Disclaimer : Hunter x Hunter, togashi yoshihiro

Pairing : KilluaxOC

Category: tragedy, Hurt/Comfort.

Rated : T.

Warning : bisa ketularan gaje (?)

yosh, mumpung ada waktu sebelum UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional), UAP (Ujian Akhir Pesantren), sama UN (Ujian Nasional). Jangan salah kira kalo ai ga belajar, ai lanjutin fic kalo ai udah cape belajarnya, hehe. Yah, itung itung refreshing otak. Dan malam ini ai lagi bete karna jaringan internet yang lemot, jadi pelampiasannya ngelajuitin fic (gomen ne fic, lah? Abaikan!).

Dan makasih yang udah review, asli deh review-nya bermanfaat banget. Jadi ai bisa nulis fic yang lebih bagus, baik dan benar. Sesuai dengan peraturan yang berlaku (eh?)

Okeh mungkin dichapter ini aga gajebo ato ngelucunya ga lucu (lantas?*abaikan!). ni author kebiasaan yah, sebelum lanjutin fic suka cuhat dulu, curhatnya panjang lagi. Dah deh dari pada ni author makin ngaco, mending langsung aja baca. Yosh, selamat menikmati !.

Oh ia, ai kalo ngetik emang sering banget yang namanya typo, karna ai sering typo jadi ai jadiin typo itu ciri khas ai deh, kalo ga typo bukan ainaka-chan namanya, hahahahaha *abaikan!

.

.

.

Chapter 11 : anak tenar X penjajahan killua.

Ana POV

ini saatnya istirahat setelah bel berbunyi beberapa saat yang lalu. Entah mengapa dan bagaimana perutku selalu saja lapar disaat bel istirahat berbunyi, mungkin bel yang berbunyi itu adalah tanda bahwa perutku harus diisi atau mungkin bel mempunyai radar tersendiri dengan perutku sehinnga perutku pasti lapar saat bel berbunyi. Ah entah lah.

Karna perut yang tidak mendukung, pastinya aku langsung saja berdiri dengan tujuan kantin untuk mendapatkan sebuah makanan yang mampu membuat cacing yang mendemoi perutku ini berhenti. Namun saat aku berdiri, belum saja aku sempat melangkahkan kakiku, seorang alias killau yang duduk disampigku menggenggam tanganku dengan erat. Seakan melarangku pergi.

"kamu mau kemana?" tanya killua yang masih duduk ditempatnya sambil melihat buku pelajaran yang terbuka datas mejanya tanpa melihatku.

Aku yang memang sudah lapar berusaha lepas dari genggamannya. Dan memberikan alasan agar aku bisa terlepas darinya."aku mau pergi kekantin, masa lagi laper malah ke wc?" jawabku aga kesal sambil menerutkan kedua dahiku.

Bukannya melepaskan genggamannya, dia malah mempererat genngamannya yang berhasil membuat darahku naik.

"ada apa lagi?" protesku sambil enarik tanganku mencoba lepas dari genggamannya.

"kamu masih ingatkan perjanjiannya?" jawabnya tanpa ekspresi sambil melihat kearahku setelah menutup buku yang tadi masih terbuka diatas mejanya.

Okeh, aku memang lupa dengan syarat yang telah diberikannya padaku yang harus kupenuhi untuk mendapat maaf darinya. Aku harus menuruti perkataannya, dan yang pertama adalah selalu dekat dengannya, yang kedua aku harus izin jika aku ingin pergi ke wc atau harus jauh darinya dan yang ketiga kalau aku membantah waktu perjanjian akan bertambah satu minngu. Aku tau itu adalah sebuah syarat yang tidak adil bahkan perjanjian yang kami buat ini lebih cocok disebut sebagai 'pejajahan bagiku' dimana dia sebagi rajanya dan aku sebagi budaknya.

"ya ya ya, aku ingat itu" Kataku dengan nada yang diayunkan bagaikan mengejeknya. lalu duduk kembali."lalu? aku harus apa sekarang? Huh? Kau tidak memikirkan perutku yang lapar?" kataku ketus.

"kamu ga lupa kan siapa pemenang dari tantanganmu?" jawabnya santai sambil melihatku dan mengangkat kedua keningnya.

"ia, aku ingat. Pemenangnya adalah kamu, lalu?" aku mulai tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya.

"dan?" katanya seakan menyuruhku mengingat sesuatu.

