My Love is in Japan

Naruto punya Kishimoto-sensei

Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic inipenuh hal AU, OOC

Authour : Mia muyohri

Pair : SasuSaku

.


.

"Apa kau menyumpahinya?" desis Sasuke. "Seharusnya kau percaya bahwa dia bisa sembuh!"

Sasori terkesiap seketika mendengar ucapan Sasuke. Sudah berhari-hari ini dia melihat keadaan Sakura yang seperti mayat yang teronggok di atas kasur. Entah sejak kapan harapan bahwa Sakura akan sadar menghilang dari dalam dirinya. Harapan yang saat ini Sasori percayai hanya perkataan dokter waktu itu. Dokter hanya mengatakan, "Kita hanya bisa menunggunya sampai dia siuman," tapi mana? Gadis itu tidak kunjung membuka kedua kelopak matanya.

Padahal pada bagian kepalanya tidak mendapatkan luka yang cukup serius. Sakura hanya mengalami keretakkan pada tulang telapak kakinya, karena terjepit di badan mobil. Padahal dokter juga sudah mengoprasi setiap luka dalam yang di alami Sakura. Seharusnya Sakura sekarang sudah sadar. Tapi kenyataan berkata lain.

"Sasori-ssi! Sasori-ssi!" suara seorang gadis berambut ungu menghampiri Sasori, membuat Sasori tersadar dari lamunanya dan segera berdiri dan berjalan menghapiri gadis yang tadi memanggilnya.

Baru beberapa langkah untuk menghampiri gadis itu. Hati Sasori terasa mencelos, saat melihat seorang dokter pria dan dua orang suster berjalan dengan terburu-buru sambil mendorong transfer bed, di belakang gadis yang tadi memanggilnya.

'Ada apa dengan Sakura?' pikir Sasori khawatir. Sasori melihat Sakura sedang terbaring di atas tempat tidur yang sedang di dorong dua orang suster. 'Kenapa Sakura di pindahkan terburu-buru seperti ini?' pikir Sasori kalut.

Dengan tergesa-gesa Sasori menghampiri sang dokter, lalu bertanya pada dokter, apa yang terjadi pada Sakura. Dengan sigap dokter itu menjelaskan kondisi Sakura pada Sasori. Tapi karena pikiran Sasori terlalu kalut, dia jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan setiap ucapan sang dokter.

.

.

.

'Semuanya salahku!' pikir Sasuke. Sambil berjalan mengikuti Sasori dari arah belakang. Sasuke terus memandangi Sakura yang berada di atas transfer bed, dengan pandangan sedih.

Dokter yang sedang menjelaskan keadaan Sakura pada Sasori, terus berbicara dengan menggunakan bahasa Korea yang Sasuke tidak mengerti sama sekali. Sedangkan Sasori yang sedang kalut dengan pikirannya sendiri, juga tidak memperhatikan setiap perkataan sang dokter. Sasuke yang kesal melihat sikap Sasori hanya bisa menggeram pelan melihat Sasori yang seperti itu.

"Can you speak english? What happen?" tanya Sasuke pada sang dokter dengan langkah yang hampir menyamai si dokter.

"Have swollenkidneys," ujar dokter itu segera. "Ginjalnya tidak berfungsi dengan baik. Ginjal bagian kanannya sudah tidak berfungsi, jadi aku mengangkatnya, sedangkan bagian kirinya mengalami bengkak yang cukup parah. Aku sudah mengusahakan mengoperasinya. Tapi karena daya tahan tubuhnya yang terlalu lemah, operasi yang dilakukan tidak menunjukkan efek positif pada pasien. Kalau seperti ini terus pasien bisa tidak terselamatkan."

"Apa yang bisa kami lakukan?" tanya Sasori, tanpa sadar berteriak penuh frustasi.

