Author's: Terima kasih buat yang masih menyempatkan diri untuk mengikuti cerita tidak penting ini dan mereviewnya. Review kalian sangat berarti buat saya. Oh ya jika ada yang tidak mengerti tentang sesuatu di dalam cerita ini, silahkan bertanya kepada saya via PM. Saya akan dengan senang hati menjawabnya sejauh itu bukanlah sebuah spoiler. Kalian pasti tidak ingin mengetahui hal yang belum waktunya kan? Nanti kejutannya jadi tidak seru lagi. ^_^

Dedication: Cakeberry, Beyond Nate, Akira Fujikaze and Li Chylee.

Im so glad that you all loved my stories, guys. Thanx very much.

Genre: Mysteri/Criminal/Sci Fi/Suspense

Note: Cerita ini dibagi menjadi beberapa bagian (phase). Alurnya akan bergerak maju dan mundur di sepanjang cerita berlangsung. Tapi tenang saja, saya membuatnya dengan keterangan yang sangat jelas untuk memudahkan pembaca memahami inti dari cerita ini. Dan tentu saja untuk menikmatinya.

Warning: Fiksi ini berbasiskan berdasarkan Many world interpretation theory dan semua kemungkinan yang mengikutinya.

Second Warning: Murder (kinda hard, I think, but don't believe it, mate.)

Setting: Setting dimulai dari keadaan dimana Light mengalami 'lupa ingatan' terhadap Death Note. No chain.

Please enjoy.


-29-

Chapter Eleven: From Hell


PHASE FUTURE

Phase One: Freedom

Nikolai menatap pria di depannya.

Visualisasi terhadap satu wujud yang nyata.

Manusia?

Atau sesosok makhluk asing yang tidak pernah dikenalnya?

Nikolai memutuskan ia tidak mengetahui jawabannya.

Rasa sakit mencubit-cubitnya saat tarikan kasar si pria semakin kuat.

Tangan itu tengah mencengkeram rambutnya, menarik kepalanya ke belakang.

Nikolai mengernyit.

Tidakkah pria ini mengenal rasa sakit?

Lalu pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nikolai.

Seakan hendak mengecupnya.

Pria itu tersenyum.

Dingin.

Nikolai dapat merasakan panah salju menekan wajahnya kejam.

Ya, Tuhan, apakah aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar?

Apakah aku telah berdosa?

Nikolai mersa ingin menangis.

Namun ia tidak mengijinkan matanya untuk melakukan itu.

Ia masih memiliki kendali atas tubuhnya.

Ia harus berhasil.

Segala ide yang begitu saja terlintas harus dilaksanakan.

Nikolai menggenggam pena di tangannya keras-keras.

Bagaimanapun, harus ada yang menghentikan monster ini.

Dan di dunia ini hanya aku yang saat ini bersama dengannya.

Aku harus mempertaruhkan segalanya.

"Bagaimana, ya... aku akan membunuhmu atau tidak..." kata pria itu dengan nada diseret-seret.

"Sir..."

"Ya?"

"Tahukah anda, bahwa anda itu sangat sempurna?"

"Tanyakan pada Tuhan."

"Anda memiliki fisik yang baik, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik... segalanya... aku sempat melihat putra anda... ia adalah anak yang baik... ia pasti membanggakan di masa depan..."

"Namanya Hikaru..."

"Tapi... aku benar-benar kasihan terhadap anda... anda telah menyia-nyiakan segalanya... segalanya... dan menurutku tidak ada diantara tindakan anda yang benar-benar layak untuk dipuji..."

"Oh ya?" Light menyeringai. Ia semakin merenggut kuat rambut Nikolai, menarik wajah kecil itu semakin mendongak.

"Dan... suara anda, Sir... anda memiliki suara yang sangat jernih... setiap orang pasti menyukai mendengar suara itu..."

Light mengangkat alis.

Tersenyum bangga.

"Tapi tidak untukku..."

Jemari Nikolai bergetar.

Aku sudah tidak tahan lagi. Benda ini membakarku.

Nikolai menggeram.

"Oh ya? Mengapa?" tanya pria itu berbisik.

"Karena... memang seperti itu... suara anda jelek... sangat jelek... setidaknya mulai malam ini..."

Pria di depannya jelas-jelas tampak terkejut.

Sedikit terkejut.

Jika bukan ekspresi waspada yang muncul, itu pastilah sebuah keterkejutan.

Malaikat di ruangan itu pasti telah memberikan sinyal-sinyal kepada masing-masing pihak.

Kepada si pria; kau akan mendapatkan celaka.

Kepada si bocah; sebuah peringatan sekaligus pesan dari surga.

Kemudian hal selanjutnya terjadi sangat cepat.

.

Keterkejutan sejenak muncul di wajah Light.

Apa-

Bocah di depannya menggeram kecil.

Light seakan mendengar rintihan seekor singa yang berbahaya.

Yang telah pulih dari kelumpuhannya.

Singa itu pun memberontak keras.

Wajah mereka sejenak tertaut dalam jarak yang dekat.

Nikolai memanfaatkan momen itu untuk mengabadikan sosok pembunuh ayahnya.

Jadi kau rupanya.

Aku tidak akan melupakanmu.

Kemudian... ia mengangkat lengan kanannya.

Mengayunkannya.

Dan menancapkan pena di gegnggamannya dengan keras ke tenggorokan pria di depannya.

.

Suara yang keluar dari tenggorokan pria itu tidak dapat direkam.

Nikolai mengalaminya langsung.

Pria itu membelalakkan mata.

Terkejut luar biasa dengan aksi tiba-tiba bocah di depannya.

Nikolai pun tidak mempercayai apa yang baru saja dilakukannya.

Ia merasakan horor mencekam seluruh tubuhnya.

Ini terlalu mengerikan.

Ini salah!

Pria itu sekejap melepaskan kepala Nikolai.

Kedua lengannya yang bergetar mengarah ke tenggorokannya yang tengah tersumbat pena hitam.

Berusaha meraih benda itu dengan tangan yang gemetar hebat.

Nikolai menjauh perlahan.

Ia berhasil memisahkan diri dari jangkauan pria itu.

Kini ia berdiri di ambang pintu.

