"Hiks.." satu isakan lolos dari bibir Yixing membawanya menuju tangisan kencang sarat akan rasa kecewa. Joonmyeon sejenak panik, ia langsung menghadiahi Yixing sebuah pukpuk dan menghapus air mata yang mengalir pada pipi yang memerah menahan tangis itu.

"Sudah, jangan kecewa, nanti kalau sudah waktunya kita pasti akan balik lagi jadi dewasa" Yixing mengangguki kata-kata Joonmyeon. Ia memandang anak lelaki yang tersenyum cerah layaknya malaikat itu, tangisnya agak mereda dan pasrah saja dibawa Joonmyeon kemana.

"Kita ke UKS saja ya" Yixing mengangguk lalu berbisik pelan nyaris tak terdengar.

"Aku juga pernah cinta monyet sama kamu"

Be Children Again

Chapter 10

Xounicornxing Present

.

.

.

Happy reading

Joonmyeon refleks menoleh ke arah Yixing. Ia yakin mnedengar Yixing bergumam sesuatu. Yah, Joonmyeon mendengar gumaman Yixing, tapi ia tak langsung menoleh dengan raut muka senang. Tidak terima kasih, Yixing masih bergumam, jadi ia belum bisa berteriak histeris kesenangan sambil roll depan-

-oh maaf itu sangat lebay. Jadi untuk lebih memastikan gumaman Yixing lagi. Joonmyeon menoleh ke arah Yixing dengan raut penasaran dan melontarkan satu pertanyaan bodoh.

"Kamu tadi ngomong apa Xing?" Yixing gelagapan, ia masih terisak sembari mengusap air mata dan sedikit ingus yang merembes di hidungnya. Joonmyeon memperhatikan Yixing, anak kecil dengan mata sembap karena gagal menjadi dewasa itu menggeleng lemah.

Merasa simpati, Joonmyeon merangkul bahu Yixing, menyodorkan sapu tangan miliknya ke depan hidung Yixing yang meler melulu. Joonmyeon tak langsung membiarkan Yixing mengambil langsung sapu tangannya. Joonmyeon justru menyentuh hidung Yixing yang memerah, mengusap ingus yang keluar dari hidung itu. Tidak romantis sih, tapi biarlah, toh aneh rasanya jika ia mengusap air mata Yixing. Bisa-bisa Yixing mengira Joonmyeon sok kenal.

Satu belokan lagi mereka sampai di ruang kesehatan. Mungkin itu akan menjadi hal yang mudah, namun tidak ketika guru piket pada hari itu memergoki mereka berjalan berdua dengan muka Yixing memerah menahan tangis yang rasanya ingin kembali pecah.

"Apa yang kalian lakukan disini?!" pekik Lee saem, guru piket pada hari itu. Nadanya meninggi satu oktaf. Mungkin Yixing yang sedang sensitif mudah menciut dengan pekikan Lee saem, namun tidak dengan Joonmyeon. Hidupnya sudah dipenuhi dengan amukan-amukan orang tuanya tiap hari membuat Joonmyeon tak merasa dibentak sedikitpun oleh Lee saem.

"Jawab Zhang Yixing, Kim Joonmyeon. Dan kenapa Yixing menangis begitu?" ucapan Lee saem agak melunak melihat Yixing yang langsung menciut di belakang Joonmyeon.

"Tadi kami bermain di taman belakang, Saem, lalu Yixing terjatuh dan menangis. Kami mau ke ruang kesehatan" ucap Joonmyeon mencoba mengarang cerita membuat sang guru percaya. Lee saem awalnya mengerutkan dahinya sembari menatap Yixing yang terisak, namun kemudian mengangguk percaya.

"Tolong bawa Yixing ke ruang kesehatan ya Joonmyeon, saya harus mengajar lagi" ucap Lee saem lalu tersenyum dan berlalu menuju kelasnya. Joonmyeon mendesah lega, sedangkan Yixing merengut.

"Aku tidak secengeng itu ya!"

.

