Hyuk POV
Aku sedang tertidur lelap saat merasakan rasa hangat pada mataku. Ku coba untuk membuka mata dan aku langsung disambut oleh sinar matahari yang menyeruak masuk menembus tirai - tirai yang menutupi jendela kamar. Aku lalu berusaha bangun dari tidurku dan langsung menuju ke jendela untuk membukanya, membiarkan sinar matahari dan udara baru berganti. Ku hirup dalam - dalam udara pagi yang begitu menyegarkan sambil merasakan hangatnya sinar matahari yang menerpa tubuhku. Setelah beberapa menit berdiam diri di tepi jendela, aku pun bergegas menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar. Tak lupa ku ambil handuk dan menyampirkannya di bahuku. Sedikit demi sedikit air mulai keluar dari shower dan kurasakan dinginnya air mengalir ke seluruh tubuhku.
Beberapa saat kemudian ku sudahi kegiatan mandiku dan ku lilitkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhku. Aku segera menuju lemari pakaian, setelah mengenakan pakaian aku langsung melangkahkan kakiku menuju dapur. Di dapur kulihat ibuku sedang memasak bacon dan telur mata sapi. Aku pun segera menghampirinya dan memeluk tubuh kecilnya dari belakang.
"Ibu, aku lapar." Kataku dengan manja. Tidak ada salahnya kan anak laki – laki bermanja – manja dengan ibunya.
"Astaga, Han Sang Hyuk. Badanmu itu sudah terlalu besar untuk bergelayutan di bahu ibu. Sana tunggu di meja makan, sebentar lagi aku hidangkan sarapanmu." Perintah ibuku sambil melepaskan diri dari pelukanku.
Aku melangkah ke meja makan, menarik salah satu kursi dan duduk dengan tenang. Ku perhatikan ibuku yang sedang memasak. Sejak kecil aku sangat mengagumi sosok ibuku. Dimataku ibu adalah seorang wanita tangguh dan juga anggun, Walaupun ia seorang bangsawan, statusnya tidak membuat dirinya menjadi wanita yang angkuh. Wajahnya masih terlihat sama, tidak ada tanda kalau ia akan menua. Oh iya, dia kan vampire. Wajahnya masih cantik seperti dulu tapi tidak semanis Kim Ara.
'Tunggu! Kenapa dari semalam aku terus memikirkannya?.'
"Ini makanlah." Kata ibuku sambil menghidangkan sarapanku.
"Ayah mana?" tanyaku sambil menggigit sepotong bacon.
"Kau tahu kan ayahmu kalau habis berburu apa yang dia lakukan." Ibu menjawab dengan nada datar.
"Hmmm." Aku langsung paham apa yang dimaksud ibuku. Biasanya, ayahku setelah pulang dari berburu, dia akan makan – makan dan minum – minum bersama kawan – kawannya dan pulang dalam keadaan mabuk. Dan tentu saja dia akan tertidur seharian karena kelelahan.
"Sepertinya moodmu sedang bagus hari ini." Tanya ibuku tiba – tiba. Aku pun mengernyitkan dahiku.
"Apa kau tidak sadar. Sejak tadi kau selalu bersenandung dan juga kau terus – terusan tersenyum. Apa yang sedang terjadi denganmu? Ayo ceritakan pada Ibu."
"Kemarin malam, aku bertemu lagi dengannya."
"Siapa?" kata ibuku semakin penasaran.
"Ibu ingat, gadis peri yang dulu menjadi teman di masa kecilku. Kemarin aku bertemu dengannya." Aku memberi tahu ibuku dan ekspresi ibuku terlihat... panik?
"Lalu?"
"Yah begitu, kami hanya sekedar berkenalan dan sedikit berbincang – bincang dengannya. Dan sepertinya ia lupa dengan diriku."
"Apa dia tahu siapa kau sebenarnya?"
"Kan aku sudah bilang ibu, dia sepertinya lupa denganku. Dan lagi aku malah mengharapkan dia lupa tentang itu." Kataku sementara ingatan ku kembali ke masa lalu kami yang menyakitkan.
