A VOCALOID FANFICTION
Disclaimer: Just, Vocaloid [c] YAMAHA
Cozt We Love Each Other!
[c] Rin . aichii
Chapter 11 — Mikuo and Miku
Pesawat mendarat di bandara Hokkaido. Seluruh penumpang yang ada segera mempersiapkan barang bawaan mereka dan segera keluar dari pesawat, termasuk ketiga Kagamine ini.
Rin, Len serta Ren segera mengambil taksi begitu mereka keluar dari bandara. Kali ini, hebatnya, Ren duduk di bagian depan, dan Rin beserta Len duduk di bagian belakang. Hal ini tentunya memaksa Rin untuk menghilangkan pikiran negatifnya tentang keanehan sang Ayah.
Mobil melesat dengan kecepatan diatas rata-rata, karena jalan yang mereka lalui adalah jalan tol yang memang seharusnya menaikkan kecepatan kendaraan. Disepanjang perjalanan, Ren melirik kedua anaknya tersebut dengan tatapan yang seperti menganalisa mereka. Terlihat – melalui kaca mobil – Rin dan juga Len yang asyik bercanda-ria.
Ren menghela nafas, diraihnya kacamata hitamnya dan dipasangnya demi mengelak pemandangan barusan.
"Len, kau tahu 'kan?" Ren memanggil Len yang asyik saling mengejek dengan Rin. Len tentunya menatap Ren dengan alis yang dia kerutkan.
"Apa?" dahi Len berkerut, merasa heran.
"Yang sewaktu di pesawat tadi." Ren mendengus, karena Len begitu mudahnya melupakan percakapan mereka di pesawat tadi.
"Ah, iya!" Len menepuk sebelah tangannya, dan Rin mulai memandang heran. Namun, dia tetap diam dengan jus jeruknya. "Aku ingat!"
.
XxX
.
CKIIIT! Taksi yang mengantar mereka segera berhenti di depan sebuah Villa yang sangat besar. Villa itu nampaknya masih baru, dan dapat dilihat dari modelnya yang berkesan elit, membuat Villa ini pasti begitu mahal.
"Ayah, apa masih belum ada pengunjungnya?" Len memberikan kopernya pada beberapa pelayan yang menawarkan diri mereka untuk koper Len. Rin juga melakukan hal yang sama.
"Yup! Soalnya Ayah ingin menikmatinya bersama dengan kalian!" Ren tersenyum ringan, membuat Rin menaikkan sebelah alisnya.
"Oh…" Len merespon demikan. Dan segera mereka bertiga memasuki Villa tersebut.
…
"H-Hebat! Villa ini sungguh besar!" Rin berlari mengitari Villa dengan senyuman manis yang merekah di wajahnya. Sesekali dia mengeluarkan setengah tubuhnya di jendela demi melihat pemandangan Villa bagian luar.
Seperti yang diduga, pemandangannya pun begitu indah. Pepohonan berjejer rapi, bukit-bukit menjadi hal yang begitu menakjubkan dari Villa ini. Rin tentunya berdecak kagum.
"Ah, Ayah dan Len ke mana?" menyadari bahwa Len dan juga Ren tidak ada, Rin langsung berjalan lagi mengitari Villa. Namun, tidak ditemukannya sosok Len dan juga Ayahnya itu.
…
Sementara itu, Len serta Ren berada di halaman belakang. Mereka tengah menikmati secangkir teh yang disuguhkan oleh beberapa pelayan yang ada.
"Ayah, ke mana Rin? Kenapa Ayah tidak mengajaknya juga?" Len menyeruput jus pisangnya, lalu dia meraih banana cake dan melahapnya dengan cepat.
Ren menggelengkan kepalanya sembari berucap; "Ayah hanya ingin bicara padamu, bukan Rin."
Len menautkan kedua alisnya. Perlahan-lahan dia mengaduk jus pisangnya dengan peluh yang mulai terlihat di keningnya. Len merasa begitu aneh dengan Ren saat ini.
"Len, kau suka bernyanyi?" Ren menopang dagunya. Mata sapphire-nya melototi sosok Len yang sedikit tersedak.
