~Balasan Review~
IKA-CHAN : hE HE maksih udah ngikutin yah... (^o^) senengnyaa~
semoga ikutin Fic" Shera yang lain yah... *plak* (ngarep)
HASNISTAREELS : Disini ada lemoooonnnn... xO tp 'dikit'... xD *plak*
semoga berkesan atas ending-nya yah... (^o^)
MAYU-CHAN iia dong... yang buat juga ngegemesin... xD *plak*
He he makasih yah udah ngikutin critanya... (^o^)
AYA-CHAN : Aya-chaannn! ayee... xD trakhir nih... thx udah ngikutin n review terus yah... xD
RAN-CHAN : wew... mrinding yah... O.o
he he kasih tw ga yah... baca sendiri aja di sini yah.. :3
~_30 Okt 2012_~
Yup.. present~ Last Chapter of "Sayonara"
~Enjoy Reading~
Kami tahu, ini merupakan takdir kami..
Selama ini kami telah berjuang melawan takdir..
Dan terkadang, ada takdir yang tak bisa dilawan.
Chapter 11 : Sayonara
SASUKE POV
"Engh~Ah~Ennn~"
Desahan itu begitu menyayat hatiku. Memikirkan bahwa ini akan jadi terakhir kalinya aku mendengar suara itu.
"Ah~AH~ah~Enghh~ah~Sasu…Ah~" Sakura semakin mempererat pelukanku, sesekali ia mencengkram rambutku ketika ia merasakan suatu rangsangan atau gerakanku mencapai titik nikmatnya.
Kami tak menyesal.
Kami tak pernah menyesali apa yang telah kami perbuat.
Karna sudah terlalu banyak hal yang terlewat untuk kami sesali.
"Sas…aaaa~Ahhh~Engh~enh~ah~" desahan Sakura semakin menjadi seiring gerakanku yang makin cepat.
Sakura…
Kau wanita yang tegar.
Kau menahan beban yang lebih berat dari kami para lelaki.
Gaara, Sasori, Aku, penduduk desa Konoha dan Suna…
Kami semua menyayangimu…
Kau yang membukakan hati kami.
Bahwa kau yang memiliki takdir kejam pun tak mengenal rasa menyesal.
Bahwa kau yang terlukapun tak pernah mengeluhkan sakitmu.
"SA…SUKEEEE!" pekiknya keras ketika ia mencapai klimaksnya yang entah keberapa.
~'~
Untuk pertama kalinya, kukatakan terima kasih pada mentari yang membangunkanku. Tak biasanya aku bermimpi seperti itu. Mimpi kejadian di masa laluku. Dan itu membuatku sesak.
"Engh~" aku merenggangkan otot-ototku yang kaku. Kulihat jam dinding yang sudah pukul 9 pagi itu.
"Hoamz~ aku harus ke gedung Kage hari ini."
Aku bangkit dari ranjangku, menyambar handuk, kemudian masuk ke kamar mandi. Aku membuka kaosku. Kulirik cermin besar yang memantulkan bayanganku.
Kulihat tengkukku. Segel itu…kini telah tiada.
"Sakura…"
Bayanganku kembali tertuju pada kejadian dimana aku pertama dan terakhir kalinya melakukan 'sex' dengan Sakura.
"Sasuke…hah hah..Ai..shi..teru.."
Itu adalah ucapan terahir yang dilontarkan Sakura sebelum ia menutup matanya… untuk selamanya.
Benih dalam diri Sakura telah melebur dalam diriku dan menghilangkan kutukan itu.
Setelah kejadian itu aku menggendong Sakura keluar, dan penduduk desa telah menanti kami. Banyak yang menangis ataupun sekedar meneriakan nama Sakura. Nampaknya mereka mulai sadar akan dosa mereka yang telah merendahkan Sakura. Penyesalan selalu datang belakangan, kan?
Iya kan, Sakura?
Tapi kuyakin kau tak pernah mengenal apa itu penyesalan.
Setelah itu Gaara mengambil alih tubuh Sakura, membawanya pulang ke Suna untuk dimakamkan di dekat makam orang tuanya. Dan kedua desa membentuk kembali kerja sama yang solid. Dengan Gaara sebagai Kazekage, dan Naruto sebagai Hokage-yang baru-.
'Ah! Kenapa aku jadi melamunkan hal itu?' batinku.
Akupun segera bergegas menyelesaikan mandiku.
~'~
"Yo, Sasuke. Seperti biasa, pekerjaanmu sebagai anbu rahasia memang selalu sempurna!" oceh sang Hokage, atau tepatnya, Naruto.
"Terima Kasih, Hokage-sama."
"Hey, hey, kau tak perlu sesopan itu denganku kan?" sahut Naruto sambil mencibirkan bibirnya, bodoh. "Kita ini kan sahabat, tak perlu sungkan-sungkan…"
"Lain tempat, lain cerita, Ho-ka-ge-sa-ma." Ucapku penuh penekanan sambil tersenyum.
"Errr…senyummu mengerikan, teme!" sahut Naruto. "Tapi…kau memang sudah berubah ya. Tak sedingin dulu. Sakura-chan benar-benar telah merubahmu."
"Ya…" aku kembali tersenyum. Kali ini dengan tulus.
~'~
Konoha dan Suna kini telah bekerja sama dengan baik. Munculnya medic-nin dari Suna yang hebat dan Petarung dari Konoha yang kuat. Kolaborasi yang bagus bukan?
