Tittle : Love Latte

Jongin, Kyung Soo (GS), Luhan (GS), Kris, Namjoon, Tiffany Hwang


...

Do Kyung Soo keguguran. Dokter mengatakan kalau janin yang ada di dalam kandungannya sudah mati sebelum hari dimana Kyung Soo merasakan sakit. Kyung Soo masih merasa tidak percaya. Ia bahkan tidak mengeluarkan setetespun air mata. Padahal saat pemeriksaan yang terakhir kali dengan dokter Mark, Kyung Soo masih bisa melihat janinnya berdetak. Ia masih bisa merasakan keajaiban yang berada dalam dirinya. Tapi sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa sesuatu yang ajaib itu sudah menghilang.

Luhan datang ke rumah sakit hampir setiap hari dan akan menemaninya semalaman. Kris juga pernah datang dua kali, tapi Jongin tidak pernah ada. Jongin hanya datang saat membawanya ke rumah sakit. Hanya ada saat dokter mengatakan kalau bayinya sudah tidak ada dan semenjak itu Jongin tidak pernah memunculkan wajahnya lagi.

Untuk yang satu ini Kyung Soo menangis sejadi-jadinya sehingga pagi ini matanya bengkak lagi seperti hari-hari sebelumnya. Sudah tiga hari dan Jongin masih belum datang. Kyung Soo memandangi foto yang Mark berikan dengan perasaan sedih. Mungkin Jongin kecewa. Mungkin saat terjatuh di stasiunlah penyebab kematian janinnya dan itu adalah salah Kyung Soo. Ia mengerti jika Jongin marah dan tidak ingin menemuinya lagi untuk selamanya.

"Nona Do Kyung Soo...sudah saatnya operasi," Perawat yang baru saja masuk berbicara dengan lantang.

Ia membawa kursi roda dan bergegas memindahkan Kyung Soo ke atasnya dengan bantuan Ibunya dan Luhan. Dengan perasaan takut Kyung Soo menuju ke ruangan dokter, di pindahkan ke sebuah bed (kasur) yang berbentuk aneh dan harus siap saat rahimnya di korek.

Jongin dimana? Aku sangat membutuhkanmu. Kyung Soo mengerang di dalam hati. Ia dibius, meskipun begitu Kyung Soo masih merasakan sakit yang tidak bisa di toleransi. Ia sempat berteriak dan kemudian semuanya gelap. Kyung Soo kehilangan bayinya, juga
kehilangan Jongin karena ini.

~o0o~

"Bu, apakah Jongin belum datang juga?" Kyung Soo masih menanti.

Ini hari keempat dan dia masih berharap Jongin datang menemuinya meskipun Kyung Soo harus melalui semuanya sendirian.

"Belum," Jawab ibunya.

"Sekarang saatnya kita pulang Kyung Soo," Kyung Soo mendesah.

Ibunya sudah selesai mengemasi semua barang-barangnya dan seharusnya dia pulang. Kyung Soo menyentuh perutnya, dan masih tidak bisa menerima kalau dirinya baru saja kehilangan bayinya. Minggu lalu ia masih bisa melihatnya dan sangat bahagia. Dan minggu ini Tuhan mengambilnya dengan sangat segera.

Mungkin Tuhan tau kalau Kyung Soo tidak akan mampu merawatnya...

Tuhan tau kalau Jongin belum benar-benar siap jadi Ayah...

Dan Tuhan juga berfikiran sama dengan ibunya...

Lebih baik Kyung Soo kehilangan bayinya dari pada menyakiti Ayah yang mengurusinya sendirian selama lima belas tahun.

Kyung Soo turun dari ranjangnya dengan hati-hati. Ia bisa berjalan meskipun pelan. Ibunya terus berusaha memapah lengannya agar Kyung Soo tidak jatuh. Ia memandangi ruang rawatnya sejenak, lalu keluar dan menyusuri koridor. Tiba-tiba langkah ibunya terhenti dan Kyung Soo juga melakukan hal yang sama. Wanita itu memandang Kyung Soo dengan senyum.

"Kyung Soo, kau bisa pulang sendiri? Nanti naik taksi saja, biar ibu bayar di rumah. Ibu duluan ya?" Kyung Soo mengerutkan dahinya.