.

.

Joonmyeon meringis sendiri melihat Yixing seperti anak gadis habis patah hati. Begitu memasuki ruang kesehatan yang entah kenapa kebetulan tidak ada yang jaga, Yixing langsung melesak menuju satu ranjang dan menyelimuti tubuhnya lalu kembali menangis meratapi nasibnya terkena harapan palsu dari Madam Kim.

"Xing.." Joonmyeon mengguncang pelan tubuh anak lelaki yang tengah pundung itu. Yixing mendongak kemudian mendudukkan tubuhnya.

"Hmn?" hanya itu yang keluar dari bibir Yixing. Pandangan Yixing lurus dan tampak termenung. Joonmyeon tahu Yixing sudah mulai putus asa. Joonmyeon menghela nafas lelah. Ia tidak tahu lagi harus apa karena ia juga sudah lelah menghadapi semuanya.

"Udahlah.. jangan menangis lagi, nanti kita cari cara lagi agar bisa menjadi dewasa ya?" bujuk Joonmyeon dengan senyum malaikatnya menghiasi raut wajahnya. Yixing menoleh sekilas namun tatapannya justru menjadi tajam.

"Kamu yang membuatku seperti ini Joonmyeon. Harusnya kamu tidak usah memberiku cucpake!" bentak Yixing membuat Joonmyeon terhenyak. Bukan karena suara Yixing namun karena isi bentakannya. Yixing tidak pernah menyinggungnya tentang itu.

"Salah kamu juga memakan cupcake itu! Itu mutlak salahmu! Lagipula aku juga tidak tahu mengapa memberikan cupcake itu padamu!" amarah Joonmyeon meledak dan Yixing yang menyulutnya. Pertengkaran mereka yang ini serasa lebih menyakitkan dari yang sebelumnya.

Yixing agak terhenyak mendengar bentakan dari Joonmyeon. Namun ia tak gentar hanya karena amukan dari anak kecil di sampingnya itu. Yixing akui memang salahnya memakan cupcake itu. Namun Joonmyeon lebih bersalah karena memberinya cupcake.

"Bohong! Pasti ada alasannya!" Yixing kembali membentak. Ia beranjak dari kasur ruang kesehatan lalu menarik kerah baju seragam sekolah Joonmyeon membuat anak itu terangkat sedikit.

"Mengakulah Joonmyeon!"

Kini ganti Joonmyeon mendorong kasar Yixing ke kasur ruang kesehatan. Hampir tangannya melayangkan tinju pada Yixing namun ditahannya. Dia tak suka cara Yixing yang tiba-tiba meledakkan amarahnya.

Joonmyeon menghela nafas. Ia menenangkan dirinya tak mau terbawa amarah dalam menyelesaikan hal ini.

"Ada alasannya, tapi kurasa kamu tak akan percaya karena-

"Apa alasannya? Karena aku sedang patah hati?" tanya Yixing memotong perkataan Joonmyeon. Joonmyeon menggeleng.

"Bukan itu tapi-

"Karena aku mengobati lukamu? Ck!" Joonmyeon mendelik.

"Bukan itu, Xing kamu-

"Atau kamu asal kasih ke orang saja hm? Jawab Joonmyeon! Kamu punya mulut tidak sih?!" bentak Yixing dengan muka memerah menahan amarah. Joonmyeon menggeram pelan, mengumpulkan nafas lalu berteriak.

"KARENA DULU AKU SUKA SAMA KAMU! PUAS?!" bentak Joonmyeon tepat di depan wajah Yixing. Yixing terhenyak, terkejut Joonmyeon membentaknya di depan wajahnya secara langsung. sejenak ruang kesehatan yang awalnya beraura panas itu tercipta keheningan.

Joonmyeon tak kalah terkejut mengatakan itu dengan bentakan. Sedangkan Yixing menatap sudut lain ruangan itu dengan mata kosongnya.

