"Kau perempuan menyusahkan." Ucapan dingin itu meluncur begitu saja dari mulut Sasuke. Ino tercengang mendengarnya, netra akua nya menatap Sasuke bingung sementara pemuda itu malah berlalu meninggalkannya sendiri di sana seraya berusaha berdiri menahan pedih di lutut sebelah kanan akibat terjatuh tadi.

Ino menghela napas, kepalanya pening.

"Apa yang sudah kuperbuat? Kenapa Sasuke jadi seperti ini?" Ingin sekali ia menangis tapi tidak bisa. Ia kesal, tidak paham dengan apa yang dipikirkan Sasuke. Saat itu Ino harus segera mempersiapkan bahan liputannya, namun kondisi tengah dihadapinya membuatnya ragu dan membuat hatinya sakit dalam satu waktu.

.

Sweet Scandal 11 – Kiss

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Bukanlah Ino namanya jika tidak persisten. Gadis jelita itu bangkit meski kaki kanannya terasa sedikit linu lalu kembali ke ruangannya untuk mempersiapkan bahan liputan narasumbernya. Keinginannya tidak banyak, ia hanya ingin meliput kegiatan di sekolah tersebut malam itu. Saat ini ia tidak ingin peduli sikap Sasuke yang mendadak mengacuhkannya, yang penting pekerjaannya terselesaikan dengan baik. Setelah bersiap dengan peralatan liputan, membersihkan luka di kakinya dan menaruh plester di atasnya, ia segera mencari Sasuke dan melakukan tugasnya sebagai reporter.

Ino bersyukur meskipun malam itu Sasuke sempat membuat hatinya nyeri yang penyebabnya tidak ia ketahui sama sekali, ia tetap dapat melakukan liputan dengan baik. Beruntunglah ia karena Kiba selalu membawa peralatan cadangan lebih dan berada tidak jauh dari lokasinya bertugas jadi dia tidak perlu kesulitan mencari upaya lain untuk menghidupkan lagi kameranya sehingga dia dapat dengan mudah mengambil foto untuk artikelnya. Tugasnya selesai dengan baik, semua orang yang terlibat dalam liputannya malam itu sudah kembali ke ruangan masing-masing dan beristirahat. Kini hanya dirinya dan Sasuke yang tersisa. Pembalap rupawan itu tengah membereskan beberapa peralatan yang digunakannya selama kegiatan tadi berlangsung. Ino sejujurnya agak ragu mendekati Sasuke saat itu karena kejadian yang semula menimpanya namun ia perlahan melangkahkan kakinya pada Sasuke dan memberanikan diri membuka mulut meski tidak ada percakapan apapun antara mereka selama liputan berlangsung, walau percakapan professional antar reporter dan narasumber sekalipun.

"Sasuke terimakasih banyak atas liputan malam ini." Ino ber-ojigi namun Sasuke masih mengacuhkannya.

Ino menghela napasnya pelan lalu kembali berusaha berbicara pada Sasuke agar atensi si pemuda tertuju padanya meski sebentar saja.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah padaku, oleh karena itu aku minta maaf."

Sasuke masih dengan cueknya membereskan peralatannya dan hal tersebut sukses membuat Ino memutar otak agar mendapat respon dari pemuda tersebut.

"Jika hal-hal yang aku lakukan tadi sore ada yang membuatmu marah, kumohon beritahulah aku agar aku dapat memerbaikinya." Ino tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya saat itu selain minta maaf dan bertanya penyebab kemarahan Sasuke, "aku mohon, karena aku tidak ingin seperti ini. Rasanya benar-benar tidak nyaman."

"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" Sasuke akhirnya angkat bicara dengan nada ketus tanpa melirik ke arah Ino sedikitpun.

"Maaf—"

"Tidak ku sangka kau perempuan yang sangat menyusahkan." Ino menghela napas berat dan menundukkan kepalanya. "Katakan padaku, apa kau selalu memanfaatkan laki-laki seperti temanmu tadi itu? Supaya laki-laki bisa terperdaya dan membantumu dengan suka rela? Ha?!"

Sasuke berdecih, "ternyata memang benar kesan awalku terhadapmu. Kau sama saja seperti reporter lain, perempuan lain yang hanya memanfaatkan laki-laki."

"Apa maksudmu? Kau tidak berhak menilaiku seperti itu!"

"Tentu saja aku punya hak. Karena aku adalah subjek wawancaramu!"

Perkataan Sasuke membuat Ino mengerutkan kening.

