Perjalanan dari SD Teiko ke rumah kediaman Akashi terlihat begitu canggung. Mobil merah yang muat untuk enam orang tersebut melaju stabil di jalanan kota Kyoto. Di dalamnya keenam orang dengan rambut warna-warni bak pelangi itu terdiam dan tidak ada yang berani membuka suara karena sang pengemudi, Akashi Seijuurou, sedang memasang mode yandere-nya.

Kuroko yang duduk di kursi penumpang depan hanya bisa melirik anak-anak asuhnya melalui kaca spion mobil. Keempat anak itu terlihat ketakutan setengah mati. Mereka menundukkan kepala dan memasang wajah takut disertai penyesalan. Bahkan Atsushi tidak memakan snack-nya. Kemudian Kuroko mengalihkan perhatiannya kepada kepala keluarga Akashi yang sedang memancarkan aura iblisnya sekarang.

Kuroko memutuskan untuk membuka ponselnya dan curhat kepada Kagami. Dimulai dari pagi harinya yang terlihat cerah sampai sekarang. Setelah mencurahkan isi hatinya kepada Kagami, Kuroko menutup matanya sejenak dan berpikir sebentar.

Apa yang akan terjadi sekarang? Tanyanya dalam hati. Semoga tidak terjadi apapun. Aku belum pernah melihat Akashi-san benar-benar marah sebelumnya, tambahnya.

Kuroko kembali membuka kedua kelopak matanya ketika merasakan tidak ada pergerakan dari mobil yang ia tumpangi itu. Benar saja, mereka sudah sampai di rumah Akashi.

Akashi turun dari mobil dan berjalan menuju kursi penumpang belakang dimana anak-anaknya duduk dengan posisi tegap dan wajah yang melihat ke bawah. Kuroko juga turun tapi memutuskan untuk melihat saja. Pada dasarnya ia hanyalah babysitter, jika sudah berurusan dengan masalah keluarga, ia tidak punya kuasa sama sekali.

"Turun!" Suara tegas dan keras dari Akashi membuat keempat anak dengan warna rambut berbeda itu turun dari mobil. Dimulai dari Shintarou dan diakhiri oleh Atsushi. "Masuk ke dalam rumah!"

Keempat anak itu berjalan secara beriringan masuk ke dalam rumah mereka bagaikan anak ayam.

"Tunggu aku di ruang kerjaku!" Dengan nada menusuk dan tegas, Akashi memerintah anak-anaknya itu. Kuroko hanya bisa mengikuti langkah Akashi ketika si kepala keluarga berjalan mengikuti anak-anaknya dari belakang.

Langkah Akashi terhenti ketika keduanya sudah sampai di depan pintu utama rumah megah milik Akashi. Akashi menatap Kuroko tajam, "Jangan campuri urusan keluargaku." Dan Akashi berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang kerjanya dimana anak-anaknya sudah menunggu.

Kuroko yang melihat itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia sudah berdoa dalam hati supaya anak-anak itu baik-baik saja.

.

.

.

Tetsu-nanny!

Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Genre :
Romance/Family

Rated :
K+

Warning :
AU, OOC, Typo(s), gaje, alur kecepatan, humor garing, shounen-ai, chibi!GOM (minus Akashi), dan kekurangan lain sehingga tidak bisa disebutkan satu-satu.

Happy Reading~

.

.

.

Day 10―

Keempat anak laki-laki dengan usia enam tahun itu berjalan menuju ruang kerja sang Papa yang terletak di seberang koridor kamar mereka yang dihubungkan dengan tangga utama rumah yang bercabang dua itu. Di koridor itu terdapat beberapa pintu dicat berwarna putih. Mereka memasuki salah satu ruangan diikuti oleh sang Papa di belakangnya.

Kuroko yang sedaritadi hanya mengekori keluarga itu berhenti dengan jarak dua meter dari pintu kayu cat putih tersebut. Pintu itu ditutup Akashi dengan suara yang agak keras menandakan sang kepala keluarga memang sedang murka.

Walaupun wajahnya terlihat datar, sesungguhnya ia sangat kalut karena takut terjadi sesuatu di dalam sana, mengingat sang kepala keluarga mempunyai kebiasaan aneh, yaitu melempar gunting ketika sedang marah.

Berbeda dengan Kuroko yang hanya bisa berjalan mondar-mandir di depan ruang kerja milik Akashi sambil berdoa, keempat bocah pelangi tersebut sedang duduk di sebuah sofa panjang berwarna merah yang terdapat disana. Mereka duduk berjejer sedangkan sang Ayah duduk di sofa yang sama panjang dan diletakkan di hadapan sofa tempat anaknya duduk tersebut sambil menumpukan kedua sikunya di pahanya dengan tangan yang ditautkan dan badan dicondongkan ke depan. Mata heterokromatik yang indah itu memberikan tatapan tajam kepada anak-anaknya yang masih menunduk. Mereka dipisahkan oleh sebuah meja kopi pendek.