Ibunya pergi meninggalkannya? Semula Kyung Soo tidak megerti sampai akhirnya ia melihat Jongin berada disana, bersandar di tembok rumah sakit. Kyung Soo nyaris bersorak karena Jongin datang. Laki-laki itu datang untuk menemuinya.

Ia berusaha melangkah dengan cepat meskipun masih kesulitan, Kyung Soo berusaha menyentuh tangan Jongin dan tangannya menggenggam sesuatu. Sebuah Jimat berwarna merah di salin dengan warna cantik berwarna senada. Di sela-selanya juga terdapat benang dengan gradasi warna hijau, mengingatkan Kyung Soo pada topi yang Jongin berikan di stasiun.

Ia memandangi Jongin, matanya merah. Jongin terlihat sangat lelah dan Kyung Soo segera di jalari rasa panas di tangannya saat ia menyentuh wajah Jongin. Jongin sakit?

"Kai, kau kenapa? Kenapa tubuhmu panas begini?" Kata Kyung Soo dengan suara parau.

Jongin memandangnya, tangisnya tiba-tiba meledak dan ia memeluk Kyung Soo erat-erat. Di sela-sela tangisnya Jongin masih berusaha menerangkan semuanya dengan terbata-bata.

"Aku berdo'a, dimana saja…hiks...ke gereja, kuil, masjid. Bahkan sepanjang waktu aku terus berdoa. Begitu dokter mengatakan…hiks...kau akan kehilangan calon bayimu. Aku mencari dimana Tuhan berada…aku mendatangi semuanya, aku pergi kemanapun tempat Tuhan itu berada...dan aku memohon agar kau dan anakku di selamatkan…bahkan aku rela menggantinya dengan nyawaku sendiri..." Dan tangis Jongin benar-benar tumpah ruah.

Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi dan Kyung Soo juga sama. Kyung Soo mencium aroma apek dari tubuh Jongin dan baru sadar kalau Jongin masih mengenakan pakaian yang sama
dengan yang terakhir kali Kyung Soo lihat. Jadi selama ini dia berdo'a. Kyung Soo mengira kalau Jongin akan meninggalkannya, ia hampir saja berburuk sangka.

Butuh waktu lama hingga semuanya mereda. Jongin sudah menghapus air matanya dan menenangkan Kyung Soo. Laki-laki itu membawa Kyung Soo ke sebuah tempat. Sebuah sungai yang entah berada di lokasi mana dan memiliki tempat yang cukup tersembunyi. Jongin memapah Kyung Soo untuk duduk di pinggir sungai. Jongin juga melakukan hal yang sama setelah meninggalkan Kyung Soo beberapa saat dan kembali dengan membawa bunga-bunga yang di ambilnya dari semak-semak. Jongin mengajak Kyung Soo menghanyutkan bunga-bunga itu bersama-sama dan Kyung Soo menurut meskipun masih tidak mengerti.

"Selamat jalan anakku! Besok terlahir kembali ya? Menjadi anak Papa, kita akan bermain bersama-sama. Papa menyayangimu, anakku!" Jongin berteriak dan suaranya menggema.

Kyung Soo akhirnya mengerti apa yang Jongin maksud dengan semua ini. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Kyung Soo melingkarkan telapak tangannya di sekeliling mulutnya dan ikut berteriak.

"Iya, Terlahir kembali ya? Saat itu tiba nanti, Mama akan memasak masakan yang paling enak untukmu sayang," Jongin memandangnya dengan senyum.

Sakit mereka bisa lenyap meskipun sedikit. Beban itu sudah terangkat.

"Anak kita akan pergi ke atas sana. Jadi tenanglah, Tuhan yang akan menjaganya. Dan mungkin sekarang ia sedang tersenyum di atas sana bersama Tuhan. Ia akan selalu melihat kita dari atas sana. Suatu saat, dia akan terlahir kembali menjadi anak kita. Dan saat itu harusnya kita bahagia bersama-sama," Kyung Soo mengangguk. Ia menyeka air matanya.

"Kau tidak bilang kalau dirimu di keluarkan dari sekolah," Ekspresi Jongin tiba-tiba berubah. Ia bisa terlihat lebih santai.

