Hallo semua,

Sorry banget, hari ini bambie gak bisa ngasih respon untuk tiap reviewnya karena udah lewat tengah malem..

Tapi makasih banget buat kalian yang tetep stay buat mampir ngasih review ff absurt ini ,

Kalian adalah penyemangatku buat ngelanjutin chapter chapter yang semakin gak jelas ini :)

big thank's to tctbcxx, Park RinHyun-Uchiha , Hunhan794 , misslah, Arifahohse, Seravin509 dan deerbee untuk setiap kata review kalian. #XOXO #BOW

.

ENJOY READING^^

.


Story Of Fantasi

Luxion Guide

Cast : Oh Sehun

Luhan (GS )

and other EXO member,.

[ Chapter 11 ]

.

Tok – tok – tok…

Pintu itu telah diketuk berulang – ulang kali hingga menimbulkan suara berisik dari sisi luar. Kendati sudah menunggu lama, tak ada tanda tanda pintu itu akan segera terbuka dan membiarkan mereka masuk. Si gadis mulai mengeluh, mengumpat bahkan mengancam akan mendobrak pintu cantik itu jika tak terbuka juga.

"Apa mereka semua pindah?" Myungsoo berargumen

Mendengar pertanyaan myungsoo, Krystalpun mendengus, "Jangan gila, mau pindah kemana? Ini tempat teraman bagi Luhan. Apa mereka tak mau aku masuk?"

"Tempat ini diciptakan memang bukan untuk seorang penyihir kurasa." Myungsoo menjawab seenaknya.

"Aku penyihir BAIK,,, BAIK SEKALI oppa." Krystal tak terima, ia meninggikan nada suaranya dan menekankan kata baik.

Melihat Krystal yang ngotot, Myungsoo tak mau kalah. "AKu tak bilang kau Jahat, nona!, lihatlah pintunya tak juga terbuka, mungkin karena PENYIHIR yang datang!"

"ohh, Kau berani menyalahkanku karena aku seorang penyihir?" . Mulai terpancing emosi, krystal mengarahkan tangannya ke kepala myungsoo untuk menjambaknya. "Kau, terima ini !"

Kegiatan jambak menjambak itu tak berlangsung lama, Karena pintu itu terbuka seketika menampakkan Kai dengan muka penuh tepung dan apron pororo terselip ditubuhnya. Krystal dan Myungsoo berbalik menatap seseorang yang keluar dibalik pintu, niat hati ingin mendamprat orang yang membuat mereka menunggu lama, namun niatan itu diurungkan begitu melihat pemandangan Kai yang kacau balau.

"Kurasa telah terjadi perang disini,." Kristal berbisik disebelah myungsoo yang mampu didengar Kai.

Kai mendengus, "Oh kalian, maaf membuka pintunya lama. aku membantu kyungsoo di dapur karena sakitnya baekhyun."

Sang tamu mengangguk, "Kau tak terkejut kami datang kesini?"

Kai berfikir sesaat, sambil menuntun mereka masuk kedalam manshion ia menjawab, "oh, aku akan kaget jika Hyorin yang datang, aku sempat menduga suatu saat kau akan turun kemari, karena oppamu disini. Kau belum pernah bertemu dengannya sejak dia disini kan?."

Krystal mengangguk lalu menggeleng, "Yah,….. tapi aku kesini untuk melihat Luhan. Kurasa ibuku membuat masalah lagi, dan kali ini lebih parah."

Kai tersenyum simpul, "Kali ini akhirnya dia berhasil menidurkan Luhan untuk waktu yang lama. dia mungkin sedang tertawa bahagia diatas sana."

Krystal menunduk, sedikit tak enak dan merasa bersalah. Kai yang melihat itu pun mencoba mengalihkan pembicaraan. "Luhan ada di lantai atas bersama oppamu, kau bisa naik ke kamarnya."