"Jadi," Akashi memulai dengan lambat, "bisa jelaskan padaku apa yang terjadi di sekolah tadi?"

Hening.

Tidak ada yang mau memulai.

Snip. Snip.

Keempat kepala warna-warni itu mendongak dan melihat sebuah gunting merah di tangan Papa mereka. Sontak keempatnya langsung bergidik ngeri. Bisa dilihat bahwa Ryouta dan Atsushi menahan air matanya supaya tidak jatuh.

"Katakan pada Papa sekarang." Akashi mengeluarkan sebuah ancaman disertai dengan aura iblisnya.

"I-itu.." Shintarou membuka suaranya. Kacamatanya ia tegakkan walaupun tangannya masih bergetar, "Tadi ada sekelompok anak yang melempar makanan kepada Momoi jadi kami membalasnya yang berujung pada kehancuran kelas."

Usai penjelasan singkat dari si sulung hijau, ketiga saudaranya menggigit bibir mereka karena takut dihukum.

"Begitu saja?" Akashi bertanya sekali lagi sambil melirik ketiga anak lainnya.

Hanya dibalas anggukan persetujuan saja.

Akashi berdiri dari posisi duduknya. Keempat mata dengan iris berbeda warna mengikuti pergerakan sang Papa yang berjalan menuju sebuah lemari di ruang kerjanya. "Kalian tahu bahwa kalian sudah membuatku malu, bukan?"

Bulu kuduk keempat anak itu kembali berdiri. Jantung mereka berdegup dengan sangat kencang. Mereka sadar bahwa Papa mereka adalah orang yang absolute dan disini mereka membuat Papa mereka malu. Anak macam apa mereka ini? Seharusnya mereka bersyukur sudah diangkat menjadi anak oleh Akashi Seijuurou, mengingat Papanya ini adalah orang yang sangat hebat dan dihormati oleh orang banyak.

"Untuk anak yang nakal," Akashi mengambil sesuatu dari lemari tersebut, "tentu saja ada hukumannya."

Akashi menarik sebuah rotan dan mengetesnya dengan menebasnya di udara hampa sehingga menimbulkan bunyi yang membuat semua orang meringis. Apalagi kalau dia yang melakukannya.

..

..

Di luar ruang kerja Akashi, dengan wajah teflonnya, Kuroko berjalan mondar-mandir sambil melipat tangannya di depan dada. Sesekali ia melirik jam tangan yang ia kenakan. Sudah lima belas menit mereka di dalam dan Kuroko tidak dapat mendengar apa-apa dari luar. Kuroko semakin khawatir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di lengannya.

Srat!

Srat!

"Hiks.."

Suara isakan dapat terdengar dari luar sekarang. Tidak lupa dengan suara rotan yang membelah udara dan suara tercekat anak-anak.

Oke, Kuroko sudah tahu apa yang sedang terjadi di dalam sekarang. Ia meringis ketika mendengar suara rotan membelah udara dan mengenai sesuatu seperti kulit manusia. Ia masih ingat ketika ia berusia sembilan tahun, ia bermain hingga jam sepuluh malam di tempat yang tidak diketahui orangtunya. Sepulangnya ia dipukul dengan rotan juga oleh Ayahnya tetapi setelah itu Ibunya langsung mengobatinya.

Drrtt.. Drrtt..

Kuroko merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Ia ambil ponsel berwarna biru muda itu dan menekan tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga kanan.

"Moshi moshi, Mibuchi-san?" Kuroko menyapa peneleponnya.

"Kuro-chan? Apa Sei-chan ada di rumah?" Dari ujung sana, Mibuchi terdengar panik bukan main.

"Iya. Baru saja Pasukan Pelangi terlibat perkelahian di sekolah dan kepala sekolah memintanya untuk menjemput Pasukan Pelangi di sekolah." Kuroko terdiam sebentar sambil melihat pintu dimana kelimanya berada, "Dan sepertinya Akashi-san sedang menghukum anaknya sekarang."

Mibuchi terdiam. Samar-samar ia dapat mendengar suara rotan membelah udara dan isakan tangis anak kecil. Mibuchi menggigit bibir bawahnya lalu berkata, "Kuro-chan, tadi Sei-chan sedang bernegosiasi dengan klien yang sangat menyebalkan sehingga mood-nya langsung jelek."

