Haloowww~ Konnichiwaa! Anisha Asakura desu! Huwa, tak terasa udah lama enggak ngeupdate cerita ini ya... -ditampar Mr.B- Iya, iya! Anisha mulai yaa~
DISCLAIMER: (Lagi males pake bahasa Inggris) Harvest Moon tuh punya NATSUME. Bukan punya Anisha Asakura kecuali ini cerita dan OC-nya, Emily.
--- (Claire's POV) ---
--- Claire's Dream
"Pangeraaaaan...." Aku mengejar seseorang berpakaian mewah yang sedang menaiki kuda putih. Aku sendiri memakai gaun pink indah, membuat orang-orang yang melihatku pasti menganggapku tuan puteri.
"Tuan Puteri Claire!!" tau-tau muncul Cliff makai pakaian pangeran. "Kawin ama aku aja!"
"Enak aja!" Kai nongol memakai pakaian pangeran Asian. "Yang jelas, tuan puteri Claire paling cocok jadi ratu di negeri tropisku!"
"Jadi istriku ajaaa!" Rick narik Kai ampe jatoh. "Pangeran bulukan kayak dia enggak pantes jadi istermu! Sama aku ajaa!"
"Seenaknya aja!" Gray ikutan nongol, make baju pageran juga. "Dia tuh, buat aku!"
Doctor narik lenganku. "Dia itu bisa jadi ratu di kerajaanku tau!"
"Heeeei!!!" Jack ikutan nongol. "Aku ini kakaknya, jadi aku yang harus nentuin siapa yang jadi suaminyaaa!"
Saat semuanya ribut, seseorang menarikku. "Udahlah, sama aku aja." Blue tau-tau ikutan segala.
Heps! Pangeran berkuda putih tadi mengangkatku ke atas kudanya. "Tuan puteri kalian kubawa!"
"CLAIREEEEE~~~~" sekelebat pangeran kejar-kejaran. Tapi percuma, mereka keburu kelelahan.
Saat semuanya udah enggak kelihatan, pangeran itu lalu menoleh ke arahku. "Tuan puteri... Bersediakah kau menjadi istriku?"
Aku bengong. Bukan karena tampangnya biasa kayak Budi Anduk, 'cantik' kayak Ruben Onsu, atau tampangnya ancur kayak Mbah Surip, tapi ternyata pangeran itu.... Skye?!
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
--- Claire's Dream, End
"Huwaaa!" Mataku akhirnya terbuka juga. Hueh, baru kali ini aku mimpi buruk sejak tinggal di Mineral Town. Badanku keringatan, mengingat karena aku diperebutkan para 'pangeran' di Mineral Town. Rambutku juga acak-acakkan, sangking asyiknya aku 'berakrobat' di tempat tidur karena mimpi buruk tadi. Eh?
Aku melihat pemandangan sekeliling. Ini bukan Doug's Inn. Ini bukan kamar bagian cewek. Tempat tidurnya saja hanya ada satu, dengan selimut putih dan sprei putih pula.
Aku melihat lagi. Disini hanya ada satu tempat tidur, sofa merah di ujung ruangan dengan jendela bertirai biru tua, kulkas, dapur beraroma kare, perapian, meja makan dengan dua kursi. Itu saja.
"Ini... Dimana?" tanyaku pada diriku sendiri. Aku mencoba bangkit dari tempat tidur. Aku mengucek mataku, sambil berusaha melihat ke jendela luar. Sudah pagi.
"Krr...."
"Hah?" aku mendengar seseorang mendengkur. Siapa itu? Masa Jack 'menculik' aku lagi... Toh ini bukan rumahnya.
"Krr...."
Dengkuran itu terdengar lagi. Suaranya berasal di sudut kiri perapian. Aku lalu mendekatinya.
"Krr...." Ternyata itu dengkuran seseorang. Cowok berambut silver, dengan pakaian corak puma dan jeans hitam...Phantom Skye?!
