Chapter XI : Edge of Reality

Alam semesta ini membencinya. Haechan membatin getir setelah dua minggu ia dan Mark memerlakukan satu sama lain seperti alien. Asing. Seolah mereka baru bertemu kemarin sore bukannya sepuluh bulan yang lalu. Ia berpikir dosa apa yang ia lakukan di kehidupan lampau hingga nasibnya buruk begini.

Pemuda yang lehernya dililit syal merah itu menendang-nendang lembaran salju yang menyelimuti trotoar dengan kesal. Berbanding terbalik dengan dua manusia yang sedang bersenda gurau dengan ringan dan kalau ditilik lebih jauh lebih mirip bermesraan. Kabut di kepala Haechan makin menebal melihatnya.

"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Celetuk tersangka-Renjun-ringan.

"Kepalaku senewen," jawab Haechan acuh tak acuh.

Tidak puas dengan responnya, Renjun menyenggol bahu Haechan pelan. "Ujian sudah selesai, apa lagi yang memberatkan pikiranmu? Jangan murung begitu."

"Hmm."

Gampang bagimu berkata seperti itu. Lanjutnya miris dalam hati. Ingin hati ia mengutuk Renjun namun diurungkannya karena Renjun tidak salah apa-apa. Yang ada dia akan terlihat kekanakan.

Jaemin menjitak dahinya membuat Hacehan agak terhuyung. "Lagipula kita akan merayakan berakhirnya penderitaan ini. Jangan merusak atmosfer!"

Haechan mengeluarkan serentetan protes yang tak terdengar karena teredam syal. Ia akan membalas jitakan Jaemin ketika tiba-tiba pemuda jangkung itu menghentikan langkahnya.

"Hei Haechan, bukankah itu pria yang bersamamu di klub?" Ujar jaemin dengan telunjuk di arahkan pada sosok menjuntai yang berdiri di dekat lampu jalan. Haechan mendelik horor pada Jaemin yang seenaknya membongkar aib mereka. Dia tidak sadar apa kala-

"Kalian ke klub malam!?"

-kalau ada Renjun. Menyadari kebodohannya, Jaemin bergerak cepat. "Aku kan sudah menceritakan padamu pekan lalu?"

"Kau tidak bilang kalau ada Haechan! Dan kau membiarkannya bersama pria asing!?" balas Renjun galak membuat Haechan sungkan untuk menyela. Jaemin kelabakan.

"Bukan begitu! Dia-"

"Dia dosen filsafatku!" potong Hacehan cepat tanpa dipikir matang. Ia merutuki mulutnya secara spiritual.

"Wow, dan dia tidak mengatakan apapun tentang muridnya yang tidak legal berada di klub malam bukannya belajar?" Renjun berkata sarat akan sarkasme. Haechan meringis kikuk.

"Tidak? Mungkin karena dia dosen baru jadi dia tidak begitu peduli?"

"Alibi macam apa itu!? Kau pikir aku bakal-"

"Kita bertemu lagi," sebuah suara yang paling tidak Haechan harapkan menghentikan perdebatan kecil mereka.

Mereka bertiga mendongak dalam waktu bersamaan yang terlihat sangat konyol―Yukhei hampir tertawa. Tapi melihat wajah syok dan gelisah―untuk Haechan―yang sangat kentara, sepertinya itu bukan ide bagus. Yukhei berdeham untuk mengusir kecanggungan yang tercipta lalu berujar santai, "Merayakan selesainya ujian?"

"Iya!" jawab Haechan kelewat cepat dan antusias untuk bisa disebut normal. Renjun menatapnya aneh sekaligus menuduh saat Haechan melirik tajam pada Jaemin. Sedangkan anak itu hanya mengangkat bahu bingung.

Yukhei jelas-jelas mengabaikan perilaku mencurigakan tiga manusia di depannya. "Dengan jalan-jalan di tengah guyuran salju begini?"

Haechan baru akan mengatakan 'iya' dan sesegera mungkin mohon undur diri ketika temannya yang lebih mirip penyihir jahat nan licik memilih untuk menumbalkannya.

"Tidak. Sebenarnya Haechan punya rencana sendiri, kami hanya mengantarnya menuju halte."

Bedebah. Maki Haechan antara sengit dan panik. Tangannya gatal untuk menghapus seringai yang tergores di wajah Jaemin. Sedangkan renjun hanya menatap teman merangkap pacarnya itu dengan pandangan menghakimi.

"Begitu?"

