Summary:

"You made a deal with a devil. Who?"

.

.

A Fanfiction Inspired by:

Western Series(es): Lucifer | Constantine | Grimm

Disclaimer: I own nothing except the story line

Genre: Supernatural, Romance, Mystery, Humor gagal, a lil bit Crime, Myth, Fantasy, Gore (seriously, I'm no good at this)

Starring :

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Discover the supporting casts

Rated: M

WARNING!

Boy x boy, typo, ambigu, banyak istilah asing, swearing, harsh words, umpatan kasar, gore

Hashaaa!

.

.

"Good Devil, Lucifer Fall!"

Part XI: Sold, Didn't You?

Sepasang mata sebening kristal mengamatinya, menelusur dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Menilai.

"Jeon Jungkook." gumamnya tanpa siapapun bisa mendengar. Mata bulatnya memicing, sedangkan bibir tebalnya menyunggingkan senyum meremehkan. "Tidak buruk. Kira-kira apa yang akan kudapatkan sebagai tebusan dari Luciel jika aku mengambilmu?"

Jungkook terdiam mematung, matanya terbuka lebar, namun ia tak mampu melihat apapun. Seluruh inderanya seakan mati kala waktu terhenti. Detektif Park yang tengah berhadapan dengannya tak jauh berbeda. Bahkan bibirnya masih setengah terbuka, siap berkata-kata.

Sementara Kim Yugyeom masih di sana, terbaring hampa.

"Pedangku yang akan kembali, atau…" sepasang matanya terpejam saat ia menggantung kalimatnya dengan sengaja. Ia merasakan sensasi yang begitu familiar ketika sesuatu yang dingin menyentuh lehernya. Ia mendengus sekali, memasang senyumnya yang biasa sebelum menoleh. "Adikku, Luciel."

"Singkirkan tangan kotormu darinya." gumam pria berjubah hitam dengan suara kelewat rendah. Ia menggeram kesal seperti binatang. "Michael, kuperingatkan kau."

Yang diajak bicara hanya terkekeh. Ia mundur satu langkah, lalu mengangkat tangannya malas-malasan. "Aku bahkan tidak menyentuhnya seujung rambut pun. Kau terlalu posesif, Lucy."

"Panggil aku seperti itu sekali lagi, dan aku akan memberimu nama Seokjin. Seisi Neraka akan memanggilmu begitu sampai dunia dan seisinya hancur." kesal pria bersurai hitam yang dipangil Lucy. Ia menghentakkan ujung pedangnya ke lantai, membuat lantai yang ia pijak bergetar.

Kali ini sang malaikat yang terlihat kesal. Sepasang sayapnya mengepak sekali, menghempaskan udara dingin yang menerpa wajah iblis di hadapannya, juga ketiga manusia yang berada di ruangan yang sama.

Yugyeom bahkan terhempas dari ranjangnya, begitupun Jimin yang terlempar hingga menabrak tembok. Sementara Jeon Jungkook sudah berada di dalam dekapan seorang Lucifer. Ia begitu posesif manjaga apa yang menjadi miliknya.

"Jangan samakan aku denganmu. Aku tidak akan mengubah apapun yang telah diberikan ayah padaku, termasuk nama yang dianugerahkan untukku." Michael mengangkat tangan kanannya ke udara, dan tiba-tiba saja sebuah tombak sudah berada di sana. Ia menghunuskannya segera ke leher manusia yang tengah didekap sosok yang dulu sangat dikaguminya. "Kau makhluk tak tahu terima kasih, pemberontak. Kulihat kau benar-benar sudah membuang harga dirimu sebagai seorang malaikat. Kau membuang sayap yang seharusnya menjadi milikku."

Sang iblis terbahak, mengangkat tubuh calon permaisurinya dengan sangat mudah, lalu membaringkannya di atas ranjang yang tadinya ditempati Kim Yugyeom.

Dan saat itulah ia menyadari sesuatu.

Sepasang laut dalam yang terperangkap di matanya membola saat ia mendengarnya.

Jantung Jeon Jungkook berdetak…

Ia segera menyentuh dada kiri pemuda bersurai tembaga selama kurang dari satu detik sebelum berbalik menghadap sosok berambut pirang yang masih setia menghunuskan tombaknya dengan raut wajah yang biasa. Michael tidak boleh menyadarinya atau malaikat pencabut nyawa akan datang pada Jungkook saat itu juga.

"Dengar, Seokjin. Pedang ini sudah menjadi milikku." Lucifer melempar pedangnya ke udara hingga benda itu menghilang ditelan kehampaan. "Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan kuberikan kepada siapapun. Dan Jungkook…"

Lucifer melirik ke arah kekasihnya sebelum kembali menatap tajam malaikat yang dianggapnya bernama Seokjin. Bibirnya menyunggingkan seringaian, seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertarungan.

"... adalah milikku. Dia memilih untuk tinggal di Neraka bersamaku, bukannya naik ke kampung halamanmu."

Michael memejamkan matanya selama dua detik sebelum memutuskan untuk bergerak cepat ke arah iblis di hadapannya. Ia mengincar leher yang terlindung collar berwarna hitam itu dengan ujung tombaknya. Diayunkannya sekuat tenaga senjata kebanggaannya itu.

Sang pangeran tak mau bersantai kali ini. Bukannya menghindar, ia malah menarik sutera merah yang selalu tersampir di pundaknya, dan benda itu langsung terjulur secepat cahaya, melilit leher jenjang Michael, membuatnya memekik tertahan. Dan saat itu juga, sang malaikat menghentikan gerakannya secara mendadak.

Sekujur tubuhnya mengalami tremor, ia bahkan hampir menjatuhkan tombaknya kalau saja tangannya yang bergetar tak segera menggenggamnya kuat. Sepasang bola mata sebening kristal biru yang dimilikinya bergetar seolah tak percaya kala menatap iblis yang dulunya merupakan pemimpin para Seraphim.

Ia yang dulunya makhluk paling indah di Surga,

Ia yang dulunya begitu dibanggakan dan diagungkan karena kehadirannya selalu membawa cahanya…

Michael mundur tiga langkah. Bersamaan dengan itu, sutera merah yang melilit lehernya mulai mengendur. Perlahan, hingga akhirnya terlepas sempurna.

"Makhluk suci sepertimu tidak akan mau disentuh olehku, wahai saudaraku." ucap sang iblis dengan wajah datarnya. Ia menatap malas malaikat yang dulu berhasil menusukkan pedang tajam ke tubuhnya, sebuah tatapan meremehkan. "Pulanglah dan sucikan dirimu di telaga, bersihkan isi kepalamu karena sungguh… aku tidak menginginkan satupun dari kalian menjadi pangeran bersamaku. Aku adalah satu-satunya yang pantas mendapatkan mahkota seorang pangeran. Dan kau, beserta saudara-saudara kita yang lain hanya makhluk yang harus menjalankan tugasnya."

Michael tersentak.

Satu, karena sesuatu yang tadi sempat membuatnya berhenti bergerak. Lilitan di lehernya yang terasa begitu familiar, membuatnya melihat kilatan cahaya di dalam kegelapan. Ia melihat surga.

Selebihnya, karena ucapan pangeran kegelapan yang tak ia pahami.

"Michael, saat kau bertemu dengan Seraphiel, katakan padanya untuk tidak menemuiku lagi. Kau juga pulanglah. Kau sedang tidak bertugas di Bumi." sang pangeran melayangkan sebuah tatapan yang begitu tajam.

Malaikat bersurai pirang terdiam. Ia pernah melihat sorot itu. Itu adalah sorot yang sama seperti yang ia lihat hari itu.

Sorot yang sama dengan yang ia lihat ketika seorang malaikat yang begitu tinggi derajadnya memutuskan untuk, dengan nekatnya, mengambil kekuasaan sang ayah tanpa memikirkan akibatnya.

Sorot mata dari seorang malaikat bersama Luciel di hari saat ia dihempaskan ke Neraka paling dalam dari langit tertinggi yang ditinggalinya.

"Saat kita bertemu lagi, akan ada perang besar. Dan ketika hari itu tiba, aku -"

"Aku akan mengalahkanmu." sahut Michael memotong ucapan Lucifer. Ia terdiam selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayapnya. Sepasang matanya tak lepas dari sosok berjubah hitam yang balas menatapnya datar.

"Sampai jumpa di hari kehancuranmu, Luciel."

