Desclaimer : Masashi Kishimoto
Mohon maaf buat yang nggak tahan sama straight, ada straghtnya disini. Ane juga rada muntah sih bikinnya. Ah, btw, ane takut juga update pas ramadhan, tapi karena ada yg nanyain kok gak update2 jadi ya saya update aja lah kekekeke moga aja ada yg mau baca XD
.
.
Reply Review :
# salmaasuka : ehehehe syukur deh kalo bs bwt km ktawa XD hohoho ternyata banyak yg ehati ttg yaoi kekeke makasih banyak read reviewnya…
# DiebleNoAngeloNero : hohoho ane seneng baca review anda soalnya panjaaanngg XD kekeke wah, kau benar2 fans SasuNaru sejati ya, ampe gak rela mereka tersakiti hehehe tenang aja, cinta mereka akan bersatu kok pada akhirnya XD dan insyaAllah fic ini nggak akan berhenti di tengah2. Btw, makasih kritik saran and read reviewnya :D
# RyunkaSanachikyu : uhuhuhuu cup cup cup, sini author kasih permen…#puasa oi XP ya nmanya jg maih labil, begitulah XD makasih banyak read reviewnya ya…
#Fujoshi Girl : hehehe iya dong XD makasih read reviewnya…
# loveyaoiever : iya, ini atas request darimu aku update meski bulan puasa kekeke mog km masi mau baca…makasih read reviewnya…
Makasih juga buat yg udah log in : AQua Schiffer, Vianycka Hime, Arisu Amano, altadinata, kitsune Riku11, rylietha. kashiva, versetta, BeautifulLie1174, mifta cinya, funny bunny blaster, nerurudz, and ChukheNalu 4ev, makasih read reviewnya…:D
.
.
Chapter 11 : Get You
.
.
.
"Ne~…Bagaimana kalau kau yang mengatakan apa yang kau inginkan?"
"Aku benci pada orang yang tak menyadari apa yang diinginkannya sementara dia terus mengoceh tentang apa yang tak ia inginkan,"
Kata-kata Itachi terus berputar di otak Sasuke. Mungkin benar. ia harus mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan, apa yang sebenarnya ia rasakan, tapi…tiap kali memikirkan Naruto, semua niat itu seakan tertelan. Bocah blonde itu sudah tak menginginkannya untuk berada di sisinya, lalu harus bagaimana?
Suara tawa penonton membuat Sasuke kembali ke alam sadarnya. Ya, dia tengah berada di atas panggung mendampingi kepala sekolah dan seorang narasumber melakukan sosialisasi, sementara Naruto duduk di sampingnya. Sang kepala sekolah tampak sedang berinteraksi dengan audience, tapi Sasuke tak begitu memperhatikan apa yang tengah ia sampaikan. Pandangannya hanya tertuju pada Naruto. Hingga ucapan kepala sekolah membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
"Ne~ Naruto-kun, kemarilah," ucap Kepala Sekolah dan membawa Naruto berdiri. "Sebagai ketua club anti-gay, sebagai bukti bahwa kau straight, pastinya kau sudah punya pacar perempuan kan?" Kepala Sekeloha menyikut Naruto. "Apa lagi dengan wajahmu yang manis itu hahahahaha."
"Kyaaaaa…."
"Bla…bla…bla…"
Audience langsung ribut, terutama yang termasuk Naruto fansclub, sementara Naruto diam saja, tak tahu harus menjawab apa. Hingga kepala sekolah berbisik padanya tanpa lewat microphone.
"Naruto-kun, jawab saja sudah. Lagipula bukan berarti kau harus menunjukkan orangnya kan?" bisiknya.
"…" terdiam sejenak, masih ragu. "Umm…ya, ya, tentu saja aku punya pacar," Naruto memaksakan sebuah senyum "Perempuan pastinya," tenggorokan Naruto serasa tercekat setelah mengatakan itu, dan dia sama sekali tak berani menoleh ke belakang dimana ia yakin Sasuke tengah menatapnya tajam.
