Let's Start The Game
Genre: Romance
Rated: T+
Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, EYD berantakan, DLDR!
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Let's Start The Game©Yara Aresha
Chapter Ten
Sakura... Jika Tuhan bertanya padaku, apakah aku ingin diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, bebas melakukan apapun yang ingin kulakukan, dan mengubah apa yang ingin kuubah. Maka jawabanku adalah, aku tidak ingin. Aku tidak ingin mengubah apapun yang telah terjadi dalam hidupku. Termasuk perilaku playerku, perilaku burukku terhadapmu, permainan kita, hubungan bohongan yang akhirnya menjadi hubungan yang sulit kuputuskan, kekalahanku, dan kebersamaan kita saat ini. Aku tak ingin merubah semuanya. Karena aku berpikir inilah serentetan cara Tuhan untuk mempertemukanku denganmu. Kau mampu mengubah semua pandanganku tentang cinta. Jatuh cinta kepadamu sungguh menyenangkan. Seperti menemukan keping puzzle yang hilang. Cinta ini tak akan pernah ada di tempat yang semestinya jika tanpa dirimu. Kau berhasil membuatku mengingkari keegoisan hatiku. Dan aku ingin di kehidupan selanjutnya kau bisa kumiliki lagi.
#
Sasuke merogoh saku celananya dan meraih ponselnya, menekan beberapa digit angka yang sudah dihapalnya di luar kepala dengan cepat. Perasaannya benar-benar kalut, di otaknya hanya ada Sakura, Sakura, dan Sakura. Ya, Sakura pasti sedang kesakitan sekarang gara-gara insiden baku hantam dengan Shion tadi siang yang menyebabkan kakinya cidera, sehingga Sakura harus meninggalkan sekolah lebih cepat dan tidak bisa bertemu dengan Sasuke. Sasuke merasa bahwa dirinya tidak berguna, seharusnya dia berada di samping Sakura yang sedang terluka saat ini.
"Halo?"
"Moshi-moshi, di sini Sakura. Maaf aku tidak bisa menjawab telponmu saat ini, tinggalkan pesanmu, atau hubungi lagi nanti, jaa,"
Sasuke mendesah frustasi ketika hanya ada rekaman suara Sakura yang terdengar dari sambungan teleponnya. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, akhirnya Sasuke pun segera masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin mobil, dan melaju meninggalkan parkiran Konoha High dengan kecepatan tinggi untuk menemui Sakura. Setidaknya Sasuke tahu bahwa Sakura sudah berada di rumah dari informasi yang Gaara berikan padanya beberapa menit yang lalu.
Ketika Sasuke sampai di kediaman Sabaku, Sakura rupanya sedang tertidur pulas, di atas sofa panjang dengan sebelah pundak Gaara sebagai bantalannya. Wajah Gaara terlihat begitu kesakitan, sekujur tubuhnya mulai merasakan kesemutan akibat berada di posisi yang tak dapat bergerak dalam waktu yang lama. Memang, rasa kesemutan dan pegal-pegal―bahkan hampir mati rasa―membuat Gaara tak nyaman, tapi Gaara enggan bergerak karena takut membangunkan Sakura yang tampak kelelahan itu. Alhasil Gaara berniat sekuat tenaga bertahan dalam posisi mematikan itu sampai Sasuke datang. Dan, Dewa keberuntungan tampaknya sedang berpihak kepada lelaki berambut merah itu. Karena tak lama kemudian sebelum tubuhnya benar-benar mati rasa, indera pendengarannya menangkap suara ketukan pintu yang terbuka lebar beberapa langkah dari posisinya. Sesosok lelaki jangkung yang sedari tadi ditunggu-tunggu olehnya akhirnya datang juga.
Gaara mendesah lega, lalu mengisyaratkan kepada Sasuke untuk segera mendekat, "untunglah kau cepat datang, bisa bantu aku? Gantikan aku untuk jadi bantalannya. Rasanya aku hampir kena encok, " katanya seraya menoleh ke arah Sakura yang masih tertidur pulas.
"Hn, tentu."
Sasuke pun segera mengambil alih posisi Gaara. Maka, kini Gaara bisa berdiri dan bergerak bebas. Gaara meregangkan otot-ototnya yang kaku. Sementara Sasuke segera meraih tubuh Sakura dan menyandarkan kepala gadis pinky itu di depan dada bidangnya, dan mendekap tubuh Sakura dengan lembut di dalam pelukannya.
"Terima kasih," balas Gaara. Enggan mengganggu kedua sejoli itu, Gaara bergegas beranjak dari ruang tamu―posisinya saat ini bersama Sasuke dan Sakura―menuju halaman depan rumahnya. Entahlah, apa yang ingin dilakukan Gaara. Hanya saja Sasuke dapat menangkap raut wajah Gaara terlihat begitu bahagia. Mungkin bahagia terlepas dari serangan encok?
Sasuke tersenyum kecil, "kasihan juga Gaara," katanya.
Dikecupnya kening Sakura yang kini terbebat oleh kain perban. Selembut mungkin agar Sakura tidak terbangun dan kesakitan. Merasa bosan hanya berdiam diri, kini Sasuke mengambil remote televisi yang semula ada di belakangnya. Sebelah tangannya mulai menekan-nekan tombol remote, mencari acara televisi yang menarik. Saluran televisi pun berhenti di salah satu acara komedi yang tengah naik daun, layar televisi menayangkan adegan para komedian yang mengocok perut, sehingga membuat Sasuke tertawa cukup keras. Namun, rupanya suara Sasuke itu membuat Sakura sedikit tidak nyaman, karena Sakura menggumam dan bergerak-gerak gelisah, walaupun hanya sebentar.