Yang diajak bicara hanya mendengus. Sosok yang terbang menembus langit itu bukanlah tandingannya. Namun ia tak bisa begitu saja meremehkan tantangan yang terang-terangan diajukan kepadanya.

Tapi sekarang, ada hal yang lebih penting yang harus ia khawatirkan.

Ia mendekati ranjang yang ditempati oleh sang kekasih. Ditatapnya lekat sosok yang membeku tak bergerak itu. Telunjuknya kembali menyentuh dada pemuda Jeon, dan detak jantung menggila langsung memenuhi indera pendengarnya.

Sepasang mata indah itu bergetar ketakutan. Nafasnya memburu tak karuhan. Dan dengan tubuh yang masih membeku, Jeon muda menggerakkan bibirnya susah payah.

"Apa yang kulihat barusan." ia bahkan tak tahu tengah bertanya atau memberi pernyataan. Yang jelas, ia merasa kematiannya semakin dekat karena makhluk putih bersayap telah menampakkan diri di hadapannya.

.

.

.

.

.

"Kenapa kau menyuruhku kemari?" tanya sosok bersurai coklat kopi malas. Ia berjalan memasuki sebuah ruangan yang sangat asing di sebuah rumah yang setahunya, milik keluarga Jeon.

Sepasang iris sewarna batu batanya melirik pemuda milik pangeran yang tengah terlelap di ranjang.

"Lucifer, katakan sesuatu. Jangan membuatku penasaran." Jung Hoseok mendengus kesal. Ia dengan sosok manusianya menatap nyalang sang pangeran yang masih setia mengenakan jubah juga kain sutera kesayangannya. Dengan rambut berantakan dan aura kelam di sekelilingnya, jelas sekali ia adalah seorang iblis sekarang.

"Lucifer." panggil iblis kepercayaannya sekali lagi, dan itu sukses membuat sang pangeran murka.

"Diamlah, keparat! Aku sedang berpikir." sosok berjubah panjang membalik badannya. Ia berjalan mendekati ranjang tempat Jungkook berada. "Diam dan tunggu, atau aku akan menyobek mulutmu."

Azazel terdiam.

Ia memilih tutup mulut daripada menghadapi kemarahan seorang Lucifer.

Pedang Michael belum berhasil dimilikinya, dan ia bersumpah tidak akan musnah sebelum mengklaim senjata yang selalu ia idamkan itu.

Selama lima belas menit, penguasa Neraka hanya diam. Sepasang matanya menatap lekat tubuh Jungkook yang terlelap seolah tengah menelanjanginya. Otaknya berpikir keras, mengkalkulasi beberapa hal yang mungkin terjadi kepada calon permaisurinya.

Sesuatu yang luput dari pengawasannya.

Ia tidak yakin.

Mungkin namja bersurai tembaga miliknya terlalu lama berada di Neraka.

Tapi tidak seharusnya ia berubah tanpa seizinnya. Semua yang terjadi kepada Jungkook, Lucifer-lah yang memutuskan.

Pemuda yang tengah terlelap mengerutkan keningnya. Ia mengerang pelan, terdengar resah. Raut wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan yang dialaminya di dalam tidur. Mungkin, Jungkook sedang memimpikan sesuatu.

Tangan kanan Lucifer terulur, mengusap dahi manusia yang berhasil menyedot seluruh atensinya sejak pertama kali mereka bertemu.

Hanya butuh tiga usapan, dan Jungkook kembali tenang dalam tidurnya.

Menghela nafas panjang, akhirnya pangeran menatap kaki tangan kepercayaannya. Setelahnya, ia bergumam. "Jungkook melihat Michael."

"Maksudmu, Jungkook bertemu dengannya?" sepasang mata pria Jung memicing. Ia menatap tuannya penuh selidik sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan. "Waktu terhenti saat malaikat menampakkan dirinya ke Bumi. Jangan bilang kau melupakan itu."

"Aku tidak menyadarinya." ucap Lucifer ambigu. Ia terlihat begitu serius saat melanjutkan. "Awalnya, waktu benar-benar terhenti. Detak jantungnya, seluruh fungsi inderanya, semua terhenti, sama seperti seluruh manusia yang ada. Tapi saat aku menyentuhnya, jantung Jungkook kembali berdetak."

"Kau sama sekali tidak lucu, Yang Mulia. Selera humormu seperti kakek tua, kalau kau mau tahu." Hoseok menyela. Dalam hati ia tahu sosok yang memiliki Kim Taehyung sebagai nama manusia-nya tidak sedang bercanda. Tapi sesuatu di dalam dirinya memaksa untuk percaya bahwa yang didengarnya hanyalah bualan semata. "Lucifer, alam dan seisinya tahu, manusia tidak akan bisa melihat malaikat kecuali saat ajalnya mendekat."

"Dan seharusnya, Jungkook sudah mati sekarang jika saja alasannya mampu melihat Michael adalah karena ajalnya." sang pangeran menyahut. Ia menatap teduh sosok yang terlelap di hadapannya. "Matanya bergetar ketakutan, jantungnya berdetak menggila sebelum dia pingsan. Asal kau tahu saja, waktu masih terhenti ketika Michael menghilang dari hadapanku. Dan saat itu, Jungkook sudah bisa kembali bicara. Mungkin, kalau aku tidak melakukan sesuatu padanya di detik aku menyadari jantungnya berdetak, Michael akan mengetahuinya juga. Kemungkinan terburuk, Jungkook akan berteriak karena shock."

Hoseok hanyut dalam pikirannya sendiri.

Sebenarnya, bukan masalah baginya jika Jungkook bisa melihat malaikat tanpa harus menunggu ajal. Hanya saja, itu membuat Jeon keparat semakin istimewa.

Dan Lucifer sangat suka memiliki sesuatu yang istimewa untuk dirinya sendiri. Firasatnya mengatakan bahwa, apapun akan diberikannya untuk Jeon sialan, meski itu adalah barang yang mulanya dianggap paling berharga.

Pedang Michael, misalnya.

Jeon Jungkook tidak seperti manusia pada umumnya. Ia memiliki sesuatu yang berbeda di dalam dirinya.

Sesuatu yang sangat berbahaya.

Ketidakmampuan tatapan sang pangeran untuk menarik keluar hasrat terbesarnya saat pertama kali mereka bertemu, awalnya hanya ia anggap angin lalu.

Tapi, setelah kejadian hari ini, Azazel tidak bisa meremehkan hal berbahaya dalam diri Jeon Jungkook.

Sesuatu yang berhubungan dengan mata bocah itu….

"Aku ingin kau mengunjungi Jeon Wonwoo. Dia kekal di Hutan Bambu Duri. Kembalikan ingatannya semasa masih hidup, tanyakan apapun tentang Jeon Jungkook."

Yang diajak bicara malah mengeryit keheranan.

"Hutan Bambu Duri?" Azazel membeo. Setahunya, Jungkook termasuk ke dalam golongan orang baik walau dia suka mengumpat dan bertindak kasar. Bagaimana bisa ia memiliki kakak dengan sifat yang sangat berbeda?

"Tempat bagi para pembunuh, orang yang suka berzina, juga pencuri." gumam Lucifer meyakinkan. "Aku akan menyembunyikan Jungkook di sini. Aku akan menjaganya. Kalau kau mendapatkan sesuatu, segera beri tahu aku."

Tidak semua penghuni Hutan Bambu Duri melakukan ketiga dosa yang disebutkan sekaligus. Hanya saja, walau hanya salah satu diantara ketiganya, sepertinya sangat jauh dari Jeon Jungkook dan orang-orang terdekatnya.

Meski demikian, iblis kepercayaan sang pangeran hanya mengangguk sebelum undur diri.

.

.

.

"Yugyeom!" pekik Jimin ketika ia tersadar. Tubuhnya terasa remuk.

Ia berusaha mencari pegangan pada tembok di sebelahnya, lalu perlahan bangkit. Dengan panik ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Jimin tidak ingat apa yang sebenarnya ia lakukan. Namun ia yakin dirinya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya.

Jantungnya seolah menembus tulang rusuknya kala ia mendapati tubuh rekan polisinya tergeletak di lantai. Selang-selang yang menyokong kehidupan penyandang marga Kim itu sebagian terlepas, dan itu sungguh membuatnya menatap ngeri ke arah tubuh yang semakin terlihat menyedihkan itu.

