang datang menghampiri kami. Aku langsung melakukan antisipasi awal dengan membaca nama dalam kartu identitas yang menggantung di saku kiri jas putih miliknya. Terbaca melalui kartu identitasnya tampak jelas kalau ia merupakan pria berkebangsaan India berpenampilan perfeksionis, menawan, berbicara menggunakan aksen Inggris lancar tanpa mencapur aduk bahasa asalnya. Di pertemuan pertama bersama sang dokter, dengan sangat cekatan Wammy mulai mengeluarkan kemampuannya mengolah kata-kata. Dia melakukan tipu muslihat standar bagi detektif swasta, menggunakan gestur wajah lembut serta rangkaian kalimat manis tapi licin seakan membuat orang lain mudah mempercayainya.

Dokter itu pada akhirnya terkesan oleh ucapan persuasif Wammy dan begitu senang hati mengantar kami ke sebuah ruangan khusus sebagai tempat pertemuan dengan Ms. Gloria Perskin. Sedangkan aku sendiri membungkukkan tubuh, mengepalkan telapak tangan ke dalam saku celana, berjalan tenang mengikuti mereka setelah Wammy membuat gerakan mata kepadaku untuk memberitahu jika semuanya berada dalam kondisi terkontrol.

Sepanjang perjalanan melewati koridor menuju ke ruangan khusus, aku tak perlu memperhatikan wajah-wajah cemas para pasien saling bergantian memandangiku. Seperti dua puluh lima detik lalu ketika aku tengah asik menguping percakapan sang dokter bersama Wammy tentang perkembangan kejiwaan Ms. Gloria Perskin. Lalu seorang nenek-nenek berjalan mengantuk sambil menabrak pundakku hingga membuatku terkejut. Aku membalikkan tubuh, menatap punggung si pelaku, ingin meneriakinya untuk meminta maaf. Namun segera kuurungkan niatku karena nenek itu tetap berjalan mengabaikanku,—membuatku bergidik—oleh jiwa mati rasa yang terpancar melalui punggungnya.

Kemudian kami melewati sebuah belokan. Tepat di ujung belokan terdapat kursi panjang, di atasnya seorang wanita berambut gimbal sedang sibuk memilin-milin rambutnya dengan tatapan mata lurus tapi kosong. Kemudian saat kami melintas di depannya secara mengejutkan ia melakukan gerakan aneh; ingin menerjangku.

Spontan aku melompat ke samping sehingga bahuku menabrak dinding tembok rumah sakit. Aku tak meringis menahan sakit karena hantaman di dinding tidak terlalu keras. Untungnya dua orang petugas rumah sakit yang berada dekat kami langsung sigap menangani si wanita gila, menahan tubuhnya menerjangku, menetralisir tatapan mata kosongnya yang berganti menjadi tatapan hewan buas terhadapku. Aku menelan ludah, memandanginya, melangkahkan kakiku menjauh darinya, namun ia tetap terlihat meronta-ronta sampai aku mendengar bisikan suaranya merayap di telingaku, "Anakku- anakku, ayo sini, ikut ibu." Ia tertawa-tawa parau. Lalu suara tawanya lenyap seketika karena si wanita gila telah berhasil digiring para petugas rumah sakit menuju kamar isolasi.

Dua detik kemudian sang dokter melirikku dan memberikan sebuah peringatan masuk akal.

"Hati-hati saat berjalan di area ini nak. Awasi terus langkahnmu!"

Sambil mengelus-elus bahu aku menjawab, "Well, saya akan berhati-hati."

Ia membenarkan kerah kemeja di balik jas kerjanya, lalu melemparkan pandangan padaku ke sekian kali, "Topeng yang bagus."

Aku ingin menggigit ujung ibu jari.

"Kata Sir Watari," aku mengarahkan telunjuk ke arah topeng samaranku di wajah. "Topeng saya membuat saya berani."

Mendengar jawabanku sang Dokter mengabaikanku, dia malah mengganti arah tatapannya ke Wammy.

Wammy tersenyum, "Lukas sangat pemalu. Maka saya memberinya topeng agar memudahkannya berinteraksi dengan orang lain."

"Sikap kurang percaya diri berlebihan," dokter bergumam. "Boleh saya memeriksanya?" pinta sang dokter seraya menyisipkan wajah bermakna mencurigakan. Tiga belas persen ia merupakan penggila kerja. Setidaknya hal itu yang dapat menjadi pertimbangan melegakanku.

Lalu Wammy kembali tersenyum ramah.

"Kami memiliki metode sendiri," tolak Wammy sopan.

Dokter menanggapinya dengan mengangkat bahu dan kami mulai meneruskan langkah.

Setelah beberapa langkah kami tiba di depan sebuah pintu berplakat di atasnya bertuliskan 'Ruang kunjungan khusus'. Dokter meraih gagang besi pintu tersebut lalu membukanya memakai gerakan luwes. Aku beserta Wammy dipersilahkan masuk terlebih dahulu sementara sang dokter mengikuti kami dari belakang. Di dalam ruangan tampak sangat terang sebab banyak sekali jendela kaca berbentuk kotak-kotak kecil ditempatkan di tiap-tiap bagian ruangan. Empat kursi kayu diletakkan saling berhadapan dengan satu meja berukuran sedang di tengahnya. Sebagai ruangan kunjungan khusus tempat ini terlihat amat biasa akan tetapi memiliki kekuatan ganjil menentramkan.

