CINTA DI MASALAH

Pairing = [Taeil X DOYOUNG] [HANSOL X Yuta] [JOHNNY X TEN] [Jaehyun X TAEYONG] [MARK X DONGHYUCK] [Jeno X Jaemin] + Jisung

Dukungan Cast = Koeun, yumin (oc), dll

Genre = Romantis, Terluka / Comfort

Peringatan = YAOI, typo, AU, TIDAK SESUAI EYD, MPREG! Transgender!

.

BY Johntenny


Derap langkah terburu-buru beberapa orang dengan sebuah kasur di atasnya terdapat namja manis yang penuh luka mejadi pengisi lorong rumah sakit yang cukup lengang itu. Dengan langkah cepat para suster yang bertugas masuk ke dalam ruangan yang berlabel UGD dengan membawa namja cantik itu.

"Maaf, Tuan harus tunggu disini dulu sampai pasien selesai di tangani." Suster itu menahan Hansol yang akan masuk ke dalam ruangan. Ia terdiam dengan tubuh lemas dan menatap pintu yang kini tertutup itu dengan linangan airmata di pipinya.

"Yuta... Tuhan tolong selamat Yuta dan anakku..." lirih Hansol sambil terus memandangi pintu yang tertutup itu. Seseorang menarik Hansol untuk duduk di kursi dekat ruangan itu. Ia meletakkan sebotol air mineral di tangan Hansol.

"Tenang dirimu, hyung. Yuta pasti akan baik-baik saja... lihatlah dia sudah berjuang sejauh ini. Pasti Tuhan akan membayar semua perjuangannya dengan hal yang setimpal." Hinata menepuk pundak Hansol.

Hansol hanya menatap air mineral di tangannya. "Yuta berjuang sendirian... aku dimana saat dia membutuhkanku...apa aku masih pantas berada disampingnya?" Hansol benar-benar terlihat lemah sekarang.

Dia menangis dalam diam, perasaan bersalah terus menghantuinya. Sungguh, dia bukan ayah yang baik untuk calon anaknya dan Yuta. Hinata menghela nafas kasihan, dia mengusap punggung lebar Hansol. "Minumlah dulu hyung, aku tahu hyung pasti juga shok. Jangan sakit, nanti Yuta juga sedih kalau melihat hyung seperti ini." Ujarnya berusaha menenangkan namja tampan itu.

Hansol mengangguk dan mengikuti saran Hinata. "Doakan dia hyung, Tuhan pasti akan mendengar doamu." Ujar Hinata lagi. Hansol memejamkan matanya dan berdoa dalam hati untuk keadaan Yuta dan calon anaknya. Hinata tersenyum lirih dan mengikuti Hansol dan memejamkan matanya, berdoa untuk Yuta dan anaknya.

Ia membuka matanya dan melihat jam yang menggantung di dinding rumah sakit itu. Tak terasa ini sudah jam 7 malam. Sudah hampir dua jam mereka menunggu, tapi dokter yang menangani Yuta belum juga keluar. Dia mulai khawatir, apa keadaan Yuta sangat parah?

Selang sepuluh menit kemudian, keluar dokter dari ruangan Yuta. Hansol berdiri dan menanyakan kabar Yuta. "Bagaimana keadaan Yuta dan anaknya, dok?" tanya terdengar sangat cemas. Dokter itu tersenyum lembut dan menepuk bahu Hansol.

"Pasien mengalami pendarahan hebat di kepalanya dan darahnya sempat menggumpal, tapi tenang saja pasien sudah mendapatkan tranfusi darah dan gumpalan darahnya sudah menghilang, luka-luka di tubuhnya juga sudah kami tangani namun luka itu masih basah. pasien juga sudah berhasil melewati masa kritisnya. Dia hanya sedang beristirahat. Dan untuk kandungannya, bayinya baik-baik saja walau sempat shok tadi. Anda tenang saja." Dokter itu menjelaskan dengan senyum leganya. Setelah ia berlalu bersama suster lainnya dan memindahkan ranjang Yuta menuju kamar inap biasa.

Hinata mengurus administrasi rumah sakit dan memesan ruang VIP sesuai permintaan Hansol, sedangkan Hansol kini duduk di samping ranjang Yuta sambil memandang sendu pada Namja manis di hadapannya.

Mata bulat Hansol meredup melihat keadaan tubuh Yuta yang kini sudah bersih. Kepalanya dilingkari oleh perban dan selang oksigen di hidungnya dan jangan lupakan wajah yang sangat pucat itu. tubuh itu kurus kering seperti tidak terurus, dan Hansol melihat ada beberapa tanda merah di leher Yuta. Hansol mengepalkan tangannya, pasti sudah terjadi sesuatu pada namja manis itu.

Perlahan tangan Hansol menggenggam tangan kanan Yuta yang tak di Infuse. Pertahanan Hansol runtuh, ia menangis sejadi-jadinya saat tangannya menyentuh permukaan kulit yang sangat dingin itu. Ia tidak bisa mengontrol tangisannya lagi. Segera ia berikan kecupan-kecupan ringan di punggung tangan yang berkali-kali lebih kecil di genggamannya itu.

Ia menangis dan menempelkan tangan mungil itu di wajahnya. Bahkan tangan Yuta basah karena airmata yang terus keluar dari manik bulat Hansol. Betapa bodohnya ia, membuat namja manis itu menderita.

Orang yang seharusnya tersenyum setiap harinya, tapi apa yang di dapatkannya, hanya penderitaan yang terus-menerus menghampirinya. "Yuta-ya ... hiks ... mianhaeyo ..." isak Hansol parau. Hatinya sangat sesak melihat kondisi Yuta.

"Kau pasti membenciku kan, tidak kah kau ingin memukulku saat ini?" Hansol terus menangis. "Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu demi anakku.. hiks... yang bahkan aku tidak pernah ada disampingmu saat kau mengalami kesulitan... kenapa hatimu selembut kapas? Apa kau ini malaikat? Hiks.. kenapa Tuhan memberikan malaikatnya padaku..." lirih Hansol. Ia menatap perut Yuta yang membuncit itu.

Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Yuta dan tangan kanannya mencoba menyentuh perut itu. Saat tangannya berada di atas perut itu, hatinya menghangat. Airmatanya kembali mengalir. "Nak... kau hebat sekali... kau dapat bertahan bersama Eommamu... kau bahkan mengalahkanku yang hanya dapat menangis saat ini... lahir lah dengan selamat dan mulai sekarang aku akan disampingmu dan Eommamu... aku berjanji tidak akan ada lagi orang yang menyakiti kalian... aku berjanji..." lirih Hansol sambil terus mengusap perut Yuta.

Ia kembali menatap wajah Yuta dan ia tersenyum lembut. "Kau dengar... mulai sekarang tidak akan ada lagi yang akan menyakiti kalian... aku berjanji sayang..." Hansol mencium lembut kening Yuta.

Hinata yang memperhatikan hal itu tersenyum kecil. Biarpun ia menyimpan rasa pada Yuta, ia tidak akan pernah menyakiti namja manis itu demi keegoisannya. Justru ia akan bahagia melihat namja manis itu bahagia. Bukan kah cinta tidak harus memiliki?


Setelah pulang dari Lotte tadi, semua member terlihat tepar. Mereka semua bertebaran di ruang tengah. Ada yang di sofa dan di lantai. Ada yang sudah tertidur, ada yang masih mengambil nafas, dan ada yang bermain ponsel.

Taeyong melihat jam yang sudah menunjukkan 9 malam, dan ia menghela nafas. Rasanya malas sekali ingin bergerak. Taeyong melihat ke arah pintu masuk dan itu adalah manager mereka. Yumin memperhatikan member-membernya dan ia mengetuk dinding untuk mengambil perhatian mereka.

"Ekhem, tadi aku baru saja mendapat E-Mail dari SM, kalian besok harus datang lebih pagi karena ada yang ingin dibicarakan ok." Ujarnya saat anak didinya itu sudah mengangguk. "Baiklah aku pulang, jaga diri kalian. Annyeong." Ujarnya sebelum menghilang dari pintu.

"Annyeong." Balas mereka semua. "Eh tapi kan, Hansol hyung sama hyung gak ada, kalo ditanya gimana?" tanya Ten. "Iya, bener juga." Sahut Jaehyun manggut-manggut. "Besok saja di bicarakan, sekarang semuanya tidur, kalian sudah lelah kan?" ujar Johnny dan berlalu ke kamarnya.

Mereka semua dengan malas berdiri dan menuju kamar masing-masing. "Loh? Taeyong hyung gak tidur?" tanya Jaehyun saat melihat Taeyong yang malah duduk di sofa. "Duluan saja, Jae. Nanti aku ke kamar." Sahut Taeyong sambil memeriksa ponselnya.