"Gawat, Sakura bisa bangun jika akumenonton ini," ujar Sasuke seraya mulai menekan-nekan tombol remote kembali untuk mengganti saluran televisi.
Layar televisi pun kini menampilkan wajah aktor tampan Hollywood yang sudah tak diragukan lagi kemampuan beraktingnya, idola Sasuke semenjak dirinya duduk di bangku junior high, Leonardo DiCaprio.
"Eh? Aku tidak tahu jika film Titanic akan tayang lagi hari ini, aku rindu sekali film ini," gumam Sasuke dengan penuh binar-binar di matanya. Padahal Sasuke sudah puluhan kali menonton film Titanic, tapi tetap saja dia tak pernah bosan menonton film romantis yang berjaya di abadnya―bahkan sampai sekarang―itu. Katakan saja Sasuke player, playboy, lelaki tengil, atau apapun julukan-julukan untuk cassanova sepertinya, namun bukan berarti seorang player sepertinya tak memiliki sisi sensitive dan sisi feminim. Faktanya, Sasuke selalu terenyuh jika menonton film Titanic, dan imejnya sebagai seorang player-pun runtuh seketika.
Sasuke begitu menikmati kegiatan menonton filmnya, bahkan fokusnya tak teralihkan sedikitpun dari layar televisi berukuran 21 inci itu, meski sesekali tangannya memainkan helaian rambut panjang Sakura. Sekarang Sasuke sudah menontonnya sampai bagian di mana kapal besar, megah dan elit itu tenggelam. Sehingga mengharuskan Jack, Rose―pemeran utama―dan penumpang lainnya menceburkan diri ke dalam laut yang sangat dingin. Suasana pun semakin menegang, Sasuke menonton film itu dengan penghayatan penuh ketika layar televisi memutar adegan Jack dan Rose yang terus berenang dan terapung-apung di lautan luas, keduanya sudah menggigil hebat. Kecemasan mulai dirasakan Jack dan Rose ketika sudah banyak penumpang yang meninggal dunia akibat hiportemia. Hanya ada satu papan yang cukup untuk satu orang saat itu mengapung tak jauh dari Jack dan Rose. Tanpa pikir panjang, Jack menaikan Rose ke atas papan tersebut, menyelamatkan jiwa kekasihnya itu dari suhu dingin yang bisa membuat mereka mati kapan saja. Sementara Jack hanya bepegangan pada sisi papan dan terus memegang tangan Rose untuk menenangkan dan menguatkannya.
"Aku pun akan melakukan hal yang sama seperti Jack jika hal ini terjadi padaku dan Sakura," gumam Sasuke.
Adegan pun berganti lagi. Kini adegan menunjukan wajah Rose yang tengah menangis karena Jack ternyata menginggalkannya, Jack tak cukup kuat untuk bertahan rupanya. Dengan berat hati, Rose melepaskan genggaman tangan Jack dan menceburkan jasad Jack yang sudah tak bernyawa ke dalam lautan. Sedikit lagi film sampai pada akhir cerita, di saat itulah Sakura terbangun dari tidurnya. Hal ini mau tak mau membuat fokus Sasuke teralihkan, Sasuke melirik Sakura yang mulai menggeliat, menegakkan tubuhnya dan mereggangkan tangannya. Tampaknya Sakura masih belum sadar bahwa Sasuke berada di sampingnya sekarang.
"Hai, Gaara, apa aku sudah lama tertidur?" ujar Sakura seraya menoleh ke arah sebelah kanannya. Matanya mengerjap beberapa kali, dan kemudian Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Ya Tuhan, Sasuke? Maaf. Kukira kau adalah Gaara, karena tadi aku tertidur di sampingnya, tapi..."
Sasuke cepat-cepat memotong kalimat Sakura, "tidak apa-apa. Kau kelelahan. Aku tidak masalah kau salah mengenaliku sebagai sepupumu yang overprotective itu. Terkadang dia punya sisi baik juga, jadi tak apa-apa," katanya seraya terkekeh geli.
Sebenarnya Sasuke sedikit kecewa. Seharusnya Sakura bisa mengenali Sasuke dari aroma tubuhnya, bentuk tubuhnya, atau bahkan Sakura bisa merasakan kehadiran Sasuke meski dari jarak beberapa senti. Tapi, tak apa. Mungkin memang Sakura kelelahan, sehingga Sakura tidak bisa merasakan kehadirannya itu.
"Tck, kau ini, kenapa..."
Belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya, Sasuke menariknya dengan lembut dan mendekapnya, kembali membawa Sakura ke dalam pelukannya. "Aku merindukanmu, apa lukamu masih terasa sakit?" bisik Sasuke, "aku sangat mengkhawatirkanmu."
"T-Tidak apa, kok," Sakura tiba-tiba saja menjadi gelagapan. Rasanya rindu sekali dipeluk oleh Sasuke seperti itu.
Tubuh Sasuke yang menyelimuti tubuh Sakura membuat gadis musim semi itu tidak bisa berkutik dalam kehangatan pelukannya. Sasuke memeluk Sakura begitu eratnya, seakan tak ingin melepasnya. Bahkan, Sakura kini bisa mendengar sendiri detak jantungnya yang berdegup kencang.