"Sepertinya aku hanya memberikan masalah untukmu,"

"Aku juga memberikan masalah untuk Kai," Jongin tertawa.

"Besok ku jemput di rumah ya?"

"Kenapa? Bukannya kau sedang sakit? Tadi tubuhmu sangat panas..."

"Besok pagi juga lebih baik. Aku ingin minta di hibur. Bersiap-siaplah besok, karena kau akan sangat lelah. Kita akan berkeliling Manhattan. Aku ingin memborong semua pakaian bayi yang bagus di pusat perbelanjaan untuk anak kedua kita,"

~o0o~

Hanya mimpi. Ternyata hanya sebuah mimpi. Hari itu Kyung Soo benar-benar menunggu Jongin untuk datang tapi Jongin tidak datang, hari selanjutnya juga, setelah-setelahnya juga. Jongin benar-benar menghilang dan tidak menemui Kyung Soo. Semula Kyung Soo mengira laki-laki itu sakit sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dan Kyung Soo harus menerima kata putus dari Jongin hanya dengan beberapa kata.

'Lebih baik kita berakhir saja...'

From : -Jongin-

Selanjutnya nomor Jongin tidak bisa di hubungi lagi.

Sudah hampir dua minggu dan Kyung Soo selalu mencari-cari keberadaan Jongin. Jongin bahkan juga tidak datang ke kampusnya. Ia sedang cuti kuliah. Beberapa temannya mengatakan kalau Jongin sempat bekerja keras dan memberi tau kepada Kyung Soo dimana Jongin pernah bekerja. Pelayan restoran, penjaga toserba, bahkan kuli bangunan, pekerjaan apa saja yang bisa memberikannya uang dengan cepat.

Tapi Jongin tidak ada di semua tempat dan dia sudah sangat putus asa. Ibunya juga sudah mendesak Kyung Soo karena tahun ajaran baru akan segera tiba. Kyung Soo harus kembali bersekolah.

Kyung Soo tau Jongin mungkin kecewa padanya. Seandainya saat itu dia tidak bersikeras mempertahankan tasnya mungkin sekarang Jongin masih berada di sisinya. Jongin kecewa padanya dan saat itu dia masih berusaha menyembunyikannya. Tapi sepertinya Jongin tidak akan bisa menyembunyikannya lagi. Ia ingin berpisah dan itu sudah membuat Kyung Soo putus asa.

Kyung Soo memutuskan untuk kembali bersekolah. Dalam beberapa hari Kyung Soo akan ke Seoul menemui ayahnya dan memohon untuk bisa bersekolah di Jepang agar bisa melupakan semuanya. Butuh waktu untuk meyakinkan ayahnya hingga laki-laki itu setuju. Kyung Soo tidak ingin mengganggu keluarga Ayahnya yang baru dan dia akan berusaha untuk hidup sendiri. Karena itu menjauh adalah pilihannya. Tapi sebelumnya ia ingin bertemu Jongin. Ia ingin melihat Jongin untuk yang terakhir kali dan memberi tahu Jongin kalau dirinya akan pindah ke Hokaido.

"Tapi kau akan kecewa kalau melihat Jongin yang sekarang Soo~ya," Kata Kris.

Kyung Soo mendesah, ia benar-benar sudah putus asa karena Kris masih menolak memberi tahukan dimana Jongin berada. Mustahil Kris tidak tau apa-apa, dia dan Jongin sangat dekat. Ini hari wisudanya dan seharusnya juga hari wisuda Jongin seandainya tidak ada Kyung Soo dalam kehidupan laki-laki itu.

"Beri tau aku. Aku harus bertemu dengannya untuk yang terakhir kali," Kris mendesah. Ia memandangi Luhan sejenak.

"Bawalah Kyung Soo ke flat Jongin. Kau tau tempatnya dimana kan?" Luhan mengangguk.

"Aku akan mengantarmu Kyung Soo,"

"Beritahu saja. Kau juga harus menghadiri diklat Kris kan?" Kyung Soo menolak untuk di antar.

Dirinya sama sekali tidak ingin merusak acara keluarga Wu karena anak tertua mereka sudah bergelar Master.

"Kris sudah sangat sering wisuda. Aku tidak datang sekali-kali juga bukan masalah. Lagi pula acara seperti itu membosankan. Ayo!" Kyung Soo mengangguk.

