Hola Minna. saya datang dengan rate baru. masih uji coba. harap maklum kalau masih jelek. hehehe
My first rate M.
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
"Kurosaki! Tunggulah di luar. Kau tidak boleh masuk!" jelas Ulquiorra sambil menahan Ichigo di depan pintu Instalansi Gawat Darurat Rumah Sakit Karakura itu. Ichigo tak berhenti berteriak memanggil Rukia dan ingin menerobos masuk kesana dengan paksa. Wajah Ichigo Nampak begitu khawatir dan pucat begitu mengantar Rukia masuk ke rumah sakit itu.
"Kumohon padamu ada apa sebenarnya dengan Rukia? Kau pasti tahu 'kan? Aku hampir gila karena cemas!" seru Ichigo tak sabaran.
"Kalau kau bersabar sekarang aku akan memberitahukan semuanya padamu. Semuanya tanpa terkecuali. Sekarang kau harus menunggu sampai Rukia bisa kuperiksa." Ujar Ulquiorra. Mendengar kata-kata dokter itu Ichigo berhenti berontak dan menatap Ulquiorra dengan pandangan serius. Ulquiorra juga nampak begitu serius mengatakan hal itu. Paling tidak dokter berkulit pucat itu tidak akan berbohong padanya. Tidak untuk saat seperti ini.
"Baiklah. Aku akan tunggu disini." Jawab Ichigo akhirnya.
Ulquiorra bernafas lega dan masuk ke dalam ruangan tempat Rukia sedang ditangani. Ichigo berdoa dalam hatinya semoga bukan hal buruk apapun lagi yang menimpanya. Ichigo tidak tahan lagi mendengar segala penderitaan yang Rukia alami karenanya.
.
.
*KIN*
.
.
"Saya Kuchiki Senna. Sebenarnya saya adalah kekasih Ichigo selama 5 tahun ini. Jujur saja sebenarnya saya sangat mencintai putra anda. Saya benar-benar ingin setia pada putra anda. Awalnya hubungan kami baik-baik saja selama ini. Tapi 2 tahun yang lalu, Ichigo sempat bertemu dengan seorang pelacur dari klub malam. Kelihatannya pelacur itu dikenalkan oleh teman Ichigo. Karena pelacur itu, Ichigo banyak mendapat masalah. Terakhir kali Ichigo hampir dipecat dari perusahaannya dan masuk penjara karena pelacur itu." Jelas Senna didepan Kurosaki Masaki. Ibu dari Kurosaki Ichigo.
Mata Masaki membulat tajam. Anaknya masuk penjara karena seorang pelacur? Apa dia tidak salah dengar? Bahkan Ichigo sendiri tidak mengatakan apapun padanya dan pada keluarganya.
"Sebenarnya bukan maksud saya untuk membuat anda terkejut. Hanya saja... sepertinya Ichigo sudah tertipu terlalu jauh karena pelacur itu. Saya sudah tidak bisa lagi meyakinkah Ichigo bahwa apa yang dia pilih adalah salah. Saya sudah tidak lagi dia dengar. Yang dia lihat hanya seorang pelacur. Karena itu... alasan saya datang kemari adalah... agar Anda... Nyonya Kurosaki bisa meyakinkan Ichigo untuk meninggalkan pelacur yang sudah membuatnya terpuruk."
Gadis berambut ungu itu menatap Masaki dengan tatapan memohon padanya. Ibu mana yang tidak jantungan mendengar hal seperti itu keluar dari mulut orang lain. Apalagi Ichigo adalah putra kesayangannya selama ini. Dan putra satu-satunya. Bagaimana mungkin sekarang dia mendengar putranya salah jalan seperti itu? Selama ini Masaki percaya Ichigo akan baik-baik saja. Selama ini dia pikir jika Ichigo mencintai seorang wanita, wanita itu adalah wanita baik-baik. Dan bukannya... pelacur.
"Jadi ada dimana Ichigo sekarang?" tanya Masaki akhirnya.
"Saya dengar dia sudah meninggalkan Tokyo 2 hari yang lalu. Kelihatannya dia ada di Karakura. Entah apa yang dia lakukan di Karakura tanpa memberitahukannya pada anda. Kelihatannya, pelacur yang Ichigo cari ada disini."
"Dia ada di Karakura? Kenapa dia tidak pulang ke rumah? Lalu... apa kau tahu siapa pelacur itu?"
"Namanya Ashiya Rukia."
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo dan Ulquiorra sudah duduk di kantin rumah sakit. Selama 2 jam sebelumnya, Ulquiorra sudah menangani Rukia dan sekarang wanita itu sudah dalam keadaan kondisi stabil. 2 jam Ichigo menunggu janji Ulquiorra untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Bagi Ichigo itu bukan waktu yang lama. Dia tak peduli harus menunggu berapa jam pun. Tidak peduli. Itulah tujuannya datang ke Karakura tanpa memberitahukan pada ibunya dan keluarganya. Kedua pria itu saling berhadapan dan menunggu kopi di atas meja itu dingin. Meskipun hari diluar sana sudah sangat dingin karena mungkin... salju akan kembali turun malam ini.