"Tapi cepat atau lambat dia harus tahu siapa dirimu."
"Iya, aku mengerti ibu. Jika waktunya sudah tepat aku pasti akan memberi tahu dia."
"Baiklah, ibu percaya denganmu. Ngomong – ngomong kau semakin lama semakin mirip dengan ayahmu." Ibuku lalu menunjuk tubuh atasku yang tidak tertutupi oleh sehelai benang pun alias bertelanjang dada sehingga memperlihatkan dada bidang dan juga abs ku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar celoteh ibuku.
"Untung kalian ini keluarga ku, kalau tidak mungkin aku sudah meleleh dan mimisan karena tidak tahan melihat tubuh kalian yang begitu hot." tambah ibuku sok dramatis. Lagi - lagi tanggapanku hanya tertawa melihat tingkah laku ibuku.
"Kalau bisa pakailah bajumu. Kau tidak lihat, setiap hari rumah kita ini tidak pernah sepi dari gadis – gadis werewolf yang sengaja mengintip hanya untuk melihat tubuh atletismu."
"Iya, ibuku sayang. Sebentar lagi kan aku juga akan bersiap – siap pergi ke kota."
"Hyukie, main yuk!"
"Hmmmmm, si pembuat onar sudah datang." Kata ibuku. Lalu sepersekian detik kemudian pintu rumah kami sudah terbuka lebar dan ku lihat seseorang dengan rambut berwarna coklat, dengan muka yang menyerupai orang – orang barat. Hidung mancung, bibir tebal dan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya yang tampan, Lee Jaehwan.
"Selamat pagi, Noona ku yang paling cantik di Hutan Serigala ini." Jaehwan Hyung lalu menghampiri kami yang sedang berkumpul di meja makan. Ia memilih duduk di seberangku, tepat disebelah ibuku.
"Pasti Jaehwan Hyung ada maunya tuh, Bu." Kataku sambil menyantap sepotong telur.
"Noona, aku boleh kan sarapan disini." Katanya dengan nada memelas. Ibuku hanya memperhatikannya dengan muka datar.
"Jyani kelaparan noona, apa kau tidak lihat tubuh kurus ku ini." imbuhnya sambil mengelus – ngelus perut dan menunjukkan muka melasnya, tak lupa dengan puppy eyes dan sikap manja ke ibuku. Jurus terjitunya jika ia sedang merayu ibuku.
"Kau kan kurus karena sedang diet, katanya mau perutmu jadi kotak – kotak." kataku.
"Diam kau bocah!" sanggahnya, matanya memandangku dengan tatapan yang tajam. Lalu ia berpaling lagi ke arah ibuku sambil memasang puppy eyesnya lagi.
"Iya, iya, masih ada bacon di dapur tadi. Aku akan menyiapkannya untukmu."
"Gomawoyo, Noonaku." Jaehwan Hyung mengucapkan terima kasih ke ibuku sambil meregangkan kedua tangannya berusaha untuk memeluk ibuku.
"Berani kau peluk aku, tangan ini akan mendarat di pipimu." Ibuku menunjukkan telapak tangannya siap untuk menampar dan matanya memandang tajam ke arah Jaewhan Hyung.
"Tidak jadi kok noona, tenang saja. Hehehe." Jaehwan hyung menurunkan tangannya dan terkekeh.
"Aku siap – siap dulu, Hyung." Aku lalu bergegas ke kamarku untuk bersiap – siap.
Aku memilih memakai kaos berwarna putih dipadukan dengan jaket berwarna hitam dan juga celana panjang berwarna hitam. Ku tata rambutku ke atas sehingga memperlihatkan dahiku. Setelah siap aku pun kembali ke ruang makan. Kulihat Jaehwan Hyung sudah hampir selesai sarapan dan ibuku sedang menyiapkan minuman untuknya. Aku kembali duduk di tempatku semula.
