Deep in Your Heart
by. SummerChii
.
.
.
AU! Typo! Semoga alurnya jelas~
BTS milik keluarganya dan kita semua, saya cuma pinjem nama
.
.
Warning: Bromance/bxb/chaptered/hati-hati kalau ketemu pembatas cetak tebal!
.
.
.
11 : His Pain
XXX
Seokjin menatap intens yang lebih muda dengan nafas memburu. Dadanya sudah bergemuruh hebat memdengar Namjoon dan perkataannya yang membuat dia terasa di tampar Tuhan.
Seks?
"N-nam-hmp-"Seokjin merasa bibirnya penuh, dihisap kuat oleh adiknya sendiri, yang dengan kurang-ajarnya masuk kedalam kausnya- celananya, bahkan dalamannya. Menariknya, sampai Seokjin merasakan dingin yang menyapa.Menggerayangi dia remang- dengan sentuhan yang halus. Pelan, membuat Seokjin sendiri merasa gemas.
"Tidak apa kan... hyung?"
Tatapan matanya lembut, memohon pada Seokjin. Tangannya menangkup pipi Seokjin, memberikannya senyum paling manis dan mata paling sendu yang membuat Seokjin sendiri goyah untuk menjawab tidak.
Ini seharusnya tidak menjadi alasan.
Seharusnya ini tidak boleh jadi alasan.
Seokjin tidak bisa tidak melenguh- mengadah, menatap yang lebih muda- meminta tolong padanya untuk berhenti.Namun Namjoon sepertinya tidak peduli.
Membubuhkan beberapa tanda di dadanya, di perutnya dan segala tempat dimana mereka tidak akan melihatnya- membiarkan Seokjin mengigit bibir plump-nya agar tidak ada suara yang keluar, agar tidak ada yang terbangun.
Cukup dia yang kaget seperti ini.Yang lain tidak perlu tahu betapa hinanya dia yang tidak bisa melawan.Seokjin hanya bisa mengeluarkan segukan lirih, matanya terpejam, otaknya berusaha memproses semua ini dari sisi positifnya walaupun setelah dia telaah- tidak ada sama sekali.
Dia cuma jadi pelampiasan, pada akhirnya.Namjoon bahkan seenak hati menyentuhnya seakan dia barang- padahal namja itu yang bilang kalau dia tidak pantas disebut barang.
"Maaf, hyung."
Yang lebih muda bergumam, menusuk mata Seokjin sangat dalam dan membelai rambutnya. Meraih bagian selatannya dan membuat Seokjin melengkungkan tubuhnya karena merasa geli.
"Namjoon... stop... t-"
Seokjin memejamkan matanya, meremas seprai kuat saat Namjoon tidak memberinya kesempatan bicara dan malah merangsang dia yang dibawah sana. Memompanya seakan itu mainan dan menggodanya dengan tempo yang tidak stabil. Semaunya saja.
Dia ingin teriak. Mau memekik keras-keras karena Namjoon sudah kelewat kurang ajar. Harusnya Seokjin melawan.
"Aku mencintaimu, hyung. Sangat."
Namun Namjoon terlalu kuat mencengkramnya- melukai tiap sudut tubuhnya dengan memar kebiruan- bekas gigit maupun hisap yang membuat Seokjin kegelian. Kepalanya sudah terus memerintah untuk menabok yang lebih muda, tapi jangankan menggerakkan tangan, mengeluarkan suara saja dia tidak sanggup.
Yang lebih muda terus bekerja- membiarkan aroma tubuh hyungnya membuat dia gila dan memandangi tiap inchi kulit putih susu Seokjin. Bekerja dalam diam- memandangi wajah hyungnya yang menikmati, menangis dalam diam juga. Menempelkan dadanya pada dia dan terus merangsang hyungnya yang sudah berdiri dibawah.
"Hyung.."
Suara berat Namjoon tidak membantu. Seokjin semakin merasa kecil- tidak bisa melakukan apapun bahkan mencicit juga- bahkan tidak sanggup memandang yang lebih muda. Malu. Dia terlalu hina untuk dipandang. Dia, hyung yang gelagapan menanggapi sentuhan dongsaengnya- tidak bisa melawan karena namja yang lebih muda terlalu mendominasi bahkan hanya dengan kedua tangannya.