Menatap si pria yang tengah menahan sakit dan menatapnya dengan horor.

Pria itu menatapnya dengan penuh ancaman.

Penuh kebencian.

Nikolai menatap pria menyakitkan itu untuk terakhir kalinya.

"Nah... benar, kan? Mulai malam ini suara anda tidak akan merdu lagi." Nikolai memaksakan sebuah senyum.

Seharusnya senyum itu tidak boleh muncul sekarang.

Tapi ia tidak dapat menahannya.

Sebuah harapan kecil yang menyeruak melewati desakan waktu.

"Selanjutnya, Sir... aku tidak akan membiarkan anda membunuh Sembilan Belas. Andalah yang akan dibinasakan."

Nikolai memberikan seringaian untuk terakhir kalinya.

Lalu ia beranjak dari tempatnya.

Berlari menyusuri ruangan, dan membuka pintu.

Nikolai berlalu dari losmen, meninggalkan gemuruh pada pintu.

.

Phase Two: Something new

[Kanagawa 02:22]

Light memasukkan kunci pada lubangnya.

Ia melewati ambang pintu dan menutup pintu dibelakangnya.

Kemudian ia menguncinya kembali.

Ia memutuskan tidak melaporkan perihal hilangnya Nikolai kepada pihak motel.

Toh mereka tidak akan peduli.

Tidak, ia masih punya satu kartu As.

Light berjalan menuju dapur yang kotor.

Ia membuat kopi dan kemudian duduk di sofa di ruang tengah.

Ia menatap televisi yang kosong.

Nikolai telah meninggalkannya selama empat jam.

Dan ia belum menemukannya.

Ia memutuskan untuk mengakhiri pencarian dan melanjutkannya besok.

Tidak perlu khawatir.

Anak itu tidak akan bisa kemana-mana.

Tidak tanpa The Cube.

Dan tidak mungkin pula ia berlari ke polisi.

Light mendengus.

Aku adalah polisi, brengsek.

Light mengernyit saat rasa sakit di tenggorokannya menggelitiknya.

Mulai saat ini ia akan selalu ditemani oleh luka ini.

Light bangkit dan berjalan menuju toilet.

Ia membasuh lukanya dan kemudian mengobatinya lagi.

Ia beruntung pena itu tidak menembus terlalu dalam.

Hanya pita suara saja yang dirusaknya.

Dan tidak ada pendarahan.

Tidak ada bahaya serius yang mengancam keselamatannya.

Light harus merasa bersyukur.

Namun cepat atau lambat ia harus ke dokter.

Nanti.

Jika ia sudah kembali.

Ia akan mengurus semuanya ini.

"Ah, tidak. Aku rasa aku menyukai suara ini." ia menyeringai.

Light memang membutuhkan sesuatu yang baru.

Sesuatu yang membuatnya berbeda.

Suara yang baru.

Kedengarannya lumayan keren.

Ia tersenyum dalam kegembiraan yang ganjil.

Lumayan keren.

Light merasa bahwa ada yang menyelinap ke dalam pikirannya.

Ia tahu bahwa Nikolai merencanakan sesuatu yang berbahaya.

Ia harus menghentikan bocah itu sebelum segalanya mejadi kacau.

Light menatap dirinya di cermin.

Ia melihat seseorang yang telah lama dilupakannya.

Orang itu tersenyum padanya.

Tidak, tunggu... ia tidak tersenyum padaku.

Ia tersenyum pada seseorang di belakangku.

Siapa-

Light menoleh ke belakangnya.

Dinding yang dingin membalas tatapannya.

Light kembali menoleh ke cermin.

Namun orang itu telah menghilang.

Kurasa aku butuh alkohol.

.

Phase Three: Alert

[Tokyo Station 01:10]

Nikolai tidak merasakan rasa itu lagi.

Jantungnya sudah tidak berdentam-dentam lagi.

Tubuhnya sudah tidak lagi meneriakkan alarm kepanikan.

Ia sepenuhnya telah aman.

Itu yang dikatakan pikirannya kepadanya.

Berhentilah panik dan kau harus istirahat.

Nikolai setuju.

Ia menatap sekitarnya.

Pasti sudah lewat beberapa jam setelah ia meninggalkan motel.

Dan kini ia merasa sepenuhnya tenang.

Ia tengah berada di stasiun.

Duduk seorang diri di tengah-tengah aktivitas stasiun yang masih tersisa.

Nikolai mengawasi orang-orang yang lalu lalang di tengah-tengah peron.

Mengawasi hantu-hantu yang berkeliaran dengan mata yang tampak kosong.

Mengawasi dinding-dinding bercat pucat di sekitarnya.

Ia benar-benar merasa sangat asing.

Tiga hari berada di Kanagawa merupakan keuntungan baginya.

Ia dan Light telah melakukan pengawasan terhadap target selama tiga hari ini.

Dan Nikolai sudah cukup mengenal daerah-daerah yang dilewatinya.

Jarak antara tempat tinggal target dan motel mereka cukup jauh.

Light tidak mau mengambil resiko.

Begitu katanya.

Saat keluar dari motel tadi, ia berlari dengan sekuat tenaganya, keluar dari jangkauan motel tersebut.

Berlari dan berlari hingga alarm di kepalanya berhenti menjerit-jerit.

Saat tiba di tikungan jalan besar, ia melihat tanda jalan.

Stasiun Tokyo.

Ia langsung memutuskan tujuannya.

Pilihannya bukan berarti pilihan yang bijak, namun ia tidak punya pilihan lain.

Ia tidak mengenal siapapun, dan juga tidak membawa apapun, kecuali beberapa yen yang dicurinya dari Light.

Sesungguhnya ia telah mencuri uang itu sejak lama.

Ia merasa harus memiliki pegangan untuk berjaga-jaga.

Dan semua orang membutuhkan uang.

Jadi, berdiam di tempat umum seperti stasiun mungkin tidak terlalu buruk.

Tempat itu pasti tidak akan terlalu sepi sehingga tidak akan membahayakan.

Dan juga disana ia pun bisa mengistirahatkan tubuhnya tanpa merasa dicurigai.

Walaupun beberapa petugas peron berberapa kali meliriknya dengan tatapan keheranan, ia tetap tidak meninggalkan kursinya.