"Pabboya" lirih Yixing. Matanya mulai berkaca-kaca, sadar alasan yang diangkat Joonmyeon bukan sepele. Dia merasakan hal yang sama, namun ia selalu menepis kalau rasa berdebar ketika berdebat maupun bersaing dengan Joonmyeon bukanlah cinta.

"Memangnya kenapa kalau dulu kamu suka denganku?" tanya Yixing lagi, mencoba mengorek info sebelum dia menerima dengan lapang dada bahwa ia harus menjalani roda kehidupan masa kecilnya untuk kedua kalinya. Sejenak Yixing melirik Joonmyeon yang tampak menghela nafas lalu mengusap wajahnya.

"Orang itu, nenek itu, Madam Kim bilang padaku saat di mimpi bahwa aku bisa kembali menjadi dewasa jika menemukan teman yang senasib denganku dengan cara memakan cupcake itu" ucap Joonmyeon lalu menghela nafas.

"Jadi kamu mencari teman yang senasib denganmu-ummph!" Yixing mendelik ketika Joonmyeon membungkam mulutnya dengan tangannya. Sepasang mata malaikat itu tampak tajam dan serius membuat Yixing agak menciut.

"Bukan sembarang orang Xing! Minimal sahabat masa kecilku, atau sainganku, atau kalau bisa cinta monyetku,duh" ucap Joonmyeon malu-malu. Yixing agak terkejut mendengar penuturan Joonmyeon, namun kemudian menghela nafas dan memberi pukpuk pada bahu anak laki-laki itu.

"Terima kasih sudah mau menjelaskan, Myeon. Aku-

-sudah ikhlas" Joonmyeon menoleh ke arah Yixing. Anak kecil itu memperlihatkan lesung pipinya yang manis. Yixing berjalan ke arah wastafel yang ada di ruang kesehatan itu lalu membasuh wajahnya yang sembab. Ia kemudian berjalan ke arah Joonmyeon dan menggandeng tangan Joonmyeon.

"Ayo ke kelas!" ajak Yixing menarik tangan Joonmyeon. Joonmyeon menahan Yixing, ia menatap Yixing sejenak lalu menatap mata Yixing dengan mata memohon.

"Jangan menyerah Xing" Yixing tampak terkejut namun kemudian mengangguk.

"Ah, iya besok kita ke taman ya!" ajak Yixing dengan mata berbinar.

.

.

.

Pulang sekolah Yixing mendengar krasak-krusuk mewarnai isi rumahnya. Yixing menengok lebih ke dalam rumah namun hasilnya nihil, lalu dari mana bunyi itu berasal?

Baru saja Yixing akan membuka pintu kamarnya, ibunya sudah keluar dari kamarnya membawa kardus berisi sesuatu yang amat berharga bagi Yixing. Yixing mendelik melihat ibunya membawa kardus itu keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah.

Kaset danceku..

Yixing yang malang. Ingin rasanya ia berteriak memarahi ibunya, namun diurungkannya. Yixing tahu hal itu percuma saja karena ibunya masih akan tetap menentang bakat minatnya ini.

Yixing memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Ingin sekali mengeluh kesahkan apa yang dia alami seharian ini, namun ia sadar itu percuma saja. Yixing menaiki ranjang tidurnya selepas melepas baju seragam dan sepatunya. Ia menarik selimut menenggelamkan dirinya diantara kain hangat itu sembari kembali terisak mengingat kegagalannya menjadi dewasa lagi.

Baru saja Yixing akan terlelap, ia mengingat sesuatu yang belum ia sampaikan kepada Joonmyeon. Joonmyeon saja bisa jujur, mengapa ia tidak?

Lantas untuk menjelaskan semuanya, Yixing mengendap-endap keluar dari kamarnya sembari mengusap wajahnya agar tak terlalu terlihat sembab lalu menelpon nomor Joonmyeon melalui telepon rumahnya.

Yixing mendekatkan gagang telepon dengan telinganya, terdengar nada tunggu dari sini, tanda telepon Joonmyeon pasti sudah berdering namun si pemilik belum mengangkat telepon.

