Blank Letter
By : Mizu Kanata
Disclaimer : Mashashi Kisimoto
Ah, akhirnya fic ini tamat juga!
Hehe... Maaf kelamaan.
A/N : Chapter ini diambil dari 2 sudut, sudut Tenten dan sudut Neji.
Chapter 11 : The End of All
Neji menatap gelas di tangannya. Ia baru saja kabur dari 2 anak perempuan gila itu. Ya, begitu Neji tahu mereka tidak sendirian, ia langsung pergi. Neji menatap berkeliling, semua orang masih larut dalam pesta. Sejauh ini, tidak ada murid perempuan yang memisahkan diri. Pemuda itu menyesap minumannya, lalu menaruhnya di meja. Ia sama sekali tidak menyadari gelas yang disimpannya terlalu pinggir, sampai telinganya mendengar bunyi kaca yang jatuh menjadi kepingan.
Perasaan Neji tiba-tiba dilanda sesuatu yang aneh. Dan ia teringat saat Tenten memberi tatapan sekilas padanya. Ah ya, Tenten… kemana anak itu? Pikiran Neji segera meresap semuanya, gawat, sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Tenten. Neji mengedarkan pandangannya, dan menyadari tidak ada tanda-tanda Tenten di auditorium.
Neji segera menghampiri Shikamaru yang ada di dekatnya, "Tenten –"
"Dia keluar," jawab Shikamaru tanpa menunggu lanjutan perkataan Neji.
Pemuda itu berlari ke luar auditorium, perasaanya semakin tidak enak. Apa yang terjadi? Tapi di luar masih tidak ada tanda-tanda gadis itu. Neji mengeluarkan telepon genggamnya, berniat menelepon Tenten. Namun, sebelum melakukan itu Neji melihat 1 pesan di layar ponselnya.
'One Message, Shizune-sensei
Tenten baru mengantar seorang murid, dia sudah kembali 'kan?'
Neji masih menatap layar ponselnya, pesan itu menunjukkan 5 menit lalu. Tapi, kenapa gadis itu belum kembali? Perasaan tidak enak terus bercampur di benak Neji saat ia itu berlari menuju asrama.
Akhirnya, semua itu terbukti saat Neji melihat Tenten yang sudah tak sadarkan diri…
…
"Maaf… aku tidak bisa masuk ke dunia ilusi, harus menggunakan jurus hitam untuk itu. Kita sudah tertinggal jauh, tumbal untuk melepas segel sudah terkumpul semuanya. Aku tak yakin dengan apa yang harus kita lakukan," kata Jiraiya tegang.
"Tapi, kita tidak boleh membiarkannya!" kata Neji, hilang sudah sikapnya yang sedari tadi tenang. Mereka baru kembali setelah mengantar Tenten ke rumah sakit.
"Ya, kami semua tahu Neji," sela Kakashi. "Aku yakin Orochimaru akan membalaskan dendamnya habis-habisan jika dia bisa bebas."
"Itu tak akan terjadi." Pintu terbuka, Shizune masuk dengan sebuah buku di tangannya. "Ini, aku ingat pernah melihatnya di gudang sekolah."
"Ah, kau benar. Aku bahkan lupa buku itu ada disana." Jiraiya mengambil buku itu dan menyentuhnya perlahan. "Neji, bersiaplah, kita membutuhkan pikiranmu untuk mengacaukan semuanya."
…
Tenten berjalan dalam keremangan, seolah berada dalam ruangan gelap tak berujung. Tapi, ia masih dapat melihat keadaan sekitar seadanya. Matanya terpaku saat melihat orang-orang yang di kenalnya. Ah, mereka ada disini…
"Tenten!"
"Shizuka? Aku senang sekali bertemu denganmu lagi!" seru Tenten memeluk sahabatnya itu.
Tapi, Tenten segera memekik saat tubuhnya menembus tubuh Shizuka begitu saja.
"Ke-kenapa bisa begini?" Kengeriannya bertambah saat Tenten menatap tangannya, yang bahkan ia sendiri tidak bisa menyentuhnya. Tubuhnya… tak tersentuh.
"Yah… entah bagaimana, roh kita terpisah dari tubuh," kata Sakura pelan.
"Jurus hitam itu mengunci roh kita di tempat ini," kata Ayane.
"Ayane… kurasa kita semua sudah tamat." Tenten menatap mereka sendu, ia benar-benar kehilangan harapan di dunia tanpa secernah sinar ini.
