Love BEFORE-AFTER
.
.
#11
.
.
SeKai-ChanKai
BottomJongin as a girl.
Others :
KwonYul - ByunBaek!GS
Gender :
Romance - family/Friendship - Litt! Hurt/comfort - dst.
PG-15/T
Warnings :
Gs - crack otp - badsummary - MarriageAU - Shoujo - Typo - dsb.
Have fun!
Sehun bersandar pada dinding berlapis marmer seraya menunduk memainkan game ponsel dari perusahan Line. Dia tidak menghiaraukan pandangan heran orang-orang disekitar. Toh, pasti mereka ingin tahu kenapa seorang Sehun ada di tengah bandara incheon.
Oh ya? kenapa dia disini?
Sehun sengaja meluangkan waktunya menjemput Yuri setelah mendapat sebuah pesan singkat darinya. Dia menyerahkan setengah pekerjaannya pada Jinki, jika sempat akan kembali ke kantor. arti kata -jika- itu tergantung dari Yuri. Karena dia tak yakin gadis itu takkan meminta yang lain.
Bicara tentang Yuri, Sehun mengenalnya secara tidak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan dekat pantai Busan. Saat itu Yuri sedang melakukan pemotretan di bibir pantai. Mereka bicara ringan, lalu secara singkat mereka menjadi kekasih. Gadis itu mau-mau saja saat Sehun memperkenalkan Baekhyun sebagai kekasihnya yang lain.
"Sehuun!"
Suara familiar memekik didepannya. Sehun menyaku ponselnya lalu mengulum senyum tipis melihat Yuri. "Bagaimana penerbanganmu?"
Yuri terkekeh, "Sangat baik. Terima kasih sudah menjemputku." Dia melebarkan senyumnya kala Sehun mengambil alih kopernya.
Sehun mengangguk mengulurkan tangannya yang lain pada Yuri. Gadis itu tersipu, menerima uluran tersebut dan menggenggamnya erat. Mereka berjalan menuju mobil Sehun terparkir.
.
.
.
"Menyebalkan."
Sehun mengeluarkan tawa pelan mendengar gerutuan sang gadis. Dia memutar kemudi berbelok ke kanan, menuju apartemennya.
"Kenapa kau tertawa?" Rengek Yuri pelan, kesal mendapat tanggapan seperti itu dari Sehun.
"Kau tidak mau menghabiskan waktu denganku? Kau senang aku pulang dan langsung disibukkan jadwal pemotretan?"
Sehun membawa mobilnya memasuki basement. Memakirnya dekat dengan lift. Dia mematikan mesin lalu menoleh pada Yuri yang sedang merajuk. Bibir gadis itu mengerucut tidak senang. Lucu. Tapi Sehun tidak berkata apa-apa. Dia keluar dari mobil membuka bagasi belakang, mengambil koper Yuri.
"Ayo."
Setelah membukakan Yuri pintu, pria itu langsung berjalan menuju lift. Dibelakang nya Yuri menatap punggung Sehun kecewa. Namun gadis itu tidak menampakkan ekspresi seperti perasaannya semula. Dia tetap melebarkan senyumnya, dengan menja bergelayut di lengan kekasihnya.
"Oh, Unnie?"
Sehun masuk kedalam tidak menghiraukan Jongin yang menatapnya bingung. Dia membiarkan Yuri mengajak Jongin berbicara. Sedangkan dia harus masuk kekamarnya untuk menaruh koper Yuri disana. Yah, seminggu kedepan.. Yuri menginap disini. Entah apa alasan gadis itu tapi dia hanya menurutinya.
Sebenarnya bisa saja dia menyuruh Baekhyun menampung Yuri di apartemennya. Mengingat apartemen Baekhyun bertetangga tak jauh dari miliknya. Tapi setelah dipikir lagi, justru itu pilihan buruk. Dia tak yakin dua kaum hawa itu akur. Baekhyun selalu tempramental.. sedikit mirip dengannya dan Yuri yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Jadi yah..begini.
Lagipula ada Jongin. Gadis itu setidaknya masih bisa diatur. Dia yakin Yuri lebih senang dengan Jongin dibanding Baekhyun. Setiap dia bekerja gadis itu sendirian mengurus rumah, dan tambahan.. Vivi juga hewan peliharaannya yang lain beruntungnya masih di penitipan. Dia bisa mengambilnya kapan-kapan.
"Jongiiiinnn!"
Sehun tersadar dari lamunan, berjalan menuju ruang tengah. Dia melihat raut sesak Jongin dipelukan Yuri. Sempat ingin tertawa, tapi dia hanya tersenyum samar.