"Jadi... aku harus mulai dari mana Kurosaki?" tanya Ulquiorra.
"Semua yang kau ketahui tentang dia. Semuanya."
Ulquiorra tersenyum tipis lalu menyesap kopinya terlebih dahulu. Sebenarnya dia tak punya hak untuk mengatakan ini. Tapi sekarang ini dia tak bisa lagi membiarkan Rukia menahan terlalu lama. Dan ini adalah cara yang tepat untuk meyakinkan Rukia. Bahwa apa yang dia pilih tentu ada konsekuensinya. Dan Rukia... masih berhak untuk mendapatkan apa yang pernah dia lepaskan dulu. Dia lepaskan karena kecewa pada takdirnya sendiri.
"Selama 3 tahun terakhir ini, sebenarnya Rukia sedang sakit. Sakit yang lumayan parah. Sebenarnya penyakit itu bisa sembuh kalau dia mendengar kataku. Tapi dia sudah terlanjur kecewa pada hidupnya. Dia sama sekali tidak mau peduli pada dirinya sendiri. Selama 3 tahun ini hanya aku yang dia percaya untuk memantau kesehatannya. Dan semua obat yang kuberikan padanya hanyalah untuk menahannya bukan menyembuhkannya. Dna sekarang dampak dari semua itu adalah ini. Dia sudah terlanjur parah."
"Penyakit apa yang itu? Penyakit apa yang Rukia punya?" akhirnya Ichigo tak tahan untuk tidak bertanya.
"Kanker rahim stadium lanjut. Jalan satu-satunya adalah mengangkat kanker itu bersama rahimnya. Jika operasi itu dijalankan... Rukia tak akan pernah bisa punya anak. Aku tahu apa yang Rukia takutkan. Tapi ini juga demi hidupnya. Dan sejak insiden 2 tahun yang lalu, Rukia semakin tidak ingin mempertahankan hidupnya. Demi kau... dia sudah tidak mempedulikan hidupnya dan menghancurkannya sendiri. Dan kurasa kau sendiri sudah tahu itu 'kan?"
Ichigo menunduk dalam. Demi apapun yang ada, dia sekarang merasa dialah orang yang menyebabkan penderitaan Rukia terjadi selama ini.
"Tapi... bukankah dia sekarang sudah jauh lebih bahagia. Dia sudah menikah denganmu. Seharusnya kau bisa membahagiakannya dan menyuruhku untuk melupakan dia 'kan? Seharusnya kau bilang padaku untuk menjauhinya dan tidak bertemu dia lagi. Seharusnya itu yang kau lakukan sebagai suaminya." Jelas Ichigo.
"Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku bukan suaminya?"
Mata Ichigo terbelalak lebar. Sangat lebar dan rasanya mau jatuh keluar begitu saja. Apa maksudnya itu? Apakah Ichigo yang salah dengar? Atau memang pendengarannya sudah tidak bagus lagi.
"Apa... maksudmu?"
"Yah setidaknya aku memang bukan suami sahnya. Aku memang sudah menikah. Tapi bukan dengan Rukia. Sebelum bertemu dengan Rukia, aku sudah menikah dengan seorang wanita. Namanya Hisana. Dia sangat mirip dengan Rukia. Bahkan terlalu mirip. Aku hanya bisa jadi suami Hisana selama satu tahun. Aku tahu Hisana tidak mungkin bisa hidup lebih lama karena penyakitnya. Tapi aku sudah terlanjur mencintainya. Makanya aku rela walau hanya sementara. Dan setelah kematian Hisana, tahun berikutnya aku bertemu dengan Rukia. Karena tahu mereka sangat mirip tanpa sadar aku jadi bersikap baik padanya sampai sekarang."
"Aku bertemu Rukia 3 tahun yang lalu di klub Rukia dulu. Pertemuanku dengannyapun tanpa disengaja sama sekali. Sejak tahu dia mengalami penyakit itu, aku jadi memutuskan untuk menolongnya. Hampir semua yang Rukia rasakan aku tahu. Karena Rukia sudah mempercayakan semuanya padaku. Termasuk pergi dari Tokyo 2 tahun yang lalu. Dia memutuskan ingin pergi dari Tokyo. Aku menyanggupi membawa Rukia pergi dari Tokyo. Karena mungkin tidak wajar bila kami tinggal serumah tanpa hubungan apapun, kuputuskan kami menjadi suami istri. Rukia setuju dengan usul itu. Jadi meskipun semua orang disini beranggapan kami adalah suami istri yang bahagia, sebenarnya hubungan kami tidak jauh dari dokter dan pasien. Hanya itu."
Ichigo melongo mendengar cerita Ulquiorra. Jadi seperti itu. Ternyata sebegitu keras Rukia ingin menghindarinya.
