SWORD LOVE "Chuseok Festival"
Pair : 2MIN
Thanks yang udah review di chapter kemarin, bakal tambah lama ini updatenya, mian ne, ^^
dan lagi, kalo ada banyak typo tolong dimaklumi, ngetiknya buru-buru, :3
Happy Reading, :* :* :*
"Taemin?"
"Yang Mulia?" Ucap Taemin sedikit terkejut, dengan Minho yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
Minho berjalan ke arah Taemin, ia menarik tangan Taemin dan membawa tubuh itu kedalam dekapannya. Kemudian Minho membeku, Dejavu, Minho seperti sudah mengalami kejadian ini sebelumnya.
"Aku merindukanmu."
"Ya..Yang Mulia, akhhh..."
Minho melepaskan pelukannya ketika mendengar rintihan yang keluar dari mulut Taemin, dan saat itu juga ia melihat darah merembes dari pakaian yang Taemin kenakan.
"Apa.. Apa yang terjadi Taemin?" Minho gemetar, ia menatap tanganya, tangannya berlumuran darah Taemin, nafasnya tercekat melihat darah di tangannya, bau darah yang ada di tangannya menguar dan menusuk penciumannya, seketika itu pening menghampiri Minho, badannya gemetar. Minho terhuyung dan terduduk, tiba-tiba ia mendengar panggilan.
"Yang Mulia... Yang Mulia Gwaenchana?"
Minho membuka matanya, nafasnya memburu, kringat mengucur dari dahinya, ia mencoba mengatur nafasnya, lalu menatap Taemin yang ada di sampingnya.
"Yang Mulia, apa kau bermimpi buruk?" Tanya Taemin sambil menyodorkan segelas air putih.
Minho tidak menjawab pertanyaan Taemin, ia meneguk air yang di berikan oleh Taemin, kemudian menatap Taemin.
"Kau ..." Minho menggantungkan kata-katanya sambil menatap tubuh Taemin, ia takut jika yang ada di mimpinya terjadi pada Taemin. Minho menyentuh pinggang dan perut Taemin.
"A..ada apa Yang Mulia?" Tanya Taemin yang merasa aneh.
"Apa terjadi sesuatu saat kau di sana?" Bukan menjawab pertanyaan Taemin Minho malah bertanya balik yang membuat Taemin makin bingung.
"Ti.. tidak Yang Mulia, memang ada apa?"
Minho menghembuskan nafasnya pelan, ia lega setidaknya Taemin tidak terluka seperti di mimpinya.
"Kembalilah ke kamar mu, kau pasti lelah." Ucap Minho.
"Ne, Yang Mulia." Taemin berdiri dan berjalan keluar dari kamar Minho. "Akhh..."
Minho mendengar rintihan Taemin yang baru saja keluar, apa Taemin berbohong padanya jika tidak terjadi sesuatu. Minho segera berlari keluar, ia menemukan Taemin yang terduduk di depan kamarnya.
"Taemin, Ada apa denganmu?" Tanya Minho khawatir, ia berjongkok di hadapan Taemin.
"Kemarin, saya terjatuh dan kaki saya tergilir saat mengunjungi Boseong, Yang Mulia, tapi sudah... ahhh..." Belum selesai kata-kata Taemin, tubuhnya sudah di angkat oleh Minho menuju kamarnya. "Ya... Yang Mulia, anda tidak perlu melakukan ini, saya masih bisa berjalan."
"Jika kau memaksa berjalan, kaki mu akan tambah parah Lee Taemin." Minho membuka kamar Taemin, ia merebahkan tubuh Taemin di kasur. Kemudian memeriksa pergelangan kaki Taemin. "Lebam, kenapa kau ceroboh sekali sih?"
"Ma.. maaf Yang Mulia."
"Kenapa, kau minta maaf pada ku?"
"Lalu, saya harus bilang apa pada Yang Mulia?"