Krystal mendongak, menatap ruangan atas yang ditujuk oleh jari Kai. Setelah menganggukan kepalanya Krystal mengajak Myungsoo untuk menyusuri tangga menuju kamar Luhan. Langkah itu harus terpaksa dihentikan karena suara teriakan Xiumin.

"AAAAA! Ada penyihir disini!," Suara itu sungguh menggemparkan seisi manshion.

Mendengar sebuah teriakan, Chanyeol membawa baekhyun keluar dari kamarnya segera, Kyungsoo meninggalkan sup kacang merahnya menuju sumber suara, Ratu Lay melangkah tergesa gesa keluar dari paviliunnya menuju ruang tengah. Sementara Sehun, dan Tao tetap waspada menjaga Luhan didalam kamar.

"Apa yang terjadi Xiu?", Kyungsoo bertanya pada Xiumin, bersamaan dengan tatapan penasaran dari yang lainnya.

"Penyihir itu datang," Sahutnya dengan senyum tanpa dosa menunjuk seorang gadis yang berdiri di tangga kedua.

Semua orang disanapun menatap Krystal, membuat gadis penyihir itu mendengus, "Yaampun, sambutan macam apa ini."

Kyungsoo, xiumin, dan baekhyun pun berlari kearah tangga, menggeser posisi Myungsoo disamping Krystal, lalu memberikan pelukan erat pada gadis itu. "Apa kabarmu penyihir kecil?"

Krystal yang merasa terdekap sesak pun sedikit mendorong mereka, "Kalian masih saja terlihat kampungan, kalian segitu rindunya sampai ingin membuatku kehabisan nafas?"

Xiumin menampakkan raut terkejut yang dibua buat, "Lihat nenek sihir ini, kata katanya sepedas ibunya."

Kalimat yang dilontarkan xiumin seketika membuat semua orang disana tertawa terbahak bahak, sementara Krystal cemberut dan menghentakkan kakinya kesal. Lay yang juga menyadari keberadaan Krystalpun ikut menyapa.

"Kau sadah lama tak berkunjung Krys." Mendengar suara lembut ini, membuat Krystal dan myungsoo secepat kilat mendekat dan berlutut didepan pemilik suara.

"Sembah kami ibunda ratu". Krystal menunduk dalam dalam sebagai penghormatan kepada orang yang dijunjungnya ini.

Lay tersenyum, tangannya ia sulurkan menyentuh pundak Krystal dan Myungsoo, "Berdirilah, aku tidak lagi ratu kalian disini."

Krystal dan Myungsoopun berdiri serempak, "Anda tetaplah Ratu dihati kami."

"Ibu," Krystal mendekat lalu memeluk Lay dengan erat, melepaskan semua kerinduannya selama ini. Selama berteman dengan Luhan bertahun tahun, Lay sudah menganggap Krystal sebagai anaknya sendiri.

Gadis itu terisak dibahu Sang ratu, menangis disana. Menyampaikan sejuta penyesalan dan rasa bersalah pada orang yang mengajarkan ketulusan padanya ini. Baginya, Lay bukan hanya ratu yang bijak untuk Luxion, tapi Lay adalah orang yang dengan tulus menerimanya tanpa meminta balasan apapun. Bahkan ketika Hyorin terus memanfaatkan tubuhnya, Lay ada disana untuk menjadi tempat keluh kesahnya.

"Sudah – sudah, pergilah ke atas. Siapa tahu luhan akan sadar setelah kau melihatnya." Lay melepaskan pelukannya pada krystal, dan hanya direspon dengan anggukan setelah mengusap air mata yang jatuh dipipinya.

Myungsoo pun menggandeng krystal dan mengajaknya naik tangga menuju kamar Luhan. Meninggalkan Xiumin dan yang lainnya mendesah pada keadaan.

"Kurasa, kali ini dia memaksa untuk kabur lagi." Kyungsoo menatap nanar pada punggung krystal.