Ia memandangi Kris Wu dan membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Saat itu ia bisa melihat pandangan tidak rela di wajah Kris meskipun laki-laki itu tersenyum. Kyung Soo berusaha untuk tidak perduli. Ia hanya mengikuti kemanapun Luhan pergi karena dirinya sama sekali tidak tau dimana selama ini Jongin tinggal.

Yang Kyung Soo tau, Jongin tinggal di sebuah apartemen besar dan dia memiliki satu lantai khusus untuk dirinya sendiri. Itu juga dari cerita Luhan. Kyung Soo tidak pernah tau kalau Jongin punya cukup uang untuk itu. Selama ini Jongin tidak pernah menunjukkan beetapa kayanya dia.

"Kau jadi pindah ke Jepang?" Tanya Luhan saat mereka menaiki sebuah lift.

"Aku harus begitu. Tapi akan ku usahakan untuk tetap kuliah di Korea. Hanya beberapa tahun kita berpisah dan aku akan kembali,"

"Kalau begitu nanti jangan lupa kirim e-mail, telpon dan…" Bunyi dentingan halus menghentikan ucapan Luhan. Ia memandangi Kyung Soo sejenak.

"Kita sudah sampai. Kau siap untuk masuk?" Kyung Soo mengangguk.

Selanjutnya Luhan membuka pintu flat besar itu tanpa izin. Ternyata memang tidak di kunci. Sebuah pemandangan luar biasa Kyung Soo tangkap dengan kepalanya membuatnya terkesiap. Kim Jongin sedang berciuman dengan seorang perempuan. Ia kelihatannya sangat mabuk. Di ruangan yang sama juga banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Beberapa melakukan hubungan seks tanpa perduli dengan teman-temannya yang lain, dan beberapa sedang memakai obat-obatan.

"Kai…" Kyung Soo berdesis.

Jongin memandangnya sejenak lalu Luhan segera menggenggam tangan Kyung Soo.

"Ayo kita pulang. Sudah cukup kan? Aku dan Kris sudah melihat ini sebelumnya. Karena itulah Kris tidak ingin kau melihatnya. Jongin dan Kris sudah berkelahi karena ini," Kyung Soo menoleh kepada Luhan.

Akhirnya ia mengerti dengan tatapan Kris yang terakhir kali di lihatnya. Pandangannya kembali tertuju pada Jongin. Kenapa Jongin bisa begini? Sekecewa inikah Jongin kepadanya sampai dia melakukan hal ini? Atau ini memang aktivitas yang sering di lakukannya? Tidak, bila Kris sampai marah, artinya ini bukan aktivitas yang biasa Jongin lakukan sebelumnya.

"Ayo Kyung Soo! Percuma kalau kau datang sekarang. Dia sedang tidak sadar," Kyung Soo nyaris melangkah.

Tapi tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan membuat Kyung Soo terbaring di atas lantai. Kyung Soo merasakan mulutnya di bekap dengan sesuatu sehingga ia merasa sangat lemas. Tapi Kyung Soo masih bisa menoleh dan berharap Jongin menolongnya. Laki-laki itu terus menjelajahi tubuhnya, meremas payudaranya dengan keras dan Kyung Soo tidak bisa berbuat apa-apa. Jongin juga hanya memandanginya dan sesekali tertawa bersama gadis yang berada di sampingnya.

Luhan terus beteriak dan memukul. Itu cukup untuk membuat laki-laki yang menggerayangi Kyung Soo terganggu. Tapi laki-laki itu mendorong tubuh Luhan dan membawa Kyung Soo pergi menjauh dari tempat itu. Luhan masih berusaha menyusul dan ia terlambat saat laki-laki itu menendang kepalanya sebelum menghilang di dalam lift bersama Kyung Soo yang hanya bisa memandanginya tanpa berbuat apa-apa.

~o0o~

Song Namjoon baru saja pulang dari liburannya di Italia. Ia mencari-cari Sbastian kakaknya dan menemukan sesuatu yang gila. Seorang gadis kecil di ikat dalam keadaan tanpa busana di atas tempat tidur. Mata ditutup dengan kain. Beberapa luka di tubuhnya menghasilkan darah yang menodai seprai putih. Namjoon juga bisa melihat beberapa buah kamera menyoroti gadis itu dan sebuah monitor komputer yang terhubung ke internet. Komentar-komentar gila bekas semalam masih ada dan Namjoon terperangah melihatnya.