Jaehyun yang memang sudah lelah hanya mengangguk. Ia berjalan ke kamarnya, "Ya sudah hyung selamat malam. Jangan tidur malam-malam ya... nanti ada hantu loh..." goda Jaehyun sebelum menutup pintu.

"Ya hantunya kamu, casper!" balas Taeyong kesal, merinding sih soalnya dia tinggal sendiri disini sementara yang lain udah masuk kamar. Taeyong membuka ponsel dan menghubungi Taeil. Dia ingin mengabari sang tertua dan si kelinci itu dulu.

Taeyong berjalan ke dapur berniat mengambil minum di kulkas. "Yobseyo hyung." Ujar Taeyong sambil menuangkan jus jambu di dalam kotak ke gelasnya. Ia mengapit ponselnya menggunakan kepala dan pundaknya.

"Yobseyo Taeyong-ah, ada apa?" terdengar suara Taeil menjawab.

"Kalian dimana?"

"Kami masih di rumahku, waeyo?"

Taeyong mengangguk sesudah minum dan kembali berjalan ke kamarnya dan Jaehyun. "Kapan pulang? kalau besok, langsung ke Agency saja, jam 8 sudah di Agency." Jawab Taeyong. Dia me-loud speaker ponselnya dan mencuci wajahnya.

"Ok, memang ada apa?"

"Molla, tapi tadi Yumin noona yang memesankan pada kami. Doyoung mana?" tanya Taeyong sambil keluar dari kamar mandi dan perlahan naik ke kasur queen size di sebelah Jaehyun. Omong-omong mereka seperti pasangan pengantin saja. Uh, Taeyong merona sendiri memikirkannya.

"Dia sudah tertidur."

"Ya sudah hyung, aku hanya ingin mengabari itu saja. Jaljayo." Ujar Taeyong dan tidur menghadap Jaehyun. "Ok, jaljayo." Jawab Taeil dan menutup sambungan. Taeyong meletakkan ponselnya di meja nakas dan mematikan lampu utama kamarnya. Hingga kini hanya lampu tidur saja yang menyala dan keadaan kamar itu menjadi remang-remang.

Taeyong yang mencoba memejamkan matanya, terpaksa kembali membuka mata bulatnya saat ada sepasang lengan yang melingkari perutnya. Hingga kini, tubuhnya dan tubuh Jaehyun hampir menempel. Hidung mereka sudah sangat tipis sekali jaraknya sampai Taeyong dapat merasakan nafas hangat Jaehyun.

Beruntung Jaehyun tengah memejamkan matanya, jadi anak itu tidak akan menggodanya karena ia yakin wajahnya semerah tomat sekarang. Taeyong memegang dadanya dan ia tersenyum tipis. Taeyong memejamkan matanya lagi dan membalas pelukan Jaehyun. Sepertinya mereka akan mimpi indah malam ini.


Hansol terus memandangi namja manis yang tengah beristirahat itu dengan matanya yang sembab. Tangannya pun tak pernah melepaskan tangan namja manis itu, malah ia semakin mempererat genggaman itu. Dia tidak tidur dan mengantuk, ia hanya diam memandangi si cantiknya itu. Ia menunggu Yuta untuk terbangun dan ia ingin menjadi yang pertama dilihat oleh namja manis itu.

Hansol membeku ketika ia melihat pergerakan kecil dari jari telunjuk Yuta. Tak lama di susul oleh lenguhan kecil dari bibir pucatnya. Hansol berdebar dan ia berharap-harap cemas melihat mata yang bergerak di balik kelopaknya.

Ia mendekatkan dirinya pada wajah Yuta. Tangan kirinya mengelus rambut kecoklatan Yuta. "Eungh" lenguhan itu terdengar lagi. Sampai kelapak mata itu terbuka perlahan dan menampakkan manik coklat kesukaannya. Mata doe itu terbuka dengan sayu.

Saat di rasa ada seseorang di sampingnya, matanya mencari... hingga mata cantiknya bertemu dengan mata bulat yang sembab. Mata itu menatapnya penuh kelegaan. Mata yang sudah hampir dua bulan tidak dilihatnya.

Tubuhnya yang masih melemas hanya bisa menatap namja itu dalam diam. Bibirnya membuka ingin mengucapkan sesuatu, namun hanya deru nafas lah yang terdengar. Hansol mengangguk mengerti dan air matanya menetes, ia tahu apa yang Yuta ucapkan.

"Ne Chagiya ... hyung yogi isseulge ..." Hansol tersenyum pada Yuta. Kini airmatanya keluar sebagai tanda kebahagiaan. Ia mencium kening namja manis itu dengan lembut seolah Yuta adalah kristal yang bisa hancur kapan saja.

Saat manik coklat itu mengeluarkan airmatanya, Hansol panik. "Yuta, apa yang sakit? Apa hyung menyakitimu? Yuta, hyung sudah disini... tolong jangan menangis sayang..." ujar Hansol melemah. Yuta menggeleng kecil, ia membawa tangan Hansol yang menggenggamnya menuju dadanya.

Yuta melengkungkan senyuman manisnya. Ia mengeluarkan airmatanya dengan bahagia, Hansol hyungnya... sudah berada disampingnya. Semua rasa takut Yuta menghilang dan digantikan dengan rasa nyaman.

"Kajima..." akhirnya suaranya keluar walau sangat lirih. Hansol mengangguk dan menciumi wajah Yuta dengan sayang. "Aniya... aku tidak akan meninggalkanmu lagi Yuta... saranghae... kau kekasihku Yuta... kau tidak pernah meninggalkan hatiku walau ragamu tidak bersamaku... aku sangat mencintaimu sayang..." ujar Hansol dengan senyum diwajahnya.

Tangan Yuta terangkat lagi dan ia mengusap airmata yang mengalir dipipi Hansol. "Uljima..." ia tidak suka melihat Hansol menangis dan ia tidak pernah menyalahkan Hansol atas apa yang menimpa dirinya.

"Nado... saranghae..." ujar Yuta dengan parau dan tersenyum lembut pada Hansol. Hansol kembali tersenyum dan mengusap airmatanya. Yuta melepaskan genggaman Hansol dan ia meraba perutnya dengan wajah panik.

"Baby baik-baik saja di dalam... ia kuat seperti Eommanya..." ujar Hansol dengan senyum manisnya. Ia tahu apa yang ditakutkan oleh Yuta. Yuta tersenyum lega dan kemudian menatap Hansol penuh tanya.

"Ya, aku tahu dari ibumu... kemarin aku menelponnya dan ia memberitahuku kalau kau diusir oleh ayahmu karena ketahuan sedang mengandung." Jawab Hansol lagi. Yuta menatap sendu Hansol. "Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau sedang mengandung, hm?" tanya Hansol lembut.

"Mianhae ..." Jutaan lebih lembut. Hansol mengangguk, "Gwaenchana, lagi pula bayi baik-baik saja." Hansol tak henti-hentinya tersenyum sekarang. "Ngoeun ... Motte?" Jutaan pertanyaan membuat Hansol mengerutkan kening tidak suka.

"Kenapa kau menanyakan dia? Tenang saja dia sudah di urus polisi." Jawab Hansol sedikit malas. Yuta kembali murung saat ia mengingat apa yang sudah ia lakukan dengan Jungwoo. Ia menatap Hansol penuh rasa bersalah.

"Hyung, mianhae..." Hansol mengerutkan dahinya lagi. kenapa Yuta murung lagi? "Ada apa sayang?" tanyanya. "Jungwoo... dia.. dia hiks..." Yuta tiba-tiba menangis lagi. Hansol kembali cemas sekarang, apa yang di lakukan Jungwoo hingga kekasihnya menangis seperti ini.

"Dia memperkosaku hyung... hiks... jeongmal mianhae hyung..." Yuta menangis sesegukan lagi dan itu jujur saja membuat hati Hansol sakit. Hansol megangguk, "Gwaenchanayo... gwaenchanayo..." ujar Hansol.

Namun Yuta menggeleng dan menolak, "Aku ingin kau membersihkan tubuhku hyung... aku mau kau menghilangkan semua tanda menjijikkan ini hyung..." ujar Yuta dengan nada memohon padanya. Hansol mengangguk, "Ne, aku akan melakukannya. Tapi setelah kau sembuh sayang." Jawab Hansol.

"Gomawo..." Yuta menatap Hansol penuh haru. Karena ternyata namja tampan itu tidak membencinya. "Sekarang tidur lah lagi, kau masih butuh istirahat." Ujar Hansol dan melihat jam sudah menunjuk pukul 3 pagi.

"Hyung juga tidur." Ujar Yuta dan Hansol mengangguk. "Baiklah hyung akan tidur disini." Hansol tidur dengan posisi duduk dan meletakkan kepalanya di samping tangan Yuta. "Kalau hyung tidur seperti itu yang ada tubuh hyung pegal-pegal." Yuta protes lirih.