Mendengar suara Kyungsoo, Xiumin ikut mengeluarkan suaranya. "Kenapa dia bersikap seolah olah dia betah dengan wanita gila itu!."

"Jika aku tak menghargai keputusannya, sudah kusuruh chanyeol untuk menculiknya dari dulu". Baekhyunpun ikut ikutan menyampaikan argumennya.

Melihat mereka semua malah asik berkomentar dengan keadaan krystal, Laypun akhirnya menengahi, "Sudahlah, dia adalah penyihir berbakat, dia pasti sudah mempertimbangkan keputusannya." Lay berhenti sebentar lalu bercucap kembali, "Kalian terlihat tidak sibuk hari ini?"

Pertanyaan terakhir Lay membuat mereka buyar, dan lari terbirit birit.

"Oh tidak! Sup Kacang merahkku gosong!." Teriakan Kyungsoo dari dapur terdengar keseluruh penjuru, membuat seisi manshion tertawa terbahak bahak.

.

.

.

1000 Tahun yang lalu pada masanya..

Negeri tentram itu terlihat kacau balau, banyak penduduk terluka dan meninggal sia – sia. Mayat mayat berserakan dimana mana, bau darah menguar dibalik bangunan yang runtuh. Sang ratu yang mempunyai kekuatan penyembuh satu satunya dinegeri itu berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan keadaan. Para pengawal terpilih, para manusia pilihan, sibuk membantu dan berjaga – jaga jika petaka yang diakibatkan oleh satu orang itu masih berkelanjutan. Sementara si pembuat kehancuran, menatap mayat pria dalam pelukannya penuh penyesalan. Tak ada senyum, tak ada raungan bahkan teriakan histeris. Bibirnya terkatup rapat sementara hatinya menjerit dan tercabik cabik. Ia cabut panah yang menancap didada korban akibat tarikan busurnya sendiri. Darah dari jantung itu muncrat, mengenai wajah cantiknya. Tanpa merasa jijik gadis dengan gaun hitam penuh darah itu semakin mendekap sang pria, berbisik disana seolah – olah pria itu akan menjawab panggilannya.

"Xi Shun,, bangun!," Luhan berbisik tepat ditelinga Sehun. "Kau berjanji akan menjagaku selamanya, bangun Xi Shun, ini aku Luhan." Tak ada perubahan terjadi, pria yang menjadi mayat itu tak merespon sedikitpun.

Tangan Luhan bergetar, bukan ini yang dia inginkan. Hancur, Menyesal, sedih, marah, merasa bersalah entah perasaan mana yang lebih dominan pada dirinya. Ketidakpercayaan akan apa yang terjadi, dalam semalam ia harus kehilangan orang yang dicintainya dengan tangannya sendiri.

"Xi Shun, kumohon jangan seperti ini. Maafkan aku, aku percaya padamu, aku menyesal. Tolong bangun untukku sekali ini saja, kita akan menikah bukan?." Gadis itu mengguncang tubuh tanpa raga itu terus menerus, berharap keadaan akan berubah.

"Kau bilang akan menjagaku selamanya!, kau bilang kau akan menikahiku!, kau tak kuijinkan meninggalkanku seperti ini Xishun! Bangun! Kumohon…." Luhan memukul tubuh Sehun, mencium kening dan bibirnya namun Sehun hanyalah mayat tanpa jiwa.

Melihat keadaan naas di depannya, seorang pria tertinggi di Luxion itu mendekat merangkul tubuh sang gadis mencoba member ketenangan tanpa hasil disana.

"Sudah cukup Luhan, kurasa XiShun akan tenang disana. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri." Kalimat penenang ini, justru membuat tangisan yang sedari tadi tertahan keluar begitu saja, tangisan itu pecah penuh kehisterisan.