"Apakah… penyakit istrimu…"
"Yah. Mereka menderita sakit yang sama."
"Tapi kenapa kau memberitahukan ini padaku ? jika Rukia sendiri tidak memberitahuku… bukankah alasannya agar aku… tidak bertemu dia lagi?"
"Aku mengenal Rukia lebih dari siapapun. Seharipun dia tidak melupakanmu Kurosaki. Kaulah orang nomor satu dihatinya. Kaulah orang yang tidak pernah dilupakannya sedetikpun. Dan kaulah orang yang dicintainya seumur hidupnya. Apa kau tidak mengerti itu? Apa kau tidak pernah merasakan perasaan Rukia padamu selama ini?"
Setetes air mata bergulir dipipi pria berwajah tampan itu tanpa bisa dicegah lagi. Tidak. Dia tidak tahu dan tidak pernah tahu. Jika dia tahu... jika saja dia tahu lebih awal.
"Kurosaki. Sebagai dokter aku ingin pasienku sembuh. Dan sebagai pria, aku ingin wanita itu bahagia. Selama ini aku sudah berusaha untuk menyempurnakan keduanya. Tapi sepertinya hal terakhir yang tak bisa kulakukan. Berikan pada Rukia sebuah kesempatan. Rukia berhak untuk bahagia. Dia sudah mencapai batasnya. Tolong jangan kecewakan dia lagi Kurosaki. Aku percaya kau pasti ingin membahagiakannya juga 'kan?"
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menggeliat dalam lelapnya. Perutnya masih terasa sakit. Sakit seperti dililit tali tambang. Rukia membuka matanya perlahan. Astaga… bau obat-obatan. Apakah sekarang dia ada dirumah sakit? Siapa yang membawanya? Yang dia ingat seharusnya dia datang pada acara pernikahan Orihime. Rukia menoleh kesamping kanannya. Melihat jendel. Dan ternyata hari sudah berubah malam. Sudah pasti acaranya selesai. Rukia kecewa karena tidak bisa ada disana sampai selesai. Kenapa perutnya harus kumat disaat seperti itu?
Kali ini Rukia menoleh kesamping kiri pula. Tangan kirinya terasa berat karena sesuatu. Apa yang membuatnya berat?
Sebuah kepala berwarna aneh, astaga kenapa ada kepala di tangannya? Rukia mencoba menggesernya. Tapi tidak bisa. Mungkin orang itu dengan seenaknya tidur disisinya. Siapa?
Mata ungu Rukia membelalak kala menyadari siapa pemilik kepala dengan warna rambut aneh itu. Rukia langsung mencoba untuk bangun. Tapi kepalanya mendadak pusing. Yah, tiba-tiba tidur dan tiba-tiba bangun dan langsung bergerak itu bukan pilihan baik. Kadang semuanya belum sinkron. Rukia memegangi sebelah kepalanya yang terasa pusing sekali. Sekarang dia sudah berganti pakaian jadi piyama rumah sakit. Dimana Ulquiorra? Kenapa membiarkan orang ini menunggunya.
"Kau sudah bangun?" sapa orang itu yang sepertinya juga terbangun.
Rukia tidak peduli dan tetap berusaha untuk bangun dan pergi dari ranjang itu. Kontan saja pria itu menahannya dengan pandangan panik.
"Hei! Apa kau gila? Kau masih sakit! Apa yang mau kau lakukan?"
"Pergi! Aku tidak mau disini! Aku tidak mau melihatmu!" teriak Rukia seperti orang frustasi.
"Ada apa denganmu? Tenanglah dulu Rukia. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Jangan pedulikan aku. Pergilah Kurosaki. Aku tidak mau kau melihatku seperti ini. Pulanglah ke Tokyo. Aku tidak mau―"
Mata Rukia kembali terbelalak. Tubuh mungilnya tenggelam dalam dekapan pria berambut orange itu. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk melepaskan dekapan yang sebenarnya Rukia sendiri begitu inginkan. Sudah lama rasanya dia...
"Diamlah sebentar... apakah kau tidak bisa tenang? Kau sakit Rukia... kalau kau sudah tenang dan tidak bertingkah macam-macam baru aku akan melepaskanmu." Bisik Ichigo tepat di telinga gadis mungil itu. Rukia menoleh kesisi wajah pria itu. Dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kemudian beberapa saat kemudian, Rukia mengangguk patuh. Ichigo melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan mungil Rukia. Mata ungunya sudah terlanjur basah.
"Maaf aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Selama ini kupikir kau baik-baik saja. Sekarang apapun yang terjadi aku benar-benar tidak akan melepaskanmu. Tidak peduli kau mau bicara apa. Semua alasanmu ditolak!"
"Aku sudah menikah. Apa kau lupa?"
"Tidak. Aku tidak lupa. Tapi meskipun kau punya cincin dan foto pernikahan itu sama sekali bukan milikmu. Ulquiorra sudah memberitahukan semuanya padaku. Semuanya. Kau tidak bisa beralasan apapun lagi sekarang."