Audience kembali ribut, ada yang teriak tidak terima, ada yang teriak senang, ada juga yang menyuarakan 'siapa, siapa', dan merekalah yang paling dominan. Kepala sekolah tertawa.
"Jadi, apa kalian ingin tahu siapa?" ucap kepala sekolah yang sontak membuat Naruto terbelalak. "Nah, Naruto-kun, kau bisa membawanya naik ke atas panggung."
"Hah? A…etto…" Naruto mau menolak, tapi audience kembali menyuarakan supaya Naruto membawa pacarnya ke atas panggung.
"Ayo panggil namanya Naruto-kun," kepala sekolah menyerahkan michrophone nya pada Naruto. Di tengah kebingungannya, ia menatap ke arah Sakura yang ada di tribun penonton, ia tengah mengucapkan sesuatu tanpa suara. Naruto mencoba menerka apa yang diucapkan Sakura.
"Hi-na-ta…" ucap Naruto mengikuti gerak bibir Sakura.
Suasana langsung hening, hingga beberapa detik kemudian kembali riuh menjadi teriakan heboh.
Kepala sekolah tampak tertawa puas. "Nah, Hinata-chan, ayo naik ke atas panggung," ucapnya.
Lalu dengan malu-malu dan langkah ragu, Hinata naik ke atas panggung, menghampiri Naruto dengan wajah blushing.
"Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya kepala sekolah begitu keduanya berdiri berdampingan.
"A…etto…ano…" Hinata tak mampu menjawab, grogi.
"Lalu, apa sa—…"
BRAK!
Dan ucapan kepala sekolah terpotong saat Sasuke berdiri dari kursinya hingga kursi itu terguling.
"Don't fuck with me, Naruto itu pacarku!" tegas Sasuke dengan tampang membunuh.
Suasana langsung hening dalam sekejap, hingga Kiba dan anggota club gay nya bersorak gembira, membuat suasana kembali kacau.
"Sasuke-kun, apa yang kau ucapkan sih?!" kesal kepala sekolah, sementara Naruto masih tebelalak tidak percaya menatap Sasuke.
"Aku masih mencintaimu, apapun yang terjadi aku tidak mau kita putus," ucap Sasuke pada Naruto tanpa mempedulikan ucapan kepala sekolah. Teriakan club gay semakin heboh saja mendengar itu, sementara kepala sekolah terlihat sangat murka.
"Hahaha…" potong Naruto sehingga semua perhatian kini terpusat kepadanya. "Kalian terkejut, bukan? Dengan drama kami."
Deg!
"Ini kejutan dari kami, supaya suasana tidak membosankan," lanjut Naruto. "Kami merencanakannya diam-diam, iya kan Sasuke?"
Sasuke tak dapat menjawab apapun, iya hanya mematung di tempat.
"Iya," ucap sebuah suara membenarkan.
"Jiro-senpai…" ucap Naruto, mengenali siapa yang barusan membelanya.
"Naruto-kun, Sasuke-kun dan para anggota OSIS yang merencanakannya."
Sontak teriakan kecewa langsung terdengar dari tribun penonton, entah dari club gay entah dari para fujoshi yang kebetulan nyasar di sosialisasi anti-yaoi. Yang jelas author ada di salah satunya #dibunuh
Lagi, kepala sekolah tertawa puas. Mencoba mencairkan suasana dan mengembalikan pembicaraan ke arah yang seharusnya. Sasuke menggeram, berbalik, berniat menuruni panggung kalau Naruto tidak mencegahnya.
"Mau kemana, Sasuke? Acara belum selesai loh…dan…bukannya nanti masih ada drama lagi."
Ucapan tanpa dosa itu, entah sengaja atu tidak, seolah menyudutkan Sasuke pada titik yang tak mungkin ia bisa kembali.
~OoooOoooO~
Seusai acara, Sasuke turun dari panggung dengan wajah kesal. Kesal sekaligus…terluka. Ia tengah berjalan menuju kamar mandi saat Jiro mengusiknya.