'Biarkan saja kaos kakinya, itu akan membuatnya lebih menggairahkan...ahhh...'

'Aku ingin melihat vaginanya dan rahimnya... '

'Cabik-cabik bajunya dengan pisau lagi... '

'Sayat lagi, lebih banyak darah... '

Tiba-tiba ponsel Namjoon berdering, dari Sbastian kakaknya. Namjoon berusaha menenangkan diri dan menjawab telpon itu. Sbastian tidak boleh tau kalau Namjoon sudah menjelajahi kamarnya yang selama ini terlarang untuk di masuki. Ia merasa beruntung sekaligus sial karena datang beberapa jam lebih awal dari rencana karena harus mengetahui kelakukan kakaknya.

"Hallo..."

"Kau sudah sampai dimana?"

"Aku masih di bandara" Namjoon berbohong.

"Baguslah. Jangan dulu pulang ke rumah karena rumah masih sangat berantakan. Kau main-main saja dulu dan nanti ku jemput di rumah temanmu. Oke?"

"Baiklah,"

Dan Sbastian menutup telponnya. Namjoon mengehela nafas dan baru mengetahui kalau kakaknya adalah stakler yang punya penyimpangan seks. Bukan hanya itu, ia bahkan menjual hobynya untuk mendapatkan uang dari orang yang sama dengannya. Namjoon berusaha mengambil selimut dari dalam lemari dan menyelimuti gadis itu. Matanya memandangi
wajah yang sangat lemah, gadis itu menangis, air mata mengalir di pipinya saat melihat Namjoon dan saat itu juga Namjoon tau kalau gadis itu masih dalam keadaan sadar meskipun tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

"Kau tidak apa-apa?" Namjoon menunggu lama. Gadis itu tidak menjawab ucapannya. Dan ia segera menduga kalau gadis itu mungkin sudah di cekoki obat. Namjoon mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu.

"Aku akan membawamu pergi dari sini,"

Semuanya berlalu begitu cepat karena Namjoon memang berusaha bergerak secepat yang dirinya bisa. Ia mengemasi semua barang-barang yang mungkin saja milik Kyung Soo dan segera membawa gadis itu kerumah sakit dengan taksi. Namjoon harus menunggu lama sampai dokter menyatakan kalau Kyung Soo siap di temui.

"Obatnya sangat tajam. Penculik yang kau katakan itu sudah sering di cari-cari oleh polisi dan mereka memang sering mengincar anak sekolah, setelah ini ada baiknya kau melaporkannya segera," Ujar dokter di depan pintu ruang rawat.

"Aku sudah melaporkannya, tapi aku menemukan gadis itu di sebuah rumah kosong." Jawab Namjoon.

Ia berbohong. Walau bagaimanapun Namjoon tidak mungkin melaporkan kejahatan kakaknya. Biarkah ini semua hanya menjadi rahasianya sendiri.

"Bagaimana dengan lukanya?" Tanya Namjoon.

"Tidak ada yang serius, hanya beberapa sayatan di bagian perut dan dada. Untungnya tidak dalam. Mudah-mudahan tidak berbekas. Penculik itu sangat kejam menyayat-nyayat tubuh seorang gadis, sedangkan gadis itu dalam keadaan sadar dan bisa merasakan semuanya. Bukan hanya itu, gadis itu juga benar-benar sudah di perkosa berkali-kali. Vaginanya juga luka karena benturan benda keras, sepertinya penculik itu melakukan hal yang lebih dari yang kita bayangkan. Gadis itu kelihatan sangat Shock, tapi sekarang sudah bisa di temui. Berhati-hatilah," Namjoon hanya bisa mengangguk.

Ia lalu membuka pintu perlahan sambil menyilangkan tangannya sebagai antisipasi jika gadis itu melemparkan barang apa saja kearahnya. Ternyata tidak. Gadis itu hanya terbaring lemah dengan infus dan pipa oksigen di lubang hidungnya. Ia memandangi Namjoon masih dengan linangan air mata. Namjoon mendekat dan duduk di sebelahnya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Namjoon dengan suara yang sangat pelan. Gadis itu mengangguk.