Aku tengah menunggu seseorang, brengsek.

Nikolai akan berada disana hingga matahari terbit, kemudian ia akan naik kereta ke suatu tempat.

Kau masih memiliki harta karun, Nikolai.

Ia menekan sisi jaketnya.

"Kau menunggu seseorang?"

Suara bernada dalam itu merayap ke telinga Nikolai.

Ia mendongak dan menemukan petugas peron bertubuh gempal menatapnya dengan senter di tangan kirinya.

Ia bersyukur petugas itu tidak mengarahkan senter itu ke wajahnya.

Nikolai menunjukkan ekspresi was-was pada wajahnya.

Ia tidak mengerti bahasa Jepang.

Selama ini ia berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan Light.

Demi Tuhan, ia pun sesungguhnya tidak mengira The Cube akan membawanya ke negeri ini.

Ayahnya jelas-jelas memiliki sebuah momen di negara ini di dimensi yang lain.

Nikolai memberikan isyarat pada petugas peron tersebut.

Petugas itu bergumam kecil dan mendesah, "Dasar orang asing..."

Kemudian ia kembali bertanya pada si anak.

Dengan bahasa Inggris.

"Are you waiting for someone, kid?"

"Um... ya... aku sedang menunggu seseorang."

Petugas itu memberikan tatapan selidik terang-terangan.

Ia seperti tengah menilai bocah di depannya itu.

Apakah seorang kriminal kecil?

Atau seorang yang lari dari rumah karena pertengkaran konyol?

Atau... hanya seseorang yang memang sedang menunggu.

Petugas itu menghembuskan napas kecil.

"Nak, kau tahu kan ini pukul berapa. Aku sungguh berharap kau tidak bersikap konyol..."

Nikolai menatapnya dengan kebingungan sejenak.

Kemudian ia mengetahui pikiran si pria gempal tersebut.

"Ah, tidak, Sir... aku tidak lari dari rumah... aku baik-baik saja... sungguh, kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

Nikolai memaksakan sebuah senyum konyol.

Petugas itu mengerutkan kening.

"Baik. Aku percaya padamu, nak. Kau tahu, jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku, kau mengerti?"

Nikolai mengangguk.

Kemudian petugas itu meninggalkannya.

Nikolai menatapnya berlalu.

Stasiun sekarang semakin sunyi.

Nikolai menatap papan pengumuman keberangkatan di ujung.

Ia akan berangkat sebentar lagi...

Pergi ke sebuah tempat yang telah ia kenal.

Yang selama tiga hari kemarin telah dikunjunginya secara berkala bersama Light.

.

Nikolai memiliki memori yang cukup tentang eksistensi seorang Yagami Light di dalam pikirannya.

Saat kereta bergerak dengan lembut, Nikolai kembali merajut seluruh pendapatnya tentang hal luar biasa yang telah dialaminya baru-baru ini.

Sesungguhnya aku telah mendapatkan hal yang luar biasa sejak menciptakan The Cube.

Ia ingin membuat sebuah gambaran secara menyeluruh tentang siapa sebenarnya Yagami Light ini.

Tentu saja ia akan memulainya dari si Sembilan Belas.

Pemuda masa lalu Light.

Sosoknya yang berada di dimensi lain.

Selama tiga hari ini ia telah mengamati segala aktivitas pemuda itu.

Tingkah lakunya, kebiasaannya, segalanya.

Maka ia merasa sudah cukup mampu membuat sebuah pendapat pribadi mengenai pemuda menarik itu.

Light Sembilan Belas, tidak ubahnya seperti dirinya yang lain di dimensi-dimensi yang telah dikunjunginya, adalah seorang pemuda yang menarik.

Ia cerdas, tenang dan berambisi.

Nikolai berani menjamin itu.

Namun ia tahu bahwa sisi yang berbahaya itu belum muncul di dalam sosok Sembilan Belas.

Light selalu mengatakan omong kosong itu ratusan kali.

Dan Nikolai hanya dapat menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang membuat Light sangat waspada terhadap si Sembilan Belas ini.

Nikolai tahu, Light merasa takut terhadap pemuda itu.

Entah karena suatu hal, atau hal lainnya, yang jelas hal itulah yang membuat Light berhenti sejenak dan kemudian menyusun strategi khusus untuk menumbangkannya.

Light berhati-hati terhadap pemuda ini.

Ia tidak ingin segalanya menjadi buruk.

Nikolai tahu bahwa ada sesuatu yang ditakuti oleh Light terhadap si Sembilan Belas ini.

Dan ia akan menggunakan kesempatan ini untuk merebut peluang.

Ia harus memberikan sebuah peringatan kepada Sembilan Belas.

Jika perlu, ia akan memberikan harta karunnya kepada pemuda itu.

Hal terakhir yang dipunyainya.

Kartu Asnya.

Sebab Nikolai tahu bahwa Sembilan Belas adalah satu-satunya tiket untuk kepulangannya.

Satu-satunya.

.

Phase Four: Treasure

[09:20]

Pemuda itu beringsut keluar dari ambang pintu rumahnya.

Ia tersenyum sejenak kepada seseorang di dalam rumah, dan kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah.

Seorang wanita muncul dari dalam dan meneriakkan sesuatu kepada si pemuda yang tampaknya berpura-pura untuk tidak mendengar.

Kemudian wanita itu masuk kembali ke dalam rumah.

Sejenak keadaan hening, hingga wanita itu kembali muncul dari dalam.

Ia keluar pagar dan berjalan ke arah utara.

Sebuah tas berukuran lumayan besar tengah dipegangnya.

Seorang bocah yang sedari tadi mengawasi situasi rumah itu kemudian mengikuti sang wanita ke arah utara.

.

Nikolai memutuskan bahwa ibu Yagami Light adalah seorang wanita yang sederhana.

Ia adalah wanita paruh baya yang berkesan hangat.

Nikolai menjaga jaraknya saat berjalan mengikuti wanita itu di sepanjang jalan.

Saat itu pagi hari yang sepi.

Nikolai beruntung karena tidak banyak yang berlalu lalang di jalan.

Ia tahu kemana wanita itu pergi, karena pernah mengikutinya tiga hari yang lalu bersama Light.