"Katakan saja kalau kau tidak apa-apa."
Taemin terdiam dan menatap Minho yang sedang melihat luka lebam yang menyebabkan kakinya tidak bisa melaksanakan tugasnya.
"Kenapa diam?"
"Ne? Eumm.. Maa..."
"Sekali lagi kau bilang maaf aku akan membungkam mulutmu, Tuan Lee." Minho memotong ucapan Taemin.
Reflek Taemin mendekap mulutnya, takut jika Minho benar-benar akan membungkamnya.
.
.
.
.
.
Minho berjalan keluar dari kediamnannya, pagi-pagi sekali ia sudah tidak mendapati Taemin, ia mendengar bahwa Taemin sudah keluar lebih dulu dari pada dirinya, hari ini.
"Dasar, kenapa ia tidak sopan sekali, apa sekarang ia menjadi orang penting, setelah pergi bersama Appa kemarin? apa dia tidak tahu kalau aku merindukannya?" Minho terdiam dan langkahnya terhenti setelah mengucapkan gumamannya. "Rindu? Apa aku benar-benar menyukainya?" Minho terdiam setelah menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri. "Akkhhh... aku benar-benar gila." Minho kembali berjalan dengan mengacak-acak rambutnya.
"Oppa!" Triak sebuah suara, pemilik suara itu berlari menerjang Minho, dan memeluknya, membuat Minho hampir terjungkal.
"Seo.. Seohyun? Apa yang kau lakukan disini?"
"Kenapa? Kau tidak suka aku disini? Aku kan calon permaisuri mu."
"Apa? Siapa yang mengatakan itu?"
"Raja, beliau menyuruhku pulang dan menemui mu."
"Appa, menyuruhmu.. Taemin?" kata-kata yang akan keluar dari mulut Minho terhenti ketika ia melihat Taemin yang berdiri tak jauh dari dirinya dan Seohyun.
"Apa? Siapa?" Seohyun menoleh dan mendapati seorang pria yang menggunakan seragam yang sama dengan yang di pakai Minho. "Nugu?" tanya Seohyun pada Minho.
Taemin menunduk hormat pada Seohyun, ia berjalan mendekat pada Seohyun dan Minho dengan sedikit terseok-seok akibat luka di kakinya.
"Saya Lee Taemin, Putri, pengawal pribadi Pangeran." Ucap Taemin sopan.
"Ahh... I see, kau tidak mungkin dari kalangan elit."
"Seohyun, bisakah kau menjaga mulut mu, Taemin sudah ku anggap teman dekat ku." Tukas Minho, sejujurnya ia sedikit menenangkan Taemin, karna bisa saja Taemin mendengar percakapan tentang permaisuri yang tadi Seohyun ucapkan.
Taemin menatap Minho, terlihat sekali tatapan Minho yang tidak suka dengan kata-kata Seohyun barusan kepada Taemin.
Tatapan Minho dan Taemin bertemu, Minho sedikit terkejut melihat tatapan Taemin padanya, Minho langsung memalingkan wajahnya. Apa Taemin baru saja melayangkan tatapan terluka pada Minho. Terluka karna kata-kata Seohyun tadi, atau karna ia mendengar semua yang dikatakan Seohyun mengenai permaisuri?
"Eumm.. Kajja, Oppa, aku ingin ke kediamanmu." Seohyun menarik lengan Minho, tapi Minho menampiknya.
"Aku mau berangkat sekolah, Hyunie, kenapa kau tidak menemui Eomma dan Appa dulu? Aku yakin mereka merindukanmu."
"Ahh.. Kau benar, baiklah aku akan menemu mereka, kau berhati-hatilah di jalan." Seohyun tiba-tiba mengecup bibir Minho dan berlari menjauhi Minho, ia tau Minho akan marah-marah padanya karena itu.