Haechan menggelengkan kepalanya kasar, bertolak belakang dengan anggukan Jaemin yang pasti. Matanya membelalak tidak percaya waktu Jaemin membungkuk sambil mengamit lengan Renjun lalu berkata. "Kalau begitu kami pamit dulu Mr. Wong."

Profesor muda itu hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Haechan tidak benar-benar bisa mengatakan apapun di tengah ketidakpercayaannya akan apa yang terjadi. Ia merasa sangat terkhianati sekarang. Matanya hanya dapat mengikuti sosok Jaemin dan Renjun yang mulai menjauh dengan nanar.

"Well, halo Profesor," Haechan akhirnya―akhirnya, menyapa canggung profesornya.

"Kita tidak sedang di kelas, jangan memanggilku seperti itu. Dan aku merasa sangat tua mendengar sebutan itu," balas Yukhei ringan.

Mau bagaimana lagi? Kau kan memang seorang professor! Haechan membatin pedas―dia masih kesal rupanya. Tapi melihat peampilan Yukhei yang mengenakan celana jeans alih-alih setelan formalnya memang ia tidak setua itu. Entah mengapa Haechan berpikiran dia tidak setua Taeyong walau dengan tingginya yang seperti tiang listrik itu.

"Kenapa kau mengamatiku seperti itu?" celetuk Yukhei dengan nada agak geli.

Panas menjalari pipinya saat tertangkap basah sedang mengamati Yukhei. "Tidak―bukan apa-apa. Kalau begitu saya permisi."

Haechan hendak melenggang ke samping, anehnya tiap langkah yang diambil pasti bersamaan dengan kaki jenjang yang menghalangi jalannya. Rasa kesalnya yang menumpuk kembali memuncak. "Per―"

"―dingin, bukan? Aku tahu kafe yang menyediakan minuman hangat yang cocok untuk musim dingin seperti ini. Aku yang traktir. Bagaimana?"

Yukhei memotong ucapan Haechan dengan tawaran yang lumayan menggiurkan. Kebimbangan menyelimuti Hachan. Ia memang tidak ingin melewatkan malam dingin ini dipenuhi kesepian, di sisi lain ia menerka-nerka maksud orang yang tidak bisa dibilang 'dekat' dengannya ini. Akan terasa aneh kalau ia mengikutinya begitu saja―dan Taeyong akan memburunya kalau berkeliaran tidak jelas. Tetapi ia juga tidak ingin kembali ke apartemen yang belakangan menghantuinya.

"Kenapa seperti ada udang di balik batu?" tutur Haechan lebih kepada dirinya. Apa dia ikuti saja orang ini? Lagipula selama menjadi professor di kelas dia berperilaku baik-baik saja.

Pria bermantel hitam itu terkekeh melihat kebimbangan Haechan. Matanya mengerling jenaka. Ia lalu tersenyum menantang sambil berjalan mendahului Haechan.

"Kalau penasaran, kenapa tidak mencaritahunya sendiri?"

Persetan dengan Taeyong.

Л

"Jujur aku kaget waktu tahu kalau orang yang ada bersamaku tidak lain tidak bukan adalah murid di kelasku," Yukhei berkata diselingi tawa ringan.

"Aku panik waktu tahu kalau Yukhei hyung adalah profesorku. Rasanya seperti menggali kuburan sendiri," ia menjawab penuh ironi sambil menatap asap yang mengepul dari cangkir hitam di hadapannya. Setidaknya pria itu benar, kafe ini punya minuman yang rasanya menakjubkan.

"Kenapa? Kau takut aku akan memberimu auto 'E' karena berada di klub itu? Tenang saja, aku tidak berasal dari zaman batu. Anggap saja yang kemarin itu bonus," Yukhei mengibaskan tangannya ringan seolah mengusir kekhawatiran Haechan.

Dia tidak tahu harus merasa lega atau was-was karena cara Yukhei mengatakan 'bonus' meninggalkan getaran asing di kepalanya. Kalau dipikir-pikir Yukhei ini mirip Mark sekaligus berbanding terbalik. Mengingatkannya akan dua mata koin. Aura misterius yang dibawa mereka sama namun kalau Mark sedingin es, Yukhei adalah personifikasi matahari. Pembawaannya ringan dan cerah― Kenapa aku memikirkan si sialan itu, sih!?

"Ngomong-ngomong tentang klub―" Yukhei menenggak cokelat panasnya, "―kau tidak terluka parah kan?"