"Halo?" jantung Yixing berdebar mendengar suara Joonmyeon dari ujung sana. Ia menggigit bibirnya pelan menyadari kegugupannya.

"J-joonmyeon. Aku juga suka kamu dulu" Yixing tergagap mengucapkannya. Namun dalam hati ia bahagia mendengar samar-samar dari ujung sana Joonmyeon berkata 'Hah'

"Kamu?"

"Sudah dulu ya" tanpa mengindahkan jawaban Joonmyeon, Yixing langsung menutup telepon itu sepihak. Menyambar bantal sofa milik ibunya, Yixing menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal itu.

"Uh, memalukan"

.

.

.

Joonmyeon memang pada awalnya agak terkejut mendengar dering telepon pada ponselnya siang-siang begini. Siapa coba yang kurang kerjaan menelpon Joonmyeon yang sedang menikmati makan siangnya dengan santai.

Namun ketika melihat kontak bertuliskan 'Yixing' Joonmyeon dengan semangatnya mengangkat telepon itu. Joonmyeon masih ingat ketika ia memaksa anak kecil itu memberinya nomor telepon. Dan hasilnya-

-Yixing tak mau memberinya nomor telepon, dan Joonmyeon akhirnya meminta Wufan. Yixing memang pelit, dasar.

"Halo?" ucap Joonmyeon mengangkat telepon itu setelah menelan ayam yang sedari tadi dikunyahnya.

"J-joonmyeon. Aku juga suka kamu dulu" ucap Yixing tergagap dari ujung sana. Joonmyeon sempat terhenyak, namun kemudian menstabilkan nada suaranya.

"Kamu?" ucap Joonmyeon refleks. Joonmyeon juga tidak tahu mengapa ia justru bertanya hal bodoh semacam itu. Mengapa ia tak bertanya 'Benarkah?' atau semacamnya?

Baru saja Joonmyeon akan bertanya dengan benar kepada Yixing, si penelpon sudah mematikan sambungan telepon membuat Joonmyeon berdecak kencang. Ayah Joonmyeon meliriknya tajam, tanda beliau tak suka Joonmyeon berdecak seperti itu. Namun bukan Joonmyeon namanya kalau langsung menurut pada ayahnya, ia hanya bersikap biasa saja.

.

Siang berganti sore, dan sore berganti malam. Joonmyeon selaku anak baik nan budiman mengerjakan tugas sekolahnya dengan khidmad sesekali membuka-buka catatan lama untuk mencari jawaban yang diinginkannya.

Makan malam sudah berlangsung tadi, tentu dengan sedikit cekcok –sebenarnya banyak- dari kedua orang tuanya. Namun bagi Joonmyeon ini sudah biasa terjadi. Sekarang jarum jam menunjukkan pukul delapan malam dan tinggal satu soal lagi maka Joonmyeon selesai belajar.

"Selesai, hah.."

Joonmyeon mendongakkan kepalanya menyadari langit malam ini sungguh cerah. Ada beberapa bintang yang tampak berkelap-kelip dan sisanya bintang kecil bertaburan. Joonmyeon merasa kamarnya seperti tak beratap. Walau Joonmyeon tak suka pada ayahnya tapi ia akui rasa terima kasih pada pria itu sungguh besar karena membuatkan kamar dengan dekorasi yang Joonmyeon banget.

"Kalau disuruh memilih, aku ingin Yixing jadi venus" Joonmyeon mulai bermonolog. Ia berjalan menuju ranjangnya dan berbaring disana, ditemani seribu bintang yang siap menjaga malamnya.

"Karena venus akan terlihat saat aku membuka mata di pagi hari. Kalau boleh sih sekalian morning kissnya –eh?"

Joonmyeon tertawa terbahak-bahak menyadari betapa konyolnya argumen dari dirinya tadi. Ia menarik selimut dan menyelimuti dirinya.

Memandangi langit terus menerus dan tiba-tiba tertidur karena belaian halus dari sang angin malam.

.