Dokter itu berhenti berjalan, membiarkan kedua orang suster membawa Sakura ke ruang operasi. "Aku sudah mendaftarkannya ke dalam daftar tunggu donor ginjal darurat. Proses ini mungkin membutuhkan waktu yang lama, yakni menunggu seseorang untuk mendonorkan ginjalnya untuk Sakura. Selama menunggu, Sakura harus terus dijaga dan harus terus menjalani perawatan intensif. Jika tidak, itu semua akan berakibat fatal."

"Whatyouhaveother plans, other than that?" tanya Sasuke pada dokter itu.

Dokter itu menganggukkan kepalanya, membuat Sasuke menghela napas tenang. Sasori sendiri saat mendengar penuturan dokter, menjadi sedikit tenang.

"Kalau ada anggota keluarganya di sini, kita bisa mengecek kecocokan ginjal dan sesegera mungkin melakukan transplantasi ginjal," ujar dokter itu kembali menggunakan bahasa Inggris, supaya Sasuke dapat mengerti pembicaraan yang dilakukan sang dokter. "Kami hanya akan mengambil sebagian dari ginjal sang pendonor, untuk di tanamkan di dalam tubuh Sakura sebagai ganti ginjal yang sudah rusak. Setelah beberapa waktu ginjal itu akan kembali kebentuk semulanya, dan akan berfungsi dengan baik. Hanya saja ... kami harus melakukan cek-up kesehatan dan cek kecocokan dengan golongan darah Sakura. Biasanya kalau keluarga, hampir seratus persen cocok."

Mendengar penuturan dokter, harapan terakhir Sasori hancur. "Tapi sekarang ini orang tuanya sedang berada di London. Mereka baru bisa datang ke sini seminggu lagi. Dan lagi mer ..."

"Pakai saja ginjalku, kalau tidak salah aku memiliki golongan darah yang sama dengan Sakura," suara tegas Sasuke menghentikan perdebatan yang sedang berlangsung.

.

.

.

Hati Sasuke mencelos, mendengar penjelasan panjang dari sang dokter tentang keadaan Sakura. 'Sakura dalam keadaan sekarat, orang tuanya yang seharusnya bisa membantunya tidak bisa datang tepat waktu.' Pikir Sasuke.

"Pakai saja ginjalku, aku memiliki golongan darah yang sama dengan Sakura," ujar Sasuke mengikuti instingnya, tanpa berpikir panjang. Kalau mengambil separuh bagian ginjalnya bisa menyelamatkan Sakura, Sasuke rela memberikannya.

"Kau ..." ujar Sasori yang telah kehilangan kata-katanya, lalu memandang Sasuke dengan keheranan.

"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Sakura," ucap Sasuke tanpa daya. "Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuatnya kembali hidup. Izinkan lah aku melakukannya."

Dokter itu mendesah gelisah. "Baiklah, ayo cepat kau ikut denganku untuk melakukan cek kesehatan dan kecocokan golongan darahmu," ucap dokter akhirnya.

"Suster!" panggil dokter itu pada seorang suster yang sedang kebetulan lewat di hadapan mereka. "Cek kesehatan orang ini. Lalu cek keadaan ginjalnya. Periksa golongan darahnya. Aku ada di ruang bedah, laporkan hasilnya sesegera mungkin padaku."

"Baik, Dok," ujar Suster itu yang kemudian mencatat semua perintah sang dokter. Lalu segera mengajak Sasuke untuk pergi mengecek kesehatannya.

Sebelum Sasuke beranjak, dokter itu menepuk pundak Sasuke. "Berdoa saja semoga ginjalmu memang cocok untuk di donorkan ke Sakura."

.

.

.

Sasori jatuh terduduk di bangku taman rumah sakit.

'Aku kalah,' pikirnya lemas.

Saat dokter mengatakan transplantasi ginjal, yang ada dalam pikiran Sasori hanya orang tua Sakura saja. Sedangkan Sasuke? Pemuda itu tanpa ragu menawarkan dirinya sendiri.

'Hebat sekali! Apakah ini yang dinamakan cinta?' pikir Sasori.