Oh, tidak!

"Aku takut Sei-chan melampiaskan kekesalannya kepada anak-anaknya. Saat aku kembali setelah mengambil minuman untuknya ia sudah tidak ada di ruangannya. Karyawan lain mengatakan bahwa ia berjalan keluar dengan aura yang benar-benar tidak mengenakkan."

Kuroko semakin panik sekarang. Bukan hanya Kuroko tetapi Mibuchi yang masih ada di ujung sambungan juga panik. Keduanya takut jika Akashi melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak. Tapi ini Akashi yang mereka bicarakan, bukan? Akashi yang mempunyai pengendalian diri yang sangat hebat.

"Hiks.. Hiks.." Suara Atsushi dapat Kuroko dengar dari tempatnya sekarang.

Tapi pada dasarnya, seorang Akashi Seijuurou tetaplah manusia biasa yang bisa marah dan stres.

"Mibuchi-san," Kuroko memanggil orang yang tersambung dengannya melalui alat komunikasi bernama ponsel tersebut, "aku akan berusaha menghentikannya. Tapi aku tidak tanggung dengan apa yang akan terjadi pada Akashi-san kalau kemarahannya belum reda."

"E-eh, Kuro-chan?"

"Kuserahkan padamu kalau dia masih marah, Mibuchi-san." Dengan itu sambungan tertutup tanpa memberikan waktu untuk Mibuchi membalas.

Kuroko menatap ponselnya sebentar. Ia mengirimkan sebuah e-mail kepada Kagami berisi ucapan selamat tinggal dan terima kasih karena sudah menjadi temannya selama ini sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Pemuda berambut biru muda itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Matanya menyiratkan determinasi yang tinggi walaupun ada sedikit rasa takut di hatinya. Ia sudah siap untuk mati sekarang!

Itulah hal yang dapat menggambarkan betapa seramnya seorang Akashi Seijuurou jika sudah marah besar.

Dengan segala keberanian yang ia punya, Kuroko menetapkan hati untuk memasuki pintu neraka itu tanpa mengetuknya ―orangtuanya pasti sedih jika mengetahui ini― dan hal pertama yang ia lihat adalah keempat anak yang menahan tangis ketika tangan mereka dipukul dengan rotan oleh Akashi dengan tatapan yang dingin dan kejam.

"Akashi-san, bisakah Anda berhenti memukul anak-anak seperti itu?" Kuroko membuka suaranya dan Akashi berhenti untuk melihat siapa yang mengganggunya ketika ia mendidik anak-anaknya itu.

"Tetsuya," Akashi menatap Kuroko dengan dingin, "sudah kubilang jangan ikut campur."

Kuroko meneguk ludahnya kemudian membalas, "Tapi apakah itu cara untuk mendidik anak dengan benar?"

Good job, Kuroko Tetsuya. Sebentar lagi kau akan mati di tangan iblis tampan bernama Akashi Seijuurou.

"Jangan pernah mempertanyakan apakah aku melakukan hal yang benar atau salah karena aku selalu benar!" Akashi menatap keempat anaknya yang sedang meringis sambil menjulurkan tangan mereka. Keempatnya sudah mengeluarkan air mata sekarang sedangkan Akashi hanya menatap mereka dengan dingin.

"Sebagai pihak luar saya mengerti cara Anda karena saya juga pernah mengalaminya sewaktu kecil." Kuroko menatap Akashi dengan tatapan tak kalah dingin membuat Akashi menaikkan sebelah alisnya, "Tapi ada batasan juga dalam mendidik mereka seperti ini."

Dengan berani Kuroko melangkah maju menghampiri keempat anak yang sudah menangis itu. Kuroko merengkuh keempatnya dan mengelus puncak kepalanya sambil membisikkan bahwa sakitnya akan hilang sebentar lagi.

"Akashi-san, saya permisi untuk mengobati mereka." Kuroko menggiring keempat anak itu keluar dari ruang kerja Akashi untuk mengobati luka yang mereka terima. Keempatnya menurut dan berjalan sambil menghapus air mata mereka dengan lengan seragam yang belum sempat diganti.

Akashi yang hanya bisa melihat kelima sosok itu pergi menatap rotan yang ada di genggamannya. Seolah tersadar dari setan yang merasukinya beberapa menit lalu, Akashi menutup matanya dan membuang rotan itu ke sembarang tempat. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa merah panjang itu dan menutup kelopak matanya dengan telapak tangan sebelum membukanya lagi untuk memperlihatkan manik heterokrom yang menatap langit-langit ruang kerjanya. Kedua mata itu menyiratkan penyesalan.