"Seharusnya aku yang mati Chanyeol, bukan dia. AKU TERKUTUK!, aku tak pantas hidup!, aku membuat dia dan rakyat tak berdosa mati sia sia. Aku tak bisa hidup tanpanya ! Tolong kembalikan dia padaku, kumohon." Gadis itu berteriak memukul terus memukul dirinya sendiri.

"Kubilang cukup!" Chanyeol membentaknya, "Tak ada yang akan berubah jika kau terus seperti ini, yang harus kau lakukan adalah bagaimana memperbaikinya, dan meminta pengampunan pada raja."

Tepat saat itu, puluhan prajurit yang tersisa serta beberapa penyihir penganut hyorin mendekati mereka. Prajurit prajurit itu mengarahkan panah mereka pada tubuh Luhan, gadis itu pun mendongak menunjukkan senyum angkuhnya berbeda dengan chanyeol yang menatap prajurit – prajurit itu dengan tatapan terkejut. Siapa mereka yang berani mengacungkan senjata, apalagi memanah Tuan putri negeri ini.

"Bunuh dia!." Perintah itu, siapapun tidak akan bisa percaya jika seorang ayah akan melakukan itu.

"Appa, kau juga tak bisa mempercayaiku bukan?" Luhan mendongakkan wajahnya, menutupi rasa kecewa dan ketakutan dengan muka angkuh

Yifan mengepalkan tangannya, mendapat pertanyaan dari Luhan apalagi dengan sebutan –APPA- setelah bertahun tahun mendengar putrinya yang jarang sekali ia temui memanggilnya terus memanggilnya – paduka Raja - Rasa sedih, tak tega, marah dan kecewa bercampur jadi satu dalam benak yifan.

"Kau bukan putriku, aku tah pernah memiliki putri sekejam itu." Bukan kata kata ini yang ingin Yifan ucapkan pada putri satu satunya ini, namun ia harus bersikap kejam sebagai bukti keadilan dan kebijaksanaannya.

"Mohon ampuni Tuan putri, paduka" . Chanyeol disitu berlutut memohon pengampunan pada Yifan untuk Luhan.

Sementara gadis itu hanya menatap nanar punggung chanyeol , Gadis itu berdiri setelah menaruh mayat Sehun pelan, para prajurit mundur sedikit dengan posisi masih mengarahkan panahnya pada tubuh Luhan.

"Chanyeolla, berhenti melakukan itu. Aku akan menerima semua hukumannya, aku akan menyusul Xishun kesana dan meminta maaf padanya." Luhan mengalihkan tatapan matanya pada Sehun dan memberika tersenyum tulus disana.

"Cukup Luhan!, berhenti bicara omong kosong!." Chanyeol tetap dalam posisinya menyembah raja Yifan, beberapa bulir bening turun pada pipi laki laki itu.

"Kuperintahkan!, Bunuh Tuan Putri Terkutuk ini!." Yifan mengeraskan suaranya, membunuh segala rasa tidak tega dan keragu raguannya.

Mendengar perintah ultimatum dari Raja mereka, Lay yang sudah kehabisan tenaga memaksa menerobos pasukan pemanah. Lay berlutut memeluk kaki suaminya, berusaha menurunkan amanah Raja untuk putrinya ini.

"Berilah pengampunan untuk Luhan, Suamiku. Ia tak bermaksut menghancurkan semuanya." Lay menangis dikaki Yifan.

Melihat keadaan yang menjebak Luhan itu, dengan serempak Xiumin, Baekhyun, Chen, Kai, Kyungsoo, Tao dan beberapa pengikut Luhan yang bertugas untuk berjaga pun ikut berlutut. "Ampuni Tuan Putri Luhan, Yang mulia!."

Yifan tak bergeming, keputusannya sudah bulat, "Apa yang kalian lakukan,.?. Putri Luhan telah Menghancurkan istana dan negeri Luxion, membuat penduduk tak bersalah terluka dan terbunuh sia – sia, memberikan keresahan yang mendalam serta meracuni Ratu Hyorin adalah kesalahan fatal. Dengan ini, aku sebagai raja akan mengeksekusimu ditempat. Cepat tembakkan panah kalian!."

