A/n : Entah ini kenapa sepertinya FFN sedang bermasalah. Ada beberapa kata yang mendadak menghilang begitu fanfic ini diposting. Padahal di filenya ga ada masalah loh. Wah, gimana ini? Jelas mengganggu kenyamanan membaca kan? Mohon maklum ya guys…

Chapter 11

"…dan begitulah tongkat besi itu melukai wajahku. Kau bisa lihat sendiri hidungku yang hampir remuk ini. Lalu bla bla bla..."

Ginny hanya bisa tersenyum terpaksa. Kedua telinganya nyaris pekak karena sedari tadi terus saja mendengarkan celoteh riang Astarte tentang kronologis peristiwa yang menyebabkannya babak belur. Anehnya, Astarte justru menceritakan hal ini dengan seloroh bangga, seolah dipukuli habis-habisan begitu adalah sebuah prestasi besar untuknya.

"Maaf," ucap Ginny, berdehem. Kerongkongannya mulai gatal karena dari tadi Astarte tidak memberinya kesempatan untuk berbicara sedikit pun. "Jadi, berapa orang yang sudah mengeroyokmu kalau begitu? Lima orang atau sepuluh orang?"

Mendadak ekspresi Astarte berubah kecut. Namun Ginny tidak terlalu merasa bersalah sudah menyela cerita panjang lebar gadis itu. Untuk ukuran seorang putri, Astarte terlalu banyak bicara, begitu pikirnya. Sedikit banyak, sikap putri bangsa Alexus ini mengingatkan Ginny pada kakaknya, Ron, dan dia sudah sangat berpengalaman menghadapi orang-orang semacam ini.

"Mengeroyok? Err... aku tidak bilang begitu, kan? Maksudku, aku hanya terlibat perkelahian dengan… umm… seseorang," jawab Astarte agak kikuk. "Seseorang yang berbadan jauh lebih besar dariku tentunya. Dan lebih kuat! Jadi jelas saja aku kalah gitu loh."

Ginny hanya menaikkan sebelah alisnya. Yeah. Dia sudah menduga apa jawaban dari pertanyaan tidak pentingnya ini. Ada sebagian kecil dalam hatinya yang merasakan kekecewaan. Sebagian besar lainnya mulai meragukan apa gadis pirang di hadapannya ini adalah benar-benar Astarte yang ditemuinya pertama kali dalam mimpi.

Rambut pirang emas selembut sutra yang berkibar dan berkilauan seirama angin, sorot mata yang memancarkan ketentraman, dan berbagai hal mempesona yang dilihatnya dari sosok Astarte saat di dalam mimpi dulu seketika lenyap saat bertemu Astarte yang sesungguhnya. Ginny tak habis pikir, rupanya ada juga putri yang modelnya seperti ini.

"Sekali lagi maaf jika aku tidak sopan, tapi aku tidak terlalu yakin denganmu. Terutama kalau aku mengingat-ingat pertemuan pertama kita di mimpiku," kata Ginny jujur. Well, dia tidak terlalu suka menutupi apa kata hatinya.

Astarte mengibaskan rambutnya pelan, meringis aneh sebentar dan menjawabnya dengan nada canggung, "Kau tahu, Ms. Weasley? Kadang seseorang boleh jaim juga, kan?"

Untuk kali ini Ginny menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Kepercayaannya terhadap Astarte mulai menyusut. Apakah dia yang sudah berharap terlalu banyak atau mungkin putri dari bangsa entah di mana ini yang memang sudah kehilangan pesonanya di dunia nyata.

Bisa dibilang Ginny cukup shock dengan penampilan Astarte sebagai seorang manusia biasa saat ini. Gadis itu mengenakan pakaian hitam ketat berbahan kulit yang membungkus tubuhnya rapat-rapat. Bukan pakaian yang cocok untuk musim dingin, tentu saja. Dan Kalau Ginny mendeskripsikan penampilan Astarte ini seperti gumpalan obat batuk hitam berjalan, para Muggle justru akan mengira Astarte ini pemeran wanita dalam film The Matrix.