"SKYE! SKYEE! BANGUUN!!!!" teriakku histeris, berusaha membangunkan cowok yang lagi asyik molor itu.
"Hnmg...? Hah?" cowok itu perlahan-lahan bangun. Matanya yang berwarna hijau tua itu mulai menatap kebingunganku. "Hei... Selamat pagi, gadis kecil. Mimpi indahkah?"
"Ya ampun, lagi-lagi..." Aku hanya bisa nyengir mendengar panggilan Skye untukku. Oh ya! "SKYE! KENAPA AKU DISINI? INI DI MANA? AKU DIMANA?"
"Ya ampun, sabar... Aku belum siap melayani perasaanmu yang bercampur aduk itu..." Skye lalu bangun dan membantuku berdiri. "Kau belum makan kan?"
"I... Iya sih..." jawabku grogi.
"Duduk disitu," Skye menunjuk ke arah kursi yang kulihat tadi. "Akan kubuatkan kare terenak untuk kita."
Aku lalu menurut.
Skye lalu mulai sibuk masak di dapurnya yang penuh dengan peralatan dapur. Aku hanya bisa melihat kepiawaiannya memasak. Tangannya lincah, memotong bawang dan mengaduk bahan-bahan. Aroma sedap kare mulai tercium, membuat air liurku nyaris menetes. Tak kusangka pencuri yang dulu selalu membuatku susah, bisa membuatku terpesona dengan keahliannya memasak.
"Nah, sudah selesai," Skye meletakkan dua piring nasi kare wangi. Dia lalu kembali lagi sambil membawa dua gelas air putih. "Yuk, makan,"
Aku lalu memakan sesuap. Waaaw. Rasanya enak sekali. Rasa pedas dan bahan-bahannya tercampur sempurna. Enak dan terasa gurih di mulut.
"Kulihat kau tersepona dengan masakanku, gadis kecil. He he." ucap Skye sambil mengedipkan sebelah matanya. "Wajar saja aku bisa membuatmu kagum akan keahlian dan ketampananku."
"Ahaha, Skye bisa aja," Aku menepuk bahu Skye. "Karenya enak, lho."
"He he, makasih," jawab Skye. "Baru kau satu-satunya orang yang mencoba kare buatanku. Aku masih ingin memperdalam bakatku, dan membuat orang-orang kagum dengan keahlianku."
"Wah, tujuan kira sama dong!" aku gembira. "Aku ingin membuat orang-orang bahagia bisa memakan roti buatanku. Aku ingin membuat orang-orang bahagia sebagai pattisier terkenal."
"Hem, tujuan sama, dengan hati yang sama." kata Skye sambil menyuapkan sesendok kare. "Kita benar-benar sama. He he."
Mukaku merona merah. "Ha! Ha! Skye bisa aja bercandanya..."
Skye sudah berada beberapa senti di depan mukaku. "Masa? Padahal kamu sudah mencuri hatiku dulu..."
Mukaku lagi-lagi merona.
Skye lalu menjauhiku, dan melemparkan handuk padaku. "Ada kamar mandi di belakang rumah ini."
Aku lalu bangkit, dan segera keluar ruangan. Skye benar. Ternyata ruangan tadi hanyalah satu ruangan penuh rumah kayu kecil, tersembunyi diantara beberapa pepohonan. Di belakangnya memang ada kamar mandi, lengkap dengan toilet dan shower. Ya sudah, lebih baik aku mandi.
--- A few minutes later ---
Aaah. Air hangat yang membasahiku mulai membuatku baikan. Rasanya segar sekali. Saat aku keluar dengan sehelai handuk, Skye sudah berada di depan pintu kamar mandi. Dia memberikan segepok pakaian.
"Pakai itu. Kurasa kau manis juga memakainya."
"Ta... Tapi kau jangan ngintip, ya!"
"Iya... Aku berjaga saja..."