"Teme yo, kau benar-benar party pooper eh," ucap Jiro. "Kau pikir apa yang kau lakukan tadi?"
Sasuke tak menjawab, masih membelakangi Jiro dengan tangan terkepal.
"Kalau Naruto tidak bergerak cepat, kau sudah menghancurkan reputasi sekolah kita! Kau tidak tahu seberapa harga yang harus kau bayar kalau itu terjadi."
Lagi, Sasuke tidak menjawab. Jiro melangkah mendekati Sasuke, meletakkan siku nya di pundak Sasuke dan berbisik.
"Well, by the way, kau lihat ekspresi Naruto tadi? Sepertinya dia sudah sangat membencimu. Jadi…bagaimana kalau kau menyerahkannya saja padaku?"
Snap!
Tanpa berpikir, Sasuke langsung meninju Jiro, tepat di wajah. Hingga Hiro terbatuk dengan darah mengalir dari mulutnya.
"Jangan pernah coba-coba menyentuhnya," geram Sasuke.
Jiro menatap tajam, membalas tinjuan Sasuke hingga Sasuke memiliki luka yang sama di bibirnya, mereka nyaris beradu tinju lagi kalau Naruto tidak datang dan melerai mereka. Yang membuat Sasuke kesal adalah Naruto yang justru menolong Jiro dan memapahnya pergi, membuat Jiro menyeringai menang. Sasuke benar-benar marah, ia langsung meninggalkan backstage setelah menyambar ranselnya.
"Well, kau memang berani, tapi kurasa tindakanmu juga salah," sebuah suara menghentikan langkah cepat Sasuke, Itachi. "Dengan begini kau akan tambah sulit mendapatkan perhatian Naruto kembali."
"Urusi saja urusanmu sendiri," ucap Sasuke datar dan kembali melangkah.
"Kau tidak melarikan diri kan?"
Langkah Sasuke kembali terhenti, tangannya terkepal erat, lalu ia berbalik menatap Itachi tajam.
"Sebaiknya kau mengoreksi dirimu sendiri sebelum menceramahi orang lain," ucap Sasuke dengan nada datar sekaligus mencemooh.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu apa masalah yang sedang kau hadapi, tapi aku tahu kau menggunakan Kyuubi sebagai pelarianmu," Sasuke menyeringai. "Lalu apa? Kau akan membawanya ke ranjang lalu mencampakkannya setelah kau puas? Heh…what a noble—…"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sasuke. Sasuke hanya terdiam, melirik Itachi tajam lalu menyeringai singkat sebelum meninggalkan tempat.
Itachi masih diam di tempat untuk beberapa saat, menyesali tindakannya yang kekanak-kanakan. Ia tahu Sasuke sedang dalam keadaan seperti apa, seharusnya ia memaklumi apa yang dikatakan Sasuke. Terlebih lagi, kalau ucapan Sasuke itu bukan fakta, seharusnya Itachi tidak marah.
"Itachi-nii?" panggilan itu menyadarkan Itachi kembali, menoleh untuk mendapati bocah bersurai blonde itu menghampirinya.
"Naruto-kun, soal Sasuke…" bukannya menjawab sapaan si blonde, Itachi lngsung mengalihkan topic.
"Aku tahu," jawab Naruto tanpa membiarkan Itachi melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin memastikan sesuatu dulu," ucapnya dengan sebuah senyum jahil.
~OoooOoooO~
Sasuke baru saja keluar dari kamar mandi saat aniki-nya memasuki kamar.
"Hei," sapa Itachi riang seolah kejadian tadi siang tak pernah ada.
"Hn," Sasuke hanya sedikit heran tapi kemudian tidak peduli, ia sibuk mengeringkan rambutnya.
"Kau mau ikut setelah ini?" tanya Itachi sambil melepas sepatunya lalu menyambar handuk.
"Kemaana?"