"Hahaha… Kau benar! Kalian akan tamat!"
Kabuto ?!
…
Jiraiya memejamkan matanya, "Pejamkan matamu." perintah Jiraiya.
Apapun yang dilakukan pria paruh baya itu, Neji tak mengerti. Tapi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah mencoba dan berharap. Perlahan, kelopak mata pemuda itu menutupi iris lavendernya.
"Aku akan menyambungkan pikiranmu dengan Tenten. Dan kau, konsentrasilah pada Tenten, temukan pikirannya…"
Menyambungkan pikiran? Apa Jiraiya sudah gila? Neji menghembuskan napasnya dan berkonsentrasi. Memikirkan gadis itu tidaklah sulit, karena entah mengapa segala sesuatu Tenten tak pernah terhapus dari pikirannya.
Dia… dia… ada disini.
Tiba-tiba Neji merasakan ketakutan, tapi bukan dari dirinya… Dan ia bisa mendengar sesuatu di pikirannya, yang dengan jelas itu bukan dirinya juga…
Apa yang harus aku lakukan?
"Kau sudah mendapatkannya Neji, berbicaralah padanya," kata Jiraiya membuka matanya, terlihat sedikit kelegaan di wajahnya.
"Tenten?" tanya Neji, merasa dirinya gila karena berbicara sendiri.
Deg… Deg… Deg… Dia mendekat.
"Ten?"
Oh, sepertinya aku sudah gila. Mendengar suara Neji di saat seperti ini.
"Tenten? Dengar, ini memang aku," kata Neji sedikit takjub. Tenten mendengar suaranya!
Tenang Tenten… jangan pikirkan hal lain, masalah besar ada di depan matamu.
"Ten? Jawab aku, Jiraiya menghubungkan pikiran kita," kata Neji lagi.
Neji?
"Ya Ten, ini aku."
"Tanyakan padanya keadaan disana," kata Shizune yang ada di dekatnya.
Hei, benarkah itu kau? Aku rasa, aku benar-benar gila.
"Tidak, kau tidak gila. Sekarang, ceritakan padaku apa yang terjadi disana."
…
Secercah harapan yang sirna itu, sekarang kembali muncul. Tenten benar-benar tidak percaya ini, pikirannya tersambung pada Neji. Dan itu berarti ia tidak sendirian…
"Sayang sekali kalian tidak bisa melihat kebangkitan Orochimaru nanti. Karena saat tuanku hidup, kalian akan mati. Hahaha…" Suara tawa itu terdengar membahana.
"Tenten? Jadi Kabuto…" bisik Hinata.
"Ya, dia hanya pura-pura menjadi guru. Dia orang jahat," balas Tenten.
Sesuatu yang berat tiba-tiba terjatuh di sekeliling mereka, membuat mereka kaget dan menjerit.
Ten, apa yang terjadi?
Ruangan gelap itu kini terasa semakin sempit, sebuah penjara besi mengelilingi mereka. Tidak ada ruang lagi untuk kabur.
'Neji, Kabuto mengurung kami,' kata Tenten dalam hati.
…
"Kabuto mengurung mereka," kata Neji.
Ya, dan sekarang dia menyuruh kami diam. Dia bersila dan membacakan sesuatu yang tak kumengerti.
"Kabuto sudah mulai membuat jurus," kata Neji lagi.
"Katakan pada Tenten cegah dia, buat konsentrasinya buyar," kata Jiraiya.
"Lakukan sesuatu Ten, alihkan perhatiannya."
"Kabuto sudah berjalan ke tahap selanjutnya, mereka sudah tidak bisa kabur," kata Shizune.
"Tenanglah, kita harus melakukan semuanya perlahan-lahan, serahkan pada Tenten. Saat konsentrasi Kabuto buyar, kurungan besi itu akan menghilang," kata Jiraiya.
"Tapi, bagaimana jika Kabuto tidak terpengaruh?" tanya Kakashi.
Jiraiya melihat konsentrasi Neji sedikit buyar, ia mengerti, sulit untuk tetap konsentrasi pada satu hal sementara di sekelilingnya suasana tidak tenang. "Diam, biarkan Neji berkonsentrasi."
…
"Hey, kau! Apa kau bodoh?! Kau telah melihat Orochimaru menghabisi anak-anak lainnya! Untuk apa kau mengikuti jejaknya?!" teriak Tenten.