"Padahal aku sudah berjanji untuk tidak sepertinya, tapi pada akhirnya aku juga melakukan hal yang sama pada anakku sendiri." Dengan senyum menyesal ia mengacak rambut merah darahnya.

..

..

Keempat bocah pelangi itu sedang duduk di atas tempat tidur Kuroko. Mata mereka masih terlihat merah dan sembab habis menangis. Sedangkan Kuroko dengan sabar mengoleskan salep ke tangan-tangan mungil itu sebelum membalutnya dengan perban supaya lukanya tidak terkena udara luar. Setelah selesai, Kuroko melihat wajah lesu dari keempat anak itu. Dapat dilihat mereka benar-benar menyesal. Kuroko menghela nafas sebelum mengelus kepala mereka satu persatu.

"Berkelahi itu tidak baik dan kalian tahu itu, 'kan?" Keempatnya mengangguk, "Aku yakin kalian tidak akan mencari ribut duluan jadi bisa ceritakan padaku apa yang sebenarnya yang terjadi?"

"Kami hanya membalas perbuatan anak nakal di kelas. Dia melempari Satsuki dengan keju." Daiki bersuara tanpa melihat kedua mata babysitter-nya tersebut.

"Aku tahu maksud kalian baik, tapi seharusnya kalian tidak terlibat perkelahian seperti itu." Kuroko menasehati keempatnya layaknya seorang Ibu yang baik. Ia ingat bahwa Ibunya juga menasehatinya setelah ia pulang waktu itu. "Kalian tahu, Papa kalian segera datang setelah kutelepon mengenai kondisi kalian. Walaupun wajahnya terlihat dingin tanpa emosi, tapi matanya menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa."

Keempat anak itu mendongak dan melihat Kuroko yang tersenyum tipis.

"Sekarang kalian lebih baik ganti baju dan pergi ke kamar kalian masing-masing. Aku akan membawakan kalian makanan." Kuroko bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar.

"Aku sudah menjadi anak yang nakal, nanodayo." Ungkapnya dengan pelan. Aku sudah melanggar janjiku sendiri, nodayo, tambahnya dalam hati.

Atsushi menunduk guna 0menyembunyikan air mata yang masih senantiasa turun dari matanya, "Aku nakal. Aku membuat Papa-chin kecewa."

Daiki menunduk dalam sambil melihat tangannya yang diperban dengan rapi tersebut, "Aku tidak layak diadopsi."

Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, Ryouta hanya menatap kosong ke arah depan. Iris yang biasa dipenuhi dengan keriangan tersebut berubah menjadi tak bernyawa. Memori-memori masa lalunya tiba-tiba saja terulang kembali layaknya kaset rusak. Namun itu tidak lama karena ia lah yang pertama kali sadar.

"Ki-kita harus ganti baju-ssu. Nanti Kuroko-cchi bingung mengapa kita tidak ada di kamar-ssu." Si bungsu mengusulkan yang diikuti ketiga saudara lainnya.

Setelah berganti pakaian dan menunggu di kamar Daiki, Kuroko agaknya terkejut karena mereka semua berada di ruangan yang sama padahal ia sudah bilang di kamar masing-masing saja. Ya, terserah mereka juga sih. Dengan empat buah mangkuk berisi sup kacang merah, Kuroko memasuki kamar tersebut dan menyuruh keempatnya makan mengingat mereka belum makan siang setelah pulang dari sekolah.

Selesai makan mereka kembali terdiam. Kuroko yang mengerti kesedihan mereka hanya bisa menghela nafas lelah. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

"Bagaimana dengan sekolah kalian hari ini?" Kuroko membuka percakapan ringan yang ditanggapi dengan tatapan mata makin bersalah dari keempatnya. "Sebelum berkelahi tentunya."

"Hm..baik-baik saja-ssu?" Ryouta memainkan ujung lengan pakaiannya sambil menunduk.

"Muro-chin sensei adalah orang yang baik. Dia mengajari kami dengan sabar." Atsushi angkat bicara. Kuroko menaikkan sebelah alisnya mendengar panggilan Himuro dari Atsushi.

"Kami juga dapat teman baru selain Satsuki. Namanya Sakurai dan Takao." Daiki menatap Kuroko dengan tatapan bersemangat, "Takao teman sebangku Shintarou dan Sakurai teman sebangkuku."

"Takao itu orangnya SKSD, nanodayo." Shintarou menyembunyikan semburat merah mudanya dibalik bantal entah milik Daiki atau Ryouta.

"Tapi Shintarou-cchi sepertinya senang-senang saja kalau Takao-cchi sudah mulai berbicara-ssu." Ryouta tersenyum jahil kepada saudara tertuanya itu.