"Clubbing."
Sasuke mengernyitkan dahi. "Kukira kau sudah punya Kyuubi."
"Aku sedang ingin bersama wanita malam ini. Soal Kyuubi mungkin besok malam, ck!" Itachi mengerlingkan matanya dengan senyum jahil sebelum memasuki kamar mandi.
Sasuke hanya bisa mendengus sambil geleng-geleng kepala lalu menghampiri meja belajarnya untuk menyiapkan laporan untuk besok pagi. Ia masih sibuk mengetik laporan itu saat Itachi keluar dari kamar mandi.
"Kau ikut kan?" tanya Itachi sekali lagi.
"Secara teknis aku masih dibawah umur," jawab Sasuke tanpa menatap Itachi.
"Oh, C'mon. admit it. You wanna try to go to a club."
Sasuke mendengus dengan senyuman tipis di bibirnya. "Hei, nii-san apaan yang malah mengajak otouto-nya ke tempat seperti itu?" Sasuke memutar badannya menghadap Itachi.
Itachi tertawa pelan. "Nii-san super baik tentunya, sana bersiap," Itachi melempar handuknya ke muka Sasuke.
Sasuke hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala dan melempar balik handuk itu lalu mulai mengganti pakaiannya.
"Aku mau minta ma—…"
"Haik haik," potong Sasuke. Mereka kini sudah melaju di jalanan.
"Hei, aku belum mengatakan apapun," Itachi menjitak kepala otouto-nya tanpa kehilangan focus pada kemudinya.
"Aku sudah tau apa yang akan kau katakan dan apa yang kau lakukan," ucap Sasuke. "Dari dulu kau kan memang begitu, kau selalu minta maaf dengan membawaku ke suatu tempat untuk mendinginkan kepalaku. Hanya saja sekarang kau membawaku ke tempat yang bukannya bakalan mendinginkan kepalaku, melainkan kebalikannya."
Itachi tertawa. "Haik haik, sasuga ore no otouto," balas Itachi. "Tapi…aku benar-benar minta maaf. Sikapku tadi benar-benar kekanak-kanakan."
"Tidak masalah, saat itu aku memang sedang panas, rasanya ingin mengomel pada seseorang. Untungnya kau di sana."
"God, jadi maksudmu aku jadi bahan pelampiasan amarahmu?" ucap Itachi datar sambil membelokkan kemudinya. Sasuke tertawa.
"Tapi kau serius soal Kyuubi kan?" tanya Sasuke kemudian. "Kau tidak akan mempermainkannya?"
Itachi tak menjawab, hanya tersenyum tipis.
Menghela nafas, mengganti pertanyannya. "Sebenarnya kau ada masalah apa dengan siap—…"
"Ah, sudah sampai," potong Itachi. Ia membelok ke salah satu gedung, memarkirkan mobilnya lalu menarik Sasuke masuk tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.
Sasuke memicingkan mata dengan lampu yang ada begitu memasuki ruangan bermusik keras itu. Ia mengikuti Itachi sambil melihat sekeliling, disana-sini banyak pasangan yang tengah bercumbu dan juga manusia-manusia setengah telanjang menari di bawah lampu disko, mengikuti music yang menyentak.
"Kau mau minum?" tanya Itachi.
"Hah?" tanya Sasuke yang tak bisa mendengar Itachi dengan jelas akibat suara music.
"Kau mau minum?" ulang Itachi dengan suara dikeraskan.
Sasuke menggeleng yang membuatnya kesal saat melihat ekspresi merendahkan dari Itachi. "Baiklah, aku minum!" kesal Sasuke dan berjalan mendahului menuju meja bartender. Tapi begitu duduk di sana, dia tidak tahu mau pesan apa.
"Jus jeruk saja," ucap Itachi yang duduk di sebelah Sasuke sambil tersenyum mengejek, tak mempedulikan Sasuke yang kini memelototinya. Sasuke mencubit pinggang Itachi keras, tapi malah membuat Itachi tertawa.