.

.

Sorot cahaya matahari menerpa pipi Yixingyang masih saja meringkuk di ranjangnya walaupun hari sudah mulai siang. Sang ibu sudah memanggilnya sekian kali namun tak membuat Yixing terusik.

"Yixing! Bangun atau mama akan menyirammu dengan air!" teriak ibunya membuat Yixing bergumam. Cahaya matahari yang mulai panas pada pipinya juga mulai menyadarkannya bahwa hari kini mulai siang.

"Ish, mama tumben sekali mau menyiram Yixing" ucap Yixing bergumam lalu beranjak menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Yixing mengusap wajahnya dengan air lalu menatap tampilan wajahnya.

"Hmn, rasanya ada yang aneh pagi ini. Tapi apa ya? Apa-

-oh! Pasti karena jerawat ini! Ck!" Yixing bergumam ngedumel tak jelas, ia membawa krim jerawatnya dan mengoleskan pada jerawat yang hadir di keningnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos.

Kemudian Yixing teringat sesuatu.

"JERAWAT?!" pekiknya kemudian kembali ke kamar mandi.

.

Yixing membulatkan matanya. Ia menampar kedua pipinya berkali-kali. Tubuhnya kini menjadi tinggi, ada jakun di lehernya, suaranya memberat. Berarti dirinya..

"YESS AKU JADI DEWASA LAGI!"

"YIXING CEPAT TURUN DASAR ANAK PEMALAS!"

Yixing mendadak ngeri dengan suara ibunya. Satu tamparan pada pipinya kembali dilayangkan, Yixing tak keberatan menampar pipinya sendiri karena ia justru senang kembali menjadi dewasa.

"ZHANG YIXING!" Yixing rasa dia harus cepat-cepat keluar dari kamar atau ibunya akan mengamuk besar.

.

"Kamu kelihatannya senang sekali" ucap ibu Yixing melihat anaknya berseri-seri sambil menyantap sarapannya. Sedangkan Yixing hanya menatap ibunya sambil mengunyah makanan dan tersenyum lebar.

"Iyadong, Ma. Hari ini kan Yixing berhasil" ucap Yixing asal, tak peduli kerutan pada dahi sang ibu menyatakan kebingungannya. Yixing meraba ponselnya yang selalu ada di sakunya. Kini ponselnya sudah menjadi ponsel canggih, keadaan berubah kembali seperti semula. Walau ibunya menjadi lebih sering memarahinya, namun Yixing tak ambil pusing.

Yixing menatap kontak LINE milik seseorang yang bernasib sama dengannya. Apa dia juga menjadi dewasa? Baru saja Yixing akan memulai chat pada orang itu, sebuah pesan masuk pada chat LINE miliknya.

Joonmyeonho : sudah jadi dewasa, hm?

Yixing mengerjab lalu dengan semangat menjawab pesan dari Joonmyeon.

Yixinglay : Iya!^^

Joonmyeonho : yasudah, ingat ya nanti

Yixing mengernyit pelan, ingat apa? Yixing mengerjabkan matanya lalu kembali menyantap sarapannya.

Ingat apa ya?

Ah! Iya taman!

"Jangan makan sambil bermain ponsel" Yixing buru-buru memasukkan ponselnya ketika ayahnya sudah menegurnya.

.

.

.

Yixing berjalan menuju taman dimana tempat ia dan Joonmyeon bertemu dulu. Yixing mengedarkan pandangan sekitar mencari seseorang berwajah malaikat berada di taman itu. Namun justru yang ditemukannya adalah anak kecil berwajah malaikat mirip dengan Joonmyeon. Yixing membulat lalu mendekati anak itu. Ia mensejajarkan tingginya dengan anak itu lalu mengguncang bahu anak itu.

"J-Joonmyeon?! Kamu masih jadi anak kecil?!" pekik Yixing tepat di depan wajah anak itu. Anak itu tampak ketakutan, hingga suaranya mencicit.