Sakura menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya. Kepalanya mendongak, menatap Sasuke dengan hangat.
"Ini sih tidak ada apa-apanya, luka seperti ini bukan masalah untukku. Kau tahu? Aku ini gadis kuat, Sasuke..." katanya disertai dengan senyuman yang melengkung di bibir tipisnya.
Sasuke menggerutkan keningnya, "oh ya? Gadis kuat? Kau bahkan sempat pingsan, apa itu yang disebut kuat? Tapi, kau tenang saja. Kupastikan Shion tak akan pernah mengganggumu lagi. Aku janji, aku akan melindungimu selalu dengan sekuat tenagaku dan segenap jiwaku," tutur Sasuke sungguh-sungguh. "Aku tak akan membiarkanmu terluka lagi."
Sakura tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap lurus manik obsidian milik Sasuke. Entah kenapa Sakura merasa dirinya seperti seorang aktris utama dalam film roman percintaan yang sering dilihatnya di televisi.
Seketika suasana menjadi hening. Sasuke dan Sakura hanya saling menatap tanpa berucap, keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Lalu Sasuke mengangkat tangannya, membelai rambut panjang Sakura. Tanpa mereka sadari, wajah mereka semakin dekat. Begitu juga dengan jarak antara bibir mereka. Begitu dekat... semakin dekat... dan semakin mendekat.
Hingga selanjutnya, Sakura mengejutkan Sasuke dengan tindakannya. Sakura melingkarkan tangannya ke leher Sasuke. Rasa hangat yang seketika menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun kepala Sasuke membuatnya bergidik. Namun, terasa nyaman dan menenangkan, hingga tak sadar Sasuke menutup matanya menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan Sakura di sana.
"S-Sakura..." Sasuke mendesah kecil saat Sakura mengecup pipinya dan memberi gigitan kecil di ujung cupingnya.
Kenapa Sakura jadi agresive seperti ini?
Napas Sasuke mulai memburu dan terengah-engah merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya itu. Sasuke pun menarik pinggang Sakura untuk semakin merapat padanya, "Sakura, boleh aku menciummu? Sudah lama rasanya kita tidak berciuman," tanya Sasuke saat Sakura sudah menarik wajahnya dari leher Sasuke. Tak tahan dengan sensasi yang diberikan Sakura padanya.
Sakura mengerjap dengan kedua tangannya yang masih melingkar manis di leher kekasihnya. Dibenaknya penuh dengan pertanyaan, kenapa Sasuke harus meminta izin terlebih dahulu untuk menciumnya? Tentu saja jawabannya adalah boleh, bukan? Sakura juga rasanya rindu tidak berdekatan secara intim bersama Sasuke seperti ini. Maka, tanpa basa-basi lagi, Sakura memejamkan matanya dan menarik Sasuke lebih dekat sehingga bibirnya dan bibir Sasuke yang sudah beberapa hari tak bertemu kembali bertemu.
Sasuke tampaknya teralu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Karena dia tak langsung membalas pagutan yang dilakukan Sakura padanya. Barulah beberapa detik kemudian Sasuke ikut memejamkan matanya dan mulai membalas pagutan itu dengan tak sabar. Ya, ciuman yang diberikan terkesan begitu ganas namun lembut. Pagutan demi pagutan pun saling berbalaskan.
"Ugh," Sakura merintih saat Sasuke menggigit lembut bibir bagian bawahnya.
Merasa pasokan udara yang mereka hela semakin menipis, sejenak mereka menjauhkan bibir mereka. Menghirup banyak-banyak oksigen untuk memenuhi paru-paru kembali. Sasuke membuka mulutnya hendak mengeluarkan suara, namun ternyata tindakannya kalah cepat dari Sakura. Kata-kata yang baru saja ingin dikeluarkannya diambil oleh Sakura.
"I love you, Sasuke."
Sontak saja, Sasuke merasakan debaran jantungnya semakin berpacu. Ini juga kali pertamanya Sakura mengatakan hal tersebut terlebih dahulu. Karena sebelumnya, Sakura tak akan mengatakan hal itu jika Sasuke tidak mengatakannya duluan. Tak terkira sebesar apa rasa bahagianya saat ini. Sasuke semakin yakin bahwa Sakura benar-benar mencintainya dan bisa menerimanya kini.
.
.
Entah sudah berapa lama mereka berciuman di ruangan itu. Keduanya seakan lupa di mana bumi berpijak, mereka terlalu menikmati kegiatan itu. Sampai sebuah dehaman keras memaksa mereka untuk saling melepaskan diri.
"Ehem!" suara berat itu ternyata berasal dari arah pintu, Gaara berdiri di sana dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Matanya memicing, dahinya berkerut, tampak jengah dengan tontonan di depannya.
"G-Gaara?" Sakura terbata-bata, tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Dia tampak kikuk dan kacau saat ini dengan rambutnya yang sedikit berantakan. Sementara Sasuke tampak santai di sampingnya.
"Sasuke, kau tahu jam berapa ini?" tanya Gaara seraya menatap Sasuke dengan tajam.
Sasuke melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya, "ah, baru jam tujuh malam. Hei, kau dari mana saja, Gaara?"