Darah segar mengalir dari hidungnya, juga luka lebam baru yang muncul di tulang pipi sebelah kiri. Mungkin, Yugyeom membentur sesuatu.

Tapi itu bukan hal yang harus ia pikirkan. Menemukan dokter dan perawat adalah hal yang harus dilakukannya. Maka ia berlari sekuat tenaga menuju ruang jaga. Park Jimin bicara seperti orang kesetanan, mengatakan bahwa penghuni ICU yang merupakan temannya terjatuh dari ranjangnya.

Ia melakukan kebohongan, berucap ia memergoki tubuh si jangkung yang tergeletak di lantai melalui kaca besar yang biasa ia gunakan untuk melihat sang sahabat yang tengah terlelap setiap kali ia berkunjung.

Persetan dengan ia yang akan ketahuan jika ada yang melihat rekaman cctv malam ini.

Ia bahkan tak ingat apa yang terjadi, kenapa dirinya berada di kamar rawat intensif yang seharusnya tak boleh dimasuki orang luar.

Jimin begitu panik. Ia langsung menghubungi kantor, memberitahukan apa yang terjadi kepada entah-siapa yang bertugas malam ini. Setelahnya, ia menelfon Kapten Bang. Tentu saja atasan mereka langsung memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.

Pria bersurai gelap itu benar-benar merasa gusar. Firasatnya sangat buruk. Ia bahkan tidak berani membayangkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.

"Tuhan, kumohon selamatkan Yugyeom." menautkan kedua tangannya di depan dada, Park Jimin mulai berdoa. Ia bahkan tak yakin harus menundukkan kepala sebagai tanda permohonan atas doanya, atau menengadah untuk menunjukkan betapa besar hal yang ia minta kepada Ia yang Memiliki Kuasa. "Dia adalah orang yang baik. Kumohon, buka matanya. Sembuhkan ia dengan kuasamu…"

Sang detektif tak pernah tahu, Yang di Atas Sana tidak akan pernah lagi mendengarkan doa-doa yang ia panjatkan.

.

.

.

Sosok bersurai tembaga mengeryitkan dahinya. Ia merasa terusik dengan sebuah suara yang menyapa gendang telinga. Bukan apa-apa, hanya saja, senandung itu memiliki melody yang begitu indah, terlampau indah untuk dinyanyikan seseorang.

Perlahan ia membuka kelopak matanya. Dahinya berkerut kala sinar rembulan yang menembus jendela kaca menerpa wajahnya, menyilaukan iris sewarna obsidiannya.

Seseorang duduk di sana, di atas mejanya, menyandar ke sudut jendela.

Tubuh tegapnya berbalut jubah panjang berwarna hitam. Rahang tegasnya terlihat jelas karena sosok yang masih terus menggumamkan nada dengan lirik yang tak dimengerti si pemilik mata onyx menoleh ke luar jendela.

Tubuhnya tampak bercahaya, ia tidak bercanda.

Samar, namun ia seolah melihat sepasang sayap bertengger di punggung kokohnya.

Sayap itu berwarna putih dengan helaian-helaian bulu yang terlihat begitu halus dan lembut.

Sayap berwarna putih.

Tiba-tiba kepalanya terasa sakit luar biasa.

Ia mengingat sesuatu. Sesuatu yang berwarna putih, menyilaukan, dan bersayap.

Seorang malaikat.

"Jungkook." ucap pria berjubah saat ia mendengar suara benturan. Ia yakin pemuda yang dipanggilnya terantuk kepala ranjang. "Kau baik-baik saja? Hei…"

Bukannya menjawab, penyandang marga Jeon malah semakin mengerang. Kedua tangannya memegangi kepala, sepasang matanya memejam rapat.

Lucifer menariknya ke dalam sebuah dekapan. Tangan kanannya memeluk pinggang, sementara yang kiri mengusap puncak kepala si manusia dengan kain sutera miliknya. Setelahnya, ia kembali menggumamkan nada-nada tanpa kata. Lagu-nya berbeda, kali ini terdengar lebih menyenangkan dan membuat Jungkook lebih tenang.

Awalnya, Jeon muda bergerak gelisah. Ia bukannya memberontak dan berusaha melepaskan pelukan pria bersurai jelaga. Ia hanya gelisah, merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang menyambangi ingatanya. Kedua tangannya meremat pinggang sang pangeran kuat, menarik jubahnya seolah ingin membuat benda itu sobek.

Namun lima belas menit setelahnya, detektif Jeon mulai tenang.

Nafasnya yang mulanya memburu, kini tenang berderu.

Kedua tangannya tak lagi meremat, kini beralih memeluk erat.

Lucifer memilih diam. Ia membiarkan Jungkook menenangkan dirinya sebelum bercerita.

Apapun. Apapun yang ingin pemuda Jeon katakan, pangeran akan dengan senang hati mendengarkan.

"Kau mirip dengannya." akhirnya, gumaman lirih lolos dari bibir mungil calon pendamping sang penguasa. Si manusia sama sekali tidak mendongakkan kepala demi menatap pria yang akan memilikinya. Malahan, wajahnya semakin tenggelam di dada bidang pemilik Neraka.

Tak apa. Sang pangeran tidak keberatan.

Ia hanya menjawab seperlunya. Lebih tepatnya, balik bertanya. "Siapa?"

Butuh waktu beberapa detik untuk Jungkook mampu berkata-kata karena sejujurnya, kehadiran sosok itu di luar perhitungannya. "Yang punya sayap dan berwarna putih. Apa itu malaikat?"

Tanpa sadar, bibir pangeran terangkat naik. Ia mengacak helaian tembaga kekasihnya karena ia baru saja menanyakan hal polos seperti seorang balita.

"Namanya Michael. Ia yang berhasil melukaiku dan mendepakku keluar dari Eden."

Ingin rasanya Jungkook diam saja. Tapi rasa penasaran membuat mulutnya yang kurang ajar kembali menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya. "Kau memiliki sayap sepertinya. Milikmu lebih indah."

Sang pangeran bisa merasakan jantungnya sendiri berhenti untuk sepersekian detik. Ia melepas pelukan dengan hati-hati. Perlahan, ditariknya dagu Jungkook. Sepasang laut kelam di matanya memaksa obsidian kembar Jeon muda untuk tenggelam di sana.

Mereka bertatapan sangat lama.

Nihil.

Pria bersurai jelaga tidak menemukan apapun di sana. Hanya permata paling indah yang ia kagumi seperti biasanya.

Tapi bagaimana bisa Jungkook melihat sayapnya?

"Aku suka suara merdumu."

Kali ini Lucifer mendengus. Ia melepaskan pelukan. Dijauhkan tubuhnya dari sang detektif. Ia bangkit dari ranjang dan membiarkan begitu saja Jeon muda terduduk masih dengan menatapnya.

"Neraka dan seluruh penghuninya, bahkan aku, yang paling ditakuti di sana tidak menggoyahkanmu sama sekali, tapi seorang malaikat bisa meruntuhkan kesombonganmu, bahkan membuatmu pingsan seperti pengecut." Lucifer menaruh sutera merahnya, lalu melepas jubah berbahan kulit yang ia kenakan perlahan. Bibirnya menyunggingkan seringai meremehkan. "Mengejutkan."

Wajah terkejut yang jelas sekali dibuat-buat itu berhasil membuat Jungkook geram.

Ia mendengus kesal. Setelahnya, ia kembali bicara. "Aku hanya khawatir itu adalah malaikat pencabut nyawa. Aku takut mati sebelum bisa menyelamatkan Yugyeom."

Ada rasa sakit yang teramat sangat menghujam ulu hatinya kala nama itu kembali terucap. Jungkook tidak pernah suka memanggil si tiang sinting dengan namanya. Ia lebih suka mengumpat untuk menarik atensinya. Dan sekarang, ia lebih tidak menyukai nama itu terucap dari bibirnya. Karena setiap kali terselip Kim Yugyeom di hembusan nafas Jungkook, kejadian malam itu akan kembali berputar di kepalanya dengan sangat jelas.

Gambaran sang sahabat yang berbaring lemah tak berdaya membuatnya ingin meraung dalam tangisnya.

Dan bayangan si menyebalkan yang tak tahu akan kembali atau pergi sungguh membuatnya sesak dan merasa menyedihkan.

