Yamada:*muncul dari semak-semak* haloo… Minna! Lama sekali ya, saia gak muncul dan menyapa kalian semua…
Daichi: cih, gak ada yang kangen tau sama lo! Dasar geer!*otak-atik laptop* Nah, selesai…kekekekeke
Yamada: lagi ngapain?
Daichi: bongkar akun FFN-nya si author pemalas.
Yamada:heeyy… ide bagus, dari pada menunggu si author pemalas itu ngerjain fic. Mending kita aja yang beresin.
Daichi: pertama, kita bales review dulu…*nyerahin kotak review*
Yamada: benar. Makasih banyak buat Icha Yukina clyne, Taviabeta-Primavera, Undine-yaha, Aizhirou Ajni, IbAy-KuN, Levinanana, Dark 47, 11291baskervile, 'cumma08, MICHIRU01, Miyu69 'Zzz, Merai Alixya Kudo, Enji86, Ai Kireina Maharanii, diangel, iin cka you-nii, dan Hikari Kou Minami udah dibales lewat PM sama si author pemalas itu, terus buat yang gak login,
Daichi: *obok-obok kotak review* ok dari White devil from hell, ya… aku mewakili author pemalas itu. Terima kasih review-nya ya. Suka bocah Hiruma dan Anezaki-chan? Kalau kamu terus ikutin fic ini, kamu pasti juga suka padaku, kekekekeke… dan makasih sudah bilang fic ini keren! Terharu Max~
Yamada: kenapa kau malah seperti si monyet itu?ckckck… baiklah, berikutnya Zisma hirumori hee? Keren? Arigatou gozaimasu….*bungkuk-bungkuk* ini, kami sudah update. Kami akan temani kamu baca^_^
Daichi: selanjutnya… ah dari TheMostMisteriousGirl…hahahaha! Penasaran ya, iya-iya… ini sudah lanjut ya.. sekali lagi mewakili author pemalas itu, douita:D
Yamada: yang ini dari Hime Youichi Uchiha, aku juga serius kalau disuruh jaga Mamo-chan. Tapi yaah, setan itu memang gak tahu siapa yang jadi lawannya! Hahahahaha….*ketawa laknat* Oke, ini dia…sudah update
Daichi: hontou ni gomenasai lana, si author jelek itu baru saja kehilangan semangat hidup, makanya dia gak update-update T_T. Yaah.. sekali lagi maaf udah menunggu, sekarang sudah update
Yamada: hay… salam kenal juga Narina. Itu bukan masalah, udah dibaca aja kita seneeng… Terima kasih banyak ya… kami sudah mengupdate:D meskipun lama
Daichi: haaayy…. Sweetiramisu maaf udah nunggu lama. Hee? Siapa yang bilang kalo pimpinan gak setuju? Kayaknya pimpinan lebih suka aku yang sama Mamori#dibazooka….. abaikan itu, aku gak mungkin sama Anezaki-chan. Baiklah, terima kasih banyak XD
Yamada: halooow…. bu-chan! Terima kasih udah sempetin review. Yuuya gak suka Mamori? Hmm.. sebenernya gak juga, buat yang HiruMamo, di chap ini mereka berdua menguasai. Jadi selamat menikmati. Terima kasih buat partisipasinya di wakareru, ditunggu ya…
Daichi: yang ini dari DarkAngelYouichi, gak masalah telat review dari pada telat update kayak author jelek ini. Gomen ne. Yang aku dan nona Chizue omongin? Itu rahasia kami berdua! Kekekekekeke*ketawa setan* heeeh, aku dekat sama nona Chizue? Benarkah?
Yamada: holaa juga michu, terima kasih udah pengertian*terharu* heee…. Ya, memang malaikat dan setan itu sok romantis*dibakar HiruMamo FC* tapi bisa menyatu atau enggak tergantung aku nantinya…kekekekeke*ketawa laknat-lagi* Chizue?*lirik Daichi* kita semua akan tahu diakhir chap ini.
Daichi: satu lagi dari Kazu agito, terima kasiih… udah mau bilang fic ini keren, nona Chizue suka sama Hiruma? Itu bakal terungkap di chap ini. Makasih banyak buat ide di Wakareru-nya ya…. Wakareru juga akan segera meluncur.
Yamada: yang ini review dari DEVIL'D, heee? Kamu mau tidur di kamarnya setan itu?ckckck… Ya, buat chap kemaren si author jelek emang gak terlalu banyak bikin HiruMamo, mereka kan udah sering muncul, terus soal Daichi dan Chizue*lirik Daichi lagi* kita liat nanti aja ya…
Daichi: satu lagi dari Reader, semoga kamu gak bosan nunggu fic gaje ini update ya, eeeh… emangnya ngapain si setan itu sama Anezaki-chan di kamar? Pimpinan bukannya gak setuju, cuma ada beberapa hal yang bikin dia begitu. Ck, lagi-lagi aku sama nona Chizue, apa kami seromantis itu? Hehe… makasih banyak
Yamada: haloo Chincaurus, iya…akhirnya update juga… semoga kali ini kamu gak jamuran lagi*plak* udah dijelasin sama detektif itu Yuuya suka Mamori apa enggak. Makasih banyak ya… tunggu Wakarerunya. Nah, selesai…
Mayou:* baru buka akun FFN dan nemuin 2 orang itu* heeee? Ngapain kalian keliaran sampe sini?
Daichi & Yamada: itu karena kamu lamaaa…
Mayou: hikz… kalian berdua gak tau apa kalo aku baru aja sedih*ngesot ke pojokan*
Yamada: kami tahu dan kami bosan,
Daichi: apa lagi kamu selalu bawa-bawa aku. Baiklah Minna… jangan urusi author pemalas itu, kita mulai aja ceritanya…..*buka tirai*
Dia tak pernah nampak.