Gaara memutar bola matanya dan tersenyum kecut, "jangan mengalihkan pembicaraan, Sasuke. Pulanglah, Sakura harus beristirahat. Lagipula sebentar lagi orang tuaku akan pulang, mereka pasti tak akan mengizinkan Sakura berduaan dengan seorang lelaki sampai larut malam," ujarnya.
Sasuke mendesah lemas. "Tapi ini masih sore, Gaara. Tidak bisakah sebentar lagi?" sahutnya seraya melipat kedua tangannya di belakang kepalanya.
Gaara menatapnya tajam. "Waktu berkunjungmu sudah habis, Uchiha-san."
Sasuke meneguk salivanya yang kering. "Baiklah, baiklah. Dasar sister's complex," gerutu Sasuke, "semoga lukamu segera sembuh," sambungnya seraya memberikan kecupan ringan di pucuk kepala Sakura.
"Okay, okay. Time is up! Hati-hati di jalan, player," balas Gaara yang kini menarik lengan Sasuke agar menjauh dari Sakura dan mendorong tubuhnya pelan ke arah pintu keluar.
Sasuke menatap Gaara dengan sengit. "Aku bukan player sekarang, aku sudah tobat," katanya.
Gaara terkekeh geli. "Ya, ya, ya. Kucoba untuk percaya padamu."
"Gaara, kau terlalu berlebihan," Sakura memberenggut di atas sofa. Dia mulai beranjak dari sofa, hendak mengantar Sasuke sampai depan rumah, namun Sasuke melarangnya.
"Tak usah mengantarku, kau masuklah ke kamarmu sekarang. Kau harus banyak istirahat agar cepat sembuh," ujar Sasuke.
"Ehem," lagi-lagi Gaara berdeham. Mengisyaratkan bahwa Sasuke sudah benar-benar harus pergi dari rumahnya sekarang juga.
"I'll miss you, princess. Sampai besok."
Sasuke pun pergi dari kediaman Sabaku bersama dengan mobil kesayangannya. Sementara Sakura masih enggan beranjak dari sofa. Jemarinya meraih remote tv dan mencari saluran televisi yang disukainya.
"Kau harus tidur, Sakura!" perintah Gaara setelah dia menutup gorden dan pintu rumah.
Sakura menggeleng, "nanti saja. Aku sudah tidur tadi siang," katanya.
"Tidur sekarang, Sakura!"
"Tidak, Gaara. Nanti saja, aku mau melihat acara ini dulu."
"Dasar keras kepala!" ujar Gaara seraya menghampiri Sakura.
Di luar dugaan Sakura, Gaara mengangkat tubuhnya dari atas sofa.
"Gaara! Turunkan! Turunkan aku!" rengek Sakura.
Gaara tak mengindahkan rengekan dan teriakan Sakura. Dia terus menggendong tubuh Sakura menuju kamar gadis itu.
"Nah! Aku sudah menurunkanmu. Sesuai permintaanmu. Sekarang kau harus tidur! Awas kalau kau ketahuan masih membuka matamu," nada suara Gaara terkesan mengancam dan tak terbantahkan.
Sakura mendesah lesu. "Tapi, Gaara?"
"Sudah. Jangan banyak protes. Kau tidurlah! Besok kita sekolah pagi 'kan? Kaubilang kau ingin masuk sekolah besok. Maka, kau harus segera tidur. Aku mau menunggu ayah dan ibu pulang," balas Gaara.
Mau tak mau, Sakura menuruti perintah Gaara. Dia mengangguk dan tidak memberikan protesan lagi. Gaara tersenyum lega. Diraihnya selimut lembut bermotif kelinci yang ada di dekat Sakura, lalu secara perlahan dia menyelimuti tubuh Sakura.
"Selamat malam," bisik Gaara seraya memberi kecupan singkat di atas kening Sakura yang berbalut perban itu.
"Selamat malam, Gaara," gumam Sakura.
Gaara mengangguk singkat, sebelah tangannya menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Sakura tahu benar gelagat yang diberikan Gaara. Pasti ada hal yang ingin disampaikannya, namun Gaara bingung atau takut untuk mengeluarkan pikirannya. Gaara selalu seperti itu sejak dulu jika merasa tak yakin dengan apa yang akan diutarakannya.
"Ada apa? Katakan saja, Gaara," ucap Sakura.
Gaara menghela napas dan duduk di pinggir tubuh Sakura. "Jangan marah saat aku mengatakan hal ini," katanya.
Sakura mengangguk dan tersenyum.
"Begini," Gaara memberi jeda sejenak, "apakah kau akan melupakanku? Maksudku, sekarang hubunganmu dan Sasuke semakin dekat. Apa aku tak punya waktu untuk bersama denganmu lagi?" katanya.
Sakura terkikik geli. "Gaara, kau aneh. Berhentilah berpikiran hal yang tidak-tidak. Kau tahu? Aku sama sekali tak akan pernah melupakanmu. Dan, ya... tentu saja aku selalu punya waktu untukmu. Bahkan jika aku punya janji dengan Sasuke, jika kau membutuhkanku, aku akan lebih memilihmu. Kau keluarga terdekatku, pengganti ayahku. Rasanya seperti hidupku tak akan pernah baik tanpamu, jadi kau tak usah khawatir berlebihan. Sasuke orang baik, kau percaya 'kan?" balas Sakura menenangkan.
"Aku selalu mencintaimu, Gaara," sambung Sakura.
Gaara terkekeh sambil membelai rambut Sakura. "Ya, aku juga mencintaimu, Imouto-chan, sekarang tidurlah."