Tapi, Kabuto tak bergeming…
Tenten terus berteriak dan mengumpat, tapi tetap tak ada respon.
Anak perempuan lain yang melihat Tenten, hanya menggeleng sedih.
"Apa yang kau lakukan Ten?" tanya Shizuka.
"Semuanya akan sia-sia…" bisik Ino.
"Jadi, kalian ingin mati di sini?!" tanya Tenten, kemarahannya telah memuncak. "Kalian akan membiarkan mimpi kalian hilang? Kau mau hidupmu berakhir sia-sia?!"
Hening…
"Bodoh… kalian menyerah pada keadaan!" kata Tenten, air mata hampir terjatuh di pipinya.
Bertahanlah Ten…
"Kabuto! Apa yang kau harapkan saat kau membebaskan Orochimaru? Kau akan kehilangan semuanya baka!" teriak Tenten, suaranya serak dan hampir habis.
"Kau tak berguna! Hanya mengiginkan sesuatu yang bodoh!" teriak Ayane.
Tenten menatapnya, dan Ayane tersenyum.
Harapan kembali muncul saat Tenten melihat seluruh anak mencoba membuyarkan konsentrasi Kabuto. Dan bebannya terasa sedikit berkurang. Ya, Tenten melihat Kabuto terusik.
Tiba-tiba penjara yang mengelilingi mereka menghilang. Kabuto berdiri dengan raut marah di wajahnya.
'Kami berhasil, Neji…'
Tapi, perasaan takut kembali menjalarinya saat Kabuto semakin mendekat. "Lari!" teriak Tenten.
…
"Me-mereka berhasil?!" tanya Shizune tak percaya.
"Ya," jawab Neji mengangguk.
Jiraiya membuka lembar demi lembar kertas usang dari buku yang diberikan Shizune.
"Sebenarnya, buku apa itu?" tanya Kakashi.
"Ini adalah buku petunjuk dunia ilusi. Aku belum pernah menggunakannya sebelum ini, tapi orang yang masuk ke dunia ilusi tanpa disegel, mereka bisa kembali. Dan kita harus menemukan jalan keluar untuk mereka."
"Ah, ini dia." Halaman berhenti pada sebuah syair besar dengan tulisan yang meliuk-liuk.
Celah sinar tak pernah terlihat
Namun semua hanya muslihat
Sebuah garis akan terpahat
Dan kupu-kupu membantumu melihat
"Ini, sebuah teka-teki," kata Jiraiya usai membaca syair.
Neji… Kami, semuanya gelap, tidak ada ujung, ini hampa… Aku tak tahu lagi, aku takut!
"Ten, cari sebuah…." Neji ragu sejenak. "Garis."
Hah… Hah… Apa maksudmu?.
Neji merasakan kelelahan yang dirasakan Tenten. Tidak, tapi Tenten tidak boleh menyerah.
…
Mereka berlari dalam kegelapan kelam, berlari dan terus berlari, mencari-cari jalan keluar. Tapi, secercah cahaya tidak pernah terlihat. Dunia ini benar-benar hampa dan tanpa ujung. Desah napas tak teratur terdengar dari 13 murid yang ada.
Pikiran-pikiran mengerikan berkelebat di benak Tenten. Mereka tidak menemukan apapun, dan kemungkinan Kabuto mengejar mereka sangatlah besar. Ditambah lagi, informasi aneh dari Neji, sebuah garis…
"Tenten! Berhenti! Tidak ada jalan keluar," kata Mirano.
'Neji, aku tidak bisa. Ini sulit… aku… aku harus memberitahu mereka'
Hening… Neji belum menjawab, mungkin sedang menanyakannya pada Jiraiya.
Ya, kau boleh memberitahu mereka, asal mereka tutup mulut.
"Baiklah teman-teman, kita berhenti sebentar, aku akan memberitahu kalian sesuatu," kata Tenten. "Tentang mengapa kita terkurung disini. Tapi, kalian harus berjanji untuk tutup mulut. Ayane, apa kau telah menceritakan tentang jurus hitam?"
"Ya," jawab Ayane.
"Seperti yang telah Ayane jelaskan. Kita sampai disini karena jurus hitam dari surat kosong yang kita terima, dan alasannya adalah… untuk membuka segel Orochimaru."
"Siapa Orochimatu itu?" tanya Hinata.