Tidak ada yang pernah tahu siapa yang ada dibalik topeng itu.
Otak dari segala tindak keadilan demi memusnahkan
Kelompok mafia paling berbahaya yang disebut Dark Dragon
Dia menyutradarai segala misi untuk menggagalkan aksi Dark Dragon menguasai dunia.
Pria misterius yang diburu seluruh anggota Dark Dragon dengan
Bayaran melimpah.
Sekarang, dia akan menanggalkan topengnya demi melindungi
Sang malaikat.
Semua menyebutnya, "Agen No.1"
AGEN NO.1
Disclaimer: Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Story: Mayuo Fietry
Pair: Hiruma & Mamori
Genre: romance, crime
Rated: T (agak berat dengan tembak-tembakan)
Warning: OC,OOC akut, typo, cerita beda jauh sama Eyeshield 21 yang asli,
Crime kurang greget, romance gak kerasa, abal, jelek, gaje,
Sebaiknya siapin mental sebelum baca.
Chapter 11
Kenyataan
Mata biru milik Mamori mengerjap beberapa kali saat dia merasa sinar matahari yang sejuk menyapanya. Ia hampir membuka matanya ketika merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa lehernya. Gadis itu berfikir sebentar sebelum benar-benar membuka mata.
"KYAAAA….!"
"Berisik!"
"KYAAAAAAA….!"
Mamori malah berteriak lebih kencang saat menyadari apa-atau lebih tepatnya siapa yang ada di sebelahnya. Ia segera melompat dari tempat tidur. Sementara seseorang yang menyebabkan Mamori berteriak hanya menatap gadis itu dengan kekehan geli. Ia masih sangat santai merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mamori yang masih mengumpulkan kesadarannya.
"Seperti yang kau lihat manajer sialan, aku sedang tidur," jawab Hiruma seadanya.
"Maksudku, kenapa kau tidur di sini? Dan… Apa yang kau lakukan padaku?" nada bicara Mamori mulai meninggi. Membuat seriangai Hiruma makin lebar.
"Yang kita lakukan? Menurutmu apa yang dilakukan pasangan saat tidur bersama?" goda Hiruma sambil memamerkan seringai jahil dua taring andalannya. Mata hijaunya yang tampak cerah menatap kekasihnya dengan pandangan lucu. Menunggu reaksi Mamori.
Sementara gadis itu terdiam, ia duduk di tepi tempat tidur. Air mukanya tampak kusut, otak jeniusnya mencoba mengingat apa yang ia lakukan semalam bersama Hiruma. Tapi nihil, sedikit pun ia tidak ingat. Yang bisa ia lihat dalam otaknya hanyalah saat Hiruma kembali setelah bertemu dengan Kurita dan Musashi.
"Yang semalam itu, benar-benar luar biasa. Kau tahu, tidurku tidak pernah seindah itu, Ma-mo-ri," bisik Hiruma tepat di telinga Mamori dengan suara yang dibuat-buat.
"Youichi jangan bergurau. Aku sama sekali tidak ingat melakukan hal seperti itu!" jawab Mamori tegas. Hiruma terdiam sebentar, ia memperhatikan semburat merah yang membuat wajah malaikat kesayangannya itu lebih manis.
"Kau tidak perlu memasang wajah bodoh seperti itu, aku akan bertanggung jawab," kata Hiruma sambil melangkah meninggalkan Mamori.
"Youichi," panggil Mamori menghentikan langkah Hiruma.
Pria itu menoleh sedikit, memasang poker face andalannya. Membuat Mamori tidak menyadari perasaan geli yang menyerang hati Hiruma saat melihat tingkahnya. "Apa?" tanya Hiruma dengan tampang serius.
"Jawab dengan jujur, kita tidak melakukan apa pun kan semalam?"
"Sudah kubilang jangan khawatirkan soal semalam, aku akan bertanggung jawab," Hiruma menjawab cuek sambil melangkah keluar kamarnya.
Mata biru milik Mamori meredup memandangi Hiruma yang menjauh. Ia mengusap wajahnya dan sekali lagi mencoba mengingat apa yang ia lakukan bersama Hiruma semalam. Nihil. Ia tak bisa mengingat apa pun.
"Youichi pasti berbohong," ia mengambil kesimpulan. "Kalau kami melakukan sesuatu, aku pasti ingat. Lagi pula kapan Youichi tidak berbohong?" gadis itu akhirnya memutuskan.
#####
"Ohayou Anezaki-san, Hiruma," sapa Daichi saat dua orang itu bergabung dengannya di ruang makan.
Mamori mengangguk pelan. "Ohayou, Daichi-san," ucapnya. Sedangkan Hiruma sama sekali tak menyahut, ia melemparkan tas sekolahnya seraya duduk di samping Daichi.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Daichi pada Hiruma.
Setan itu menyeringai. "Kekekekeke….. Menyenangkan, detektif sialan," jawab Hiruma dalam sebuah bisikan.
Sang detektif menoleh, menatap mata emerald milik Hiruma. "Kau-" Daichi tidak melanjutkan kalimatnya, ia beralih menatap Mamori yang duduk berhadapan dengan Hiruma.
"Jangan berfikir macam-macam. Aku tidak melakukan apa pun dengan Hiruma-kun," protes Mamori menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Kekekeke…. Memangnya mau melakukan apa? Maaf saja ya, aku sama sekali tidak berminat melakukan hal yang aneh-aneh padamu!" kata Hiruma sambil melirik Mamori.