Sakura tersenyum lebar mendengar perkataan Gaara. Senang rasanya. Beberapa detik kemudian Sakura sudah tertidur sambil memeluk boneka teddy bear berwarna cokelat yang diketahui Gaara pemberian dari Sasuke. Sementara itu, Gaara terus memandangi wajah tidur Sakura.
"Kalau kau sedang tidur, wajahmu lucu sekali, so innocent," kikik Gaara sambil tersenyum.
Gaara yakin, dalam tidurnya Sakura pasti sudah bermimpi indah. Mimpi indah bersama pangeran pujaan hatinya. Sasuke Uchiha. Gaara mendesah. Sebenarnya masih sulit menerima kenyataan bahwa Sasuke-lah yang dipilih oleh Sakura. Tapi, jika Sakura bahagia, maka Gaara pun akan jauh lebih bahagia. Sesederhana itulah Gaara menyayangi Sakura.
#
Sasuke menghela napas panjang sambil berbaring di atas tempat tidur nyamannya. Tiba-tiba saja hatinya terasa begitu sesak. Ingin segera bertemu dengan Sakura lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu dirinya bertemu dengan pujaan hatinya itu, belum apa-apa ia sudah dihantui perasaan rindu. Benar-benar khawatir dengan keadaan Sakura. Lukanya terlihat serius. Sasuke tak habis pikir gadis bar-bar seperti Shion bisa menyerang Sakura. Bodohnya, Sasuke tak bisa mencegah hal buruk itu terjadi.
"God. Shion benar-benar keterlaluan," rutuknya.
Sasuke tak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Sakura. Sebisa mungkin dia akan selalu melindunginya. Bahkan jika dia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri, Sasuke rela jika itu untuk kebahagiaan Sakura. Sasuke tak menyangka bahwa hubungan yang awalnya hanya karena sebuah permainan dan seringkali diwarnai perdebatan, kini berubah menjadi perasaan yang menggebu dan tak kenal cara untuk memberhentikan aliran rasa itu. Feeling-nya sejak pertama kali bertemu Sakura tak pernah salah. Sakura sangat berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dekat dengannya. Meskipun Sakura terkesan ketus dan sedikit jual mahal, namun sebenarnya Sakura gadis yang manis dan berhati bak malaikat. Sakura gadis yang unik di matanya. Sasuke yakin, hingga kapanpun, Sakura akan selalu menjadi pusat perhatiannya. Dan tanpa sadar tangannya terangkat menekan dadanya. Terasa hangat dan tentram. Dengan memikirkan Sakura saja bisa membuatnya seperti ini.
Sasuke masih asyik melamunkan gadis musim seminya yang tercinta, sampai tiba-tiba Itachi masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa yang ada di sisi kamar. Sasuke awalnya tak menanggapi kehadiran sang kakak dan cuek saja. Masa bodoh apa yang akan dilakukan Itachi. Bathinnya. Namun, ternyata kehadiran Itachi malam itu di kamarnya benar-benar membuatnya jengkel saat Itachi melemparkan sebuah pertanyaan.
"Hei, Otouto. Berapa jumlah sembilan dikali tujuh?" tanya Itachi yang kini sudah berbaring di atas sofa panjang itu.
Sasuke mengerutkan keningnya, menatap bosan Itachi. "Itung saja sendiri," tak penting. Sungguh, kakaknya itu menanyakan hal yang sangat tak penting. Maksudnya, untuk apa menanyakan pertanyaan yang anak SD saja tahu. Lagipula tiba-tiba menanyakan soal perkalian matematika yang seperti itu... Apa sih maksudnya Itachi? Sasuke benar-benar tak mengerti kakaknya yang selalu tiba-tiba dengan segala kekonyolan yang dimilikinya.
"Jawab saja, Sasu-chan," kali ini Itachi mulai menggodanya. Tubuhnya beringsut dari atas sofa dan pindah ke atas tempat tidur Sasuke.
Sasuke menatapnya jengah. "Aniki, cukup! Aku sedang tidak mau meladenimu," katanya.
Itachi menarik napas panjang untuk menahan kesabarannya menghadapi Sasuke. "Baiklah, baiklah, baiklah. Kita lupakan saja pertanyaan yang tadi. Sekarang masuk pertanyaan kedua. Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" ujarnya.
Sasuke mendelik dan menendang bokong Itachi hingga terjatuh ke lantai. "Kalau kau Sakura, maka dengan senang hati kuizinkan kau tidur bersamaku," ucapnya sarkatis.
Itachi mengaduh kesakitan dan menyentuh bokongnya yang terasa panas. Tidak sopan sekali Sasuke. Kenapa mood-nya hari ini jelek sekali? Itachi membathin.
"Ah, kau tidak asyik," balasnya seraya berdiri dan keluar dari kamar Sasuke.
Sasuke menggerutu di atas tempat tidurnya. "Aniki no baka."
Meski begitu. Diam-diam di dalam hati Sasuke berterima kasih kepada Itachi. Sasuke tahu, maksud Itachi itu baik. Mungkin Itachi merasakan Sasuke sedang tidak bersemangat, makanya Itachi menggodanya seperti itu agar Sasuke merasa lebih baik lagi. Sejak dulu, jika suasana hati Sasuke sedang buruk, Itachi selalu saja menghampirinya dengan kekonyolan-konyolan. Sasuke sih berlagak tak peduli dan masa bodoh, tapi jauh di dasar hatinya, dia senang sang kakak memperlakukannya seperti itu. Sungguh. Sasuke sebenarnya ingin bisa bermanja-manjaan kepada Itachi, tapi... tidak mungkin 'kan? Gengsi. Bisa-bisa dia dikatai habis-habisan oleh Itachi.