Dan dia berhasil mengingatkanku apa yang seharusnya dikerjakannya jika pemenangnya adalah dia. Yaitu, jika pemenangnya killua berarti aku harus makan makanan buatannya setiap hari. Benar juga. Sekarang dia yang bertanggung jawab atas makan siangku.

"baiklah kalau begitu, mana makan siangku?" tanyaku sambil menjulurkan tanganku padanya. Apalagi kalau bukan untuk meminta makan siangku?

"ada syaratnya." Katanya sambil mengangkat telunjuknya yang berarti aku tidak boleh memakan makan siangku kalau aku tidak memenuhi syarat yang akan diberikannya padaku.

Aku tau ini memang sesuatu yang sangat aneh. Mana ada seseorang yang meminta haknya malah diberi syarat, tapi aku harus bagaimana lagi? "he? Ada syaratnya? Yang benar saja?" kataku mulai naik darah lagi.

"tenang aja. Ga susah ko." Jawabnya santai seakan dia tidak berbuat kesalahan apapun.

Aku mencoba menenangkan hatiku dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Terus syaratnya apa?" kataku masih mencoba tenang.

"sekarang tutup matamu!" jawabnya tanpa ekspresi sedikitpun, ya walaupun dengan nada yang memerintah.

"eh? kenapa harus tutup mata segala sih?" kataku dengan nada yang tinggi lagi. Aku memang mulai muak sengan semua perintahnya.

"kamu mau protes?" tanyanya seakan mengejekku.

Aku memang tau dan masih ingat dengan perjanjian kita yang membuatku seakan dipenjara. Dan perjanjian terakhir yang diperintahkan olehnya adalah 'jangan membantah!' jika aku membatah, maka resikonya adalah penderitaanku yang semakin panjang.

"yah, baiklah," jawabku pasrah.

Karna tidak ada pilihan lain lagi, ya aku harus menutup mataku, karna aku tidak mau menderita selamanya apalagi dikerjain olehnya yang jailnya luar biasa.

Aku mentup mataku menuruti perintahnya, kalau tidak aku pasti tidak akan menutup mataku. 'Ribet banget sih ni cowo, mau ngasihin makanan aja harus tutup mata' keluhku dalam hati.

Setelah aku menutup mataku, killua kembali menutup mataku dengan sebuah kain lembut, namun entah apa, yang kurasakan hanya sebuh kain lembut yang menutupi mataku sekarang. Entah apalagi yang akan diperbuatnya. Apa dia akan mengerjaiku lebih dari ini? ah, entahlah. Aku hanya bisa menurut sampai waktu perjanjian selesai.

"jangan banyak protes! Ikuti saja aku!" perintahnya.

Aku hanya mengangguk, ya karna kalau aku protes bisa-bisa aku jadi tawanannya seumur hidup. Padahalkan aku hanya ingin dapat maaf dari dia, tapi kenapa aku harus jadi tawanannya? Huh, tidak salah kalau aku menyebutnya orang paling menyebalkan sedunia.

Dia menarik tanganku mengajakku berjalan entah kemana. Tidak lama dari perjalanan kami aku mendengar banyak orang yang berbisik entah membisikkan apa, dan beberapa dari mereka memanggil nama killua. 'sebenarnya apa yang sedang terjadi? Dan aku, aku diaman?' tanyaku dalam hati.

"jangan dengarkan." Killua berbisik ditelingaku yang menbuatku merasa geli karna nafas yang berhembus ditelingaku.

"memangnya kita mau kemana sih?" tanyaku penasaran masih berjalan bersama killua.

Killua tidak menjawab ertanyaanku, dia hanya diam tanpa meresponku sama sekali.

Tidak lama kemudian killua berhenti dan akupun ikut berhenti tentunya. Perlahan dia melepaskan genggamannya dan membuka ain yang mengikat dikepalaku dari tadi.

"nah sekarang kamu boleh membuka matamu!" katanya sesaat setelah mebuka penutup mata yang diikatnannya padaku.

Perlahan aku mebuka mataku dan…

"indah" lirihku.

"bagimana menurutmu?" tanyanya sambil melihatku dan memperlihatkan senyum manisnya.

"sejak kapan kamu merubah tempat ini?" tanyaku tak percaya.

"em… bukan aku sih yang merubahnya." Katanya sambil menggaruk pipi kkirinya yang kurasa tidak gatal.

"lalu?" tayaku heran.

'kalau bukan dia? Lalu siapa?' tanyaku dalam hati.