"Sudah kuduga kau berbohong, dasar-"
"Ohayou minna…." Sapa Chizue yang baru keluar dari dapur. Menghentikan ucapan Mamori. "Ayo kita sarapan," gadis itu tersenyum dan mengambil tempat duduk di samping Mamori.
"Heh, kemana si tua bangka sialan itu?" tanya Hiruma saat menyadari sejak tadi ia tak melihat ayahnya. Khawatir? Entahlah.
"Yuuya oji-san baru saja keluar dengan profesor Takeda," jawab Chizue.
"Kakekku masih disini?" tanya Mamori.
Chizue mengangguk, "Masih ada yang harus beliau lakukan, lagi pula tidak ada tempat yang lebih aman dari pada disini kan?" gadis itu melirik Mamori sekilas kemudian mulai menyantap sarapannya.
"Manajer sialan, kau harus ingat, rahasiakan hal ini. Kalau ada yang bertanya tentang kemarin, bilang saja kau tidak tahu apa-apa," Hiruma menerangkan.
"Baik, aku mengerti,' jawab Mamori. Mengakhiri pembicaraan mereka pagi itu.
#####
"Apa hari ini kau tetap nengadakan latihan, Youichi?" tanya Mamori saat mereka berdua baru saja sampai di stasiun Deimon.
"Tentu saja, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Lawan kita berikutnya adalah Ojou, kalau kalah berarti selesai, dan kau tahu kita tidak boleh kalah," jawab Hiruma santai sambil memasukan permen karet favoritenya ke dalam mulut.
Mata emerald Hiruma melirik Mamori sekilas, ia kemudian merengkuh bahu Mamori dengan lembut. "Eeh..?" Mamori menoleh kearah Hiruma yang tiba-tiba memeluknya. Ia menatap Hiruma yang tengah sibuk membuat balon dari permen karet dalam mulutnya. Malaikat itu tersenyum kecil.
Jauh dari jangkauan pandang keduanya, sepasang iris hitam memperhatikan mereka. Tampak kilat tak senang dari mata itu, dan sebuah seringai yang tak kalah seram dari seringai milik Hiruma terlihat.
"Youichi Hiruma," ia bergumam. Suaranya terdengar berat dan penuh kebencian. "Sudah kuduga bocah itu ada hubungannya dengan semua ini," ia melempar sebuah teropong yang ia gunakan untuk mengintai tadi.
"Jauhkan Anezaki dari bocah itu, maka semuanya akan beres," sekali lagi, seringai jahat itu nampak. Pemuda dengan bola mata hitam itu menyambar sebuah tas kemudian berlalu.
#####
Suasana SMA Deimon pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Semua murid sibuk membicarakan tentang kejadian tak terduga kemarin di tengah pesta kemenangan Devil Bats yang berhasil mengalahkan Dewa Kanto yang tak terkalahkan, Shinryuji Naga.
"Klub American football…"
"Kalian keren sekali kemarin,"
"Hebat, mengalahkan Shinryuji Naga itu prestasi yang luar biasa,"
Seperti itulah yang dibicarakan murid-murid seisi sekolah. Mulai dari murid-murid yang baru masuk di gerbang depan, ruang loker, kelas, bahkan sepanjang lorong sekolah. Sepertinya kejadian kemarin memang benar-benar kejadian luar biasa bagi mereka. Tak ada yang pernah menyangka akan ada baku tembak di lingkungan stadion.
"Kami sempat takut karena Mamori-neechan menghilang kemarin," kata Sena pada "kakak"nya saat mereka bertemu di ruang loker.
Mamori tersenyum kecil menatap Sena. "Aku baik-baik saja. Memang agak takut sih, tapi.. Hiruma-kun menyelamatkanku," meskipun samar, Sena bisa melihat semburat mereh di pipi Mamori.
"Jangan bergosip disini, manajer jelek. Ayo masuk ke kelas!" entah datang dari mana setan itu langsung menyeret Mamori menjauh dari Sena dan teman-temannya yang lain. Pria itu berjalan cepat meninggalkan sang Eyeshield 21 yang masih cengo. "Sudah kubilang jangan bicarakan soal kemarin pada siapapun."
"Tapi, itu tadi kan Sena," jawab Mamori yang berusaha mengimbangi langkah Hiruma.
"Kalau kubilang jangan ceritakan pada siapa pun itu artinya jangan ceritakan pada siapa pun. Termasuk si cebol sialan," jawab Hiruma ketus.
Pria itu terus menyeret Mamori sampai ke kelas mereka. Hiruma baru melepaskan Mamori. Mata emerald-nya memandangi seisi kelas, dan berhenti saat matanya menangkap sosok pemuda berambut merah dengan kaca mata berbingkai perak yang melindungi bola matanya yang berwarna hitam.
"Rambut merah sialan!" panggil Hiruma tegas. Suaranya yang khas mampu membuat semua yang mendengar bergidik ngeri. Termasuk si rambut merah yang dimaksud sang setan.
"Jangan memanggil orang seperti itu Hiruma-kun. Tidak sopan. Kau itu seperti mau memakannya saja!" protes Mamori.
"Cih… terserah aku, manajer sialan," jawab Hiruma. Ia kembali menatap mangsanya, "Kemarin kau menghilang kemana bocah jelek?" setan itu mulai mengintrogasi.
"Aa… entahlah, aku sendiri bingung Hiruma. Aku kehilangan kalian, aku takut, jadi aku mencari jalan keluar sendiri," Yamada-si rambut merah yang dimaksud Hiruma itu menjawab.