"Aku bisa menunggumu selamanya. Tapi aku tidak yakin dengan temanmu." gumam sebuah suara datar bersamaan dengan derit ranjang yang menarik perhatian Jungkook.

Pria tegap dengan dada bidang dan otot di perutnya mulai menaiki tempat tidur. Ia merangkak perlahan, mendekati pemuda Jeon yang duduk bersandar pada kepala ranjang.

"Hmm… de javu. Aku jadi ingat saat mendapatimu mendesah dalam kungkunganku beberapa waktu yang lalu." bisik sang pangeran yang hanya mengenakan celananya, tepat di telinga kiri namja bermata obsidian. "Sayang sekali, malam itu aku gagal menjadikanmu milikku."

Jeon Jungkook mengutuk di dalam hati. Ia yakin si sinting Lucy mengungkit kejadian itu dengan sengaja. Kejadian di hari saat Jeon muda hampir menanggalkan harga dirinya untuk memohon dijamah oleh si gila benar-benar ingin dilupakannya.

Sepertinya percuma.

Memang akan percuma…

Karena hari ini, kejadiannya tidak akan sama.

"Jadilah permaisuriku, Jeon Jungkook. Jika itu masih berada di dalam kuasaku, kau akan mendapatkannya segera."

Memejamkan mata rapat, Jungkook coba menahan deru nafasnya yang memburu akibat udara di sekitarnya mulai terasa panas. Sekujur tubuhnya meremang hebat. Hasrat dalam dirinya bangkit, meraung, bahkan mengemis demi menjadi milik sang pangeran.

"Jadilah kekasih abadiku, dan kau akan mendampingiku di istana. Neraka dan seluruh isinya menjadi milikmu, termasuk diriku."

Jeon Jungkook benar-benar menyerah.

Bukan kepada Kim Taehyung,

Apalagi Lucifer.

Bukan pula kepada takdir yang mempermainkannya.

Melainkan kepada dirinya sendiri yang, entah sejak kapan, menginginkan sang pangeran yang begitu arogan untuk memilikinya secara utuh.

Lagipula, ia memang telah memutuskan. Demi Yugyeom…

"Aku milikmu, Yang Mulia." bisik Jungkook tepat di telinga pria yang mengungkungnya. Bibirnya bergetar saat mendaratkan kecupan lembut di sana.

Penguasa Neraka menyeringai menang.

Diberikannya kecupan-kecupan ringan di perpotongan leher dan pundak Jungkook yang masih berbalut piyama. Ia berucap lembut, seolah ketulusan bersarang di dalam setiap kata yang lolos dari bibir sang pendusta.

"Terima kasih, Ratuku." Lucifer menjauhkan tubuhnya. Ia menatap lekat wajah paling cantik yang pernah ia temui, bibirnya tersenyum tipis.

Diberikannya sebuah kecupan singkat di kening. "Kau akan selalu memikirkanku karena hanya ada aku di dalam kepalamu."

Bagi Jungkook, itu terdengar seperti sebuah kutukan. Tapi ia berusaha tersenyum. Matanya mulai memanas, dan ia berharap sang pangeran tidak menyadarinya.

Pangeran memang tidak menyadarinya. Lebih tepatnya, tidak peduli.

Sepasang tangan besar itu membuka kancing piyama yang dikenakan Jungkook satu per satu. Ia lalu menyingkapnya ke masing-masing sisi tubuh mulus permaisurinya, memberikan usapan lembut yang dengan sukses membuatnya menggelinjang.

Jeon muda mendesah lirih.

Ini baru permulaan, dan jantungnya sudah berdetak tak karuhan.

Ia bahkan tak yakin apakah dirinya akan selamat malam ini karena, sungguh… Jungkook merasa jantungnya akan pecah akibat dentuman menggila di dalamnya.

Pemuda bersurai copper menarik nafas dalam-dalam saat sentuhan hangat yang begitu lembab menelusur lehernya, mengecup-ngecup jakunnya yang naik-turun akibat ia yang menelan rakus salivanya sendiri.

Jungkook mengerang saat merasakan gigitan ringan di collar bone miliknya.

Lidah itu terjulur menjilatnya, menari-nari di ceruk yang menunjukkan perpotongan antara selangka kanan dan kiri.

Jungkook merasa lidah itu dengan lancang membalurkan obat perangsang ke permukaan kulitnya. Sepasang tangannya tanpa sadar meremat surai jelaga sang pangeran. Ia memekik kala pangeran bermain-main di dadanya nakal dengan melewatkan bagian areola, membuatnya semakin terjerat hasrat yang menggebu di dalam dirinya. Membuatnya semakin menginginkan sentuhan iblis di tubuhnya yang belum terjamah.

Sepasang kaki pemuda Jeon bergerak resah. Ia menggesekkannya ke ranjang, membuat tubuh bagian bawahnya bersentuhan dengan kaki jenjang pria yang tengah menyeringai karena melihatnya kepayahan.

"Ratuku…" gumam Lucifer sebelum kembali menggerakkan lidahnya untuk menelusur perut rata permaisurinya. Kesepuluh jarinya bergerak sensual saat menggelitik pinggang sang kekasih. Kuku-kukunya menggesek kulit mulus Jeon muda ringan ketika sang pangeran menyeretnya naik hingga ke dada, lagi-lagi bermain di sana tanpa menyentuh nipple menggemaskan yang sebenarnya begitu menggiurkan.

Ada sebuah getaran aneh saat pangeran kegelapan memanggilnya dengan sebutan ratu. Jungkook merasa dirinya begitu diinginkan, begitu dipuja dan disembah.

Rasanya menyenangkan, sekaligus menggairahkan setiap kali Lucifer melakukannya.

Pangeran menyeringai, memberikan kecupan kupu-kupu di pusar Jungkook-nya. "Kelak, di sini akan tumbuh bayi-bayi iblis yang menggemaskan. Kau akan menjadi ibu yang dikaguni anak-anakmu, wahai permaisuri."

Jungkook menundukkan kepalanya. Saat itulah pandangannya bersibobrok dengan sepasang iris Lucifer yang tengah memperhatikannya.

Wajahnya bersemu hebat, dan itu sukses membuat sosok yang menindihnya tersenyum tipis.

Lucifer, sang penguasa Neraka, tersenyum kepada Jeon Jungkook.

Senyum yang mengingatkannya akan seseorang.

"Pangeran.. mhh…" bisik Jeon muda lirih. Ia berusaha menahan lenguhan saat kekasihnya memberikan rematan gemas di pinggang.

"Menginginkan sesuatu, hm?"

Jungkook mengangguk. Sepasang onyx-nya tak lepas dari paras tampan yang kini mendekat ke wajahnya. Ia menerima sebuah lumatan di bibir bawahnya.

Hanya sebentar, karena setelahnya sang pemilik Neraka sibuk mengagumi keindahan seorang Jeon Jungkook.

"Katakan, sayang."

Sang detektif merasa ragu. Sejujurnya, ia malu luar biasa. Namun hanya sekali ini kesempatan yang ia punya untuk mengatakannya.

"U -untuk yang pertama." ditariknya nafas dalam-dalam sebelum dihembuskannya perlahan. Ia memberanikan diri untuk menyelam ke dalam lautan yang terperangkap di sepasang netra calon suaminya. Lirih ia berucap, "Aku ingin memanggilmu Kim Taehyung."

Lucifer terkekeh ringan.

Jungkook sempat berpikir ia tidak akan mendapatkan keinginannya, namun kalimat yang terucap dari bibir pria bersurai jelaga membuatnya melayang hingga ke Surga.

"Lakukan, Jungkook-ah. Panggil aku Kim Taehyung seperti kehendakmu. Aku milikmu, Yang Mulia."

Ada binar kepuasan dari sepasang mata indah itu saat mendapatkan persetujuan dari iblis yang memilikinya, sang pangeran jelas mengetahuinya. Pemuda bersurai tembaga merasa tersanjung saat ia dipanggil Yang Mulia, dan Lucifer senang karenanya. Pendampingnya haruslah serakah sepertinya.

Perlahan namun pasti, Jeon Jungkook akan menjadi iblis seperti dirinya.

"Kim Taehyung, pangeranku." sepasang telapak tangan halus itu membelai rahang tegas pemilik surai jelaga yang langsung memejamkan mata, seolah menikmati perlakuan yang ditujukan untuknya.

