Hidan kesal bukan main. Iyalah, setiap kali ia sedang berdoa pada dewa Jashin, selalu saja diganggu oleh kru yang bilang bahwa gilirannya tampil di Are You Smarter sudah mau mulai! Sungguh, padahal sudah dibilang '10 menit lagi!', tetap saja para kru itu tidak mau mengerti. Seperti sekarang.
"Hidan! Woi, udah mau mulai!" sahut kru nomor satu.
"10 menit lagi! Sabar, kenapa?!" balas Hidan sambil mendecak.
"DARI DUA JAM YANG LALU JUGA LU BILANGNYA BEGITU!" bentak kru nomor dua. "SETIAP SEPULUH MENIT KITA PANGGIL TAPI LU BILANGNYA SEPULUH MENIIIITT TERUS!"
Hidan pun menoleh. "Hah? Dua jam?"
"Iye! Makanya ada jam di kamar, tuh, dilihat, bukan dijadiin sesajen!" seru kru nomor tiga.
Akhirnya Hidan melihat jam dinding, dan matanya langsung melotot. "Astaga! Tinggal beberapa detik sebelum syuting?! Kok gue enggak dipanggilin daritadi, sih?!"
...
...
"Senpai, gimana kalau bang Hidan itu kita jadikan sesajen?" tanya kru nomor tiga pada dua kru lainnya.
"Boleh, boleh," ujar kru nomor satu dan dua sambil mengangguk.
.
.
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, setiap fandom disebut di fanfict ini dan program Are You Smarter adalah milik penciptanya masing-masing, author tidak mengambil keuntungan.
Warning: sangat OOC. Jangan lupa baca author's note untuk mengirim soal dan pemberitahuan lainnya.
.
Are You Smarter Than Akatsuki?
Chapter 11: Uban VS Pirang
by Fei Mei
.
.
"Ehem, jadi, karena Hidan tidak kunjung hadir padahal sudah dipanggil tiga kali, para juri menyatakan bahwa Hidan dari Akatsuki kala—"
"TUNGGU!" seru Hidan sambil berlari ke panggung. "A-aku datang!"
"Ng, tapi sudah lewat dari waktu yang sudah ditetapkan, loh," kata Iruka, sang pembawa acara untuk episode ini.
"ENGGAK! Enak aja. Daritadi aku asyik berdoa pada Jashin, sudah mau syuting tapi enggak dikasihtahu! Nyebelin! Jahat kalian semua, JAHAT!" raung Hidan.
Tiga kru yang memanggil Hidan tadi jelas kesal. "Woi, kan tadi kami—"
"PULANGKAN SAJAAAA~ AKU PADA IBUKU, ATAU AYAHKUUU~~ UWOWOWOWO~~~" isak Hidan. Eh, itu lagu?
"Hidan, tenanglah," kata Konan. "Kakuzu bilang—"
"DULUUU~~ SEPIRING NASIIII UDAH BASIII~~~ IYEEEIYEEEE~~"
"DIEM LU!" bentak Kakuzu sambil melempar bakiak yang mendarat mesra di muka Hidan. "SANA KE PODIUM! LANGSUNG MULAI SYUTING!"
Hidan langsung mingkem dan melempar ciuman pada Kakuzu lewat tangannya. Yuck.
Iruka berdeham lagi. "Eh, ya sudah. Karena ternyata setidaknya Hidan masih datang juga, jadi ia dibiarkan untuk tetap bermain—"
"OH, jadi kalau dia terlambat sepuluh jam pun tetap gak masalah?" tanya Temari yang dandanannya sudah agak luntur karena kelamaan menunggu Hidan di podiumnya sendiri. "Gue udah nungguin daritadi tahu?!"
"Plis deh, elu aja baru nongol di panggung lima detik sebelum Hidan nongol," kata Kankurou sambil sweatdrop.
"Biarin aja, Kankurou," ujar Gaara. "Dia lagi datang bulan, biarin aja."
Iruka yang mendengar perkataan dari Temari langsung galau. Ia lebih galau lagi ketika ia tidak sengaja mendengar perkataan Gaara. Gawat.
"Gini deh. Jawaban benar dari Hidan akan dapat 1 poin, jawaban benar dari Temari dapat dua poin. Jika jawabannya salah, Hidan tidak dapat poin, Temari dapat satu poin. Jika tidak jawab, tidak dapat nilai. Gimana? Sah? Sah?" tanya Iruka, berasa seperti di ... ah, sudahlah.
"SAAAAHH!" seru Temari keras.
"K-kok gitu!? Berarti gue udah pasti kalah, dong?" tanya Hidan bingung.