"Aniyo." Jawab Hansol keras kepala. "Yasudah aku tidak mau tidur." Yuta mempoutkan bibirnya sebal menatap Hansol. Hansol terkekeh, "Baiklah-baiklah, hyung tidur di sofa." Hansol mengecup bibir Yuta sekilas dan tiduran di sofa.

Yuta merona dan memejamkan matanya. "Jaljayo." Ucapnya lirih. "Jaljayo, Yuta-ya." Jawab Hansol dan keduanya tertidur hingga matahari terbit.


Doyoung membuka pintu kamar mandi dengan wajah pucat, lagi-lagi ia mengalami morning sickness. Ia tidak sengaja mencium bau menyengat daging yang sedang di masak tadi. Doyoung berjalan menuju kasurnya dan Taeil. Ngomong-ngomong ia menginap di kamar Taeil tadi malam.

Doyoung duduk di pinggir kasur lalu meminum air hangat yang sudah di sediakan oleh salah satu pelayan tadi. Ia meminum pelan-pelan agar tidak merasa mual lagi. Doyoung menoleh ke belakang dan menemukan Taeil yang masih tertidur.

Doyoung menaruh kembali gelasnya dan beranjak mendekati Taeil. Ia mengguncang-guncangkan bahu Taeil pelan. "Taeil hyung ireona... hyung..." panggil Doyoung. Tak lama Taeil membuka matanya, sebenarnya Taeil bukan orang yang susah untuk dibangunkan.

"Pagi Doyoungie..." Taeil tersenyum pada Doyoung dan mencium bibir Doyoung sekilas. Doyoung merona dengan perlakuan Taeil, "Pagi Taeil hyung..." balasnya. Taeil tersenyum melihat tingkah Doyoung.

"Hyung cepatlah mandi ini sudah jam 6, bukankah kata hyung kita harus ke kantor Agency?" Ujar Doyoung dan diangguki Taeil. "Kau sudah mandi?" tanya Taeil. "Belum sih, bajunya?" tanya Doyoung. Taeil mengangguk, "Ambil saja baju di lemariku." Jawab Taeil. Doyoung mengangguk dan Taeil menuju kamar mandi.

Kini mereka sudah siap untuk pulang. Mereka sarapan terlebih dahulu sebelum kembali ke Agency. "Doyoungie, mulai sekarang panggil aku Eomma ne.." ucap Nyonya Moon sambil mengelus pundak Doyoung. Doyoung mengangguk kikuk, "Ne Eomma." Ujarnya membuat Nyonya Moon memekik senang.

"Ini mulai sekarang minum susu ini, tadi Eomma membelinya di supermarket, dan karena Eomma tidak tahu apa rasa kesukaanmu, jadi Eomma beli semua rasa saja." Ujar Nyonya Moon menunjukkan empat kotak susu khusus ibu hamil. Ada rasa coklat, Vanila, Strawberry, dan pisang.

Doyoung mengangguk dan meminum susu yang rasa vanila. "Jja Taeil-ah kau bawa ini untuk persediaan di dorm kalian." Ujarnya dan menyerah ke-empat kotak itu pada Taeil. Taeil mengangguk dan membawanya.

Taeil dan Doyoung sudah di depan rumah bersiap untuk pulang. "Doyoungie, jaga dirimu baik-baik ok, dan jangan kelelahan. Taeil-ah kau perhatikan Doyoung terus ok." Nasehat Nyonya Moon. Taeil dan Doyoung mengangguk tersenyum. "Dah, Eomma kami pulang." ujar keduanya dan melambai pada Nyonya Moon.

Nyonya Moon tersenyum sampai mobil Taeil menghilang dari pekarangan rumahnya. Doyoung mendesah lega, ia tidak menyangka akan secepat itu dekat dengan keluarga Moon. Memang itu pernah ia impikan sih.

"Aku bersyukur Eomma sangat menyukaimu." Ujar Taeil sambil menyetir. Doyoung mengangguk, "Ne, lega rasanya." Ujar Doyoung. Setelahnya hening hingga keduanya sampai di Agency. Taeil membukakan pintu untuk Doyoung dan menggandeng tangan namja manis itu.

Ia membawa Doyoung masuk ke dalam dan membuka ruang latihan. Ternyata semua member sudah berada di dalam. "Apa kami terlambat?" tanyanya pada member lain. Semuanya menggeleng, "Masih ada lima belas menit lagi kok hyung." Jawab Johnny.

"Gimana kemarin, lancar?" tanya Ten pada Doyoung yang kini duduk di sebelahnya. Doyoung tersenyum dan mengangguk. "Wah, selamat ya..." ujar Ten memekik senang, bahkan dia sampai memeluk Doyoung.

Doyoung mengangguk, "Jadi tanggal berapa kalian akan menikah?" tanya Johnny. "Tanggal 14 Juni di Jeju." Jawab Taeil. "He?! Itukan gak sampe dua bulan terhitung dari hari ini." Ujar Taeyong kaget. "Hyung udah nyiapin semuanya?" tanya Jaehyun.

"Kami sudah membicarakan ini sama kedua orangtua kami, dan mereka mengatakan kalau mereka yang mengurus itu, sedangkan kami akan mengurus cincin dan hanya memeriksa saja." Jawab Taeil. Semuanya mengangguk mengerti.

"Annyeonghaseyo." Suara pria paruh baya menginstrupsi kegiatan mereka. Semuanya seketika berdiri dan membungkuk hormat. "Annyeonghaseyo CEO Lee." Ujar mereka bersamaan. CEO Lee tersenyum dan berdiri di hadapan mereka.

"Jangan serius begini, dan mulai sekarang panggil aku Appa. Aku ingin dekat dengan semua anak didiku." Senyuman ramah tersemat di wajah pria paruh baya itu. member SMROOKIES mengangguk dan tersenyum. "Sebelumnya, apa semua sudah lengkap?" tanyanya.

"Sebenarnya Hansol hyung dan Yuta hyung sedang berada di Jepang, mereka sedang menyelesaikan sesuatu." Jawab Jaehyun. CEO Lee mengangguk tersenyum. "Baiklah, mungkin kalian bisa memberitahu secara pribadi pada mereka." Ujarnya.

"Jadi begini, berhubung Doyoung sedang hamil dan akan sudah pasti akan melahirkan, kemungkinan kalian akan menambah anggota baru dong di Dorm yang terbilang sempit itu." CEO Lee menatap satu persatu wajah anak didinya. "Nah, karena kalian masih terikat kontrak juga, tidak mungkin Taeil dan Doyoung tinggal terpisah." Lanjutnya. "Jadi, saya memutuskan untuk mengganti dorm yang baru untuk kalian. Dan kali ini kalian akan tinggal di sebuah mansion! Di daerah pinggiran Seoul." Ujarnya tersenyum.

Semua member membulatkan matanya terkejut. "Mansion? Tidakkah itu berlebihan, Appa?" tanya Johnny mewakili yang lain. CEO Lee menggeleng, "Tidak berlebihan kok, siapa tahu aja tidak hanya Doyoung yang akan hamil lagi ..." ujarnya menggoda.

Seketika semua member merona, mereka menunduk malu. "Ya, anggap saja ini hadiah untuk kehamilan Doyoung, sekaligus penyambutan anak mereka." Tambahnya lagi. "Kalian akan memiliki banyak kamar nanti. Jadi kalian bisa bebas 'bermain'" CEO Lee menaik-turunkan alisnya menatap sebelas orang itu. Mereka semua berdehem, sedangkan Jisung yang masih polos hanya tersenyum senang mendengar kata bermain yang ia artikan secara harfiah.

"Kalian menerimanya kan?" tanya CEO Lee. "Ne, tentu saja. Gashamnida Appa." Taeil tersenyum.

"Baiklah, Annyeong." Ujar CEO Lee pamit undur diri. Mereka semua membungkuk hormat pada CEO Lee, "Annyeong."

"Sepertinya CEO Lee sangat menyambut anak kalian, hyung." Ujar Mark pada Taeil. Taeil tersenyum dan merangkul pinggang Doyoung. "Tentu saja." Ucap percaya diri. Semua hanya menggeleng dan tersenyum, "Baiklah kali ini kita latihan, kecuali kau, Kim." Ujar Taeyong.


Hansol menatap haru pada sebuah foto di tangannya. Kata Hinata, itu adalah foto USG Yuta kemarin. Janin berusia 4 bulan itu terlihat sehat tanpa ada kekuarangan apapun. Yuta ikut tersenyum di samping Hansol.

Hansol dan Yuta kini berada di taman belakang rumah sakit. Kata Yuta, ia tidak mau terus-terusan berada di kamar karena itu membosankan. Hansol hanya menuruti permintaan Yuta karena anak itu mengancam tidak mau makan.