"Urusai, nanodayo." Dan Shintarou sendiri semakin malu dibuatnya.

"Hoaamm.." Suara orang menguap terdengar dari dalam ruangan itu.

"Kalian mengantuk?" Kuroko bertanya kepada setiap anak yang ada disana dan ditanggapi positif oleh mereka, "Ya, ini hari pertama kalian ke sekolah jadi wajar kalau kalian lelah. Ya sudah kalian tidur saja."

"Oke~" Jawab mereka serempak. Daiki dan Ryouta langsung melompat ke tempat tidur mereka sedangkan Shintarou dan Atsushi digiring oleh Kuroko ke kamar sebelah.

Ketika merasa tugasnya sudah selesai, Kuroko berjalan membawa keempat mangkuk bekas makan bocah pelangi ke dapur. Ketika sampai di tangga utama rumah megah tersebut ia melirik koridor seberang dimana wilayah pribadi Akashi berada. Apa sebaiknya ia berbicara dengan Akashi? Tapi kalau ia masih marah bagaimana? Daritadi tidak ada suara mobil pergi menandakan si pemilik perusahaan Rakuzan itu belum kembali ke kantornya.

Drrtt. Drrtt.

Kuroko merasakan ponselnya bergetar dan mengeluarkannya dari saku celana. Ia membaca e-mail yang berasal dari sekretaris pribadi dari bosnya tersebut.

From : Mibuchi Reo

To : Kuroko Tetsuya

Lebih baik kau berbicara dengan Sei-chan. Mungkin ia perlu ditemani sekarang? Walaupun selama ini aku tidak berani mendekatinya sih kalau ia sudah marah. Tapi mungkin kau lebih berhasil.. Pokoknya ganbatte *(^v^)*

Kuroko menautkan alisnya sekarang. Sebenarnya ia ini babysitter anaknya Akashi atau babysitter Akashi? Kenapa dia harus mengurusi bosnya juga?

"Tet-chan, kalau ada orang yang kesulitan harus dibantu. Jangan dibiarkan begitu saja. Oke?"

Kata-kata mutiara dari sang Bunda berdengung di kepala Kuroko. Tidak ada salahnya kalau ia membantu bosnya 'kan? Hanya mendengarkan unek-unek saja kok.

..

..

Jadi disinilah Kuroko berada. Ruang kerja Akashi. Duduk manis di sofa panjang tempat anak-anak asuhnya tadi duduk dengan Akashi yang ada di seberang. Di atas meja pembatas keduanya terdapat dua buah cangkir teh yang masih mengepul tanda baru saja dibuat. Kuroko duduk dengan posisi tegap dan punggung bersandar pada sandaran sofa, sedangkan Akashi duduk dengan posisi kepala di sandarkan di atas sandaran sofa dengan tangan kanan menutupi bagian matanya serta kaki yang dibuka lebar. Posisi duduk orang stres, kalau Kuroko bilang.

"Jadi apa yang mereka lakukan sekarang?" Akashi membuka pembicaraan dengan posisi yang sama. Entah kenapa ia tahu bahwa Kuroko akan mendatanginya dan membicarakan masalah anak-anaknya walaupun pada akhirnya ia yang membuka pembicaraan.

"Mereka sedang tidur siang. Kelelahan karena hari pertama sekolah." Kuroko membalas sekenanya. Padahal niatnya ia yang berbicara, kenapa malah Akashi yang memulai percakapan? Apakah itu adalah insting seorang orangtua? Atau memang ia tidak bisa diandalkah dalam masalah bicara? Kuroko tidak tahu jawabannya.

"Souka." Akashi masih terlarut dalam penyesalannya dan Kuroko hanya duduk disana sambil menatap bosnya. Keadaannya saat ini adalah sangat awkward.

"Anoo.."

"Kau tahu?" Perkataan Kuroko terputus oleh pria yang lebih tua darinya itu sehingga ia terpaksa menelan apa yang ia ingin katakan, "Saat pertama kali aku mengadopsi Shintarou, di pikiranku hanya ada satu. Dengan kehadiran seorang anak, maka orang-orang yang selalu menanyaiku kapan punya istri atau anak akan berhenti."

Kuroko menarik bibirnya sehingga membentuk sebuah garis tipis. Ia tahu ia tidak boleh menginterupsi Akashi. Baru pertama kalinya ia melihat Akashi tampak begitu depresi dan menyesal. Apalagi setelah mendengar cerita Mibuchi dan Nijimura mengenai Akashi dan superiority complex-nya yang bisa dikategorikan sebagai Adolf Hitler kedua. Ia tidak ingin menghancurkan suasana canggung namun penuh keterbukaan yang Akashi Seijuurou ciptakan sekarang, tidak terima kasih.