Sang pangeranmengetahuinya, Jeon Jungkook bukan lagi terjatuh ke dalam pesona seorang Kim Taehyung. Keangkuhannya telah meruntuhkan harga diri sang detektif hingga sekarang, ia tenggelam ke dalam perasaannya untuk Lucifer sang iblis.

Biarlah pemuda Jeon masih mencoba menyangkalnya. Cepat atau lambat, Jungkook akan mengakuinya juga.

Maka pangeran menyunggingkan seringaian di tengah kegiatannya mengecup lembut telapak tangan kekasihnya penuh puja. Sepasang kakinya berada di antara paha Jungkook-nya, menggesekkan miliknya ke paha dalam yang hanya tertutup selembar celana tidur.

"Aahhh.. Tae!" Jungkook memekik keras saat merasakan gigitan kasar di lehernya. Ia merasakan panas yang luar biasa kala bibir tebal prianya melumat dan menghisap daerah sensitifnya rakus, seolah ia tengah bercumbu dengan leher mulus milik detektif Jeon.

Tangannya kembali meremat pundak pria yang dipanggilnya Taehyung, menyalurkan kenikmatan yang ia rasakan. Matanya berkunang-kunang kala ia merasakan gundukan di selangkangan pria Kim menekan selangkangannya. Benda yang masih tertutup celana itu terasa begitu keras, juga panas.

Ia terbakar gairah.

Ia menginginkannya, dijamah oleh sang iblis yang akan menyeretnya jatuh ke lubang Neraka, menjadi miliknya.

"Jungkook. Milikku… kekasihku…" Taehyung mengerang kala sepasang paha Jeon muda terbuka lebar, menghimpit pinggangnya kuat-kuat bersamaan dengan tangannya yang dengan lancang menekan kepala sang pangeran.

Bibir panas itu mencium kasar, meninggalkan jejak-jejak kemerahan di leher dan dada Jungkook. Terbuka lebar saat berada di depan puting kanan pemuda bersurai tembaga, mulut pangeran segera meraupnya, menghisap nipple kenyal yang telah menegang itu rakus. Sebelah tangannya memelintir yang kiri, menariknya gemas, menyalurkan kenikmatan luar biasa untuk kekasih satu-satunya.

"Aku milikku, permaisuriku. Keinginanmu adalah perintah untukku." bisik sang iblis di sela kegiatannya mengulum nipple. Bibirnya menggigit lembut, lidahnya menelusur titik sensitif di dada Jungkook, membuatnya mengerang tertahan.

Penyandang marga Kim terkekeh. Ia melepaskan puting kanan yang telah membengkak sebelum akhirnya dengan tak sabaran melahap yang kiri. Tangan kanannya membelai gundukan di selangkangan sang ratu, basah.

Mereka saling menginginkan.

Jungkook sadar Lucifer adalah takdirnya. Kemanapun ia akan dibawa, Jeon muda akan mengikutinya dengan suka rela.

Asalkan sahabatnya kembali seperti semula…

Sang pangeran melepaskan lumatannya di dada sang kekasih. Ia menjauhkan tubuhnya, sekedar mengagumi keindahan yang telah diciptakan oleh-Nya. Mungkin, ia akan berterima kasih kepada sang ayah karena memberikan kesempatan bagi makhluk seindah Jeon Jungkook untuk terlahir ke dunia.

"Kau benar-benar cantik." ucap pria bersurai jelaga. Sepasang iris samudera miliknya menelusur lekuk tubuh sempurna sang permaisuri. Tangan kanannya terulur mengusap pipi Jungkook, menciumnya lembut sebelum mendekatkan bibirnya ke bibir pemuda Jeon, meraupnya kasar tanpa ampun.

"Mmnggh."

Lucifer memperdalam ciumannya, meneguk rakus saliva Jungkook, memagut dan menggigit bibir bawah kekasihnya. Suhu tubuhnya naik, terpacu birahi yang menggebu, tangannya bergerak meremas pinggang Jungkook kuat.

"Ahh… Taemmh…" lenguhnya di sela cumbuan, kedua tangannya mengalung di leher takdirnya, pangerannya, pemiliknya. "Mahhh…"

Jungkook mengerang, tangan kirinya membelai rahang tegas itu, menelusur leher hingga ke tulang selangka. Bergetar saat menyadari betapa sempurnanya tubuh yang akan menjamahnya, membuat detektif Jeon semakin bernafsu meraba otot perut yang terasa kokoh. Ia meraup udara dalam-dalam kala sang pangeran memberinya kesempatan untuk bernafas.

"Kau begitu sempurna, sayang." bisik Taehyung sebelum melesakkan lidahnya ke mulut Jungkook. Ia menyeringai senang kala kedua belah bibir namja bermata legam mengatup, lalu mengulum dan menghisap lidah sang iblis rakus, seolah ingin meneguk sebanyak-banyaknya kenikmatan dari sana.

Ujung telunjuk kiri Taehyung bergerak-gerak membentuk pola lingkaran, menelusur dada Jungkook. Sesekali dengan sengaja ia menyentuh puting kekasihnya yang telah membengkak. Jeon muda terperanjat, memekik kaget namun tak sedikitpun berniat menghentikan cumbuannya. Sementara tangan kanannya menarik paha kiri Jungkook. Pinggangnya bergerak maju-mundur, menggesekkan gundukan di selangkangannya dengan sengaja ke belahan pantat permaisuri yang sejak tadi mengangkang lebar dengan tungkai jenjang yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan Jungkook mendekap erat leher pria Kim, ia mati-matian menahan dirinya untuk tidak menelusur punggung sang iblis dengan kukunya. Jungkook tak mau Lucifer terluka. Sepasang netranya setengah terpejam, menikmati segala perlakuan Taehyung yang membuat tubuhnya serasa terbakar.

Pangeran membelit kuat lidah Jungkook, menghisapnya rakus seperti binatang kehausan yang menemukan telaga. Ia lalu membuka mulutnya lebar, menggigit bibir bawah Jungkook.

Bukannya kesakitan, Jungkook terlihat menikmatinya. Bahkan pinggulnya bergerak menyambut gerakan pinggang Taehyung di bawah sana. Jungkook benar-benar menikmatinya. "Wmnnhh… Pangeranhh.."

Yang dipanggil hanya kembali menyeringai.

Jeon Jungkook memanggilnya pangeran, bukan Kim Taehyung.

"Mmaahh.. pendampingku yang indah…" sang pangeran bergumam lirih saat ia melepaskan bibir Jungkook yang membengkak. Dikecupnya perlahan bibir itu. Kecupan-kecupan lembut itu terus ia berikan bersamaan dengan bibirnya yang bergerak ke dagu, hingga leher Jungkook. Ia akan menambahkan tanda kepemilikannya di seluruh tubuh indah Jeon Jungkook yang memiliki kulit selembut susu.

Jakun pemuda Jeon naik-turun. Ia menggigit bibir bawahnya menikmati sensasi nipple sensitifnya yang dippelintir kuat, juga bagian selatannya yang terus bergesekan dengan bagian bawah pangeran iblis. Lehernya terasa panas ketika pangeran menggigitnya, mengulum lembut, lalu kembali menghisapnya rakus.

"Mmn.. ahh… Taehyung… mmnh." kedua tangan Jungkook menelusur lengan pemilik takdirnya, merematnya kuat, mencoba membisikkan betapa ia menikmati perlakuan yang diberikan untuknya tanpa harus mengucapkannya dalam kata.

Bukan nama Kim Taehyung yang berulang kali terselip di sela desahan dan lenguhannya tatkala pria bersurai arang miliknya semakin ganas menandai leher dan tulang selangkanya, melainkan sebutan pangeran, juga panggilan Lucifer-lah yang lebih sering ia ucapkan.

Lucifer menjauhkan tubuhnya saat kedua tangannya menarik tautan kaki pemuda Jeon di pinggangnya. Sepasang iris sedalam samuderanya menatap teduh wajah pemuda yang kini terengah dengan mata yang memerah dan berair. "Kita akan mulai, sayang. Kau milikku sekarang."

Sadar atau tidak, yang diajak bicara menganggukkan kepalanya. Bibir bengkaknya menyunggingkan sebuah senyum tulus yang berhasil menggetarkan hati sang pangeran.

Hanya selama beberapa detik. Karena setelahnya, pria Kim segera menarik lepas celana Jungkook tergesa. Ia lalu meloloskan atasan piyama yang sudah acak-acakan, menyisakan tubuh berkulit selembut susu yang polos dengan kedua paha kencang yang mengangkang di kedua sisi tubuh sang iblis.