Aku masuk lagi ke kamar mandi. Kupakai pakaian dari Skye.
--- A few minutes later, again ---
Aku keluar dari kamar mandi. Kini aku memakai baju bercorak bunga Daffodil merah keorangean, plus rok sepanjang diatas lutut dengan hiasan kepala bunga Daffodil berwarna sama juga.
"Cantik sekali, gadis kecil. He he." puji Skye dengan senyum khasnya. "Kita siap jalan-jalan."
"Jalan-jalan? Ke mana?" tanyaku bingung.
"Pantai."
--- Beach ---
"Waaaw...." Kulihat pantai dengan pasir putih. Lautan membentang di sekitar pemandangan langit biru. Suara ombak putih menyerbu, dengan kicauan burung camar di sekitar pantai.
"Keren kan, gadis kecil? Ini pantai yang sudah bersedia menjadi saksi kita bermain cinta," ucapan Skye tak terdengar olehku.
"Apa?" aku tak mendengar suara Skye karena deru ombak menyerbu.
"Bukan apa-apa. Ini pantai di Forget-Me-Not Valley, kok. Selalu kosong di jam segini." BYURR! Skye tahu-tahu mencipratkan air laut yang asin ke mukaku. "Kau kena! Ayo jaga!"
"Hei, licik! Kok kamu duluan sih!" teriakku sambil balas menyemburkan air laut.
Kami saling tertawa, mencipratkan air laut, dan saling berkejaran. Menyenangkan sekali bermain dengannya.
--- Meanwhile, Mineral Town (Doug's Inn) ---
"Claire enggak ada lagi... Surat di kamarnya bilang, dia pergi bermain seharian di rumah temannya." ucap Ann sedih. "Padahal 6 hari lagi Summer Festival. Aku belum sempat memakaikannya yukata..."
"Begitu ya..." Cliff meminum wine yang baru saja dibelinya. Udara terasa panas, membuat Cliff memakai buku menu yang tipis sebagai kipas.
"Hwaaa!" Jack muncul memasuki Inn. "Kalian liat Claire, enggak??? Aku seharian nyari-nyari dia tapi enggak adaaa~~~~"
"Kan dia pergi ke rumah temannya. Kau enggak tahu, Jack?" tanya Ann sambil melap gelas.
"Oh," Jack mulai meng-o ria. "Ya sudah, aku balik aja lagi ke pertanianku."
Setelah Jack pergi, kejadian sehari-hari di Inn berlangsung lagi dengan tenang. Ann mengelap gelas, Doug sibuk membaca koran, Cliff mengipasi dirinya dengan buku menu. Semuanya enggak nyadar kalau Claire 'diculik' Skye.
--- Back to Beach in Forget-Me-Not Valley ---
"Sudah siang nih. Makan siang dulu yuk!" Skye yang bajunya setengah basah, menyalakan api unggun sambil mengambil ikan yang dari pagi sudah dipancingnya.
Aku lalu mendekati api unggun, mencoba mengeringkan pakaianku. Musim panas Summer memang panas, tapi tidak terlalu panas di Forget-Me-Not Valley.
"Tunggu saja ikannya terbakar. Aku mau keringin baju dulu." Skye lalu membuka baju luarnya yang masih agak basah, dan menggantungnya ke batu tebing dekat tempat kami duduk. "Mau dikeringin juga?"
"Eee... Enggak usah..." jawabku agak grogi, berhubung hanya ada selembar pakaian yang kupakai.
Beberapa menit kemudian, ikan bakar sudah jadi. Skye juga membawa beberapa garam dan kecap, membuat ikan bakar kami makin gurih.
"Skye..." panggilku.
"Ya?"
"Sebenarnya... Kenapa bersama-sama sekarang?" tanyaku sambil memakan ikan bakar bagianku. "Kita makan sama-sama, main sama-sama..."
"Karena aku cemas padamu." jawab Skye.