Satu panah terbang dari sudut depan, terbakar oleh api chanyeol sebelum mengenahi tubuh luhan. Namun satu orang melawan puluhan panah bukanlah hal yang mudah, beberapa panah mengenai paha dan lengan Chanyeol yang berusaha melindungi Luhan. Chanyeol bertertiak kesakitan, membuat baekhyun, Luhan dan lainnya menangis histeris tak tega. Chanyeol bisa saja melawan mereka dengan kekuatannya, teman – temannya juga pasti akan membantunya, tapi itu akan membuat semuanya semakin merugikan Luhan, mereka semua akan di cap sebagai penghianat. Mereka juga tak setega itu akan menyerang kaum mereka sendiri. Baekhyun ingin berlari menuju chanyeol namun ditahan oleh kyungsoo, semakin banyak yang terluka akan semakin buruk bagi mereka. Mereka adalah pengawal yang diberkahi kepatuhan dan kesetiaan oleh dewa, bukan hal mudah untuk memberontak raja mereka sendiri.

"Cukup Chanyeol, pergi dari hadapanku. Ini perintah!" Luhan mengeluarkan suaranya, kalung rubinya bersinar membuat Chanyeol tak mampu bergerak.

Luhan mengangkat tubuh chanyeol tanpa menyentuhnya, tubuhnya terbang menuju posisi baekhyun yang lainnya. Luhan tersenyum menatap mereka satu persatu. "Sudah cukup sampai disini kalian berjuang bersamaku, jangan bergerak untuk melindungiku. Aku yang kejam ini, terpaksa menyegel tubuh kalian, aku akan menanggung semuanya sendiri."

Setelah berkata demikian, Luhan mundur kebelakang membawa tubuh Xi shun berdiri bersamanya. Luhan mendekap tubuh itu, memberi perlindungan dengan mantera dewa agar panah panah tak mampu menembus tubuh Xishun.

Srett…..

Satu panah mengenai punggung Luhan, darah menetes disana namun Luhan tak berteriak sedikitpun, Ia semakin merekatkan pelukannya, menatap teman teman yang menangis untuknya dengan senyuman perpisahan.

"Jangan menangis, aku hanya pergi menemui Xishun baek,." Luhan berkata sambil menahan rasa ngilu punggungnya.

Dua panah mengenai lutut dan paha gadis itu membuat tubuhnya dan Sehun merosot jatuh kebawah. "Kai, berhentilah menggoda Kyungsoo, kau mencintainya bukan?. Untuk Kyungsoo, aku tak pernah sekalipun memujimu, mungkin ini terlambat tapi masakanmu sungguh enak, aku pasti akan merindukannya. "

Mendengar kata kata Luhan yang begitu manis, Kyungsoo dan Kai semakin histeris, "Kumohon, siapapun, tolong Luhan kami."

Luhan sedikit meringis ketika beberapa panah bertubi – tubi mengenai lengannya. "Xiumin, aku tidak percaya pernah memakai baju buatanmu sebagai lap meja, seharusnya aku memakainya waktu itu. Maafkan aku."

Xiumin menggigit bibirnya menahan isakan, "aku bisa membuatkan seribu baju untukmu, jadi tolong jangan mati."

Luhan tertawa, seolah kata kata Xiumin adalah candaan untuknya ia mengalihkan matanya pada tubuh chanyeol yang terluka, "Berhentilah marah marah chan, nikahi baekhyun dan miliki anak yang cantik sepertiku darinya. Kau adalah orang tua yang baik bagiku."

Luhan meneteskan air matanya melihat chanyeol yang berusaha menggerakkan tubuhnya untuk berlari pada Luhan. Gadis itu menggeleng dan memberikan senyuman baik baik saja kepada mereka.