"adaaaaaaa aja." Katanya lalu menatap lurus sambil tersenyum, entah senyum untuk apa.

"kamu yah?"

"ayo kita kesana! Kamu ga mau kan kita makan sambil berdiri disini?" katanya sambil menujuk sebuah kursi kayu dibawah pohon yang tidak jauh dari tempat kami berdiri sekarang.

Aku mengangguk dengan semangat sambil tersenyum bahagia.

Ini, ini sangat menakjubkan. Kalian tau? tempat yang berada dibelakang gedung sekolah, tempatku berdiam diri saat aku merasa sedih? Tempat yang jarang sekali didatangi orang yang yah, berantakan kini berubah menjadi syurga. Maksudku berubah menjadi sangat indah. A-aku, aku sangat tidak menduga dengan tindakan killua ini sekaligus membuatku heran. Untuk apa dia melakukan ini semua? I-ini terlau menyenangkan bagiku. Dan sangat sangat sulit dipercaya.

Saat kami sampai di tempat yang kami tuju, aku langsung saja duduk diatas kursi kayu yang berada dibawah pohon rindang tempatku biasa berdiam diri.

"nih, kau laparkan?" Katanya sambil menjulurkan sebuah misting (misting aja yah biar lucu, dari pada pake kertas nasi, hehe *abaikan!) berwarna biru.

Aku mengambil misting biru yang diberikan killua kepadaku dan menanyakan apa isi dari misting itu. "kamu masak apa? ini bukan racun kan?" candaku.

"itu memang racun! Itu racun khusus yang kubuat untuk membunuhmu!" jawabnya dengan nada yang dibuat seram.

"oi oi itu ga lucu tau." kataku tanpa ekspresi dan nada.

Dia memalingkan wajahnya dariku dan memandang lurus. "ya sudah, lagi pula ga ada untungnya kalau aku membunuhmu. Adanya juga aku ga punya orang yang bisa kubuat marah." Katanya lalu membuka bekal yang dibawanya.

Aku juga membuka bekal yang diberikan killua kepadaku, lagi pula perutku juga sudah mamanggil makanan berkali-kali untuk masuk kedalamnya mengingat para cacing yang kelaparan itu tidak bisa ditoleransi. Dan ternyata killua membuatkan spageti untukku dan untuknya.

Aku mulai memakan spageti buatan killua. Makanan ini membuatku mengingat kejadian saat aku pergi meninggalkannya yang sedang memasakkan ku sup dan karna kejadian itu pula aku harus menjadi jajahannya kali ini dan sebulan kedepan.

Tttteeeeeeeetttttttttttt…. Tttttttteeeeeeeeetttttttt…

Bel pun berbunyi. Waktu yang kami lalui siang ini tidak terasa bahkan seakan baru 5 menit yang lalu bel berbunyi dan aku diajak ketempat ini oleh killua. Yang pasti ini hanya perasaanku saja dan spageti buatan killua sudah habis kumakan. Dan rasa masakan killua kuakui memang sangat enak, bahkan lebih enak dari buatanku. Dan sebuah pemikiran bodoh terlintas diotakku 'Atau mungkin ayah killua seorang koki?' fikirku. Ah sudahlah, yang penting sekarang aku harus masuk lagi kedalam kelas sebelum sensei masuk kedalam kelas.

SKIP TIME….

(ga usah dijelasin yah belajarnya gimana, soalnya sama-sama aja ko diem di bangku duduk sambil merhatiin guru, kalo bete ya tidur *eh? ko tidur? ABAIKAN!)

Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam kelas namun kali ini tanpa killua karna perjajiannya pun 'aku harus berada didekatnya jika aku berada di sekolah atau dikantin.

"ana!" teriak seseorang yang sudah sangat familiar ditelingaku.

Aku berbalik dan melihat sosok perempuan yang sedang melambaikan tangannya kearahku diantara orang-orang yang sedang berjalan menuju keluar sekolah. Perempuan itu yang tidak lain adalah neon sahabatku. Dia berjalan setengah berlari menghampiriku. Dan aku aku hanya diam dan menunggunya sampai ketempatku berdiri sekarang.

"ada apa?" tanyaku saat dia sampai didepanku.

Nafasnya tersengal-sengal mungkin karna dia tadi berlari kecil saat menghampiriku. Namun ada sesuatu yang lain yang kulihat dari raut wajahnya. Raut wajah yang biasanya terlihat bahagia itu kini terlihat cemas atau mungkin bisa dibilang sangat cemas.