"Apa? Tidak. Tentu saja tidak," jawab Haechan buru-buru seperti mesin otomatis. Yukhei menaikkan satu alisnya. Haechan buru-buru menambahi. "Selain goresan kecil tidak ada."

Yukhei tidak membahas topik itu lebih jauh―yang membuat Haechan sedikit bersyukur. Memilih untuk mengangkat pembicaraan ringan seputar perkuliahan dan sedikit banyak menyinggung tentang Yukhei yang Haechan ketahui memang seumuran Mark, ternyata.

Hidupku dikelilingi orang jenius. Haechan hanya berharap orang di depannya ini tidak sedingin dan serumit Mark. Orang itu pasti banyak menyusahkan orang-orang di sekelilingnya dengan kepribadiannya yang tak tertebak bagai tiket lotre. Tiket lotre saja bisa ditebak. Haechan lagi-lagi mengutuk dirinya yang kembali memikirkan Mark.

"Ngomong-ngomong pria yang pulang bersamamu kemarin kakakmu?"

Ada dua pria di sana dan Haechan tahu benar mana laki-laki yang dimaksud Yukhei. "Bukan―"

"Kupikir Taeyong menyuruhmu untuk segera pulang?"

Jantung Haechan mencelos mendengar suara dingin yang amat familier yang sesuka hati memotong kalimatnya. Darahnya membeku mendapati Mark berdiri di sampingnya seolah-olah muncul dari kehampaan. Memangnya dia hantu? Haechan terdiam memandang Mark.

"Wong Yukhei. Aku professor di kelas filsafatnya," tangan Yukhei terulur memperkenalkan diri ketika melihat ketegangan yang tercipta. Haechan bahkan tidak tahu kapan Yukhei sudah berdiri.

"Mark Lee. Kukira Haechan tidak ada kegiatan akademik hari ini. Terlebih saat ujian sudah selesai," Mark menyambut uluran tangan Yukhei dan berkata dengan nada menuduh.

Yukhei terkekeh renyah. "Memang tidak. Dua sahabatnya menelantarkannya saat kami berpapasan dan kukira aku bisa menghiburnya sedikit dengan mentraktirnya minum."

"Mungkin lain kali kalian harus lebih hati-hati. Rumor buruk bisa menyebar kalau seorang mahasiswa dan profesornya tengah bercengkrama di tempat seperti ini karena kau ingin menghiburnya," Mark tersenyum miring. Haechan berjengit mendengar racun yang menetes dari suaranya.

"Hentikan," sergah Haechan sebelum keadaan memburuk. Namun eksistensinya seolah diabaikan.

"Benarkah? Maafkan aku kalau begitu," Yukhei melirik Haechan singkat sebelum menatap Mark lagi. "Lain kali aku akan menghiburnya di tempat yang tidak mudah dilihat orang banyak."

Senyum yang senantiasa terpatri di wajahnya membuat tangan Mark terkepal keras. Mulutnya terkatup tajam. "Dan tempat macam apa―"

"Terima kasih untuk minumnya Yukhei hyung, tapi sepertinya aku harus pergi. Sampai jumpa," Haechan mendorong kursinya cepat. Derik nyaringnya membuat beberapa orang melihat ke meja mereka. Tanpa menunggu jawaban Yukhei, Haechan melangkah pergi begitu saja.

Л

"Kalau begitu ikuti permainanku."

Kalimat itu masih terngiang di telinganya hingga detik ini. Sejak kalimat itu dilontarkan Haechan tidak bisa memandang tembok lorong apartemen ini seperti dulu. Ia akan menundukkan kepalanya dan berlari cepat menuju kamar.

Ia tidak bisa menatap tembok itu tanpa melihat bayang-bayang tubuhnya yang dihimpit ketika Mark menciumnya. Membekukan tubuh dan aliran darahnya seketika.

Haechan tidak bisa menatap tembok itu tanpa merasakan bulu kuduknya yang meremang, merasakan sapuan lidah Mark di langit-langit mulutnya, menyapa satu per satu deretan gigi geraham hingga taringnya. Ia masih bisa merasakan lilitan lengan Mark di pinggangnya ketika ia mulai berontak. Nafasnya yang putus-putus kehabisan oksigen saat Mark tak kunjung melepaskan jeratan di lidahnya masih membuat dadanya sesak hingga sekarang.

"You taste like liquor, seems you break another rule."

Sekujur tubuhnya merinding, masih merasakan pergerakan bibir Mark di permukaan kulit tepat di bawah garis rahangnya saat ia membisikkan kata-kata itu.