Di tengah suasana temaram begini, terkadang Ginny merasa agak kesulitan untuk mengikuti Astarte dalam busana yang serba hitam seperti itu. Berulang kali dia tersandung permukaan tanah yang tidak rata, menabrak dahan pohon, dan terserimpet akar pohon yang menjulur. Sosok Astarte sendiri hilang-tampak dalam penerangan lampu yang minim.

Suasana semakin tidak mengenakkan bagi Ginny. Tempat di mana mereka berada ini tidak hanya terkesan aneh, tapi juga angker dan mencekam. Jangan tanyakan tentang mantra "Lumos" dan "Incendio". Entah mengapa kedua mantra itu tidak berfungsi untuk mengatasi kegelapan di tempat ini.

"Tunggu, nona!" seru Ginny setengah kesal seraya menggapai-gapai kesusahan dan berhasil menyambar salah satu lengan Astarte yang sedari tadi berjalan di depannya. Sepertinya mata Astarte punya kelebihan melihat dalam keadaan gelap begini, sehingga dia tidak menemui kesulitan sama sekali.

"Ya?"

"Lebih baik kau berhenti mempermainkanku, nona Astarte yang terhormat!" ujar Ginny dengan nada menekan dalam-dalam, dongkol sekali.

Sejak awal mereka tiba di tempat seram ini, Astarte sama sekali belum mau membeberkan seperti apa rencana yang ada di pikirannya. Ginny mulai muak terjebak dalam situasi tidak jelas. Apalagi ada embel-embel pertaruhan nyawa begini. Bukannya Ginny takut. Bukan sama sekali. Dia siap menghadapi apa resiko yang ada, meskipun dia tahu kalau dia tidak benar-benar bersalah dalam kasus terbunuhnya Madeline Lestrange. Dia hanya ingin memastikan kalau Astarte bisa menjamin bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini tepat.

"Paling tidak kau memberitahuku sedikit saja. Misalnya seperti, di mana kita berada sekarang?" ujar Ginny tegas, tanpa ragu menampakkan ekspresi galak walau sadar kalau Astarte tidak bisa melihatnya di keremangan begini.

"Oh itu toh!" sahut Astarte santai saja, melepaskan cengkraman Ginny pada lengannya. "Kita sekarang sedang ada di lapisan Merx. Tepatnya di kawasan Heofon."

"Apa?"

"Hanya istilah tingkat tinggi bangsaku untuk menyebut kuburan angker," balas Astarte enteng. "Yeah, kita sekarang sedang ada di areal pemakaman, miss Weasley. Wigheard Cemetery di Lewinsham Road. Tapi untuk yang satu ini bisa dibilang sebagai pemakaman dimensi lain. Pemakaman generasi Aelfweald."

"Apa? Pemakaman?"

"Kau pikir apa yang sedang kau duduki itu, Miss Weasley? Kau sedang duduk di atas nisan orang tuh! Baru nyadar?"

"Jenggot Merlin!" Sontak saja Ginny terlonjak dari batu berukuran sedang yang didudukinya. "Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?"

"Emang itu penting ya?" celetuk Astarte enteng.

Ginny menggeleng keras, tidak percaya. Dia bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya gadis pirang yang ada di hadapannya ini terbuat dari apa sih? Seolah semua hal berbahaya yang akan mereka hadapi sekarang ini bukan apa-apa untuknya. Mereka bukan sedang akan piknik, kan? Mereka akan menghadapi iblis! Tapi lagak Astarte justru tampak seperti orang yang menganggap remeh situasi genting ini.

Kepercayaan Ginny terhadap Astarte hampir mencapai titik nol. Tentu saja. Tak ada satu pun hal yang bisa membuatnya yakin kalau Astarte punya kemampuan untuk mengatasi permasalahan hidup-mati ini. Kini Ginny mulai menyesal kenapa dia begitu mudah percaya dengan mimpinya, mimpi yang menggambarkan betapa sempurnanya Astarte. Dia sadar kalau itu semua hanya tipuan belaka.

"Well, nona Astarte," panggil Ginny lamat-lamat, setengah putus asa, hal yang sangat dibencinya. "Apa... apa aku masih bisa keluar dari tempat ini dengan selamat? Maksudku... Apa masih ada harapan?"