"ma-machi dan teman-temannya akan menunggumu di lapangan basket dan akan mencegat kepulanganmu di gerbang, jadi kamu tidak bisa pulang sekarang." Katanya terbata-bata.

Machi? Ada apa lagi? Setauku, aku ga pernah ada urusan dengannya.

Aku mengerutkan keningku sambil menatap wajah neon yang masih melihatku dengan tatapan khawatir.

Aku menepuk bahu kiri neon dan mecoba menenangkannya. "sudahlah neon, kau tidak usah khawatir" kataku mencoba menenangkan neon yang terlihat sangat panik.

"la-lalu? Bagaimana denganmu?" tanyanya lagi.

Aku hanya tersenyum meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku memang tau machi, dia adalah anak dari sekertaris sekolah hunter high school ini, dan sekelas dengan neon yaitu kelas 3-B. Dia juga terkenal dengan kenakalan yang sering dilakukannya disekolah, yah walaupun aku tidak pernah melihat dan merasakannya langsung. Menurut gosip yang pernah kudengar, machi dan teman-temannya selalu mengahalalkan segala cara untuk mewujudkan impiannya atau keinginan-keinginan anehnya.

" kenapa kamu bisa setenang itu? Kau tau sendiri kan bagaimana dia…" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku langsung saja memotong perkataannya mencoba menenangkannya dan memastikan bahwa aku akan baik-baik saja.

Aku tau machi memang orang yang berbahaya. Aku juga tau resiko apa yang akan kuterima saat berhadapan dengannya.

"tenang saja, aku tau semua resikonya" jawabku santai seolah tidak akan terjadi apa-apa walaupun sebenarnya aku sudah merasa tidak enak hati. "lebih baik kamu pulang saja duluan! Sampaikan pada kakakku bahwa dia tidak usah menghawatirkanku." Lanjutku.

Neon menatapku sambil mengerutkan dahinya dan menolak mentah-mentah perintahku yang menyuruhnya pulang. "tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri apalagi dengan orang-orang jahat itu!" katanya dengan nada yang tinggi seakan memarahiku yang telah menyuruhnya pulang.

"tapi neon…" bujukku.

"tidak!" tolaknya.

Aku menyuruh neon pulang lebih awal dariku karna aku tau kekuatan nen milik neon tidak bisa dipakai untuk bertarung apalagi untuk melindungi dirinya. Aku tidak mau kalau neon terluka hanya gara-gara masalah sepele.

Sekolahan sudah mulai sepi, dan beberapa langkah terdengar dari belakangku. Aku bisa merasakan hawa membunuh dari beberapa orang yang mendekatiku dari belakang. Sampai pada aura itu berhenti bersamaan dengan berhentinya langkah mereka dan salah satu dari mereka memegang pundakku.

Tanpa basabasi dan penyambutan dariku, aku langsung bertanya apa maksud dari semua ini "apa maumu?" tanyaku.

"oh, ternyata kamu sudah tau? pasti anak nakal itu kan yang memberitahukannya padamu? Ia kan?" bentaknya.

Aku menurunkan tangan yang menggenggam bahuku dan mebalikkan badanku kearahnya.

Sesosok perempuan dengan rambut pink diikat penuh kebelakang dan beberapa temannya berada dibelakangnya bagikan pengawak yang selalu pergi bersama ratunya.

"apa maumu?" tanyaku dengan suara datar dan wajah tanpa ekspresi.

Plak…

Sebuah tamparan megenai pipi kiriku. Aku tidak membalas perbuatannya, lagi pula aku tidak suka berkelahi dengan lawan yang tidak perlu dilawan. aku hanya diam melihatnya dengan tatapan datar. "hanya segini?" tanyaku.

Plak…

Satu tamparan lagi mengenai pipi kananku.

Aku teta tidak membalas, karna aku sama-sekali tidak berniat mebalas tamparannya. Walaupun dia akan membuatku babak belur siang ini, aku tidak akan melawan.

"kenapa kamu hanya diam huh?" tanya perempuan berambut pink itu."kamu takut?"tanyanya dengan suara tinggi.

"cuup hentikan!" teriak neon yang berada dibelakangku.

Neon berjalan kesampingku dan berdiri disana menghadap kearah machi dan kawan-kawannya.

Machi maju selangkah dan menarik kerah baju neon. "apa? kau menantangku?"