"Hyung senang?" tanya Yuta sambil menatap Hansol. Hansol menoleh dan menatap mata Yuta dalam, "Lebih dari itu... terimakasih sayang..." Hansol mengecup kepala Yuta yang di perban. Yuta memejamkan matanya menikmati sentuhan Hansol.

Hansol tersenyum lembut mematap perut Yuta, dia membuat gerakan mengusap sekali lagi. "Hei, ini Appa. Apa kau tidak mau menyapa Appamu, hm?" ucap Hansol pada perut Yuta. Seolah ia sedang berbicara pada bayinya.

Tak lama Hansol merasakan seperti ada yang menyundul pelan tangannya dari dalam. Ia memandang Yuta dengan berbinar dan Yuta mengangguk. "Annyeong, Appa tidak sabar menunggumu lahir." Ujar Hansol girang.

"Dia anak yang pintar hyung. Hyung ingat tidak saat aku menelpon hyung malam-malam?" tanya Yuta. Hansol mengangguk, ya dia ingat. Tapi Yuta tidak berbicara saat itu, dan saat ia mau menelpon Yuta lagi, ponsel Yuta sudah tidak aktif.

"Disaat kau berbicara dia langsung menendang untuk pertamakalinya. Ia langsung mengenali kalau kau Appanya saat itu." ujar Yuta dengan bangga. Hansol tersenyum haru, "Ya Tuhan... lengkap sekali rasanya memiliki kalian." Ujar Hansol senang.

Yuta mengangguk dan bersender pada tubuh Hansol. "Oh ya, aku punya kabar bagus loh dari member lain." Ujarnya. Yuta kembali tersenyum, rasanya ia rindu sekali dengan anak-anak itu. "Apa hyung? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Yuta.

"Hm, mereka baik. Mereka juga sangat merindukanmu. Jeno juga meminta hadiah ulangtahun padaku kemarin, dia bilang dia ingin kamu pulang." jawab Hansol. Yuta membulatkan maatnya. "Ah ya, kemarin Jeno ulang tahun." Ujar Yuta.

"Doyoung kini tengah hamil dan mereka akan segera menikah." Yuta membulatkan matanya. "Doyoung hamil? Mereka siapa?" tanya Yuta dengan nada terkejut. "Doyoung dengan Taeil, mereka akan menikah dua bulan lagi katanya." Ujar Hansol.

"Wah, cepat sekali bergeraknya." Ujar Yuta senang. "Hyung, aku kangen mereka." Ujar Yuta. Hansol tersenyum, "Kau mau kita melakukan Video call?" tanya Hansol. Yuta menggeleng, "Aku tidak mau membuat mereka khawatir juga dengan keadaanku begini." Jawab Yuta sambil melihat tubuhnya.

Hansol mengangguk, "Baiklah, kita langsung ke Korea aja bagaimana? Nanti saat aku sudah sembuh." Usul Yuta. "Aku akan membawamu ke Korea setelah hubunganmu dan keluargamu membaik, jadi kau harus pulang dulu ke rumahmu." Ujar Hansol.

Seketika raut wajah Yuta menjadi sendu. "Mereka-"

"Tidak akan terjadi apa-apa jika dibicarakan baik-baik. Aku akan menemanimu berbicara. Tidak baik jika kau bertengkar dengan orangtuamu terlalu lama." Hansol mengelus punggung Yuta berusaha menenangkan namjanya.

Yuta menghela nafas pasrah, "Ya, baiklah." Ujarnya.


"Hallo dad, bisa kita bertemu?" tanya Mark pada ayahnya di telepon. Iya kini berada di ruang latihan vokal bersama Doyoung dan Taeil. Terdengar sahutan dari sana dan Mark menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, nanti malam jam 7." Jawab Mark dan memberi salam pada ayahnya lalu menutup ponselnya. Ia menatap jam yang sudah menunjukkan jam 5 sore. "Taeil hyung" panggil Mark pada Taeil yang kini tengah menunggu Doyoung yang sedang di toilet.

"Ada apa?" sahut Taeil. "Bisa aku dan Donghyuck pulang lebih dulu? Kami ada janji dengan ayahku jam tujuh." Izin Mark. Taeil mengangguk, "Silahkan, kalau bisa ajak adik-adikmu pulang juga ya." Ujar Taeil dan diangguki Mark.

Mark berjalan keluar menuju ruang latihan dance. "Dongsaengdeul." Panggil Mark dan minirookies serempak menolah. "Kajja pulang, Taeil hyung mengizinkan." Ajak Mark. Mereka mengangguk dan mengikuti Mark menuju parkiran

Setelahnya mereka pulang di antara supir memakai van. Sesampainya di dorm, mereka menuju kamar. "Donghyuck-ah, malam ini ada acara tidak?" tanya Mark. Donghyuck menggeleng, "Ada apa?" tanyanya.

"Ayo jalan, jam tujuh." Ajak Mark. Donghyuck mengangguk mengiyakan. Mark tersenyum dia mengusak rambut Donghyuck setelahnya.

.

.

Pukul 07.00

Kini Mark dan Donghyuck sudah di dalam sebuah Cafe. Donghyuck menatap Mark tak mengerti kenapa Mark mengajaknya duduk di tempat yang memiliki dua sofa. Menurutnya ini untuk dipakai beramai-ramai. "Hyung, kenapa kita tidak di dua bangku saja?" tanya Donghyuck.

"Nanti kau juga tahu." Ujar Mark dan menggenggam tangan Donghyuck. Tak lama seorang pria paruh baya mendekati mereka. "Hello, Dad." Sapa Mark dan Tuan Lee hanya menatap mereka dengan senyum kecilnya.

"Hi Mark and... Donghyuck?" Tuan Lee memastikan. Donghyuck sedikit terperanjat saat melihat ayah Mark. Dia sangat gugup sekarang. Dengan canggung ia membungkuk. "Annyeong, Lee Donghyuck imnida."

"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan, Mark?" tanya sang ayah. "Aku akan to the point." Ujar Mark dan Tuan Lee hanya mengangguk. Semenatara Donghyuck hanya bisa memperhatikan keduanya.

"Mengenai pilihan yang Dad berikan, aku ingin membatalkan semuanya." Ujar Mark serius. Tuan Lee hanya menunggu Mark sampai selesai bicara. "Aku akan membuat pilihan sendiri. Aku mencintai Donghyuck dan tak pernah melepaskannya. Aku akan berjuang untuk mempertahankannya walau Dad akan menentang. Aku akan melindungi Donghyuck jika terjadi sesuatu kerena Dad, aku tidak akan pernah membiarkan Dad menghancurkan kebahagiaanku!" Mark berujar lantang, dan menatap Tuan Lee tak gentar.

Walau sebenarnya dalam hati ia ingin lari rasanya, namun untuk Donghyuck akan ia tahan semua rasa takutnya. Tuan Lee yang melihat keseriusan di mata anaknya pun mengangguk. "Kau serius tidak akan menyakitinya?" tanya Tuan Lee.

Mark mengangguk yakin. "Kau yakin tidak akan mengecewakannya?" Mark mengangguk lagi. "Kau juga yakin cintamu itu setia padanya?" Mark mengangguk dan ia merasa sedikit janggal sekarang. Tuan Lee tersenyum puas. "Bagus, tapi jika kau menyakitinya maka aku juga akan bertindak, aku akan membuatmu jauh darinya." Ujar Tuan Lee tersenyum puas.

Donghyuck yang sedari tadi memperhatikan terperangah dengan tingkah Mark. Dia mengakui keseriusannya pada Donghyuck di depan ayahnya. "Tunggu, kenapa sekarang seolah Daddy sedang membela Donghyuck?" tanyanya baru sadar. Seharusnya ayahnya kan menentangnya, bukannya berlagak seperti calon mertua untuknya.

Tuan Lee tergelak, "Kau masuk perangkapku Mark Lee..." ujar ayahnya sambil tersenyum. Mark dan Donghyuck menatap tak mengerti pada Tuan Lee. "Sebenarnya aku hanya ingin melihat keseriusan darimu, Mark. Aku takut kau salah memilih dan malah saling menyakiti, tapi saat melihat ketulusan darimu, aku yakin kau tidak akan menyakitinya." Ujar Tuan Lee.

Tuan Lee menatap Donghyuck. "Hey nak, lain kali kalau dia membuatmu menangis, katakan saja padaku, ne." Ujarnya dan mengusap surai lembut Donghyuck. Donghyuck tersenyum dan mengangguk. Mark kini menatap jengkel pada ayahnya.

"Oh ya Mark, aku ingin memberikan kalian ini. Kalian membukanya saat di dorm saja." Ujar Tuan Lee. "Hah... dasar anak muda.." desahnya. Mark dan Donghyuck mengambil sebuah album kecil dari tangan Tuan Lee. Kini mereka saling mengobrol dengan penuh canda tawa.