"Lah, kan daritadi udah doa pada Jashin, harusnya walau aturannya begitu tapi tetap bisa menang dong?" tanya Konan.
"Emang lu doanya gimana? Sama seperti lu doa minta jodoh?" tanya Sasori.
Hidan mengangguk. "Iya. Gue doanya: Jashin, buat aku menang. Kalau aku tidak menang, jangan biarkan orang lain menang. Gitu."
"... pantesan sampe rambut beruban pun tetap jomblo, doanya aja begitu," kata Konan.
"Rambut gue emang udah putih dari sononya!" seru Hidan kesal.
"Eh, udah, dong, syutingnya udah telat banget nih!" sahut seorang kru.
Menyerah, Hidan pun berusaha menenangkan diri di podiumnya. Temari yang daritadi sudah kepanasan, sedang dikipasin oleh Kankurou dan Gaara. Melihat suasana sudah lebih kondusif, Iruka pun siap membacakan pertanyaan pertama.
"Oke, pertanyaan pertama. Jam berapa sekarang?"
...
...
"Itu elu yang mau tau sekarang jam berapa, atau emang itu soalnya?" tanya Temari sambil menyerngit.
Iruka langsung salah tingkah. "Eh, ng, itu beneran soalnya, sungguh! Di sini tulisannya begitu!"
Hidan dengan kekuatan bulan—maksudnya, dengan cepat, langsung melirik ke jam digital yang ada di dinding. "Jam 12 malem lewat 26 menit lewat 10 detik!"
"Oke—"
"Ganti, ganti! Jam 12 malem lewat 26 menit lewat 13 detik!"
"Eh—"
"AAARRGH! Jam 12 malem lewat 26 menit lewat 15 detik!"
"Hidan—"
"Bukan, ganti lagi! Jam 12 malem lewat 26 menit lewat 19 detik!"
...
...
Beberapa ratus detik kemudian.
"Ganti lagi! Jam 12 malem lewat 37 menit lewat 42 det—"
"LAMA LU TUA BANGKA!" bentak Temari kesal sambil mengipaskan kipas besarnya pada Hidan sampai si Tua Bangka, eh, maksudnya Hidan, agak terpelanting dari tempatnya. Gaara dan Kankurou langsung buru-buru menyambar kipas tersebut setelah agar sang gadis tidak mengipas lawannya lagi. Temari pun berdeham."Pertanyaannya hanya jam, kan? Berarti jawabannya jam dua belas."
Iruka mengangguk sambil agak takut. "Mm, iya, jawaban yang benar adalah jam dua belas. Skornya 0-2. Pertanyaan kedua, jika Hinata tewas karena dibunuh Kiba, apa yang akan dilakukan oleh Naruto?"
"K-kenapa aku harus ngebunuh Hinata?" tanya Kiba pelan.
"Yang lebih penting, kenapa kapal yang sering disebut di acara ini adalah NaruHina? Kenapa bukan LeeSaku?" tanya Lee bingung.
"LeeSaku? Lee Sakura? Emang itu pernah jadi kapal tersendiri?" tanya Ino bingung juga.
"Enggak, sih, kapal LeeSaku cuman numpang ngekos aja," ujar Lee galau.
"Hmm..." Hidan berpikir keras sampai 'hmmm'-nya bisa terdengar sampai ke Indonesia. "Ini pertanyaan sulit. Boleh diperagain, gak, acara pembunuhannya? Yang real, gitu, biar keliatan seperti apa ekspresi Naruto."
...
...
"Katanya religius, tapi bejad begitu," gumam Temari sweatdrop. "Jawabanku ... mungkin akan sedih? Naruto jadi nangis lebai begitu."
"Yaudah, kalau begitu jawabanku, Naruto akan kesenangan!" kata Hidan, membuat semua penonton bingung. "Bukan senang gimana, sih. Tapi kalau Hinata gak ada, Naruto kan bisa jalan dengan bebas bareng Sasuke!"
Iruka mengangguk. "Jawaban yang benar adalah ... Naruto akan melindungi Kiba dari Neji karena Naruto senang Hinata tewas biar bisa kencan bebas dengan Sasuke."
"Itu jawaban? Panjang bener kayak UUD," dengus Temari.
"Ya emang kunci jawabannya begitu ... " gumam Iruka.
"Kunci jawaban? Kayak UN gitu ya?" tanya Hidan. "Itu loh, Ujian Nikah!"
... dasar jomblo tingkat akut.
"Pokoknya, karena jawaban Hidan nyaris benar, poin setengah. Sekarang skornya Hidan setengah, Temari tiga," kata Iruka.