"Selamat pagi, yah." Ayahku sudah bangun dari tidurnya. Dan benar kata ibuku, ayahku bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek, persis seperti aku tadi. Rambutnya terlihat berantakan dengan muka kusut, sepertinya ia masih agak mabuk.
"Pagi, anak kesayangan ayah." jawab ayah membalas sapaan ku sambil memeluk ibu dari belakang. Jaehwan Hyung melirik ke arahku sambil menahan tawanya dan mulai menggodaku.
"Selamat pagi belahan jiwaku. Kau semakin hari semakin cantik saja." Ayahku memeluk ibuku dengan mesra dan langsung menyerbu ibuku dengan jurus seribu ciuman ke wajahnya. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini dirumah, sedangkan Jaehwan hyung menatap mereka dengan tatapan mata yang terlihat jijik.
"Hentikan Inguk! Masih ada anak - anak disini. Apa kamu mau sarapan?" kata ibuku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan erat ayahku.
"Boleh. Tapi aku maunya makan kamu." Kata ayah tidak berhenti menggelayuti tubuh ibuku.
"Aish! Ayo Hyuk kita berangkat! Terlalu lama disini bisa - bisa nonton proses pembuatan adikmu lagi." ujar Jaehwan hyung sambil menekan pada kata - kata terakhir di kalimatnya barusan dan segera menarik tubuhku keluar rumah.
"Mulutmu Lee Jaehwaaannn!." Kudengar ibu sudah murka dan meneriaki Jaehwan Hyung yang sudah melenggang pergi menjauhi rumah.
"Hyung, untuk apa sih kau datang tiap pagi kerumah?" kataku saat kami berjalan menuju rumah Jaehwan Hyung untuk mengambil mobilnya.
"Kan aku mau jemput adik kesayanganku." Katanya sambil memasang puppy eyesnya, tak lupa sebuah senyuman terlihat dari wajahnya dan tangannya menggandeng tanganku.
"Bilang saja kalau kau mau numpang sarapan di rumahku dan lagi jurusmu itu tidak akan mempan terhadapku." Kataku dengan nada sarkas dan hanya disambut kekehan darinya.
Lee Jaehwan adalah orang yang ajaib menurutku. Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya.
Hyuk sedang memakai sepatunya saat itu ketika ia terkaget - kaget dengan dobrakan pintu dari seorang anak laki - laki yang langsung melesat masuk kerumah barunya. Anak laki – laki tersebut memiliki rambut yang fluffy dan berwarna coklat. Matanya sangat lucu dengan iris berwarna gold kecoklatan. Hidungnya sangat mancung, pipinya yang chubby dan bibirnya yang tebal membuat wajah bocah itu terlihat menggemaskan.
"Siapa kamu? Ah, jangan – jangan Inguk Hyung menculik anak kecil sekarang. Inguuukkk Hyuunnggg." Celotehnya tanpa henti dan suara teriakannya terdengar begitu memekakkan di telinga Hyuk. Hyuk pun segera menutupi kedua telinganya dengan tangan - tangan kecilnya.
"Ada Apa Jaehwan? Kau selalu saja datang dengan suaramu yang begitu berisik." Inguk muncul dari balik pintu kamar dan menghampiri kedua anak itu.
"Dia siapa? Jangan – jangan Hyung menculik anak gadis lagi ya? Atau sekarang Hyung malah beralih menjadi penculik anak?." Selidik anak lelaki yang di panggil Jaehwan oleh Inguk tadi sambil kedua tangannya ia lipat di depan dada.
"Kapan aku menculik anak gadis orang, Jaehwan!?"
"Hyung lupa gosip tentang gadis vampire yang kau culik itu, apa aku harus menceritakannya ulang padamu?."
"Astaga, Lee Jaehwan. Kau terlalu sering berteman dengan noona – noona tukang gosip sampai – sampai sekarang kau jadi tukang gosip juga. Dan satu hal lagi aku tidak menculik gadis itu ataupun menculik anak."