"Tentu saja, aku ingin menjadi penyanyi yang terkenal!" Len berseru dengan suara yang terdengar lemah, seperti ada yang menahan suaranya. Mungkin saja kekhawatiran yang menahannya.
"Lalu, apa kau pikir namamu akan naik di Jepang?" satu pertanyaan dari Ren membuat Len tersedak untuk kedua kalinya. Len tahu, kalau selama ini dia terkenal di bawah nama Vocaloid. Dan Len juga memiliki banyak penggemar akibat dia bergabung dengan Vocaloid.
"Entahlah," Len menerawang jauh.
Ren tersenyum, lalu dia berucap; "Ayah punya perusahaan di Amerika sana."
"Lalu?" Len menaikkan alisnya, pandangannya dia alihkan dari sang Ayah.
"Hm," Ren tersenyum penuh makna, diangkatnya jari telunjuknya, dan dia menjelaskan beberapa hal yang membuat Len begitu kaget. Irisnya membulat sempurnya, bibirnya terbuka dengan membentuk alfabet 'o'.
"A-Apa?"
.
XxX
.
"Ah, Ayah! Len!" Rin menghampiri Len dan Ren begitu mereka berdua kembali di ruang tamu. Rin langsung mengambil tempat di samping Len dengan cengiran khasnya.
"Hai, Rin…" sapa Len lemah.
"K-Kau kenapa Len? Kau sakit?" Rin mulai cemas, dipegangnya kening Len yang sama sekali tidak panas. "Tidak panas, kok!" Rin menganalisa.
Len tidak menggubris apa pun. Tidak ada kata-kata yang dikeluarkannya selain tindakan. Len pun berlalu, dan langsung memasuki kamar yang ada.
BLAM! Suara pintu yang nampaknya dibanting membuat Rin gigit jari. Ditatapnya sang Ayah, dan Rin mulai memulai pembicaraan.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Rin sehalus mungkin. Ren tersenyum penuh misteri dengan kedua bahu yang dia kedikkan sembari berucap 'Mana kutahu.'
Sosok Ren pun menghilang. Dia juga memasuki kamarnya, sama seperti Len. Rin yang ditinggalkan sendirian hanya memasang wajah polos.
.
XxX
.
Trak. Rin meletakkan cangkir tehnya pada meja yang tidak jauh dari jangkauannya. Matanya terlihat kosong, menatap kehampaan di depan matanya. Rin menarik nafas dalam-dalam, berusaha mencari sebuah pemikiran. Rin tidak tahu apa pun, terutama soal berubahnya sifat Len sejak kemarin.
Len menjadi begitu tidak bersemangat. Menyantap pisang pun dia lakukan dengan begitu tidak semangat. Apa yang terjadi dengannya? Rin tidak tahu apa pun.
Rin menopang dagunya, matanya terlihat sayu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau liburan yang dia lakukan bersama Ayah dan juga Adiknya berkesan mati. Mereka semua saling diam, sangat aneh.
.
.
Rin Kagamine POV
.
.
Aku hanya duduk di bangku taman sembari meminum teh yang disuguhkan oleh para pelayan Villa ini. Sejak kemarin, Len tidak pernah keluar dari kemarnya. Apa terjadi sesuatu antara dia dan Ayah?
"Huft!" aku menghentakkan kakiku, segera aku melesat meninggalkan taman dan menuju kamar Len.
Drap. Drap. Drap. Aku terus berlari dan berlari. Villa ini sangat luas, dan dari taman dengan berlari sampai ke kamar Len, membuat tenagaku terkuras.
"…Len!" aku menggedor pintu kamar Len. Namun anehnya, pintu kamarnya terbuka sedikit, seperti tidak terkunci. "L-Len…" aku mengintip ke dalam kamar Len.
Kudapati Len yang tertidur di tempat tidurnya dengan punggung tangan yang menutupi matanya. Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak tahu apa-apa?
"…Len…" aku berjalan pelan, menuju tempat tidur Len. Dimana Len tengah terbaring dengan telentang di atasnya. Kenapa dia sangat menyedihkan?
