Blue Eyes Stripper

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Genre: Romance, BL, Crime

Multi chapter

Rated: [M]


Chapter 10: Missing You


Song: Miss Missing You by FoB


Luhan berjalan menggendap, berusaha sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara yang bisa saja dapat membuat pria berkulit sepucat vampire itu mengetahui dirinya sedang menguntit kemana arah pria itu pergi.

Langkah ringan pria tampan itu terhenti, ia memasukkan gadget yang di pegangnya ke dalam saku celana. "Luhan-ssi, berhenti mengikutiku"

Luhan menatap punggung pria di depannya yang dengan lancangnya memanggil dirinya tanpa embel-embel hyung. "Aku tidak mengikutimu, aku memang ingin pergi ke arah sana, oh sehun"

Sehun membalikkan tubuh jangkungnya, menatap mata rusa itu dengan raut wajah bingung, namun sedetik kemudian kekehan kecil terdengar dari bibir tipisnya, kini Luhan yang memandangnya dengan raut wajah tidak mengerti.

"Apa ada yang lucu?"

Sehun berdehem. "Kau mau ke arah sana? Ketempat eksekusi kekasih Lee Gunhwa?"

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sial, dia lupa bahwa siapapun tidak di izinkan masuk kesana tanpa perintah atasannya Park Chanyeol. "Lalu dirimu sendiri? Apa yang ingin kau lakukan disana?" Luhan membalikkan pertanyaannya, terlanjur malu.

"Park Chanyeol sendiri yang memintaku untuk mengawasi kekasih Gunhwa dieksekusi, memastikan kematian benar-benar menjemputnya"

Luhan menelan ludah, ia sungguh bergidik ngeri bagaimana sehun bahkan tidak menunjukan ekspresi apapun, seakan ucapannya barusan adalah hal yang wajar dilakukan oleh seseorang. Ya, Luhan memang tahu resiko jika bergabung dalam organisasi besar mafia seperti ini, bahkan nyawamu bisa jadi taruhannya jikakalau hal salah terjadi.

Bertahun-tahun berkerja sama dengan seorang Park Chanyeol masih tetap saja rasa takut ada disana.

"Oㅡokay then"

Luhan hendak beranjak dari tempatnya berdiri, tetapi suara sehun membuat jantung nya berdetak dengan kencang.

"Apa malam ini kau sibuk? Bisakah kau menemaniku makan malam?"

Luhan membalik tubuhnya, menatap wajah tampan itu, "tentu" jawabnya dengan sedatar mungkin, menyembunyikan kesenangan yang membuncah di hatinya.

.
.
.

"Berhenti melamun"

Pria cantik berambut silver itu menatap Jongdae tidak percaya, sejak kapan dia duduk di mejanya?

"Sudah dari tadi bodoh, aku baru saja menceritakan film yang aku tonton, kau tidak mendengarnya, baek? Ish" jongdae memukul pelan pucuk kepala Baekhyun, sedangkan sang empunya hanya nyengir memperlihatkan gigi-gigi putihnya.

"Lain kali kau memukul kepalaku, aku akan menggigit tanganmu sampai putus" ancam baekhyun sembari tersenyum manis, hanya membuat seorang Kim Jongdae, sahabat dekatnya berdecak malas.

"Kau gigit saja milik pria-mu itu, siapa namanya um.. Park Chanyul?"

Puppy eyes itu terbelalak kaget, sontak kepalanya mendelik ke kanan dan kiri, berharap tidak menemukan sosok Chanyeol atau yang mungkin dicurigainya sebagai pengawal milik pria tinggi itu dimanapun. Ia mendesah lega saat tidak menemukan siapapun yang dicarinya.

"Yak, darimana kau tahu tentang Park Chanyeol?" Baekhyun mencubit keras lengan Jongdae, hingga sahabatnya itu menjerit sakit, suara melengkingnya membuat beberapa orang ditempat tersebut sontak mengalihkan perhatiannya menuju mereka berdua.