Minho terdiam sejenak, kemudian tersadar kembali, mengingat Taemin masih di hadapannya. Minho melihat Taemin yang tengah memalingkan wajahnya dan sedikit menundukkan wajahnya. Astagah, apa Minho melukai Taemin lagi?
"Taemin!" Seru Minho, ia ingin memastikan apakah Taemin masih memandangnya dengan tatapan terluka seperti tadi.
Taemin menghadap Minho tapi masih dengan wajah yang tertunduk. Kemudian Minho mendekati Taemin dan berdiri dihadapannya.
"Tatap aku!"
Taemin mengangkat wajahnya, ia sedikit mendongak ketika menatap Minho. Minho sudah tidak menangkap tatapan terluka Taemin yang ia layangkan padanya beberapa saat yang lalu, ia hanya menangkap tatapan seorang bawahan pada atasan atau budak pada majikannya.
"Aku benci tatapanmu yang seperti ini." Minho berjalan melewati Taemin.
Taemin mengikuti Minho dari belakang. Kakinya masih sedikit sakit memang, ia memaksakan dirinya untuk pergi ke sekolah, menemani Minho, hari ini. Lagi pula, hampir satu bulan ia tidak masuk sekolah, karena urusan kerajaan.
Blamm...
Terdengar suara pintu mobil Minho yang terturtup. Taemin masih jalan tertatih ke mobil, bahkan belum sampai separuh jalan.
"Kenapa lama sekali." Minho menurunkan kaca mobilnya, dan berbicara tanpa melihat Taemin yang kesulitan berjalan.
"Mi.. mianhae Yang Mulia." Taemin tetap berusaha berjalan secepat mungkin kemobil.
Setelah Taemin masuk, mobil itu mulai melaju menuju sekolah Minho. Minho menatap Taemin yang tengah duduk di sebelahnya. Taemin memijat-mijat kecil kakinya.
"Apa masih sakit?" Tanya Minho, ia sedikit mendekati Taemin untuk melihat kaki Taemin.
"Tidak apa-apa Yang Mulia." Ucap Taemin mencoba biasa saja di hadapan Minho.
"Kau selalu bertingkah seolah kau kuat, padahal dari tadi kau merintih." Minho menundukkan tubuhnya untuk melihat kaki Taemin.
Ckiiitt... /?
Bugh...
"Akhh..." Rintih Taemin ketika mobil yang mereka kendarai berhenti mendadak, membuat ia terjungkal dan menindih tubuh Minho.
Begitupun Minho, ia jatuh terduduk, ia merangkul pinggang Taemin yang terjatuh di atas tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa Taemin?" tanya Minho yang menghawatirkan kaki Taemin.
"Mi... mianhae Yang Mulia." Taemin mencoba bangun tapi, tangan Minho di pinggangnya membuat Taemin tidak bisa bergerak.
Minho mendekap dan memeluk Taemin. Entah setan apa yang merasuk pada tubuhnya, hingga ia berani melakukan ini, ia merasakan tangannya kaku, tapi tubuhnya yang mendekap taemin terasa hangat. Terdengar suara sahut menyahut antara supirnya dan seseorang di luar. Seseorang yang Minho yakin menyebabkan mobilnya mengerem mendadak, dan menyebabkan ia dan Taemin seperti sekarang.
"Ya... Yang Mulia, se..sesak." Ucap Taemin dalam dekapan Minho
Minho tersadarkan akibat rintihan Taemin, ia segera melepaskan pelukannya pada Taemin dan menatap wajh Taemin. Wajah Taemin memerah, dan nafasnya sedikit terengah. Ouhh... benar-benar membuat Minho sedikit, err... Tangan Minho terjulur ingin membelai wajah merah itu.
Cklek...
"Lain kali berhati-hatilah anak muda, atau kau akan berakhir di bui." Suara supirnya mengintrupsi Minho, membuat tangan yang tadinya terjulur ingin menyentuh Taemin kini berpindah pada sandaran jok mobil dihadapannya. Minho bangun dengan berpegangan pada sandaran jok mobil itu, padahal ia tak memerlukan pegangan untuk bangun.