"Ulquiorra?" ulang Rukia. Kenapa Ulquiorra berbuat begitu? Kenapa dia memberitahukan semua ini padanya?
"Sekarang tidak ada alasan lagi kau menolak bersamaku." Ucap Ichigo lagi.
"Aku ini sudah tidur dengan banyak pria. Apa kau mau dengan pelacur sepertiku?"
"Aku juga tidur dengan banyak wanita. Aku juga seorang playboy brengsek. Jadi kita impas?"
"Kurosaki!" seru Rukia tajam.
"Rukia... kau pernah bilang, jodohnya orang baik, tentunya orang baik. Aku bukan orang baik Rukia. Kau juga bukan orang baik. Bukankah kita sama? Lalu apa yang membuatmu berpikir bahwa kita tidak bisa?"
Rukia diam. Bukan hal itu yang Rukia pikirkan. Bukan. Dia selama ini hanya takut...
"Aku menyukaimu. Lebih dari yang kau tahu. Aku mencintaimu lebih dari yang kau pikirkan. Aku sangat keras kepala untuk kali ini. Dan aku... tidak pernah berubah selama ini Rukia..." lanjut Ichigo lagi.
Kali ini airmata yang jatuh dari mata ungu itu lebih banyak. Kalimat itulah yang ingin Rukia dengan selama ini. Kalimat itulah yang ingin Rukia dengar dari seorang Kurosaki Ichigo. Kalimat yang mampu membuatnya tidak kecewa lagi pada hidupnya.
Dengan satu tangannya yang bebas, Ichigo bergerak menyusuri wajah mungil dan cantik itu. Menghapus jejak airmata yang menghiasi wajahnya. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing. Mereka sudah terlalu lama menunggu hal ini.
"10 tahun... kemudian 2 tahun... 12 tahun ini aku sudah cukup bersabar. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak bisa bersabar lagi." Kata Ichigo lagi.
Dengan gerakan perlahan, tangan Ichigo yang tadinya ada diwajah Rukia berpindah kebelakang leher wanita itu. Mengusapnya perlahan. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah wanita yang selama 12 tahun ini sudah mengusik hidupnya. Ichigo menghilangkan jarak diantara mereka.
Awalnya Ichigo hanya mengecup lembut bibir mungil itu. Tapi semakin lama, kecupan itu berubah jadi pagutan hangat. Perasaan 12 tahun lalu tumpah begitu saja disana. Rukia yang tadinya hanya diam, kini melingkarkan tangannya di leher pria berambut orange itu. Sekarang tidak ada salahnya memulai hal ini. Jika dia yang harus berdosa, Rukia akan terima itu. Biarlah dia saja yang berdosa. Karena jika harus berpisah sekali lagi, Rukia tak akan sanggup.
Ciuman itu terasa begitu sangat hangat. Bahkan entah sejak kapan lidah mereka sudah bersatu didalamnya. Saling menyapa satu sama lain. Tangan Ichigo juga tak bisa diam lagi. Perlahan turun dan memeluk pinggang wanita yang kini harus jadi miliknya. Ciuman hangat itu dihentikan karena wajah masing-masing memerah karena hampir kehabisan nafas. Tapi bibir Ichigo malah turun keleher putih Rukia. Desahan dan erangan silih berganti karena Ichigo bukan hanya mengecup tapi juga menjilat dan menggigit kecil lehernya. Kini lagi-lagi tangan Ichigo berpindah. Kali ini menuju kancing depan piyama Rukia. Masih tetap mencium lehernya, kancing piyama itu mulai terbuka satu persatu. Rukia bermaksud menghentikannya, tapi Ichigo kembali mencium lembut bibir mungilnya. Kali ini sudah tak bisa dihentikan lagi.
Setelah menyelesaikan ciumannya, bibir Ichigo kini kembali turun kebawah membuat jejak penting. Jejak yang akan jadi bukti bahwa Rukia adalah miliknya. Ichigo mengecup lembut gundukkan kenyal itu. Meski masih tertutup branya, Ichigo tak peduli.
"Ichi... go... henti... kan dulu… nanti… argh!" Rukia menjerit kecil kala Ichigo malah menggigit lembut dadanya. Ichigo nampak tak peduli soal itu.
"Ichigo... dengar... kan aku..." ujar Rukia bersusah payah karena menahan desahan sendiri.
Ichigo berhenti. Seakan baru kembali ke alam sadarnya. Dia memang sempat lepas kendali. Ichigo beralih memeluk Rukia yang kini wajahnya memerah seperti kepiting yang lewat direbus. Wajahnya sangat merah dan karena itulah dia jadi semakin cantik untuk Ichigo.
"Maaf. Aku lupa ini rumah sakit." Lirih Ichigo.