"Tao ya, terimakasih telah menjadi hadiah special dari Xishun untukku, jaga kesehatanmu, jangan menyeberangi masalalu untuk melihatku, dan sepertinya masa depan tak lagi sama dengan apa yang kau perlihatkan padaku." Luhan berhenti sebentar, memuntahkan beberapa darah dari mulutnya. "Dan chen, kau jarang mengunjungiku di puri Timur, sepertinya kau sangat menyukai Yifan appa, karena itu tolong jaga dia untukku yah,?" Chen mengangguk dalam tangisannya.

Mendengar namanya disebut Luhan, Yifan meneteskan air matanya lalu mengusapnya kasar. Wajah tegas itu ia palingkan, sesungguhnya demi seluruh dewa Yunani, bukan itu yang yifan ingin lakukan untuk putrinya tapi sebagai seorang raja ia harus bersikap adil, bahkan untuk putrinya sendiri.

Luhan sedikit menggeser posisinya, membuat darah segar itu semakin mengalir deras dari luka luka di tubuhnya. "Eomma, Appa terimakasih karena melahirkanku, maaf karena aku menjadi Luhan yang terlahir seperti ini." Lay menangis histeris memukul tubuh suaminya

"Dan untuk, sahabat kelamku Krystal…." Luhan tak mampu menyelesaikan kata katanya, tubuhnya terasa ngilu dan pedih dimana mana. Jika saja ia menggunakan healingnya luka itu pasti akan sembuh perlahan namun gadis ini lebih memilih menanggung bebannya sendiri.

Namanya disebut oleh perempuan yang menjadi teman pertamanya. Gadis penyihir ini tak mampu menerima semuanya begitu saja. Ia tahu bahkan sangat tahu bahwa ini telah terencana dengan baik oleh ibu angkatnya. Walau kematian Xi shun diluar rencana yang sudah ditetapkan, bagaimanapun ini bukan salah Luhan sepenuhnya. Dengan marah krystal mengusap air matanya kasar, membisikkan beberapa perintah pada Myungsoo, lalu berjalan dengan mata merah menyala ke arah Luhan,

"Sihir hitam, aku memanggilmu dengan segenap jiwa dalam kematian, turuti perintahku." Sebuah buku terbang menyala, lapisan buku itu terbuka menampilkan beberapa huruf kuno yang tak terbaca.

Kabut hitam itu mengelilingi Luhan, menahan semua serangan panah agar tak menembus tubuh gadis itu. Tepat didepan Luhan, Krystal berdiri dengan wajah datar, auranya begitu gelap , matanya memerah semerah jubah sihir yang ia kenakan.

"Pergi dari sini, kau tak boleh mati dan membuat wanita gila itu menang." Krystal berkata dengan bibir yang terlihat tertutup.

Luhan menggeleng, "Aku akan menyusul Xishun Krys."

Krystal tak membuka bibirnya sedikitpun, namun beberapa suaranya muncul, "Gadis Bodoh! Kau fikir setelah kematianmu tempat ini akan aman? Wanita gila itu akan membunuh ibu dan semua pengikutmu, pergilah sebelum wanita itu bangun dari sihir kematian palsunya."

Luhan akan berkata lagi, tapi Krystal mendahuluinya, "Aku sudah menyuruh myungsoo untuk menolong ibumu, kau lepaskanlah segel mereka agar mereka bisa melindungi diri mereka sendiri. Pergilah kemanapun, entah kelangit atau tempat apapun itu, bawa tubuh Xishun oppa bersamamu, kurasa jika dia masih hidup dia akan melakukan hal yang sama."

Luhan menangis, "Krys, terima kasih."

Krystal memejamkan matanya, " Cepatlah, aku tak mampu menahan mereka terlalu lama. Pergilah Luhan, aku sudah berdamai dengan bayanganku, jadi tetaplah hidup dan bawa aku bersamamu nanti."