Hiruma hanya meletuskan permen karet dalam mulutnya menanggapi jawaban Yamada. Mata hijaunya menyipit memperhatikan pria itu. Tapi kemudian Hiruma mengalihkan pandangannya dan berlalu menuju bangkunya.
"Tapi kau baik-baik saja kan, Yamada-kun?" tanya Mamori lembut.
Yamada tersenyum kecil. "Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Anezaki-chan?"
"Ah, aku tidak apa-apa. Meskipun-"
"Manajer sialan! Guru sialan sebentar lagi masuk, kenapa kau masih di sana?" tanya Hiruma yang sengaja memutus ucapan Mamori.
Manajernya itu menoleh. Memperhatikannya yang tengah sibuk dengan laptop tercinta. "Iya," jawab Mamori segera menuju tempat duduknya."Pulang sekolah nanti, aku mau ke makam ayah dan ibuku," kata Mamori saat ia sampai di bangkunya. Ia menghadap Hiruma yang duduk di belakangnya.
"Hm," Hiruma menjawab seperlunya, bahkan tanpa melirik Mamori sedikitpun.
"Kau tidak mau mengantarku?" tanya Mamori. Ia menatap wajah tampan setan itu lekat-lekat. Menunggu jawaban Hiruma. Namun pria itu tetap diam. "Hey.."
"Cerewet," malah itu yang terlontar dari mulut Hiruma. Pria itu dengan cuek menggelembungkan permen karet mint dalam mulutnya. Membuat Mamori menggelembungkan pipinya mendengar jawaban Hiruma. Kesal.
"Ya sudah, aku ajak-"
'"Kau seharusnya tahu, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi dengan sembarangan orang setelah kejadian kemarin," ujar Hiruma pelan. Mamori menoleh, kembali menatap wajah Hiruma yang masih serius dengan laptopnya.
Diam-diam, gadis itu tersenyum kecil.
"Lihat, aku sudah dapat video pertandingan Ojou kemarin," Hiruma mengalihkan pembicaraan. Setan itu mengeluarkan seringai andalannya. "Edit video ini manajer sialan, dan aku mau hasilnya setelah pulang sekolah."
"Baiklah," jawab Mamori sembari memamerkan senyum malaikatnya.
#####
Tap tap tap
Sayup-sayup suara langkah itu menggema di ruang klub yang masih sepi. Hanya ada sang komandan yang masih serius berkutat dengan laptop kesayangannya di sana. Namun, sepertinya manusia setengah iblis itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara-suara barusan. Ia tetap tak bergeming dari tempatnya.
"Youichi,"
Bahkan panggilan itu tidak membuatnya menoleh.
Tak jauh darinya, mulai terlihat sosok gadis berambut merah kecoklatan tengah berjalan mendekatinya dengan membawa kotak P3K. Wajahnya tampak sedikit kesal karena sang kapten tak menggubris panggilannya sejak tadi.
"Hiruma Youichi. Dengarkan aku!" katanya tegas.
"Kau ini berisik sekali manajer sialan!" akhirnya setan itu membuka mulut. Ia menatap kekasihnya itu dengan malas. "Kau kangen padaku, heh? Ingin berdua-duaan denganku? Maaf saja aku sedang sibuk. Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal tidak berguna seperti itu!"
Wajah manis gadis itu memerah. Bukan karena malu, melainkan karena kesal. Ia menggelembungkan pipinya dan segera menghampiri Hiruma.
"Bukan! Dasar bodoh. Memangnya siapa yang mau berduaan denganmu?" ungkapnya kesal.
"Kalau begitu berhentilah memanggilku. Kau itu berisik," jawab Hiruma yang kembali sibuk dengan laptopnya.
Mamori menatapnya. Lebih tepatnya menatap lengan Hiruma yang kemarin sempat terluka. "Youichi."
"Ap-?" Hiruma menghentikan ucapannya karena secara tiba-tiba Mamori menarik blezer hijau yang membungkus tubuh Hiruma. "Mau apa kau manajer bodoh?" tanya Hiruma marah.
"Kau diam saja," jawab Mamori tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Hentikan. Lepaskan aku!" bentak Hiruma.
"Diam kataku!" Mamori balas membentaknya. Gadis itu melepaskan blezer Hiruma dan melemparnya ke sofa.
"Apa yang kau laku-?" sekali lagi kata-kata Hiruma terputus. Kali ini karena Mamori mulai menggulung lengan seragam Hiruma. Mata biru itu memperhatikan perban yang membungkus lengan pria itu.
"Tadi pagi kau tidak mengganti perbannya kan?" tanya Mamori sembari membuka kotak P3K yang dibawanya tadi.
Hiruma tidak menjawab. Sejujurnya saja, ia tadi sempat berfikiran buruk karena aksi manajernya. "Dasar manajer sialan bodoh," ia hanya bergumam pelan. Membiarkan Mamori mengganti perban yang membalut lukanya.
"Apa masih sakit?" tanya Mamori.
"Tidak," jawab Hiruma cuek.
"Kau pikir aku lupa bagaimana kau kemarin berteriak kesakitan? Masih saja sok kuat begitu!" kata Mamori seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. Ia dengan jahil menepuk lengan Hiruma yang terluka, dengan sangat pelan tentunya.
"Hey… Apa yang lakukan?" tanya Hiruma kesal. Ia mengelus lengannya menahan sakit.
"Dasar tukang bohong," ujar Mamori.
Setan itu memandang Mamori dengan kesal. Atau mungkin gemas. Entahlah, sulit untuk mengartikan tatapan Hiruma kali ini.