"Ah unnie!" Jongin meronta melepaskan diri dari dekapan yuri yang seolah akan meremukan tulangnya. Dia menghela nafas setelahnya, lega saat Yuri melepaskannya.
Yuri tertawa pada wajah lucu Jongin. Menggemaskan. Mata bulat nya seperti sepasang mata kucing, dia berkhayal membayangkan Jongin memang seekor kucing. "Aku merindukanmu. Hihi maafkan aku."
Jongin merengut, "Kita baru bertemu beberapa hari lalu."
"Hehe iya."
Sehun mengambil tempat disamping Yuri, merangkul bahu tan Yuri yang mengintip dibalik sundress yang dikenakannya. Dia menatap Jongin lurus menunggu reaksinya.
"Kau tidak bekerja?"
Sehun menggeleng ditanya Jongin. Gadis itu mengangguk singkat seperti mengakhiri pembicaraan. "Kau sendiri?" Dia bertanya balik.
"Huh?" Sehun berdecak. Kebodohan Jongin mulai kambuh. "Apa kau tidak pergi kemanapun ? bodoh."
Jongin merengut lagi. "Aku tidak bodoh."
"Tidak. Tidak kemanapun." Sambungnya cepat.
Sehun terus melempar pertanyaan singkat pada Jongin. Kadang dijawab ketus juga rengutan darinya. Sementara itu, mereka seperti melupakan kehadiran gadis di tengah mereka. Gadis yang sejak masuk ruangan terus mengulas senyum dan pekikkan senang. Kini ia terdiam menatap secara bergantian dua orang yang disayangnya.
Terkadang dia tersenyum kikuk menanggapi Sehun yang memasukkan namanya pada pembicaraannya dengan Jongin. Dia benar-benar menyimak bagaimana keduanya bertengkar dan saling menyalahkan. Jongin selalu ekspresif meluapkan ucapannya, padahal gadis itu setiap bicara dengannya selalu menjadi sosok introvert. Dia beralih memandangi wajah Sehun.
Dia tersenyum, ketika tahu Sehun tidak mengubah ekspresinya. Pria itu selalu datar. Padanya, Baekhyun atau Jongin..bahkan mungkin keluarga dan orang lain. Tidak berubah, Hatinya memang keras.
"Bar-bar."
"Pak tua!"
"Katakan sekali lagi?"
"Pak tuaa!"
"YA!"
Tapi senyumnya luntur perlahan. Dia terus menatap Sehun dalam diam. Yuri mengigit bibirnya kecil. Dia menyadari satu hal yang berbeda dari Sehun. Perbedaan yang tersembunyi. Menyadari hal itu membuatnya takut. Sangat takut.
'Sehun..'
Gadis itu menunduk, sebelum dia berdiri cepat mengejutkan Sehun dan Jongin. Membuat perdebatan mereka terhenti.
"Apa apa?" Pertanyaan Sehun membuat matanya bergerak liar. Saat bertemu tatap dengan Jongin yang sedang menatapnya bingung, dia langsung mengalihkan pandangan.
"Ti-tidak. Aku ke kamar mandi sebentar." Yuri berjalan cepat meninggalkan ruang tengah setelah mendapat anggukan dari Sehun.
BLAM!
Jongin dan Sehun saling berpandangan mendengar debaman pintu yang ditutup kasar.
"Yuri unnie kenapa?"
"Mana kutahu." Jongin mendengus mendengar jawaban ketus Sehun.
"Dasar."
HUNKAILUV
Menjelang makan malam, Jongin dan Yuri menyibukkan diri di area dapur. Sebenarnya hanya Yuri karena yah.. Jongin tidak bisa memasak. Jadi gadis itu hanya duduk memperhatikan punggung Yuri yang sepertinya sedang merajang.
"Apa yang kau lakukan? Hm?" Tak lama Sehun datang langsung memberi Yuri kecupan di pipi kanan.
Jongin memperhatikan mereka, dia mendengar suara halus Yuri bertanya.
"Ada yang ingin kau makan? Akan ku buatkan nanti."
Sehun mengeratkan pelukannya pada perut langsing Yuri. Kulit mereka bersentuhan secara kontras. "Apapun yang kau masak selalu enak."
Mereka terkekeh bersamaan. Jongin dibelakang mereka hanya memutar bola matanya bosan. Dia beranjak dari sana menuju ruang baca. Di lantai 1.5 , Dia jarang masuk ke ruangan ini. Sebenarnya ruangan ini sering digunakan Sehun sebagai ruang kerja kedua. Jongin ingat berapa lama Sehun menghabiskan waktu didalamnya. Lalu saat larut, Jongin akan menemukan pria itu tertidur dibalik rak paling ujung dengan kacamata dan buku yang menutupi wajahnya.
