.
.
.
.
.
Chapter 11:
.
.
.
.
.
.
A/N:
Pendek aja dari Author, setelah lama terlupakan, akhirnya keinget lagi sama ni fanfic yang udah lama terlantar bertahun-tahun. Karena adanya kesempatan waktu di saat sekarang ini yang lagi liburan, akhirnya kembali nulis lagi setelah lama enggak ngerasain gimana rasanya nulis fanfic. Satu lagi, Authorny masih sama lho, enggak pernah ganti meskipun ni ff udah ngelewatin hampir 3 kali lebaran Idul Fitri :v.
.
.
.
.
.
**Happy Reading**
.
.
.
.
.
.
#Di chapter-chapter sebelumnya:
Chapter 8:
"Ying...?"
"Eh, k-kenapa?"
"Umm... Ying, a-aku... ingin mengatakan sesuatu p-padamu..."
"I-iya, Fang. Me-memangnya... kau m-mau mengatakan apa?"
Chapter 9:
"Eeh... Atok sedang apa?"
"Atok sedang berkemas nih..."
"Berkemas? Untuk Apa?"
Tanya Boboiboy kembali.
"Huuuffhhh... Kita akan pergi ke kota."
"Hah?"
"Ceritanya panjang, Atok akan jelaskan nanti sepulang kau sekolah."
#SKIP#
"Eh... tunggu dulu Boboiboy, Atok baru ingat."
"A-apa ini Tok?"
"Ini, tolong kasih ke ibunya Yaya."
#SKIP#
"Daripada kau hanya terpuruk dan meratapi hal ini, Atok rasa lebih baik... Buatlah kenangan yang indah disini selagi kau masih sempat."
Ucap Tok Aba dengan senyum.
#SKIP#
"Umm... Makcik, Yayanya ada?"
Tanya Boboiboy.
"Maaf nak, Yayanya sudah berangkat duluan dengan seorang temannya tadi."
"Ya sudah, tidak apa-apa makcik, i-ini surat dari Tok Aba untuk makcik."
"Eh? apa ini?"
Tanya Ibu Yaya.
"Eeeh... Makcik baca dulu sajalah surat itu. Nanti pasti baru Makcik tau."
#SKIP#
"Eh, Ying, kau... tidak berangkat sekolah bersama Yaya?"
Tanya Boboiboy.
"Umm... tidak."
"Hmm... tumben sekali."
"Eh... m-memangnya kenapa?"
Kini gantian giliran Ying yang salah tingkah.
"Tadi pagi aku sempat kerumahnya. Tapi dia sudah berangkat duluan dan Ibunya bilang kalau Yaya berangkat bersama seorang temannya."
Ucap Boboiboy.
"Tadinya aku kira seseorang itu adalah kau. Tapi kalau bukan kau..."
"Lalu siapa?"
#SKIP#
"Umm... Ying, kau tau tidak kapan ulang tahun Yaya?"
"Umm... sebenarnya aku juga tidak tau."
Ying hanya terkekeh sendiri untuk menutupi kebohongannya itu.
"Sudahlah Boboiboy, tidak usah marah. Cepat atau lambat kau juga pasti akan mengetahuinya jika kau memang ingin mengetahuinya."
Ucap Ying menyentuh bahu Boboiboy sambil tersenyum.
"Biarlah... percuma saja. Walaupun aku tau, aku pun sudah tidak akan ada disini lagi pada hari ulang tahunnya nanti."
Ucap Boboiboy masih kesal.
"Hahh? Kau sudah tidak akan ada disini lagi? Maksudnya apa?"
Chapter 10:
Ya, mungkin inilah rasanya cinta. Rasanya kenyamanan cinta sejati. Meskipun Boboiboy tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, namun Yaya sangat yakin kalau Boboiboy akan selalu ada untuknya, ia tidak akan pernah meninggalkannya. Dan Boboiboy akan selalu mendampinginya.
"Eh, m-mana Yaya?"
#SKIP#
"Eh... M-mana topiku!"
Boboiboy kembali menoleh kearah kerumunan ramai tadi dengan tatapan wajah yang trauma
"TIIDAAAAAAKK!"
.
.
.
.
.
"~*Sweet Love Story*~"
.
.
.
.
.
Chapter 11:
.
.
.
.
.
Di Chapter 9:
"Tadi pagi aku sempat kerumahnya. Tapi dia sudah berangkat duluan dan Ibunya bilang kalau Yaya berangkat bersama seorang temannya."
Ucap Boboiboy.
"Tadinya aku kira seseorang itu adalah kau. Tapi kalau bukan kau..."
"Lalu siapa?"
.
.
.
.
.
##Flashback Chapter 9##
.
.
.
.
.
Kedua matanya mulai terbuka, terbangun dari tidurnya setelah melewati hari yang cukup melelahkan.
Ia bangkit dari tidurnya, duduk di pinggir ranjangnya, memulihkan kesadrannya, dan tak berapa lama kemudian ia mengerang sambil memegangi kepalanya saat akhirnya akhirnya kejadian kemarin.
Ia beruntung ibunya tidak memarahinya saat pulang ke rumah cukup larut malam. Awalnya memang ibunya khawatir dan terus menanyakan keadaannya. Tetapi entah kenapa setelah ibunya tau kalau Boboiboy bersamanya waktu itu, mengantarnya pulang, ibunya mulai berhenti mengkhawatirkannya lagi dan cukup dengan memperingatkan Yaya untuk tidak mengulanginya lagi, tidak pulang terlalu malam, lalu setelah itu Yaya di perbolehkan pergi ke kamarnya.
"Uuugghh..."
Yaya kembali meraung, lalu bangkit dari duduknya menuju ke kamar mandi, dan mencoba sejenak melupakan semua masalahnya itu.
~•Skip Time•~
Dengan tatapan yang kosong, Yaya mengunyah sarapannya dengan perlahan. Sedangkan sang Ibu yang telah duluan selesai makan tengah mencuci piringnya di dapur.
"Yaya! Jangan lupa ya nanti setelah makan piringnya langsung di cuci!"
Teriak sang Ibu dari dapur.
"Iya, bu!"
Jawab Yaya singkat, yang sebenarnya tanpa di suruh pun Yaya akan langsung mencuci piringnya sendiri. Itu sudah sifat alamiah yang di miliki Yaya sejak kecil, mungkin faktor keturunan juga sangat berpengaruh pada sifat rajinnya tersebut.
Setelah menghabiskan sarapannya, Yaya berdiam sejenak sebelum pergi ke dapur untuk mencuci piringnya. Ia merenung memandangi piring kosong di hadapannya. Gadis berjilbab pink itu kembali teringat, betapa beruntungnya ia memiliki seseorang yang ia cintai, orang yang selalu membuat dirinya tegar dan kembali tersenyum meskipun keadaan seburuk apapun menimpanya. Dan orang tersebut menemaninya, dan terus bersamanya hingga kini. Tapi...
Wajah Yaya yang sedari ceria mulai berubah.
Tapi... akan sampai kapan? Sampai kapan semua ini akan terus bertahan? Yaya tahu dan yakin kalau dirinya bisa berteman dan terus bertemu dengan Boboiboy, tapi...