Saat itu Light berkata ia harus mengawasi semua orang.

Entahlah, Nikolai pikir mungkin Light hanya ingin melihat ibunya saja.

Setiap tiga hari sekali... ia akan ke sebuah tempat, kata Light.

Tersenyum menyapa orang-orang di tempat itu, dan kemudian bergegas-gegas ke arah pasar.

Nikolai melambatkan langkahnya saat wanita itu berbelok ke kanan dan mendekati sebuah bangunan di salah satu deretan distrik tersebut.

Nikolai menatap papan namanya yang bertengger diam di depan pintu masuk.

Keith and Li

Laundry and Dry Cleaning

Wanita itu menghilang ke dalam.

Nikolai berhenti di tempatnya dan menatap papan nama itu seraya berpikir keras.

Aku tidak mungkin pergi ke Sembilan Belas dan menceritakan segalanya.

Jadi, apa yang harus kulakukan?

Light pasti menemukanku cepat atau lambat, dan jika saat itu tiba aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk melakukan sesuatu pun.

Bahkan untuk bernapas.

Entah kenapa Nikolai yakin akan hal itu.

Ia telah membangunkan macan yang sedang tidur.

Nikolai menggerakkan lengan kanannya ke arah wajahnya.

Jarinya menyentuh bagian bawah mata kanannya dengan lembut.

Hanya ada satu cara.

Aku harus mengamankan benda ini.

Secepatnya!

Light pasti akan menemukannya jika ia mendapatkanku.

Dan tentunya tidak akan ada seorang pun yang menginginkan hal itu terjadi.

Ia bisa saja menghabisiku, tapi ia tidak boleh mendapatkan benda ini.

Nikolai telah merencanakan hal ini.

Ia telah meninggalkan sebuah pesan untuk seseorang di losmen.

Sebuah pesan tersamar yang menyembunyikan peta persembunyian sebuah harta karun.

Ia harus memberikan harta itu kepada seseorang yang tepat.

Lalu... bagaimana dengan ini?

Nikolai masih meraba-raba bagian bawah mata kanannya.

Sebenarnya benda inilah yang paling berharga... tapi bagaimana aku bisa menyimpannya?

Nikolai melihat memori masa lalu menari-nari di depan matanya.

Ini keputusanku.

Aku yang memutuskan untuk membawa semua ini.

Nikolai menurunkan lengannya.

"Ayah... aku menitipkan benda ini untukmu..." bisik Nikolai.

.

Wanita itu keluar dari Keith and Li.

Nikolai menunggu lima menit hingga wanita itu menghilang di tikungan.

Kemudian ia melangkah ke arah bangunan di depannya.

Bunyi lonceng kecil yang bergemerincing menggelisahkan Nikolai saat ia memasuki toko.

Meja resepsionis kosong.

Dua orang wanita dan seorang gadis berada di ruangan itu.

Menunggu di kursi, dan yang lain tengah menelepon melalui telepon selulernya.

Nikolai menatap sekitarnya dengan was-was.

Ia mendekati meja resepsionis, dan terkejut saat seorang gadis keluar melalui pintu di belakang counter.

Gadis itu menuju meja dan ia melihat Nikolai.

Nikolai mendekat dan tidak menyia-nyiakan waktu.

"Excuse me... can I, um..." katanya berusaha menyusun kalimat.

"Ya?"

Tampaknya si gadis langsung tahu bahwa anak di depanya itu bukan penduduk lokal.

Ia menjawabnya dengan bahasa Inggris.

"Aku... yang tadi... pakaian yang tadi dibawa oleh... um... wanita yang baru saja kesini... boleh aku melihatnya sebentar?" Nikolai benar-benar merasa sangat bodoh.

Gadis itu langsung merasa waspada.

"Miss Yagami?"

"Um... ya... Miss Yagami... aku dimintai tolong olehnya untuk mengambil sesuatu dari salah satu pakaian yang baru saja ia berikan kesini."

"Apakah ia kehilangan sesuatu?" tanya si gadis kebingungan.

"Um... ya..."

"Maaf, tapi... aku belum pernah melihatmu..." kata si gadis waspada.

"Aku adalah saudara jauhnya yang datang dari luar negeri... kebetulan ia mengajakku ke tempat ini dan saat keluar tadi, ia mengatakan kalau ia melupakan sebuah benda di salah satu pakaian... jadi, ia minta tolong padaku... untuk mengambilkannya... um... ia harus segera ke pasar... anda tahu, kan..." Nikolai berharap kebohongannya tidak membakarnya.

Gadis itu seakan berpikir. Ia mengernyit.

Ya, aku memang pembohong yang payah, jadi berikan saja benda sialan itu padaku!

"O... oke... tunggu sebentar..." kata si gadis seraya masuk ke dalam.

Tak lama ia keluar lagi dan bertanya, "Apa yang kau inginkan?"

"Um, jaket. Sebuah jaket berwarna cokelat." jawab Nikolai mantap.

Sembilan Belas sering mengenakan pakaian itu.

"Oke..." kata gadis itu dan menghilang lagi ke dalam.

Tak lama ia pun kembali dan menyerahkan sebuah jaket berwarna coklat terang kepada Nikolai.

"Terima kasih."

Nikolai segera membawa jaket itu ke arah kursi dan membelakangi si gadis yang mulai menatapnya dengan curiga.

Nikolai berpura-pura merogoh-rogoh saku jaket di tangannya sementara sesungguhnya ia sedang berusaha untuk menarik sebuah benda yang sangat kecil dari balik kancing jaketnya sendiri.

Sebuah chip yang berukuran sangat kecil, yang tidak mungkin diperhatikan oleh mata.

Benda itu kuat terhadap benturan dan juga tekanan.

Namun benda itu liat. Ia mudah ditarik dan ditempelkan pada materi yang keras.

Lapisan luarnya melindungi materi di dalamnya.

Sebuah harta karun.

Kartu Asnya.

Nikolai mencabut chip itu dan menempelkannya pada balik kancing jaket coklat itu.

Nomor tiga.

Setelah itu ia kembali berpura-pura merogoh-rogoh saku jaket dan setelah merasa cukup, ia menoleh ke arah gadis di resepsionis lagi.