Jongin menyentuh buku-buku yang tertata rapi di rak. Mereka terawat dengan baik, hampir tak ada sebutir debu pun disini. Jongin mendongak. Di rak paling atas, ditempati piala serta piagam Sehun. Entah didapat kapan, tapi Jongin percaya saja. Dia tahu jika suaminya memang termasuk golongan manusia jenius.
Dia terus berjalan hingga menemui persimpangan lorong kecil, dia berbelok kekiri dan tak menyangka akan menemukan banyak lukisan abstrak didalamnya. Jongin terperangah memuji kumpulan goresan cat disana. Lukisan-lukisan itu didominasi warna hitam dan biru gelap. Banyaknya lukisan yang terpajang tak membuat Jongin tertarik tapi ada satu.. satu bingkai kanvas ditengah ruangan dengan sketsa yang belum diselesaikan.
"Dia melukis?" Jongin mendengus geli menatap lurus kanvas didepannya.
Jongin merendahkan tubuhnya, menyentuh kanvas itu hati-hati takut mengotorinya. Matanya berbinar, menatap sketsa yang terlukis diatasnya. Sketsa dari warna dasar hitam, membentuk siluet seorang perempuan dengan gaun panjang.
"Makan malam sudah siap."
Jongin menegakkan tubuhnya terkejut. Dia dengan cepat berbalik, menemukan Sehun berdiri bersandar pada dinding. Gadis itu menyadari jika Sehun memandanginya tajam.
"Apa?"
"Makan malam sudah siap." Tegas Sehun mengulang ucapannya. Dia bersedekap menatap Jongin datar walau dia bertanya dalam hati kenapa gadis itu masuk ke sini.
"Ah! Makan malam. Tentu, aku kesana." Jongin tergagap seperti orang linglung. Dia menemukan kebiasaan baru saat Sehun bersamanya. Dia tak tahan. Kenapa dengan dirinya?
Jongin berjalan cepat. Bergegas meninggalkan ruangan. Tapi Sehun menangkap tangannya sebelum ia meraih gagang pintu.
Sehun menariknya lebih dekat, membuatnya semakin jelas menatap mata malam Sehun.
"Kenapa kau disini?"
"Tidak, hanya iseng." Jongin melepaskan tangan Sehun namun pria itu menariknya lagi. Dengan terpaksa dia kembali bertukar tatap dengan Sehun.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada apa-apa. Sungguh." Jongin berdiri di sana, satu tangan dalam genggaman Sehun dan yang lain terkulai di sisi badan. "Aku hanya bosan melihat kalian bermesraan. Kalian mengabaikanku dan.."
"Aku mengerti."
Ucapan Jongin terpotong oleh Sehun. Gadis itu semakin linglung melihat senyuman aneh di wajah Sehun. Pria itu terlihat senang membuatnya mengangkat alisnya bingung.
"Kau iri pada Yuri karena kupeluk?"
"Apa? Tidak!" Sanggahnya cepat.
Jongin tak mengira Sehun akan bertanya hal aneh semacam itu padanya. Untuk apa ia merasa cemburu.
"Baiklah." Genggaman ditangannya terlepas. Membuat tangannya jatuh ke sisi tubuhnya yang lain. Dingin. Tidak sehangat sebelumnya.
"Segera turun, dan makan." Sambung Sehun sebelum berbalik keluar. Jongin menatap pintu yang tertutup seperti orang bodoh. Dia terus mengelus permukaan tangan yang tadi digenggam Sehun.
Terkadang hal kecil seperti ini membuat Jongin bingung dan merasa ragu juga bodoh sendiri. Debaran dijantungnya sudah cukup memberikan jawaban, ditambah kebiasaan-kebiasaan aneh yang baru dilakukannya akhir-akhir ini. Bukan hanya ingin mengelak, tapi juga dia menolak kebenaran yang kini berputar putar di benak.
Tidak mungkin.
Jongin tidak ingin terlalu cepat kecewa. Setidaknya dia akan berusaha mengelak. Mustahil untuknya merasakan keganjilan di perasaannya saat melihat Sehun disekitarnya.
'Oh tidak..'
.
.
.
"Hei."
"Ah ya. Maaf membuat mu menunggu."
Jongin menarik kursi kayu dan duduk diatasnya, Yuri tersenyum melihat kedatangan Jongin. Disampingnya Sehun diam saja memperhatikan mereka. Seperti biasa, pasif.
