.
.
.
A HEART FOR LOVE
The Character is belong to Masashi Kimoto-san
Story by
7 Gold
Warning: AU, AT, Typo, OOC, Alur gaje, Cerita se-mau-gue!
Happy Reading!
.
.
.
11! THAT`S TRAP!
Sakura masih diam terpaku. Pandangannya kosong, wajahnya pucat dan kusut. Dia bingung harus menghadapi hal ini dengan cara apa. Tenten yang sedari tadi duduk dihadapan gadis itupun tak kalah cemas.
Bagaimana tidak? Sejak dia membawa Sakura masuk kedalam, gadis itu tetap saja diam seribu bahasa. Tenten sudah mencoba untuk membujuknya menceritakan apa yang terjadi sebelumnya, tapi gadis itu tidak memberikan respon apapun.
"Tenten-chan..." panggil Sakura setelah lama berkutat dengan fikirannya sendiri
"Ada apa, Sacchan?" tanya Tenten, kecemasan sangat terlihat jelas diparas manisnya
"Tolong... Tinggalkan aku sendiri. Lagipula sekarang sudah pukul 01.00, aku tidak ingin kau jatuh sakit karna kurang istirahat" lanjut gadis itu dengan senyum lemahnya
"Tidak, Sacchan. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini!" sahut gadis itu dengan tegas
"Tapi kau harus, lagipula aku juga ingin beristirahat, kumohon" pinta gadis itu dengan nada putus asa
"Baiklah kalau begitu, tapi kau harus segera memanggilku jika terjadi sesuatu. Kau mengerti kan?" peringat gadis itu
"Hn. Terimakasih" sahutnya kemudian membaringkan tubuhnya
~OoOoO~
Satu jam sudah berlalu semenjak Tenten keluar dari kamarnya. Dan selama itupula pikirannya sangat tidak tenang, bayang-bayang wajah Sasuke terus saja bergelayut dalam fikirannya.
Sebelumnya Sakura berniat untuk menceritakan dan meminta solusi pada Neji, Shikamaru, Naruto, Hinata, Ino dan Tenten saat mereka pulang besok, tapi lagi-lagi perkataan wanita itu juga terus berputar dalam kepalanya. Membuatnya kembali bimbang.
'apa yang harus aku lakukan?' batin gadis itu
Waktu terus berjalan dan Sakura semakin gelisah. Tidak tahan dengan keadaan itu, akhirnya Sakura bangun dari tidurnya dan mendudukkan diri ditepi ranjang.
Tepat ketika itu sebuah benda jatuh dari dalam saku celananya, Sakura berjalan untuk memungut benda itu dan sedetik kemudian dia menemukan sebuah rencana untuk menyelamatkan Sasuke walaupun nyawanya menjadi taruhan.
Dengan gesit Sakura memasukkan segala keperluannya kedalam tas ransel miliknya. Tak lupa pula tingkat sihir yang diberikan oleh 7 Guardians Angel.
Setelah selesai berkemas dan mengecek ulang barang bawaannya, gadis itu segera mengucapkan sebuah mantra sihir yang membawanya pada hutan yang ada didekat Istana.
Kemudian Sakura menyayat ujung jarinya dengn pisau lipat dan menggoreskan sedikit darahnya pada benda yang tadi ditemukannya –bola kaca yang diberikan oleh Gaara dan tanpa berlama-lama lagi gadis itupun menginjak bola rapuh itu.
Sakura heran karna tidak ada yang terjadi setelah dia menginjakkan bola kaca itu.