Tenten terus menjelaskan sejarah kelam KHS itu. Namun ia tetap waspada, takut-takut ada tanda Kabuto di sekitarnya.
"Dan percaya atau tidak, sekarang pikiranku tersambung dengan Neji. Dia memberitahuku untuk menemukan sebuah garis," kata Tenten mengakhiri penjelasannya.
"Garis? A-aku melihat sesuatu disana tadi," kata Kana.
"Benarkah?" tanya Tenten tak percaya.
…
Neji masih diam sementara Shizune, Kakashi dan Jiraiya mendiskusikan tentang syair teka-teki yang mereka temukan.
Ne-neji! Kami menemukannya, garis itu berubah jadi kupu-kupu putih! Kupu-kupu yang bercahaya, kami bisa melihat jalan sekarang.
"Itu bukan teka-teki! Mereka menemukannya," kata Neji.
"Terus ikuti kupu-kupu itu. Aku akan mencari Kabuto dan menyegelnya, sebelum dia kembali ke kesadarannya. Kau bilang tempat persembunyiannya di perumahan kosong itu kan?"
"Ya," jawab Neji.
"Dan kalian, pergilah ke rumah sakit. Aku tahu mereka akan sadar."
…
Sayap kupu-kupu berkilau terang, menerangi sebagian yang tidak mereka lihat sebelumnya. Meskipun arah yang dilalui kupu-kupu itu tidak jelas, tapi mereka tahu kupu-kupu akan membawa mereka bebas. Keluar dari dunia hampa ini…
"Kalian tak bisa lari bodoh!" teriak Kabuto entah dari arah mana, namun suaranya terdengar jauh. Pasti ia melihat cahaya dari kupu-kupu ini.
"Terus lari!" perintah Tenten. Ia mulai sedikit gelisah, perlahan tapi pasti, Tenten tahu Kabuto semakin mendekat.
Tiba-tiba, kupu-kupu itu berhenti, tubuhnya perlahan memudar menjadi cahaya putih dan kembali menjadi garis. Garis itu terus memanjang dan membentuk sebuah persegi panjang.
Ah, sebuah pintu…
"Cepat keluar," bisik Tenten, masih mencari-cari dari arah mana Kabuto akan datang.
Satu persatu anak perempuan itu memasuki pintu. 9 orang… Tenten menghitung. 10…
"Kalian! Kembali!" Tepat saat itu Kabuto menemukan mereka.
"Cepat, cepat!" perintah Tenten lagi.
12 orang sudah masuk, tinggal dirinya. Tenten meraih pintu itu, namun sebuah tangan akan mencengkeramnya. Tampaknya Kabuto lupa jika sekarang mereka hanya roh.
Dan suara terakhir yang Tenten dengar adalah teriakan Kabuto.
…
Neji memegang tangan Tenten. Seluruh wajah menatapnya khawatir. Ya, entah mengapa Tenten belum tersadar. Ruangan rawat Tenten kini penuh sesak oleh 12 murid perempuan dan Neji. Semua orang sudah selamat, termasuk Sasuke yang sedang disadarkan oleh Kakashi dan Shizune.
Neji menundukan kepala, 'Apa yang terjadi padamu?'
Tapi, sebelum Neji menyadarinya, kelopak mata Tenten terbuka dan memperlihatkan iris cokelatnya. "Kalian disini…" gumamnya tersenyum.
Neji segera memeluk tubuh Tenten erat, "Kau selamat," bisiknya.
Kini, tak ada lagi surat kosong yang menghantui seluruh murid KHS. Semuanya menghilang... tak berbekas, seolah kejadian itu tak pernah terjadi. Mungkin memang seperti inilah misteri, datang dan pergi tanpa mengenal waktu dan tempat.
Maafkan Mizu jika fic ini kurang memuaskan...
Mizu akan mulai memperbaiki fic Mizu satu persatu.
Dan juga, terimakasih kepada reader yang masih setia nunggu fic ini.
Terimakasih atas saran, kritik, dan dukungannya.
Terimakasih juga atas yang sudah fave dan follow fic ini.
Berkat kalian semua, fic ini selesai!
And Special Thanks To :
Kotone Aya ; atas ketersediaan menjadi OC
Ariya 'no 'miji ; atas saran dan kritik yang sangat membantu
Berlian Cahyadi ; atas saran, kritik dan dukungannya
Shin Ryecchan ; atas dukungan, saran, dan kritiknya