Dalam hati, Mark bersyukur karena ayahnya ternyata hanya mengetesnya saja. Akhirnya ia dan Donghyuck direstui.

.

.

Sementara Jeno, Jisung, dan Jaemin kini tengah bermain di ruang tengah sembari menunggu yang lain pulang. Mereka terlihat bermain monopoli bersama. Jaemin yang sedari tadi masuk ke dalam penjara mengerucutkan bibirnya.

"Kalian berbuat curang ya? Waktu aku masuk penjara terus?" tanya Jaemin meneliti pada Jeno dan Jisung. Jisung menggeleng sementara Jeno terkekeh. "Kau saja yang tidak bisa bermain." Ledeknya. Jaemin mencebikkan bibirnya. "Aku bisa bermain." Ujarnya sebal.

"Buktinya? Uangmu saja sudah tinggal dikit, kau juga masih punya hutang denganku." Ucap Jeno dan ia terlihat senang saat melihat wajah menggemaskan Jaemin saat ini. Jaemin hanya terdiam dan mengambil dadunya. Kali ini ia yang kembali mengocok.

Dua dadu itu masing-masing menunjukkan titik 3 dan titik 6. Jaemin menjalankan miliknya hingga 9 kali. Dia tersenyum senang saat ia harus mengambil kartu. Dan saat ia mengambil kartu, matanya menyipit dan bibirnya mencebik lagi.

"Kenapa aku harus membayar pajak terus!"

Kesalnya dan keluar dari permainan. "Kau mau kemana?" tanya Jeno. "Aku ingin tidur!" seru Jaemin dari dalam kamar. "Ya! Kau belum membayar hutang padaku!" teriak Jeno. "Bodo!" teriak Jaemin lagi.

Jeno dan Jisung tertawa. Lucu sekali anak itu, hanya karena permainan ia ngambek. "Mau dilanjut?" tanya Jeno. Sebenernya dia mau menyusul Jaemin, tapi nanti kasian Jisung yang sendirian, hyungdeulnya kan belum pulang.

"Ayo." Jisung mengangguk dan keduanya kembali larut dalam permainan membiarkan Jaemin tertidur.


Dalam sebulan, semua persiapan pernikan Taeil dan Doyoung pun sudah matang. Mulai dari dekorasi hingga tamu undangan. Mereka memutuskan untuk mengundang kerabat terdekat saja. Dan tamu khusus, seperti member SMROOKIES, CEO Lee dan manager mereka. Mereka juga mengirim undangan untuk Hansol dan Yuta di Jepang. Dan kata Hansol mereka akan datang, mendengar itu mereka sangat senang karena Hansol dapat menemukan Yuta.

Dua minggu kemarin mereka juga sudah melakukan foto dan video prewedding di Jeju. Sebenarnya mereka juga lelah harus bolak-balik Jeju-Seoul namun mereka harus menuntaskan semua persiapan di Seoul, seperti fitting baju pernikahan.

Pagi ini semua member terlihat sibuk karena mereka semua akan berangkat ke Jeju dan menginap di hotel yang sudah di sewa keluarga Moon dan Kim. Mereka sebagai tamu khusus tentu saja ikut dengan calon pengantin Ilyoung ke Jeju lebih dulu.

"Kalian tidak ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Taeil. Semua mengangguk dan mereka memasukkan koper mereka ke mobil Van nomor 3. Sedangkan grup mereka dibagi dua. Mereka semua terlihat riang dan bahagia.

Taeil menatap Doyoung khawatir, pasalanya sejak kemarin mereka sangat sibuk. "Kau kecapean?" tanya Taeil mengusap tangan Doyoung. Doyoung menggeleng dan tersenyum kecil "Aniyo... aku justru sangat senang." Jawab Doyoung.

Doyoung sangat senang, pernikahan yang diimpikannya akan terwujud dalam waktu dua hari, dan karena itu juga senyuman jarang luntur dari wajahnya. Dia juga sangat bersyukur kandungannya tidak rewel.

Setibanya di bandara mereka bertemu dengan Yumin yang ternyata tiba lebih dulu. Mereka semua naik pesawat dengan Taeil yang menanggung biaya. Mereka langsung naik pesawat karena sudah ada pemberitahuan pesawat akan segera berangkat.

.

.

Begitu juga dengan Hansol dan Yuta. Yuta sudah lumayan pulih dari semua luka di tubuhnya. Berkat Hansol yang membelanya mati-matian, ia pun dapat akur lagi dengan ayahnya. Ayahnya juga sudah meminta maaf padanya karena keegoisannya dulu.

Yuta yang memang pemaaf, tentu saja memaafkan ayahnya. Ia tidak tega melihat ayahnya yang sudah cukup tua harus merasakan kesedihan. Mereka bahkan tinggal bersama lagi. Dan Hansol pun mengakui kalau ia adalah ayah dari anak yang dikandung Yuta.

Kedua orangtua Yuta merestui hubungan keduanya, karena Hansol merupakan orang yang tepat untuk Yuta bagi keduanya. Kemarin mereka juga mendapatkan undangan dari pasangan Taeil dan Doyoung yang akan segera melangsungkan pernikahan di pulau Jeju. Tentu saja mereka akan datang, mereka juga di suruh datang sebelum dua hari pernikahan.

Kini mereka habis saja chek-up kehamilan. Keduanya sangat senang karena janin Yuta baik-baik, dan telah terbentuk bayi sudah sempurna, namun mereka belum mendapatkan hasil yang sempurna mengenai jenis kelamin karena masih susah untuk diperiksa.

Kata Dokter pun Yuta sudah dapat bepergian karena Kandungannya sudah pas. Dan Yuta tidak akan mengalami kesusahan, kecuali karena perutnya yang membesar saja. Hansol dan Yuta juga sedang bersiap kini akan langsung pergi ke Jeju.

Ia tidak sabar untuk bertemu member lain. "Sudah siap? Kita akan segera ke bandara." Ucap Hansol. Yuta mengangguk dan ia membiarkan Hansol membawa semua barangnya. Karena Yuta sudah cukup membawa perutnya besar saja sudah kesusahan.

"Kaasan, Tousan, kami berangkat ya.." pamit Hansol dan Yuta pada Tuan dan Nyonya Nakamoto. "Ne, jaga diri kalian dan cucu kami baik-baik." Ujar kedua orantua Yuta dan memeluk keduanya singkat.

"Aku mempercayaimu untuk manjaga anak dan cucuku, Ji." Ujar Tuan Nakamoto di telinga Hansol. Hansol tersenyum lembut pada pria paruh baya itu. "Aku berjanji." Jawab Hansol. Ayah Yuta menepuk bahu Hansol dengan percaya.

Keduanya melambai lagi sebelum naik taksi. Hansol memeluk pinggang Yuta erat. "Apa baby di dalam rewel?" tanyanya pada Yuta. Yuta menggeleng, dia mengusap perut membuncitnya dan tersenyum lembut. "Baby tidak rewel, dia senang karena akan bertemu banyak pamannya nanti." Ujar Yuta.

Keduanya tiba di bandara dan duduk di ruang tunggu, sampai 5 menit berikutnya pesawat akan take off mereka pun naik ke dalam pesawat. Hansol memasangkan headphone pada perut Yuta. "Mau apa?" tanya Yuta tak mengerti.

"Aku ingin dia mendengarkan lagu." jawab Hansol dan diangguki Yuta. "Tidurlah, nanti kubangunkan saat sampai." Ujar Hansol sambil mengusap rambut Yuta. Yuta mengangguk dan memejamkan matanya.

.

.

Setelah hampir satu setengah jam di pesawat, akhirnya semua member rookies sudah sampai di Jeju. Mereka langsung di antar menuju hotel untuk beristirahat dan ada juga yang bermain. Sedangkan Taeil masih harus mengurus dan mengecek semua perlengkapan.

"Jadi, kamar Jaehyun dan Taeyong hyung ada di kamar nomor 97, Johnny hyung dan Ten ada di kamar nomor 99, dan Kamar minirookies ada di kamar nomor 100 dan kamar Yumin noona ada di kamar no 101." Ujar Doyoung membagikan kamar dan memberikan kunci kamar pada masing-masing pemilik.

"Kalau butuh sesuatu, kalian telepon saja Taeil hyung atau Gongmyoung hyung, atau aku ada di kamar nomor 96. Baiklah aku tinggal, ya." Ujar Doyoung dan menuju kamarnya. Dia harus beristirahat karena besok ia mempunyai jadwal untuk memeriksa kesehatan dan perawatan tubuh di salon bersama Taeil.

Semuanya terlihat sudah memasuki kamar masing-masing dan sepertinya mereka memang harus banyak beristirahat karena sedikit kelelahan.