Namjoon tidak banyak bicara, memberikan jarinya pada Seokjin dan memasukannya kedalam mulut yang lebih tua, membelai rambutnya lembut sebelum beralih pada miliknya dan menyapa yang lebih tua dengan jari tengah perlahan. Seokjin menahan nafas, membenamkan kepalanya semakin dalam ke ranjang dengan mata terpejam perih, merasakan sesuatu yang dingin masuk kedalamnya, dalam, sampai Seokjin rasa kalau dia merasa dirobek. Namjoon hanya memberikan desisan kecil, berusaha membuat dia tenang sembari mengigiti dagunya, berlanjut melahap bibirnya perlahan, dan mengenggam tangannya yang tidak meremas seprai. Membiarkan kuku-kuku Seokjin menancap pada kulitnya dan meninggalkan bekas disana.
"N-namjoonn...uuh-"
"Sst... nanti yang lain mendengar, Seokjin."
Seokjin benci saat namanya disebut seperti itu. Dadanya terasa begitu berat-bahkan hanya karena namanya disebut begitu. Rasanya salah. Dia sakit, Namjoon sakit. Mereka berdua sama-sama sakit. Sakit jiwa. Adiknya ada diatas dia, namun Seokjin tidak berteriak minta tolong ataupun memukulnya keras-keras.
Dia diam saja saat Namjoon dengan kurang ajar menggerayangi tubuhnya, membuat dia membusungkan dada dan menahan geramannya sendiri. Membiarkan kepalanya terkulai lemas kesamping sementara urat-urat lehernya menonjol keras menahan jerit.Namjoon seakan tidak mau mengerti, tidak mau peduli. Membiarkan Seokjin menderita seperti itu dan terus bermain dengan kesakitan hyungnya.Seokjin tidak mengerti.Dia sungguh tidak mengerti.
"Dan... kurasa Jaehwan benar soal wajahmu yang manis kalau kesakitan."
Tangannya yang lembut menangkup Seokjin, namun dengan tatapan yang bertolak dari perbuatannya. Apa yang dia lihat sekarang disini- adalah orang lain- mungkin dia kerasukan, mungkin dia lupa dunia.
"N-namjoon, k-kau... tidak-hm!"
Yang lebih muda menguncinya, merapatkan bibir mereka tanpa merasa berdosa dan membiarkan pinggulnya mendekat dengan milik hyungnya, memaksa mereka berdua semakin dalam, memaksa panas membakar Seokjin sampai seluruh tulangnya. Memaksa sendi-sendi lehernya merenggang jauh dari bahunya, melampiaskan semua pada permukaan dibawahnya penuh dendam-sampai kusut.
Dia berteriak.
Dia ingin berteriak.
Sakit.
Rasanya seperti ditikam.
Ya. Dia memang benar ditikam.
Fisik dan hatinya.
Mereka baru berhenti saat Seokjin membasahi pipinya sendiri dengan bendungan airmata, yang mengalir seperti sungai. Namjoon baru melepas bibirnya setelah pipinya basah kuyup karena ulah cengeng hyungnya yang mendesis dan meringis kacau soal pantatnya yang perih-atau kakinya yang kram dipaksa terbuka lebar.
"Seokjin. Seokjin. Seokjin..."
Pelan, suara Seokjin yang keluar hanya sebatas desisan dan bisik- isakan cengeng seperti balita yang baru dipukul pantatnya. Hanya itu yang keluar sepanjang sisa malamnya selain airmata dan darah yang membekaskan noda di selimut kelam adiknya.
Bersama suara decit ranjang.
Bersama dengan suara kulit bertemu kulit yang basah- merah dimana-mana dan suara nafas rendah yang merapal namanya seperti mantra.
Dia ditikam.
Hati dan fisiknya.
Sampai mau mati, lagi.
XXX
Anggap dia brengsek.
"A-akh.. ah.. aannh.."
Seokjin sudah kepayahan menghadapi Namjoon yang sulit diajak kompromi- adiknya tidak mendengar sama sekali, tidak peduli sama sekali dan terus membuatnya terkungkung dibawahnya.
Yang lebih tua bahkan tidak tahu kenapa adiknya sampai hati menjamah dia- bahkan berani menatapnya dengan tatapan seperti itu, yang sialnya, membuat Seokjin sama sekali tidak bisa berontak.
Bahkan berteriak saja dia tidak bisa.