Bak serigala yang tengah kelaparan, sepasang mata tajamnya menatap nyalang tubuh pemuda yang diklaim sebagai permaisurinya. Ia menjulurkan lidahnya, menjilat bibirnya yang terasa kering luar biasa. Tak berapa lama, ditelannya saliva di dalam mulutnya dengan susah payah.

Jeon Jungkook benar-benar sempurna.

Ditariknya lembut tubuh pemuda yang tengah bersemu. Lucifer mengarahkan kedua tangan Jungkook untuk memegang daerah selangkangannya.

"Mmhhh.." sang pangeran merasakan sensasi yang luar biasa. Hanya dengan sebuah sentuhan, calon induk dari keturunannya mampu membangkitkan hasrat di dalam dirinya.

Tubuh Jungkook menegang. Pria tinggi di hadapannya masih mengenakan celana, namun ia bisa merasakan betapa tegang miliknya.

"Baby, hisap."

Wajah namja bersurai tembaga bersemu merah. Ia tak mengatakan apapun, melainkan mengangguk patuh tanpa memikirkan jawabannya terlebih dahulu. Kedua tangannya bergetar saat melepaskan kancing celana sang iblis, lalu menurunkan resletingnya pelan.

"Perlu aku membantumu?"

Ia menelan ludahnya gugup sebelum kembali mengangguk tanpa melepaskan kontak matanya dengan sang pangeran.

Kepalanya diusap lembut. Ia juga mendapatkan sebuah senyum tulus sebelum tubuh tegap itu turun dari ranjang dan melepas celananya sendiri.

Jeon Jungkook kembali menelan ludahnya. Ia bahkan memejamkan matanya, tak sanggup membayangkan kejantanan berurat yang begitu tegang itu memasuki tubuhnya.

"Kau akan menikmatinya, aku janji."

Terperanjat kaget, pemuda Jeon segera membuka matanya. Ia bahkan tak menyadari kapan pangerannya kembali naik ke atas ranjang. Dan sekarang wajah tampan itu tepat berada di depannya.

"Taehyung…" cicitnya hampir tanpa suara. Ia menunduk malu saat ditatap seperti itu.

Jungkook merutuki tindakan tololnya karena sekarang, yang memenuhi indera penglihatannya adalan penis Lucifer yang mengacung tegak.

Jungkook merasa takut, sangat.

Tapi entah bagaimana tubuhnya malah semakin menggeliat menahan gairah. Ia bahkan bisa merasakan pintu analnya berkedut, sedangkan cairan precum mulai merembes keluar dari ujung kejantanannya.

"Kau bisa pelan-pelan." bisik sang iblis. Ada aura dominan di setiap ucapannya sehingga yang kini Jungkook lakukan adalah merangkak di hadapan pangeran yang duduk bersandar pada kepala ranjang.

Sepasang mata bulatnya menangkap kilatan penuh nafsu dari sorot kebiruan Lucifer. Ragu ia menyentuh penis yang berukuran lebih dari dua kali miliknya.

Tangan halusnya bergerak lembut, mengurut dari pangkal hingga ke ujung, memberikan pijatan sebisanya.

"Pertama kali bagimu?"

Jungkook mengangguk malu. Ia memejamkan matanya, lalu menundukkan kepala. Tangannya semakin bergetar karena ia merasa baru saja dipermalukan. Matanya memanas begitu saja karena ia tidak suka terlihat payah di hadapan kekasihnya.

"Kalau begitu, aku akan menjadi yang pertama." gumam sang iblis dengan suara rendahnya. Tentu saja ia tahu detektif Jeon masih suci, belum terjamah sama sekali. Itu adalah satu dari sekian banyak alasan yang membuatnya begitu menginginkan sosok bertubuh sempurna di hadapannya. "Angkat kepalamu, permaisuriku. Aku ingin berterima kasih karena kau mengizinkanku menjadi yang pertama."

Namja Jeon membuka matanya saat ia merasakan dagunya diangkat. Didapatinya senyum tulus dari sang pangeran untuknya. Senyum itu begitu terlihat indah, menjadi sempurna dengan paras rupawan sang pangeran.

"Terima kasih karena telah menjaga dirimu untukku, Jungkook. Terima kasih banyak."

Dan senyuman terukir di bibir Jeon muda. Ia terlihat malu-malu hingga sepasang gigi kelincinya mengintip lucu. Ia merasa bahagia, ada semacam rasa bangga karena berhasil mendapatkan ucapan terima kasih dari sosok pangerannya.

Setelahnya, sebuah kecupan ringan mendarat disana, diiringi dengan suara berat yang menggetarkan hatinya.

"Istriku yang cantik."

Jungkook semakin erat menggenggam kejantanan yang bahkan tak muat di satu tangannya. Ia merasa sangat bahagia kala pujian itu terlontar untuknya. Dadanya menghangat, menginginkan untuk mendapatkan sanjungan lagi dan lagi dari prianya.

"Jangan terlalu rakus." canda pangeran saat Jungkook mulai menjulurkan lidahnya menyentuh ujung penis. Ia melenguh tertahan, sementara si manusia merona hebat.

Tubuh Jungkook bergeser semakin merapat ke tubuh sang iblis. Lidahnya menyapu dari ujung hingga ke pangkal kejantanan Taehyung-nya, memainkan sebentar kedua bola kembarnya, sebelum kembali meliuk dengan gerakan sensual ke ujung kebanggaan sang pangeran. Ia lalu memberikan kecupan-kecupan ringan. Sesekali Jungkook akan melumat, bahkan kembali menjulurkan lidahnya untuk menelusur urat kokoh di batang kebanggaan yang akan segera memasuki dirinya.

Membuka mulutnya lebar, Jeon Jungkook memasukkan penis yang telah ereksi penuh itu ke dalam mulut. Ia kemudian mengulumnya seperti permen tangkai, menghisapnya rakus. Ia bahkan mengeluarkan suara seperti orang kelaparan tanpa disadarinya.

Jungkook sungguh kepayahan. Bagian kepalanya saja tak muat masuk ke dalam mulut sehingga ia benar-benar hanya mengulum ujungnya. Jungkook akan sesekali mengulum bagian leher penis hingga ke pangkalnya dari samping, sedikit demi sedikit, atau mengurutnya dengan kedua tangan.

"Mwanghh!" lenguh pemilik surai tembaga kala jemari panjang Lucifer bergerak lincah membelai tulang punggungnya, dari atas leher hingga tulang ekor. Sementara itu kepalanya diusap lembut oleh tangan kanan sang iblis.

Jungkook memekik tertahan tatkala prianya menggenggam penis miliknya yang telah dibanjiri precum. Pinggangnya yang menungging bergerak resah, mencoba meraup kenikmatan lebih dari apa yang pangeran lakukan.

Lucifer menyentuh pintu anal Jungkook lembut, bermain-main di sana selama beberapa saat sebelum melesakkan jari tengahnya yang telah dilumasi precum ke lubang surga milik pemuda yang mengulumnya.

Mengerang tertahan, pinggul Jeon muda bergerak menjauh, seolah ingin pemilik Neraka segera mengeluarkan jarinya dari sana. "Mwmbhh… mmnnhh…"

"Ssttt.. tenanglah sayang. Aku harus melakukan ini atau kau akan terluka saat kejantananku bersarang di lubang sempitmu. Mmn… ini sungguh sempit, kau tahu?" Lucifer menekan kepala Jungkook, menahannya sambil sesekali memberinya usapan menenangkan agar ia tidak protes, sementara jari tengah yang berada di dalam Jungkook mulai bergerak liar. "Kau akan menyukainya, aku janji."

Dan Jungkook memejamkan matanya sesaat. Ia kembali fokus pada kegiatannya mengulum dan menghisap kejantanan Taehyung, juga kedua bola kembarnya. Bibir dan lidahnya yang tadinya kaku kini sudah mulai luwes. Erangan sesekali lolos dari bibirnya setiap kali pangerannya menyentakkan jarinya untuk mencari titik nikmatnya. Apalagi kini telunjuk pangeran yang tak kalah liar telah melesak masuk untuk menemani jari tengah, liang anal Jungkook semakin terasa penuh. Gerakan-gerakan yang tanpa aturan membuatnya semakin liar bergerak, tak tahu saja ia bahwa itu membuat dinding rektumnya semakin mencengkeram kuat.