Yaya meremas kuat sendok yang ada di tanganya. Kepalanya semakin menunduk, matanya kini mulai sendu.
Tapi Yaya membutuhkan Boboiboy, lebih dari sekedar teman atau bahkan sahabat. Ia tak tahu apakah di kemudian hari Boboiboy akan memiliki seseorang yang akan dia cinta, orang lain yang Boboiboy cintai, hingga pada akhirnya Yaya akan terlupakan.
Dan yang paling buruk adalah, Yaya akan terus bersama Boboiboy. Ya, terus bersamanya. Bersamanya sebagai teman yang akan terus melihat Boboiboy bahagia dengan orang lain di sisinya. Yaya tidak ingin dan tidak akan kuat melihat itu semua. Yaya tidak akan...
"Hiks... hiks.."
Yaya memejamkan matanya kuat-kuat, beriringan dengan pecahnya air mata yang mulai mengaliri pipi chabinya itu.
Yaya rasa... ia tidak akan bisa bahagia jika hal yang ia khawatirkan itu benar-benar terjadi. Tidak akan ada yang menjamin kalau mereka akan terus bersama seperti sekarang ini. Apa saja dapat terjadi, ditambah lagi... Yaya yang sebenarnya tidak punya wewenang apa-apa. Mereka berdua tidak mempunyai hubungan apa-apa. Hanya hubungan sebatas teman. Ya, teman, atau mungkin sahabat masa kecil.
Tangis Yaya mulai reda. Kemudian mengusap kedua matanya perlahan. Dan mulai sedikit mengangkat wajahnya.
Pada intinya Yaya sangat takut kalau suatu saat nanti akan kehilangan Boboiboy. Apakah harus Yaya yang duluan mengungkapkan perasaannya? Tapi... kalau memang Boboiboy mencintainya, sebagai lelaki yang jantan, seharusnya Boboiboy sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya, setelah semua yang telah mereka lewati, bersama.
Meskipun Yaya tahu, ibunya selalu melarang untuknya "berpacaran" sebelum cukup umur. Yaya tahu hal itu tapi... setidaknya Yaya butuh jawaban, butuh kepastian apakah semua rasa cintanya, semua perasaannya selama ini akan berujung sia-sia karena Boboiboy yang hanya main-main dengan perasaannya ini. Jika akan berakhir seperti itu, lebih baik dirinya untuk...
"Tok-tok-tok-tok..."
Suara seseorang yang mengetuk pintu dari luar.
"Eh, i-iya, tunggu sebentar Ying!"
Teriak Yaya dari meja makan.
Ia pun segera bangkit dari duduknya sambil mengusap cepat-cepat matanya, kemudian segera lekas mencuci piringnya di dapur.
Sekali lagi Yaya mengusap matanya, dan sekaligus wajahny setelah sehabis selesai mencuci piringnya.
"Tok-tok-tok-tok-tok-tok-tok..."
Suara ketukan pintu tersebut terdengar kembali, namun kali ini lebih banyak dan agak keras.
Yaya memutar bola matanya.
"Iya! Tunggu Sebentar!"
Teriaknya kembali.
'Tidak seperti biasanya, kelihatannya Ying terlihat buru-buru sekali.'
Pikir Yaya.
Dengan bergegas ia memakai sepasang sepatu pinknya yang berada di ruang tamu dekat pintu.
"BUG-BUG-BUG-BUG."
Baru sepasang sepatu yang ia kenakan, pintu rumahnya kembali berbunyi. Yang ke tiga kali ini sangat kasar dan lebih seperti tengah memukul pintu dari pada mengetuk.
"Arggghh..."
Geram Yaya langsung bangkit dari duduknya dan dengan cepat membuka pintu.
"Apa kau tidak bisa tunggu sebenta..."
Ucap Yaya melongo ketika tidak melihat siapa-siapa di balik pintu.
Yaya hanya mengangkat kedua bahunya bingung lalu menutup kembali rumahnya. Mungkin hanya anak kecil iseng yang jahil mengetuk pintu rumah orang tanpa alasan pikir Yaya. Tapi... kenapa pagi-pagi sekali?
"BUG-BUG-BUG-BUG."
Suara tersebut terdengar lagi. Yang kini membuat Yaya benar-benar kesal.
"Hei, anak kecil, kalau mau jahil nanti siang saja. Sekarang ini masing siang tahu!"
Teriak Yaya masih sambil mengikat tali sepatunya.
"Hey, bisa-bisanya kau mengabaikanku."
"Eh?"
Gumam Yaya heran mendengar suara yang cukup ia kenal yang berasal dari balik pintu rumahnya.
"Itu kan..."
Dengan cepat Yaya kembali membuka pintunya dan ternyata tidak kembali menemukan siapa-siapa.
"Aku sudah menunggumu dari tadi tahu."
Suara datar seorang laki-laki berkacamata yang tengah bersandar dengan santainya.
"Eh? Fang?"
Ujar Yaya ketika menoleh ke kanan dan menemukan Fang yang tengah bersandar dengan kaki kanan yang menapak di dinding rumahnya dan kedua tangan yang berada di saku celana.
"Yaya aku butuh bantuanmu."
Ucap Fang yang sedari terus melihat ke samping kanan atas seperti tengah memperhatikan sesuatu.
"Hey, Fang, sedang apa kau di sini?"
Tanya Yaya dengan penuh keheranan.
"Kan aku sudah bilang tadi, aku sedang butuh bantuanmu."
Jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun pada lawan bicaranya.
"Huuffhhh... tunggu sebentar."
Ujar Yaya kembali ke dalam rumahnya dengan nada yang terlihat kesal.
"Cepatlah."
Ujar Fang kembali dengan datar.
Yaya kemudian kembali mengikat sepatunya sambil menggerutu kesal.
'Dasar Fang, sombong sekali orang itu. Mau apa dia kesini? meminta bantuan? apa tidak bisa sopan sedikit saat minta bantuan kepada orang lain?'
Gerutu Yaya kesal dalam hatinya sendiri.
Fang masih terus meletakan pandangannya pada apa yang ia perhatikan sejak tadi. Mata di balik kacamata berbingkai ungu itu menatap tajam sebuah jendela rumah di lantai 2 dengan penuh kewaspadaan.
"Hmm... sepertinya sekarang dia masih belum bangun."
"Eh...? siapa?"
Tanya Yaya tiba-tiba yang telah selesai mengikat sepatunya dan ternyata mendengar gumaman Fang barusan.
"Eh, tidak, bukan siapa-siapa."
Jawab Fang masih terdengar datar sambil merapikan kacamatanya.
"Ngomong-ngomong... kenapa kau..."
"Eh, Yaya, ada apa dengan matamu?"
Potong Fang yang kini akhirnya memandang lawan bicaranya.
"Eh?"
Yaya baru teringat kembali kalau ia baru saja menagis tadi.
"Matamu... tetlihat agak sedikit memerah."
Ucap Fang heran.
"Apa jangan-jangan, kau..."
"Eh, t-tidak, aku tidak apa-apa. Mungkin ini hanya karena... begadang terlalu larut tadi malam."