"Apakah pesan itu gagal tersampaikan?" gumam Sakura, wajahnya menunduk menatap serpihan bola kaca yang baru saja diinjaknya
"Jadi? Apa rencanamu, hime?" suara seseorang berhasil membuat Sakura terlonjak kaget dan membalikkan tubuhnya kebelakang
"Gaara?! Kau datang!" pekik Sakura kemudian berhambur memeluk pemuda itu dan dibalas dengan pelukan erat
"Tentu saja. Aku sudah berjanji untuk datangkan" sahutnya dengan senyuman lembut yang terpahat diwajahnya
"Jadi? Dimana bala bantuan itu?" tanya Gaara, dia tampak mencari-cari sesuatu
"Tidak ada. Hanya... Aku" Mata Gaara terbelalak ngeri
"Apa maksudmu, hime?" tanya Gaara, wajahnya menyiratkan kegusaran yang sangat besar
"Aku tau kau mengerti apa maksudku" sahut Sakura
"Tidak Sakura! Kita tidak bisa melawannya tanpa bala bantuan" bentak Gaara, matanya masih terbelalak ngeri
"Tapi aku harus Gaara! Aku harus me–" Sakura tercekat, kata-katanya seperti tertahan ditenggorokan, membuat Gaara menghela nafas frustasi
"A-Aku harus membunuhnya dan menyelamatkan kerajaanku!" dusta gadis itu
"Maaf, hime" ucap Gaara tiba-tiba, membuat Sakura mendongakkan kepalanya untuk menatap iris jade yang sangat tajam itu.
Sedetik kemudian pandangannya menggelap dengan rasa nyeri yang menghadang kepalanya. Perlahan tapi pasti tubuhnya merosot ketanah. Dia pingsan.
~OoOoO~
"APAAA?!" teriakkan nyaring yang berasal dari 10 pemuda dan 3 gadis itu menggema diseluruh penjuru rumah sederhana.
"BAGAIMANA BISA?!" Teriak salah seorang pemuda dengan rambut berwarna merah, mata hazelnya menatap nanar seorang gadis bercepol dua yang sedang duduk disofa, matanya bengkak karna terus saja menangis sejak pagi
"A-aku tidak tau. Ta-tadi pagi ketika a-aku ingin memba-ngunkan Sacchan. D-dia su-sudah tidak a-da dikamarnya" isak gadis itu
"Apakah dia bertemu dengan seseorang selama kita pergi?" tanya seorang pria yang memiliki wajah tampan seperti Sasuke –dia adalah Itachi
"A-Aku tidak tau. T-tapi ya-yang aku tau, dia sempat histeris semalam. D-dan terus saja menyebutkan nama Sasuke" sahut gadis itu
Saat ini akatsuki sudah sampai dirumah sederhana itu. Mereka datang bersama dengan Neji dan yang lainnya. Semua yang ada diruangan itu sangat panik dan cemas ketika mengetahui bahwa putri dari kerajaan Haruno menghilang entah kemana.
"Sasuke? Ada apa deng–" ucapan Itachi terpotong oleh suara ketukan pintu
"Permisi" ucap seseorang dari arah pintu membuat semua perhatian teralih kearah sosok itu dan mata mereka terbelalak ketika melihat siapa yang dibawanya
"Sepertinya kalian kehilangan seseorang" lanjut pemuda itu
"SAKURAA!" pekik pemuda berambut merah, kakinya berlari menghampiri Sakura yang masih berada didalam gendongan Gaara –sosok tadi
"Bagaimana dia bisa ada bersamamu?! Apa yang kau lakukan padanya, brengsek!" bentak Sasori ketika dia sudah berhasil memindahkan tubuh Sakura ke kamarnya
"Hhh~ dia datang padaku pada pagi buta tadi" helaan nafas terdengar dari mulut pemuda itu
"Dan untuk apa dia mendatangimu?! Kalau dia sendiri tau bahwa kau adalah kaki tangan sang ratu?!" nada ancaman dilontarkan oleh pemuda itu
"Kau tau alasan mengapa aku melakukan itu, Sasori!" bentak Gaara, merasa jengah karna Sasori terus saja melontarkan nada tinggi padanya