.

.

Hansol dan Yuta pun sama, mereka sudah sampai di Jeju. Yuta tersenyum dan menarik nafas. "Rasanya lama tidak menghirup udara Korea." Ujarnya senang. Hansol tersenyum dan mengusak rambut Yuta. Hansol melihat-lihat sekeliling, ia berusaha mencari seseorang yang sudah Taeil suruh untuk menjemput keduanya.

Sampai ia menemukan seorang pria paruh baya yang memegang papan nama mereka. Hansol menarik Yuta untuk menghampiri pria itu. "Apa anda suruhan Taeil untuk menjemput kami? Hansol dan Yuta." Tanya Hansol dan menyebut nama mereka.

Pria paruh baya itu tersenyum. Ia membawa koper Yuta dan Hansol, "Ne, silahkan ikuti saya." Ujarnya ramah. Hansol dan Yuta mengikuti pria itu hingga sampai parkiran. Mereka memasuki mobil Taeil dan mereka di bawa ke hotel yang akan dituju.

Beberapa menit kemudian keduanya sudah tiba di tujuan. "Ini kunci kamar kalian. Ada di lantai 3 kamar nomor 98." Pria paruh baya itu menyerahkan dua kunci pada Hansol. Hansol dan Yuta menganguk dan membungkuk. "Gashamnida."

Mereka berjalan menaiki lift menuju lantai 3. Setelahnya mereka langsung melihat kanan-kiri memeriksa nomor kamar. Dan akhirnya mereka menemukan kamar dengan nomor 98 di atasnya.

Hansol membiarkan Yuta merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menempatkan barang-barang mereka. "Uh, aku ingin makan." Keluh Yuta sambil memeluk perutnya. "Mau makan? Aku panggilkan server ya." Ujar Hansol.

"Aniyo, aku ingin jalan mencari makan dengan hyung." Ujar Yuta menolak tawaran Hansol. "Tapi kita baru sampai, memang kau tidak lelah?" tanya Hansol. Sedikit menggelengkan kepalanya, ia kini duduk dipinggir kasur menatap Yuta.

Yuta menggeleng dan bangun dari rebahannya. "Ayo kita jalan." Ujar Yuta sambil tersenyum lebar. Hansol hanya menggeleng melihat kekasih mungilnya itu.

.

.

Kini Teayong dan Jaehyun sudah berada di pantai Jeju, mereka berdua terlihat berkeliling-liling di sana. Mereka hanya dapat bermain di bagian timur pantai, karena bagian selatan sudah disterilkan untuk pernikahan Doyoung dan Taeil.

Keduanya telihat sedang asyik bermain pasir dan membuat istana pasir. Jaehyun dan Taeyong berlomba untuk membuat siapa yang paling bagus membuatnya, hingga akhirnya punya Taeyong lah yang menang. Mereka juga taruhan siapa yang kalah maka dia harus menuruti perkataan pemenang, maka sekarang Jaehyun menuruti perkataan Taeyong untuk menggendongnya.

Jaehyun membawa Taeyong di atas punggunggnya ke dalam air, dan Taeyong tertawa senang karena ia berada sangat tinggi sekarang. Jaehyun menceburkan Taeyong ke dalam air hingga seluruh tubuh Taeyong basah. Jaehyun menyeringai melihat tubuh Taeyong yang kini terlihat sangat sexy.

Apalagi dengan Taeyong yang hanya memakai baju putih lengan panjang dan celana ketat pendek yang tertutup bajunya itu. Jaehyun mencipratkan air laut ke tubuh Taeyong.

"Haish! Jaehyun!" Taeyong sedikit kelabakan karenanya. Jaehyun tertawa hingga Taeyong dengan berhasil memutar balik keadaan. Dengan cepat ia bangkit dan mendorong Jaehyun. Taeyong menduduki perut Jaehyun dan menyiprat air laut dengan ganas.

"Uhuk! Taeyong hyung ugh hentikan!" Jaehyun bahkan sampai tak bisa melihat karena air terus berjatuhan ke wajahnya. Tak sengaja lutut Jaehyun menyenggol punggung Taeyong hingga terdorong ke depan.

Taeyong terjatuh di atas tubuh Jaehyun dengan posisi yang sangat intim. Mata tajam Jaehyun bertemu pandang dengan mata bulat Taeyong. Waktu serasa berhenti berputar saat itu juga. Perlahan tangan Jaehyun merambat memeluk pinggang mungil Taeyong, dan tangan Taeyong tanpa sadar meremat bagian depan baju Jaehyun.

Mata keduanya menutup dan dua belah bibir itu bertemu. Saling mengecap rasa manis di antara keduanya, sampai mereka hanyut dalam dunia mereka sendiri.

.

.

Ckrek!

Johnny tersenyum melihat hasil potretnya, pemandangan pantai memang sangat indah, dan ia tidak memungkiri itu. Kini ia sendirian di tengah-tengah pantai, memotret ke indahan alam yang begitu memukau.

Johnny kembali memfokuskan lensa kameranya ke arah laut yang kini sedang kondisi stabil. Ia ingin mengambil sebanyak-banyaknya moment disini. Sampai di rasa pas, Johnny membidiknya. Namun saat ia melihat hasilnya, ia justru melihat ada Ten yang tengah tertawa lebar dengan posisi menyamping.

Johnny melihat ke pantai, dan ternyata anak itu tengah bermain kejar-kejaran bersama Donghyuck, Jisung, dan Jaemin. Johnny tersenyum, diam-diam ia memulai memotret kembali. Kini ia fokus pada Ten yang tengah menciprat-cipratkan air pada Jaemin dengan tawa bahagianya.

Johnny terkekeh melihat hasil potretnya, Ten benar-benar cantik dan bersinar untuknya. Ia kembali memotret, tapi kali ini bersama Jaemin, Donghyuck, dan Jisung. Ia mengumpulkan banyak foto untuk menjadi dokumenter dan kenangan.

"Ya!" teriak Johnny. Ia mengalungkan kameranya dan berlari menghampiri ke-empatnya. "Johnny hyung!" teriak keempatnya dan melambai pada Johnny. "Ya! Ya! Ya!" Johnny menyilangkan tangannya di depan tubuh atasnya ketika ke-empat adiknya menyipratkan air ke tubuhnya.

"Ya! Hajima!" ujar Johnny. Dan mereka saling menatap. "Ayo berfoto." Ajak Johnny dan mengangkat kameranya. Ke-empatnya mengangguk. Kali ini mereka mengambil foto sedang tiduran di air pantai. Johnny dan Ten tiduran di tengah-tengah, sementara Jisung, Jaemin, dan Donghyuck di sekeliling mereka.

"Say Kimchi!" perintah Johnny dan mengarahkan kameranya.

"kimchi!" teriak mereka berbarengan sambil membuat V-sign di tangan. Dan hasilnya sempurna. Mereka tersenyum melihat hasil potonya.

"kami tidak di ajak, eoh?" tanya Jaeyong bebarengan pada ke lima orang itu. Johnny mengangguk dan menyuruh keduanya mendekat. Kali ini mereka sambil duduk di air. Posisi Johnny di tengah dan Ten disampingnya, Jaehyun dan Taeyong berdekatan dan sisanya Jaemin, Jisung, dan Donghyuck. Mereka membuat gaya masing-masing.

Ckrek!

"Bagaimana kalo kita main Jet Ski?" usul Jaehyun. Semuanya mengangguk setuju, "Setuju." Jawab mereka serempak.

"Kami ikut!" seru dua orang lagi. Itu Mark dan Jeno. Donghyuck dan Jaemin bersorak kegirangan. Tadi mereka sempat kesepian karena Mark dan Jeno tidak ada, dan sekarang mereka bisa bermain jet ski dengan mereka.

"Ayo ikut, kita sewa dulu." Ujar Johnny. "Chingudeul!" teriak seseorang lagi yang terasa familiar di telinga mereka. Mereka semua serempak menoleh dan terkejut. "Hansol hyung! Yuta/hyung!" teriak semuanya berbarengan.

Mereka berlari mendekati Yuta dan Hansol. Yuta tersenyum lebar dan melambai pada member-member yang sudah lama tidak ia temui. Mereka langsung mengerubuni Yuta dan memeluk namja manis itu.

"Ya Tuhan Yuta hyung! Aku sangat merindukanmu!" ujar Jaemin bahagia bahkan sampai ia mengeluarkan airmatanya. Ia memeluk Yuta erat dengan senyum lebarnya. Yuta tertawa menatap Jaemin. "Hyung juga merindukanmu..." ujar Yuta.

"Yuta kau ke Jepang kenapa tidak mengatakan apa-apa pada kami?" protes Taeyong dan Ten, mereka juga memeluk Yuta. "Mianhae, aku tidak bisa memberitahukan alasannya." Jawab Yuta. Ten mendelik dan mencubit pipi Yuta yang semakin berisi itu.