Mendengar perkataan Krystal, Luhan melebarkan sayap emasnya yang sudah bercampur dengan darah akibat luka lukanya. Gadis itu terbang sekuat tenaga yang tersisa membawa tubuh Xishun, menuju langit tanpa batas.

.

.

.

Seoul, Dengan detik yang tak pernah ditentukan.

Krystal berdiri tepat didepan kamar Luhan bersama Myungsoo disampingnya, tangannya ia angkat untuk mengetuk pintu kaca itu namun diurungkan. Gadis itu mendesah lalu berjalan menghindari pintu itu menuju pagar besi balkon dan bersandar disana. Myungsoo hanya mengernyit dan berjalan mengikuti Krystal, melakukan hal yang sama dengannya.

"Kau sudah jauh – jauh kemari, kau tak masuk?" Myungsoo bertanya memecah keheningan diantara keduanya.

Krystal mendesah sekali lagi, "Aku, tak punya nyali menemuinya. Aku bahkan tak bisa mengumpat didepannya, karena ibuku yang melakukan semua ini padanya."

"Kau merindukannya, tapi tak berani melawan rasa bersalahmu." Myungsoo berkata dan memberikan senyuman pada wajah Krystal, "tidak apa – apa, aku mengerti. Kau sudah melakukan banyak hal sebaik mungkin sampai detik ini. Kau terlihat sama persis seperti Luhan jika seperti ini. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.

Krystal mendengus, "Jangan samakan aku dengan gadis bodoh itu, jika aku jadi dia dengan kekuatan sebanyak itu dulu, orang pertama yang aku bunuh pastilah wanita gila itu!."

"Tak ada yang bisa menandingi sifat kejam adikku, kau benar – benar menuruni sifatnya." Ini suara sehun, yang sedari tadi berdiri bersender di pintu pembatas balkon.

"Oppa!" Melihat Sehun, Krystal berlari memeluk kakaknya ini.

Sehun tersenyum, membelai lembut surai adiknya, hal yang biasa ia lakukan dulu pada Krystal, "Kau hanya akan pamer auramu dan tak ingin masuk?" Krystal hanya menunduk, "Kenapa?"

Krystal menggeleng, lalu mengalihkan tubuhnya kembali menuju balkon, menatap kebun dibawahnya, seolah olah menikmati suasana. Sehun yang melihat krystal mengacuhkan pertanyaannya menatap Myungsoo tajam, "Apa yang kau lakukan pada adikku?"

Myungsoo tersentak ,"Ampun Pangeran Xishun, hamba tak melakukan apapun.."Myungsoo menggeleng ribut, "Krystal , maksut hamba nona Krystal memang seperti itu dari tadi karena rasa bersalahnya pada Tuan Putri Luhan."

Setelah mendengar penjelasan Myungsoo, Sehun mengangguk mengerti, ia menatap punggung Krystal lalu berkata, "Kau akan mendapat Luka disekujur tubuhmu setelah ini, karena kabur dari ibu. Temui dia, bukankah kau tak ingin mendapat Luka sia sia."

Krystal berbalik cairan bening meluncur dari mata tajamnya, "Aku tak bisa menemuinya oppa, aku tak bisa melihatnya seperti itu. Dia takkan meresponku, sekalipun aku menggodanya, mengatakan kata kata tajam padanya seperti dulu. Aku ingin bertengkar dengannya seperti dulu, oppa! Tidak seperti ini!."

Myungsoo membawa Krystal pada pelukannya, menepuk punggungnya perlahan member ketenangan, "Semua akan baik baik saja, kita akan mencari cara untuk membangunkannya."

Mendengar kata – kata myungsoo, Krystal melepas pelukan pengawalnya itu, menghapus air matanya kasar lalu berlari menuju kamar Luhan. Sehun dan Myungsoo mengikuti arah kemana Krystal berlari. Myungsoo bisa menebak apa yang akan dilakukan penyihir yang disayanginya itu, dan ia berfikir harus mencegahnya sebelum hal gila itu terjadi, sementara Sehun hanya mengikuti mereka dengan kebingungan dikepalanya. Pintu kaca itupun dibuka kasar oleh Myunsoo setelah beberapa detik yang lalu melihat Krystal masuk kesana.