Rukia menikmati pelukan itu. Dia juga tidak ingin Ichigo berhenti. tapi ini bukan tempat yang bagus untuknya. Rukia tahu mereka sudah terlalu lama menahannya. Tapi bukan seperti ini juga.
Ichigo mengancingkan kembali piyama Rukia dan membaringkan wanita yang kini sudah sah menempati urutan teratas di hatinya. Lalu mengusap dahi Rukia perlahan untuk menyuruhnya kembali tertidur.
.
.
*KIN*
.
.
Ulquiorra bermaksud untuk masuk kedalam kamar Rukia. Karena untuk memantau kondisi Rukia. Tapi begitu akan membuka pintu, Ulquiorra melihat 2 orang itu nampak sedang berbicara serius. Dan terakhir Ichigo memeluk wanita berambut hitam itu. Sesaat Ulquiorra sempat merasa sakit. Tapi dia sama sekali tidak berhak merasa sakit untuk hal seperti itu. Apa yang Ulquiorra lakukan selama ini semata-mata karena dia tidak ingin orang yang mirip dengan mantan istrinya dulu tidak mengalami nasib yang sama. Dia hanya ingin wanita itu bahagia sebahagia yang dia inginkan. Tidak ada hal lain.
Perlahan Ulquiorra menutup pintu ruangan itu. Berikan mereka kesempatan untuk bicara dari hati ke hati. Jangan menyulitkan lagi takdir 2 orang itu. Meskipun sebenarnya Ulquiorra tidak ingin bertindak sebagai dewa cinta, tapi setidaknya itulah peran yang dia dapatkan saat ini. Ulquiorra meninggalkan ruangan itu dengan tersenyum tipis.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia kembali membuka matanya. Matahari sudah menusuk matanya. Benar-benar sudah siang. Rukia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Ternyata Ichigo sudah tidak ada. Tapi ada memo di atas meja. Rukia membacanya. Isinya hanya bilang Ichigo akan kembali sebentar lagi. Rukia tersipu bila mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Kelihatannya tidak sopan sih. Tapi… mengingat momen yang seperti itu bukan hal jelek. Ichigo memang masih sama seperti dulu. Mungkin yang berubah itu adalah Rukia. Mungkin memang dialah yang berubah selama 12 tahun ini.
Ketukan singkat muncul di pintu ruangannya. Oh, pasti itu dokter atau perawat. Rukia berharap itu adalah Ulquiorra. Karena Rukia ingin sekali menyampaikan berita bahagia ini.
Ketika Rukia mengijinkannya masuk, Rukia tak menyangka yang masuk adalah seorang wanita yang sangat cantik. Berambut panjang berwarna orange seperti Orihime. Wanita itu Nampak anggun dan cantik. Siapa wanita itu?
Mendadak Rukia bangun dari tidurnya dan langsung mengubah posisinya jadi duduk di kasurnya dengan menundukkan kepalanya.
"Apa kau yang bernama Rukia?" wanita itu langsung berdiri tepat didepan Rukia dan bertanya dengan nada sinis.
"Ya… ada yang perlu kubantu?" Tanya Rukia gugup masih dengan menundukkan kepalanya.
"Apa kau mengenal Kurosaki Ichigo?" tanya wanita itu lagi. Kenapa ada nama Ichigo sekarang?
"Ya." Jawab Rukia singkat. Sebenarnya dia begitu gugup, siapa wanita yang mengenal Ichigo ini?
"Kalau begitu kau pasti pelacur yang menipu Ichigo 'kan?"
Mata Rukia terbelalak lebar. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Kenapa wanita itu menyebut soal pelacur padanya?
"Tipuan apa yang kau gunakan untuk menipu Ichigo? Pura-pura sakit? Atau pura-pura hamil supaya Ichigo mau bertanggungjawab padamu?" lanjut wanita cantik itu lagi.
Rukia tak bisa mengatakan apapun. Lidahnya terlalu kelu. Yang keluar hanyalah buliran airmata dari kedua mata indahnya.
"Tinggalkan Ichigo sesegera mungkin. Aku tidak akan pernah sudi kau mengambil Ichigo. Kau tidak pantas untuknya! Bagaimana bisa kau berpikir Ichigo mau denganmu? Mencintaimu? Mana mungkin Ichigo bisa mencintai seorang pelacur! Kau mungkin hanya seorang wanita yang mendekati Ichigo untuk bersenang-senang bukan? Atau kau hanya ingin uang Ichigo? Kalau kau memang butuh uang, akan kuberikan sebanyak apapun untukmu! Tapi tinggalkan Ichigo dan jangan pernah menghubunginya lagi!"
Rukia nyaris terisak dan ingin sekali membalas apa yang dikatakan oleh wanita berambut panjang itu. Tapi dia tidak bisa. Apa yang dikatakan wanita itu memang ada benarnya.
"Ibu!"
Rukia dan wanita itu sama-sama menoleh kearah pintu masuk.
Apa? Ibunya? Wanita itu… ibu Ichigo?