"Um, maaf, aku tidak menemukannya... nanti akan kukatakan pada Miss Yagami... mungkin ia lupa atau sesuatu... um, terima kasih banyak." Nikolai menyerahkan jaket itu kembali kepada si gadis.

"Oh... apa sih yang kau cari?"

"Sesuatu... yang sangat kecil..."

Nikolai beranjak ke arah pintu dan membukanya.

Lonceng kembali bergemerincing, dan Nikolai menoleh ke arah si gadis.

Sebuah tatapan yang penuh pernyataan.

Kemudian Nikolai berlalu dan menghilang di balik pintu.

.

Nikolai tersentak kecil saat menyadari bahwa ia telah tiba di depan rumah Sembilan Belas.

Rupanya sedari tadi ia melamun.

Apa yang kulamunkan?

Nikolai menatap rumah bertingkat itu dengan pandangan sedih.

Aku ingin pulang.

Saat ini ia boleh tenang.

Karena ia telah berhasil menyusupkan rencananya dengan mulus.

Jika saja seandainya ia tidak selamat, ia akan tetap tenang.

Semuanya pasti akan baik-baik saja sekarang.

Ia yakin.

Karena ia tahu bahwa ia telah melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.

Pengamanan.

Dan sekarang ia hanya ingin satu hal.

Pulang.

Nikolai merogoh sakunya dan ia mengitung sisa uang yang dimilikinya.

Sekarang sudah lewat tengah hari dan ia mulai lapar.

Apakah aku akan membeli sebuah makanan atau sebaiknya kugunakan untuk pergi ke suatu tempat?

Kemana?

Losmen?

Nikolai tidak percaya ia memikirkan hal itu.

Kembali kepada Light.

Setelah apa yang dilakukannya.

Ia yakin pria itu pasti akan membunuhnya jika ia berhasil menemukannya.

Namun, kemana lagi ia harus kembali?

Ia bukan milik dimensi ini.

Ia tidak mungkin hidup di sini.

Satu-satunya jalan adalah The Cube.

Satu-satunya jalan adalah Light.

Namun, ia tetap berharap Sembilan Belas akan menemukannya terlebih dahulu sebelum Light.

Menemukan kebenaran yang mencengangkan.

Nikolai berharap Sembilan Belas baik-baik saja.

.

Nikolai memutuskan untuk membeli sesuatu untuk dimakan.

Ia masih mempunyai sisa beberapa yen untuk kembali ke losmen jika pun itu diperlukan.

Yang pasti sekarang ia harus makan sesuatu.

.

Phase Five: Sound

[Tokyo Statiun 19:02]

Nikolai menatap peron yang dipadati orang-orang di sekitarnya.

Ia tidak percaya bahwa ia melangkah kembali ke tempat ini.

Mengapa ia tidak pergi kepada Sembilan Belas saja dan mengatakan yang sebenarnya?

'Hei, Light... kau akan dibunuh oleh dirimu dari masa depan... sebaiknya kau menyelamatkan dirimu... dan, oh ya... kau juga harus menyelamatkanku karena aku telah memberitahukan hal ini padamu.'

Nikolai menyipitkan mata.

Mudah sekali, bukan?

Ia mulai berjalan pelan melintasi peron yang sesak.

Berbagai hal menyeruak di dalam pikirannya yang kusut.

Wajah ayahnya.

Suara ibunya.

Foto-foto yang pernah ia lihat.

Light.

The Cube.

Sebuah suara.

.

Nikolai menghentikan langkahnya.

Sebuah suara yang asing menyapanya.

Suara dari neraka.

.

"Hai, mate."

Nikolai mendongak dan menatap sebuah wajah.

Wajah itu tersenyum.

Light.

Nikolai tidak terkejut.

Ia tahu bahwa saat ini pasti akan datang.

Maka ia tidak terkejut.

Yang terlihat di wajahnya hanyalah sebuah sinyal kelelahan.

Ia merasa sudah waktunya bersandar pada sesuatu.

Walau ia harus bersandar pada lengan-lengan maut.

Ia akan merasa bersyukur.

.

"Hai, mate."

Nikolai menatap Light.

Light memasang senyum hangat.

Nikolai menatap syal merahnya yang bergayut di sekelliling leher pria itu.

Menutupi lehernya yang jenjang secara sempurna.

Menutupi luka yang telah diciptakannya.

"Aku datang menjemputmu."

Nikolai tersenyum.

"Ayo pulang." kata Light.

.

Kereta bergetar lembut.

Shinkanzen selalu nyaman.

Kau bahkan bisa mati dengan tenang di atasnya.

Nikolai menatap jendela yang berlalu dalam malam yang tenang.

Light duduk tenang di sebelahnya.

Bukankah ini adalah saat yang tenang?

Sangat tenang, sebelum kehancuran tiba.

Mereka tiba di losmen pukul delapan.

Light membereskan sesuatu di dalam kamar.

Nikolai duduk tenang di ruang tengah.

Menatap televisi yang menyala.

Kadang benda itu bergetar dan gambarnya memudar, dan terkadang suaranya putus-putus.

Setelah selesai di dalam kamar, Light keluar dan meletakkan The Cube dan laptopnya di hadapan Nikolai.

Light kemudian duduk di seberangnya dan menatap bocah itu.

"Nah." kata Light.

Nikolai mendongak menatap Light.

"Kau suka suara baruku?" tanya Light.

Nikolai tidak menjawab.

"Kita anggap saja kau suka, karena tidak menjawab. Sekarang silahkan mulai." Kata Light lagi.

Nikolai menatap Light dan kemudian mengangkat suara.

"Bagaimana rasanya?"

Light menatap Nikolai dengan tatapan yang berbahaya.

"Apakah sakit?" lanjut Nikolai.

"Ya. Aku tidak bisa menjelaskannya."

Light memberikan isyarat untuk mengakhiri percakapan cacat itu dan kemudian memelototi Nikolai dengan tajam.

"Sekarang, jika kau tidak keberatan." kata Light lagi, tidak sabaran.

"Pasti sakit sekali ya... aku minta maaf..."

Light mengerling Nikolai.

Ia tidak merespon dan masih menunggu bocah itu melakukan apa yang diinginkannya.