Aku melangkahkan kakiku perlahan. Memandangi ruangan yang kulalui kini.
'Dulu, begitu sulitnya memasuki daerah ini… ya, bagaimanapun ini wilayah kekuasaannya.' batinku.
"Hey, jangan memandangi ruanganku seakan ada perangkap di sana." Suara yang familiar itu menyahutiku dari belakang. Aku menoleh, mendapati sang Kazekage yang berjalan menuju mejanya.
"Kemungkinan itu tetap ada, kan?" jawabku asal setengah bercanda.
Gaara terdiam. Dia menatap ke luar jendela ruangannya kini.
"Sudah berapa waktu yang terlewat sejak kejadian itu yah?" sahut Gaara. Aku mendekat, ikut menatap pemandangan yang ada di sana. Nampak banyak penduduk desa yang sibuk bekerja.
"6 bulan tepat hari ini," Jawabku. "Karna itulah aku ke sini."
"Penduduk Suna sudah mulai menata hidupnya kembali sejak kerusuhan itu, bagaimana dengan Konoha?"
"Cukup baik. Banyaknya bantuan dari Suna mempermudah kami untuk membangun kembali desa yang telah hancur itu."
"Aku tak pernah mengira akan jadi seperti ini dunia yang kuhidupi sekarang."
"Ya, aku juga tak pernah mengira dapat mendengarmu berbicara sesantai ini denganku."
". . . . ." Gaara terdiam. Ia melirikku seakan menantang. "Takkan lama, Sasuke. Karna kau akan kubunuh jika kudengar kau mendekati wanita lain."
"Jangan khawatir." Aku tersenyum. "Itu takkan terjadi, Gaara-nii." Jahilku.
"Siapa sudi kau panggil 'nii'!"
~'~
Lihatlah Sakura…
Ini dunia yang kau bentuk…
Ini dunia yang kau harapkan…
Kami berterima kasih padamu yang telah mensucikan dunia ini..
Aku menatap sebuah batu nisan yang mengukirkan nama "Sakura Haruno". Itu adalah marga dari kedua orang tuanya.
"Sakura… kau memang dilahirkan untuk mengubah dunia. Itulah takdirmu."
Aku masih teringat. Saat dimana kau gugup ketika kudekati, saat dimana kau langsung jatuh hati padaku, saat dimana kau meringis kesakitan karena segelmu, semua itu… akan jadi kenanganku.
Ini adalah takdir, Sakura…
Kau akan tetap hidup dalam diriku…
Oh ya… aku jadi teringat akan ucapan Sasori sebelum ia menyusul Gaara yang membawamu pulang saat itu.
"Sasuke, sebelum datang ke sini kami bertiga sempat bicara. Sakura mengajukan 3 permohonan kepada kami."
"3 permohonan?"
"Pertama, ia ingin Gaara yang mengeksekusinya. Kedua… ia ingin menyembuhkan kutukanmu. Ketiga…"
"Ketiga?"
"Ia ingin memiliki anak darimu."
Aku tentu saja kaget atas apa yang kau pinta, Sakura. Kau tahukan itu takkan mungkin. Tapi bukanlah Sakura-ku kalau menyerah begitu saja. Kau menitipkan benih bunga sakura pada Sasori-nii untuk diberikan padaku, kan.
Benih itu kini sedang dalam proses pertumbuhan, Sakura.
Anak kita…
Ya, anak kita…
Kelak jika benih itu telah tumbuh besar menjadi pohon Sakura, ia pasti akan indah seperti dirimu.
Sakura-ku yang mekar.
Bunga itu akan abadi, Sakura. Aku akan menaruhnya di pusat desa sebagai tanda pengakuan untukmu.
Bagi kami…
Selamanya kau akan tetap hidup…
"Sepertinya aku harus kembali. Naruto-dobe itu pasti akan memarahiku kalau aku tak pulang tepat waktu." candaku.
Kembali aku menatap nisan Sakura. Terdiam sesaat menikmati helaian angin yang datang menerpa.
"Sayonara…Sakura," ucapku sambil tersenyum.
Kali ini... benar-benar 'sayonara', Sakura...
"Aishiteru."
END OF SASUKE POV
Sasuke membalikkan tubuhnya. Berjalan menjauhi makam gadis-nya. Tanpa ia sadari sesosok bayangan tengah duduk di atas nisan itu, menatap punggungnya yang kian menjauh.
Dan di bawahnya terdapat tunas bunga yang hampir tumbuh. Warna dan bentuknya menyerupai lambang bunga segel yang ada di dada kanan Sakura dan di lukisan yang dilihat Sakura saat membeli bunga Lily dulu.
Sosok itu berucap, tapi ucapannya begitu pelan seperti berbisik. Berharap angin kan menyampaikannya kepada sang kekasih.
"Aishiteru mo, Sasuke-kun."
Sosok itu tersenyum, bayangannya mulai memudar. Tapi ia kembali berucap sebelum sosoknya benar-benar hilang.
"Sayonara…"
~Owari~
Naah... Itulah Ending yang bisa Shera persembahkan...
Gomen kalo Ending-nya kurang memuaskan...
Fic ini bisa terus berkembang atas dukungan para readers semua...
Arigatougozaimasu yah...
tetep dukung Shera.. n nantikan Fic Shera selanjutnya,... :D
Mind to review ?
Beri kesan ke Shera tentang Fic ini yah...
Keep Trying My Best!
Sampai jumpa di Fic lainnya... (^o^)/
~Shera Liuzaki~