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo memang meninggalkan Rukia yang masih tidur. Hanya sebentar karena dia ingin mencarikan Rukia sarapan dan untuk dirinya juga. Ichigo juga sudah meninggalkan memo. Semalam adalah saat yang paling menyenangkan untuk Ichigo. Apa yang diinginkannya sudah terpenuhi. Dan dia sudah tidak takut lagi kehilangan Rukia. Apapun yang terjadi dia tetap akan memilih Rukia dan melindungi gadis itu. Kini perannya sebagai pria untuk Rukia sudah dimulai.
"Ichigo?"
Ichigo berhenti melangkah. Dari belakang ada yang memanggilnya. Begitu Ichigo berbalik, dia melihat seorang pria berjanggut tipis dan tinggi. Astaga! Itu ayahnya!
"Kau ada di Karakura? Ternyata benar kau ada disini. Aku juga setengah percaya kau ada disini. Karena kau bilang tak akan sempat pulang sampai tahun baru. Apa yang kau lakukan?" tanya ayahnya, Kurosaki Isshin sambil menepuk bahu putranya.
"Apa… yang Ayah lakukan disini? Bukankah seharusnya Ayah… ada di rumah sakit Ayah?" tanya Ichigo bingung.
"Oh ya, sebenarnya memang begitu, tapi kebetulan ada janji bertemu dokter disini. Masaki juga ikut. Dia bilang ada yang memberitahunya kalau kau ada di Karakura. Dan ternyata benar ada. Tadi dia sedang mencari ruangan. Apa ada yang kau jenguk disini?"
Ibunya?
"Ibu ada disini?" ulang Ichigo.
"Yah. Tadi dia bersama Ayah. Sepertinya dia masuk kesalah satu ruangan di ujung sana. Entah menemui siapa..." jelas ayahnya lagi sambil menunjuk ruangan yang ada di ujung koridor tempatnya yang akan dia tuju.
Astaga! Itu ruangan Rukia!
Apa ibunya tahu soal Rukia? Mana mungkin tahu. Siapa yang―
Astaga ! Kuchiki Senna !
Wanita itu benar-benar tidak mau melepaskannya. Bukan hal sulit untuk ibunya menemukan Ichigo. Ichigo bergegas berlari menuju ruangan yang ayahnya maksud. Dan ternyata benar.
"Ibu!" panggil Ichigo.
2 wanita itu melihat Ichigo. Dan Rukia sudah menangis. Ichigo yakin ibunya sudah mengatakan yang tidak-tidak pada Rukia.
"Kalau begitu akan lebih jelas jika aku yang bertanya pada putraku." Ujar Masaki.
"Ibu! Apa yang Ibu katakan?"
"Dan kau! Kenapa kau diam saja begitu pelacur ini menipumu? Apa kau sudah hilang akal sehat?"
"Kita bicara di luar." Ujar Ichigo.
Ichigo menarik ibunya dan keluar dari ruangan itu. Sekarang Ichigo sudah meminta ibunya berada di belakang di ujung koridor dekat pintu darurat. Dia tak menyangka ibunya akan secepat ini menemukannya. Ichigo kini serba salah menghadapi ibunya.
"Apa yang Ibu lakukan? Apa yang Ibu katakan padanya?" tanya Ichigo.
"Apa? Seharusnya Ibu yang tanya apa yang sudah dilakukan pelacur itu padamu? Kau ada disini tapi tidak member kabar pada Ibu? Kau pikir Ibu akan diam saja? Kalau kau hanya ingin main-main dengan pelacur, Ibu tidak masalah. Tapi kalau kau ditipunya bagaimana?"
"Siapa yang menipu siapa? Rukia bukan orang seperti itu. Ibu percaya padaku. Aku juga tidak main-main dengannya. Aku serius."
"Dia sendiri yang mengakui dia memang pelacur! Ibu tidak akan pernah mengijinkanmu serius dengan wanita seperti itu. Bukankah Ibu pernah bilang, hati-hati memilih wanita di Tokyo! Apa yang dia lakukan sampai kau begitu menurut padanya?"
"Ibu... dengarkan aku. Rukia bukan wanita seperti itu. Dia wanita baik-baik. Dan dia tidak melakukan apapun padaku. Aku yang ingin bersamanya. Aku yang ingin serius dengannya. Jadi Ibu tidak perlu menuduhnya seperti itu." Jelas Ichigo.
"Apa kau lupa? Karena wanita pelacur itu kau merusak hidupmu dan masuk penjara? Bahkan kau tidak memberitahukan ini pada orangtuamu? Apa yang kau pikirkan! Ibu membiarkanmu memilih keputusanmu bukan untuk membuatmu salah memilih seperti ini. Kelihatannya Ibu sudah terlalu lama membiarkanmu bebas. Sudah waktunya kau ikut apa kata Ibu!" ancam Masaki.
Ichigo diam. Kali ini ibunya bahkan tahu dia pernah masuk penjara. Sudah jelas semuanya sudah diceritakan pada ibunya. Dan orang yang berani berbuat senekat dan semengerikan itu hanya ada satu.