"Hah, kuharap Sakura baik-baik saja sekarang," ucap Sasuke.
Sasuke melirik jam dinding. Pukul 22.05. Masih terlalu cepat untuk tidur baginya. Sasuke tak pernah bisa tidur cepat. Namun, pikirannya sedang random sekarang. Maka, dia memutuskan untuk terlelap.
Tak lupa Sasuke mematikan pencahayaan di kamarnya. Sasuke tak pernah suka dengan cahaya sedikitpun saat dirinya tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Dengan keras Sasuke menghembuskan napasnya, berharap perasaan gelisah dan khawatir yang kembali menggelayuti hatinya akan berkurang.
Baru saja matanya hendak terpejam, ponsel di atas meja berdering nyaring. Sasuke melengos, medesah kasar, merasa terganggu. Pada akhirnya Sasuke lebih memilih tidak mengangkatnya. Paling juga orang iseng atau mantan-mantan kekasihnya yang masih keganjenan. Ponsel miliknya pun diam sekian lama. Beberapa menit kemudian, ponsel itu kembali berdering. Menjerit-jerit minta diangkat oleh sang empunya. Membuat Sasuke sedikit naik darah. Dia seharusnya mematikan ponselnya tadi, tapi terlalu malas untuk meraih ponselnya itu. Sasuke benar-benar ingin tidur dan cepat bertemu dengan hari esok. Ya, alasannya sudah pasti agar dia cepat bertemu juga dengan Sakura.
Ponsel pun masih saja berdering. Kini, Sasuke membenamkan kepalanya di atas bantal untuk meredam suara mengganggu yang berasal dari ponselnya. Namun sebersit suara menyeruak dari dalam hatinya.
Mungkin itu... Sakura?
Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke segara bangun dari tidurnya dan menyambar dengan cepat ponsel miliknya. Benar saja, nama Sakura tertera di layar ponselnya.
Sial. Kenapa tidak diangkat dari tadi saja? Bathinnya.
"Halo."
"Sasuke," suara di seberang begitu lembut masuk ke indera pendengarannya.
"Sakura... ada apa?" tanya Sasuke cemas.
"A-Aku, mimpi buruk. Hah, rasanya aku jadi takut pergi ke sekolah lagi," jawab Sakura. Suaranya sedikit serak, mungkin dia habis menangis. Atau terlalu takut dengan mimpinya itu.
"Shh, itu hanya mimpi. Lebih baik kaulupakan saja mimpimu itu. Sakura, ingatlah aku akan selalu ada di sampingmu. Tidak akan pernah ada yang bisa menyakitimu," ucap Sasuke.
Sakura terdiam cukup lama di seberang sana. Sampai akhirnya Sasuke kembali bicara, "aku mencintaimu. Tidurlah, tak ada yang perlu kaukhawatirkan di sekolah, atau di manapun kau berada. Kaubilang, kau gadis yang kuat, bukan?"
Sakura terkekeh. "Ya, tentu saja aku gadis yang kuat. Terima kasih, Sasuke. Aku sudah lebih tenang sekarang. Aku juga sangat mencintaimu," jeda sejenak, "kupikir hubungan kita tak akan berjalan mulus, Sasuke," katanya.
Sasuke mendengus. "Jika yang kaupikirkan adalah Shion, kau tenang saja. Kujamin dia tak akan melakukan hal-hal buruk lagi setelah ini," ujar Sasuke menenangkan.
"Hmmm, kuharap begitu," meski begitu Sakura masih merasa ragu jika esok hari Shion tak akan mengganggunya lagi. Bukannya takut, tapi dia haruslah tetap berwaspada. Gadis itu bukan gadis sembarangan. Sakura hampir saja kena gegar otak jika tak cepat-cepat ditangani oleh dokter. Memikirkannya saja membuatnya bergidik. Semoga saja perkataan Sasuke benar, Shion tak akan melakukan hal buruk lagi. Masalah kecil seperti Shion pasti bisa diatasinya dengan mudah.
"Berhenti berpikiran yang belum tentu terjadi, Sakura. Sekarang sebaiknya kita tidur. Aku sudah mulai ngantuk," kata Sasuke. Kuapan kecil meluncur dari mulutnya.
"Baiklah, selamat tidur, Sasuke,"
"Hn, selamat tidur my princess," balas Sasuke.
Sementara di seberang sana, Sakura terkikik geli. Ah, rasanya menghubungi Sasuke benar-benar ide yang bagus. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan dan menjengkelkan, pikir Sakura sambil tubuhnya kembali berbaring di atas ranjang empuknya.
Tapi, sebenarnya tidak semua hal menjengkelkan, ada hal yang membuat hari paling buruk itu terasa sedikit menyenangkan. Tidak, sepertinya Sakura harus meralat kata 'sedikit' itu. Sangat menyenangkan malah. Itu jika dia mengeliminasi kejadian saat Shion dan dirinya terlibat perkelahian tentu saja. Sekarang izinkan Sakura amnesia tentang konflik itu dan biarkan otaknya hanya merekam hal-hal menyenangkan saja.