"sudah! Cukup!" bentakku.

Aku memang tidak akan melawannya kalau dia tidak menyakiti neon. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya secar perlahan. Aku mencoba meredakan rasa marahku.

Machi kembali menatapku dengan tatapan tajam."oh, kamu mau jadi pahlawan? Udah deh ga usah so jadi pahlawan lu!" bentaknya padaku.

"apa maumu?" tanyaku untuk yang kesekian kalinya namun kali ini dengan penekanan disetiap katanya.

"ga usah pura-pura ga tau lu!"

"apa maumu?"

Plak…

Satu lagi tamparan mengenai pipiku, namun kali ini lebih keras dari tamparan pertama

"masih kurang huh"

Plak…

Dan satu lagi tamparan mendat dipipiku dengan tamaran yang sanagt keras sampai hidungku mengeluarkan cairan merah segar.

"hentikan! Ana tidak punya hubungan apa-apa dengan killua" teriak neon.

Dari perkataan neon barusan memperjelas masalah yang kualami kali ini. kurasa dia menyukai killua dan melihat kedekatanku dengannya yang menbuatnya melakukan hal ini padaku.

"kau melakukan ini hanya karna kau menyukai anak baru berambut putih itu?" tanyaku pada machi memastikan kesimpulan yan kubuat.

"ga usah pura-pura bodoh! Kamu yang menggodanya kan?" bentaknya.

"untuk apa aku menggodanya? Maaf, aku tidak punya waktu untuk menggoda lelaki"

"ka-kamu!" katanya sambil menunjukku dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. "ah! Awas kau yah! Kalau aku melihatmu merayunya akan kubunuh kau!" ancamnya lalu pergi dari hadapanku.

"ana? Kau tidak apa-apa?" tanya neon yang terdengar seperti sangat prihatin.

"neon?"

Kepalaku mulai terasa pusing, mungkin karna tamparan machi yang begitu keras dan kebodohanku sendiri yang tidak melindungi diriku dengan nen saat dia menamparku tadi. Karna aku tau dia pasti tidak akan merasa puas jika menamparku yang sedang melindungi diriku dengan nen. Dan darah yang mengalir dari hidungkupun semakin deras. Dan kini aku tidak bisa melihat apa-apa lagi…

"ana…" itu suara samar terakhir yang kudengar dari mulut neon sebelum aku benar-benar terjatuh.

~o.0~

Bagaimana keadaan ana selanjutnya? Apa ana akan baik-baik saja?

To be continue…

Gimana-gimana? Ceritanya makin bagus ato makin ancur? Ato jangan-jangan makin gaje? Ato makin ga nyambung? Aduh bisa gawat tuh.

Jangan pernah kapok yah baca fic ai yang gaje ini, hehehe…

Yosh, sekarang bales review-nya.

: Karna ai takut kalo males log in lagi kan sayang balesannya ga kebuka, jadi ai bales di sini aja yah ^^

Update dong, yah sebagai tanda terimakasih buat atas reviewnya dan makasih juga udah ga kapok baca fic ai yang aneh dan gaje ini sama makasih buat sarannya, bener deh review-nya bermanfaat pake sangat malah.

Yang bener makin bagus? Yah ai Cuma bisa bersyukur aja kalo emang makin bagus

Ia nih, lagi mumet-mumetnya sama ujian dan ngurusin buat kuliah. Eh? ujian apa? ujian apa?

Ini juga udah belajar ko, tapi karna belajarnya udah cape, jadi refresing dulu deh sama fic,hehe.

Nih, muncul chara baru. Emang sih ada chara yang perannya dikit soalnya belom waktunya, nah nanti di chapter selanjutnya bakal muncul chara baru+perannya bakal banyak pada waktunya,hehehe.

Arigatou gozaimasu -san hountoni arigatou. Ai bakal berusaha lebih rajin lagi .

Nah, buat balasan review yang log in, di pesan aja yah . Hountoni arigatou udah mau baca fic ai, sam udah mau review ^^.

Ada yang masih inget pesan ai dichapter sebelumnya?

"jadilah orang yang menyenangkan ^_^"

Dan jangan peduliin kata-kata ai yang gaje yah, hehe… apalagi kalo ada yang ga enak dihati…

Nah, sekarang tibalah kita dipenghujung fic ini. Okeh, karena masih banyak kekurangan ataupun kesalahan dalam fic ai ini, jadi seperti biasa mohon REVIEW-NYA !