"Aku membencimu," bisik Haechan pada udara kosong di kamar yang gelap.

Ia memeluk lututnya erat sambil bersandar di papan tempat tidur. Memori itu masih berlutar seperti film yang ditempel dibalik matanya. Membuatmya merinding setiap saat.

"Aku membencimu."

Sejatinya Haechan tidak tahu mana yang lebih ia benci. Apakah Mark yang menciumnya saat itu atau dirinya yang sama sekali tidak membenci ciuman itu.

π

Jam menunjukan angka tiga namun Haechan tak juga menutup matanya. Pikirannya berkecamuk menolak kantuk.

Haechan tidak bodoh. Benar bahwa selama ini ia mengabaikan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Bukan berarti dia tidak menyadari ada yang salah. Hanya saja ia tidak tahu apa salahnya hingga mengalami beberapa teror sejak awal semester hingga mendekati natal. Walaupun Taeyong bersikeras mengatakan ini semua tidak berhubungan dengannya, ia sadar bahwa itu omong kosong.

Masalahnya adalah ia tidak tahu pada siapa kiranya ia harus bertanya. Siapa yang bisa menjawab kejanggalan yang mengusik pikirannya? Yang jelas bukan Taeyong, apalagi ayahnya.

Mark.

Mark? Haechan mendengus. Memikirkannya saja sudah membuatnya ingin lompat dari jendela apartemen ini. Terlebih tidak ada jaminan dia akan buka mulut.

Apa aku harus membuatnya mabuk dulu agar ia buka mulut?

Haechan menampar diri sendiri seketika. Otaknya berpikir ngawur. Sayangnya Mark tidak sebodoh itu, dan toleransi kadar alkoholnya tinggi.

Seolah bola lampu menyala di kepalanya, ia melompat dari kasur dan mengendap-endap keluar kamar menuju pintu hitam yang hampir tidak pernah terbuka. Ruang kerja (pribadi) milik Mark.

Haechan pernah mengintip sedikit ke dalam saat Mark keluar dari ruang misterius itu. Ia berpikir mungkin ada beberapa catatan yang dapat menjawab sebagian pertanyaannya. Karena itu ia nekat menyelinap masuk setelah memastikan keadaan aman. Dan keadaan memang aman saat Haechan tidak mendapati sepatu Mark di lorong.

Ruangan ini sekilas seperti perpustakaan mini dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit. Beberapa gramophone dan mesin ketik kuno juga terpajang di lemari kaca. Haechan menyapu pandangan di setiap folder dan buku pada rak tersebut, mencari mana yang kira-kira terhubung dengan hal-hal yang mengusiknya. Pandangannya jatuh pada buku tebal dengan sampul kulit hitam yang terukir simbol mata.

"Clairvoyant? -voyance? Yah, apalah itu."

Dewi fortuna tidak berpihak padanya karena buku itu terletak terlalu tinggi untuk ia jangkau. Ia mengedarkan pandangannya dan bersorak dalam hati saat menemukan tangga. Tanpa banyak tingkah ia menumpukan tangga itu pada rak, menaikinya lalu menarik buku yang lumayan berat itu.

Namun kemulusan aksinya haris berhenti saat punggungnya membentur sesuatu yang keras tepat ketika kakinya menyentuh lantai, membuat jantungnya nyaris terlonjak. Haechan ingin berbalik dan memeriksa benda itu ketika sepasang tangan melingkari pinggangnya dan hembusan nafas seseorang menyapu tengkuknya.

"Seingatku aku pernah memberitahumu untuk jauh-jauh dari ruangan ini, kau tahu kenapa?" suara rendah itu bergumam.

"M-Mark hyung?" suara Haechan bergetar ketika Mark menaruh dagunya di perpotongan leher Haechan.

"Orang yang masuk ke sini tidak bisa keluar dengan mudah."

Darah Haechan mengalir deras, ia menenggak ludahnya kasar. Haechan sudah basah menyebrang setengah sungai, tidak ada gunanya mundur. "Aku penasaran akan sesuatu yang pasti tidak akan terjawab kalau tidak kucari tahu sendiri dan aku akan melakukan apapun untuk mencari jawabannya."

Mark tertawa dingin, pelukannya pada Haechan ia eratkan membuat tubuh Haechan menegang. "Itu dalam permainan ayahmu. Di permainanku, aturannya berbeda."