Padahal sakitnya sampai dia tidak bisa mencari kata yang tepat. Bukan hanya fisiknya, mungkin juga mentalnya. Mungkin juga jiwanya.
Namjoon melesakkannya tanpa merasa berdosa, mengeratkan jemarinya pada lingkar tangan Seokjin sementara yang lebih tua mengepal tangannya sampai buku jarinya memutih. Mengigit giginya kuat-kuat saat dia merasa tubuhnya dirobek, lagi.
Mengguncang dunia diatas kepala Seokjin bersamaan dengan guncangan ranjangnya yang abnormal. Bersamaan dengan sang hyung yang terhentak berkali-kali dan kewarasannya yang mulai menipis. Disela-sela kaki jenjang yang dibuka lebar oleh pemiliknya sendiri, dan jemari lentik hyungnya yang perlahan bertaut dibelakang punggungnya.
Seokjin berusaha keras tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Kecil maupun besar, baik mencicit atau teriak biarpun rasanya dia mau menjerit sampai mati. Semuanya hanya terlampiaskan dengan segukan-pelan, namun begitu seksi di telinga Namjoon.
Untuk ukuran pertama kali, Seokjin wajib diberikan nobel atas toleransinya terhadap rasa sakit.
Karena Namjoon tidak main-main.
Yang lebih muda tidak peduli soal waktu yang terus berjalan mendekati subuh, tidak peduli tempat tidurnya yang hancur berantakan maupun dirinya sendiri yang beberapa kali berhenti setengah jalan untuk meraih sesuatu dalam lacinya, merengkuh Seokjin erat dan menyeludupkan satu kedalam bibirnya.
Seokjin sudah tidak tahu dengan jelas lagi- semuanya rancau karena matanya sudah terlalu buram dan Namjoon bisa tiba-tiba memaksa dia tidur menyamping tanpa undur diri.
Sialnya, sentuhan-sentuhan gamang Namjoon membuatnya merasa sedikit lebih tenang, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang sudah protes keras.
Dia tidak tahu lagi berapa kali miliknya membengkak dan keluar kemana-mana, sementara Namjoon baru satu kali membasahinya di sela pipi bokongnya. Sampai Seokjin merasakan miliknya menyemburkan lagi, dan nafasnya terengah pasca klimaksnya.
Namjoon menyusul belakangan, mengeratkan pelukannya pada Seokjin dan menutup mata yang lebih tua dari belakang. Menghembuskan nafas berat dan menghapus airmatanya.
Entah karena memang kelelahan atau dia mengibarkan bendera putih, Seokjin menyerahkan dirinya pada pelukan yang lebih muda-tidak peduli apa yang baru mereka lakukan dan dosa-dosanya.Dan sebelum dunianya benar-benar gelap, pintu kamarnya terbuka lebar dalam satu tendangan.
XXX
Dia bangun dengan kepala kosong.
Wajahnya juga tidak kalah kosong. Rasanya aneh. Segalanya terasa aneh. Badannya sakit dan punggungnya terasa habis ditumbuk pakai batu. Bahkan Seokjin tidak sanggup duduk karena bergerak sedikit saja sudah melukai belakangnya.
Seokjin bangun saat langit sudah kembali jingga.
Dia ingat banyak hal-bukan, dia ingat semuanya. Namjoon yang tiba-tiba aneh, Namjoon yang mencumbunyadimana-mana, Namjoon yang membuatnya menjerit-jerit, menangis dalam diam seperti budak, seperti pelacur yang memohon pada tuannya.
Namjoon yang diam mendekaptubuhnya, tangannya mengerat kuat sekali pada Seokjin dan membuat dia semakin takut- betapa tangan itu menghancurkan dia habis-habisan.
Bagaimana Seokjin mendengar degup dadanya yang seperti menggila, adiknya yang terlihat begitu puas bertelanjang dada dan melingkupi tubuh Seokjin didalamnya-yang sama-sama bulat kemarin malam. Bagaimana Seokjin menangis dan membasahi tubuh adiknya- sama seperti Namjoon yang membenamkan wajah diatas kepalanya dan meremas kuat tubuh yang lebih tua.
Dia hina sekali.
Seokjin merasa, dia hina sekali.
Dia tidak tahu apa-apa. Yang dia ingat adalah si bungsu yang berwajah datar, membawakan dia bubur dan mengganti kompresnya. Memberinya parasetamol dan menyuruhnya tidur lagi. Dia mengurung diri seharian penuh dalam kamarnya sampai detik ini.