"Jangan berisik sialan, kau menarik perhatian" bisik baekhyun pelan, matanya masih menatap Jongdae tajam.

"Kau yang sialan Byun Baekhyun, sakit tahu!" Bentak Jongdae berusaha lepas dari jemari Baekhyun yang hendak mencubitnya lagi. Cubitan baekhyun tadi pasti akan meninggalkan bekas kebiruan di tangannya, shit cubitan baekhyun sudah seperti capit kepiting.

"Maaf, maaf"

"Beruntunglah karena aku sayang padamu, tentu saja aku memaafkan sikap bitchy-mu" Jongdae tersenyum sakarstik, mengelus lengannya yang mulai memerah.

"Jadi itu benar? Kau berkencan dengannya?"

Baekhyun memainkan segelas martini di mejanya, "Tidak"

Jongdae memutar bola matanya malas, "Kau tahu? Kau harus mencobanya"

"Mencoba apa?"

"Mencoba membuka hatimu untuk orang lain"

Baekhyun terdiam, menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum getir disana, ia tidak menginginkan sahabatnya melihat dirinya yang rapuh hanya karena kata cinta, tidak lagi.

"Well, jadi kau dapat informasi darimana?" Baekhyun mengangkat kepalanya, menatap Jongdae serius, berharap pria berbibir unik itu melepaskan topik yang tidak ingin ia bicarakan.

Jongdae melihatnya, "Aku tahu dari Joonmyeon, kau pikir dari siapa lagi?"

'Ugh, apa sebenarnya mau orang itu?' Beberapa waktu lalu memintanya agar menghindari Park Chanyeol, namun kini ia mendapati bos jalang itu memberikan informasi tentang dirinya dengan ketua mafia tersebut pada sahabatnya yang cerewet.

"Katakan padaku, apa dia tampan?"

Sangat

"Bagitulah"

Jongdae menunjukkan raut wajah tidak percaya, ia tahu ketika si mata biru itu berucap bohong.

"Diaㅡ pria yang mengambil kesucianmu bukan?"

Wajah baekhyun terasa terbakar, ia tidak menjawabnya, berusaha kabur dari introgasi.

"Damn! Aku benar! Hey, apa dia benar sehebat itu sampai bisa membawamu ke atas ranjang? Maksudkuㅡ sehebat apa Park Chanyeol? membuat seorang Byun Baekhyun memberikan kesuciannya~"

Baekhyun berlari sekencang mungkin meninggalkan Jongdae yang berteriak memanggil namanya dari meja bar. Seperti baekhyun perduli, dia sudah terlalu tak ada muka untuk melanjutkan percakapan yang memalukan ini.

.
.
.

Darah yang memuncrat mengenai kemeja mahal miliknya tidak membuat dirinya berhenti memberikan bogem mentah pada wajah yang sudah tidak lagi dikenali karena banyaknya lebam, pria yang diikat di atas kursi itu hanya bisa pasrah, sesekali meludahkan darah yang keluar dari bibirnya yang sobek.

"Kau akan menerima balasannya Park Chanyeol" pria itu tertawa seakan tidak ada rasa takut mati di tangan pria yang tengah menatapnya dengan dingin, tidak ada rasa kasihan disana.

Chanyeol berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan tinggi pria tersebut, terlihat meremehkan melihat betapa lemahnya pria bajingan itu, ia hanya memberikan beberapa hantaman namun sudah membuat pria itu hampir mati.

"Berani sekali kau berbicara seperi itu Gunhwa, lihat siapa yang tertawa pada akhirnya saat kau melihat mayat kekasihmu dengan peluru bersarang di otaknya"

Tubuh Gunhwa menegang mendengar nama kekasihnya ikut di seret-seret dalam hal ini, wajahnya pusat pasi.

Chanyeol menyeringai melihat ekspresi bajingan yang selama beberapa minggu ini membuat bisnisnya berantakan.

"Jangan. Berani. Kau. Sakiti. Dia" ancam Gunhwa dengan penekanan di setiap katanya. Namun dia bisa apa? Dirinya terikat di kursi dengan beberapa anak buahnya sudah tergeletak bersimbah darah tak bernyawa di lantai.