"Mianhae Pangeran, apa Pangeran tidak apa-apa?"
"Tak apa, lanjutkan saja." Minho menepuk-nepuk clananya, dan mobilnya kembali melaju.
"Kau tidak apa-apa Taemin?" tanya Minho menatap Taemin yang sepertinya kesakitan.
"Ne, Yang Mulia."
"Sebentar lagi festival Chuseok, bagaiman kau bisa ikut bertanding dengan kaki seperti ini?"
"Eoh...? bertanding? Bertanding apa Yang Mulia?" tanya Taemin tidak mengerti.
"Eomma mengatakan jika nanti di festival chuseok akan ada pertandingan pedang dan memanah, kau di ikut sertakan."
"A..apa? tapi... Saya tidak bisa."
"Kenapa tidak?"
"Saya tidak bisa mencabut pedang, kecuali untuk melindungi Yang Mulia." Taemin menunduk.
"Tapi ini perintah Eomma, Sang Ratu."
"Meskipun begitu, saya tidak bisa."
"Apa di dojo juga melarang mu untuk tidak boleh mengikuti perlombaan?"
"Tidak, bukan begitu, hanya saja..." Taemin menggantungkan kalimatnya, membuat Minho mengerutkan keningnya, kemudian menghembuskan nafas pelan.
"Kau merahasiakan sesuatu lagi dari ku Taemin, berapa banyak yang harus kau rahasiakan pada pemilikmu?"
Deg...
"Pe... pemilik?" Taemin terhenyak, jadi Minho sudah mengetahui, jika Taemin diambil sepenuhnya oleh kerjaan. Taemin makin menundukkan kepalanya.
"Kau milik kerajaan kami Taemin, dan yang lebih penting, kau ditugaskan langsung di bawah ku, aku tidak pernah mau jika masih ada rahasia diantara orang-orang yang kupercaya." Minho berbicara dengan tegas, tanpa memandang Taemin. "Walau begitu, aku tidak memaksamu untuk menceritakan asal-usul mu sekarang, tapi, lain kali, jika aku bertanya mengenaimu, aku tidak menerima penolakan dengan alasan apapun itu."
Kata-kata Minho membuat Taemin terdiam seribu bahasa. Baiklah, sekarang Taemin sudah tidak bisa lagi mengelak dari Minho. Toh sebentar lagi, di pertandingan pedang semua akan terbongkar.
.
.
.
.
.
"Aku akan menugaskan mu di samping Siwon, selama ia ada di istana Gyeongbok bersama Minho, ia akan menjadi ancaman besar bagi Minho, meski begitu, kau juga bisa mempelajari beberapa keahlian pedangnya, jadi saat kau melawannya, kau tahu seberapa kemampuan Siwon."
"Ne, Yang Mulia Raja."
"Lalu bagaimana dengan teman mu Lee Taemin itu, Ratu mengajukannya untuk ikut dalam pertandingan pedang, karna aku belum pernah melihatnya memegang pedang, aku ragu akan kemampuannya."
"Yang Mulia tenang saja, saya dapat menjamin kemampuan Taemin. Taemin memberikan nyawa pada setiap pedang yang ia pegang."
"Memberikan Nyawa pada sebuah pedang." Sekelebat ingatan muncul dalam benak Sang Raja. 'Bulan Merah Joseon, adalah pemberi nyawa pada setiap tangan kanannya.' Ingatan mengenai ramalan itu muncul kembali. Tapi ia mencoba menepis hal itu.
"Kau boleh kembali Tuan Kim."
"Ne Yang Mulia." Kibum menunduk hormat dan mengundurkan diri dari hadapan Sang Raja.