Len yang sepertinya menyadarinya kehadiranku, langsung menyingkirkan punggung tangannya. Len kini terbangun, dan duduk di atas tempat tidurnya dengan kaki yang bersila.
"Rin?" Len kaget akan kedatanganku, mungkin. Aku hanya tersenyum tipis, dan duduk di sampingnya.
"Kau kenapa, Len? Kau sakit?" tanyaku beruntun. Len hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ah… aku tahu, kau berbohong, 'kan, Len? Adikku ini memang selalu berbohong. Fufufu, kau tidak kenal Kakakmu ini?
"Bukan apa-apa, Rin. Hanya lelah…" Len tersenyum tipis, dan aku yakin, senyuman itu palsu.
"Jangan bohong, Lenny!" bentakku dengan tatapan sinis. Len sedikit tersentak, lalu tertawa hambar. Ah, ini bukan Lenku! Eh? Lupakan.
"Hahaha, tidak, kok," Len masih mengelak. Aku dapat melihat kristal azure-nya yang mulai redup— tanpa cahaya. "Oh ya—"
Aku menautkan kedua alisku dengan tangan yang kulipat di depan dada. Aku berusaha tenang saat ini, meski pun aku tidak tahan melihat Len yang seperti mayat hidup itu.
"…Kalau aku tidak ada, kau baik-baik saja?"
Satu pertanyaan dari Len membuatku terlonjak kaget. Bagaimana tidak kaget, mendengar pertanyaan itu saja aku sudah takut, apalagi mengalaminya.
Rasanya aku akan mati…
"Tentu saja tidak," aku menjawab terus terang. "Mendengarnya aku sudah ingin mati, Len. Jadi kumohon jangan menjadikan pertanyaan itu sebagai perumpamaan… aku tidak suka." Tidak, mataku mulai memanas. Bagaimana bisa aku mengucapkan hal seperti itu? Bisa-bisa Len besar kepala. Tapi— itu adalah isi hatiku, dan untuk kali ini aku tidak mau berbohong.
Len tertawa kecil, lalu dia mengacak-acak rambutku hingga pitaku lepas. "Dasar! Aku bercanda, kok!" Len mulai nyengir dengan tangan yang membentuk huruf 'V'.
Aku mendengus kesal, karena rambut dan pita putihku menjadi berantakan. Tapi di sisi lain, aku merasa senang, karena Len akhirnya tersenyum.
Kau… akan selalu bersamaku, bukan?
Meski pun sebagai 'Adik'ku saja, tidak lebih dari itu…
.
.
Normal POV
.
.
[Di Apartemen Anggota VocaUta]
Teto duduk di pinggir tempatnya. Rambut magenta-nya kini terurai bebas. Hari ini sudah berganti dengan soreh, namun Teto masih mengurung diri di dalam kamarnya. Sejak tadi pagi, dia bahkan tidak menyentuh makanan yang dibuat oleh Luka.
Teto menarik nafas, lalu dia hembuskan. Dengan berat hari Teto meraih ikat rambutnya dan mengikat rambutnya dengan gaya yang tidak biasa, bukan dengan gaya pigtails andalannya. Kali ini rambutnya hanya dia ikat satu ke belakang.
Teto lalu beranjak dari tempat tidurnya, dengan langkah tertatih, dia memasuki dapur, hendak mencari makanan ringan.
"Lho? Teto?"
Teto tersentak begitu melihat Hana berdiri di belakangnya. Gadis brunette itu memandang Teto dengan heran.
"Hai Hana-chan!" sapa Teto ceria, namun dibuat-buat.
"Hi!" Hana tersenyum manis dengan pertanyaan yang mengiringinya, "What are you doing?"
"Err… makan! Aku cari makanan!" seru Teto. Hana mengangguk paham. Dia berjalan mendekati Teto dan membuka lemari kecil yang terletak di belakang Teto.
"Luka had to cook good food, so I keep some for you." Hana menyodorkan sebuah makanan kecil untuk Teto— pencake, mungkin?
"Wah! Sepertinya enak!" Teto berseru senang, "Terima kasih!" lanjut Teto dengan wajah yang berseri-seri.