Baru kali ini Sasori merasakan kalah dan merasakan sebagai seorang pecundang. Sasori merasa dirinya itu sangat bodoh sudah berteriak-teriak, mencoba untuk mengusir Sasuke kemudian menyalahkan pemuda itu atas semua yang sudah terjadi. Sasori sekarang sadar, bahwa dia tadi marah-marah itu hanya karena merasa muak dan benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa hari ini dia hanya bisa duduk termangu di depan Sakura dan berdoa pada Tuhan untuk membuat Sakura kembali sehat. Sasori mendenguskan tawa miris, menertawakan dirinya sendiri yang hanya bisa mengirimkan tweet untuk meminta doa dari orang lain.

'Doa tanpa perbuatan, sama saja bohong!' pikirnya. Sasori menggelengkan kepalanya. 'Mungkin cintaku pada Sakura tidak sebesar cinta Sasuke padanya. Apa aku harus menyerah?'

.

.

.

Saat ini, Sasuke berada di salah satu ruang di rumah sakit, bersiap untuk menjalani operasi pengambilan ginjal. Hasil diagnosis Sasuke mengatakan bahwa ginjalnya cocok dengan Sakura. Sesegera saja dokter memerintahkan untuk melakukan operasi.

Secercah harapan bagi Sakura, karena Sasuke. Ssori mendesah lega, mengetahui berita itu. Lalu sebutir air mata mengalir dari pelupuk matanya. Pemuda itu menarik napas panjang kemudian membuangnya dengan tenang kemudian dia mengangkat wajahnya, memandang langit yang mulai gelap. Bulan bersinar pucat di atas sana, karena matahari belum tenggelam sempurna.

'Aku kalah,' pikir Sasori. Dia merasa heran, perasaannya saat ini terasa lebih ringan. 'Menyerah ternyata bukan hal yang buruk, ya!' pikirnya sekali lagi.

.

.

.

Sasuke duduk termangu di ranjangnya. Sasuke bisa kena marah perawat kalau ketahuan duduk karena selama belum diizinkan oleh dokter, Sasuke masih harus terus berbaring. Tapi dia tidak memperdulikan hal itu.

Sebuah meja overbed berada di hadapannya. Di atas meja itu ada pulpen, beberapa lembar kertas dan sebuah amplop putih. Berlembar-lembar kertas yang sudah diremas menjadi bola dibuang asal-asalan, terlihat berantakan di sekeliling tempat sampah ruangan itu. Sasuke membaca beberapa baris yang baru saja dia tulis, dan pemuda itu kembali meremas hasil tulisannya dan melemparkannya ke arah tempat sampah. Bola kertas itu menyentuh pinggir tempat sampah dan menggelinding di lantai. Kemudian Sasuke mendesah panjang.

Sekali lagi rasa sakit menyegat perut bagian kanan bawahnya, bekas operasi kemarin. Sasuke bersyukur karena dia bisa sedikit membantu Sakura. Dan sekarang, dia akan menepati janjinya untuk tidak menggangu kehidupan Sakura lagi. Tapi sebelum itu, dia ingin menjelaskan segalanya pada gadis itu. karena itu dia perlu menulis surat pada Sakura, setidaknya untuk berpamitan.

Hanya saja sejak beberapa jam yang lalu, yang dia bisa hasilkan hanya bola-bola kertas yang tidak beraturan. Sasuke tidak tahu apa yang harus dia katakan, baru menulis beberapa baris, Sasuke sudah tidak puas dengan hasilnya dan meremas kertasnya dengan kesal.

Terlalu banyak yang ingin Sasuke katakan pada Sakura dan masih banyak hal yang belum tersampaikan dan mungkin tidak akan pernah bisa tersampaikan lewat surat. Walaupun demikian dia ingin menyampaikannya semuanya lewat surat.

Kemudian Sasuke mendengar pintu kamarnya diketuk pelan. "Masuk," sahut Sasuke.

Pintu itu berderit pelan saat dibuka. Sasori masuk dengan raut wajah yang Sasuke tidak bisa artikan.