"Hmm, aku tak percaya hyung. Apa cantiknya sih gadis – gadis vampire itu?. Mereka bertubuh kurus, kulit mereka putih pucat. Mata mereka juga menyeramkan."
"Maksudmu aku?"
Seketika tubuh Jaehwan menegang, dan perlahan ia membalikkan tubuhnya ke arah suara wanita yang sudah memelototinya dengan iris merah yang berpancar. Ia juga menunjukan taring – taringnya yang tajam bagai pisau. Jaehwan pun berteriak dan berlindung dibalik kaki Inguk.
"Jangan sedot darahku, imo. Darahku rasanya tidak enak." Kata Jaehwan sambil bersembunyi di kaki Inguk dan tangannya berusaha memegangi lehernya.
"Kau panggil aku Imo sedangkan Inguk kau panggil Hyung. Aku masih muda tahu." ujar wanita itu sambil menghampiri Jaehwan dan menjewer telinganya.
"Aw aw aw. Sakit tau. Iya iya aku akan memanggilmu noona." Jaehwan meringis kesakitan.
"Siapa sih dia? Berisik sekali suaranya." Tanya wanita itu ke Inguk.
"Dia Lee Jaehwan, adik sepupu jauhku. Dia memang terkenal pembuat onar disini. Walaupun begitu dia anak yang baik kok." Jelas Inguk. Lalu Inguk menghampiri Hyuk yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka saja dan mengajak Hyuk untuk menghampiri Jaehwan yang sedang mengelus – elus telinganya yang berwarna merah karena habis di jewer.
"Jaehwanie, kenalkan ini Hyuk anakku. Dan Hyukie mulai sekarang dia adalah Hyungmu dan Dia Nara ibu Hyuk."
"Oh, jadi nama noona itu Nara. Jadi anak ini adikku, sekarang aku punya adik." Kata Jaehwan antusias menatap Hyuk dengan matanya yang terlihat berbinar – binar.
"Aigoo, Ia terlihat lucu." Celotehnya lagi sambil berusaha meremas pipi chubby dan mengelus – elus telinga serigala Hyuk.
"Dia bertingkah seperti orang dewasa padahal dirinya juga masih anak – anak." Kata Nara yang dari tadi sibuk memperhatikan kedua anak kecil itu.
"Namanya juga Lee Jaehwan." Inguk menimpali.
"Hyung, apa aku boleh mengajaknya bermain? Boleh yah?" Jaehwan memasang puppy eyesnya. Lalu Inguk beralih memandang Nara, Nara pun mengangguk mengiyakan.
"Silakan saja. Tapi ingat kau tidak boleh mengajarinya yang aneh – aneh dan kau harus menjaga adikmu. Paham?."
"Siap Kapten! Ayo Hyuk kita main." Jaehwan mengenggam tangan Hyuk dan mengajaknya keluar rumah.
Mereka berdua berjalan tidak terlalu jauh dari rumah Inguk ketika Jaehwan menghentikan langkahnya. Ia melihat bayangan sinar bulan purnama yang akan segera muncul menggantikan matahari.
"Ah, jadi sekarang malam bulan purnama." kata Jaehwan. Hyuk hanya mengernyitkan dahinya, tidak mengerti.
"Malam bulan purnama, jadi malam ini para werewolf akan berlomba - lomba untuk melolong menunjukkan siapa yang punya suara lolongan yang paling bagus. Apa kau tidak pernah melolong?" tanya Jaehwan yang dibalas dengan gelengan kepala dari Hyuk.
"Sini aku kasih contoh, suara lolongan ku paling bagus loh disini." lalu Jaehwan merubah dirinya menjadi sosok serigala berwarna coklat dan ia melolong dengan sangat merdunya. Hyuk yang baru pertama kali melihat dan mendengarnya merasa takjub. Matanya berbinar - binar dan ia sudah tak sabar untuk mencobanya. ia pun kemudian merubah tubuhnya menjadi sosok serigalanya.
"Wah warna bulumu sangat cantik!" Puji Jaehwan, Hyuk pun tersipu malu.