Chanyeol bertepuk tangan mendengar ancaman Gunhwa yang bahkan tidak membuatnya takut.

Jemari panjangnya mengeluarkan gadgetnya dari saku celananya, terlihat dengan serius mencari nama Kasper disana, kemudian mendekatkan gadget itu ke telinganya.

"Apa jalang itu sudah mati?"

Gunhwa terlihat terperanjat berusaha mencuri dengar. "Brengsek! Kalau kau menyentuh sehelai rambutnya saja, aku akanㅡ"

"Akan apa?" Chanyeol memang sengaja memanas-manasi, smirk tidak pernah lepas dari sana, tak ayal membuatnya semakin terlihat tampan.

"Aku tahu sesuatu yang mungkin kau inginkan"

"Apa yang kau bisa tawarkan padaku Lee. Gunhwa. ssi" ejek Chanyeol, ia memasukkan ponselnya, sebenarnya ia tidak menelfon Kasper, ia hanya berusaha membodohi pria di hadapannya ini. Sedangkan Lee Gunhwa berusaha menekan semua emosinya, ia tidak boleh gegabah atau tidak nyawa kekasihnya akan lenyap.

"Aku tidak tertarik dengan apa yang kau tahu" Chanyeol mengangkat pistol tepat ditengah dahinya, bersiap menarik pelatuk kapapun, membuat isi otak itu berhamburan dan darah akan menghiasi dinding ruangan bercat putih itu.
Namun ucapan Gunhwa selanjutnya membuat dirinya membeku ditempat.

"Aku tahu.. Siapa yang membunuh Minho"

.
.
.

Disisi lainnya, Baekhyun terus mengecek layar ponselnya yang tidak kunjung memperlihatkan sebuah notifikasi dari pria tinggi yang seharian ini membuat nya kesal, sedih, dan rindu.

Jika teman-temannya mengetahui ini, dirinya akan di ejek habis-habisan.

Seorang Byun Baekhyun, merindukan Park Chanyeol yang di tolaknya? Yang benar saja.

"Telfon saja"

Sumber suara yang membuat Baekhyun terjatuh dari tempatnya duduk, sedangkan orang yang mengagetkannya dengan secara tiba-tiba tertawa dengan kecang sembari memegangi perutnya, kebalikan dengan pria mungil yang merintih kesakitan memegangi bokong seksinya yang mencium lantai dengan keras.

"Ada apa dengan kalian yang terus bermunculan seperti hantu" Baekhyun menendang kursi tempatnya duduk tadi, "kursi sialan!"

"Santai saja Byun Baekhyun, aku datang bukan untuk melihatmu menganiyaya sebuah benda mati"

"Shut the fuck up, Joonmyeon"

Joonmyeon mengangkat kedua tangannya di udara, mengisyaratkaj bahwa dia menyerah dan tidak ingin memulai pertengkaran dengan si mata biru.
"Ada apa kau datang kesini? Kau bahkan tidak memindahkan bokongmu dari club itu untuk sehari"

"Kau bekerja disini bukan? Bisa kau buatkan aku kopi? Aku haus sekali" perintahnya mengalihkan topik pembicaraan, tangannya dengan dramatis mengipas-ngipas dirinya yang tampak sangat kepanasan.

Baekhyun melempar ponselnya di atas meja membuat dentuman kecil terdengar, tidak cukup untuk membuat layarnya retak.

"Kenapa orang-orang senang sekali menguji kesabaranku belakangan ini?" Ucapnya terhenti, menarik nafas sebentar, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Kau tidak melihat tanda CLOSE disana? Semua lampu menyilaukan di exordium club sudah membuatmu buta? Dan iya benar aku juga bekerja disini sekarang, jika kau ingin mengatakan sesuatu cepat katakan karena hari ini aku sangat lelah"

Joonmyeon menghela nafasnya, ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, sebenarnya jika ia tahu mood penari stripper yang bekerja di tempatnya itu sedang tidak baik, seharusnya ia tidak datang.