"Hai," sapa Sasuke sedikit gugup mengingat kejadian kemarin.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasori.

"Baik," ujar Sasuke singkat. "Aku rasa, aku akan segera pulih. Dan saat itu terjadi aku akan sesegera mungkin pergi dari Korea."

"Kau yakin kau tidak ingin menunggunya sampai dia sadar dan bertemu dengannya?" tanya Sasori prihatin. Sasuke sudah mengutarakan rencananya dan pemuda itu terlihat menghargai pilihannya, walaupun dia terlihat sedikit ragu. Sejak Sasuke mendonorkan sebagian ginjalnya, sikap Sasri pada Sasuke sudah berubah. Sasori juga sudah terlihat lebih tenang dari pada sebelumnya.

Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. "Aku yakin. Aku pikir, lebih baik begitu. Kau benar aku tidak bisa melukai Sakura lebih dari ini lagi. Aku tidak ingin membuat dia sedih lagi. Ditambah lagi ... aku rasa dia tidak akan mau menerima donor ginjalku. Dan Kalau aku pikir, dia akan jauh lebih gembira kalau dia berada di sisimu. Aku hanya ingin menitipkan ini, tolong sampaikan saja surat ini padanya, oke?" ucap Sasuke lirih. "Aku tidak ingin Sakura mempercayai kebohongan selama seumur hidupnya."

Sasori menggelengkan kepalanya, "Dia masih mencintaimu, kau tahu …"

Sasuke memandang Sasori dengan lekat kemudian memotong ucapan Sasori. "Kau juga mencintainya."

Sasori terkejut dengan ucapan Sasuke padanya, kemudian berkata pelan. "How can you knaw that?"

Sasuke menyunggingkan senyumannya. "Just a lucky guess. Aku tahu kau bukan gay seperti yang Sakura katakan padaku. Kau tidak akan pernah semarah itu jika kau seorang gay."

"Kau sungguh-sungguh tidak ingin menemui Sakura?" ujar Sasori berusaha mengalihkan topic pembicaraan.

Sasuke hanya tersenyum singkat. Tentu saja pemuda itu sangat ingin menemui Sakura. Walaupun seperti itu, Sasuke sudah tidak bisa mendekati Sakura lagi. Gadis itu sudah terlalu banyak terluka karena dirinya. "Sampaikan saja suratku nanti, oke?"

"Oke! Kalau itu sudah menjadi keputusanmu," ujar Sasori sambil mendesah panjang.

"Thanks," ujar Sasuke sambil meringis, karena rasa sakit itu melandanya lagi.

"Beristirahatlah," ujar Sasori. Sebelum pemuda itu keluar Sasori kembali menoleh kemudian berkata, "Sasuke … menurutku bagi Sakura kebenaran lima tahun yang lalu sudah tidak penting bagi Sakura … Tapi, sudahlah … jangan hiraukan perkataanku tadi."

Kemudian Sasori pun keluar dengan menutup pintu ruangan itu dengan perlahan.

.

.

.

TBC


Akhirnya bisa UPDATE CHAP 11 juga. Makasih ya, yang masih setia buat baca fic ini. ^^

Sebelumnya aku mau ucapin met Idul Fitri bagi yang merayakannya ya. Tolong mafkan kesalahan Mia entah itu yang di sengaja maupun tidak ya.

Dan than untuk yg review chap 10 kemarin yg gak login :

Lovys, Ucucubi, kakaru niachinaha, aya-chan, mysticious, sh6, rubah ekor 69 cinta damai, Sasori forever, Hiromi Toshiko.

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama. Dan untuk yang laogin udah aku balas lewat PM di cek aja, OKE! Jika mau bertanya macam-macam soal fic ini silahkan PM Mia aja.

Ayo nanti yg review lewat login, nanti dapet THR lebaran dari Mia. itu untuk tiga pereview pertama aja. :P

Makanya ayo review lagi donk! Hehehe ,,,

Salam Mia Muyohri. ^^