"Eoh, bagaimana kabar dedek bayi?" tanya Taeyong. Yuta tersenyum dan mengusap perutnya. "Dia baik-baik saja dan sangat sehat kata dokter." Ujar Yuta. Hansol tersenyum melihat pemandangan di dekatnya. Semua member menyayangi Yuta dan ia sangat bersyukur.

"Yuta, kami tidak akan membiarkanmu pergi lagi." ujar Johnny dengan tatapan kesalnya. "Ne, ne hyung aku mengerti." Jawab Yuta. "Yuta hyung ayo ikut bermain." Ajak Jisung. "Mianhae Jisungie, Yuta hyungnya sedang tidak bisa ikut bermain air, nanti babynya sakit." Hansol mencoba memberikan pengertian pada Jisung.

"Baiklah." Ujar Jisung sedikit tidak rela. "Kesinikan kameranya, biar aku yang mendokumentasikan kalian. Jja, bukankah kalian ingin main Jet ski?" tawar Hansol dan mengambil alih kamera Johnny. Johnny tersenyum dan menyerahkan kameranya.

Mereka menyewa 4 Jet Ski. Untuk Johnny dan Ten; Jaehyun, Jisung, dan Taeyong; Mark dan Donghyuck; dan Jeno, Jaemin. Mereka juga menyewa pisto air. Mereka terlihat gembira dengan saling mengejar menggunakan Jet ski dan saling menembak menggunakan pistol.

Teriak-teriakan penuh keriangan terdengar di pantai itu, mengundang senyuman dari Yuta dan Hansol yang sedari tadi mengabadikan moment itu. Tak lama datang Taeil dan Doyoung. "Yuta hyung!" seru Doyoung saat melihat Yuta.

Yuta menoleh dan melambai pada Doyoung. "Doyoungie!" seru Yuta. Doyoung berlari membuat Taeil, Yuta dan Hansol panik. "Ya! Jangan berlari!" teriak Taeil khawatir. Doyoung langsung memeluk Yuta sedikit erat.

"Ya Tuhan Kim Doyoung, ingat kau sedang hamil!" omel Yuta. Doyoung nyengir lucu denger omelan sang namja cantik. Taeil menggelengkan kepalanya dan ia memeluk pinggang Doyoung posesif. "Hyung, tahu?" tanyanya pada Yuta.

Yuta tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja." Ujar Yuta. "Bagaimana persiapannya?" tanya Hansol pada Taeil. "Sudah 100%" jawab Taeil tersenyum lega. "Bagus, kalian bergerak cepat, ya." Ujar Hansol.

"Tentu saja, kau sendiri kapan melamar Yuta?" pertanyaan Taeil sukses membuat Hansol membeku dan Yuta merona. Yuta menatap Hansol untuk menunggu jawaban apa yang akan di berikan sang kekasih. "Tentu saja aku akan menikahi Yuta, dan itu saat anak kami sudah lahir." Jawab Hansol.

"Kenapa harus menunggu lahir dulu?" tanya Doyoung. "Sebenarnya sih untuk sekarang sudah terlanjur, perut Yuta sudah membesar dan menurutku Yuta pasti bisa sangat kelelahan jika harus mengatur ini itu sambil membawa beban seperti itu." ujar Hansol sambil mengelus kepala Yuta.

"Aw! Perhatian sekali!" ujar Doyoung sambil tersenyum gemas. "Kalian ada apa kemari?" tanya Yuta. "Tadinya kami ingin memanggil member lain untuk makan siang, tapi mereka sedang bermain ya.." lirih Doyoung sambil memperhatikan kesembilan orang yang tengah asyik itu.

"Biarkan saja dulu, mereka sedang asyik. Nanti juga kalau lapar mereka selesai." Jawab Hansol. Taeil dan Doyoung mengangguk. "Hyung kami juga ingin berfoto." Ujar Doyoung pada Hansol sambil menggandeng tangan yuta.

Hansol mengangguk, "Berposelah." Suruhnya. Taeil bediri disamping Hansol dan memperhatikan tingkah lucu kedua ibu hamil itu. Mereka berpose saling membelakangi dan membuat gerakan mengusap di perut masing-masing. Mereka tersenyum dan hanya terlihat dari samping jika dari kamera, ya seperti candid.

Hansol mengambil gambar itu dan kembali menyuruh keduanya berpose lagi. Kali ini Yuta dan Doyoung membuat love sign, Yuta melengkungkan tangan kirinya hingga jarinya berada di atas kepala dan diikuti oleh Doyoung yang memakai tangan kanannya.

Keduanya tersenyum manis menghadap kamera. "Jja, sekarang kau dan Yuta." Ujar Taeil dan mengambil kamera dari tangan Hansol. Hansol berjalan mendekati Yuta. Ia memeluk Yuta dari belakang dan meletakkan telapak tangannya di atas perut membuncit Yuta. Dan seperti seolah sedang mengusap perut Yuta.

Wajahnya sedikit menunduk dan mendekati wajah Yuta. Yuta pun menolehkan wajahnya sampai sekarang mereka saling menatap dengan senyuman di wajah mereka. Tangan Yuta pun mengelus punggung tangan Hansol yang melingkari perutnya.

Taeil menatap keduanya dengan senyum mengembang dan memotret pasangan romantis itu. "Selesai." Ujarnya dan menatap puas pada hasil potretannya. Doyoung juga terkekeh kecil melihat pasangan romantis itu.

"Ya! Mau sampai kapan kalian bermain? Ini sudah jam satu, waktunya makan." Teriak Taeil agar di dengar ke-sembilannya. Semua member yang tengah asyik bermain itu mengangguk patuh pada Taeil. Mereka menghentikan permainan mereka dan membias tubuh masing-masing sebelum makan siang bersama.

.

.

Malam pun tiba, mereka semua sempat berkumpul dan berfoto saat sunset seolah tak mau ketinggalan moment itu. Kali ini mereka berkumpul dan membuat api unggun bersama, namun mereka harus sedikit menelan kekecewaan karena calon pengantin itu sudah harus beristirahat agar kesehatan mereka tidak drop.

Kali ini Hansol dan Yuta bergabung, mereka membakar ikan dan seafood lainnya seperti kerang dan kepiting. Johnny membawa beberapa bir dan minuman lainnya. Tentu saja yang meminum bir hanya Ia, Taeyong,Ten, Jaehyun dan Hansol. Selain karena Yuta yang sedang hamil, minirookies juga masih dibawah umur. Mereka meminum sirup sebagai gantinya.

Johnny membawa gitar di tangannya dan menyuruh Jeno untuk memainkannya. Jeno pun dengan senang hati memainkan gitar tersebut, sedangkan yang lain kini bernyanyi sambil menepuk tangan mereka hingga membuat irama.

Api unggun memang sudah menghangatkan mereka, namun suasana hangat ini lah yang berhasil membuat hati mereka ikut menghangat. Yuta tersenyum dan mengucap syukur dalam hati karena dapat bertemu kembali dengan semua orang yang dia sudah anggap keluarga keduanya itu.

Mereka memakan makan malam kali ini dengan ikan bakar dan seafood lainnya. Berkumpul dengan saling melempar senyum, tertawa karena ulah Johnny dan Ten juga kecerian Yuta. Mereka saling bercanda dan saling berbagi cerita disana.

"Aku senang dapat berkumpul dengan kalian lagi." ungkap Yuta dengan senyum lebarnya dan menatap satu-persatu wajah keluarganya. Semua tersenyum, "Kami juga senang hyung dapat berkumpul lagi bersama kami." Ujar Donghyuck dan diangguki semuanya.

Yuta tersenyum haru dan tak lama ia meringis sedikit membuat semuanya panik kecuali Hansol tentunya, ia sudah tahu apa yang terjadi. "Hyung kenapa?" tanya Jisung khawatir. "Hyung tidak apa-apa, hanya baby-nya yang sedang aktif di dalam. Sepertinya dia ingin menyapa kalian." Ujar Yuta dengan senyum manisnya sambil mengusap perutnya.

Semua member terlihat berbinar, "Whoa, hai adik bayi... cepatlah lahir kami ingin bertemu denganmu." Ujar mereka berbarengan dengan exited.

Yuta hanya dapat tersenyum dan berharap semoga kebersamaan ini tidak cepat berakhir.

.

.

Setelah acara api unggun yang mereka buat sendiri tanpa Taeil dan Doyoung, Taeyong berjalan sendirian di tepi pantai. Kaki telanjangnya ia biarkan menyentuh pasir nan indah itu. ia belum kembali ke kamar yang ia tempati bersama kekasihnya itu karena ia masih ingin menikmati suasana pantai di malam hari. Taeyong berjongkok dan ia mengukir di pasir putih itu.