Jawab Yaya mengusap matanya sambil menutup kembali pintu rumahnya.
"Tapi..."
"Ayo cepat, nanti bisa-bisa kita terlambat ke sekolah."
Potong Yaya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Fang kemudian hanya mengikuti langkah gadis berhijab pink itu dari belakang.
"Eh, ngomong-ngomong mana Ying? Dia tidak bersamamu?"
Tanya Yaya.
"Umm..."
"Tadi aku kira kau itu tadi Ying, karena aku tahu betul dia selalu ke rumah ku jam-jam segini."
Ujar Yaya pada Fang.
"Oh, iya, apa tidak sebaiknya kita tunggu Ying saja dulu, aku yakin dia tidak akan lama. Sebentar lagi pasti dia kesini."
Ucap Yaya sambil memperlambat langkahnya dan hendak berhenti.
"Ying? dia... oh, iya, dia bilang dia tidak bisa datang ke rumahmu hari ini."
Yaya menaikan sebelah alisnya bingung.
"Iya... dia bilang dia akan berangkat agak siang, dan itulah sebabnya aku ke rumahmu untuk memberitahumu. Ying takut kalau kau akan menunggunya terlalu lama."
"Oh, jadi begitu..."
Yaya kemudian melanjutkan langkahnya.
"I-iya begitulah."
Jawab Fang kaku.
Yaya hanya mengangguk pelan meskipun masih merasa heran.
Setelah itu mereka hanya berjalan tanpa adanya perbincangan selama beberapa menit. Sampai akhirnya Yaya cukup bosan dengan sifat Fang yang sedikit bicara.
"Jadi... apa hanya karena itu kau pergi ke rumahku?"
Kata Yaya kembali membuka pembicaraan.
"Kau bilang tadi kau..."
"Oh iya, aku hampir saja lupa."
Potong Fang.
"Ya... boleh di bilang... aku memang sedang butuh bantuanmu."
"Tapi setelah di pikir-pikir aku tak yakin kau akan mau membantu."
Tambah Fang dengan nada datarnya.
"Apa itu? katakan saja, aku senag kalau bisa membantu orang lain."
Ucap Yaya disertai senyumnya seperti biasa.
Fang hanya menatap senyuman itu dengan ekor matanya dan masih merasa ragu.
"Kau yakin?"
"Yap."
Jawab Yaya mantap.
"Oke, baiklah. Bagus sekali, karena seperti hanya kau yang bisa membantuku saat ini."
Ucap Fang sambil meletakan kedua telapak tangannya di belakang kepala.
Yaya hanya menoleh kearah Fang dengan penuh penuh rasa bingung sekaligus penasaran.
##SKIP##
.
"APA?! KAU MENYURUHKU MENCURI?!"
Teriak Yaya.
Kini mereka telah sampai di sekolah, tepatnya di samping ruang kantor guru.
"Shhuuuttt! pelankan suaramu sedikit!"
Tegur Fang memperingati dengan suara rendah.
Wajah Yaya cerembut bercampur marah dan kesal.
"Aku kira kau ini orang yang suka membantu orang lain, lagi pula tadi kan kau sudah bilang untuk mau membantu."
"I-iya tadinya aku memang mau membantumu, tapi... aku tidak mau mencuri itu! itu perbuatan tidak tahu!"
Ucap Yaya kembali berteriak di akhir kalimat.
"Shhuuuttt! Iya aku tahu mencuri itu perbuatan buruk, tapi kan aku tidak menyuruhmu mencuri."
Ucap Fang yang mulai panik karena sedari tadi Yaya selalu mengeraskan suaranya.
"Apa maksudmu?!"
Tanya Yaya masih kesal.
"Ya, aku hanya meminta kepadamu untuk tolong ambilkan bola basket yang di pinjam oleh guru olahraga kita kemarin lusa, itu saja."
Jawab Fang santai.
"Hey, aku tahu dan bahkan satu kelas kita pun tahu kalau bolamu itu disita 3 hari yang lau karena kau memainkannya di luar pelajaran olahraga."
Ucap Yaya datar dengan wajah lemas.
"Ee... I-iya mungkin tebakanmu itu hampir benar tapi..."
"ITU BUKAN TEBAKAN, TAPI FAKTA, KAU TAU ITU?"
Ujar Yaya kesal.
"O-oh, ka-kalau begitu tidak masalahkan jika kau tinggal masuk ke sana, buka lemari itu, ambil bola basket kesayanganku itu."
Bujuk Fang sambil menunjuk lemari milik guru olahraga dari luar jendela.
"Lalu kau tinggal berjalan keluar dan memberikannya padaku, dan lalu aku akan berterima kasih padamu dan kau akan bilang sama-sama, yang pada akhirnya kita berdua akan sama-sama senang, mudah kan?"
Tambah Fang dengan senyuman kaku yang dipaksakan di akhir kalimat.
"Ya... kau memang benar kalau dapat menolong orang lain membuatku senang. Tapi aku benar-benar tidak akan senang jika harus membantu pencuri sepertimu ini!"
"Ayolah... sudah kubilang kalau hanya kau yang bisa membantuku kali ini. Karena hanya kau yang bisa masuk dan keluar dari sana dengan selamat tanpa dicurigai oleh siapapun guru yang ada di dalam sana."
Ucap Fang memohon pada Yaya.
Ya, Yaya memang hampir di kenal oleh semua guru di sekolahnya dan ia dikenal sebagai murid yang paling rajin dan berperilaku baik selama di dalam sekolah.
"Kau mengatakan itu semua semudah aku menolak permintaanmu, apa sudah gila? sudah jelas seluruh sudut ruang kantor guru di pasangi kamera CCTV yang cepat atau lambat pasti akan langsung ketahuan!"
"Oke, yang satu itu kau memang benar, tapi jangan risau tentang hal itu, kamera yang dapat merekam dan menjangkau lemari itu hanya ada 1 kamera saja. Dan kamera tersebut belum lama ini rusak dan tidak berfungsi lagi sekarang. Dan aku rasa hanya aku seorang saja yang tahu hal itu."
Ujar Fang sangat yakin dengan kata-katanya.
"Apa?"
Tanya Fang heran mengetahui Yaya yang menatapnya dengan wajah yang aneh.
"Hey, aku tidak berbuat apa-apa, bukan aku yang merusaknya, atap bocor lah membuatnya rusak ketika sedang hujan. Air bocoran itu mengalir dengan perlahan lalu menjalarkan ke kamera tersebut. Itulah sebabnya tidak banyak orang yang tahu atau mungkin belum karena kamera itu baru rusak 2 hari yang lalu!"
Ucap Fang bersemangat.
"Sekarang apa alasanmu untuk tidak membantu teman sekelasmu ini hah?"
Ucap Fang bertanya.
Yaya menoleh ke arah jendela. Menatap lemari tersebut dengan tajam. Sebenarnya ia selalu ingin sekali menolong orang lain yang sangat membutuhkan pertolongannya. Tapi yang satu ini sangat caranya sangat ekstrim sekali baginya. Tapi setelah dipikir-pikir...
"Oke, setelah dipikir-pikir..."