"Pertama kali aku mengadopsi Shintarou, ia adalah anak yang tertutup. Tatapannya dingin dan kata-katanya menusuk." Akashi tersenyum sedikit mengingat masa lalu. Ia merasa tua sekarang. Padahal kejadiannya berlangsung dua tahun yang lalu. "Awalnya aku hanya tertarik kepadanya karena ia berbeda dari anak lain. Kau tahu seperti bersikap manis untuk menarik perhatianku. Terlebih lagi aku ini Akashi Seijuurou."

Ini Kuroko saja atau Akashi memang terdengar narsis?

"Kudengar dari pemilik panti orangtuanya meninggal karena kecelakaan mobil jadi ia trauma dengan mobil tapi setelah mengurusnya setahun, trauma itu sudah hilang sekarang. Sulit memang tapi tidak masalah karena ia tumbuh menjadi anak yang baik."

Oke, Akashi merasa dirinya sangat tua sekarang.

Well, dia hampir menginjak kepala tiga.

"Beberapa bulan kemudian aku mengadopsi Atsushi di salah satu panti saat aku dinas di Akita." Kuroko tersenyum sambil meminum cangkir tehnya. "Pantinya saat itu mengadakan acara dan aku menjadi donaturnya. Dia anak yang penyendiri dan suka makan sampai-sampai pengurus panti jengah melihatnya yang selalu makan. Anggaran panti tidak cukup saat itu jadi mereka terpaksa mengusirnya dari sana."

"Bagaimana bisa?" Kuroko mengeluarkan pendapatnya. Itu sangat tidak manusiawi.

"Kejam? Ya, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Saat itu aku memutuskan untuk mengadopsinya." Akashi menyingkirkan tangannya dari wajah tampannya dan menatap langit-langit, "Dia adalah anak yang tidak mudah percaya dengan orang karena dulu orangtuanya meninggalkannya di panti asuhan dengan alasan makannya yang terlalu banyak."

"Lalu yang ketiga adalah Daiki. Anak ini masuk ke panti asuhan karena orangtuanya terbunuh saat ia masih bayi. Orangtuanya diduga adalah pengedar narkoba kelas teri. Pada dasarnya ia adalah anak yang periang." Sekarang Akashi tersenyum senang, "Kenapa aku menceritakannya kepadamu?"

"Kalau itu membuat Anda merasa nyaman kurasa tak masalah. Sehebat-hebatnya Anda, Anda tetaplah manusia yang tidak sempurna. Masih memiliki rasa takut dan bimbang seta marah dan sedih." Kuroko berkomentar layaknya filsuf-filsuf Cina kuno, "Dan berbicara kepada orang lain adalah salah satu cara melepas stres."

"Kau ini mahasiswa jurusan Sastra Jepang atau Psikologi?" Akashi bertanya dengan nada canda di dalamnya. Entah kenapa ia merasa bisa lebih santai di sekitar Kuroko. "Ingin mendengar cerita Ryouta?" Sekarang Akashi sudah duduk dengan punggung disandarkan di sandaran sofa. Membuat diri senyaman mungkin.

"Tentu saja. Tidak lengkap kalau tidak empat rasanya." Kuroko membalas dengan nada bercanda juga. Mungkin? Pasalnya ia masih menjawab dengan nada datar khasnya.

"Ryouta kutemukan di Kanagawa." Akashi memulai.

"Menemukan? Seperti kucing saja."

"Tidak sengaja bertemu dengannya di jalan kecil. Saat itu sedang hujan dan dia berusaha melindungi dirinya sendiri dari dinginnya hujan. Saat kutawari untuk diantar pulang dia mengatakan bahwa ia tidak punya rumah. Rumah dan orangtuanya terbakar dua bulan sebelum aku menemukannya." Kuroko mengangguk dan menggeser cangkir teh milik Akashi yang belum disentuh sama sekali. "Aku memutuskan untuk mengadopsinya dan bisa kau lihat. Dia anak yang cengeng. Awalnya sangat sulit menenangkannya karena dia orang yang sensitif."

"Anda menemukan mereka dalam kurun waktu satu tahun?" Kuroko bertanya sekarang. Penasaran dengan jawaban sang penyandang marga Akashi tersebut.

"Ya." Akashi meneguk teh yang disodorkan Kuroko.

Hening menyelimuti mereka kembali. Sambil menikmati keheningan, mereka meminum cairan berwarna cokelat itu dengan ditemani jarum jam yang berdetak dengan stabil.