Matanya mendarat pada telapak tangan yang memerah. Ada bekas-bekas kuku disana, kukunya. Dalam, bahkan masih nampak sampai saat ini. Bulu matanya menutupi potongan kelopak serupa lemon itu-menghalangi pupilnya menyerap cahaya dengan baik.
Ah. Dia ini apa?
Dia baru saja disentuh, oleh adiknya. Adik. Biar bukan menurut darah, namun Namjoon, secara hukum adalah adiknya. Adik yang dia biarkan menghentaknya semalam sampai dia sendiri kepayahan.
Adik yang dia biarkan merenggut kehormatannya.
Pertama kali.
Tidak. Seokjin bukan perempuan yang akan kehilangan tanda bahwa dia masih suci seumur hidupnya. Dia bukan perempuan yang dibekaskan jika sudah dipakai. Seokjin bukan makhluk yang dikodratkan seperti itu.
Namun dia merasa hilang.
Mungkin demamnya belum turun, sehingga dia berpikiran macam-macam dan kepalanya jadi pening sekali. Mungkin dia berpikir terlalu keras sampai otaknya terasa meledak. Mungkin dia terlalu sakit sampai otaknya simpang siur kemana-mana.
Seokjin sendiri bingung dengan dirinya. Dengan rumahnya yang kelewat sepi- seperti memang menyediakan ruang untuknya sendiri.
Ini salah.
Namun dia tidak merasa ini kesalahan.
Ini seharusnya menyakitkan.
Tapi Seokjin merasa ringan, biarpun secara bersamaan dia merasa berat dan tertekan.
Harusnya dia marah, trauma, bahkan membunuh Namjoon.
Namun yang terjadi, ia malah teraduk dengan pikirannya sendiri.
Dia tidak mengerti dirinya sendiri.
Aku mencintaimu, hyung. Sangat.
Dia bingung.
XXX
Sama dengan Taehyung.
Yang hanya bisa diam. Menatap kosong lorong sunyi dihadapannya, memandang senja di hadapannya dari dalam koridor lantai lima. Membiarkan keagungan cahaya kuningnya terpantul dalam bola mata beningnya dan mewarnai bulu mata panjangnya dengan indah.
Terdiam disana, didepan pintu. Mendengar segalanya.
Taehyung tidak tuli.
Dia selalu ada disana tiap mereka membicarakan segalanya.
Menempelkan punggungnya kasual di pintu, menyerap tiap kata-kata lembut dokter tua itu. Biasanya yang dia dengar di kemudian waktu adalah tangis, atau suara pecah wanita yang dia panggil ibu atau suara berat ayahnya- namun kali ini, dia tak mendengar apapun dari ayahnya. Ibunya berada dirumah, menunggui Seokjin membuka matanya.
Matanya beralih pada sosok dibelakangnya yang berlari tergesa, wajahnya berkerut dan rambutnya terlihat basah karena keringat. Blazer army tua-nya berhenti berkibar dimainkan angin, terlihat lusuh- sama seperti kemejanya yang sudah berantakan dan menempel pada tiap inchi kulitnya yang basah.
"Taehyung..."
Taehyung tetap tenang, matanya berusaha untuk tidak terlihat mengkilat karena basah- biarpun pantulan senja sudah dapat dilihat terlalu jelas lewat matanya.
"Tae, apa kau baik-baik saja? Kenapa ada disini? Bukankah harusnya kau menunggui Namjoon-hyung? Dia sendirian-"
"Dia mati."
Hoseok merasa dunianya berhenti sejenak. Dadanya berhenti sejenak. Nafasnya ditarik sejenak. Otaknya terasa tersumbat. Matanya menatap tidak percaya si kecil yang ada disana, si kecil yang datar mengatakan itu.
"Dia mati pelan-pelan. Aku meninggalkannya disana."
Taehyung membalik tubuhnya, kembali menatap Senja dan beranjak duduk dengan santai. Hoseok memacu kakinya mendekat, mengenggam telapak tangan yang lebih muda erat dan berlutut didepannya.
"Hei. Jangan membuat kaget dengan kata-kata seperti itu, dong. Aku-"
"Dia memang mati. Dia akan mati, tidak lama. Dia yang bilang padaku untuk pergi. Cari Seokjin. Jangan berdiri dibelakangnya. Dia penjahat yang sama seperti yang menghancurkan eomma dan Seokjin. Dia yang bilang, dia sudah mati. Kim Namjoon tidak ada lagi, dan aku harus membuang dia seperti dia membuang hidupnya sendiri."