"Tapi... setelah aku pikir... kau layak mendapatkannya... sesuai dengan hatimu..."

Mata Light telah berubah dingin.

Mata itu mencengkeram bocah di depannya dengan tajam.

"Kurasa ada yang tidak kau mengerti disini, Nikolai..." Light berkata.

Nadanya telah berubah.

Kesabaran dan ketenangan tadi telah menghilang.

"Kau telah melakukan hal yang sangat konyol... tapi sudahlah, aku maklumi ketololanmu itu... namun kau melakukan hal yang sangat bodoh dengan mengunci The Cube. Sekarang... tolong kau perbaiki ketololanmu."

Nikolai tersenyum.

"Aku memang tolol... karena bertemu dneganmu... dan ketahuilah, Sir... aku tidak akan pernah membukakan The Cube untukmu."

"Kau berpikir aku tidak akan mendapatkan kodenya?"

"Kau tidak akan pernah mendapatkannya, Sir."

Light menatap Nikolai dalam diam yang ganjil.

"Aku akan memberitahukan padamu, nak... aku akan mendapatkan kode itu... dan kau akan mati. Jadi pilih dengan bijaksana. Kau memberikan kodenya dan kau tidak harus mati."

"Kau akan membunuhku, Sir. Itu adalah suatu hal yang pasti."

Light terdiam.

Kini matanya berbahaya.

"Dengar, bocah... aku akan memberikanmu lima menit. Setelah itu, jika kau tidak membuka The Cube, kau tidak akan pernah kembali bernapas. Aku bersumpah."

Nikolai tersenyum.

"Kau tidak akan mendapatkannya, Sir."

"Mengapa kau begitu yakin?"

"Karena... aku telah memberikannya kepada seseorang... dan orang itu akan segera datang kepadamu... dan menghancurkanmu..." kata Nikolai seraya menyeringai.

Light menatapnya. Mulutnya melengkung kebawah.

Matanya berkerut berbahaya.

Light tengah menahan amarahnya yang sedang mendesak keluar.

Sesaat waktu senyap.

Light mengangkat lengannya dan menatap jam tangannya.

Setelah itu ia kembali memelototi Nikolai.

Bocah itu masih tersenyum tenang.

Detik-detik bergulir tajam.

Menikung dan berputar.

Lima puluh delapan...

Lima puluh sembilan...

Enam puluh...

.

Light bangkit berdiri dari kursinya.

Ia berjalan pelan mengitari kursi Nikolai dan dengan gerakan yang mengerikan ia menjambak rambut bocah itu dengan kasar.

Light menarik Nikolai sehingga bocah itu terangkat bangun dari kursinya.

"Waktu habis."

Light menghempaskan Nikolai ke lantai dengan kejam.

.

Phase Six: Hell

Nikolai menjerit tertahan saat Light mencengkeram rambutnya dengan kasar.

Setelah itu ia merasakan tubuhnya terlempar dengan keras ke lantai losmen yang berkarpet murahan.

Nikolai menoleh dan mendapati Light berjalan ke arah meja di samping televisi.

Ia meraih sesuatu dari sana dan kemudian berbalik ke arah Nikolai.

"Kau tahu, seandainya pun kau membukakan The Cube untukku, aku tetap akan membunuhmu sekarang... kau telah bermain-main dengan kesabaranku..."

Nikolai menatap Light dan berusaha untuk berdiri.

Light tiba di tempat Nikolai saat bocah itu telah berdiri di sudut ruangan.

Nikolai menekan lengan kirinya.

Sepertinya lengannya terkilir.

Light memperlihatkan sesuatu pada jemarinya.

"Kau mau tahu, kan bagaimana rasanya?" Light bertanya seraya menunjukkan benda di tangannya pada Nikolai.

Nikolai mengernyit.

Menatap sebuah benda ramping kecil di dalam genggaman tangan Light

Sebuah pena berwarna hitam.

Benda yang sama dengan yang digunakannya untuk melukai tenggorokan Light.

Oh ya, Nikolai tahu.

Ia tahu apa yang akan dilakukan Light padanya.

Pria itu tidak akan langsung membunuhnya.

Ia akan menyiksanya terlebih dahulu.

Nikolai tahu resiko ini.

Namun ia tidak merasa takut.

Entah kenapa ia merasa semakin dekat dengan ayahnya sekarang.

Light mendekati Nikolai dan menyudutkannya.

"Nah... bagaimana jika kita mulai saja?" Light menyeringai kejam.

.

Selanjutnya yang dirasakan Nikolai adalah tubuhnya dicengkeram dengan sangat kasar oleh sebuah lengan yang kuat.

Sebuah tangan yang kejam mencekik tenggorokannya dan melempar tubuhnya ke lantai.

Nikolai menghantam lampu ruangan dan ia pun terjerembab, kemudian terjatuh dengan keras untuk kedua kalinya.

Sebelum ia sempat menoleh, tangan yang sama membalik tubuhnya dengan kasar, menjambak rambut bagian atasnya dan Nikolai menjerit saat dadanya merasakan tekanan yang menyakitkan.

Light menekan lututnya pada dada bocah di bawahnya itu dan dengan kejam menahan kepalanya dengan menjambak rambutnya.

"Sudah siap?" Light berbisik.

Nikolai mengernyit kesakitan.

Ia tidak bisa melepaskan pandangannya pada pena hitam yang ada di dalam genggaman tangan Light.

"Kita anggap saja itu artinya 'ya'." bisik Light mengerikan.

Dan selanjutnya, yang dirasakan Nikolai adalah sebuah sensasi yang asing.

Sensasi yang berasal dari neraka.

.

Light sekonyong-konyong langsung mendaratkan pena hitam itu pada tenggorokan bocah berusia sepuluh tahun yang tengah berada di bawah tubuhnya.

Tepat di tengah, di antara tulang selangkanya.

Suara jeritan Nikolai menyeruak masuk hingga ke lapisan terdalam pikiran Light.

Light menyeringai penuh kekejian saat melihat bocah di bawahnya mengejang dengan hebat.

Tangan-tangan bocah itu memukul-mukul dengan liar.

Light bisa merasakan seluruh tubuh si bocah bergetar liar.

Nikolai membelalakkan mata dan sepersekian detik ia merasa tidak dapat merasakan tubuhnya.