Raja, terdiam sejenak, ia berfikir lagi mengenai ramalan keluarganya, beberapa tahun yang lalu. Tidak mungkin Minho yang diramalkan oleh wanita tua kepercayaan keluarganya itu. Sang Raja melirik bilik kecil di belakangnya. Bilik yang dibatasi oleh layar lipat bergambar pemandangan menakjubkan khas negeri tirai bambu.
"Ratuku, keluarlah!"
Ratu keluar dari balik bilik itu dan mendekati raja. Ia duduk di kursi tepat di sebelah raja, menatap raja dengan mata teduhnya.
"Kau selalu meragukan pilihanku." Sang Ratu membuka suara.
"Bukan begitu, kau tau Dongwook tak akan pernah mau kalah dengan kita, ia mencari orang-orang yang terbaik dari yang terbaik."
"Yang terbaik tidak selamanya menjadi yang terbaik, kau tau itu. Choi Dongwook mengasah sebuah mata pedang yang siap berkarat, tapi aku mengasah ujung tumpul pedang yang siap menjadi mata pedang baru, bukankah itu yang seharusnya dialkukan oleh kerajaan."
"Kau memang cerdik Ratuku."
.
.
.
.
.
Minho berdiri di tengah hutan bambu, ia menatap sekelilingnya, kemudian menatap dirinya yang tengah mengenakan hanbok, yang aneh adalah, hanbok yang ia kenakan adalah hanbok pada jaman dinasti joseon. Seingatnya tadi terakhir dia sedang berbaring di sofa kediamnnya.
"Hyaaa..."
Seseorang dengan baju hitam dan penutup mulut yang senada menyerang Minho dengan sebilah pedang. Tapi, tubuh Minho seperti tertarik menjauh darinya, tubuhnya terhempas.
"Akkhhh.."
"Jaejoong." Minho menyentuh mulutnya sendiri setelah berteriak barusan, Minho sendiri tidak tau kenapa ia berteriak seperti itu. Mungkin yang Minho teriaki adalah seseorang yang baru saja terkena tebasan pedang yang seharusnya mengarah padanya tadi.
Jaejoong, namja yang terluka dihadapan Minho itu, menatap sengit pada orang dihadapannya, ia menatap tangannya yang bersimbah darahnya sendiri, kemudian menjilat darah itu, matanya kembali terarah pada orang dihadapannya. Jaejoong menyeringai.
Deg..
Itu, seringai yang Minho lihat pada Taemin beberapa waktu yang lalu. Minho masih memperhatikan Jaejoong yang tengah menebaskan pedangnya pada lawan dihadapannya. Jaejoong seperti angin, gerakannya tidak terdengar sama sekali. Dia sedang menebaskan pedangnya, tapi seperti tengah menari dengan sebuah slendang yang melilit lengannya, yang selalu mengikuti tiap liuk tubuhnya, sangat indah. Minho tidak menyadari jika musuh dihadapannya sudah mati, Jaejoong menutup mayat itu dengan rerimbunan daun bambu kering.
"Bo.. Kau tidak apa-apa?" tubuh Minho seakan bergerak sendiri, ia berdiri dan mencoba menghampiri Jaejoong.
"Pangeran Yunho, sebentar lagi tandu dan kepala polisi akan tiba, tolong pangeran segera, mengikuti mereka kembali ke kerajaan." Jaejoong berbicara tanpa menatap Minho, atau dimimipi ini adalah Yunho. Ia membelakangi Minho.
'Yunho? Bukankah Yunho adalah pangeran pemilik pedang naga emas di istana Gyeongbok itu?' Batin Minho.
"Lalu bagaimana dengan mu Bo?"
"Saya akan membersihkan diri saya, Pangeran."
"Tapi kau terluka, tatap aku Bo!" kembali tubuh Minho menarik lengan Jaejoong dengan tiba-tiba. Jaejoong berlumuran darah, bahkan bajunya yang tadi berwarna biru, kini menjadi berwarna merah gelap.