"Tidak apa." Yuri lagi-lagi mengulum senyum, dia menaruh potongan daging di atas piring Jongin. "Makanlah."
"A-a, iya. Terima kasih."
Jongin selalu kaku jika mendapat perhatian dari Yuri. Dia belum terbiasa menerima hal-hal seperti itu dari orang asing. Dia menunduk mengambil sumpit, menyuap nasi dan seiris daging panggang.
Acara makan malam itu berlangsung hening, hanya terdengar suara sendok dan piring. Jelas saja, ini suasana baru untuk Jongin. Gadis itu selama tinggal disini, hampir tidak pernah dia makan malam bersama Sehun. Pria itu sibuk. Pergi pagi, pulang pun tidak tentu.
Jongin telah menghitung hari, pernikahan mereka mendekati bulan ke dua dan ke tiga. Dia tak meyakini ada bulan-bulan selanjutnya, karena dari awal dia tak ingin berharap apa-apa. Sehun mungkin saja masih menyimpan benci padanya. Entah apa kesalahannya, Setiap dia ingin bertanya Sehun terlebih dahulu membuatny ragu mengeluarkan suara.
"Sehuuun? Aku masuk yaa!?"
Tanpa menengok Jongin mengetahui suara siapa yang tiba-tiba berteriak dari luar pintu. Itu Baekhyun. Siapa lagi gadis dengan suara melengking sepertinya. Siapa lagi yang mengetahui password apartemen ini selain dirinya,Sehun dan Yuri. Hm?
Sekilas Jongin melirik Yuri. Dia melihatnya iba, gadis itu terlihat kehilangan nafsu makannya saat Sehun dengan cepat beranjak keluar. Jongin mengelus bahu Yuri, memberinya senyum penyemangat. Tanpa mereka berdua bertanya, mereka tahu jika Sehun meletakkan Baekhyun di prioritas pertama setelah perusahaan dan Vivi.
"Jongin?"
"Hm?"
Yang dipanggil berdehem, dia menoleh melihat Yuri sedang menghembuskan nafas panjang.
"Sepertinya, malam ini aku harus tidur denganmu."
Tidak salah dengar, tapi Jongin masih berkedip bodoh. Tubuhnya kaku macam robot kehilangan baterai. Sedangkan gadis tan lainnya hanya tersenyum tipis seadanya.
Kedatangan Baekhyun membuat mereka mau tak mau makan malam bersama gadis itu. Yuri yang tadinya banyak bicara kini diam saja, seolah ia sedang makan sendiri. Jongin menggeleng pelan memperhatikan nya.
Dasar pria bodoh.
Umpatan itu disimpannya dalam hati, dia tak mungkin mengumpati suaminya didepan dua kekasihnya. Kasian Yuri.
Jongin tanpa sadar menatap tajam Baekhyun yang kini menyuapi Sehun. Dia membuang pandangannya ke piring, menghabiskan sisa lauk disana.
"Aku selesai."
Tiga pasang mata menatap Jongin yang beranjak dari duduknya. Gadis itu pergi membawa piring kotor kedapur. Wajah Jongin terlihat bosan, alisnya menukik .. dia sedang marah pada sesuatu.
"Em, aku juga selesai."
Yuri menyusul Jongin, dia tak mau terjebak dalam udara panas di meja makan. Dia sadar diri jika sedari tadi Baekhyun hanya ingin pamer. Gadis itu menghilang dibalik dinding, dia menghela nafas lega setelah menemukan Jongin berdiri di depan wastafel.
"Jongin?"
Gadis itu menengok, mengibaskan tangannya dari air yang menempel di kulit. Dia menyahut sambil men-lap tangannya pada handuk kecil di dinding.
"Aku takut.." Yuri memainkan jari, kepalanya tertunduk.
Jongin mengigit bibir bawahnya, "Takut pada apa, Eon?" Dia berusaha melembutkan suaranya.
"Aku takut.." ulang Yuri semakin pelan.
Jongin memeluknya, tak membiarkan perempuan yang lebih tua meneteskan cairan dari matanya. Dia tak mau melihat seorang seperti Yuri menangis. Yuri, teman baru nya. Dia sangat manis dan suka tertawa, gadis kuat juga tak pernah mengeluh.
"Itu hanya Baekhyun.."gumam Jongin seadanya. Dia bukan orang yang bisa menghibur orang lain. Tidak seperti Chanyeol, yang tanpa berbicara..pria itu pasti berhasil membawa suasana menjadi menyenangkan. Ah, apa dia harus menelfon pria itu? Menyuruhnya datang dalam 5 detik?