Sakura tersenyum sendiri di balik selimut Hello Kitty-nya, bergerak-gerak untuk mencari posisi yang enak. Perlakuan Sasuke padanya hari ini membuatnya tak bisa berhenti tersenyum. Senang sekali rasanya Sasuke memperlakukannya dengan begitu istimewa dan lembut. Rasa kekhawatiran Sasuke menunjukan bahwa dirinya serius dan peduli kepada Sakura. Ditambah lagi hubungan Sasuke dan Gaara tampaknya sudah mulai membaik, bahkan Gaara pun sudah menyetujui hubungan mereka.
Sakura mendesah lega. Hatinya menghangat. Akhirnya dua pria yang paling disayanginya bisa akur juga. Tak ada hal paling menyenangkan selain melihat mereka berdua bisa saling menerima.
Kini Sakura mengalihkan atensinya, diliriknya sebuah jam yang menempel manis di dinding kamarnya. Tak terasa sudah begitu larut. Tubuhnya pun terasa berat, bahkan kelopak matanya juga sudah tak bisa dibukanya dengan sempurna. Sakura harus segera tidur. Dan hal terakhir yang terlintas dalam benakknya sebelum terlelap adalah semoga hubunganku dengan Sasuke bisa berjalan lancar, dan Shion tidak mengganggu kami lagi.
#
Melalui kaca mobilnya, Shion memandangi Sasuke dan seorang gadis yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah milik Sasuke Jum'at pagi hari itu. Hatinya terasa ngilu. Sasuke, lelaki cinta pertamanya itu, tampaknya sekarang sudah berbahagia dengan kekasih barunya. Dan Sasuke terlihat begitu sangat mencintai gadis itu. Sasuke-nya sudah berubah 180 derajat. Shion tahu betul siapa gadis beruntung yang mendapatkan cinta Cassanova itu. Dia adalah murid baru di sekolahnya, pindahan dari sebuah desa yang berada di Hokkaido. Seorang gadis yang sejak awal sangat dibenci olehnya karena telah merebut seluruh perhatian Sasuke.
Haruno Sakura.
Entah kenapa nama itu membuatnya selalu naik darah dan sakit. Sejak kedatangan Sakura ke sekolahnya, hari-harinya seperti neraka. Seluruh perhatian beralih ke pada Sakura. Bahkan, belakangan ini Sakura sangat populer dibicarakan oleh para Siswa/i Konoha Gakuen, mulai dari kelas satu sampai kelas tiga. Dan, semenjak insiden dirinya menyerang Sakura, orang-orang seakan menjauhinya.
Suasana hati Shion tambah buruk saat Sasuke merangkul bahu Sakura dengan mesra disertai godaan-godaan yang berasal dari teman-teman mereka saat berjalan di koridor sekolah. Kecewa, cemburu, marah, kesal dan entah perasaan apalagi yang berkecamuk di dalam hati Shion melihat Sasuke bersama Sakura. Rasanya Tuhan sedang mengutukknya, kenapa hari ini pemandangan yang disuguhkan selalu menguras hatinya?
"Shion, malam minggu nanti kau mau temani aku menonton? Kurasa, kaubutuh hiburan," ajak Menma yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping kiri Shion.
Shion melirik kembaran Naruto itu dan mendesah lemas. "Aku tidak akan pernah mau pergi menonton denganmu, Menma. Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya padamu, aku tidak mau kauganggu! Kenapa kau tidak mengajak gadis lain saja?" sahut Shion sedikit ketus.
Menma memang kerap kali menunjukkan rasa ketertarikannya kepada Shion. Berkali-kali Menma mengajak Shion berkencan. Namun, selalu penolakan yang didapatkannya. Dan Menma tahu betul bahwa Shion adalah gadis keras kepala yang sangat terobsesi pada Sasuke Uchiha. Menma juga tahu Shion gadis yang bar-bar dan sulit diatur, gadis itu bergerak sesuai apa yang dirasanya benar. Gadis manja yang selalu haus akan perhatian dari sekelilingnya. Wajar saja, kedua orangtuanya selalu sibuk di luar negeri, mungkin hal itu dilakukan untuk mendapat simpati dari orang lain. Namun, di balik semua sifat buruknya, Menma tahu Shion sangat kesepian, dan Menma yakin Shion memiliki sisi manis seperti kebanyakan seorang perempuan pada umumnya.
Ya, Menma sudah sejak lama jatuh hati pada Shion. Setiap gerak-gerik gadis itu tak pernah luput dari perhatiannya. Meskipun cintanya selalu ditolak, tapi Menma bukanlah lelaki yang mudah menyerah. Ia tak gentar walau Shion mengabaikannya berkali-kali.
"Aku hanya akan mengajakmu, karena aku hanya suka padamu," kata Menma.
Shion menatapnya sengit. Matanya kemudian berkeliling mencari subyek yang sekejap tadi menghilang dari pandangannya. Sasuke-nya sudah tak terlihat lagi di sepanjang koridor. Di sana hanya ada beberapa murid anak kelas satu yang bercengkrama bersama teman-temannya.
Shion kembali menatap Menma dengan malas. "Aku sudah ribuan kali melarangmu untuk jatuh cinta kepadaku. Kau hanya akan membuang-buang waktu jika seperti ini. Kenapa kau tidak mau mengerti, Menma! Aku juga sudah bilang padamu kalau aku mencintai lelaki lain," jawab Shion.