Mulutnya membuka lebar, mengharapkan udara yang kejam memasuki paru-parunya, membantu tenggorokannya yang tengah menderita.

Light menekankan pena itu semakin ke dalam, dan ia mendengar Nikolai berdeguk dalam kesakitan yang luar biasa.

Light terkekeh seperti kanak-kanak.

Matanya melebar menikmati setiap penderitaan bocah di dekatnya itu.

Mulutnya menyeringai sangat lebar, puas dengan luka dan darah yang menyeruak keluar dari tenggorokan dan mulut mungil si bocah.

Nikolai berdeguk-deguk liar dan dengan refleksnya ia berusaha menyudahi penderitaan yang tengah menyiksanya itu.

Light menatap darah yang keluar mengotori lengan pakaiannya.

Kemudia ia menatap wajah si bocah yang tengah menahan penderitaan yang hebat.

"Bagaimana? Kau tahu kan sekarang rasanya?" Light berbisik parau.

Kemudian ia tertawa.

Sangat kencang.

"Suara kita tidak akan merdu lagi, mate... tapi ada perbedaan yang jelas setelah ini... aku masih akan hidup, dan kau tidak... aku sudah katakan bahwa kau tidak akan pernah bernapas lagi... namun aku tidak mengatakan bahwa kau akan mati saat 'tidak bernapas' itu... kau masih akan tetap hidup saat 'tidak bernapas' itu... dan aku akan sangat menikmatinya..." Light berbisik tajam dengan cepat seperti orang gila.

Kemudian setelah beberapa saat yang mengerikan, Light memutuskan untuk mencabut pena itu keluar.

Saat pena itu keluar, darah dari tenggorokan Nikolai terciprat dan mengenai pakaian Light.

Juga wajahnya.

Nikolai ingin terbatuk, namun ia tidak bisa.

Tenggorokannya telah terluka parah, organ itu kini tidak lagi berfungsi dengan baik.

Light bangkit berdiri dan berjalan mengitari ruangan seraya bergumam pelan.

Nikolai tergeletak lemah di lantai.

Mengejang.

Terbalut darahnya sendiri.

Seluruh tubuhnya masih bergetar hebat.

Tangan-tangannya meraih tenggorokannya dan bergetar liar di sekitar lukanya yang menganga.

Saat itu benar-benar mirip seperti mimpi.

Nikolai merasa bahwa ia tengah berada di sebuah dimensi lain.

Dimensi yang tidak pernah dikenal manusia.

Seluruh alam raya menghilang.

Suara-suara yang pernah dikenalnya menghilang lenyap.

Orang-orang yang pernah dilihatnya telah terhapus dari pikirannya.

Hanya saja Nikolai masih bisa melihat sebuah wajah di kejauhan.

Disana, tepat di balik kabut itu.

Di tengah-tengah racaunya itu, Nikolai sayup-sayup mendengar suara Light yang monoton.

Suara yang berasal dari neraka.

Suara iblis.

'Lihat, kan?'

'Bagaimana rasanya?'

'Aku memberimu belas kasihan... tapi kau telah membuangnya percuma...'

'Bukakan The Cube untukku'

Segalanya tampak berputar-putar.

Sebuah rasa sakit yang berdentam-dentam menghancurkannya, namun ia juga merasakan tubuhnya telah setengah hilang dari eksistensi dunia.

Nikolai!

Nikolai terbelalak.

Baru saja ia mendengar sebuah suara.

Bukan, bukan suara Light.

Ia tahu itu bukan suara dari neraka.

Suara itu lembut.

Hangat.

Saat berusaha mencari sumber suara itu, menoleh, mencari-cari di tengah lebatnya kabut yang membutakan, ia tiba-tiba menatap pria yang telah menjulang tinggi di atasnya.

Pria itu menggenggam sebuah benda lain.

Bukan pena.

Tapi benda yang lain.

Apa itu?

Pisau?

Sepertinya begitu.

Suara neraka itu menyeruak memasuki telinga tuli Nikolai.

Berdentum dalam kengeriannya.

"Kurasa sudah waktunya untuk pulang... kau ingin pulang, kan?"

Light menyeringai penuh kekejaman.

Nikolai jelas-jelas dapat melihat matanya yang semerah darah menatapnya dengan sadis.

Light menekuk lutut dan berlutut di sebelah Nikolai.

Bocah itu menatapnya dengan pandangan yang nanar.

"Aku sangat menghargai setiap petualangan kita, mate... aku akan sangat merindukanmu..."

Nikolai merasakan seluruh indranya membeku.

Seluruh syarafnya menyentak-nyentak menyakitkan.

"Oh ya, sampaikan salam hangatku kepada ayahmu..."

Kini sebuah alarm menjerit-jerit liar di dalam kepala Nikolai.

"Sampai jumpa..."

.

Waktu berhenti.

Televisi yang berkedut menatap pemandangan milik neraka yang meminjam ruangan sebuah losmen.

Lampu kamar yang berguling menatap seorang bocah yang tengah sekarat dengan luka mengerikan di tenggorokannya.

Dinding-dinging yang pucat terseyum muram menatap sepasang mata iblis pada sesosok pria yang tengah menggenggam sebuah alat kematian.

Kamar losmen itu telah berubah menjadi salah satu bilik milik neraka.

Dewa kematian telah meminjamkan alat kesayangannya pada seseorang di sana.

Dan seorang malaikat telah menunggu dengan sabar di luar untuk menjemput satu jiwa suci yang belum ternoda.

Waktu telah menghilang.

Dan alarm abadi yang bergaung dalam rongga pikiran si bocah telah padam untuk selamanya.

.

"Sampai jumpa." Light berbisik tajam.

Seketika itu ia menghantamkan tusukan-tusukan mengerikan ke atas tubuh si bocah yang tergeletak di lantai di depannya.

Light menikam dan terus menikam.

Di tengah perbuatannya itu ia sempat mendengar suara kesakitan Nikolai yang terjebak di dalam tenggorokannya.

Light menikmati ekspresi Nikolai yang tengah meregang nyawa.

Dalam sekejap saja, Light telah kehilangan dirinya.

Matanya melebar seiring dengan tikaman demi tikaman kejam yang dihunuskannya.