"Teman-teman yang lain belum datang?" tanya Mamori mengalihkan pembicaraan tanpa menghentikan kegiatannya. Membalut luka kapten tercintanya.
"Kekekeke…. Bukankah aku sudah bilang, anak-anak pemalas itu tidak akan datang untuk latihan. Bersiaplah untuk kalah, manajer sialan," jawab Hiruma seraya memamerkan deretan gigi runcing miliknya. Ia menatap Mamori dengan seringai kemenangan. Sekedar info saja, saat jam istirahat tadi keduanya sepakat untuk taruhan apakah anggota Devil Bats akan datang untuk latihan atau tidak.
"Mereka pasti datang," balas Mamori.
Baru saja Hiruma akan membalas, pintu ruang klub terdengar dibuka perlahan. Pasangan kapten dan manajer itu menoleh serempak. Memandangi anggota Devil Bats lainnya yang baru datang.
"Aku menang," kata Mamori, kali ini giliran malaikat itu memamerkan senyuman kemenangan yang begitu manis.
Sial! Hiruma merutuk dalam hati saat merasakan darahnya berdesir lebih cepat melihat tampang malaikatnya itu. Ia menutupi perasaannya dengan memasang sebuah seringai setan andalannya.
"Biar hari ini hari sabat dan kalian tidak perlu menggerakkan badan, masih tetap ada banyak hal yang bisa kalian lakukan. Semuanya keluar dari depan!" komandan neraka itu mengalihkan pembicaraan dan mulai memimpin pasukannya.
"Hiiieeee….!" itulah respon dari anggota lainnya.
Sementara Mamori hanya tersenyum menyaksikan kejutan yang dibuat Hiruma untuk anggota lainnya. Tak menyadari sepasang mata terus mengawasinya sambil tersenyum kecil.
Untuk beberapa saat Deimon Devil Bats disibukkan oleh instruksi dari Hiruma yang menerangkan tentang pembagian zona yang dijaga tiap defense Ojou. Sementara mereka sibuk terbang mengelilingi lapangan sekolah menggunakan helikopter yang kabarnya disewa pelatih Doburoku sebelum ia bangkrut, Mamori lebih memilih membereskan ruang klub dan menyiapkan minuman untuk teman-temannya yang lain nanti.
"Anezaki-chan,"
Mamori menghentikan aktifitasnya saat telinganya mendengar panggilan itu. Ia menoleh keasal suara. Matanya membulat sedikit melihat Yamada yang tengah berdiri di depan pintu ruang klub.
"Ada apa Yamada-kun? Apa kalian sudah selesai?" tanya Mamori sambil berjalan mendekati temannya itu.
"Belum, aku mau-eh, Anezaki-chan. Ada kecoa di pundakmu,"
"KYAAAAA….!" gadis itu spontan berteriak histeris. "Singkirkan… Jauhkan binatang itu dariku…!" teriak Mamori. Ia memejamkan mata dan tangannya bergerak kesana-sini tanpa kendali.
"I.. Iya, akan aku singkirkan. Tapi kau diam dulu," kata Yamada tenang. Ia mengulurkan tangannya ke pundak Mamori.
BRAK
Pintu ruang klub malang itu didobrak seseorang. Siapa lagi kalau bukan Youichi Hiruma. Pria itu tampak memamerkan AK-47 dalam genggamannya. Matanya yang hijau toska menyipit mencari sumber suara.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya saat menangkap sosok Yamada yang berdiri begitu dekat dengan Mamori.
"Hah, tidak apa-apa," jawab Yamada pelan. "Aku hanya mengambil ini," lanjutnya sambil menunjukan kecoa yang ia dapatkan dari pundak Mamori.
"Kyaaa….!" Mamori kembali menjerit dan segera menjauh dari Yamada. Keringat dingin mengaliri kening mulusnya. Wajahnya nampak pucat.
Hiruma mencibir. "Dasar manajer sialan, cuma kecoa saja kau bikin ribut," gerutunya. "Kau sudah dapat minumanmu, rambut merah sialan?" ia bertanya, kali ini matanya menatap galak Yamada.
"Eh, itu.. aku belum mengambil minumanku," jawab Yamada.
"Bawakan juga untuk bocah-bocah sialan yang lain," perintah Hiruma.
"Iya, baik." Jawab Yamada yang segera mengambil botol air mineral yang telah disiapkan Mamori sebelumnya. Tentu saja setelah ia membuang kecoa yang ia temukan di pundak Mamori tadi.
"Kau juga, manajer sialan. Bantu bocah sialan itu," kata Hiruma.
Mamori hanya mengangguk dan langsung melaksanakan perintah kaptennya.
#####
"Haaah" Mamori menghela nafas panjang setelah ia menyelesaikan tugasnya sore itu. Gadis itu menyandarkan punggungnya di sofa ruang klub. Matanya sedikit terpejam menahan kantuk. Latihan sore baru saja selesai lima belas menit lalu, dan untungnya Hiruma tidak memberikan banyak tugas pada Mamori. Hanya tugas untuk mengedit video pertandingan Ojou yang sudah Mamori selesaikan sejak tadi. Ruang klub ini juga sudah sangat bersih berkat kerja kerasnya, dan sekarang ruang klub yang tadi penuh sesak itu hanya menyisakan sang kapten dan manajer yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mata biru milik malaikat itu melirik Hiruma yang sejak tadi kencan dengan laptop tercintanya. "Youichi-kun," panggilnya pelan.
"Hm," jawab Hiruma seperlunya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Kita jadi pergi kan?" tanya Mamori.
Setan itu menghentikan aktifitasnya sejenak. "Kemana?" ia balik bertanya.
"Ke makam orang tuaku, kau lupa ya?"