"Aku tidak bisa janji, Ms. Weasley. Yang jelas, aku sudah mempertaruhkan banyak hal dalam hal ini. Nyawaku sendiri, ayahku dan Orion, dan juga keselamatan bangsaku. Kukira dalam banyak hal misi Orion tidak efektif. Terlalu membuang waktu. Bukan salahnya sih. Dia memang selalu percaya mentah-mentah apa saja perkataan ayahku. Karena itu aku memutuskan untuk bertindak sendiri."

"Lalu, ada alasan kenapa kau memilihku?" tanya Ginny. Suaranya melemah. "Selain karena iblis itu, maksudku Lestrange, mengincar nyawaku lagi?"

"Aku tidak punya banyak alasan untuk tidak memilihmu, . Kau punya banyak hal yang bisa membuat banyak orang mengagumimu. Kau punya keberanian dan tekad. Kau punya semangat hidup yang tinggi dan juga kesetiakawanan. Selain itu, aku juga percaya kalau setiap titik akhir akan selalu kembali ke titik awal. Dengan kata lain, Madeline Lestrange mengawali ini semua darimu, dan tentu saja dia ingin mengakhirinya dengan menggunakanmu."

"Apa ini artinya buruk untukku?"

"Bisa iya. Bisa tidak," Astarte menghela nafas panjang. "Maksudku adalah, kalau dulu kau sudah pernah mengalahkannya. Kenapa kau tidak bisa mengalahkannya sekali lagi?"

Ginny terdiam. Mendadak kedua pundaknya terasa terbebani begitu berat. Dia masih ingat bagaimana sensasinya, sensasi membunuh. Ada kelegaan luar biasa saat dia berhasil mempertahankan nyawanya. Diliputi dengan kegembiraan bahwa dia bisa mengalahkan musuh jahat yang sudah menginjak-injak martabatnya sedemikian dalam. Weasley kumuh, panggilan hina dari Madeline yang akan selalu diingatnya sampai mati. Sebuah kepuasan bisa membungkam mulut lancang itu selama-lamanya. Namun di sisi lain, perasaan bersalah terus membayanginya. Bukan begini caranya. Bukan dengan membunuh, seharusnya. Begitulah penyesalan seorang Ginny.

"Jadi aku akan menitipimu ini."

Sontak, Ginny terkesiap kaget saat Astarte menjejalkan sebuah lempengan kecil berbentuk segi enam ke dalam genggaman tangannya. Di atas permukaan lempengan berukuran sebesar Galleon itu terdapat tulisan-tulisan dalam huruf asing yang tak bisa dibaca Ginny.

"Itu adalah kunci untuk membuka Devil's Gate. Kau yang harus membawanya sekarang. Well, untuk jaga-jaga saja kalau misalnya salah satu dari kita, dalam hal ini aku, tidak bisa mencapai Shura dengan selamat," ucap Astarte dengan senyum dipaksakan.

"Apa itu Shura?" tuntut Ginny. Perasaannya mulai tidak enak. Apalagi saat menyadari nada suara Astarte yang berubah serius.

"Shura adalah semacam menara kecil yang di puncaknya tersimpan api suci untuk meleburkan benda-benda yang tercela. Sejak dulu para Aelfweald menggunakannya untuk mengkremasi jenazah anggota keluarga mereka. Kau tahu, energi manusia yang terserap selama mereka masih hidup tidak selamanya baik. Karena itulah mereka tidak ingin membawa energi-energi buruk ke alam kematian. Para Aelfweald itu juga ingin mati dengan tenang, dalam hal ini mati secara 'bersih', melepaskan energi manusia yang ada di dalam tubuh mereka semasa hidup. Jika energi buruk manusia saja bisa disucikan, lalu kenapa kunci Devil's Gate ini tidak.

Aku yakin tempatnya tidak terlalu jauh lagi dari sini dan aku ingin nantinya kau yang masuk ke dalam menara itu, . Cari api sucinya dan buang kunci sialan itu ke dalamnya. Maka Devil's Gate tidak akan pernah bisa terbuka lagi, iblis-iblis yang ada di dalam akan tetap terkurung, Carloseus tidak akan punya pasukan iblis dan ayahku akan menendang bokongku atas kekacauan ini."