"Aku membawamu kesini bukan berarti membebaskanmu melakukan apapun," ucap Itachi.
"Haik haik," Sasuke memutar bola matanya jengah saat dua cewek sexi menghampiri mereka dan membuat Sasuke membatu.
"Cowok, sepertinya kalian sedang senggang," ucap cewek yang kini bergelayut di lengan Itachi.
"Ehm, yeah," ucap Itachi.
"Mau main bersama ku?"
"Well, tentu saja," ucap Itachi dan beranjak pergi, tapi sebelumnya dia menepuk pundak Sasuke sambil berbisik, "Kalau yang ini aku mengizinkanmu," kerlingnya. Ia menuju ruangan sebelah sambil merangkul pinggang cewek itu, dan setelah menikung dan memastikan Sasuke sudah tak melihatnya lagi, ia melepaskan cewek itu dan menyerahkan sebuah cek padanya.
"Thanks," ucap si cewek. "Tapi…serius nih, tanpa 'bonus'?" ucapnya dan bergelayut mesra di leher Itachi.
Itachi tersenyum. "Sorry, maybe next time," tolaknya. Tapi si cewek tetap keras kepala dan mendekatkan wajahnya ke wajah Itachi saat sebuah tangan menarik Itachi menjauh secara paksa. "O ow…"
"Aku tidak ingat mengizinkanmu untuk mencumbu wanita ini," ucap Kyuubi dengan tampang kesal.
Si cewek hanya tersenyum jahil lalu melenggang pergi.
"Sorry," cengir Itachi dan mengacak rambut Kyuubi. "Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah berhasil memasukkan Naruto ke tempat ini," ucapnya. "Chee, sebenarnya apa mau bocah itu sampai menyuruhku menyelundupkannya ke tempat ini."
"Well, dia bilang ingin memastikan sesuatu. Kita lihat saja."
"…" Kyuubi tak merespon, hanya menatap Itachi.
"What?" heran Itachi.
Kyuubi malah manyun.
"Hei hei…?" bingung Itachi, "Aku ha—…" ucapan Itachi sontak terhenti saat bibir Kyuubi membungkam bibirnya, membawanya dalam pagutan basah untuk beberapa saat.
"Harusnya kau menciumku," ucap Kyuubi lalu meninju pelan dada Itachi sebelum melenggang pergi.
~OoooOoooO~
Sepeninggal Itachi, Sasuke celingukan beberapa saat. Sekarang apa yang harus dilakukannya dengan cewek sexi yang masih menempel padanya ini? Dalam keadaan normal Sasuke sudah pasti mengusirnya, tapi saat ini dia ada di club dan tentu saja keadaan ini bukan keadaan normal, karena tujuan orang ke club sudah pasti…
"Jadi…siapa namamu?" tanya cewek itu manja.
"E…" Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Cewek itu tertawa. "Dilihat dari reaksimu, kau masih baru soal hal begini ya?"
'Apa yang kau maksud dengan hal begini?' batin Sasuke, sadar atau tidak, jantung Sasuke berpacu lebih cepat sejak tadi. "Yeah…" jawab Sasuke kaku.
"Well, tenang saja, aku akan memandumu pelan-pelan," ujarnya lalu berjalan menjauh, menyuruh Sasuke mengikuti. Tapi Sasuke masih diam di tempat. Apa yang harus dilakukannya? Kalau ia mengikuti cewek itu, mereka pasti berujung di private room, lalu pastinya…
"Ayoo…" ujar cewek iu manja sambil menarik tangan Sasuke dan membawanya ke—…benar saja dugaan Sasuke. Private room. "C'mon," undang cewek itu saat Sasuke hanya mematung di depan pintu. Dengan sedikit ragu, Sasuke melangkah masuk dan menutup pintu. Cewek itu duduk di tepi ranjang, menyambut Sasuke dengan pose yang menggoda. "Apa yang membuatmu ragu? Disini Cuma kita berdua, temanmu tadi sudah pasti sedang bersenang-senang saat in," ucap si cewek dan membawa Sasuke duduk di sampingnya.