Fang menanti jawaban Yaya dengan penuh harapan.
"...tidak."
"T-tunggu, apa?"
"Tidak, aku tidak bisa membantumu untuk yang satu ini."
Jawab Yaya.
"K-kenapa?"
Tanya Fang penuh kekecewaan.
"Biar aku yang bertanya kembali, kenapa tidak kau saja yang mengambilnya sendiri atau jika tidak kau beli saja yang baru, atau kurasa... sepertinya kau punya banyak di rumahmu."
Tolak Yaya sambil berbalik badan kemudian berjalan kembali ke kelas.
"T-tapi bola yang satu itu sangat spesial dan aku tidak bisa menggantikannya, karena itu milik kakakku dan dia akan meminta kembali bola tersebut kepadaku besok. Dan jika aku tidak mengembalikkannya tepat waktu aku akan dimarahinya habis-habisan!"
Teriak Fang begitu memohon dengan napas yang terengah-engah.
Langkah kaki Yaya terhenti sejenak. Kemudian ia mengangkat wajahnya. Mengepalkan tangan kanannya dan menghembuskan napas dalam-dalam.
"Maaf, aku tetap tidak bisa."
Ucap Yaya kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.
"Ouuuwwhh... arrggghhh..."
Geram Fang kesal pada diri sendiri.
Sebenarnya Yaya cukup kasihan dengan temannya yang sedang butuh bantuannya itu. Apalagi kali ini Fang terlihat sangat berbeda. Entah apa itu karena dia sangat menyayangi bolanya itu atau dia terlalu takut dengan kakaknya itu?
Sambil berjalan, Yaya hanya mengkerutkan alisnya kasihan pada temannya itu, tapi ia tidak bisa membantunya kalau begitu caranya.
Sementara itu Fang hanya memandang lesu lemari itu dari balik jendela sambil menyentuh kaca jendela dengan kedua telapak tangannya.
"Habislah aku..."
Gumam Fang putus asa.
"Eh, a-apa itu..."
~0o0~
Sesampainya di kelas, Yaya pun duduk di kursinya lalu berdiam sejenak. Lalu ia teringat kembali akan sesuatu. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memandangnya ragu.
"Formulir Pendaftaran Ketua/Wakil Ketua OSIS SMP Pulau Rintis"
Begitu tulisan besar yang terdapat pada kertas tersebut.
Awalnya ia sangat semangat saat pertama kali mendapatkan biodata ini setelah ada salah satu guru yang sangat mengusulkannya untuk menjadi ketua OSIS selanjutnya untuk menggantikan kakak kelas nya.
Tapi... kini Yaya sedikit agak ragu, apakah ia akan mendapat kepercayaan dari para murid di sekolahnya setelah terjadi peristiwa masa itu di kantin. Peristiwa yang cukup membuat terguncang.
Ia menutup pulpennya yang tadinya hendak mengisi formulir tersebut, namun ia mengurungkan niatnya ketika mengingat kejadian itu. Yaya tahu peristiwa ity memang tidak sengaja oleh Boboiboy. Dan untungnya tidak terlalu diperdulikan oleh para guru. Tapi tetap saja para murid yang lain kini memandangnya sedikit berbeda dari pada yang dulu. Terutama murid-murid yang tidak terlalu mengenal Yaya secara dekat.
Tapi...
Yaya kembali membuka pulpennya perlahan.
Mungkin pada akhirnya akan seperti kejadian-kejadian yang telah lalu. Laun lambat kejadian itu juga pasti akan terlupakan seiring dengan berjalannya waktu. Yaya mulai mencoba untuk tidak memikirkan kejadian tersebut secara berlebihan.
Ia akhirnya mulai mengisi formulir tersebut satu persatu. Mulai dari nama pendaftar, kelas, tanggal lahir, sampai motivasi atau alasan mengapa mendaftarkan diri. sampai akhirnya ia sampai di lembar yang kedua yang bertuliskan "Data Diri Calon Wakil Ketua OSIS". Yaya baru teringat bahwa ia harus memiliki pasangan untuk mendaftar.
'Wakil, hmm... kira-kira siapa yang pantas ya?'
Batin Yaya dalam dalam hati.
Tentu orangnya harus yang paling dapat ia percaya. Dan yang pertama terlintas di pikirannya adalah, Ying.
'Hmm... ya, mungkin dia yang dapat aku percaya. Aku menanyakannya padanya nanti. Tapi... aku tak yakin kalau ia pasti mau ikut mencalonkan diri.'
'Kalau Ying tidak mau, lalu siapa lagi yang dapat aku percaya?'
Kemudian tanpa Yaya sadari, Boboiboy yang seperti baru datang tengah melewati mejanya dan sedang memandanginya dengan hati-hati. Sedangkam Yaya yang baru menyadari sempat terkejut dan hanya meliriknya sebentar kemudian berpura-pura kembali fokus pada kertas yang ada di mejanya.
Seperti biasa, jantung Yaya masih selalu berdebuk kencang ketika Boboiboy tengah memandanginya, memandanginya langsung lurus menuju ke mata. Jantung kembali normal saat Boboiboy sampai di kursinya.
"Huuuffhhh..."
Yaya menarik napas kemudian mengembuskannya berusaha untuk menenangkan dirinya.
Yaya mencoba kembali fokus mengisi formulir yang ada di depannya. Mencoba kembali mengisi data apa yang bisa ia isi namun ternyata data kosong yang tersisa hanya tinggal formulir data untuk calon wakil ketua saja.
"Hmm..."
Gumam Yaya hanya menatap formulir tersebut.
"Iya... PR Matematika, yang lima soal itu."
Suara Gopal yang terdengar oleh Yaya yang sepertinya tengah berbicara pada Boboiboy.
Dengan hati-hati Yaya pun menoleh ke belakang.
"Lima soal...?"
Tanya Boboiboy pada Gopal dengan wajah kebingungan.
"Tugas Matematika...? Y-yang... L-lima soal itu! ALAAMMAAAAK!"
"KRIIIINNGGG..."
Bel masuk telah berbunyi. Dan Yaya rasa kalau Boboiboy benar-benar belum mengerjakan PR Matematikanya, terlihat dari wajahnya yang sangat panik.
"OH TIDAAAK!"
Boboiboy semakin panik dengan bel masuk yang telah berbunyi.
"Aduh... Ehh... Uhh..."
Gumam Boboiboy menggerutu sambil mengorek-orek isi tasnya mencari sebuah buku.
Bukan hanya Boboiboy yang panik. Melihat hal tersebut, wajah Yaya menjadi khawatir dan juga ikut panik. Dari depan, Yaya menoleh dan melihat kalau nampaknya kini Boboiboy tengah mencoba mengerjakan PRnya sekarang. Yaya harap dia bisa mengerjakannya sebelum Cikgu Papa datang.
Lagi pula PR tersebut hanya berisikan 5 soal yang cukup mudah.
Yaya kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada formulir pendaftarannya. Ia merapikannya lalu kemudian memasukannya kembali ke dalam tas.