"Cih, aku tidak akan percaya padamu! Mengingat Sakura terkurung dalam penjara bawah tanah ketika aku mempercayaimu saat itu!" sahutnya tajam
"Tapi sepertinya kau harus percaya padaku, pangeran" ucapan Gaara membuat semua orang yang baru saja keluar dari kamar Sakura –minus Ino, Tenten, Hinata dan Sakura yang masih tidak sadarkan diri
"Apa maksudmu?!" tanya Sasori masih dengan nada tajam
"Karna kau membutuhkan bantuanku agar bisa menyusup kedalam istana itu, untuk menyelamatkan Uchiha Sasuke yang sedang menjadi tawanan sang ratu" desisnya membuat Itachi beraksi
"APA?!" pekik Itachi, sorot amarah tidak terelakkan dari matanya yang berubah-ubah dari hitam ke merah, begitupula selanjutnya
"Tenanglah, Uchiha. Kalau kau ingin adikmu selamat, kau harus segera mengambil tindakan" sahut Gaara dengan santainya
"Baiklah, kita mempercayaimu dalam hal penyusupan ini" dan ucapan Itachi sukses membuat Sasori merasa tertohok
"Itachi?! Apa maksudmu? Dia adalah kaki tangan sang ratu!" sela Sasori, merasa tidak terima dengan keputusan rekannya itu
"Aku tidak punya pilihan, Sasori! Lagipula sang ratu harus segara dimusnahkan! Waktu kita tidak banyak!" sahut Itachi dengan tegas
"Baiklah!" akhirnya Sasori memilih untuk menyerah
"Tapi kita tidak akan melibatkan Sakura-hime dalam misi ini, karna dia adalah target sang ratu" lanjut Itachi yang langsung mendapat anggukan setuju dari yang lainnya
"Dan untuk berjaga-jaga aku akan menugaskan Tenten, Ino dan Hinata disini untuk menjaganya" ucap Neji
"Bagaimana dengan pendamping lelaki? Apakah kau yakin gadis-gadis itu cukup untuk menjaga adikku?" tanya Sasori sedikit khawatir
"Jangan khawatir pangeran. Kami akan menjaga Sacchan dengan baik. Lagipula aku sendiri masih bisa menghabisimu dengan tangan kosong" sahut Ino dengan sarkastik membuat Neji dan Shikamaru sweatdrop
"Gaara, sekarang jelaskan mengenai sistem keamanan dari istana itu" perintah Itachi
"Ada 4 penjaga yang ditaruh di depan gerbang utama, 4 penjaga di pintu utama, lalu ada 2 orang penjaga yang selalu berpatroli setiap 5 jam sekali. Ada puluhan penjaga yang diletakkan dilantai teratas istana itu, tugas mereka adalah membidik penyusup dengan panah yang mereka miliki.
Lalu kalian juga mungkin akan dihadang puluhan penjaga setelah kalian masuk kedalam gerbang itu. Sementara ruangan sang ratu dijaga oleh 4 orang penjaga, ruangan sang ratu berada dilantai ke dua tapi aku tidak tau pasti dimana letak ruangan itu.
Disetiap lantai selalu ada puluhan penjaga yang berlalu lalang, jadi kalian harus ekstra hati-hati. Jika kalian sudah masuk kedalam istana dan akan berpapasan dengan para penjaga itu, aku sarankan agar kalian bersembunyi. Satu hal lain yang perlu kalian waspadai adalah dua ekor monster yang menyerupai anjing dan berkeliaran disekitar istana. Hanya itu yang aku tau." Jelas Gaara
"Baiklah, aku ada rencana. Rencana ini tidak jauh berbeda dengan rencana kita sebelumnya" sambung Itachi
"Hidan, Kakuzu dan Pein akan masuk terlebih dahulu melalui jalan tikus yang sudah kita ketahui sebelumnya, untuk melumpuhkan penjaga yang berada di depan gerbang, lalu membukakan gerbang itu agar yang lainnya bisa masuk.
Setelah itu kalian juga akan membereskan penjaga yang ada di pintu utama. Kemudian Sai, Deidara dan Konan akan mengurus penjaga yang berada dilantai teratas.