"Aku hanya tidak yakin soal—…"Sasuke tak melanjutkan ucapannya.
"Apa? Pacarmu?" tebak si cewek. "Ayolah, kau datang ke tempat ini berarti karena sedang ada masalah dengan pacarmu kan? Dan kau datang ke sini sudah pasti untuk melakukan 'hal-hal' yang sedang tidak bisa kau lakukan dengan pacarmu."
Sasuke Cuma diam, mungkin ucapan cewek itu ada benarnya. Untuk apa dia datang kesini? Kalau memang tidak mau dia kan bisa menolak ajakan Itachi. Jadi, dia datang kesini karena kemauan sendiri kan? Dan sekarang tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali dia dan cewek sexi di sampingnya. Apa lagi yang ia ragukan? Toh Naruto tidak akan tahu, sekalipun tahu memangnya kenapa? Naruto juga seenaknya selingkuh dengan Jiro. Jadi tidak masalah kan kalau Sasuke melakukan hal yang sama?
"Ayo…sampai kapan kau mau diam saja?" cewek itu melingkarkan tangannya di leher Sasuke, membawanya tiduran di ranjang dengan posisi Sasuke di atas. Untuk sesaat Sasuke tak berkedip menatap tubuh sexi si cewek, dan tanpa sadar Sasuke sudah menyentuhkan bibirnya di kulit si cewek.
"Nh…" si cewek mulai mengerang, membuat Sasuke nyaris tak memikirkan apapun lagi, hingga saat cewek itu memagut bibir Sasuke dengan ganasnya, Sasuke tiba-tiba tersentak dan melepakan diri dari cewek itu. Ia turun dari ranjang, menatap cewek itu dengan nafas tersengal, tanda ia tengah berusaha keras menahan hasratnya. Tapi ia tak menyentuh cewek itu lagi.
"Maaf…" ucap Sasuke, ia memegangi kepalanya yang terasa kosong beberapa saat yang lalu. "Aku punya…orang lain…"Entah kenapa ciuman tadi mengingatkannya pada Naruto, ia dan Naruto saja belum pernah melakukan ciuman basah, kenapa ia harus melakukannya dengan orang lain? Dan meski ingatan Sasuke akan Naruto yang bersama Jiro muncul kembali, kali ini Sasuke tidak peduli.
"Pacarmu?"
Sasuke terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.
"Lalu apa masalahnya?"
"Aku hanya…mencintainya. Itu saja."
"Tapi bukan berarti kau tidak bisa bersenang-senang kan? Toh dia tidak membalas perasaanmu."
"Yeah, harusnya begitu. Harusnya aku bisa…" Sasuke mengacak rambutnya sendiri. "Tapi ternyata aku tidak bisa," sebuah senyum rapuh terlukis di bibirnya. "Aku sadar kalau akulah yang butuh mencintanya, tak peduli dia mencintaiku atau tidak. Akulah…yang membutuhkan perasaan ini tetap tertuju padanya."
Keduanya terdiam sesaat, hingga si cewek terkikik pelan.
"Hihihi…" Sasuke hanya menatap tak mengerti. "Sepertinya kau menang, bocah blonde. Yah…sayang aku tidak mendapatkan keperjakaan cowok tampan ini," ucap si cewek yang tak bisa dimengerti Sasuke. Cewek itu lalu pergi dari ruangan, meninggalkan Sasuke yang masih mematung di tempat.
Sasuke hanya menggeleng pelan hingga matanya memicing lalu terbelalak saat melihat siluet pirang di pojokan kamar yang gelap. Yeah, tadi kan Sasuke sama sekali tak sempat memperhatikan ruangan, jadi kini mulutnya langsung terbuka tanpa suara, terlebih saat sosok itu perlahan mendekat.
"N—…Naru—…to…" ucapnya terbata.