"Aku berhak memilih wanita mana yang akan menemaniku seumur hidupku. Ibu tak punya hak untuk itu."
"Ichigo!" bentak Masaki.
"Selama ini aku tidak pernah sekalipun membantah Ibu dan mengecewakan Ibu. Kalau sekali ini saja aku harus membantah dan mengecewakan Ibu, aku mohon maaf. Aku benar-benar tidak bisa mencintai wanita selain dia. Aku sudah menunggunya selama 12 tahun Bu. Dan 12 tahun bukan waktu yang singkat. Bahkan jalan yang kutempuh untuk meyakinkannya juga bukan jalan yang mudah."
"Ibu tidak peduli soal itu. Sama sekali tidak. Kau bisa menemukan wanita yang lebih baik. Asal jangan pelacur itu. Ibu tidak akan rela. Bahkan kalau kau membantah dan mengecewakan Ibu karena pelacur, Ibu tak akan pernah merestui kalian."
"Kalau begitu. Tidak usah restui kami. Aku minta maaf Bu." Ichigo menundukkan kepalanya dan berbalik hendak meninggalkan Masaki.
"Berhenti! kalau kau tidak mau berhenti, apa kau mau Ibu tidak menganggapmu anak lagi?" teriak Masaki penuh emosi. Ichigo terus melangkah. Dia tidak mau menghentikan ini semua. Jika dia yang menghentikan ini… dia tak akan tahu kapan lagi bisa memulainya kembali.
"Ichigo! Kau lebih memilih pelacur itu dari Ibumu?" bentak Masaki lagi.
Ichigo berhenti dan berbalik menatap Ibunya dengan pandangan sayu. Dia juga tidak tega berbuat seperti ini pada Ibu yang dia cintai. Bagaimana dia bisa tega? Tapi jika ini jalan untuk membahagiakan dirinya dia tidak punya pilihan. Apa yang Rukia korbankan dulu untuknya jauh lebih besar dari apa yang akan Ichigo korbankan sekarang.
"Aku selalu memilih Ibu. Dalam hidupkupun Ibu adalah yang nomor satu. Ibu tak pernah bisa ditandingi dengan wanita manapun. Aku hanya akan memilih Ibu. Tapi… aku tidak bisa meninggalkan wanita itu Bu. Dia sudah terlalu banyak menderita dan berkorban demi aku. Selama ini, aku sudah menjadi anak Ibu. Anak yang selalu mencintai Ibunya sampai kapanpun. Tapi ijinkan aku untuk tahun berikutnya dan sampai aku mati nanti… biarkan aku jadi pria untuk wanita itu."
Ichigo kembali menunduk dan meninggalkan ibunya. Untuk mendapatkan sesuatu memang harus mengorbankan sesuatu juga.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo masuk kedalam kamar wanitanya. Wanita itu sedang memeluk kedua lututnya dan menangis. Meskipun tidak jelas, tapi Ichigo tahu gadis itu menangis. Perlahan Ichigo mendekati gadis itu dan duduk disebelahnya.
"Rukia…" panggil Ichigo.
Rukia mengangkat wajahnya yang sembab dan merah karena menangis.
"Ichigo… apa yang Ibumu… katakan?" Tanya Rukia gugup.
"Kenapa kau yang bilang kalau kau pelacur pada Ibuku?" tanya Ichigo.
"Tapi… Ibumu sudah tahu kalau aku memang pelacur. Ibumu juga marah padaku karena aku... Ibumu benci padaku Ichigo..." kata Rukia tersendat karena masih menahan tangisnya.
Dengan sekali sentakan, Ichigo menarik Rukia dan mendekapnya erat. Ichigo menghela nafasnya panjang.
"Kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku yang akan mengatasinya. Yang perlu kau lakukan hanyalah bertahan untukku. Kita bisa mengatasinya. Bukankah kita sudah banyak diuji? Masa kau lemah karena cobaan begitu? Tenanglah... kali ini biarkan aku yang berkorban untukmu. Karena kau sudah terlalu banyak berkorban untukku."
Ichigo mengelus puncak kepala Rukia dan mengecupnya pelan. Dia tidak akan membiarkan hal apapun menghalangi kebahagiaannya. Termasuk ibunya.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo terus berpikir. Ibunya sudah menemukannya di Karakura. Dia tidak bisa membiarkan hal ini kembali terjadi. Disaat Ibunya kembali menemui Rukia dan bicara macam-macam.
Hari sudah hampir malam. Karakura ke Tokyo butuh waktu 4 jam. Kalau dia bisa cepat, hanya perlu 3 jam saja.
Ichigo melihat sekeliling koridor rumah sakit itu. Tidak ada orang dan sepi. Rukia juga masih tertidur karena pengaruh obatnya tadi.