Kemudian Gaara, kau akan memandu kami menuju ruangan tempat sang ratu berada." Intruksi Itachi yang langsung disambut dengan anggukan mantap dari mereka semua
"Bagaimana dengan kedua anjing sialan itu?" tanya Hidan dengan santai
"Anjing-anjing itu biar aku dan Shikamaru yang menanganinya" sahut Neji
"Baiklah! Sebaiknya sekarang kita menyiapkan peralatan kita" perintah Itachi yang direspon dengan pembubaran mereka
~OoOoO~
"Akhirnya, sebentar lagi kekuatan abadi itu akan menjadi milikku" senyuman bak iblis terlihat jelas diparas cantiknya,
Mata hijau emeraldnya menatap penuh nafsu sosok pemuda yang terkurung dalam penjara mantra miliknya.
"Kisame! Sebentar lagi tamu kita akan datang! Segera siapkan sambutan yang meriah untuk mereka" perintahnya dengan nada sarkastik, membuat lelaki yang memiliki wajah menyerupai ikan hiu itu menyeringai.
"Jangan lupa untuk memberikan kejutan yang menarik untuk mereka" lanjutnya
"Dengan senang hati, yang mulia" sahutnya kemudian membungkuk penuh hormat
~OoOoO~
"Sabaku Gaara" ucap Shikamaru yang lebih menjurus pada sebuah gumaman yang masih bisa terdengar oleh sang empunya nama,
Saat ini mereka sedang ada digudang mempersiapkan berbagai macam senjata yang dibutuhkan untuk melawan sang ratu. Gaara tidak menyahut, tidak pula melirik sosok pemuda yang berdiri menyender dipintu gudang.
"Aku tidak menyangka kalau kau sekarang menjadi kaki tangan sang ratu" lanjut pemuda Nara itu
"Dan aku juga tidak menyangka kalau kau masih hidup sekarang" sahut pemuda itu dengan datar, tangannya masih sibuk mengambil dan membenahi beberapa senjata
"Maaf karna sudah membuatmu kecewa, Sabaku" ucap Shikamaru sarkastik
"Maaf, eh? Hahahahahaha" tawa pemuda itu menggelegar digudang yang tidak terlalu luas, membuat Shikamaru mengernyitkan alisnya
"Harusnya kau meminta maaf pada kakakku, brengsek!" ucapnya tajam, tawa menggelegar yang baru saja diciptakannya hilang menguar keudara. Posisinya masih sama –berdiri membelakangi Shikamaru– membuat pemuda itu tidak tau pasti bagaimana ekspresi wajah pemuda Sabaku dihadapannya
"Tidak usah membawa-bawa orang yang sudah tenang dialam sana, Sialan!" geram Shikamaru
"Cih! Jangan sok tau kau, brengsek!" mata jade milik Gaara kini menatap tajam Shikamaru, kemudian kaki jenjangnya melangkah meninggalkan pemuda yang masih berdiri menahan amarahnya itu
"Satu hal yang perlu kau tau! Kakakku, Sabaku Temari masih hidup dan bernafas" ucapnya sembari berjalan menjauh dari Shikamaru yang membeku mendengar ucapan dari putra bungsu keluarga Sabaku itu
"I..Itu ti-tidak mungkin.." ucap Shikamaru, nadanya terdengar bergetar. Membuat Gaara menghentikan langkahnya yang belum terlalu jauh dari Shikamaru.
"Apanya yang tidak mungkin? Semuanya mungkin terjadi" sahutnya santai tanpa membalikkan badan untuk menatap wajah Shikamaru yang memucat
"Tapi bagaimana bisa?! Aku melihatnya! Aku melihat jasadnya yang terbakar!" wajah pemuda itu tertunduk, lututnya terasa lemas
"Bagaimana kau bisa yakin kalau jasad yang sudah terbakar itu adalah kakakku?" tanya Gaara datar
"Karna jasad itu memakai kalung yang aku berikan pada Temari!" pekik Shikamaru, berusaha bertahan untuk tetap berdiri diantara kedua lututnya yang semakin lemas
"Bukti seperti itu tidak bisa menunjukkan kalau jasad yang kau temukan adalah Temari nee" sahut Gaara datar
"Ceritakan padaku! Apa yang terjadi sebenarnya!" bentak Shikamaru, nadanya terdengar putus asa
"Menceritakannya padamu, eh? Untuk apa aku menceritakan kisah memilukan itu pada seorang pemuda yang berstatus sebagai 'Tunangan' dari Sabaku Temari tapi pemuda itu sendiri tidak bisa melakukan apapun saat 'Tunangan'nya dalam bahaya. Cih! Bodoh! Jangan membuatku tertawa, brengsek!" kemudian Gaara kembali mengayunkan kaki jenjangnya meninggalkan Shikamaru yang jatuh terduduk dengan kedua tangan yang mencengkram kuat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut
.