"Tidak! Aku memang memintamu untuk menjadi subjek wawancaraku. Tapi aku tidak pernah terima saat harga diriku dijatuhkan tanpa adanya alasan dan bukti yang jelas!" Ino masih menahan dirinya untuk tetap mengatur emosinya karena ia masih ingat, Sasuke adalah narasumbernya.

Sasuke tertawa sinis mendengar perkataan Ino, "perempuan macam apa yang berkeliling-keliling menggunakan pakaian pria yang terlihat kebesaran di tubuhnya kalau bukan untuk menggoda laki-laki? Kau adalah perempuan aneh dan tidak pernah menggunakan logikamu! Bodoh."

Ino yang mulanya merasa bersalah kini justru mendadak kesal dengan perkataan Sasuke. Terlebih saat ini pemuda itu terang-terangan menghancurkan harga dirinya.

"Dengar! Aku tidak tahu atas dasar apa kau berkata seperti itu padaku. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memanfaatkan siapapun. Kiba adalah rekan kerjaku, dia menawarkan bantuan padaku saat aku butuh dan kebetulan dia bertugas dekat dari sini sehingga dia dapat meminjamkan beberapa baterai cadangannya padaku. Tidak ada hal lain, hanya itu dan sekali lagi aku tidak pernah memanfaatkan siapapun!"

"Sekarang aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan meski itu benar-benar menjatuhkan harga diriku sebagai perempuan, bahkan sebagai reporter sekalipun! Kau memang sombong, egois, keras kepala, dan tidak menghargai usaha orang lain!" Ino terdiam sesaat setelah kata-kata itu meluncur bak ember bocor dari mulutnya, lantas menghela napas. "Permisi."

Ino berlari ke ruangannya tanpa memperdulikan Sasuke dan ngilu di kaki kanannya, yang dipikirkannya saat itu hanyalah kembali ke sana lalu beristirahat. Persetan dengan omongan Sasuke yang menusuk hatinya. Ino hanya memikirkan besok adalah hari terakhir dia ada di sana dan setelah itu ia dapat pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Bersyukur tidak ada lagi liputan yang harus dilakukannya besok.

Malam itu juga Ino membereskan peralatannya lalu mendudukan diri di atas ranjang atlit di ruangannya. Iris kebiruannya memerhatikan setiap sudut ruangan. Ia sadar perkataannya pada Sasuke tadi akan membuat hati pemuda itu terluka namun bersamaan dengan itu, ia merasa harga dirinya terinjak. Sejujurnya Ino bingung. Mengapa menyukai Sasuke harus membuatnya merasa sepedih ini? Ia mengusap wajahnya, menarik napas lalu mengembuskannya perlahan berharap pening yang dirasakannya saat itu menghilang. Ia sangat tidak ingin memikirkan apa yang dialaminya tadi dan segera menutup matanya lalu terbuai dalam mimpi.

.

Pagi itu sebuah ketukan di pintu terdengar, Ino terbangun karena kaget dan bergegas membukanya. Ia sempat mengira Sasuke-lah yang mengetuk pintunya pagi sekali seperti itu, tapi ternyata Sakura yang berada di balik pintu. Ino merasa lega, setidaknya ia tidak menemukan orang yang telah menyakiti hatinya dan sedang tak ingin ditemuinya saat itu.

"Ino kau sedang sibuk?" Emerald milik Sakura menyapu ke belakang punggung Ino, mendapati peralatan Ino sudah rapih seakan ingin segera pergi dari sana. "Maaf jika aku mengganggumu, apakah kau sedang ada masalah? Mengapa wajahmu memerah?" Terdengar nada khawatir dari bibir Sakura.

Ino tersenyum lemah, "tidak ada apa-apa sungguh!"

"Benarkah? Kau yakin tidak sedang demam atau apapun?"

Ino menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang menahan emosi dan tangisnya semalam hingga membuat wajahnya memerah, dan rona merah di pipinya itu tidak juga menghilang meski ia sudah mengistirahatkan diri lalu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sobat merah jambunya itu.

"Aaah syukurlah kalau begitu! Aku pikir kau terkena demam. Eh kau tahu? Sasuke bertingkah aneh tadi."

Ino menelengkan kepalanya, "aneh?"

"Iya! Setelah membereskan peralatan tadi dia tiba-tiba menghilang dan kami semua tidak dapat menemukan dia dimanapun!" Terang Sakura. "Sasuke benar-benar tidak seperti dirinya sendiri kami jadi khawatir. Jika kau menemukanya, bisakah kau katakan padanya kalau kami sudah berkeliling mencarinya dan kalian sudah boleh pulang karena kegiatan kalian sudah selesai?"