Baekhyun menatap bosnya dengan tidak sabar.

"Kau tahu.. tuan Shim.."

"Tuan Shim, siapa?" Potong Baekhyun cepat.

"Salah satu investor kita, yang menyumbangkan banyak dana untuk exordium club, penari kita dan salah satunya adalah kau.." tutur Joonmyeon berhati-hati.

"Um.. yeah? Aku tidak tahu dan tidak perduli, lanjutkan"

"Dia menginginkan kau tampil di Jepang minggu depan, jadi.."

Baekhyun menatap Joonmyeon tidak percaya, ia menggebrak meja di depannya hingga ponselnya kembali terbanting, sedangkan Joonmyeon berusaha terlihat setenang mungkin.

Byun Baekhyun yang sedang marah bukanlah sesuatu yang ingin kau hadapi.

"KAU MENJUALKU?"

"Waitㅡwhat? Tidak! Kau salah paham"

"Aku sudah mengatakannya berulang kali bahwa aku menari erotis menjadi top stripper di club milikmu, bukan untuk melacur dan kau menjualku pada seorang yang mungkin sudah seumuran dengan kakekku! Fuck Joonmyeon"

Joonmyeon yang kali ini menggebrak meja kayu itu, ketiga kalinya ponsel milik Baekhyun terbanting, akan menjadi sebuah keajaiban jika ponsel tersebut masih bisa menyala.

"Aku tidak menjualmu Byun Baekhyun! Tidak akan pernah dan aku yakin kau tahu itu! Maka dari awal kau berkerja di tempatku karena kau percaya padaku! Tuan Shim hanya memberikanmu kesempatan untuk tampil di acara besar club miliknya di Jepang!"

Hening.

Baekhyun menjatuhkan dirinya di kursi yang sebelumnya ia tendang, kepalanya terasa pening karena berteriak terlalu kencang, sama pula halnya dengan Joonmyeon. Untung saja kafe tempatnya bekerja sudah tutup dan tidak ada orang selain mereka berdua.

"Jadi bagaimana?"

Baekhyun mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu, aku akan memikirkannya"

"Baiklah, tapi kau harus memberikan jawabannya lusa, aku tunggu"

Baekhyun mengangguk kecil, ia melambaikan tangannya berbarengan dengan bibir tipisnya yang mengucapkan 'bye' pada bosnya yang beranjak pergi, sebelum Joonmyeon hampir lupa, ia menepuk pundak baekhyun.

"Jangan beritahu Chanyeol tentang ini, atau kita berdua akan mati"

Dahi baekhyun mengkerut tidak paham.

"Mengapa ia harus tahu tentang hal ini? Dia sama sekali tidak ada urusan"

"Ia tidak suka berbagi miliknya" ucap Joonmyeon mencolek dagu Baekhyun, membuat pria manis itu berjingkit tidak suka.

"Yah! Aku bukan miliknya, lagipula memangnya aku ini benda apa?" Dan kini ia berteriak lagi dengan keras, masa bodo dengan kepalanya yang semakin terasa pening.

"Terserah apa katamu Byun Baekhyun, aku sudah memperingatkanmu sebelumnya"

.
.
.

ㅡㅅㅡ
a/n: thanks for your support and love!

Mian lama update. Aku lagi ngerasa sedikit down karena komentar pedes di ffn (karena aku post disana juga) tapi yaudahlah aku kan emang amatir bukan pro, maaf tolong dimaklumi kalo ada salah-salah penulisan atau mungkin di antara kalian ada yang gasuka sama character cy/bh atau bagaimana alur ini berjalan.
Tapi sorry aku gabakalan rubah karakter mereka atau alurnya :)

Biarlah cy sang mafia lemah hanya karena cintanya sm bh. Dan bh yang kerad sama cy karena something (nanti spoiler kalo dikasih tau) wkwk

Sekali lagi makasi yang uda support ff aku, sayang kalian~