Hoseok lupa bernafas sesaat, saat matanya menumbuk iris gelap Taehyung yang bulat. Saat untaian kata-katanya menyapa telinga Hoseok telak, membunuhnya dari dalam.
"Ada apa..."
"Dia menyetubuhi Seokjin kemarin malam."
Hoseok merasa dia dicakar menggunakan garpu perlahan, disirami cuka dengan garam dan terus dicakar menggunakan garpu yang sama sampai dadanya berlubang.
Tapi Taehyung belum berhenti mengagetkannya. Karena kalimat selanjutnya membuat Hoseok merasa mati.
XXX
Ayahnya mengajaknya bicara malam itu, baik-baik.
Menanyakan apa dia sudah merasa sehat- apa demamnya sudah turun, dan apa dia sudah meminum obatnya.
Appanya yang terlihat seperti zombie. Seokjin langsung menekuk kaki dan memeluknya kelewat erat saat pintu kamar dibuka dan membiarkan pipinya menempel ke tembok. Dia takut. Takut ayahnya mulai menggampar dia karena macam-macam.
Padahal dia tidak minta.
Padahal dia pikir dunianya baru saja sembuh sedikit.
Padahal dia baru saja merasa hidupnya normal.
Ayahnya memberikan dia tatapan yang lain. Bukan tatapan sinis penuh kebencian. Dia memang tidak tersenyum, namun Seokjin sadar dengan jelas ekspresinya berubah- lebih lembut, berusaha mengatakan segalanya dengan tersusun baik.
"Seokjin, dengarkan appa. Appa minta maaf jika selama ini salah... appa minta maaf kalau membuatmu merasa tidak disayang. Appa minta maaf, tapi nak... semua ini salah... kau dan Namjoon, tidak bisa seperti ini."
Tetap adalah dia penjahatnya.Apapun yang terjadi dia tersangkanya. Dia yang salah.
"Kau tidak mengerti-"
"Aku berusaha mengerti.."
Seokjin menurunkan tatapan matanya, membiarkan bulu matanya berjejer didepan melindungi dia dari iris ayahnya yang sama gelap, dari matanya yang terlampau tajam.
"Apa... Namjoon memaksa-"
"Stop. Stop."
Seokjin merengkuh lututnya erat, wajahnya terkubur dalam lututnya, dan tangannya membalut dua objek itu seakan itu adalah pelindungnya.
"Appa bisa membereskan ini-"
"Stop. Tolong stop-"
"Seokjin. Tolong bantu appa, nde? Bicara saja...jangan takut."
Seokjin mengangkat kepalanya, matanya sudah basah dan dia takut-takut menatap ayahnya. Yang melunak, tiba-tiba. Sangat melunak. Membuat dia sendiri takut kalau dia sedang berhalusinasi dan orang yang ada didepannya bukanlah appanya.
"Seokji-"
Pria itu tidak pernah menyelesaikan kata-katanya. Jihye ada dibelakang dia, menarik bahunya lembut dan memintanya untuk keluar. Seokjin sedang tidak dalam keadaan bisa dipaksa. Dia mengerti. Dia sangat mengerti betapa dalam Seokjin jatuh saat ini. Bahkan dia yang dahulu melakukannya dengan dasar suka sama suka, mengalami betapa jatuhnya dia.
Betapa takut dan kalut.
"Beri dia waktu-"
Pria itu berdiri tiba-tiba, membelakangi keduanya dan membanting pintu kasar. Meninggalkan istri dan putra kandungnya yang tak pernah akur itu dalam ruangan yang sama- menghirup udara yang sama.
Jihye menatap Seokjin dalam, matanya masih bengkak dan wajahnya masih pucat. Hariini dia mendapat terlalu banyak kejutan dari anak-anaknya.
Membuat dia merasa, karma itu benar ada.
"Maaf, Seokjin. Maaf..."
Dan dia pecah disana, dihadapan Seokjin, kedua kalinya. Dengan wajah terbenam dalam seprai yang lebih muda, tepat dihadapannya, menelan semua isakan yang mungkin keluar.
Maaf.
Yang bahkan Seokjin tidak pernah dengar.