"Lelaki lain? Sasuke maksudmu?" Menma terkekeh seraya mengacak poni Shion yang selalu tertata rapi. Sontak saja membuat Shion semakin kesal oleh perlakuan Menma, "seharusnya kata-kata itu juga berlaku untukmu. Kau hanya akan mendapatkan rasa sakit dan kecewa jika mencintai Sasuke. Akuilah, kau sudah kalah dari Sakura. Sasuke hanya mencintai Sakura. Lihatlah aku, Shion. Hanya aku yang bisa mencintai gadis sulit sepertimu, tak peduli kau menjadikanku pelampiasanmu, belajarlah mencintaiku," ujar Menma.
Shion terdiam, lalu menggigit bibir bawahnya gelisah. Menma memang benar, rasanya percuma saja mencintai Sasuke. Toh, Sasuke tak akan pernah bisa menjadi miliknya. Shion tahu bahwa Sasuke begitu mencintai Sakura, dan Shion pun tahu jika semua yang ia lakukan tak akan mendapatkan hal positif di mata Sasuke. Sasuke tak akan pernah melihatnya, tak akan berpaling ke padanya. Mungkin, tak ada salahnya membuka hati untuk Menma dan melupakan perasaannya terhadap Sasuke. Tapi, bukankah kata menyerah tak pernah ada di dalam kamus seorang Shion? Maka, Shion menepis semua fakta-fakta itu. Sama seperti dulu, hingga sekarang ia sama sekali tidak berniat untuk mundur. Seperti kata orang-orang, segala cara apapun sah dalam perang... maupun cinta.
Terkadang Shion pun sadar bahwa dirinya telah berkali-kali menyakiti orang lain. Dia bahkan membenci dirinya yang begitu tegaan. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia tak ingin menyakiti orang lain. Apalagi menyakiti orang yang disayanginya. Tapi, egonya terlalu kuat. Rasa kekecewaannya terhadap orang-orang yang disayanginya begitu dominan. Shion muak berbuat baik, karena sejak dulu kebaikannya tak pernah dibalas dengan kebaikan. Ia selalu ditinggal saat dia benar-benar butuh. Seperti Sasuke, yang meninggalkannya di saat hidupnya membutuhkan sandaran. Dan sekarang, dengan enaknya Sasuke berbahagia bersama kekasih barunya? Itu tidak bisa dibiarkannya. Rasanya sangat tak adil. Mencampakannya dan berbahagia. Meskipun Shion tahu, bukan hanya dia yang mendapatkan perlakuan tak baik dari Sasuke, tapi Shion benar-benar merasa Sasuke sudah keterlaluan karena mempermainkan perasaannya dahulu.
"Jangan menjadi penghambat, Menma. Berhentilah mengganggu dan mencampuri hidupku! Jika kau pikir aku akan menyerah semudah itu, kau salah besar. Aku akan menghalalkan cara apapun agar Sasuke bisa kembali ke pelukanku. Meskipun itu harus dengan menyakiti Sakura. Aku muak kepada mereka, aku muak kepada Uchiha Sasuke!" sahut Shion dengan wajah serius.
Tak lama kemudian, Shion pun segera beranjak pergi meninggalkan Menma yang menghela napas berkali-kali. Rasanya Shion sudah tak kuat ingin menangis. Airmatanya sudah di ambang selaput. Sementara Menma masih terpaku di tempatnya. Tak percaya bisa-bisanya ia mencintai gadis seperti Shion. Tapi, sedingin apapun Shion kepadanya, Menma tak akan pernah menyerah dan pasti Shion akan jatuh ke dalam pelukannya. Bagaimanapun Menma tak akan membiarkan Shion merusak hubungan Sasuke dengan Sakura. Dia tak akan mungkin membiarkan sahabatnya menderita. Dan tentu saja dia tak akan tega untuk melihat orang yang dicintainya lebih lama diselimuti aura hitam. Menma harus bisa membuat Shion menyadari bahwa rasa yang dimiliki olehnya kepada Sasuke bukanlah cinta, itu semata-mata hanya perasaan dendam yang bisa membuatnya hancur kapan saja.
"Permainan baru sudah di mulai, eh? Kalau begitu, aku juga tak akan menyerah semudah itu, Shion. Aku tak akan membiarkan siapapun tersakiti," gumam Menma.
Cinta memang kerap kali membuat siapa pun tersakiti, menderita, menangis, bahkan menyimpan kebencian. Namun, semua itu hanyalah sebuah siklus. Siklus yang akan selalu kaualami sebelum kau menemukan orang yang tepat. Orang yang bisa mencintaimu tanpa syarat apapun. Orang yang bisa menerima segala apa yang melekat pada dirimu tanpa terkecuali. Orang yang melihatmu sebagai dirimu sendiri. Ya. Orang yang akan membuatmu bahagia dengan mempertaruhkan kebahagiaannya sendiri. Sampai kau mengerti bahwa cinta adalah sumber kebahagiaan, pemasok tawa, navigator magis yang mampu merubah kegelapan menjadi penuh cahaya, dan juga pemberi harapan bagi siapa saja yang merasakannya.
.
.
to be continued
Akhirnya bisa update :') beberapa chapter lagi sampai di chapter terakhir. Oh, dan apa ini? Shion sama Menma emang dari dulu pengen kumasukin di sini. -_- Jadi beginilah chapter ini. Lama gak nulis rasanya jadi kurang pd. Tapi semoga masih bisa diterima ya :D
See you ^^