"Kalau terdengar sesimpel itu, lalu kenapa kau sendiri tidak yakin kau bisa selamat?" tanya Ginny, mengabaikan kalimat terakhir Astarte yang terdengar konyol.

"Apa kau selalu sepolos ini, ? Oh, sudahlah. Aku cukup yakin kalau Carloseus sudah membangkitkan satu iblis lagi dengan sisa-sisa kekuatannya. Meskipun sudah dijaga ribuan hunter bangsa Alexus, Devil's Gate belum pernah benar-benar tertutup rapat sejak lolosnya iblis bermata putih itu. Carloseus masih terlalu kuat untuk ukuran iblis yang lemah dan ayahku terus saja mengabaikan kenyataan ini dengan menolak menghancurkan kunci gerbang sial itu."

"Aku paham," sahut Ginny sambil menggenggam kuat-kuat kunci berbentuk koin itu.

"Bagus deh kalo gitu, !" kata Astarte riang, menepuk punggung Ginny dengan kekuatan berlebihan sampai gadis itu terhuyung.

"Err, kau boleh memanggilku Ginny saja kalau kau mau."

"Oh yeah! Dan kau boleh memanggilku Britney Spears. Kalo mau sih," seloroh Astarte dan menyambungnya saat menyadari ekspresi bingung Ginny. "Engga tau Britney Spears? Duh, kasian deh…"

Mau tak mau, Ginny ikut tergelak. Astarte dengan gayanya yang aneh memang selalu menarik. Sedikit menyebalkan, tapi cukup menyenangkan juga. Begitu pikir Ginny.

"Ada apa, Astarte?" tanya Ginny cemas.

Mendadak saja ekspresi Astarte berubah tegang. Dengan penuh kewaspadaan di mengawasi keadaan di sekeliling mereka. Saking waspadanya, suaranya berubah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar.

"Baunya. Aku bisa mencium baunya. Iblis. Tak jauh dari sini. Sedang mendekat."

Belum sempat Ginny bereaksi, Astarte sudah mendorongnya menjauh. Ketegangan di wajah gadis pirang itu sudah lenyap, berganti ekspresi setenang permukaan air yang tak terusik. Tampaknya dia sudah siap menghadapi apa pun bentuk iblis yang akan segera muncul.

"Pergilah, Ginny. Carilah Shura. Kau akan menemukannya dengan keyakinanmu," ujar Astarte lirih. Cepat-cepat dia menambahkannya begitu melihat Ginny akan membantah. "Tak ada waktu untuk berdebat. Pergilah! Dan jangan menoleh ke belakang! Aku akan segera menyusulmu. Percayalah!"

Ginny tak yakin apakah pergi meninggalkan Astarte adalah ide yang bagus. Terlebih tampaknya Astarte tak bisa menjamin keselamatannya sendiri dengan kondisinya yang babak belur begitu. Ginny tahu Astarte bisa terbunuh dan dia tidak ingin meninggalkan gadis itu begitu saja. Dia ingin membantu. Dia punya keberanian dan kekuatan. Jadi apa lagi yang menghalanginya?

"Oh, kau belum mengerti juga ya?" desis Astarte kesal, melihat Ginny masih belum beranjak sedikit pun dari tempatnya berpijak. "Kau memaksaku melakukan ini, Ginny Weasley."

Secara tak terduga, Astarte menempelkan salah satu telapak tangannya ke dahi Ginny. Satu-satunya yang bisa dirasakan Ginny seketika itu adalah dunia serasa berputar kencang dan darahnya bergolak. Sekujur tubuhnya kebas seakan dibenamkan paksa ke dalam kolam air es. Semua ketidaknyamanan ini berakhir ketika Ginny terbangun di tempat asing. Dia masih berada di areal pemakaman. Setidaknya itulah yang disadari Ginny dengan getir. Dia sadar kalau Astarte sudah 'melemparnya' menjauh dari arena pertempuran.

Astarte menghela nafasnya untuk sekian kali. Dia tidak menyesal sudah memindahkan Ginny dengan paksa. Dia paham kalau dalam dimensi lain begini kekuatan sihir manusia tidak akan banyak berpengaruh dan karena itulah, demi keselamatannya, Astarte harus melakukan hal ini.