".... Hah?"
"Aku cemas kau bisa pingsan lagi. Apalagi kemarin kamu udah kelelahan banget, makanya kubawa kau ke rumahku."
Flashback (Untuk jelasnya, baca ending Let's Baking Love! chapter 10)
"Oke, aku selesai. Selamat berjuang~~" aku dengan santainya keluar toko Kai sambil meninggalkan kakak dan teman-temanku. "Haah, ternyata mereka cuma kuat segitu a..."
Tiba-tiba perutku sakit. Rasanya sakit sekali sampai-sampai rasanya mau meledak. Perih sekali. Aku hanya bisa berjongkok memegangi perutku. Rasanya sakit. Ditambah rasa mual dan pusing meriang membuat pendanganku kabur.
Ada seseorang membawaku pergi. Siapa dia?
Flashback End
(Pesan dari AA: Jangan makan es terlalu banyak, nanti sakit perut!)
"Jadi... Skye yang membawaku kemarin, ya?!" aku kaget mengingat peristiwa kemarin.
"Iya," angguk Skye. "Kau pasti bahagia bisa ditolong pangeran baik hati sepertiku kan? He he..."
"Dasar kau ini... Padahal aku hanya sakit perut kok." jawabku sambil tertawa.
"Tapi kamu senang, kan?"
"Hah?"
"Kamu senang kutemani seharian ini kan? Soalnya aku bisa melihat aura kesepian tanpa pelipur lara... Kau pasti kesepian tanpa belahan hati kan?" tanya Skye sambil berpuitis.
"Skye bisa aja..." aku tertawa.
"Aku serius, Claire." perkataan Skye tiba-tiba berubah. Dia tak memanggilku 'gadis kecil' lagi. Dia menyebut namaku. "Aku serius soal ini."
Mukaku merona lagi seperti tadi pagi. Skye benar-benar serius. Tak ada nada gombal yang biasanya melayang dari mulutnya. Tidak ada tawanya yang khas.
"Aku serius, Claire..." Skye makin mendekatkan mukanya di depan mukaku.
"Ja... Jangan..."
"Claire..." mukanya makin ngedeket di depanku.
"ENGGAAAAK!!!" aku mendorongnya ke laut, membiarkannya basah. Eh? Basah? "Skye! Maafkan aku!!"
Skye masih terduduk di air laut yang kini membasahi seluruh badannya. Aku menghampiri Skye.
"Skye... Kau bisa berdiri...?" tanyaku sambil mengulurkan tangan.
"Ha... ---Hatchi!" Skye bersin.
"Ya ampun, ayo cepat keluar dari air! Kita ke api unggun," aku membantu Skye berjalan mendekatiapi unggun. "Kau pasti tidur tanpa selimut dari kemarin malam demi aku. Sekarang giliranku merawatmu."
Skye hanya bisa terdiam.
"Tunggu sebentar..." aku mengambil ranselku yang sudah berisi handuk. "Pakai dulu handuk. Aku akan buatkan sesuatu untuk menghangatkan badanmu."
"Enggak usah masak..." Skye memelukku. "Badanmu sudah cukup untuk menghangatkanku. Suhu badan anak kecil itu sama panasnya dengan pemanas ruangan... Sudah cukup membuatku hangat."
Mukaku memerah."Aku bukan anak kecil..." keluhku tapi terputus karena melihat mata Skye yang memohon. "Ya sudah. Kamu peluk aku, selagi aku membuat cokelat panas."
Ya, aku tahu memang aneh meminum cokelat panas di hari yang seterik ini, tapi sekarang sudah ada awan besar menghalangi matahari memamerkan cahayanya. Angin semilir juga membuat badan cukup menggigil, ditambah suara ombak yang kini membuat suasana sepi.
Skye masih memelukku dengan erat, diselimuti juga dengan handuk. Badannya benar-benar dingin. "Aaah... Hangat... Sudah kubilang, badan anak kecil sepertimu memang hangat..."