"Begini caranya, kau kumpulkan semua nafasmu dan kau buang perlahan – lahan melalui tenggorokanmu." Jaehwan memberikan contoh dan langsung dicoba oleh Hyuk. Namun bukan lolongan yang keluar dari mulut Hyuk, tetapi hanya pekikan - pekikan kecil yang terdengar seperti suara cegukan.
"Hahaha, suaramu seperti suara anjing yang sedang terjepit." Mendengar suara Hyuk, Jaehwan pun tertawa terbahak – bahak sampai terjerembab ke atas salju dan berguling kekanan kekiri. Hyuk yang mendengar suara tertawa Jaehwan, merasa frustasi dan kemudian menangis dengan kencang.
"Mianhae, mianhae Hyukkie. Sudahlah hentikan tangisanmu."kata Jaehwan merasa bersalah dan mencoba menghibur Hyuk. Tapi tangisan Hyuk tidak juga berhenti justru semakin menjadi – jadi. Mendengar tangisan Hyuk yang semakin kencang, akhirnya Jaehwan juga ikut menangis.
Tangisan mereka berdua terdengar oleh Nara dan Inguk yang langsung mendatangi dua anak kecil itu.
"Ada apa? Kenapa kalian menangis?" tanya Nara yang terlihat panik dan khawatir saat melihat Jaehwan dan Hyuk menangis.
"I- Ibu, aku tak bisa melolong." Hyuk menjawab dengan terbata – bata. Nara lalu menggendong Hyuk dan mengelus punggungnya berusaha untuk menenangkan Hyuk.
"Tenang saja. Nanti aku akan ajari Hyuk. Terus kenapa kau ikutan menangis Jaehwan?"tanya Inguk.
"Aku sudah minta maaf dan aku juga menghiburnya, tapi Hyuk tidak mau berhenti menangis. Aku kan jadi bingung, Hyung." Jelas Jaehwan dan tangisannya semakin kencang.
"Kau ini Jyani, sudahlah kalian berhenti menangis. Nanti akan kuberi kalian es krim." Bujuk Inguk sambil menggendong tubuh Jaehwan.
"Benarkah?" tanya Jaehwan, tangisannya berhenti dan senyuman lebar sudah terlihat di wajahnya saat mendengar kata – kata es krim. Inguk hanya menanggukkan kepalanya.
"Asyiiikkk." Jaehwan bersorak gembira dan mereka berempat berjalan pulang ke rumah Inguk.
Hyuk POV
Dan sampai sekarang pun aku masih tidak bisa melolong.
"Kenapa kau senyum – senyum begitu?" tanya Jaehwan Hyung menyadarkanku dari lamunan dan kusadari kami sudah hampir sampai toko musikku.
"Tidak apa – apa. Hanya teringat sesuatu saja Hyung." jawabku sekenanya.
"Aneh. Ah, kita sudah sampai." Katanya. Aku kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya sambil membuka pintu mobil. Kegiatanku terhenti ketika tangan Jaehwan Hyung menahan pundakku.
"Ada apa lagi, Hyung?" tanyaku malas sekaligus kebingungan.
"Matamu, Hyuk." Ia menunjuk ke arah mataku. Akupun melihat mataku dari kaca spion dan rupanya aku lupa merubah warna mataku yang belang ini. Aku kemudian memejamkan mataku dan berkonsentrasi untuk merubahnya. Setelah beberapa saat aku kemudian membuka mataku dan mataku sudah berubah menjadi hitam.
"Thanks, Hyung."
"Sama – sama."
"Hyung, kau tidak usah menjemputku hari ini." kataku ketika sudah turun dari mobil.
"Idih, siapa juga yang mau menjemputmu, aku sudah bosan tahu jadi sopir pribadimu. Bye~" katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. Ia pun kemudian menjalankan mobilnya menjauh dari ku. Aku hanya tertawa melihat tingkah laku Jaehwan Hyung yang tidak pernah berubah sejak kecil. Walaupun begitu ia tetaplah kakakku yang selalu menjagaku.