"Ah… K-Kau m-manis sekali, Teto-chan…" Hana menilai penampilan Teto yang berbeda kali ini, meski dia sedikit kaku mengucapkannya.
"Benarkah? Whoooaaa, makasih! Aku hanya kebetulan mengikatnya dengan gaya seperti ini!" Teto tersenyum lebar, hingga deretan giginya terlihat. "Ah—Mikuo!" sapa Teto pada Mikuo yang kebetulan hendak keluar rumah.
Mikuo tentunya menoleh karena panggilan tersebut, apalagi namanya yang disebut. "Y-Ya—kau siapa?" Mikuo mengerutkan dahi, merasakan kalau sosok yang memanggilnya begitu asing.
"INI-TETO!" imbuh Teto kesal sembari berkacak pinggang. Dan Mikuo, dia hanya bergumam 'Oh' lalu meninggalkan apartemen. Dikacangin, nih?— Teto menggembungkan sebelah pipinya.
Teto tidak sadar, kalau sepasang mata ruby melihatnya dengan tawa yang ditahan. Rupanya, orang itu adalah Hana. Sedaritadi dia menutup mulutnya, menahan tawanya begitu melihat Teto.
"Teto-saan~" panggil Hana dengan cengiran. Teto menoleh dengan polosnya.
"Ya, Hana?"
"Hihihi, you like Mikuo-kun?"
Satu pertanyaan dari Hana membuat Teto begitu kaget. Sampai-sampai piring yang dipegangnya terjatuh dan pecah—berantakan di lantai.
"Ee… itu…" Teto menggaruk kepalanya, wajahnya begitu merah saat ini. Dia begitu salah tingkah, karena selain Luka (Mungkin) dan Len, tidak ada lagi orang yang mengetahui perasaannya pada Mikuo.
Hana cekikan, dibersihkannya lebih dahulu serpihan kaca di lantai, lalu segera Hana mengintrogasi Teto. Dia duduk di hadapan Teto, dan Teto duduk di hadapannya.
"Nah—" Hana menopang dagunya sembari tersenyum manis. Jemarinya dia ketuk pada permukaan meja. "Dari sisi apa kau menyukainya, Teto-san?"
Teto tersentak. Bagaimana bisa Hana begitu lancar dalam berbahasa Jepang? Padahal kemarin-kemarin dia begitu kaku dalam menggunakan bahasa Jepang.
Hana memiringkan kepalanya, lalu tersenyum penuh arti. "Ada apa? Kau penasaran kenapa aku begitu fasih berbahasa Jepang sekarang?"
Teto mengangguk. Memang sangat aneh. Hana yang merupakan darah campuran dan hanya mampu berbicara sedikit dalam bahasa Jepang, langsung tahu begitu saja. Secerdas apa pun orang, dalam menghapal bahasa seperti itu, pasti akan memakan waktu yang lama, bukan?
Hana tersenyum, diarahkannya jari telunjuknya tepat di keningnya. Hana kemudian berucap; "Semua itu menggunakan otak, Teto."
"Eh?"
"Ah, lupakan. Oh ya, dalam hal apa kau menyukai Mikuo?" tanya Hana antusias.
"Itu… a-aku tidak tahu." Jawab Teto apa adanya. Toh memang begini perasaannya. Dia bahkan tidak tahu dalam hal apa dia menyukai Mikuo.
"Tidak tahu?" Hana menyipitkan matanya. Entah kenapa Hana terlihat berbeda saat ini— auranya berubah.
"I-Iya…" Teto meneguk ludahnya, merasa sedikit takut.
Hana kembali tersenyum, "Memang sudah seharusnya, bukan? Itulah cinta." Tutur Hana yang kemudia meninggalkan dapur. Sebelumnya, dia menepuk ubun-ubun Teto dengan lembut dan berbisik, "Cinta itu tidak memerlukan alasan…"
Iris Teto membulat, sebuah senyuman melukis wajahnya. Dia lalu mengangguk dan bergumam; "Aku mengerti, Hana-chan!" dan orang yang dia maksud sudah tiada.