'Darah' Minho berjalan mundur, dan terduduk di atas daun-daun bambu kering, ia menatap Jaejoong yang memegangi lengannya, ada perasaannya yang ingin menarik Jaejoong dalam pelukannya agar rasa sakit yang Jaejoong pindah padanya, tapi darah itu. Jaejoong berbalik dan beranjak pergi dari hadapan Minho.
"Bo.. tolong aku" 'apa yang ku katakan?' Minho berdiri, dan menghampiri Jaejoong, tubuhnya gemetar, tapi ia tetap menghampiri Jaejoong.
Yunho membalik tubuh Jaejoong, ia menyentuh wajah Jaejoong yang terciprat darah. Sedang Jaejoong masih memegangi lengannya yang terluka.
"Tolong aku, agar aku tidak takut dengan darah lagi." Jujur saja Yunho sudah sangat pusing mencium bau anyir yang menguar itu. Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong, namun Jaejoong memalingkan wajahnya.
"Pangeran, aku mohon, aku tidak mau kau mencium bau darah pada tubuh ku."
"Aku tidak peduli, jika itu adalah darah mu, bau tubuhmu lebih tajam dari darah ini." Yunho kembali menarik wajah Jaejoong, kemudian mencium bibir Jaejoong.
Angin berhembus menerpa wajah cantik Jaejoong yang tengah memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Yunho. Angin itu menerbangkan daun-daun bambu kering di sekeliling mereka.
Minho tengah duduk di kursi besar yang berukir naga pada sandarannya, ia kembali mengenakan hanbok. Kali ini hanboknya adalah hanbok kebesaran seorang pangeran. Disebelahnya ada seseorang yang mengenakan pakaian kebesaran raja. Mereka tengah berada di halaman istana yang sangat luas. Menyaksikan sebuah pertandingan.
"Jaejoong?" Minho menggumam, ia melihat Jaejoong tengah melawan seseorang. Ia menggunakan pedang kebanggaannya. Ia tengah berputar, dan menghindari musuhnya. Sungguh, Minho sangat mengagumi cara Jaejoong bermain pedang, gerakannya sangat bringas, tapi tetap terlihat indah. Tatapan mata Jaejoong juga selalu mengingatkannya pada Taemin.
"Akkhh.."
Minho ingin beranjak dan menolong jaejoong, tapi entah kenapa tubuhnya membeku. Ia hanya bisa menatap Jaejoong dari kejauhan.
"Akkhh..." Jaejoong memegang perutnya, tidak dalam memang, tapi teteap saja itu merobek perutnya. Bau darah menusuk indranya. Matanya kembali berkilat. Seringai itu tercipta kembali di bibir Jaejoong.
Prang... prang...
Jaejoong kembali melawan lawannya, ia harus menang demi Yunho, walau tubuhnya harus hancur sekalipun, jika demi Yunho, apa pun harus ia lakukan.
"Hyaaaa..." Serangan terakhir Jaejoong mengenai perut lawannya. Jaejoong memasukan pedangnya kedalam sarungnya.
Semua mata tertuju pada Jaejoong dan lawan yang baru ia hadapi, lawannya terkapar, lukanya memang tak seberapa, tapi Jaejoong yakin, luka-luka sebelumnya membuatnya tidak bisa bangun.
"Kim Jaejoong pemenangnya." Seisi istana bertepuk tangan untuk Jaejoong, Jaejoong selalu memenangkan adu pedang tahunan yang di adakan istana, maka dari itu ia di angkat sebagai calon Ungeom Raja berikutnya yaitu Yunho.