Ino baru saja akan menolak tapi Sakura kembali berbicara, "aku mohon kepadamu, Ino.. Sebenarnya aku tidak keberatan mencarinya lagi tapi aku juga ada urusan mendadak di kantor dewan sekolah ini karena jam mengajarku ditambah, jadi aku tidak dapat pulang bersama kalian berdua padahal aku ingin sekali karena bersama kalian sangat menyenangkan. Kalau begitu, sekarang aku pergi dulu ya! Aku percaya padamu, Ino!" Gadis pink itu segera berlari ke arah gedung administrasi, tempat dewan sekolah tengah berkumpul sehingga Ino tidak memiliki kesempatan untuk menolak permintaan Sakura. Ia menggelengkan kepalanya lalu segera mandi dan bersiap untuk pulang sehingga dia dapat pergi dari sana kemudian memenuhi permintaan Sakura, mencari Sasuke.

Sudah hampir seluruh sudut sekolah itu ia telusuri namun Sasuke tak juga nampak batang hidungnya. Ino menghela napas, hanya satu tempat yang belum dia kunjungi dan intuisinya mengatakan pemuda itu pasti sedang di sana, yakni trek latihan di pantai. Jangan pernah remehkan intusi seorang gadis karena baru saja ia memasuki pelataran trek, ia dapat dengan mudah menemukan Sasuke di sana. Saat akan mendekatinya, Ino terpekur sesaat karena sempat tidak tahu apa yang harus dikatakan, juga ragu perkataannya akan kembali membuat Sasuke marah. Namun ia tidak lagi peduli dan harus menyampaikan pesan Sakura pada Sasuke kemudian memberanikan diri menghadap pemuda itu. Pandangan keduanya bertemu kala Ino berjalan ke arah Sasuke yang bergelut dengan mesin perahu di hadapannya.

Sasuke menghentikan kegiatannya sejenak dan berbicara, "merindukanku?" Ino tersenyum simpul pada Sasuke yang bersikap seakan-akan kemarin malam tidak terjadi apapun, membuatnya tidak tahu bagaimana pola pikir Sasuke terhadapnya namun cukup membuatnya mengerti pemuda itu tak lagi marah.

"Maaf aku sudah keterlaluan padamu, aku seharusnya tidak melampiaskan emosiku padamu kemarin. Aku salah dan khilaf." Sasuke menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Ino mengangguk, "tidak, aku juga salah.. Maaf sudah berkata demikan padamu."

"Bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa saat terjatuh kemarin?" Tanya Sasuke seraya meneliti Ino dari ujung kaki hingga ujung kepala, khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu dan akan merasa bersalah karena kala itu ia sama sekali tidak menolongnya.

"Aku tidak apa-apa hanya sedikit lecet dan ngilu di lututku, sudah kutangani."

"O-oh.." Sasuke menolehkan wajahnya dari Ino, menatap ke lautan, "syukurlah jika kau tidak apa-apa."

"Omong-omong, Sakura bilang kita sudah boleh pulang duluan karena dia ada jam mengajar tambahan." Ino menyampaikan pesan dari Sakura.

"Aku tahu..."

Setelahnya terjadi keheningan di antara mereka membuat suasana terasa canggung.

"Ino.." Yang dipanggil kemudian memusatkan netranya pada Sasuke. "Sebagai permintaan maafku, aku ingin mentraktirmu makan."

Reporter muda itu menggeleng, "tidak perlu kok. Terimakasih banyak, seperti ini juga sudah cukup."

"Aku bilang, aku ingin meminta maaf karena aku sudah berkata yang tidak sepantasnya kukatakan padamu dan sebagai permintaan maafku, aku ingin mentraktirmu makan."

"Sungguh tidak usah, anggap saja kemarin tidak pernah terjadi." Sahut Ino.

"Aku memaksa." Sasuke tidak suka dengan penolakan hingga akhirnya gadis itu menyadari, pembalap satu itu akan bersikeras mentraktirnya meski berapakali pun Ino menolaknya.

"Jika kau benar-benar ingin meminta maaf, aku ingin kau mengajariku mengendarai perahu itu." Ino menunjuk perahu yang biasa dipakai balapan oleh para boat racers.

Sasuke menelengkan kepalanya, "kau benar ingin aku melakukan itu?"

"Jika kau mengajariku, aku akan memaafkanmu. Karena aku sudah lama sekali ingin mencoba mengendarainya." Ino tersenyum, "aku ingin merasakan bagaimana rasanya terjun ke duniamu meski hanya sesaat." Perkataan Ino sukses membuat Sasuke terdiam karena kaget.

"Meskipun kau tidak mau, aku akan tetap memaksa." Savage! Sebenarnya Ino sempat ragu Sasuke akan memenuhi permintaannya tapi ternyata reaksinya diluar dugaan. Pemuda itu justru terlihat riang karena permintaan tak terduga dari Ino.