.
.
XxX
.
.
Mikuo berjalan dengan langkah lemah. Dengan bermodalkan jaket bertudung, dia berbaur dengan keramaian kota. Mikuo kadang mendengus, sembari menatap berbagai pasangan yang mengisi alun-alun kota.
Tidak dapat Mikuo mengelak, kalau dia iri akan pasangan-pasangan itu.
Mikuo menghampiri sebuah café terdekat, dipesannya secangkir cappucino demi menenangkan perasaannya. Mikuo memutar kembali memorinya— pembicaraannya antara Kakak perempuannya, Miku.
.
.
Mikuo's POV of Flashback
.
.
Aku memasuki apartemen bersama Teto. Kami baru saja pulang dari studio, dan juga restoran. Dimana uang Teto harus terkuras karena ketamakan Luka. Tch, dasar wanita itu.
"Mikuo!" Miku menyambut kedatanganku. Senyuman khasnya terpantri di wajahnya. Namun ada yang aneh kali ini. Keadaan Miku— benar-benar berantakan.
Miku menarik lenganku, dan menyeretku dengan paksa. Akh, apa maksudnya ini? Namun sebelumnya, dia meminta izin dulu pada Teto yang hanya cengo di depan pintu.
"Teto, Mikuomu kupinjam, ya!" itulah yang dia katakan pada Teto. H-Hei, apa maksudnya? Dan wink itu—argh, aku bisa gila! Semua perempuan di sini mulai tidak jelas.
Ekhm, kecuali Rin, ya?
Miku pun menyeretku layaknya sebuah karung kotor yang diseret-seret dengan mudahnya. Namun perbedaannya, aku ini sangat tampan, tidak kotor sama sekali.
[Di kamar Miku]
"Argh, jangan menyeretku, Miku!" aku segera melepaskan cengkraman Miku yang begitu kuat. Ketahuilah, meski pun dia wanita, kekuatannya tidak jauh beda dengan Hulk.
"Maaf Mikuo~" ucap Miku dengan teary eyes. Ouch, sudahlah.
"Ya, sekarang apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku dengan kedua tangan yang kumasukkan ke dalam kantung celanaku. Takutnya Miku akan menyeretku sesukanya lagi kalau kedua tanganku tidak kuamankan dengan segera.
"Um… kau jauhi Rin-chan, ya!"
"Apa!" tentunya aku kaget. Apa Miku sudah gila? Aku menjauhi Rin? Hey, hey, aku tidak mau. Aku-tidak-mau.
"Kumohon…" Miku memohon padaku dengan air mata di sudut matanya.
Aku langsung menarik lengannya, mendekatkan wajahku dengan wajahnya yang begitu mirip denganku.
"M-Mikuo…?" kulihat, mata Miku terbelalak.
"Apa-apaan kau itu? Kau pikir aku ini siapa?" aku mulai membentak Miku, namun kucoba untuk sehalus mungkin. Dapat kulihat wajah Miku yang memucat.
"M-Mikuo…?"
"Apa? Jangan menyebut namaku kalau kau tidak menjawab pertanyaan dariku! Memangnya kenapa aku harus menjauhinya?" ah… rasanya kali ini aku berbeda dari Mikuo yang dulu, reader.
Miku mulai menatapku dengan tajam. Entah dari mana dia mendapatkan kekuatan untuk melawan, yang jelas, dengan cepat dia melepaskan cengkramanku, dan menarik dasiku yang berwarna tosca.
"Dengar Mikuo Hatsune, kau ingin membuat Rin bahagia, 'kan?" Miku mencengkram dasiku, kali ini dia yang memainkan atmosfir di antara kami.
Aku mendengus, lalu aku menatap Miku. "Ya, dan aku yakin, Rin akan bahagia jika dia bersama—"
PLAK! Telapak tangan Miku mendarat tepat di pipiku, meninggalkan rasa nyeris dan juga panas. Aku hanya memegang pipiku, dengan mata yang melebar.
"M-Miku…?"