"Hei, aku bukan anak ke..." perkataanku terputus saat melihat Skye terlelap di pahaku sambil melingkarkan kedua lengannya ke pinggangku. Hi hi, kalau tidur, Skye terlihat manis sekali. Rambut silvernya yang agak panjang mungkin membuat orang lain bisa mengira dia perempuan. Pelan-pelan kubelai rambutnya, membuatnya makin terhanyut dalam alam tidurnya. Aku tersenyum kecil. Tak disangka cowok semanis ini bisa menjadi pencuri handal.
Cokelat panas sudah jadi. Tapi karena Skye keburu tidur, kuminum saja sendiri. He he he...
--- A couple of hours later ---
Sudah berjam-jam kutunggu Skye bangun. Aku melamun aja daripada enggak ada kerjaan.
Tunggu dulu. "... Padahal kamu udah mencuri hatiku sejak kita ketemu lho."
Kata-kata Skye kemarin tergiang di pikiranku. Mencuri hati? Apa maksudnya? Setahuku aku selalu dibuat kesal dengan tingkahnya yang selalu mencuri dulu. Dia selalu membuatku kesal dan menangis saat dia mencuri barang-barang berharga milikku dan kakakku. Masa sih dia... Masa sih...
"Hnmg..." Skye terbangun dari tidurnya. "Met pagi, mama~~~" Skye manyapaku.
"Heh, aku ini bukan mamamu! Bangun, jangan ngelindur! Jangan ngelunjak atau kugetok kau dengan pisauku!" sahutku gemas sambil menepuk kepala Skye.
"Hah? Oh, ya, gadis kecil toh..." Skye tersenyum khas. "Sekarang aku sudah lebih baikan. Ini berkat kehangatan dari tuan puteri yang kutolong saat ini. Terima kasih."
Aku mulai terbiasa dengan kalimatnya yang lebay dan sok puitis. "Oke, oke... Sama-sama, Skye."
Skye menatap langit temaram yang mulai senja. Sudah sore. ".... Aku ingin menjadi koki kare suatu hari..."
"Hah?" tanyaku, tak terdengar.
"Aku ingin menjadi koki kare suatu hari. Baru kaulah satu-satunya orang yang mencoba kare buatanku saat ini." jelas Skye. "Aku ingin bisa membuka toko kare buatanku sendiri."
"Kau pasti bisa Skye," dukungku. "Kau sangat berbakat, dan kau pasti bisa mewujudkan cita-citamu."
"Iya." Skye tersenyum. "Terima kasih... Claire...."
"Wah! Kau menyebut namaku! Panggil aku Claire seterusnya..." perkataanku terputus saat Skye melanjutkan perkataannya.
"Maksudku... Gadis kecil. He he." potong Skye sambil tertawa kecil.
Ah sudahlah. Aku nyerah aja. Percuma mengajarinya memanggil namaku.
Skye bangkit dari tempat duduknya. "Semua pakaianmu tadi pagi ada di ranselmu. Aku akan mengantarmu ke rumahmu lagi."
Hah?
--- Mountain ---
"S... Skye... Bagaimana caranya kau... Mengantarku ke Mineral Town?" tanyaku bingung. "Gunung satu-satunya lewat sini, tapi ada bebatuan curam disini..."
Hups! Skye tahu-tahu menggendongku di punggungnya. "Naik saja dan tunggu aku selesai mendaki."
Skye lalu mendaki gunung sambil menggendongku. Tak kusangka kekuatannya besar juga. Kukira bisa saja dia terjatuh berkali-kali karena sempoyongan membawaku, tapi dia serius. Dia tak membuatku takut. Aku malah merasa percaya Skye takkan melukaiku.
"Hei, jangan melamunkan ketampananku. Kita sudah sampai," Skye menurunkanku di atas puncak Mother's Hill. Skye lalu memanjat sendiri puncak bukit Mother's Hill. "Mau kuantar sampai mana?"