"Baiklah, ayo!" Pemuda itu meraih tangan Ino dan menggenggamnya, membawanya mendekat pada perahu-perahu balapan yang terparkir rapih di tempat. "Kau benar-benar aneh, aku tidak menyangka kau lebih memilih belajar mengendarai perahu dibanding kutraktir makan."

Ino memerhatikan wajah Sasuke yang disinari mentari pagi, sekilas ada rona merah pada pipi dan telinga Sasuke tertangkap di penglihatan Ino yang membuat sang gadis diam-diam mengembangkan senyumannya.

"Pakailah!" Pemuda itu mengulurkan helm dan pelampung khusus yang biasa dipakai kala balapan, "kau harus memakainya seperti ini." Ujar Sasuke seraya memberikan instruksi pada Ino cara memakainya.

"Seperti ini?"

"Hn." Jawab Sasuke singkat lalu memerhatikan Ino dari tempatnya berdiri, "pakaian itu benar-benar tidak cocok untukmu."

Perempatan imajiner bertengger di dahi Ino, "tentu saja tidak cocok, lagipula ini pertama kalinya aku memakai yang seperti ini." Pembalap muda di hadapannya itu mengedikkan bahu lalu berjalan ke arah perahu balapan dengan tempat duduk double di bagian depan dan belakang. Perahu model ini biasanya hanya dipakai untuk latihan atau untuk uji coba mesin perahu baru bagi pembalap pemula.

"Kau duduklah di tempat duduk depan!" Sasuke menempatkan dirinya di tempat duduk belakang Ino dan gadis itu langsung menurutinya.

Iris Ino meneliti hal menakjubkan di depannya. Terdapat setir, rem, dan beberapa tuas serta tombol lain di bagian tempat duduknya yang dapat di atur sedemikian rupa agar perahu dapat bergerak dan meluncur pada kecepatan tertentu.

"Sepertinya ini akan jadi sangat menyenangkan!" Ino kegirangan.

"Posisikan tubuhmu seperti ini, lalu kau harus—" Sasuke menginstruksikan Ino bagaimana memposisikan diri ketika mengemudikannya dan memberitahu cara mengoperasikannya secara rinci namun dapat dimengerti dengan mudah oleh Ino.

"Baiklah, aku mengerti."

"Bagus! Sekarang segera nyalakan mesinnya."

Deru mesin terdengar saat Ino menyalakannya, jantungnya berdebar karena pertama kalinya ia diberikan kesempatan untuk merasakan apa yang selama ini ingin dicobanya lalu perlahan mengemudikan perahu itu sesuai dengan yang diajarkan oleh Sasuke. Gadis itu sangat senang. Baginya, mengemudikan perahu lebih menyenangkan dibanding hanya menonton saat pertandingan berlangsung. Perahu yang dinaiki mereka melaju sangat cepat seakan membelah lautan. Sasuke membantu mengemudikannya dari tempat duduk belakang dengan kemudi khusus di bagian belakang sehingga tidak perlu khawatir Ino melakukan kesalahan karena terjadinya kecelakaan dapat segera diminimalisir oleh Sasuke yang juga memegang kendali.

Langit, air laut, deru suara mesin, aroma khas lautan kini dirasakan Ino dan ia merasa menjadi bagian dari semua itu. Meski ia seorang reporter, momen itu membuatnya seakan berada di dunia Sasuke dan Sakura yang tak dapat ia raih dan masuki. Ino sangat bahagia. Semua terasa indah seperti mimpi tapi juga menyakitkan karena Ino tahu bahwa Sasuke, Sakura, dan bahkan boat racing tidak akan pernah menjadi bagian hidupnya dan tidak bisa diraihnya. Ino tahu betul setelah ia selesai mengemudikan perahu itu, keajaiban yang tengah dirasakannya saat itu akan musnah kemudian ia kembali menjadi Ino yang menjalani kehidupan seperti biasanya. Terlebih saat ia mengingat Sasuke bertekad untuk tidak jatuh cinta pada siapapun karena boat racing adalah segalanya bagi dirinya, membuat Ino kalut. Gadis itu tidak peduli lagi jika perasaan sukanya tak terbalaskan oleh Sasuke karena bagi si pembalap, Ino hanyalah seorang reporter yang hanya dapat memerhatikannya dari kejauhan tanpa dapat masuk ke dunianya. Kecepatan perahu itu perlahan berkurang.

"Apa kau baik-baik saja? Kau tidak ketakutan saat mengendarainya, bukan?" Tanya Sasuke.