Tebakan Myungsoo benar, dibalik pintu itu Krystal sedang melafalkan mantera sihirnya. Tubuh Luhan kini berdiri berada tepat didepan Krystal masih dalam keadaan mata terpejam. Sehun masih terdiam di depan pintu, melihat apa yang akan krystal lakukan. Gadis itu mendekatkan bibirnya pada Leher Luhan, ia berusaha untuk menggigit dan merobek kulit Luhan. Tepat setelah mulut Krystal terbuka, Myungsoo mengeluarkan benang putih tipis dari ujung mantelnya. Benang tanpa batas itu terulur ke Arah Luhan, melilit tubuh tersebut lalu secepat mungkin Myungsoo menariknya.

Krystal tersentak kaget, baru saja ia akan menarik Luhan kembali dengan manteranya, Myungsoo telah lebih dulu menerbangkan jarum dan mengenai bahu Krystal membuat gadis itu tak bisa bergerak.

"Sudah kubilang! Kita akan mencari cara lain tanpa harus mengorbankamu Krys!." Myungsoo berteriak marah menatap Krystal tajam setelah memberikan tubuh Luhan pada Sehun.

Krystal hanya diam tak mampu menjawab ataupun bergerak sedikitpun karena Jarum myungsoo yang menusuk menempel dibahunya. Sehun yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pun bertanya, "Ada apa ini? Berkorban apa?"

Karena krystal masih dalam pengaruh jarum, myungsoo pun memberanikan diri menjawab semua pertanyaan Sehun. Myungsoo mulai menceritakan semuanya, tentang apa yang terjadi pada Luhan dan cara untuk menyembuhkannya dan kenapa Krystal memilih untuk mengorbankan nyawanya.

"Jadi, hanya seorang yang memiliki darah penyihir yang bisa menghisap racunnya? Karena itu adikku melakukan itu tadi." Myungsoo mengangguk menjawab pertanyaan Sehun.

"Kalau begitu,,," sehun memejamkan matanya, lalu membukanya kembali dengan tersenyum, "Aku yang akan melakukannya.!" Ucapnya mantap

Myungsoo dan Krystal mengernyit , melihat reaksi dua orang itu Sehunpun berucap lagi , "Kalian Lupa? Aku juga memiliki darah sihir. Aku terlahir olehnya."

Myungsoo terkejut dengan ucapan Sehun. "Gila!, anda tidak bisa melakukan itu Pangeran, Anda akan mati setelah menghisap racun tuan putri!."

Sehun tersenyum miris, "Dari awal takdirku dengannya memang gila bukan? Kurasa, Dewa ingin aku mati agar ia tetap hidup."

Untuk Luhan, Pria itu rela mati bahkan untuk kedua kalinya. Keinginan Sehun tidaklah banyak, Jika memang dia tidak bisa tinggal untuk menjaga luhan disisinya, maka cukuplah dengan kebahagiaan yang menyelimuti kehidupan Luhan. Sehun ingin gadis itu menikmati hidupnya, tanpa kutukan, tanpa terluka, tanpa dendam tanpa perang, hanya ketenangan dalam hidup Luhan dan Jiwa Sehun akan mengisi hati Luhan sekalipun tidak dengan raganya.

.

.

Jika nafasku Lepas….

Jangan terluka dan menangis dalam hatimu…

Karena rasaku, masih tertinggal dan hidup dititik itu..

-Sehun-

/

-TBC-


NEXT?

Thank's to all readers

mind to review?

.

.

.

Hy i'm newbie,,,

is my first story,

Dont be plagiat ,

Hope U like,, and

Just Know ''ILY''

-BAMBIE520