Ya, 5 soal yang cukup mudah. Namun menjadi perspektif yang berbeda jika Boboiboy yang mengerjakannya. Ia memutuskan untuk mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu dan melewati soal yang sulit. Namun, sepertinya Boboiboy berhasil dengan sukses melewati semua soal dan tidak mengerjakan apa-apa.
"Aduh... apa tidak ada soal yang lebih mudah?"
Gerutu Boboiboy kesal.
Di tengah aktivitasnya merapikan isi tasnya, tiba-tiba Yaya merasakan hembusan angin menerpanya, seperti ada sesuatu yang melesat dengan kencang melewati depan mejanya. Serasa ada kereta ekspress berkecepatan tinggi telah melintas.
"Eh?"
Gumam Yaya kemudian menoleh ke belakang tepat ke arah benda atau sesuatu yang melesat tadi.
Sementara itu Boboiboy masih panik dengan urusannya sendiri.
"Aduh... bagaimana nih Gopal?"
Tanya Boboiboy meminta pertolongan.
"Oh, kau masih belum mengerjakannya juga ya?
Pasrah sajalah..."
Ucap Gopal yang melahap keripiknya sambil menopang dagu.
Boboiboy kini hanya bisa memegangi kepalanya dengan kedua tangannya panik.
"Aduuhh... bagaimana ini?! Bagaimana kalau Cikgu Papa sampai tau kalau aku belum mengerjakan PR!"
"APAAA?! KAU MASIH BELUM MENGERJAKAN PR?!"
Teriak Papa Zola yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Cikgu Papa?"
Kata Yaya tekejut.
"Eehh?!"
Gumam Boboiboy yang tersungkur di lantai karena terkejut.
"B-bu-bukan Cikgu."
Ucap Boboiboy gagu.
"BUKAN APAAA?!"
Teriak Cikgu Papa kembali sambil mendekatkan wajahnya dengan berkacak pinggang.
"Bukan Cikgu... sebenarnya..."
Ucap Boboiboy masih tersungkur di lantai.
"Hmm...?"
Gumam Cikgu Papa masih menunggu sambil makin mendekatkan wajahnya ditambah sebelah alis yang naik.
"Ehhh... Ummm..."
Boboiboy hanya diam tak bisa berkata apa-apa sementara ada wajah aneh Cikgu Papa di depan matanya yang masih terus menunggu alasan Boboiboy.
"Ehheemm..."
Batuk Yaya yang sengaja dibuat-buat.
"Banguuunn..."
Seru Yaya yang di ikuti berdirinya semua murid.
"Ehh...?"
Gumam Cikgu Papa heran sambil menoleh.
"Selamat Pagi Cikgu!"
Teriak sang ketua kelas tersebut.
"Selamat Pagi Cikgu!"
Seru para murid mengikuti.
"Ehh?"
Gumam Boboiboy dan Cikgu Papa berbarengan.
Mereka berdua masih diposisi yang sama dengan Boboiboy yang masih tergeletak di lantai dan Cikgu Papa yang ada di depannya. Keadaan hening beberapa saat dengan para murid yang memandangi mereka berdua heran kecuali Fang yang sedang menopang dagu sambil memandang ke luar jendela dan Gopal yang sedang sibuk minum karena tersedak makanannya tadi setelah terkejut dengan kedatangan Cikgu Papa yang mendadak.
"Ehh?"
Cikgu Papa akhirnya berdiri sambil berpura-pura membersihkan bajunya. Dan akhirnya juga Boboiboy dapat duduk kembali ke kursinya.
"SELAMAT PAGI MURID SEMUA! Silahkan kembali duduk..."
Salam Cikgu Papa sambil berteriak dengan pose ala super heronya kemudian menyuruh para muridnya duduk kembali.
"Fyyuuuhh..."
Gumam Yaya pelan sebelum kemudian ia pun duduk.
"Huuuhh..."
Boboiboy menghembus napas lega, merasa dirinya telah selamat.
"Y-Yaya..."
Panggil Boboiboy pelan dari belakang.
"Ehh...? Iya Boboiboy...?"
Ucap Yaya sembari sedikit menoleh ke belakang.
"T-terima kas..."
"HEYY! BOBOIBOY!"
Teriak Cikgu Papa tiba-tiba memotong sambil menggebrak meja Boboiboy mengejutkannya sampai membuat topi dinosaurus Boboiboy miring.
"Ehh...? K-kenapa Cikgu?"
Gumam Boboiboy kembali panik.
"KENAPA KAU MASIH BELUM MENGERJAKAN PRMU HAAAHH!"
Tanya Cikgu Papa dengan volume yang tinggi berteriak.
"Ehh... umm..."
Boboiboy terdiam sesaat.
"Uhh... s-siapa yang bilang belum Cikgu?"
Ucap Boboiboy sedikit ragu.
"S-saya sudah mengerjakannya kok Cikgu."
Ujar Boboiboy merapikan topinya kembali sambil membuka-buka buku tugasnya.
"Haaahhh...?"
Gumam Cikgu Papa sedikit heran.
"B-benar Cikgu, ini..."
Ucap Boboiboy kemudian memperlihatkan PR lama yang sudah ia kerjakan.
"Ohh... baguslah kalau begitu."
Ucap Cikgu Papa hanya memperhatikan sekilas tanpa membacanya.
"Huuuhhh... selamat..."
Gumam Boboiboy pelan karena untungnya saja Cikgu Papa tidak menyadarinya. Dan untungnya saja Ia sempat menemukan PR lama yang jumlahnya sama yaitu 5 soal dan kebetulan sekali tipe-tipe soal tersebut hampir sama dan mirip. Yaya yang melihat hal tersebut pun merasa lega mengira kalau Boboiboy telah berhasil mengerjakan 5 soal yang mudah tersebut.
"SUDAAAHHH!"
Teriak Cikgu Papa tiba-tiba kembali membuat Boboiboy tersentak kaget.
"KEBENARAN SUDAH TAK SABAR! MARI KITA KOREKSI PRNYAAAAA!"
Teriak Cikgu Papa dengan penuh semangat.
'APA?!'
Batin Boboiboy berteriak dengan wajah horor.
"Baiklah! Soal No.1, Gopal, maju ke depan!"
Perintah Cikgu Papa
'Haahh? Maju ke depan?'
Batin Boboiboy mulai panik.
Gopalpun segera bangkit dari duduknya dan kemudian maju dengan membawa buku tugasnya di genggamannya.
"Ehh?"
Boboiboy sempat heran dengan Gopal yang katanya belum mengerjakan PR tetapi dia sangat tenang dan percaya diri sekali maju ke depan.
"Setelah ini... Boboiboy maju ke depan, bersiap untuk soal No.2."
'Hahh?!'
Batin Boboiboy kembali berteriak panik. Tidak biasanya Cikgu menyuruhnya untuk maju ke depan. Padahal soalnya cuman ada 5 saja, tetapi kenapa harus ada dirinya di antara salah satunya?
Fang yang melihat wajah Boboiboy yang begitu panik pun tertawa dalam hatinya. Ia menyadari kalau Boboiboy tengah panik karena belum mengerjakan PRnya.
"Ha ha... rasakan itu."
Gumam Fang yang merasa jago dalam pelajaran Matematika.