"Senang rasanya ada orang yang bisa diajak berbagi seperti ini." Akashi berkomentar kecil. Ia tidak pernah ingat pernah merasa selega ini. Bahkan ia tidak pernah bercerita hal ini kepada Nijimura maupun Ayahnya. Bisa-bisa mereka banjir air mata.

"Nijimura-san?" Kuroko meletakkan cangkirnya di atas meja.

"Bisa banjir air mata dia." Akashi menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah. Kuroko tertawa pelan menyetujui pernyataan Akashi. Nijimura adalah orang yang tegas namun lembut di dalam. Mudah tersentuh kalau menurut Akashi.

"Akashi-san," Panggil Kuroko dan si empunya nama menatap si surai biru muda dengan tatapan tertarik, "Anda adalah orang yang sangat luar biasa. Kalau aku, mungkin tidak akan bisa melakukan apa yang Anda lakukan. Memang benar perkataan Shinichirou-san bahwa Anda adalah orang yang baik walaupun banyak orang mengatai Anda kejam dan sebagainya."

Mendengar perkataan tulus dari bibir si surai biru muda, Akashi merasakan jantungnya berdegup kencang. Tapi kenapa?

"Kuroko Tetsuya, kau memang berbeda." Akashi menarik salah satu ujung bibirnya.

"Maaf?" Kuroko memiringkan kepalanya ke sebelah kiri sedikit membentuk gestur bingung.

"Kau memiliki hawa keberadaan yang tipis dan sulit untuk ditebak karena wajahmu selalu datar. Kau baik dan pengertian. Kau juga pendengar yang baik." Akashi mulai mendaftar apa yang ia tahu tentang Kuroko selama lima bulan terhitung dari pertemuan pertama mereka. "Kalau diibaratkan kau seperti pion Ratu dalam permainan catur. Tidak bisa ditebak secara pasti."

Kening Kuroko mengkerut setelah mendengar pembandingnya adalah pion Ratu.

"Pion Ratu bisa berjalan kemana saja dan tidak bisa diprediksi dengan akurat. Kau juga demikian." Akashi tersenyum sambil memandangi pemuda sembilan belas tahun di hadapannya.

Semburat merah muda menghiasi pipi Kuroko sekarang jadi ia membuang muka. Ia malu karena dikatakan seperti itu tapi di sisi lain ketika mendengar perkataan Akashi, jantungnya juga mulai berdegup kencang. Apa ini?

..

..

Kanvas hitam terhampar di atas bumi menandakan bahwa hari sudah malam. Bintang-bintang yang seharusnya terlihat, tidak dapat dilihat karena polusi cahaya yang marak terjadi di belahan bumi manapun. Yang ada hanyalah sang Dewi Malam yang sedang tersenyum. Suara jangkrik dapat terdengar dengan jelas dari dalam rumah kediaman Akashi mengingat penghuninya sudah terlelap sejak empat jam yang lalu.

Rumah bertingkat itu menjadi temaram karena semua lampu sudah dimatikan. Yang menjadi penerangannya adalah cahaya dari lampu yang terpasang di luar rumah. Namun tetap saja masih temaram karena gorden-gorden dilepaskan untuk menutupi keadaan rumah dari mata asing di luar sana.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki kecil terdengar di koridor rumah tersebut. Bukan hanya satu melainkan empat.

"Da-Daiki-cchi, pada akhirnya aku memang tidak yakin kabur adalah hal yang benar-ssu." Ryouta yang mengenakan jaket kuningnya dan membawa tas punggung menarik lengan jaket Daiki yang berjalan di depannya.

"Ryouta," Daiki menghentakkan tangannya sehingga si bungsu melepas pegangannya pada lengan jaketnya tanpa melihat ke arah orang yang mengajaknya berbicara, "kita tidak bisa kembali."

"Kalian bisa diam tidak, sih? Kalau terlalu keras nanti kita gagal kabur, nanodayo." Shintarou yang berjalan di depan memperingati saudara angkatnya itu sambil tengok kanan tengok kiri. Memerhatikan keadaan.

Atsushi yang berada di paling belakang menjaga keadaan agar tidak ada yang menghalangi mereka kabur.

Huh? Kalian bertanya mengapa mereka ingin kabur? Jawabannya mudah. Mereka merasa telah gagal menjadi anak dari seorang Akashi Seijuurou jadi mereka memutuskan untuk kabur saja dengan tujuan menghilangkan beban dari pria usia dua puluh tujuh tahun itu.