"Oh," Hiruma menanggapi seenaknya lalu melanjutkan kencannya dengan laptop.
Mamori menggelembungkan pipinya menahan kesal atas sikap kekasihnya itu.
"Ayo berangkat,"
Mamori menoleh dan menatap Hiruma yang entah sejak kapan berdiri di depannya dan sudah siap untuk pergi. "Kau, sejak kapan membereskan-?"
"Dasar lambat!" Hiruma memotong kata-kata Mamori dan menarik tangan gadis itu, membuatnya bangun dari sofa.
"Eeh… Youichi!"
Hijau emerald milik Hiruma menyipit saat mata itu menemukan sesuatu yang ganjil di tubuh kekasihnya. Ia mendekatkan tubuh Mamori padanya.
"Youichi, apa yang kau-"
Hiruma membekap mulut Mamori dengan lembut. Menghentikan kata-kata sang manajer.
Mamori menatap Hiruma dengan pandangan bingung. Tapi gadis itu tidak berontak. Ia menuruti perintah Hiruma untuk diam.
Tangan panjang milik Hiruma meraba tengkuk Mamori dan meraih benda kecil hitam seperti tahi lalat yang ia temukan di sana. Ia memandanginya sebentar sebelum melepaskan Mamori.
'Jangan bicara apa pun soal ini sekarang.'
Tangan Hiruma dengan lincah membentuk kata sandi yang hanya dimengerti mereka tepat saat Mamori akan bertanya.
Mamori mengangguk kecil.
"Ayo," kata Hiruma. Pria itu kemudian langsung berjalan mendahului Mamori.
"Eh.. Iya," jawab Mamori yang langsung menyusul langkah Hiruma.
Sepanjang perjalanan keduanya memutuskan untuk diam. Tak ada yang berinisiatif untuk membuka obrolan. Hiruma masih sibuk mengamati benda yang ia dapatkan tadi, sementara Mamori sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu sampai di statiun, Hiruma membuang benda yang ia temukan tadi ke tempat sampah.
"Kau disadap," setan itu bicara dengan suara yang amat kecil. Namun cukup untuk didengar Mamori.
"Aku?" Mamori menunjuk dirinya sendiri. "Siapa..?"
"Mana aku tahu," jawab Hiruma sebelum Mamori menyelesaikan kalimatnya. "Yang jadi masalah, kalau ternyata kau disadap sejak kejadian kemarin, semua rahasia Phoenix terbongkar," ungkapnya. "Siapa saja yang berhubungan denganmu sejak kemarin?" Hiruma itu menatap Mamori tajam.
Sementara Mamori mulai mengingat-ingat siapa saja yang berada didekatnya sejak kemarin. Malaikat itu menggeleng pasti. "Tidak ada," jawabnya pelan.
Keduanya melangkah bersamaan saat kereta yang mereka tunggu tiba. Tak ada respon dari Hiruma. Pria itu sibuk mempekerjakan otak jeniusnya.
"Mungkinkah itu dari temanmu, salah satu anggota-?" Mamori coba menebak.
Hiruma menatapnya dengan satu alis terangkat. "Kau ini bodoh atau bagaimana?" tanyanya.
"Eh?"
"Kau pikir untuk apa orang-orang sialan itu menyadapmu? Lagi pula, tidak ada yang boleh bertindak di luar perintahku."
Mamori mengangguk paham. Ia mengikuti Hiruma duduk di deretan belakang gerbong yang mereka tumpangi.
"Kalau begitu, bagaimana bisa aku…?" gadis itu menggantungkan kata-katanya. Ia tahu, Hiruma tidak akan membiarkannya mengatakan hal yang bersifat rahasia di tempat umum.
"Ada yang menguntitmu," jawab Hiruma pelan. Pria itu memperhatikan jendela yang ada di samping Mamori. Menikmati pemandangan yang disajikan langit sore di luar. Mungkin. "Kau diam saja. Aku akan menyelesaikan semuanya. Mulai sekarang, kau harus lebih berhati-hati," ucapnya serius.
Sekali lagi Mamori mengagguk tanda mengerti.
"Tidak ada tempat yang aman untukmu,"
Glek!
Mamori bisa merasakan bulu kuduknya meremang mendengar ucapan Hiruma. Tidak ada tempat yang aman untuknya. Apakah keadaannya sekarang begitu mengancam? Pikirnya.
"Tak ada yang perlu ditakutkan,"
Mamori menoleh kearah Hiruma saat mendengar gumaman pelan kekasihnya itu. Matanya mencari-cari wajah Hiruma yang tertunduk. "You-"
"Karena aku tidak akan membiarkanmu terluka," Hiruma memotong kalimat Mamori seraya menolehkan kepalanya kearah gadis itu.
Malaikat itu tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Ia menghela nafas sebelum menyandarkan kepalanya di bahu Hiruma. Menghirup dalam-dalam wangi maskulin yang begitu memabukannya.
Hiruma sendiri membiarkan Mamori seperti itu. Ia juga menikmati wangi vanilla yang menguar dari tibuh malaikat kesayangannya itu. "Besok lusa kita akan pergi ke Ojou," Hiruma kembali membuka percakapan.
"Eh?" bola mata milik Mamori berputar perlahan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Hiruma dengan pandangan bingung. Sementara setan itu hanya menggelembungkan permen karet dalam mulutnya.
"Apa?" Hiruma bertanya balik saat mendapati Mamori terus-terusan menatapnya.
"Mau apa kita ke Ojou?"
Dua orang itu bangkit dari tempatnya saat kereta yang membawa mereka telah berhenti di stasiun berikutnya.