'Mungkin ini balasan yang baik bagiku setelah kejadian buruk yang menimpaku.'
Batin Fang tersenyum sombong teringat kembali pada kejadian yang telah membuat bolanya di sita.
'Habislah kau Boboiboy, setelah Boboiboy ketahuan dan di hukum nanti, aku akan langsung maju dan akanku habiskan semua sisa soalnya. Agar mereka tau apa perbedaan antara aku dan Boboiboy, hehehe...'
Ucap Fang dalam hati yang masih belum mau kalah dari Boboiboy untuk menjadi murid yang paling populer di sekolahnnya.
Fang pun mulai menjalankan rencana. Ia kemudian mengambil buku Matematikanya. Namun sebelum itu ia tiba-tiba terkejut heran dengan tasnya yang telah terbuka dan posisi buku Matematika yang berada paling depan, berbeda dengan terakhir kali ia menaruh buku Matematikanya yang seingat Fang buku tersebut tadinya berada di paling belakang tumpukan buku.
"Hmmm..."
Gumam Fang menatap tajam tasnya sendiri.
"Sepertinya ada yang..."
"Ah, biarlah..."
Fang hanya mengabaikannya, lagi pula sekarang ini adalah hari keberuntungannya. Sebentar lagi nama Boboiboy akan tercoreng dan Fang sudah siap untuk segara mendapat tepuk tangan dan pujian yang akan segera ia dapatkan setelah maju ke depan nanti.
Kini pandangannya tertuju kembali pada papan tulis di depan. Fang baru tersadar kalau kini Gopal tengah menuliskan jawaban No.1 di depan papan tulis. Namun Fang sudah tidak terkejut lagi kenapa Gopal bisa mengerjakan soal tersebut di depan dengan tenang. Matanya mulai menatap tajam mengoreksi tiap goresan spidol yang dibuat oleh Gopal. Ia mulai curiga dengan wajah Gopal yang sok polos itu.
"Aduhh! Bagaimana ini!"
"Duh... sialan, matilah aku..."
Gerutu Boboiboy tak ada hentinya. Ia hampir putus asa. Entah hukuman apa yang akan diberikan oleh Cikgu Papa nanti ia tidak tau namun ia kini sudah pasrah dan siap menerima hukuman tersebut.
"Eh?"
Yaya yang terkejut kala melihat Boboiboy yang ternyata masih memajang wajah paniknya.
Yaya kembali menoleh ke depan papan tulis, melihat Gopal yang sepertinya sudah hampir sampai di ujung jawabannya. Yaya pun terkejut dan penasaran dengan jawaban Gopal yang sepertinya benar. Yaya mulai tertarik pada langkah cara yang dituliskan Gopal di papan tulis, namun ia menggelengkan kepalanya dan menengok ke belakang teringat pada Boboiboy.
Yaya mulai menggigit bibirnya sendiri panik dan merasa sangat khawatir. Lalu ia akhirnya melirik pada bukunya sendiri.
"Eehh... baiklah."
Yaya pun merobek selembar kertas kosong pada bukunya dan mulai menuliskan sesuatu dengan terburu-buru.
"BAGUS! CHAABAASS GOPAL... CHAABAASS... JAWABAN KAMU BENAAAARR!"
Teriak Cikgu Papa.
"Hehh... sudah kuduga."
Gumam Fang dengan wajah datarnya memandangi papan tulis sambil menopang dagunya.
'A-apa?!'
Boboiboy tak percaya dengan jawaban Gopal yang tak disangka-sangka ternyata benar.
"Eh?"
Boboiboy menoleh tak sadar kalau ternyata Gopal sudah berada di sebelahnya.
"Eh, Gopal. Bagaimana bisa kau..."
"SUDAAAH! Sekarang... BOBOIBOOOOY! CEPAT MAJU!"
Teriak Cikgu Papa memerintah.
"Ehh... uhh... t-tapi..."
"KENAPA?! JADI BENAR KAU BELUM MENGERJAKAN YA?!"
"Eh... t-tidak Cikgu."
Jawab Boboiboy gemetar.
"Kalau begitu... KENAPA KAU TIDAK MAJU KEDEPAN HAAAAHHH?!"
Teriak Cikgu Papa.
"Ehh... i-ini Cikgu, baru saja saya mau maju."
Ujar Boboiboy bangkit dari duduknya sambil membawa selembar kertas.
"Hmm... Eh...?"
Fang heran saat ia menoleh dan mendapati Boboiboy yang maju dengan hanya membawa selembar kertas.
'Apa yang dia bawa tuh? A-aku yakin dia tidak akan bisa mengerjakan soal ini meskipun hanya 1 soal!'
Batin Fang geram bercampur heran.
Mengingat 5 soal ini adalah termasuk soal dengan kesulitan menegah yang Fang yakin bahwa kemampuan Boboiboy sendiri tidak akan menggapai kelima soal tersebut.
Setibanya di depan Boboiboy hanya diam terlihat ragu sambil memandangi selembar kertas di tangannya.
"CEPATLAAHH! KAMU INI TUNGGU APA LAGIIIII!"
Teriak Cikgu Papa yang kesal melihat Boboiboy hanya diam sedari tadi.
"I-iya, B-baik Cikgu."
Boboiboy kemudian hanya bisa pasrah dan kemudian segera menuliskan apa yang ada di dalam kertas tersebut. Belum sampai menempelnya ujung spidol tersebut dengan papan tulis, tiba-tiba Cikgu Papa menghampirinya.
"Eh, Kenapa kamu hanya membawa selembar kertas?"
Tanya Cikgu Papa menyelidiki karena heran dengan Boboiboy yang tidak membawa bukunya.
"Ehh... uhh... Ohh, tadi kertas saya tidak sengaja robek Cikgu."
Jawab Boboiboy berbohong.
Boboiboy kesal dengan dirinya sendiri yang kenapa tadi tidak membawa sekaligus bukunya agar tidak ketahuan. Namun untungnya Cikgu Papa hanya mengangguk pelan sambil mengelus-elus jenggotnya.
"Huuuffhhh..."
Gumam Boboiboy pelan karena merasa lega.
"Lalu... kenapa kertasmu itu sangat lecak?"
Tanya Cikgu Papa kembali membuat Boboiboy kembali gemetar.
"Uhhh... Oh, itu, biasalah Cikgu."
"Haaahh?"
Cikgu Papa masih belum paham.
"Itulah Cikgu, biasa... si Gopal..."
Ujar Boboiboy mengecilkan volume suaranya pada akhir kalimat.
"Ohhhh..."
Gumam Cikgu Papa kini telah paham.
Boboiboy kembali menghela napas berat. Tak menyangka kalau "Akting" nya tadi cukup berhasil untuk mengelabuhi seorang Cikgu Papa.
Boboiboy kemudian mulai menuliskan kembali apa yang terdapat pada selembar kertas di genggamannya tersebut dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
"Hiisshh... b-bagaimana bisa dia... jangan-jangan dia..."
Gerutu Fang kesal melihat ekspresi Boboiboy yang tidak serupa dengan isi jawabannya.