"Mmn… kau yang terbaik, sayang." Puji pangeran saat Jungkook menghisap miliknya kuat, tepat di ujung, seolah berusaha mengeluarkan cairan kental dari lubang penisnya.

Pemuda beriris gelap menahan senyuman.

"Ohh! Pangeran!" pekiknya dengan refleks melepaskan kuluman ketika ujung jemari dominannya menyentuh titik kenikmatan. Ia mendongak, membusurkan tubuhnya dengan benang saliva yang bercampur precum terulur panjang dari sudut bibirnya hingga ke ujung kejantanan pria bersurai jelaga.

Yang dipanggil menyeringai lebar. Ia semakin kuat menumbuk titik kenikmatan sang permaisuri dengan sesekali melakukan gerakan menggunting. Ia semakin bersemangat menumbukkan kedua jarinya saat Jungkook menggenggam penisnya kuat sambil menjerit kecil. Sepasang mata onyx-nya setengah terbuka, menatapnya sayu, sarat akan kabut nafsu,

Seolah ia tengah memohon agar sang iblis segera membuahinya.

"Sayang, boleh kulakukan sekarang, hm? Aku ingin segera membuatmu menjerit nikmat dalam kungkunganku."

Jungkook tersenyum lembut singkat saat jemari di liangnya dikeluarkan. Wajahnya memerah saat Lucifer merengkuhnya ke dalam sebuah dekapan. Dengan gerakan perlahan, sang pangeran membaringkan pendampingnya, mengganjal punggung bagian atasnya dengan beberapa bantal agar Jeon muda dapat melihat proses penetrasinya nanti.

"Jangan pejamkan matamu." bisik sang dominan tepat di telinga kiri Jungkook. Ia kemudian memberikan kecupan ringan di bibirnya yang bengkak. "Kau akan menyaksikan saat aku memasukimu, sayang. Bukti bahwa kau dan aku akan bersama selamanya, bukti bahwa kau hanya milikku, dan aku milikmu."

Dengan wajah yang memerah karena malu dan tersipu, Jungkook mengangguk. Ia berpegangan pada bahu kokoh pangerannya saat sesuatu yang panas dan tumpul memperlebar belahan pantatnya hingga menyentuh kerutan anal. "Mm -ahh… Yang Mulia."

Lagi-lagi Lucifer menahan seringaiannya.

Yang Mulia…

Pangeran…

Begitu Jeon memanggilnya.

Ia merasa menang, karena kini seolah Jungkook telah melupakan sosok manusianya, Kim Taehyung

"Kau begitu panas. Menggairahkan." bisik pangeran bersamaan dengan ujung kejantanannya yang mulai ia gesekkan. Sebelah tangannya berusaha membuka kedua pipi pantat Jungkook agar liang surganya terlihat. Sementara tangannya yang lain menggenggam batang kejantanannya, mengocoknya sekilas.

"Akhhh!" kedua pupil Jungkook menyaksikannya, bagaimana kepala kejantanan berukuran besar itu membelah pintu analnya sebelum perlahan masuk ke dalam. Kedua tangannya meremas masing-masing lengan sang iblis, menancapkan kuku-kukunya di sana.

Jungkook tak mampu menahan desahannya. Meski ia telah berusaha mengulum bibir bawahnya sendiri, usahanya seakan sia-sia.

Matanya membola seakan tak percaya kala kepala penis Lucifer benar-benar telah tertelan oleh liang sempitnya.

"Aaahhh… " lenguhnya saat pangeran Neraka semakin mendorong kejantanannya masuk membelah dinding rektum yang kian berkedut.

Jungkook membusungkan dadanya, membuat nipple-nya yang tegang semakin mencuat. Bibirnya bergumam tak jelas, memanggil-manggil nama seorang pria bermarga Kim, dengan selipan nama Lucifer yang terdengar lebih sering.

Pemuda Jeon menggelengkan kepalanya cepat. Ia benar-benar merasa penuh. Pedih yang luar biasa membuat bagian bawahnya terasa panas, sakit. Sepasang mata indahnya memerah. Ia mulai menangis. "Kumohon.. ahh… Lucy.. berhenti.. akh!"

Sang pangeran tidak pernah menyukai panggilan itu. Tapi saat pendampingnya yang mengatakannya, itu terdengar lebih sexy dan menggoda. Ia menyukainya.

"Ohh! Keluakan!" pekik detektif Jeon sambil tersengal. Matanya terpejam kala mendapatkan kecupan-kecupan hangat di selruh wajahnya. Ia mulai merasa nyaman.

Tak tahu saja ia bahwa pangerannya tengah mengambil ancang-ancang.

Lucifer masih mencium lembut wajah berkeringat Jeon Jungkook saat ia melesakkan seluruh kejantanannya dengan sekali hentak. Penis itu menumbuk kuat titik kenikmatan sang submisif hingga tubuh Jungkook terlonjak menabrak kepala ranjang.

Tubuh itu menegang hebat. Matanya melotot kaget dengan mulut yang terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara.

Walau begitu, cairan sperma menyembur dari batang kemaluan Jungkook.

"Aaaakkhhh!"

Tubuhnya mulai menggelinjang hebat. Kuku yang menancap di lengan sang pangeran menembus kulitnya semakin dalam, namun itu sama sekali tak membuat pangeran kesakitan.

Jungkook masih menjerit, entah karena nikmat, atau sakit yang mendera tubuh bagian bawahnya.

Lucifer kembali mendaratkan kecupan-kecupan ringan, kali ini di leher Jungkook. Tubuh mereka telah menyatu sempurna, dan ia sungguh menyukai sensasi rematan kuat dari dinding rektum Jeon muda yang seolah ingin dirinya segera menyemburkan benihnya di dalam. Tangan kirinya beralih memanjakan milik kekasihnya, berusaha memberikan kenikmatan bagi sang pendamping.

"Maaf, apa terasa sakit?" pangeran merasakan sepasang lengan itu kini memeluk kepalanya, meremat surai kelamnya kuat.

Ucapan itu terdengar begitu tulus. Begitu hangat dan menenangkan.

Pemuda bersurai tembaga mendesis pelan, "Sakit…"

Lucifer terkekeh mendengar rengekannya. Ia mengusap-usap kepala pemuda di bawahnya lembut. "Maafkan aku, hm? Aku terlalu menginginkanmu."

Bibirnya bergerak memberikan kecupan di pundak namja yang tengah mendekap kepalanya. Tangan kanannya mengusap pinggang berisi Jungkook, mencoba menenangkannya.

Sejujurnya pangeran merasakan nikmat yang luar biasa. Jungkook adalah satu-satunya yang mampu memberikan sensasi menggila pada batang kejantanannya. Mungkin saja, jika pemilik iris sebiru laut dalam tidak menahan dirinya sekuat tenaga, ia sudah menghujam pemuda Jeon habis-habisan tanpa ampun.

Tapi Lucy memilih untuk tidak melakukannya. Jeon Jungkook bukanlah jalangnya, pemuda ini yang akan mengandung keturunannya dan membesarkannya.

Maka ia memberi sedikit kelonggaran padanya.

Maka ia akan begitu memanjakan sang permaisuri.

Butuh waktu sampai akhirnya Jungkook melepaskan dekapannya di kepala sang penguasa. Ia terisak lirih, matanya masih berair saat menatap sepasang netra sang pangeran. Ia tak mengatakan apapun, hanya mengangguk sambil menunjukkan seulas senyuman yang begitu manis.

Dan sang iblis tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menarik keluar kejantanannya hingga tersisa bagian kepalanya saja, lalu mendorongnya perlahan. Bibirnya hanya tersenyum saat mendapati bercak kemerahan di batang penisnya. Ia tahu, miliknya terhitung kelewat besar untuk dimasukkan ke dalam liang senggama seorang manusia. Dan cincin anal sang permaisuri pasti terluka.

Jungkook mendesah lirih. Ia merasa lebih tenang saat pangerannya menautkan kedua tangan mereka, menekannya lembut masing-masing di sisi kepala Jeon muda.

"Lu.. mhh…" bisik sang manusia di sela desahannya.

"Hm? Kenapa sayang?" pangeran terkejut dengan apa yang ia katakan. Lebih terkejut lagi dengan tindakannya yang sangat berhati-hati ketika menggerakkan pinggangnya seolah pemuda Jeon di bawahnya adalah sosok yang begitu berharga yang harus ia jaga.