J & T

Taeyong melingkari dua huruf itu dengan simbol hati. Wajah manisnya terukir senyuman yang sangat cantik. Ia menemukan ide yang lebih bagus dan memotret ukirannya. Taeyong berdiri dan berjalan lagi.

Kali ini ia menuju air laut. Taeyong membiarkan ombak kecil itu menerjang kakinya yang tak beralas. Sensasi air yang terasa menyejukkan tertinggal disana. Taeyong memandang ke atas langit yang cerah.

Senyuman itu tidak juga luntur dari wajah manisnya. Perlahan ia menengadahkan wajahnya dan menarik nafas dengan teratur. Mata bulat berbinar itu menutup secara bersamaan dengan udara pantai itu memenuhi paru-parunya.

"Aku mencarimu... ternyata kau disini.."

Suara bisikan itu terdengar di telinganya bersamaan dengan sepasang lengan yang melingkari tubuhnya dari belakang. Taeyong tidak terkejut karena ia sudah dapat menebak dari sensasi hangat yang diberikan oleh tubuh yang memeluknya dan suara berat yang merdu ditelinganya.

"Apa disini lebih menyenangkan dari pada bersamaku?" suara itu kembali terdengar di telinganya. Taeyong membuka mata bulatnya dan tersenyum tipis. "Kenapa bertanya seperti itu jika kau tahu jawabannya." Jawab Taeyong.

"Aku mencintaimu Lee Taeyong..."

Kalimat itu lagi. kalimat yang tak pernah bosan di ucapkan oleh namja berkulit putih bersinar itu padanya. Taeyong sendiri tersenyum dan ia juga mengakui kalau ia tidak pernah bosan mendengar namja itu mengucapkannya.

"Aku juga mencintaimu Jung Jaehyun..."

Dan ia juga tak pernah bosan untuk membalas kalimat cinta darinya. "Boleh aku bertanya?" ujar Taeyong sambil melepaskan pelukan Jaehyun. Ia membalikkan tubuhnya dan melingkarkan lengannya di leher namja yang lebih tinggi darinya.

"Tentu saja... apapun pertanyaanmu akan ku jawab." Jawab Jaehyun dan menempelkan kening mereka dan tangannya kembali melingkari pinggang Taeyong dengan posesif. Hingga tubuh mereka tidak lagi berjarak.

Saling menyelami masing-masing manik yang dihadapannya, saling merasakan detak jantung yang menggila di dalam kedua dada itu. Jaehyun tersenyum hingga memperlihatkan dimpel yang mampu membuat Taeyong terjatuh lagi dalam pesona namja tampan itu.

"Apa yang membuatku mencintaiku? Kenapa kau suka sekali mengakatakan cinta padaku? Dan apa kau tak bosan?" tanya Taeyong tanpa memutus tatapan mereka. Jaehyun tersenyum tulus, "Tidak membutuhkan alasan bagiku untuk mencintaimu, karena kau Lee Taeyong dengan segala kesempurnaanya di mataku. Karena aku menyukai kalimat itu, dan hanya kepadamu aku mengucapkan kata cinta itu. Tidak, aku tidak pernah bosan dengan kalimat itu, bersamaan dengan hatiku yang tak pernah bosan dan justru semakin jatuh pada pesonamu."

Mendengar jawaban yang di berikan Jaehyun, Taeyong tersenyum manis. "Kau sangat indah, Lee Taeyong." Ujar Jaehyun lagi. "Apa kau benar-benar menerimaku yang seperti ini? Aku memiliki banyak kekurangan yang tak pernah kau tahu." Ujar Taeyong dengan tatapan menyendunya.

Jaehyun tak menjawab pertanyaan Taeyong dengan suaranya, tapi kali ini ia memakai tindakannya dengan mencium bibir Taeyong. Bibir yang semanis dan selembut permen kapas itu membuatnya menjadi candu.

Ia kembali menuangkan jawabannya dalam ciuman penuh cinta itu. Membiarkan hatinya yang memimpin ciuman kali ini.

Begitu pun dengan Taeyong, ia memejamkan matanya dan menikmati bibir tipis itu menghangatkannya. Ia menerima banyak cinta dari namja tampan di hadapannya dengan ciuman lembut itu.

Ia membiarkan Jaehyun memberikannya ciuman yang entah keberapakalinya. Karena sesungguhnya ia juga menikmati itu. Segala sentuhan dari Jung Jaehyun, ia sangat menyukainya.

.

.

Ten tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Dimana sepasang kekasih itu tengah memadu kasih. Mereka sangat romantis dan ia sangat menyukainya. Pikirannya melayang pada semua saudaranya yang sudah memiliki pasangan dengan status yang jelas, bahkan Taeil dan Doyoung yang akan menikah.

Status mereka akan tertulis di tangan Tuhan dengan takdir yang sudah mengikat mereka. Bahkan Markhyuck dan Nomin yang sudah menjadi sepasang kekasih, namun ia dan sahabatnya itu...tetap berada di garis yang sama.

Bukan Johnny yang salah, bahkan namja itu pernah menyatakan cinta padanya. Namun, ini adalah karena alasannya sendiri. Ia hanya takut untuk memulai sebuah komitmen. Ia takut salah satu mereka mengingkari janji dan malah jadi saling menyakiti.

Ia takut kisah mereka berbeda dengan jalan cerita drama yang sering ia tonton. Ia takut kisahnya tidak semanis kisah teman-temannya. Dan berakhir dengan sebuah perpisahan.

Maka dari itu ia memilih berada di zona aman saja. Saling mengungkapkan cinta dengan tatapan dan sentuhan dengan status sahabat yang melekat pada mereka. Katakanlah ia pengecut, namun itu lah kenyataan yang sering menghantui pikirannya saat orang-orang menanyakan status mereka dan ia membuat ia kepikiran.

Ia mencintai namja Amerika itu dan begitu juga dengan Johnny. Dan Johnny sampai sekarang tidak pernah mengungkit mengenai acara penolakan yang ia berikan. Tapi entah kenapa ia merasa menyesalinya sekarang.

Melihat Taeyong dan Jaehyun yang kini begitu ramah dengan status mereka, entah kenapa ia menjadi merasa iri. Hatinya seakan di cubit dari dalam. Juga, melihat Johnny dekat dengan orang lain dengan begitu ramah, juga membuat dadanya sesak.

Namun ia bisa apa? Ini adalah pilihannya. Ia tidak mau membuat Johnny menjauh darinya karena merasa di pemainkan. Walau mungkin Johnny tidak mempermasalahkan itu, namun ia juga pasti akan melukai harga dirinya sendiri.

Ia ingin mendengar lagi kata cinta dan ajakan untuk memperjelas status mereka dari bibir tipi Johnny. Namun saat itu akan terucap lagi, ia pasti akan kembali dengan di hantui rasa takut sialan itu. ia menjadi sangat dilema dan seakan memakan buah simalakama.

Semuanya akan menjadi serba salah. Hatinya berkecamuk dan bahkan ia sudah tidak sadar dengan tindakannya sendiri yang sudah menjauh dari pantai. Kakinya berjalan sendiri tanpa ia kendalikan. Tatapannya kosong.

Air laut itu sudah memakan tubuhnya sebatas pinggang dan terus menaik sampai sebatas dada. Ten memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya yang di kendalikan oleh semua rasa dilema. Ia ingin tenang dan merasa ingin pergi dari semua ini ...

.

.

.

TBC

Annyeong, aku apdet hehe:V. aku seneng sama review kalian yang ngebuat aku semangat. Makasih ya :)

Tapi buat sekarng ini, aku mungkin bakal jarang update, yaaaa ngertilah...XD

Oh ya, aku mau ngebahas ttg FF A Baby, aku seneng kalian yang kemarin Review disana negdukung aku. Aku ngerisngis sendiri sih, sama komenan anatar penggemar Yuta!Uke dan Taeyong!Uke. pasti yang suka Yuta Uke dia sukanya Taeyong seme, eh yang suka Taeyong uke juga rata-rata suka Yuta seme.

aku jadi bingung mau ngasih moment part Jaeyong. kalo kebanyakan, aku takut Taeyu shipper risih atau komplen, kalo dikit aku juga gak enak sama penggemar Jaeyong. Eh, kalian jangan fanwar ya... nanti aku jadi ngerasa bersalah :( soalnya aku itu perpaduan kalian(?) suka Yuta!Uke juga Taeyong!uke.

kalo di FF ini kan, bukan HanYu doang yang jadi Main pair, tapi semua pair disini jadi sama rata. Uh, aku mau minta pendapat kalian, gimana? tapi tetep sih Johnten main pair disana.

dan buat FF ini, akungucapin terimakasih banget buat review, fav, foll, and sider. and sorry for the typo and etc.

salam Johntenny :)