Setelah selesai menulis, Boboiboy mundur beberapa langkah dari papan tulis sebagai pertanda ia telah selesai.
"Hmmm..."
Gumam Cikgu Papa tengah mengoreksi jawaban yang ada di papan tulis. Boboiboy menantinya dengan wajah yang berkeringat.
"Hmm... bagus-bagus, jawaban kamu memang tepat sekali..."
Ujar Cikgu Papa.
"Arrggghh... b-bagaimana bisa."
Ucap Fang sambil mengedor mejanya sendiri sendiri.
"Huuuuhhh..."
Boboiboy kembali menghela napas lega karena akhirnya ia bisa kembali duduk di kursinya setelah sedari tadi berdiri dengan kaki yang terus gemetar.
"Eiitss... tunggu dulu."
Panggil Cikgu Papa mencegat Boboiboy yang baru saja ingin menuju kursinya.
"Huuuffhh... kenapa lagi Cikgu? Jawaban saya betulkan?"
Ujar Boboiboy sedikit kesal.
"Umm... kenapa di kertas itu cuma ada soal No.2?"
"Eh...? Uhh..."
Boboiboy kali ini hanya bisa diam. Sudah tidak mampu untuk mengelak lagi. Wajah Boboiboy mulai ketakutan dengan jantung yang berdetak kencang.
"Alamak..."
Gumam Yaya pelan.
"Jangan-jangan kamu..."
"HAAA! Cikgu, saya mau maju untuk No.3!"
Seru Yaya memotong ucapan Cikgu.
"Bolehkan Cikgu? Bolehlah..."
Ujar Yaya langsung maju kedepan tanpa ragu dan langsung menuliskan jawabannya di papan tulis.
"Oh, kamu nampak semangat sekali ya? Inilah baru yang namanya anak murid kebenaran sejati! Jaranglah sekali anak murid yang seperti kamu ini. Patutlah... anak murid kebenaran semuanya... seharusnya..."
Ujar Cikgu Papa panjang lebar berceramah kepada para semua muridnya. Sementara Fang terus melirik tajam Boboiboy tengah berjalan kembali menuju mejanya.
"Sialan... kenapa dia selalu saja beruntung, sedangkan aku... aahhhh!"
Gerutu Fang kesal, kembali teringat akan bolanya.
~•Skip Time•~
"KRIIIIIINNGG..."
Bel istirahat telah berbunyi.
Para murid pun berbondong-bondong keluar dari kelasnya masing dan menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Sementara itu Fang masih diam di kursi dan seperti biasa tengah menopang dagu memandangi pemandangan yang ada di bawah dari balik jendela.
"Eh, t-tunggu Yaya..."
Suara seseorang yang tengah memanggil yang tidak sengaja terdengar oleh Fang.
Laki-laki berambut raven itupun menoleh masih dengan dagu yang ditopang. Setelah itu Fang tidak dapat mendengar lagi dengan jelas apa percakapan mereka dan hanya bisa memandanginya dari kejauhan.
Lalu pandangan Fang tertuju pada tangan Boboiboy yang tengah menggenggam selembar kertas, sama seperti kertas yang ia bawa saat tengah maju ke depan tadi.
Fang terus memandanginya hingga akhirnya Boboiboy menyodorkan atau memperlihatkan kertas tersebut pada Yaya. Sementara respon Yaya hanya menundukkan kepala dan terlihat tidak banyak bicara.
Fang masih terus memandanginya dengan seksama. Cukup lama mereka terlihat hanya saling diam dengan Boboiboy yang menggaruk-garuk kepalanya sambil terlihat mengangkuk pelan dan Yaya yang hanya menundukkan kepalanya.
Setelah itu Boboiboy tiba-tiba tertawa dan kembali bicara beberapa kata lalu mereka berdua berjalan keluar kelas. Yang sepertinya Boboiboy mengajaknya pergi ke kantin. Dan Yaya hanya menurut dan mengikutinya.
"Ahaaahh... aku rasa aku tahu bagaimana cara untuk mendapatkan kembali bolaku."
Kata Fang sambil melespaskan lengannya dari dagunya.
Fang akhirnya berdiri dari kursinya dan berjalan mengendap-endap mengikuti mereka berdua dengan penuh hati-hati dari belakang. Sesampainya di dalam kantin, Boboiboy dan Yaya berhenti sejenak, begitu pula dengan Fang yang ikut berhenti dan bersembunyi di balik gerbang kantin.
Setelah bercakap-cakap sebenter, kelihatannya Boboiboy yang pergi ke untuk membeli makanannya, sedangkan Yaya mencari kursi kosong dan hanya duduk menunggu.
"Hmm..."
Suara Fang mencoba mencari akal.
Ia kemudian kembali menoleh pada Boboiboy yang nampak tengah berdesakan dengan para pembeli yang lain.
"Ahahh!"
Gumam Fang mendapatkan ide saat melihat topi Boboiboy yang miring karena berada di tengah keramaian yang sedang berdesakan.
"Ya... aku rasa itu bisa berguna."
Gumam Fang dengan senyum jahat.
Fang pun mulai menjalankan rencananya. Ia mulai mempersiapkan diri kemudian beranjak pergi dari tempatnya untuk mencari posisi.
~Boboiboy's Scene
"HIIIIYAAAAAA!"
Teriak seorang super hero pengendali elemen tersebut.
Ia bukan tengah bertarung dengan Adudu ataupun sedang berperang. Namun kini Boboiboy tengah berjuang. Berjuang sekuat tenaga untuk bertahan dari kerumunan manusia dengan tangannya yang kini tengah menggenggam banyak makanan dan minuman.
Ia terpaksa menerobos kerumunan tersebut karena hanya itulah satu-satunya cara. Setelah berhasil membeli dan mendapatkan pesanannya, Boboiboy berjalan melawan arus arah para segerombolan manusia yang tengah kelaparan tersebut. Boboiboy mungkin bisa saja menggunakan kuasanya untuk menghadang mereka semua, menghempaskan mereka semua dengan mudah bagaikan kapas dan bulu-bulu yang berterbangan baginya. Namun ia pasti akan menyakiti orang lain jika ia menggunakan kuasanya. Dan ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Jadi... tidak ada pilihan lain selain mengorbankan tubuhnya sendiri.
""HIIIIYAAAAAA!"
Teriak juangnya kembali dengan keras dan penuh semangat seperti prajurit sparta yang tengah berperang dalam medan perang.
Di tengah perjuangannya tersebut, tiba-tiba ada seorang anak dengan tubuh yang sebesar dua kalinya tubuh Gopal muncul dari tengah-tengah kerumunan tetsebut. Lalu secara kuat menghantam tubuh kecil pria bertopi dinosaurus tersebut goyah dan membuat topi jingga tersebut makin longgar dari kepala sang pemilik.
"Sekarang saatnya!"
Kesempatan tersebut tentunya benar-benar tidak di sia-siakan oleh laki-laki berbaju merah marun yang telah menunggu lama.
Kemudian muncullah seekor tikus kecil yang berwarna hitam dengan mata merah, mata merah yang sangat merah dan terang. Tikus tersebut muncul dari sela-sela ubin retak yang memiliki lubang yang berada tepat di bawah kerumunan para murid tersebut.