"Festival sekolah," Hiruma menjawab singkat sambil berjalan di belakang Mamori. Gadis di depannya itu menganggukan kepala tanpa menghentikan langkahnya. Meskipun dalam hatinya masih menyimpan pertanyaan kenapa Hiruma tumben sekali mau menghadiri festival sekolah. Tapi gadis itu lebih memilih diam dan terus mengikuti Hiruma yang mulai beranjak meninggalkan stasiun.
"Hey," Mamori menepuk bahu Hiruma sambil menghentikan langkahnya saat ia menemukan sebuah toko bunga tak jauh dari tempatnya berrdiri.
Setan itu menoleh padanya tanpa bicara apa pun.
"Belikan sedikit oleh-oleh untuk ayah dan ibu," ujar Mamori yang kemudian menarik tangan Hiruma menuju toko bunga yang sejak tadi ia pandangi.
Sementara pria itu tak berkomentar. Tumben sekali. Ia membiarkan saja Mamori membeli beberapa tangkai lili putih yang akan gadis itu persembahkan pada orang tuanya.
"Ngapain kau membelikan bunga buat orang-orang yang sudah mati? Itu tidak akan membantu. Hanya mengotori makam mereka saja, lagi pula bunga sialan seperti itu hanya akan membusuk," oh, akhirnya dia berkomentar.
"Memang benar sih," jawab Mamori pelan sambil memandangi sebuket lili putih dalam genggamannya. "Tapi, setidaknya aku ingin menunjukan bahwa aku menyayangi mereka, kau tahu arti-"
"Kau sudah memberikan doa buat mereka saja itu sudah lebih dari cukup," Hiruma memotong kalimat Mamori dengan suara yang amat pelan. Ia kemudian beranjak meninggalkan gadisnya sebelum Mamori menghujaninya pertanyaan.
Gadis itu menatap langkah Hiruma dengan pandangan bengong, apakah tadi ia tidak salah dengar. Tapi kemudian ia tersenyum kecil. Setelah membayar bunga yang dibelinya, Mamori langsung menyusul Hiruma yang sudah ada di depan pintu.
#####
Dua orang memandangi pagar besi yang tampak usang di depan mereka. Seperti sebuah tempat yang tak pernah didatangi orang sebelumnya. Langit sore yang mulai memudar menambah kesan mistis yang mendalam di tempat itu.
Mamori bahkan bisa merasakan bulu kuduknya berdiri tegak saat ia mendengar suara binatang-binatang malam yang mulai bermunculan.
"Ini?" ia bertanya pada pria di sebelahnya. Tangannya menggenggam erat lengan kekar kekasihnya. Sementara tangan lainnya mengencangkan genggamannya pada bunga yang ia beli tadi.
"Apa?" tanya Hiruma yang tidak mengerti-atau pura-pura tidak mengerti ucapan Mamori.
"Kau yakin kalau ini tempat ayah dan ibuku dimakamkan?" tanya Mamori memastikan. Bola matanya masih menatap lekat Hiruma.
"Tentu saja, cepat masuk," jawab Hiruma datar. "Aku tunggu disini," lanjutnya.
"Eeh?" bola mata itu membulat. "Kau tidak ikut masuk?"
"Aku malas, kau masuklah sendiri, temui orang tua sialanmu dan cepat kembali. Aku tunggu disini," kata Hiruma cuek sambil menghempaskan tubuhnya di kursi bobrok di bawah pohon besar yang tak jauh darinya.
"Tapi, bukankah kau bilang aku tidak boleh dibiarkan sendirian?" tanya Mamori. Jujur, ia lebih senang kalau Hiruma mau ikut dengannya. Tempat ini begitu penuh aura yang tidak menyenagkan bagi Mamori.
"Tidak ada yang akan mengganggumu di dalam sana, manajer sialan. Cepat masuk. Jangan menghabiskan waktuku, atau kutinggal kau!" setan itu malah membuka laptopnya dan mulai bermain dengannya. Membiarkan Mamori yang masih belum beranjak dari tempatnya.
Hiruma melirik Mamori dari sudut matanya saat ia menyadari tidak ada raspon dari gadisnya itu. "Kenapa kau masih disitu, manajer sialan?" tanyanya.
"Iya… Iya, aku akan masuk sekarang," jawab Mamori yang agak kesal.
"Kalau ada apa-apa, kau teriak saja. Aku akan langsung datang," Hiruma bergumam pelan sembari menatap laptopnya. Tapi suara itu cukup jelas untuk didengar Mamori seorang. Gadis itu tersenyum kecil kemudian mengangguk. Ia menatap Hiruma sekali lagi, pasti ada alasan tepat kenapa Hiruma tidak mau mengantarnya ke dalam. Mata biru miliknya menelusuri tempat itu. Ia mengambil nafas sebelum melangkahkan kakinya masuk area pemakaman itu.
Sepi.
Sesekali ia menoleh ke belakang. Hanya untuk memaastikan apakah Hiruma mengikutinya atau tidak. Tapi ia tak melihat keberadaan Hiruma di dekatnya. Hiruma tidak mengikutinya ternyata. Mamori berkali-kali menghela nafas untuk sekedar menghilangkan rasa takutnya.
Jujur saja, saat ini bulu kuduk mamori sudah menegak sempurna. Bagaimana tidak, sejauh mata memandang yang ada hanya deretan nisan yang hampir semuanya tampak begitu tua dan rapuh.
Sudah begitu, Mamori harus mengecek nama yang tertera di nisan-nisan itu. Karena ia tak ingat apa yang terjadi saat pemakaman orang tuanya, dan dimana mereka berdua dimakamkan.