Seketika saja Light telah menjadi sangat marah.

Seluruh tubuhnya dikuasai amarah yang berkobar mengerikan.

Ia menikam semakin kuat dan semakin cepat.

Napasnya kini putus-putus.

Light terengah dalam kegilaannya.

Kemudian Light tersentak saat sebuah sentuhan yang lembut mendarat di lengan kananya.

Seketika itu, waktu kembali mengalir.

.

Phase Seven: Angel

Light tersentak saat merasakan sebuah sentuhan pada lengan kanannya.

Ia menoleh dengan napas yang keras.

Dengan terengah-engah, ia menatap seseorang di sampingnya.

.

Light terengah-engah.

Ia merasa paru-parunya terbakar.

Ia membutuhkan udara!

Light bernapas keras-keras seraya menatap orang di sampingnya itu.

Orang itu pun balik menatapnya.

Kemudian di tengah engahannya yang menyakitkan, Light mendengarnya berbicara.

'Sudah. Sudah cukup.'

Suara yang dikenalnya.

Dulu, sebelum semua ini terjadi.

Light menatap seorang pemudayang tengah berlutut di sampingnya.

Pemuda itu berambut hazel dan bermata sendu.

Ia tersenyum.

'Sudah cukup.'

Light mendengar suara itu melalui kepalanya.

Melalui pikirannya.

Light masih terengah dengan hebat saat pemuda itu tersenyum hangat padanya.

'Dia sudah berlalu.'

Light menatap Nikolai.

Bocah itu telah meninggal.

Dengan pose yang menyakitkan.

Seluruh tubuhnya tampak rusak karena cabikan pisau.

Tenggorokannya menganga mengerikan.

Kemudian Light kembali menoleh ke arah si pemuda.

Pemuda itu bangkit dan kemudian terbang menghilang.

.

Phase Eight: Departed

Light menenangkan diri.

Ia duduk di dekat Nikolai dan membuang pisau di tangannya.

Setelah ia merasa tenang, ia berbisik parau, "Jangan salahkan aku... kau yang memintanya..."

Setelah itu Light bangkit berdiri.

Ia mematikan televisi.

Lalu ia berhenti sejenak dan tampak berpikir.

Pikir, Light!

Pikir!

Oke, losmen terkutuk ini adalah tempat yang sempurna.

Tidak akan ada yang mendapatkanku dari tempat ini.

Light kemudian beranjak ke toilet.

Ia membersihkan dirinya dan menghilangkan seluruh jejak darah di tubuhnya.

Setelah itu ia membereskan barang-barangnya.

Setelah semua selesai, Light mengumpulkan pakaian berdarahnya dan pisau serta pena ke dalam satu wadah.

Ia akan membuang mereka ke suatu tempat.

Dalam setengah jam yang menegangkan, Light selesai membereskan segalanya.

Kemudian, saat melewati ruang tengah, ia berhenti sejenak.

Menatap Nikolai untuk yang terakhir kalinya.

Light melangkah mendekati bocah tak bernyawa itu dan berlutut di sampingnya.

Kemudian ia membuka sarung tangannya.

Dan menyentuh sisi leher Nikolai.

Light tersenyum.

"Selamat tinggal, mate."

Setelah itu, ia beranjak dari ruangan dan keluar pintu.

Pintu yang menutup menatap Nikolai.

Berusaha mengirimkan sinyal penyesalan kepada jiwa sang bocah yang tengah terangkat menuju suatu tempat di atas sana.

.

Light melangkah bergegas-gegas melewati lobi utama motel yang kotor.

Saat mendekati meja resepsionis, ia memperlambat langkahnya.

Light melirik sekelilingnya.

Tidak ada seorang pun di sana.

Terdengar jeritan tertahan dari suatu tempat.

Sebuah suara desahan-desahan yang halus beterbangan di sekeliling dinding yang bisu.

Light menatap meja resepsionis.

Penjaga meja itu tengah terlelap.

Televisi yang tengah menampilkan pertandingan sepak bola menderau dalam suara yang ganjil.

Light mendengus.

Aku terlalu panik.

Tempat ini benar-benar sempurna.

Light berhasil menyelinap melewati pintu depan dan kemudian langsung melesat meninggalkan motel di belakangnya.

Menyusuri jalan yang sunyi.

Udara malam bergetar lembut di wajahnya.

Sesaat Light membeku.

Saat sebuah suara mencapainya dalam keremangan.

'Light'

Ia menoleh ke sekelilingnya dan tidak mendapati seorang pun.

Kemudian ia tersenyum.

"Sial, kau Ryuuzaki... jika beruntung, kita pasti akan segera bertemu... dan aku ingin melihat reaksimu saat aku memberitahukan bahwa aku telah membunuh putra kandungmu..."

Udara malam beringsut pelan.

Light menatap motel di belakangnya seraya tersenyum.

Kemudian ia menoleh dan menghilang di balik tikungan.

To Be Continued


Author's: Maaf. Apakah saya terlalu kejam?

Kalau begitu maaf. Lol.

Yah, Nikolai memang harus tewas seperti itu.

Pembaca sudah membaca Chapter Satu tentunya, kan? Namun, pasti pembaca tidak akan terlalu memperhatikan saat membaca Phase berjudul 'Murder' pada chapter tersebut. Dan pasti pembaca juga tidak terlalu peduli terhadap si 'korban' pada Chapter itu, bukan? Tapi sekarang pasti pembaca peduli, bukan?

LOL

Yah, begitulah yang terjadi di awal.

Saat Light (19) menatap tubuh korban, pasti dia tidak percaya jika dirinya sendirilah yang memang melakukan itu kepada korban.

Menarik, bukan?

Haha.

Cerita ini masih akan bersambung. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca yang masih mengikuti cerita ini hingga sekarang.

Dan, oh ya, saya juga tidak menyangka ternyata banyak yang ingin mengetahui siapakah istri dari Nikolai Senior. Serius deh, dia itu cuma cameo, tapi saya akan membahasnya sekilas di Chapter tiga belas.

Dan ya, saya akan membuat artnya.

Ditunggu saja ya.

Silahkan dinantikan kelanjutannya. Terima kasih. ^_^

Thanx very much for read and review.