.
.
Ditempat lain seorang gadis yang melihat percakapan antara kedua pemuda itu hanya tersenyum pilu.
"Jadi kau tidak bisa melupakannya ya, Shikamaru?" gumamnya lirih, wajahnya terlihat sendu dan terus saja menundukkan kepala tanpa melihat apa yang ada dihadapannya
BRUUK
"Eh? Ma-maaf! A-aku tidak sengaja" ucapnya kelabakan ketika wajah pemuda yang baru saja ditabraknya
"Daijobou.. Eto.. Ino" sahut pemuda itu kemudian memberikan sebuah senyuman pada Ino
"Kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu ketika menyadari wajah sendu gadis dihadapannya
"Kenapa kau menanyakan itu, Sai? Tentu saja aku baik-baik saja" sahutnya dengan sebuah senyuman manis. Tapi siapapun pasti menyadarinya, senyuman itu adalah senyuman keterpaksaan
"Kau mencintai pemuda itu ya?" tanya Sai, matanya menatap keluar jendela dan jatuh pada sosok Shikamaru yang masih bertahan pada posisinya
"K-kau ini bicara apa, Sai?" elak gadis itu
"Kalau bukan karna pemuda itu yang ternyata masih mencintai 'Tunangan'nya yang masih hidup, lantas apa yang membuat perasaan sendu itu terlihat jelas diwajahmu, Ino?" jelas pemuda itu, mata onyx yang serupa milik Sasuke menatap penuh intimidasi pada Ino. Membuat gadis itu terus saja menghindari tatapannya.
"A-Aku sebaiknya melihat keadaan Sakura" kakinya berjalan menjauh dari Sai, namun belum sempat melangkah lebih jauh. Tubuhnya terasa seperti menghantam sesuatu, dan sesaat kemudian dia merasa ada dua lengan kokoh yang merengkuh tubuhnya. Mengantarkan suhu hangat yang sangat dibutuhkan gadis itu saat ini.
"Menangislah. Kau membutuhkannya" bisik Sai, kedua lengannya semakin memeluk erat tubuh Ino yang mulai terisak
~OoOoO~
"Bagaimana dengan semua persiapan kita, Pein?" tanya Itachi, saat ini mereka sedang mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan
"Sudah lengkap Itachi!" sahut pemuda itu
"Bagaimana dengan bom asap milikmu, Konan?" pandangannya beralih pada wanita berambut ungu yang sedang duduk tidak jauh dari posisi Pein
"Beres!" sahutnya dengan senyuman bangga
Hari sudah menjelang sore dan sebentar lagi akan menjadi malam. Waktu penyeranganpun akan segera dimulai, namun Sakura belum juga sadar. Membuat rasa cemas Sasori semakin besar.