Jaejoong jatuh terduduk, pinggangnya mengeluarkan banyak darah, ia menopang tubuhnya dengan pedangnya, semua orang menghampiri Jaejoong untuk segera menolongnya, begitupun Yunho – atau di sini Minho – tapi ia tidak bisa, karna ada Appanya, atau Sang Raja, ia harus segera kembali ke paviliunnya sekarang, ia hanya bisa menatap Jaejoong yang di bawa dengan tandu, pedangya tergletak di sebelahnya, Jul merah pedang Jaejoong melambai-lambai seakan ingin meraih Yunho. Yunho tetap menatap Jaejoong dari kejauhan, hatinya senang Jaejoong bisa mempertahankan posisinya sebagai calon Ungeom-nya, tapi juga Khawatir akan luka di tubuh Jaejoong.
Minho tiba-tiba terbangun, kringatnya mengucur. entah sejak kapan Taemin sudah ada di sebelahnya dengan segelas air putih di tangannya. Taemin meletakkan air putih itu di atas meja.
"Yang mulia tidak apa-apa? Apa Yang Mulia bermimpi buruk lagi?" tanya Taemin.
"Yahh.. aku rasa begitu." Minho mencoba mengatur nafasnya.
Taemin memberikan segelas air putih itu pada Minho, kemudian mengambil sekotak tisu dan menyodorkannya pada Minho. Minho mengambil tisu itu, tangannya gemetar, entah kenapa ada rasa takut dalam hatinya setelah beberapa hari mendapatkan mimpi tentang leluhurnya itu. Taemin memegang tangan Minho yang akan mengambil tisu.
"Biar saya yang melakukannya Yang Mulia." Taemin mengambil tisu itu, dan membersihkan kringat di sekitar wajah Minho. Taemin tau mungkin Minho terlalu lelah, sepulang sekolah tadi, ia dan Minho harus mengurus proyek pembangunan yang beberapa hari yang lalu di rapatkan oleh keluarga Choi. Mungkin itu yang membuat Minho tertekan dan membuat Minho sering bermimpi buruk.
Minho memperhatikan Taemin yang membersihkan wajahnya, terkadang tangan Taemin menyapu kulit wajahnya. Kasar, Taemin pasti sangat sering berlatih, ssampai tangannya sekasar itu. Tangan Taemin mengusap leher Minho, itu membuat Minho sedikit bergidik. Tanagan Taemin memberikan sensasi yang berbeda pada tubuhnya, Minho menggigit bibir bawahnya ketika tangan Taemin membersihkan perpotongan dada dan lehernya. Minho segera menghentikan tangan Taemin. Nafasnya terengah, jujur saja, sedari tadi Minho menahan hasratnya karna sentuhan Taemin.
"A.. ada apa Yang Mulia?"
Minho tidak menjawab apapun, ia tetap menatap Taemin. Sedangkan Taemin yang di tatap hanya mengeluarkan wajah polosnya, karena ia tidak mengerti apa-apa.
"Jangan trima tawaran Eomma untuk mengikuti adu pedang itu."
Taemin sedikit terkejut mendengar perkataan Minho. Memang awalnya Taemin menolak, tapi setelah Ratu menjelaskan, akhirnya Taemin menerimanya.
"Maaf Yang Mulia, saya tidak bisa menolak permintaan Ratu." Taemin menundukkan kepalanya.
"Tapi, kau akan terluka..."
"Jika itu demi Yang Mulia." Taemin memotong ucapan Minho, dan membuat Minho terdiam.
Minho melepaskan tangan Taemin dan memalingkan wajahnya. "Memang seharusnya seperti itu." Minho berdiri dan keluar dari kediamannya.
"Oppa!" Seohyun yang baru saja datang langsung memeluk Minho. "Kau mau kemana?" tanya Seohyun sambil bergelayut di lengan Minho.
"Aku ingin mencari angin."
"Malam-malam begini?"
"Aku sedang malas dikamar."
"Boleh aku iku Oppa?"
"Tentu."
Minho dan Seohyun berjalan keluar dari kediaman Minho. Namun sebelum itu, ia meminta Taemin untuk ikut dengannya.
"Minie, kau mau kemana?" tanya sebuah suara, membuat Taemin menoleh, ternyata Kibum.