"Naruto! Jadi itu benar?!" tanya Neji dengan menggelegar sehingga semua mata tertuju padanya.
"Ap-APAAN?!" tanya Naruto bingung karena kerahnya ditarik Neji.
"KAMU SELINGKUH DENGAN SASUKE?!" tanya Neji gak sabar.
"Elah, udah episode ke berapa ini?! Dan elu masih pusingin begituan?!" seru Naruto.
"S-sudahlah, Neji-Nii, a-aku rapopo, kok, sungguh!" kata Hinata berusaha melerai.
"Tuh! Hinata-chan aja gapapa!" raung Naruto. Neji masih menggeram sambil ngeces.
"Sudah, Neji-Nii, lebih baik kita jadikan Naruto-kun sebagai sesajen, ya? Oke?" kata Hinata lembut sambil tersenyum.
...
...
Ternyata Hinata juga sedang datang bulan. Oke sip.
Iruka berdeham lagi. "Pertanyaan ketiga. Selain sama-sama berambut merah, ganteng, dan berasal dari Suna, apa lagi persamaan antara Gaara dan Sasori?"
"JOMBLO!" jawab Hidan cepat dan bahagia. "SAMA-SAMA JOMBLO!" Jelaslah, Hidan senang. Pasalnya, nyatanya seluruh anggota Akatsuki, termasuk Pein jika sang Leader mau mengaku, sebenarnya adalah anggota dari Perkumpulan Jomblo Abadi.
"Jawabanku sama deh, sama-sama jomblo," kata Temari enteng.
Hidan mendelik pada lawannya. "Ga boleh nyontek, tahu!"
"Sudah, sudah, khusus untuk Temari, boleh nyontek!" kata Iruka, yang takut kena serang Temari. "Jawaban yang benar adalah sama-sama jomblo! Skornya jadi satu setengah untuk Hidan, lima untuk Temari."
Sungguh, Hidan tidak senang dengan pembagian poin yang amat tidak adil tersebut.
"Pertanyaan selanjutnya," kata Iruka. "Apa merek rokoknya Asuma?"
"Hah? Memangnya Asuma bisa merokok? Dia, kan punya asma!" kata Hidan bingung. Iya, 'asma', kalau dibaca orang Jepang akan terdengar seperti 'asuma'. "Hmm... apa ya?"
"Meneketehe merek rokoknya apaan!" kata Temari, sepertinya masih kepanasan.
"Benar!" sahut Iruka. "Jawaban yang benar—"
"Tunggu! Aku kan, belum jawab!" kata Hidan sebal.
"Loh, tadi bukannya jawab 'apa ya'?" tanya Iruka bingung.
"Itu gue cuman ngomong sendiri doang!"
"Hah? Ngomong sendiri? Situ stres?" tanya Temari.
"Sudah, sudah, pokoknya, jawaban yang benar adalah Meneketehe, itu merek dari India," kata Iruka. "Pertanyaan selanjutnya ... eh, sudah habis?"
"Ap-apa? Sudah tidak ada soal lagi?" tanya Hidan mulai makin galau. "Jangan gitu, dong! Gue masih kalah banget, nih!"
"Tapi soalnya memang sudah habis ... " gumam Iruka. "Pemenangnya adalah Temari, skornya tujuh,sedangkan Hidan skornya satu setengah."
"Masa cuman gara-gara dia datang bulan jadi skornya bisa begitu?" protes Hidan. "Gua juga mau!"
...
...
Akhir dari episode ini ... Hinata dan Neji memburu Naruto untuk dijadikan tumbal, Temari masih kepanasan, dan Hidan ingin menjelma menjadi perempuan. Sah?
.
.
BERSAMBUNG
.
.
A/N: Untuk chapter ini, Fei bingung judulnya. Dan lelucon aneh seputar datang bulan itu, Fei tahu pasti banyak yang gak seneng, tapi Fei bingung bagaimana cara meng-OOC-kan Temari—eh, tapi malah gak ada nyinggung tentang hubungannya dengan Shikamaru, ya? Maaf banget.
Terimakasih untuk RendyDP424, Anni593, Hyudate'8576 untuk soal-soalnya, terimakasih kepada AYSTA dan Vira D Ace untuk reviewnya.
Peserta terakhir dari Akatsuki adalah Kakuzu. Pilih SATU untuk menjadi lawan Kakuzu: Sakura, Tenten, Kiba, Choji, Kankurou. KETENTUAN SOAL ADA DI CHAPTER 1.
Reviewnya kakak~