"Jangan egois, Mikuo!" bentak Miku dengan suara yang begitu kencang. Untungnya, dinding apartemen ini terbuat dari beton, jadi suara dari dalam mau pun luar tidak tertangkap sutuhnya. Apalagi dengan kamar Miku yang tertutup rapat.
Aku ingin membalas ucapan Miku, tapi entah kenapa mulutku menjadi kaku.
"Rin tidak akan bahagia kalau bersamamu! Rin itu akan bahagia bersama Len! Seharusnya kau mengerti hal itu, Mikuo! Jangan egois!" Miku menarik kerah bajuku, membuatku begitu kaget. Bukan kelakuan Miku yang membuatku kaget, namun air mata yang membanjiri matanya yang membuatku tercekang.
"Kau… tidak ikhlas mengatakannya." Sahutku sambil menunjuk air mata Miku yang terus saja mengalir. Miku tersenyum kecut, dan mengendorkan cengkramannya pada kerah bajuku.
"Ya, karena aku menyukai Len." Tegas Miku sambil menyeka jalur air matanya. "Tapi aku tidak egois sepertimu. Kau hanya memikirkan egohmu saja, Mikuo. Padahal kau tahu kalau Rin menyukai Len, bukan?"
Deg! Aku mulai merasakan kalau keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Aku— egois?
"Kembalilah ke kamarmu. Semua itu tergantung keputusanmu. Kalau kau tidak mau, silahkan kejar Rin, itu pun kalau kau berhasil mengalahkan Len, Mikuo…"
.
.
Mikuo's PoV End of Flashback
.
.
Aku menyeruput cappucinno yang kugenggam dalam wadah cangkir kecil. Setelah kejadian itu, Miku nampaknya berubah drastis. Dia mulai selalu menghindariku.
Ah… rasanya hati ini nyeri kalau mengingat ucapan Miku. Rin... tidak akan bahagia bersamaku? Tapi kalau dia bersama orang lain, aku yang akan menderita.
Atau perkataan Miku benar, kalau aku itu egois. Aku hanya memikirkan perasaanku saja?
Lalu, kalau aku harus merelakan Rin, siapa lagi yang bisa membuatku tersenyum? Tidak mudah melupakan cinta pertama, bukan? Dan Rin itu adalah cinta pertamaku, pasti melupakannya begitu sulit.
"Bukannya ada yang namanya cinta kedua, Mikuo-kun?"
Aku terbelalak kaget, saat sebuah suara mendekati meja tempatku berdiam diri saat ini. Aku mencoba menebak suara ini, karena dia sepertinya mengenalku. Yah, kuakui, rasanya aku pernah mendengar suara ini.
"K-Kau…?"
Seorang gadis dengan rambut brunette berdiri di hadapanku. Dia tersenyum, dan senyumannya itu membuatku mengenalinya. Ya, dari itemnya – bando merah di rambutnya – dia adalah Hana Himuro, manajer baru itu.
"Boleh aku bergabung denganmu, Mikuo-kun?" dia tersenyum ramah, iris ruby-nya terlihat sendu kali ini. Aku tentunya hanya bisa mengangguk, dan langsung saja dia duduk di hadapanku. Sebelumnya, dia terlihat berbicara dengan maid yang ada, dan memesan makan mungkin.
Lalu, dia kembali tersenyum. Senyuman yang begitu— aneh. H-Hei, kenapa aku mulai takut melihatnya!
TBC
Mikuo: Kok aku kayak orang tidak punya tujuan di sini?
Rin: Dan aku, kok, terlalu puitis?
Miku: Dan aku, kok, kejam banget? Tampar Mikuo segala?
Hana: Dan kenapa sifatku begitu aneh? Kayak orang yang memiliki pribadi ganda =='
Aichii: Nyehehe~ :3 Gak tahu juga, nih, tanganku mengetik sendiri. Dan makin lama ceritanya makin tidak jelas, nih? ==' Argh, sudahlah, lupakan. Yang jelas RnR minna? :D
Len: Oya, kalau ada typo atau misstypo, salahkan author! Dia ngetiknya sambil dengan lagu, jadi konsentrasinya full ke bait lagu, bukan ficnya! Dan reviews? =3