Ichigo menulis memo kecil yang ditujukan pada Ulquiorra dan meninggalkannya diatas meja. Lalu membalut tubuh Rukia dengan selimut dan membopongnya pergi dari ruangan itu.
Ichigo sudah memasukkan Rukia kedalam mobilnya dan memastikan Rukia baik-baik saja di mobilnya. Ichigo menutup tubuh Rukia dengan selimut tebal agar tidak kedinginan sepanjang perjalanan nanti.
"Renji... aku butuh bantuanmu. 3 jam lagi aku akan tiba di apartemenmu." Ujar Ichigo ditelpon itu sebelum benar-benar pergi meninggalkan Karakura.
.
.
*KIN*
.
.
Ulquiorra terperanjat begitu mendengar salah satu perawat yang akan memeriksa Rukia mengatakan wanita itu hilang. Ulquiorra mengacak tempat itu tapi tidak tertinggal apapun.
Kecuali… sebuah memo.
Maaf aku membawa Rukia ke Tokyo. Kuharap kau tidak memberitahu siapapun soal ini. Kau bisa menemuinya di Tokyo kalau kau mau. Hubungi aku saja. Kurosaki Ichigo.
Astaga! Apa yang dipikirkan oleh pria itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
*KIN*
.
.
Continue...
.
.
hahahaha telat lagi dehhh... harusnya lebih cepet yaa...
maaf lagi-lagi adegan yang pasaran... hehehe saya bener-bener kesulitan bikin adegan yang gak pasaran. karena memang seperti itu harusnya adegannya. jadi ngerasa bego banget gak bisa bikin cerita yang menarik... T_T
maaf yaa senpai... semoga gak bosen sama adegan pasaran saya. soalnya saya suka liat adegan drama korea yang bagus-bagus. jadi tanpa sadar mengadaptadi adegan itu dalam cerita saya... hiks... emang dasar dehhh...
dan akhirnya... sbentar lagi tamat juga deh nih cerita... hohohoh... cerita gaje saya... saya seneng banget ada yang masih mau dan rela hati ngereview fic gaje ini. awalnya saja aja gak nyangka kalau bakal di review. saya kira palingan cuma jadi pajangan doang di rate M... hiks...
ok deh... balas review...
corvusraven : makasih udah review senpai... iya Rukia baik-baik aja yaa... hehehe
siapa ja boleh : makasih udah review... ahhahhaha gak papa dipanggil senpai. saya kan emang masih pemula disini jadi butuh banyak ilmu dari reviewer. makanya saya panggil senpai... hehehehee... bener tuh Rukia emang sakit kanker. hehehehe
Kurosaki Sora : makasih udah review... bener tuh Senna bikin masalah lagi. saya aja kesel kenapa dia mulu yang jadi masalah utamanya ya?
Purple and Blue : makasih udah review... gak papa senpai yang penting kan di review... hehehehe... iya yah pada nanya semua nih. tolong sabar aja yaa saya lagi benerbener berusaha membuatnya... heheehehhe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai. yayaya... Senna mestinya tobat dulu yaa... soalnya semua masalah gegara dia mulu. gak capek apa tuh? heheheheheheh
Voidy : makasih duah review senpai. kayaknya senpai deh yang kecapean nyari salahnya fic saya... hehehehe challenge entry apaan senpai? maklumlah saya ini orang awam yang sama sekali gak tahu menahu soal istilah fanfic... hehehehehe
Sena youichi : makasih duah review... hehehe makasih udah ditunggu jadi tersandung batu nih... ehehehehe
Bad Girl : makasih duah review senpai... hehehe iya nih... kayaknya saya lelet banget sama lemonnya. tapi ditunggu aja yaa... heheheheeh iya nih bakalan IchiRuki kok. kalo bukan IchiRuki kan main charanya bukan mereka... hehehehe
BlackPink 4ever : makasih udah review senpai... kan Ulqui dokter... gimana dia bisa mati? hehehehe aku? pen name aku imut loh senpai... aku kan cewekkk... T-T... memang kenapa senpai penasaran? hehehe *penasaranbalik*
Nana the GreenSparkle : makasih udah review. hehehe iya toh udah dibahas diatas kenapa mereka nikah... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review... iya tenang aja. Rukia bakal baik-baik... *kayaknya*
Ke Coa : makasih udah review... mudah-mudahan gak ngecewain deh... hehehehe
Rukia Keplek Keplek : ini maksudnya review apa atau apaan senpai? =_= makasih tapi deh... hehehee
Ichigo Keplek Keplek : senpai? boleh tanya? nih beneran review ya?
PM : makasih udah review... hehehe iya udah dijelasin di atas hehehe
Hujan : makasih udah review senpai...
naah bereskan? saya sedang berusaha update kilat. tapi maaf ya kalo saya gak bisa update kilat banget. soalnya mid kuliah udah didepan gigi... hehehe
Review berharga senpai sangat ditunggu untuk tahu apakah fic ini layak lanjut atau gak... hehehe
Jaa Nee!