"Hyung, Yang Mulia, ingin keluar, jadi aku harus ikut."
"Boleh aku ikut juga? Dua pengawal akan lebih baik bukan?" Kibum menghampiri Taemin.
"Tentu saja." Minho menjawabnya terlebih dahulu, sebelum Taemin menjawab.
"Baiklah, Yang Mulia."
Mereka kembali berjalan menyusuri rumah yang luas itu. Seohyun masih mengglayut manja di lengan Minho, sedangkan Minho tak menanggapi apa pun yang di lakukan ataupun di di bicarakan oleh Seohyun. Minho lebih tertari mendengarkan percakapan Taemin dan Kibum.
"Hyung, bisakah kau tidak memanggil ku Minie, di sini, nama ku Lee Taemin?" protes Taemin, karena sejak tadi ia memanggil Taemin dengan Minie.
"Waeyo? Aku tidak menyukai Taemin, dia sangat arogan, aku lebih menyukai mu Minie."
"Hyung~"
Minho yang mendengar percakapan Kibum dan Taemin barusan mengerutkan dahinya. Berdebat masalah panggilan, kekanak-kanakan memang, tapi, memang ada apa dengan Minie dan Taemin, Kibum berbicara seolah du nama itu berbeda orang.
.
.
.
.
.
Festival Chuseok akhirnya di adakan juga, segalanya telah di persiapkan dengan matang. Seluruh keluarga kerajaan berbondong-bondong ke Istana Gyeongbok, pemain-pemain pedang handal dari beberapa penjuru Korea banyak yang datang, demi mengikuti Turnamen Pedang untuk mendapatkan Pedang Naga Emas Pangeran Yunho, yang melegenda karena kutukannya. Festival kali ini seluruh pengunjung yang datang atau pun peserta turnamen, harus mengenakan pakaian adat. Ratu ingin mengembalika suasana saat Dinasti Joseon. Bagaimana mereka ketika berperang dan beraktivitas menggunakan baju-baju itu.
Minho telah berada di singgasananya, mengenakan baju kebesaran Gonryongpo, Appa dan Eommanya juga berada di sana. Di plataran istana terlihat orang-orang dengan baju hanbok dan beberapa peserta turnamen telah bersiap dengan pedang mereka. Tapi Minho belum melihat Taemin, dimana dia? Dan bagaimana dengan pedang yang ia gunakan? Taemin memakai pedang apa? Seharusnya Minho kemarin mencarikan pedang yang terbaik untuk Taemin.
"Eomma, dimana Taemin?" tanya Minho sedikit berbisik pada Eommanya.
"Sebentar lagi, dia akan datang, dia sedikit sulit mengenakan pakaiannya, kau tau kan Taemin dari Jepang."
"Benar juga" Minho bergumam.
Tak lama kemudian, gong besar berbunyi, salah satu pintu istana terbuka lebar, beberapa peserta turnamen wakil dari kerajaan keluar dari pintu tersebut, termasuk Siwon, Kibum dan Taemin.
Minho segera berdiri dari tempat duduknya. Bukan hanya itu, Raja, Ratu juga Yunsik yang mendampingi Minho ikut berdiri.
Lee Taemin, mengenakan Hanbok Pengawal berwarna hitam, rambutnya yang panjang terikat keatas, tangan kanannya memegang pedang. Pedang itu mempunyai Jul merah yang menjuntai. Minho sedikit kaget melihat pedang yang Taemin pegang, pedang itu adalah pedang yang di pajang di salah satu sudut Istana Gyeongbok. Tapi Minho merasa tidak asing dengan Jul merah yang menjuntai itu.
"Bagaimana Minho? Kau menyukai Bulan merah itu?"
.
.
.
.
.
Tbc
Gonryongpo : Baju kebesaran Putra Mahkota pada Dinasti Joseon
Jul : Tali yang terikat pada sarung Pedang.