"J-joonmyeon hyung.. aku takut.." baru saja Yixing akan melayangkan satu pertanyaan, ada sesuatu yang menutupi indra penglihatannya.

"Dia bukan Joonmyeon, sayang~" tubuh Yixing menegang. Siapa orang yang menutupinya dengan uhm, tangan ini?

"Ini siapa?" tanya Yixing dengan nada senormal mungkin, mencoba untuk tak bergetar mengucapkan sepatah kata. Tubuh Yixing tiba-tiba dipaksa berbalik kemudian matanya terbuka lagi. Sontak mata Yixing membulat menatap seseorang yang ada di depannya.

"Joonmyeon?!" pekiknya langsung memeluk pemuda di depannya itu. Joonmyeon tersenyum lalu membalas pelukan Yixing, sejenak mereka berpelukan merasakan euforia kesenangan dan kelegaan sampai-sampai melupakan anak laki-laki yang menatapnya polos.

"Joonmyeon hyung?" tanya anak laki-laki itu. Refleks Yixing mendorong Joonmyeon dan menyuruh Joonmyeon menjelaskan siapa anak laki-laki itu.

"Dia anak dari adik ayahku, Xing, dan kebetulan dia mirip denganku sayang~" ucap Joonmyeon menggandeng anak laki-laki itu mengajaknya berkenalan dengan Yixing.

"Sejak kapan kamu dibolehkan memanggilku sayang?!" Yixing mencebik, agak aneh rasanya Joonmyeon memanggilnya sayang tanpa sebuah ikatan khusus pada mereka berdua.

"Sejak kamu menyatakan suka padaku juga kemarin, kan itu artinya kita resmi berpacaran" ucap Joonmyeon sembari menaik turun kan alisnya. Yixing mendelik sedangkan sepupu Joonmyeon mengangguk tanda setuju.

Dasar anak-anak, mana tahu mereka tentang cinta?

"Kalau saling cinta ya tidak usah pura-pura gitu hyung!"

Kadang anak-anak malah lebih mengerti cinta. Ck, anak-anak dasar.

.

Wahai anak muda, janganlah engkau mengeluh karena anak kecil lebih menyenangkan, tak punya beban, belum tahu arti cinta.

Karena menjadi kecil kembali tidak sebegitu menyenangkan.

Namun jika kamu masih ingin mencoba menjadi anak kecil lagi, maka datang saja kepadaku, aku akan memberimu cupcake agar kamu bisa merasakan cinta anak kecil.

Datanglah padaku, Madam Kim.

.

End

Epilog

"Ngomong-ngomong, apa kamu kenal orang yang memberi kita lolipop itu?" tanya Joonmyeon sembari menunjuk lelaki yang memberi mereka lolipop tempo hari. Yixing tak menjawab, hanya tersenyum lalu mengajak Joonmyeon ke arah lelaki itu.

"Hai.." sapa Yixing pada lelaki itu. Lelaki itu berbalik lalu menatap Joonmyeon terkejut. Sedangkan Joonmyeon hanya menatap bingung keduanya, apalagi Yixing memeluk lengannya dengan mesra.

"Ah, Yixing! Ini pacar baru kamu? Hmn, lumayan juga seleramu setelah kutinggalkan"

Joonmyeon terhenyak menyadari sesuatu. Ah, lelaki ini mantan kekasih Yixing!

.

.

.

23/07/2015

Xounicornxing

Huaaaa apa itu huaaa gaenak banget endingnyaa

Tapi aku bener-bener terima kasih untuk kalian semua.

Terima kasih untuk 157 review yang kalian berikan secara Cuma-Cuma untuk cerita yang tak bisa dibilang bagus ini. Aku terharu beneran loh /halah hehehe.

Terima kasih juga untuk para pembaca setia hukshuks T.T*nangis bombay*

Ah, sebentar lagi aku bakal fokus ke 50 Yixing's Wish, dan akan meluncurkan satu fanfic lagi yayyy –yang pastinya sulay muehehehe- dengan tema werewolf uhuuyyy.