"Apa aku mhh… ahh.. Lu…"

Pemilik Neraka dan seisinya terkekeh melihat Jungkook yang merasa kesal karena omongannya terpotong.

Bagaimana lagi? Lucifer benar-benar tidak bisa berhenti menghujamkan kejantanannya meski ia harus pelan-pelan.

"Kau kenapa, sayang? Cantik, hm? Kau memang sangat cantik, menggoda dan menggairahkan." dikecupnya singkat bibir ranum Jeon muda, masih dengan menggerakkan pinggangnya dengan ritme pelan, namun bertenaga. "Ingat saat kubilang Incubus akan marah karena kau yang terlalu polos mengaku sebagai mereka?"

Jungkook mengangguk singkat, ia tersentak saat merasakan lubangnya dihujam semakin kuat. Ia mengeratkan tautannya, menatap lekat samudera kelam di netra pangerannya.

"Kutarik kembali kata-kataku." mendekatkan wajahnya ke telinga kiri sang permaisuri, mantan malaikat tertinggi itu menghembuskan nafasnya sensual sebelum berucap, "Mereka akan iri karena kau begitu menggairahkan dan mempesona. Makhluk paling sempurna yang pernah tercipta. Pengantinku…"

"Ohh! Luu… ahh ahhh… hentikan!" pekik Jungkook ketika gerakan pinggang sang iblis semakin kuat dan cepat. Ia tersentak hingga berkali-kali menabrak kepala ranjang.

Ia berkata hentikan, namun sepasang kaki jenjangnya malah melingkar di pinggang sang penguasa Neraka, pinggulnya ikut bergerak mencoba mengais kenikmatan yang entah sejak kapan begitu ia inginkan.

Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih. Kedua tangan Lucifer yang tadinya bertaut dengan tangan Jungkook kini beralih meremat pinggangnya. Sesekali ia akan menampar bongkah pantat yang begitu menggiurkan, membuat pekikan nikmat lolos dari bibir si pemuda.

Sepasang lengan Jungkook mengalung indah di leher sang pangeran. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai menyukainya, namun memandang wajah Lucifer yang tengah memburu nafsu benar-benar membuatnya bergairah.

Jeon Jungkook menyukainya.

Ia bahkan sesekali mendekatkan wajahnya ke wajah pria bersurai jelaga hanya untuk memberikan kecupan lembut di bibirnya, atau memberikan gigitan gemas di hidung mancungnya.

Gerakan mengeluar-masukkan yang dilakukan pangeran terasa semakin nikmat saat pemuda itu dengan cepat bergerak. Kedua tangannya menampar bantat Jungkook secara bergantian. Dikeluarkannya kejantanan miliknya hingga tersisa kepalanya, lalu Lucifer akan menghujamnya kuat-kuat.

Pemuda Jeon menyambutnya dengan suka rela. Ia meremat surai kelam pangeran setiap kali kenikmatan itu menyerangnya. Rintihan dan desahan tak henti-hentinya lolos dari belah bibirnya yang telah membengkak. Ia akan menjerit nikmat setiap kali ujung kejantanan sang iblis menumbuk prostatnya yang berkedut.

Jungkook melenguh, membuka mulutnya, terengah saat Lucifer menyentak kuat. Penisnya bahkan menganggur di bawah sana, tanpa dimanjakan sama sekali. Namun ia merasa benar-benar tengah menuju puncak birahinya.

Tangannya bergerak menuju nipple-nya sendiri, menarik-narik dan memelintir kuat benda yang sudah membengkak itu. Gerakannya terkesan tak sabaran, begitu liar dan terburu-buru. Derit ranjang yang sedaritadi terdengar kini semakin keras menggema, menunjukkan betapa bernafsunya kedua sosok yang tengah bercumbu.

"Pangeran.. awhh.. aku.. ahh.. ingin keluar… ohh…"

"Keluarkan sayang." pria bermata samudera terkekeh, dilumatya bibir Jungkook, digigitnya lembut, lalu dihisapnya rakus.

Jungkook semakin menggila saat ujung kejantanan sang pangeran menumbuk titik nikmatnya tanpa ampun, lagi dan lagi. Tapi Jungkook menggeleng, ia berusaha melepas pagutan bibir sosok yang dianggapnya sebagai Kim Taehyung.

"Kumohon…" bisiknya lirih, masih dengan kedua tangan yang memelintir putingnya sendiri, juga pinggang yang bergerak menyambut hujaman sang pangeran. "Bersama… buahi aku, Pangeran… aa-ack! Jadikan aku pendampingmu!"

Katakanlah Jeon Jungkook sudah gila.

Ia memohon kepada seorang iblis agar dirinya digunakan.

Akal sehatnya telah hilang. Di dalam kepalanya kini benar-benar ada Lucifer, dan hanya Lucifer. Di luar nalar, ia merasa siap melakukan apa saja asalkan pangeran bersedia bersamanya.

Jeon Jungkook, ingin menjadi milik pria yang kini menyeringai lebar dengan mata berkilat.

Gerakan mereka semakin liar, bahkan Lucifer bergerak brutal. Ia sama sekali tak mempedulikan bercak darah yang semakin banyak keluar. Anal Jungkook-nya terluka tapi ia memilih untuk tidak peduli.

Yang dikejarnya saat ini hanyalah kenikmatan dan kepuasan untuk dirinya sendiri.

"Mnn aaangghhhhhh…. Yang Mulia! akhh… ahh…" pekik Jungkook terputus. Ia tak tahan lagi.

Tubuhnya menggelinjang hebat. Lolongan kenikmatan ia teriakkan dengan suara merdunya saat cairan semen keluar dari ujung kejantanannya, mengenai perutnya sendiri, juga perut sang pangeran tanpa henti.

Mengejar permaisurinya yang masih mengalami orgasme, Lucifer menghentakkan pinggulnya kuat. Ia menggeram seperti binatang buas kala menyemburkan benihnya di dalam liang surga manusia yang seharusnya menjadi permaisurinya.

Seharusnya.

Karena begitu hasrat mereka menyatu,

Karena ketika keduanya sama-sama berada di puncak nafsu, Lucifer melihatnya.

Sebuah simbol muncul di mata kiri Jeon Jungkook, tepat di iris onyx-nya, berwarna merah menyala. Bentuknya terlihat rumit dengan setengah lingkaran di satu sisinya. Ada lingkaran-lingkaran kecil menempel di sana. Sementara di sisi yang lain, ekor iblis keluar dari sebuah garis vertikal yang memisahkan sisi kanan dan kiri simbol itu.

Jelas sekali, itu bukan simbol milik Lucifer. Dan jelas sekali bahwa tanda itu dengan sengaja disembunyikan.

Pangeran merasa marah. Dadanya bergemuruh murka.

Ia merasa dipecundangi oleh pemuda yang kini tersenyum lebar dengan sebelah tangan membelai rahang tegasnya.

"Kau menjual jiwamu kepada iblis." gumamnya dengan nada dingin. Ia menepis kasar tangan Jungkook. Kedua tangannya bergerak cepat untuk mencengkeram leher jenjang sang detektif yang penuh akan tanda kepemilikan yang beberapa waktu lalu ia berikan.

Tanpa menunggu jawaban, Lucifer semakin kuat mencekik pemuda yang seharusnya menjadi permaisurinya.

"Katakan, kepada siapa kau menjual jiwamu, Jeon! Dan beraninya kau menjualnya lagi padaku!"

Jungkook merasakan sesak yang teramat sangat. Paru-parunya terasa panas, bahkan tersedak pun ia tak sanggup. Matanya berkunang-kunang, kepalanya terasa pusing luar biasa karena kekurangan pasokan oksigen di otaknya.

"Jalang sialan."

Suara itu terdengar begitu dingin. Kontras sekali dengan tangan yang begitu panas saat berusaha mematahkan leher Jungkook.

Dada pemuda Jeon terasa sakit. Pangeran yang baru saja melambungkannya ke Surga, kini membanting tubuhnya kuat-kuat ke dasar jurang.

"Enyah kau dari hadapanku!"

.

.

TBC

.

.

A/N:

Because the Prince is a rebel...

Happy 4 years + 1 day, BTS

.

.

Akhir kata, review please

Sayang, Tiger

Line: kimtaemvan

Ig: kim_taemvan