Deg!
Tiba-tiba saja langkah Mamori terhenti saat matanya matanya menangkap sosok gadis dengan gaun hitam selutut tengah berdiri agak jauh dari tempatnya. Mamori tak bisa melihat wajahnya karena gadis itu membelakanginya.
Seketika Mamori merasakan kakinya gemetar, matanya membulat namun tak berpaling sedikit pun dari sosok itu. Dengan amat sangat perlahan, gadis itu mulai kembali melangkahkan kakinya. Tidak, bukan berbalik. Melainkan menuju sosok misterius itu.
Dekat, semakin dekat.
"Astaga!"
Mamori terkesiap dan sempat mundur beberapa langkah saat gadis misterius yang kini ada di depannya itu menoleh. Takut? Bukan. Mamori bukannya takut, hanya saja ia terkejut dengan gerakan tiba-tiba gadis itu.
"Mamori-san?"
Mamori menatap gadis itu dengan pandangan bingung. "Chizue-chan?" ucapnya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Chizue. "Maksudku, sekarang kan sudah sore sekali," ia mengkoreksi pertanyaannya.
"Eh, tidak. Tadi aku dari sekolah dan ingin mampir kemari sebentar," jawab Mamori yang masih berusaha menyembunyikan kekagetannya. Meskipun sayang sekali, usahanya tidak bisa menipu agen rahasia terlatih seperti Chizue. Gadis itu sempat melihat ekspresi mikro di wajah cantik Mamori.
"Maaf, aku mengagetkanmu," kata Chizue sembari tersenyum.
Mamori menatap gadis itu, dia sadar kalau aku kaget, pikirnya. "Tidak apa-apa, Chizue-chan," jawabnya yang kini mulai merasa agak tenang.
"Kau sendirian?" tanya Chizue lagi. Kali ini ia sembari meletakan beberapa kuntum bunga di makam yang tepat berada di depannya.
"Hiruma-kun bersamaku tadi, tapi dia tidak mau masuk,"
Chizue tersenyum tipis. "Sudah kuduga," ia bergumam tak jelas.
"Eh?" mata Mamori membulat menemukan nama Mami dan Tateo Anezaki di batu nisan yang ada di depannya. "Ayah dan ibuku," ucapnya lirih. Segera saja gadis itu berjongkok di depan makam kedua orang tuanya.
Air bening mulai meluncur dari pelupuk matanya, gadis itu terpejam. Mengirimkan doa untuk orang tua tercintanya.
"Mamori-san," panggil Chizue seraya duduk di samping Mamori. "Kau tahu tidak, yang dimakamkan di sini semuanya korban Dark Dragon," ia menatap Mamori yang tengah menghapus air matanya.
Gadis itu menoleh kearah Chizue sebentar.
"Itu makam ibu Youichi-kun," tangan ramping Chizue menunjuk makam di samping makam orang tua Mamori. "Dan di sebelah sana, ada makam orang tuaku," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.
"Chizue-chan, kau juga-"
"Bukan cuma aku dan kau. Youichi-kun, Daichi-kun dan semuanya juga pernah merasakan kehilangan orang-orang yang kita sayangi,"
Mamori terdiam mendengar penuturan gadis di sampingnya itu.
"Kami juga merasakan perasaan sedih yang sama sepertimu. Yah, sakit sekali rasanya saat Dark Dragon membunuh ayah dan ibuku. Makanya, aku dan yang lainnya akan memberantas Dark Dragon. Tidak ada orang lain yang boleh bernasib sama seperti kita," Chizue tersenyum kecil diakhir kalimatnya sembari menatap Mamori. "Makanya, Mamori-san juga jangan terlalu bersedih ya. Karna kami, Phoenix, adalah keluarga Mamori-san," ia mengusap tangan Mamori dengan lembut.
"Iya, kau benar. Terima kasih banyak." balas Mamori seraya membalas senyum Chizue. "Ngomong-ngomong, Chizue-chan. Boleh aku tanya sesuatu?"
Mata oranye cerah milik Chizue berputar menatap Mamori.
"Sebenarnya, kau punya hubungan apa dengan Hiruma-kun?" akhirnya, setelah Mamori berusaha memendam pertanyaan itu. Ia melontarkannya juga. "Maksudku, kau kan memanggil dia Youichi, apakah kalian…" Mamori menggantungkan kalimatnya. Ia tidak tahu, apakah ini pantas untuk ditanyakan atau tidak. Rasanya tidak sopan kalau ia bertanya tentang urusan pribadi gadis di depannya itu.
"Youichi. kau yakin mau tahu?" Chizue balik bertanya.
"Eeh.. Tidak usah dijawab juga tidak apa-apa," jawab Mamori yang entah kenapa jadi kikuk.
Chizue tersenyum. "Tidak apa. Tapi.." gadis itu menghembuskan nafas perlahan. Seperti mencairkan ketegangan. "Youichi-kun itu tunanganku."
Chapter 11 end
Nyahahahaha….entah kenapa malah saia potong disini#ngais aspal
Tadinya niat saia lanjutin tapi kayaknya cukup segini aja dulu. Makasih banyak yang sudah mau menunggu beberapa bulan ini. Saia benar-benar minta maaf karena gak bisa update cepat. Tapi mulai sekarang, saia akan berusaha buat update lebih cepat. Doakan saia minna~
Akhir kata*koq kayak pidato ya* saia mohooonn dengan sangat review dari readers semua, demi kelancaran fic gaje ini…. Dan maafkan dua mahluk gaje yang mengacau tadi T_T
Sampai ketemu secepatnyaa…#dadah-dadah gaje XD