Dengan langkah yang penuh kehati-hatian, keempat anak itu berjalan menuju pintu belakang rumah yang dikunci. Mereka memilih pintu belakang karena lebih mudah dibuka dan ditutup dari luar. Selain itu pintunya juga tidak terlalu besar seperti pintu utama rumah kediaman Akashi.

Keempatnya menggunakan kunci duplikat yang terletak di atas kulkas yang diambil dengan naik ke atas kursi tentunya. Selanjutnya mereka memasang benang nilon yang diikat sedemikian rupa supaya mereka dapat mengunci pintunya dari luar dengan cara menarik pita tersebut.

Anak-anak yang cerdik memang. Mungkin mereka berbakat menjadi pembobol rumah.

Setelah keluar dari istana megah yang menjadi tempat tinggal mereka selama dua tahun terakhir ini, keempat ninja cilik warna-warni tersebut berlari ke gerbang utama. Harum khas rerumputan dan pohon memenuhi indera penciuman ketika mereka berlari. Mengingat sekarang adalah jam dua belas malam, mereka yakin Tanaka-san yang bertugas sebagai satpam sedang terlelap di posnya.

Setelah sampai di pos penjaga rumah mega itu, Atsushi yang tinggi membantu Ryouta mengintip keadaan pos dan benar saja Tanaka-san sedang tertidur dengan nyenyak di kursinya dengan kaki yang diangkat ke meja dan mata yang ditutup dengan penutup mata. Sedangkan Shintarou dan Daiki sedang mencari jalan keluar rahasia mereka dibalik semak-semak dekat sana. Mereka membuatnya tanpa sepengetahuan Ayah mereka, atau lebih tepat mantan Ayah mereka. Sebenarnya itu adalah jalan rahasia yang Satsuki buat untuk kabur ke rumah mereka tapi anak-anak itu membuatnya lebih besar agar Atsushi juga bisa melewatinya jika ada keperluan penting seperti sekarang ini.

Tuh 'kan, anak-anak ini memang cerdik bukan main. Akashi pasti bangga.

Setelah mendapatkan apa yang dicari, keempatnya langsung keluar melalui lubang yang hanya bisa dilewati oleh anak kecil itu. Mereka berlari keluar sejauh mungkin tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Angin dingin menerpa wajah mereka ketika keempat anak itu berlari di jalanan besar yang dipenuhi dengan rumah-rumah megah.

To Be Continued


Thanks to : aka. aika, berrpies, Akashi lina, kireimozaku, Kuahku, sapphire olways for onyx, lalalala-chan desu, hoshi akari, yolandaashari, luviz. hayate, Ryuuhi Akira, Kucing Gendut, Akari Kareina, Erucchin, Didi822, macaroon waffle, IzumiTetsuya, Lily, RinZura, efi. astuti1, Arruka Terlucky-nanodayo, tetsuya kurosaki, KihyunAO, Guest, daunsalak, aeon zealot Lucifer, Lyn. FGremory, no name, ashima, mao-tachi, blackjackcrong, auntumngir2309, TKsit, saya. orchestra, HitsugayaFreya, alysaexotans, dinodeer, 3nd4h, Syema, Nyan-san, isjkmblue, darkestlake, V. Yuki-chan, Deidara, Guest, Oranyellow-chan, miss hovilshy, hinamorilita-chan, Kris hanhun, S. Hanabi, KJHwang, Yuuki Kanazawa, Guest, sei, haruka kagami, R-chan, TanakaIchira, GuestLily, Tetsuya, Ryuuji, uzumaki himeka, purikazu, kuro, Yuuhi, SuzyOnix, KurotoriRei, Shinji Tanaka; Yang sudah follow dan fave fic ini; Kamu yang lagi baca fic ini sekarang.

Author Note :

Saya nggak update sebulan /liat tgl terakhir update/ banyak orang yang nyariin saya. Nggak di ffn, nggak di fb. Maafkan saya, minna-san. Saya nggak punya alasan karena alasan sudah basi. Yang penting akhirnya saya update. Mungkin tidak seperti bayangan kalian tapi saya berusaha kok.

Disini dikasih tahu bagaimana Akashi adopsi anak-anaknya. Jujur pas mikirin itu saya sempet nge-stuck. Lalu pas Akashi marah, saya merasa kurang greget. Tapi disini dia orangtua jadi ya masih ada bapak-bapaknya lah. Dan mayoritas semua pembaca greget banget sama ciuman gajadi di chapter kemarin. Kalian harus tahu saya juga ingin mereka official ciuman hahaha~ Tapi semua butuh proses, kawan. Tidak ada yang instan kecuali indomie yang instan tapi enak.

Yosh, jangan lupa review, ok~