"Jangan khawatir, pangeran" ucapan lembut seorang gadis yang berasal dari ambang pintu sukses membuat Sasori menoleh
"Hyuuga Hinata, benar?" tanya pemuda itu, mata hazelnya menatap lelah kearah Hinata yang berjalan mendekat kearah ranjang tempat Sakura terbaring
"Takdir sangat tidak adil" keluh pemuda itu membuat Hinata yang sudah mendudukkan diri dikursi dekat ranjangnya menoleh
"Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya, sekarang aku harus melihat keadaanya yang sangat lemah seperti ini." Lanjut pemuda itu, mata hazelnya menatap penuh sayang gadis Haruno yang masih tidak sadarkan diri
"Aku tidak menyangka kalau semua ini akan berakhir dengan tragis seperti ini. Kenapa dia harus mengalami nasib seperti ini? Setelah sekian lama dia terkurung dalam penjara bawah tanah dan dalam sebuah ketakutan juga kesepian yang besar" Sasori masih saja mengeluarkan kata-kata yang mengganjal hatinya
"Sacchan adalah gadis yang kuat dan tangguh. Dia pasti akan mengejekmu jika kau menunjukkan ekspresi seperti itu dihadapannya" kekeh Hinata berusaha mencairkan suasana hati pemuda yang masih bergelut dalam kesedihannya itu
"Yaa, kau benar! Adikku adalah seorang gadis yang kuat" sahutnya sembari ikut terkekeh
"Nee, Hinata" panggilnya, membuat Hinata yang semula menatap wajah Sakura kini beralih menatap pemuda bermata hazel itu
"Tolong, Jagalah adikku" lanjutnya yang langsung disambut dengan senyuman lembut dan anggukan mantap dari Hinata
~OoOoO~
Sekelompok orang berjubah hitam dengan lambang awan merah itu sudah berdiri dipinggiran hutan dekat istana. Mereka menunggu dengan tidak sabaran rekan mereka yang sedang berusaha untuk menyusup dan membuka gerbang utama. Tak berapa lama akhirnya signal dari rekan mereka muncul, membuat sekelompok orang itu memulai pergerakan mereka.
Sinar bulan adalah satu-satunya penerangan mereka saat ini. Setelah berhasil masuk kedalam istana itu, beberapa anggota kelompok lain mulai menjalankan perannya. Tidak butuh waktu lama untuk melumpuhkan para penjaga itu.
Itachi yang saat ini sedang berlari dibelakang Gaara merasakan adanya kejanggalan pada suasana di Istana itu. Suasana di istana ini terlalu sepi, membuat rasa waspada pemuda itu meningkat, hal serupa disadari juga oleh Sasori yang berlari dibelakangnya.
"Itachi.." panggil Sasori yang lebih kepada bisikan
"Aku tahu" sahut Itachi
"Berhenti" perintah Gaara, membuat kedua pemuda yang ada dibelakangnya menghentikan pergerakan "Ada yang datang" ucapnya kemudian
"Ayo sembunyi diruangan itu!" perintah Gaara, kemudian kakinya melangkah menuju sebuah ruangan berpintu ganda yang memiliki tinggi 100 meter,
"Kenapa kita harus sembunyi? Kita bisa melawan mereka!" bantah Sasori yang masih berdiri ditempatnya
"Kalau kau melakukan itu dan gagal disini, maka semua usaha teman-temanmu akan sia-sia!" bentak Gaara
"Gaara benar! Sebaiknya kita bersembunyi untuk sementara waktu" dan setelah Itachi mengucapkan hal itu akhirnya Sasori menyerah dan ikut masuk kedalam ruangan yang sudah ditujukan oleh Gaara
Ruangan besar itu sangat gelap, tidak ada penerangan apapun selain cahaya bulan purnama yang saat ini sedang tertutup oleh awan. Itachi dan Sasori yang masih berdiri dibalik pintu berusaha untuk memantau keadaan diluar, tanpa menyadari bahwa kehadiran Gaara sudah tidak ada didekat mereka.
"Akhirnya kalian datang juga" suara itu sukses membuat tubuh Itachi yang masih berdiri dibalik pintu menegang, dengan perlahan kedua pemuda itu memutar kepala mereka untuk memastikan siapa pemilik suara yang mereka dengar barusan.
Kegelapan seperti ini sangat tidak membantu mereka melihat dengan jelas siapa yang ada disana, namun suara tadi. Mereka sangat yakin siapa pemilik suara tadi.
Tubuh mereka semakin menegang ketika cahaya bulan sudah kembali menembus ruangan yang gelap itu, membuat sosok yang ada disana semakin terlihat dengan jelas.