"Sampai sini saja. Terima kasih." ucapku. "Aku sudah banyak merepotkanmu."
"Tak apa-apa. Seseorang tak boleh lari dari tanggung jawab. Aku yang membawamu ke rumahku, aku yang mengantarkanmu ke rumahmu." tawar Skye.
Aku mulai bingung. "Aduh... Tak usah, Sky..."
"Claire?" panggil seseorang. Cliff! Kau datang tepat waktu!
"Hai, Cliff!" sapaku riang. "Sedang apa disini?"
"Eee, Ann meminta bantuanku mencari anggur liar di hutan, tapi aku belum menemukannya..." ucap Cliff malu-malu.
"Mau kubantu? Tapi pas udah kekumpul, mau kan anter aku ke Inn?" tanyaku.
"Boleh! Terima kasih, Claire!" ucap Cliff bahagia.
"Oh ya, Cliff," aku baru sada kalau aku mengacuhkan Skye dari tadi. "Ini temanku, Skye."
"Kurasa aku pernah ketemu kamu... Kapan ya?" Cliff berusaha mengingat-ingat.
"Hah? Skye,memangnya kamu pernah ketemu sama...."perkataanku terputus karena Skye sudah tak ada. "Lho? Skye mana?"
"Eh? Mana dia?" Cliff juga kaget saat Skye tak ada.
"Ya... Sudahlah. Yuk kita kumpulkan anggur liar. Aku tahu dimana tempatnya." kilahku sambil menarik tangan Cliff.
"Claire, kamu dapat baju tipis itu dari mana?"
"Ini? Oh, dikasih Skye."
--- (Skye's POV) ---
Aku memukul batu karang di bawah bukit Mother's Hill. Kenapa? pikirku. Kenapa dia tak sadar-sadar juga?
Padahal sejak aku mengganggunya, aku selalu senang. Tapi perlahan-lahan, aku mulai merasa kesepian saat dia dan saudara kembarnya meninggalkan Forget-Me-Not Valley. Waktu itu aku hanya bisa terdiam kaku di rumahku, menunggu bertahun-tahun dimana tempat Claire. Aku menyesal sudah berkali-kali membuatnya menangis.
Saat aku tahu Claire ada di Mineral Town, hatiku melonjak gembira. Aku merasa bahagia bisa bertemu dan mengganggunya lagi. Tapi saat pikiran 'mengganggu' muncul dipikiranku, aku ingin mengurungkan niatku. Dia gadis yang terlalu banyak menderita gara-gara aku. Dia gadis yang sudah berkali-kali menangis gara-gara aku.
Aku mengacak rambutku. Padahal hatiku sudah tertambat sejak pertama kali bertemu dengannya. Tapi kenapa... Sampai sekarang dia hanya memanggilku 'teman'...
*_**_**
Wohooo wei~~ Selesai juga chapter ini. He he, Full of ClaireXSkye ya? Kadang anisha pingin juga tongolin kisah cinta mereka. Sayang sekali Claire sama sekali enggak nyadar-nyadar kalao Skye naksir dia. Ha ha... -diinjek Skye-
Skye: He he, wahai para readers yang cantik jelita dan tampan rupawan, harap read dan direview, karena aku tahu kalian pasti akan tersepona oleh... Bla bla bla bla... -ngomong sok puitis sambil tetep nginjek AA-
RnR yaa~ -bangkit sambil nendang Skye- Oh ya, Skye, bikinin kare untuk anisha dong~~~
Skye: Chick beam!! -abis nyerang lalu nyolong laptop dan hape-
-membeku, jadi enggak bisa gerak- Sialan, malah nyerang dia... Mana laptop dak hapeku dicuri lagi... Seseorang, tolonggg~ (Krik, krik, krik.... Bunyi jangkrik bersahutan)