Yang tidak lain dan tidak bukan tikus kecil hitam tersebut adalah Fang yang menjelma menjadi seekor tikus hitam yang sangat gesit dan lincah. Tikus tersebut berkeliaran diantara para kaki yang siap untuk menginjaknya. Namun dengan gesitnya Fang sang tikus dapat dengan mudah melewati itu semua. Bahkan ia berkeliaran dari bawah hingga ke atas tubuh para murid tersebut dengan merajalela. Bahkan hingga melompati jauh melalui kepala murid ke kepala murid yang lain.
Kemampuan para super hero yang dihasilkan oleh power sfera Ochobot memang telah meningkat tajam. Selain karena jam kuasa yang telah di upgrade, keteguhan Fang dalam melatih kuasanya membuat dirinya semakin hebat dan memiliki jurus-jurus baru yang telah ia ciptakan sendiri.
Tentu Fang melakukan hal nekat tersebut bukan tanpa adanya alasan. Sangat sulit baginya untuk menerobos kerumunan tersebut hanya dengan menggunakan tangan bayang yang dapat memanjang namun akan sangat mudah terinjak. Atau berubah menjadi burung yang dapat terbang namun akan sulit menghindar dan gerakannya yang lambat jika akhirnya jatuh dan berada di tanah. Jadi ia lebih memilih cara yang paling ampuh dan yang paling aman dengan menjadi tikus kecil yang mampu bergerak dan menghindar dengan cepat.
Tikus tersebut terus bergerak dengan cepat tanpa henti dan tanpa di sadari oleh siapa pun. Sampai akhirnya ia berhenti sejenak di atas kepala salah satu murid yang mengenakan sebuah topi sehingga tidak dapat menyadari kalau ada seekor tikus tengah bersarang di kepalanya.
Tikus hitam itu mendongakkan moncongnya ke atas seperti tengah melacak sesuatu. Tak lama kemudian Fang akhirnya mendapati Boboiboy yang berada tak jauh di depannya dengan tubuhnya yang sudah mulai melemas.
"Di sana!"
Teriak Fang yang hanya terdengar bunyi cicitan tikus jika dari luar.
Ia kemudian menggerakan kaki tikusnya untuk melompat dan kembali bergerak kesana kemari dengan cepat.
Dengan perjuangan yang cukup sulit ia akhirnya kini telah berada dekat dengan Boboiboy dengan posisi tubuh Boboiboy yang membelakanginya. Masih dengan terus berlari, Fang mencoba menghampiri Boboiboy yang terlihat tengah kacau.
Hingga akhirnya Fang hanya berjarak satu orang dengan Boboiboy yang ada di depannya. Dengan kaki belakang tikusnya, Fang berlari melompat ke bahu orang di depannya dan kemudian kembali melompat dengan menjadikan bahu orang terakhir tersebut sebagai pijakan.
Fang pun melompat dan melayang di udara, dan ia mengarah tepat kearah topi Boboiboy bagian belakang yang memiliki paruh. Dan kemudian Fang akhirnya menggapai topi tersebut dengan menggigit bagian paruh topi jingga tersebut dengan sekuat tenaga. Ia mencoba melepaskannya kelajuannya saat melompat di udara.
Namun cangkraman gigitan Fang telepas dan membuatnya terlontar cukup kencang yang membuat tubuh mungil tikus tersebut terbentur tubuh seorang murid dan melumpuhkannya sesaat. Setelah tidak lama kemudian, Fang sang tikus tersebut tersadar, membuka matanya dan sungguh beruntungnya ia telah menemukan dirinya berada dalam tas kantung yang cukup tebal. Seperti tas kantung tebal yang biasa di pakai untuk membungkus baju setelah berbelanja di supermarket.
Fang menghembuskan napas tikusnya sesaat memandangi kerumunan paling padat berada tepat di tempat Boboiboy saat ini. Dengan napas yang terengah-engah ia sempat berpikir untuk menyerah dan mengambil topi tersebut untuk lain kali. Namun ia kini tidak bisa menyerah karena ia harus mendapat bolanya hari ini juga.
Setelah merenungkannya sesaat, ia kemudian menelan ludahnya sendiri dan telah membuat keputusan.
"Baiklah... mari kita lihat apakah latihanku selama ini berbuah hasil."
Fang kemudian memejamkan matanya.
Kembali menghembuskan napas berat.
"Semoga percobaan jurus baruku berhasil"
.
.
.
.
.
.
## To Be Continue ##
.
.
.
.
.
A/N:
Waauuuwww akhirnya selesai juga chapter yang ke sebelas ini. Kalau boleh jujur, Author agak kurang yakin kalau masih ada yang baca atau ingat fanfic ini :'( Berhubung melihat tanggal publish pertama fanfic ini dengan tanggal terakhirnya di update begitu sangat jauh. Jadi... mohon maaf banget ya buat yang udah nunggu lama.
Sebenernya cerita lanjutan sih ada aja dan terus aja munncul di kepala Author yang membuat Author merasa kalau semua ide tercurahkan di cerita ini maka serasa enggak ada tamatnya bagi Author untuk nulis fanfic yang satu ini. Dan juga rencananya sebenernya untuk chapter 11 ini ceritanya bisa dua kali lipat pangjangnya dari yang ini. Tapi berhubung Author yang udah capek :D dan juga Author sengaja simpen lanjutannya dan pengen tau seberapa banyak yang masih baca nih fanfic lama yang berasa seperti fanfic baru karena tiba-tiba nongol lagi di daftar ff terbaru setelah lama udah enggak kelihatan lagi.
Oh iya, maaf kalau banyak typo yang beredar :D dan mungkin gaya penulisan atau rasa yang berbeda dari chapter ini dengan chapter-chapter yang sebelumnya. Karena mungkin udah berapa tahun atau berapa bulan aku udah lama enggak ngerasain rasanya jadi "Author" lagi. Tapi tetep aja ide-ide hebat selalu lewat di kepala. Dan bagian besar alur cerita fanfic ini udah jadi. Jadi, mungkin faktor yang mempengaruhi hanya kurangnya "semangat" atau mood dan juga waktu yang tersedia. Semua saran dan komentar bebas untuk diutarakan yang sangat Author butuhkan dan mohonkan untuk di ajukan di kotak review. Dan juga Author penasaran apa masih ada Reader setia yang masih selalu baca fanfic ini dari pertama Chapter 1 samapai sekarang ini.
Oke, sekedar catatan. Mungkin akan ada yang mengejutkan pada fanfic ini di bagian pairingnya. Dan akan ada tambahan scene action untuk chapter-chapter selanjutnya. Dan juga tentunya scene drama romantis yang lebih melibatkan konflik dan perasaan yang lebih komplek lagi. Jadi, tolong semua reviewnya ya! agar Author makin semangat lagi.
Dan juga selamat melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan bagi yang melaksanakan(termasuk Author). Dan selamat hari libur panjang dan juga para murid yang sedang menuggu ijazahnya(termasuk Author juga :D).
Oke, ketemu lagi di Chapter selanjutnya