Aku duduk di salah satu kursi menggunakan posisi wajarku, Wammy duduk di sampingku sedangkan sang dokter duduk dengan berwibawa menghadap kami. Perlu waktu sekitar lima menit menunggu Ms. Gloria Perskin tiba ke tempat ini. Sambil menghabiskan waktu aku bersiap mengeluarkan permen loli dari saku celana dan kesulitan untuk memikirkan cara memakannya nanti. Namun sebelum telapak tanganku menelusup ke dalam saku, suara renyah dokter menghalau pergerakanku.

"Kau berasal dari Rusia"

Ia mengamatiku lekat-lekat. Delapan puluh lima persen tak ingin Wammy mengambil alih pertanyaannya.

"Ya, saya berasal Rusia," jawabku datar.

Lalu dokter itu tertegun sebentar sambil memangku dagu menggunakan punggung telapak tangannya.

"Aneh sekali, padahal selama ini saya kira Ms. Gloria Perskin tak memiliki banyak saudara sebab hanya segelintir orang yang pernah datang ke sini mengunjunginya. Saya tak tahu jika beliau juga memiliki saudara jauh, apalagi dari Rusia."

Aku mengerti sepertinya dia bermaksud memancing kebenaran kata-kata Wammy dengan menganggapku anak kecil.

"Saya memang saudara jauh Ms. Gloria Perskin. Tapi untuk lebih detailnya Anda bisa menanyakannya kepada Sir Watari," kataku seraya menunjuk jariku ke kiri; ke arah wammy.

Bola mata dokter itu beralih menatap Wammy dan ia mengerti maksudnya.

"Lukas Lavotzky merupakan salah satu anak yang diadopsi oleh keluarga Perskin. Kami ke sini karena permasalahan berkas-berkas pribadi yang harus diketahui maupun ditanda-tangani Ms. Perskin. Saya harap beliau bisa dimintai keterangan dalam keadaan sadar(waras)," ujar Wammy.

Sang dokter mengangguk, telapak tangannya diturunkan ke atas meja. Sikapnya masih sigap serta perfeksionis.

"Saya sulit berharap tentang kondisi Ms. Perskin sekarang. Beliau pasien yang sulit ditangani. Ada beberapa fase dalam catatan kejiwaannya, fase gila, fase sedikit gila, fase benar-benar gila —kehilangan jati diri serta membuat kerusuhan, fase tak terjadi apa-apa—normal."

Aku bergidik memahami ucapan dokter.

"Ngomong-ngomong beberapa lama Anda bertanggung jawab menangani Ms. Perskin, sehingga kelihatannya Anda sangat mengerti beliau sebagai pasien?" tanyaku Spontan.

Sang Dokter terkejut, terlihat dari gaya sikapnya yang berubah.

"Memang baru sekitar satu tahun saya menangani Ms. Perskin," dokter itu mengeluh. "Namun saya berusaha membantu keadaanya walaupun saya bukanlah termasuk dokter elit yang berasal dari Inggris."

"Saya harap keluarga kami turut membantu keadaan Ms. Perskin," ujarku berbohong.

Dokter itu berkedip seakan mengingat suatu hal, "Saya ingat jika tiga minggu lalu seseorang juga datang ke tempat ini untuk mengunjungi Ms. Gloria Perskin."

"Siapa?" aku tak bisa menekan tinggi intonasi suaraku, agak berteriak. "Laki-laki atau perempuan?"

"L...!" Wammy berseru dari arah samping.

Aku mengatur kembali nafasku, meredakan rasa penasaran. Sedangkan sang dokter belum memahami pertanyaanku lalu menjawab secepatnya. "Dia tak menyebutkan identitasnya secara gamblang, tapi saya menyebutnya seorang perempuan muda berwajah cantik dengan cara berbicara menyenangkan, memakai parfum beraroma bunga serta berpro—"

Ucapan dokter terputus oleh pintu masuk ruangan yang bergeser.

Kami menoleh, seorang petugas keamanan serta perawat rumah sakit membawa wanita berambut pirang panjang yang menutupi sebagian wajahnya, beserta kedua tangan diikat borgol. Wanita itu mendominasi kami dalam wujud ketidakberdayaan. Mata mengenaskannya terselip di antara poni rambut kusut mengawasiku sebagai dalang mimpi buruknya mengenang karya Robert Downey.

Dialah Gloria Perskin, seorang wanita terhormat yang ditenggelamkan kekasihnya ke dalam kabut hitam.

Aku tertegun sambil merogoh satu permen loli kesukaanku dari saku celana. Aku bermaksud segera memakannya secepat keinginanku untuk mengintrograsi Ms. Perskin untuk menemukan titik terang pada kasus pembunuhan Winchester.

.

.

Bersambung