~OoOoO~
"Engh~" erangan tertahan berhasil mengambil alih perhatian Ino yang sedang meletakkan sebuah gelas dimeja dekat ranjang yang ditiduri oleh Sakura
"Sakura?" panggil gadis itu ketika melihat emerald hijau dan menyejukkan milik Sakura terbuka
"Dimana aku?" tanya gadis itu berusaha untuk mengubah posisinya menjadi duduk, namun gagal karna rasa nyeri hebat yang menghantam kepalanya, membuatnya meringis dan kembali ke posisi awal
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino ketika melihat raut wajah Sakura seperti menahan sakit
"Hmm... yaa, kurasa" jawabnya dengan lirih
"Sebaiknya kau istirahat sekarang, kondisimu sangat lemah" saran Ino yang dijawab dengan anggukan lemah dari Sakura
Sakura bangkit dari tidurnya walaupun baru beberapa saat gadis itu memejamkan mata. Matanya memandang nanar ruangan disekitarnya, membuat Ino yang masih berada disamping gadis itu mengernyitkan alisnya.
"Ada apa, Sakura?" tanya Ino cemas
"Bagaimana aku bisa ada disini, Ino? Dimana Gaara? Aku harus pergi!" ucapnya terselip nada frustasi dalam kalimatnya, namun sebelum gadis itu berhasil bangkit dari ranjangnya tangan Ino sudah terlebih dahulu menahan pergerakan gadis itu
"Tenanglah Sakura" sahut Ino
"Aku tidak bisa Ino! Aku harus pergi! Aku harus menyelamatkan Sasuke-kun!" bentak gadis itu berusaha untuk lepas dari kekangan kuat tangan ino
"Sakura! Tenanglah!" bentak Ino tak kalah keras, membuat Sakura terlonjak kaget. Hinata dan Tenten yang mendengar bentakan keras dari Ino langsung berlari menuju sumber suara
"Tidak Ino, mengertilah! Kalian tidak bisa melawan sang ratu! Kalau kalian melakukan hal itu maka nyawa Sasuke-kun yang akan jadi taruhannya!" sahut Sakura putus asa, air mata sudah mengalir diwajahnya
"Tenanglah Sacchan, Mereka bersama dengan Gaara sedang berusaha untuk menghancurkan sang ratu" Tenten mendekat kearah ranjang Sakura
"Ga-Gaara?" tanya gadis itu, wajahnya tiba-tiba saja memucat
"Ada apa Sacchan? Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Hinata cemas
"Si-Siapa yang memberitahu kalian bahwa Sasuke-kun dalam bahaya?" tanya Sakura
"Tentu saja Gaara. Tadi pagi dia datang kesini sambil membawa dirimu yang tidak sadarkan diri. Lalu dia bilang kalau Sasuke sedang menjadi tawanan sang ratu. Dan dia juga berniat untuk membantu Neji dan yang lainnya untuk menyusup kedalam istana" penjelasan Tenten semakin membuat wajah Sakura memucat
"I-Ini jebakan" sahut gadis itu, matanya memandang nanar Ino yang berada dihadapannya
"Apa maksudmu, Sacchan?" tanya Hinata, wajahnya berubah menjadi sangat gelisah
"Aku tidak pernah memberitahukan pada Gaara kalau Sasuke-kun berada dalam bahaya" sahut Sakura,
"A-Apa?!" pekik Hinata tidak percaya
"Ino, kumohon! Aku harus pergi! Aku harus menyelamatkan Sasuke-kun!" pinta Sakura pada Ino yang masih menahan kedua tangan gadis itu
Sementara Sakura terus merengek pada Ino, gadis itu malah diam membisu ditempatnya. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan kedua gadis yang ada diruangan itu
"Ino! Mengertilah! Sasuke-kun dalam bahaya! Dan hanya aku yang bisa menyelamatkannya! Kumohon! Biarkan aku pergi, Inooo!" Sakura berusaha melepaskan cengkraman tangan Ino
"Aku akan membiarkanmu pergi, Sakura" ucapan Ino berhasil membuat Sakura tersenyum senang, berbeda dengan kedua temannya yang menatap terkejut kearahnya