Ino menoleh sesaat dan kembali menfokuskan dirinya ke lautan yang terbentang, "Aku baik-baik saja.. ini sangat menyenangkan, rasanya seperti terbang saat mengendarainya!"

Saat itu juga Ino merasa Sasuke menghentikan laju perahu membuatnya juga mau-tak mau menghentikan kegiatannya karena pembalap yang duduk di belakangnya itu menonaktifkan kemudi milik Ino. Saat gadis itu berbalik, Sasuke sudah menatapnya tajam kemudian melepas helm dari kepalanya. Tanpa Ino sadari, Sasuke juga melepaskan helm miliknya denngan cepat, meraih kedua pipinya lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit Ino mengerti.

Jantung Ino berdebar tidak keruan dengan aksi tiba-tiba Sasuke ini terlebih saat pemuda itu mengusap bibir Ino menggunakan ibu jarinya. Saat Ino baru saja akan bertanya apa yang akan dilakukan Sasuke padanya, sedetik kemudian pemuda itu mempertemukan bibir Ino dengan miliknya. Mengecupnya lembut dan dalam hingga membuat si gadis kesulitan bernapas. Seakan sudah puas dengan ciumannya, Sasuke menatap Ino yang masih terkaget lekat-lekat. Sensasi yang dirasakannya saat berciuman dengan Sasuke masih terasa, pikirannya kabur karena terkejut hingga saat itu Ino tidak dapat bergerak.

Tersadar dengan apa yang dilakukannya, Sasuke segera menoleh ke arah langit dan memposisikan dirinya kembali di balik kemudi. Salah tingkah. "Kita harus kembali ke dermaga." Ia lalu kembali memakai helmnya, menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya, begitupun Ino mengangguk lalu memakai helmnya, "I-iya.."

Perahu tersebut bebalik dan kembali melaju menuju dermaga. Ino mencoba menfokuskan diri saat itu meski perasaan yang dirasakannya saat itu campur aduk. Ia tidak mengerti apa arti dari ciuman yang diberikan Sasuke tadi, ia teringat saat pemuda itu berkata; ciuman seperti itu tidaklah berarti apapun baginya, sehingga membuat gadis itu berpikir keras mengenai maksud dan tujuan Sasuke yang sebenarnya saat melabuhkan ciuman itu di bibirnya. Sesampainya di dermaga, mereka membereskan semuanya tanpa sepatah katapun. Ino berekspektasi bahwa aksi yang dilakukan Sasuke tadi mungkin saja tidak berarti apapun bagi dirinya hingga membuatnya kini tidak dapat menatap langsung ke mata Sasuke.

"Terimakasih banyak.. Aku senang diajarkan mengemudi perahu. Kalau begitu aku pergi dulu." Kala Ino berbalik, Sasuke menarik lengannya hingga punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Sasuke.

"Tunggu!"

Ino terdiam dan tetap pada posisinya, membelakangi Sasuke.

"Besok akan ada beberapa persiapan untuk grand final dan aku ingin kau ikut bersamaku." Gadis pirang itu berbalik, iris sewarna lautan milik Ino bertemu dengan iris sekelam malam Sasuke, "mungkin akan sampai sore. Tapi sore itu apakah kau tidak sibuk? Aku ingin kau pergi ke suatu tempat bersamaku."

"Apa?"

"Aku juga ingin kau bilang pada redaksimu untuk ikut kembali bersamaku ke sekolah ini selama satu atau dua hari lagi karena akan ada kegiatan tambahan jadi aku ingin kau meliputnya lagi."

Ino terbengong mendengar perkataan Sasuke. "Itu permintaan khusus dariku, kau harus mengatakannya pada redaksimu dan aku juga akan meminta sekolah ini mengijinkanmu untuk tinggal beberapa hari lagi karena itu katakan pada Sakura, dia boleh pulang duluan tanpa kita."

"Temui aku jam 7 besok pagi di kantin, sekarang ada sesuatu yang harus kuurus. Kau boleh pergi." Setelah berbicara panjang lebar, Sasuke melepaskan genggamannya dari lengan Ino dan sebelum Ino tahu, pembalap muda itu sudah berjalan cukup jauh menuju gedung sekolah sedang dirinya tetap berdiri di sana, meraih lengan yang sempat digenggam oleh Sasuke seraya memikirkan perkataan Sasuke tadi.

"Besok sore.. dia mengajakku pergi?" Ino mengerutkan kening lalu mengembuskan napasnya karena seluruh permintaan dan aksi Sasuke yang serba tiba-tiba tanpa tahu maksud Sasuke yang sebenarnya.

TBC