Maaf, yang membuat dia kembali ingin menangis.
Namjoon mengatakannya kemarin malam, maaf. Maaf yang sama nadanya dengan yang diucapkan sang ibu.
Maaf atas penyangkalan dan penyesalan.
Seokjin tahu, dalam lubuk hatinya Namjoon tidak benar-benar mau melakukan itu semalam.Karena,Adiknya menangis diatas kepalanya--merengkuhnya erat seakan tak ada yang boleh menghancurkan Seokjin selain dirinya sendiri.Merengkuhnya erat seakan dia adalah pertahanan untuk kakaknya.
XXX
Butuh waktu berhari- hari agar Seokjin mau keluar dari kamar- dengan bibir terkatup rapat seperti ada super glue yang mengapit bibirnya.
Butuh waktu tiga hari baginya untuk tahu,
Namjoon di rumah sakit.
Sendirian.
Seluruh keluarganya ada di rumah tiap malam dan selalu menjaga dia bergantian- entah bagaimana nasib yang lebih muda di rumah sakit- apa sudah mati atau belum.
Seokjin langsung berlari menjauh saat tahu perlakuan aneh mereka pada Namjoon dan padanya- seakan mereka sedang bertukar peran sekarang.
Lari.
Menemui yang lebih muda, bagaimanapun caranya.
Dia takut. Kalau mereka ada dirumah dan meninggalkan Namjoon disana, adalah pertanda kalau adiknya sudah mati. Mati gara-gara dihajar bapaknya- atau serangan jantung- atau yang lain. Seokjin takut.
Biar kejadian dua malam lalu membuat dunianya berputar seperti roda hamster, tapi Seokjin tetap ketakutan.
Takut Namjoon benar-benar mati.
Dia ingat jelas Namjoon jantungan. Dan logikanya berteriak permainan mereka beberapa malam lalu tidak baik untuk jantung. Dia juga yakin ayahnya tidak akan tinggal diam dan puasa memukul. Kemungkinan terburuk dikepalanya, Namjoon sekarat gara-gara ayahnya. Yah, Seokjin adalah senior soal bogem mentah ayahnya. Dia tahu jelas.
Yang membuatnya tidak habis pikir adalah rasa khawatir berlebihan akan Namjoon, yang beberapa waktu lalu tega padanya.
Jangan tanya kenapa. Dia sendiri heran dengan kepala dan hatinya. Sudah sampai seperti ini, harusnya dia sangat membenci Namjoon sampai akar dan ingin membunuh yang lebih muda.
Tapi dia malah lari-lari menuju kamar yang disebutkan suster dengan sendal jepit.
Dan mematung didepan kamar.
Melihat yang lebih muda tidur.
Tenang.
Dengan tangan kanan di bebat tebal, selang transfusi darah, perban lain di pipi, dan lebam-lebam di wajahnya. Dengan mesin kotak yang dia tidak tahu apa artinya berkedip-kedip disana, yang angkanya tidak lebih tinggi dari tujuh-puluh dan seratus dua. Dengan selang sebesar kabel USB yang dikaitkan ke lubang hidungnya.
"Nam-"
Seokjin menghentikan kalimatnya, matanya menatap lurus Namjoon.
Dia terjaga tiba-tiba. Menyorot langit-langit di hadapannya dengan tatapan lurus, sebelum menghembuskan nafas berat dan memejamkan matanya lagi.
Lalu mereka menatap satu sama lain.
Yang lebih muda menegakkan ranjangnya, membuat dia setengah terduduk dan menatap Seokjin seperti semula- seperti Namjoon adiknya, bukan Namjoon yang menghajar dia malam itu.
Sepertinya Namjoon sadar akan apa yang ada dipikiran Seokjin, membuatnya membungkuk dalam dan mengucapkan kalimat yang membuat punggung kakaknya langsung mendingin.
"Maaf, hyung. Kejadian itu... tolong... dilupakan saja."
XXX
A/N :SPESYAL BUAT KALIAN YG UDH BANGKOTAN... Dan yah.. mungkin kalian merasa ini kecepetan? Karena diawal kayanya lambaannn banget gaksii?(Tapi iya, ini emang alurnya cepet disini... maaf ya)Kritik dan sarannya guyss, monggoo~
kurang hot? yes. yeeesh i knuh
maaf ya diluar ekspektasi kalian...
/terima pm isian makimaki karena aku sadis :))))/