"Tapi Ino, Neji bilang–"
"Dan kita akan ikut bersamamu" potong Ino, membuat ketiga gadis itu terkejut
"Tidak Ino! Ini terlalu berbaha–"
"TADAIMAAAA!" pekikkan nyaring itu sukses memotong kalimat yang akan dilontarkan Sakura dan juga berhasil membuat keempat gadis itu saling memandang
"Itu seperti suara Naruto" gumam Tenten, kemudian beranjak dari kamar Sakura untuk memastikan dugaannya
"Naruto?" panggil Tenten ketika dia melihat pemuda blonde spike itu berdiri diambang pintu
"Tenten-chan? Dimana yang lain?" tanya Naruto dengan cengiran lebar khas miliknya
"Darimana saja kau? Tiba-tiba menghilang saat kita sudah sampai di kota!" omel Tenten
"Hehe go-gomen, Tenten. Eto.. aku tadi menjemput beberapa orang yang akan memban–"
"Naruto?" panggilan dari Sakura berhasil memotong ucapan Naruto dan merebut perhatian kedua remaja itu
"Sakura-chan? Ada apa?" tanya Naruto cemas ketika melihat wajah gadis Haruno itu sedikit pucat
"Kau harus membantuku! Sasuke! Sasuke dalam bahaya!" pekik Sakura, tangannya mencengkram erat baju yang dikenakan pemuda itu
"Whoaa.. santailah Sacchan. Ada apa denganmu? Dan ada apa dengan si Teme?" tanya Naruto bingung
"Sasuke sudah menjadi tawanan sang ratu sekarang" jelas Ino membuat Naruto merasa tertohok
"A-Apaa?! Bagaimana bisa?" tanya Naruto, wajahnya menyiratkan bahwa dia sangat terkejut
"Aku juga tidak tau, tapi yang pasti Sasuke akan semakin dalam bahaya jika aku tidak datang ke istana pada pukul 12 malam nanti" jelas Sakura
"Hei, Sacchan. Kau tidak mengatakan hal itu tadi" protes Tenten
"Tidak ada waktu lagi, minna-san! Kalau sasuke dalam bahaya berarti yang lainnya juga dalam bahaya!" sela Hinata, matanya melirik sebuah jam yang tergantung ditembok yang ada didepannya. Jarum jam itu menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 7 malam.
"Yang lainnya?" tanya Naruto bingung
"Akatsuki" jelas Ino
"Akatsuki?" Sakura mengulang kata yang diucapkan oleh Ino
"Mereka adalah sebuah organisasi yang terdiri dari orang-orang kuat, Sacchan. Dan kakakmu ternyata anggota dari organisasi itu" jelas Tenten, membuat Sakura terpaku ditempatnya
"Sasori nii?" lirih gadis itu
"Yaa, Sacchan. Sasori. Haruno Sasori. Dan dia sempat ada disini ketika kau tidak sadarkan diri tadi" jawab Hinata
"Baiklah, minna-san! Sebaiknya kita bersiap sekarang, karna waktu kita tidak banyak!" sela Tenten yang berhasil membuyarkan lamunan Sakura
"Tapi kita akan butuh bala bantuan untuk melawan wanita iblis itu" sambung Naruto
"Dimana kita akan mendapatkan bala bantuan pada waktu yang mepet seperti ini, baka!" ketus Ino
"Tenanglah, Ino. Hal itu sudah aku tangani, sekarang bersiaplah! Karna sebentar lagi 'Mereka' akan datang" Seringai khas pemuda itupun terpahat diwajahnya
.
.
.
TBC
.
.
.
Area Author:
Hallo minna-saaaan! Apa kabaaar? Semoga sehat semua yaaa!
Hufft! Akhirnya Gold bisa update jugaaaa! Hmm, gomen yaa minna-san karna kali ini Gold terlambat buat update lanjutan ceritanya :(
Sebenernya Gold juga udah gasabar buat update kilat, tapi berhubung kemarin Gold ada acara wisuda dan beberapa urusan untuk masuk kuliah jadilah fanfic ini terbengkalai :( Sekali lagi gomen yaaa!
Dan buat FiaaATiasrizqi , Tenang ajaa yaa, aku gaada niat buat bikin Sakura-chan terus-terusan terlihat lemah ko :)
Oke deh, gimana dengan lanjutan cerita yang ini? Jangan lupa review yaaaa :)