Haechan merasa janggal dengan perangai Mark yang tidak seperti biasanya. Kejanggalan itu terjawab ketika bau alkohol samar-samar tercium di udara. Haechan tertegun oleh ironi keadaan. Namun pikirannya ditarik kembali ke bumi saat tangan dingin itu menelusup di balik piyamanya. Ia menahan tangan itu dengan cepat.

"Ikuti saja permainanku," Mark berbisik rendah di samping telinganya, menghantarkan gelombang asing membuatnya menggigil pelan.

"Mark hyung kau-"

Kalimatnya tidak ia tuntaskan saat kecupan sehalus kapas disapukan di lehernya dan tangan itu mulai mengelus lembut perutnya. Haechan hampir terbuai kalau lehernya tidak tersengat rasa perih ketika kulitnya terkoyak gigi taring.

"Ark! Apa yang hyung lakukan!?" Haechan memekik sambil meronta kecil. Ia berusaha menarik diri dari kurungan tangannya namun nihil.

"Kenapa? Bukankah kau bilang akan melakukan apapun? Mungkin kalau kau bermain dalam aturanku aku akan menjawabnya."

Jantung Haechan melesat sepersekian detik. Ia ingin lari dari ruangan ini untuk menghindari apapun itu yang dapat memperparah keadaannya dengan Mark yang sudah buruk. Tetapi keinginannya harus ditelan bulat-bulat saat tubuhnya terangkat dan didudukan di atas meja mahoni.

Nafasnya tercekat tatkala menatap pupil hitam Mark yang melebar, menatapnya seperti seonggok daging segar. Senyum miringnya membuat sesuatu berputar di perut Haechan.

"Hati-hati. Curiosity killed the cat."

Itu adalah ucapan terakhir Mark sebelum menyambar bibir ranum Haechan. Ia salah besar ketika menganggap ciuman pertama yang Mark berikan memabukkan. Karena saat ini apa yang dirasakannya berlipat-lipat lebih membuat kepalanya berputar.

"Hyu-"

Bibir tipis itu seakan memburunya tiap ia bergerak mundur. Dan Haechan kehilangan kendali atas dirinya tidak lama setelah benda lunak tidak bertulang itu menyelam menuju tenggorokannya setelah melumpuhkan lidahnya.

Saat tangan lihai itu menyelinap mengelus punggung bawahnya, Haechan ditabrak dari garis equilibrium. Terhuyung menuju jurang tak berdasar tapi juga diterbangkan menembus lapisan awan.

Saat itu Haechan tahu mana yang lebih ia benci. Yaitu dirinya yang tidak bisa menolak perlakuan ini.

π

Di tengah guyuran salju yang kian melebat, sedan hitam melaju memasuki sebuah bangunan yang dikelilingi tembok raksasa. Batang besi seperti tombak berderet itu terbuka ke samping mempersilakan mobil itu masuk hingga terhenti di depan pintu kaca yang lebar.

Pengemudi itu terlihat melenggang masuk dan menyusuri lorong-lorong sunyi hingga menemukan ruang di ujungnya. Ia melangkah melewati ambang pintu dan mendapati seorang pria tengah memunggunginya. Aura angkuh dan mengintimidasi yang pria itu bagai gelombang yang menerpa tubuh jangkungnya.

"Ia bodoh kalau menganggap bisa menyembunyikan anak itu lebih lama," laki-laki itu berujar sinis.

"Orang yang menyembunyikannya juga bodoh. Apa dia berpikir dengan menjauhkan dirinya dari anaknya sendiri akan membuatnya aman?" Ia berdesis tajam penuh kejengahan dan ketidakpercayaan.

Raut wajahnya sarat akan cemoohan. Mata elangnya memandang gumpalan putih yang jatuh lewat jendela. Sorot matanya yang dingin menampakkan jiwanya yang membeku.

"Bagaimanapun juga takdir tidak bisa dihindari. Konsekuensinya jelas dan nyata. Tidak tertangguhkan."

Kebencian menebal di setiap kata yang terucap. Pemuda bersurai coklat itu senantiasa diam menunggu.

"Kebanyakan orang tidak sadar hidup mereka pendek. Termasuk bocah itu," senyumnya miring. Dengan gerakan mulus ia memutar tubuhnya pelan. Ia mengamati pemuda di hadapannya dengan pandangan menilai bercampur yakin. Seringai tertoreh di wajahnya.

"Bersiaplah."

A/N : gimana kabar kalian? Adakah yang masih nunggu cerita ini? Wkwkwk anyway ini chap 11 selamat dinikmati(?) Mohon kritik dan sarannya ya? ゚リト

See you next chap.