"Bitch!"
Jleb!
Ucapan Naruto menembus langsung jantung Sasuke.
"A—…aku bisa jelaskan," Sasuke langsung panic.
"Ya, jelaskan saja bagaimana kau menggerayangi tubuh cewek itu."
"Y-yeah, tapi—…tapi…aku tidak melanjutkannya kan? Aku mengingatmu, jadi aku tidak—…melanjutkannya."
Naruto Cuma menatap datar, tatapan merendahkan.
"Naruto…Naruto kumohon…" Sasuke memegang kedua pundak Naruto. "Oke, aku minta maaf. Aku tahu aku salah, tapi—…tapi aku tidak serius ingin melakukannya dengan wanita itu. Aku Cuma—…"
"Oya? Meski aku melihatmu sangat 'bersemangat' tadi."
Sasuke kembali tak bisa berucap, Cuma bibirnya saja yang bergerak ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
"Dan lagi…" tambah Naruto. "Kenapa kau khawatir sekali meluruskan hal ini padaku? Kita kan memang sudah tidak ada hubungan," seringainya.
Deg!
Sasuke terdiam, mulutnya tak lagi bisa mengucap apapun. Ia melepaskan tangannya dari pundak Naruto, menatap dalam diam. Mengetahui fakta kalau ia dan Naruto bukan lagi pasangan, Sasuke benar-benar tak berkutik. Tapi kenapa ia sangat tidak ingin Naruto salah paham atas kesalahannya tadi? Keduanya terdiam cukup lama, hingga Naruto tertunduk lalu mulai terkikik pelan.
"Hi hi…hi hi hi…"
Sasuke membelalak tidak mengerti, terlebih saat Naruto justru tertawa keras.
"Ahahaha hahahaha harusnya…hahahaha…harusnya kau melihat ekspreimu sendiri Sasuke…hihiihi…"
Sasuke hanya berkedip beberapa kali menatap Naruto.
"Ahahahaha aku menyesal tidak membawa kamera untuk merekam ekspresimu hahahaha…"
"Naruto…!" Sasuke sedikit membentak, ia kembali menempatkan kedua tangannya di pundak Naruto, kali ini sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Naruto. "Apa…maksudnya ini…?"
"Hmph…! Fufufu…tidak, hanya saja…hihihihi…kau OOC sekali. Seperti bukan Sasuke saja, Sasuke yang kukenal mana mungkin mengatakan hal romantis seperti 'aku butuh mencintainya' dan lain lain. Ahahahaha…Dan juga…dan juga…hihiihi…ekspreimu tadi aneh sekali. Hahaha…"
"Yeah, dan yang bisa membuatnya begitu Cuma kau saja, Naruto?" Sasuke menoleh ke arah pintu saat mendengar ucapan itu, dan ia melihat Itachi serta Kyuubi berdiri di sana.
"Hehe iya nih, Itachi-nii," cengir Naruto. "Sayangnya tidak kufoto tadi."
"Kan kau bisa membuatnya begitu kapanpun kau mau," balas Itachi.
"Ano sa—…" Sasuke Cuma bisa menggeram mengetahui kalau ia sudah dikerjai oleh Naruto dan aniki-nya.
"So, apa keputusanmu Naruto?" tanya Itachi.
"Sudah pasti kan?" Naruto menatap Sasuke yang kini kembali tegang. Dengan sikap Sasuke tadi sudah pasti Naruto benar-benar akan meninggalkannya sekarang. "Menurutmu apa?" Naruto malah bertanya.
"Baiklah, terserah saja kau mau bersama Jiro atau siapa," Sasuke Cuma bisa menghela nafas pasrah.
"He? Memangnya kau inginnya begitu?"
"Tentu saja tidak. Tapi mau bagaimana lagi."
"Jadi tidak mau kalau aku menerimamu lagi?"
"Cih! Itu tidak mung—…hah?!" Sasuke manatap Naruto tidak percaya.