"Siapa namamu?"

"Kyung...Soo...Do Kyung...Soo..." Jawab Kyung Soo parau.

"Mau minum?" Kyung Soo menggeleng.

"Terimakasih,"

"Hanya minum tidak perlu berterimakasih,"

"Terima kasih sudah menolongku," Namjoon memandangnya iba.

"Kau pasti sangat ketakutan. Kalau begitu semua hal seperti itu tidak perlu di ingat-ingat lagi. Lupakanlah Kyung Soo..." Kyung Soo mengangguk lalu kembali berbisik.

"Aku ingin pulang,"

"Aku tau, tapi sebaiknya kau pulih dulu. Mudah-mudahan besok lebih baik. Tapi sebaiknya setelah ini kau pergi menjauh dari Manhattan, berubahlah menjadi orang lain dan jangan biarkan penculik itu mengenalimu. Stalkler biasanya setia mengincar satu orang yang di anggapnya..."

"Aku akan ke hokaido dua hari lagi. Ibuku pasti sudah menunggu," Kyung Soo memotong masih dengan suara lemahnya. Namjoon mengangguk.

"Kalau begitu beri tau aku nomor telpon rumah atau ponsel ibumu. Aku akan menghubunginya"

"Tuan, jangan katakan apa-apa pada ibuku tentang masalah ini. Katakan saja aku mengalami kecelakaan dan kau membantuku. Aku harap semuanya baik-baik saja karena aku tidak mau
membuatnya lebih khawatir," Namjoon mengangguk.

"Aku akan mengusahakan agar dokter bisa memberimu izin pulang besok. Tadi dia bilang tidak ada luka yang serius, kau hanya shock dan seharusnya kau bisa pulang besok. Sekarang beristirahatlah. Aku akan berjaga di luar pintu ruang rawatmu, jadi tidurlah dengan tenang,"

Tiba-tiba seseorang masuk. Seorang wanita dengan setelan kerjanya menghampiri Namjoon dan langsung marah-marah. Namjoon memintanya diam dan menghargai Kyung Soo yang sedang sakit. Meskipun masih kesal wanita itu berusaha menyembunyikan amarahnya dan menoleh kepada Kyung Soo dengan pandangan sedih.

"Kau juga korbannya?" Desisnya.

"Laporkan dia ke polisi!"

"Mana bisa begitu." Namjoon memotong.

"Sampai kapan kau akan terus membelanya? Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya tapi kau tidak percaya. Perlu berapa korban lagi agar kau sadar kalau kakakmu sakit jiwa?"

Namjoon menggigit bibirnya. Ia memandangi wanita itu dengan perasaan bersalah dan hanya bisa mendengus pelan saat wanita itu mendekati Kyung Soo dan membelai kepalanya.

"Aku Tiffany Hwang. Aku juga korban dari Sbastian," Katanya.

"Apapun yang pernah di lakukannya kepadamu juga pernah di lakukannya kepadaku. Tapi aku beruntung karena saat itu aku sangat mencintainya dan semua penderitaanku ku anggap sebagai pengorbanan yang tak terlupakan. Tapi dirimu tentunya tidak begitu," Tiffany Hwang mendesah lalu membuka cangkir plastik berisi kopi panas yang sejak tadi di bawa-bawanya kemana-mana. Ia menjulurkannya kepada Kyung Soo dengan sebuah senyum yang ramah.

"Saat aku mendapati diriku dalam keadaan sepertimu, kau tau apa yang terjadi? Namjoon memberiku kopi dan itu berhasil menenangkanku. Sekarang Namjoon memesan ini untuk di berikan kepadamu. Kau mau?" Kyung Soo memandang Namjoon dan Tiffany Hwang bergantian.

Sebuah aroma hangat merebak menyumbat hidungnya memberikan perasaan yang manis dan tenang. Ia memandangi Kopi itu sejenak lalu mengangguk.

"Aku mau..."

.

.

TBC


Pembaca yg baik tinggalin jejak kalian ya... ^^

Mungkin chap selanjutnya akan pendek, tidak papa ya...