"Maaf.. aku tidak bisa menghiburmu." Yuri menggeleng.
"Ini sudah cukup. Maaf juga, menyusahkanmu. Hehe"
Jongin ikut tersenyum memandang raut lelah Yuri, gadis itu belum mau menyerah bukan? Buktinya ia tersenyum lebar sekarang. Walau dipipinya ada bekas usapan airmata. Hah, sebenarnya Jongin sangat iri padanya.
"Kau baik-baik saja?"
Yuri mengangguk, "Terima kasih." Lagi-lagi gadis itu tersenyum. Seolah beberapa detik yang lalu dia bukan gadis yang menangis di bahu Jongin.
Dan itu juga membuat Jongin iri.
Mungkin Sehun hanya pria tidak berperasaan dan egois, tidak dapat ditebak kadang menyebalkan. Pria itu .. bagaimana bisa bersikap seperti itu pada Yuri?
Jongin menatap Yuri yang sedang mencuci piring diam-diam. Mungkin alasan kenapa ia tidak bisa menghibur Yuri karena dia tidak pernah mengalami dan apa yang dirasakan Yuri. Dia tidak mengerti.
Sehun selalu membawa tanda tanya. Jongin menyadarinya hari ini. Pria itu membuatnya bingung. Selalu ada pertanyaan yang hadir di benaknya setiap waktu.
Kenapa Sehun membencinya, alasan pria itu sering berubah sikap, alasan kenapa pria itu mempermainkannya, kenapa dengan ciuman mereka.. dan Sekarang, Jongin memiliki satu tanya baru.
"Yuri?" Jongin memanggil tanpa embel-embel unnie. Yuri berbalik dengan senyuman seperti biasa namun senyumnya tak bertahan lama setelah dia mendengar perkataan Jongin.
"Kenapa kau setuju Sehun memiliki kekasih lain?"
.
.
.
"Sehun!"
"Ah, ya?" Sehun tersentak mendengar pekikan nyaring Baekhyun, dia menoleh. mendapati ekspresi jengkel kekasihnya.
Baekhyun mendengus, "Kau terus menatap dapur. Kau mengacuhkanku. Oh-Se-Hun."
Sehun tertawa pelan, dia membawa tangannya mengelus rambut Baekhyun. Dia akui sempat aneh melihat sikap Jongin disusul Yuri yang aneh sejak Baekhyun datang kemari. Biasanya, Yuri tak masalah mereka makan malam bersama dengan Baekhyun. Entahlah.. Mungkin itu sikap wanita. Dia tak terlalu perduli.
"Maaf. jangan marah okay?"
Sehun menarik dagu Baekhyun agar menatapnya, dia tahu jika kekasihnya ini sedang berpura-pura marah. Hm, Dasar. "I said sorry..?"
Baekhyun menarik senyum sedikit menggoda Sehun, sudah lama sejak pria ini menikah dengan Kim-menyebalkan-Jongin Mereka hampir tidak memiliki waktu berkencan. Tidak sebebas dulu, saat Sehun belum menikah dan terikat dengan keluarga Jongin. Lalu, Yuri. Ck, Gadis itu hanya beruntung. Model sekaligus tour guide itu ada di Thailand. Pasti gadis hitam itu mencuri waktu berduaan dengan Sehun disana, atau bisa saja justru Jongin yang menggoda Sehun? Jika benar. Awas mereka.
"See? I'm not getting angry so easy. baby." Baekhyun mengecup bibir tipis Sehun, membuat pria itu tanpa menunggu detik menahan kepala gadis itu sebelum menjauh.
Sehun memberikan ciuman basah pada Baekhyun untuk beberapa menit. Dia menyeringai tipis melihat raut terengah kekasih sekaligus sekertarisnya.
"Ash, Sehun!"
Pria itu kembali terkekeh," Okay-okay. Sorry. again?" Baekhyun tersenyum lalu mengangguk. " maaf diterima."
.
.
.
RnR?
.
.
.
TBC
Balik. Hehehe. Aku kok gk mood ya ngetik ff kaibott. :/ rasanya ada yg ilang setelah tau jongin dpt kiss scene. Lebih patah lagi pas BocahLanang update status tentang ChanHun. :(( saya dilema xD
Maaf lama. Maaf juga kalau banyak typo atau EYD nya yg salah. Saya masih pelajar sudah tentu harus lebih belajar.^^
Thanks buat readers sekalian reviews nya. Maaf saya gk bisa nyebut satu persatu.
LV/3