Bocah blonde itu tersenyum jahil. "Aku akan menerimamu lagi kalau kau mau mengulang kata-kata indahmu tadi."
Sasuke Cuma melotot tak suka sementara Naruto kembali tertawa terbahak.
"Hehe aku sudah berniat melakukannya sejak kenekatanmu di acara gathering itu. Orang gila mana yang mau memproklamasikan cinta sesama jeninya di acara gathering anti-sesama jenis? Sepetinya kau benar-benar mencintaiku ya?" Naruto menjulurkan lidahnya.
"Cih!" kesal Sasuke dan menyentil hidung Naruto.
"Haik haik, apapun itu ayo cepat keluar dari sini. Aku tidak suka tempat ini," ucap Kyuubi yang dari tadi diam saja.
"Hehe, iya. Ayo cari tempat nongkrong yang bagus," balas Naruto.
Kyuubi membalikkan badannya dan melangkah pergi diikuti Itachi, Naruto juga melangkah, tapi Sasuke menarik tangannya dan hanya dalam sedetik, Sasuke udah merengkuh tubuh Naruto di lengannya dan memagut bibir Naruto dalam ciuman basah.
"Sasu—…mmnnhh…tu—…tunggu—…mmnnhh…nnhh…" tapi ucapan Naruto tak dipedulikan oleh Sasuke, ia masih melahap bibir Naruto dengan rakus seolah tak pernah ingin melepasnya lagi. Perlahan, Naruto menyerah juga. Ia membalas ciuman Sasuke dan memeluk tubuh cowok yang kini kembali menjadi pacarnya itu. Mereka melakukannya cukup lama, hingga mereka melepas ciuman itu dan sama-sama tersenyum. Keduanya lalu keluar mengikuti Kyuubi dan Itachi dengan bergandengan tangan.
Kyuubi berjalan dalam diam di samping Itachi. Tak menggandeng tangannya, tak merangkul pundaknya, dan Itachi juga sepertinya tak ada niat untuk melakukannya. Kyuubi hanya bisa menghela nafas lelah.
"Hn? Kau kenapa?" tanya Itachi.
"Tidak," jawab Kyuubi acuh.
"Hei…" Itachi mengacak rambut Kyuubi, tapi kali ini Kyuubi menyingkirkan tangannya.
"Kyuu…?"
Kyuubi berjalan mendahului, Itachi mengejarnya, hingga langkah mereka terhenti di pintu keluar club saat tiga orang berpapasan dengan mereka. Seorang cewek bersurai violet, cowok bersurai merah, dan seorang lagi cowok bersurai jingga seperti milik Kyuubi dengan wajah penuh piercing. Dan sepertinya cowok terakhir itulah yang menyita hampir seluruh perhatian Kyuubi.
Mereka terdiam untuk beberapa saat, sama-sama tercengang oleh sesuatu yang ada di benak masing-masing.
"E—…hai," sapa Itachi pada akhirnya.
"Hei, kau disini juga?" ucap cewek bersurai violet.
"Yeah, tapi kami sudah mau perg—…"
"'kami'," ulang si surai merah surai mengutip kata-kata Itachi. Ia menyeringai dan tampaknya siap melontarkan kata-kata pedas lagi, tapi ucapannya dipotong cowok bersurai jingga.
"Well, sayang sekali ya. Kalau begitu kami masuk dulu, ayo Konan, Nagato," ucap si surai pirang dan memasuki club.
"Hei, Pain! Katakan sesuatu!" omel Nagato sambil melangkah memasuki clun mengikuti langkah Pain.
"Bye…Itachi-kun," ucap Konan dan mengikuti langkah keduanya.
Itachi beralih menatap Kyuubi yang masih diam saja.
"'Warna jingga adalah warna terbaik', eh?" Kyuubi mengulang kata-kata Itachi dulu dan langsung meninggalkan Itachi.
"Kyuu—…" cegah Itachi tapi Kyuubi tak menghentikan langkahnya.
.
.
.
~To be Continue~