Maafkan aku, Ginny. Dulu aku sudah menjanjikan seorang penjaga untukmu dan karena itulah aku datang kepadamu. Mungkin aku tidak bisa menjadi seorang penjaga yang baik untukmu. Tapi setidaknya aku sudah berusaha…

"Seorang putri Alexus? Jadi ini yang bisa disodorkan Ashriel kepadaku? Menyodorkan putrinya sendiri untuk dihabisi?"

Suara melengking mendirikan bulu kuduk ini sontak membuat Astarte terkesiap. Gadis itu berputar di tempatnya, mengamati keadaan sekelilingnya yang remang-remang dan menajamkan pandangannya. Namun tak tampak apa pun di mana-mana. Hanya pepohonan tinggi yang berumur ratusan tahun dan juga banyak sekali batu nisan besar-besar yang tersebar tak beraturan.

"Tampakkan dirimu!" seru Astarte berani.

"Oh, lancang sekali kau, gadis ingusan. Tak tahu sedang berhadapan dengan siapa, eh?" balas suara itu lantang.

Astarte mendongak. Jantungnya berdebar semakin kencang. Lebih kencang lagi saat mendapati seseorang sedang berdiri memandanginya dari sebuah dahan pohon tebal tepat di atasnya. Dari postur tubuh dan rambutnya yang keperakan, Astarte menduga iblis yang baru saja muncul ini adalah seorang wanita.

"Eris," desis Astarte saat bertatapan dengan sepasang mata kuning nyalang yang membalasnya dengan sorot keji.

Detik berikutnya, iblis wanita bernama Eris itu melompat dari dahan tempatnya berpijak. Gerakannya anggun, sangat halus, dan dia mendarat mulus tepat di hadapan Astarte tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

"Aku tidak mengharapkan kedatanganmu, Yang Mulia Astarte. Sama sekali tidak," seloroh Eris dingin. "Tapi aku akan mengampunimu dengan senang hati jika kau bersedia menyerahkan apa yang diinginkan Tuanku Carloseus. Kau cukup memberikannya saja dan aku akan membiarkanmu hidup."

"Sayang sekali. Aku tidak sudi," ujar Astarte enteng, mengangkat kedua telapak tangannya yang kosong.

"Gadis bodoh," desah Eris pelan.

Astarte mendengus, menatap Eris dengan tatapan melecehkan. Dengan seringai yang jelas-jelas menampakkan ketidaksenangannya dengan kemunculan Eris, Astarte berkata, "Kalau pun aku membawanya, aku tidak akan pernah menyerahkan kunci itu ke tangan iblis-iblis terkutuk seperti kalian."

"Lancang!" geram Erin. "Berikan kunci itu atau kau hancur!"

"Bagaimana kalau, kau saja yang hancur atau aku tidak akan memberikan kunci itu?" ledek Astarte. "Iblis jalang!"

Gadis itu tahu kalau satu-satunya cara supaya Eris tidak mengejar Ginny adalah dengan berusaha membuat Eris yakin kalau Astarte yang membawa kunci itu.

Perkataan Astarte benar-benar membuat Eris kehilangan kesabaran dan melayangkan tinjunya ke wajah Astarte. Satu dua kali Astarte berhasil meredam pukulan beruntun dari Eris, bahkan balas menendang kuat-kuat perut lawannya dan membuat Eris jatuh terjengkang.

Dalam hitungan detik Eris bangkit dan kembali menyongsong Astarte yang sudah siap menyambut serangannya. Mereka beradu tendangan beberapa kali. Tendangan kaki kiri Eris berhasil menyapu wajah Astarte telak dan membuat gadis itu terhuyung. Belum ingin memberi ampun, Eris kembali menghadiahi lawannya dengan dua kali tendangan telak ke bagian rusuk.

Tubuh Astarte sempat melayang di udara sebelum menghantam sebuah batu nisan. Saking kerasnya, batu nisan itu hancur berantakan, menyisakan bongkahan-bongkahan besar dan Astarte yang sedang tergolek lemas meresapi rasa sakit di setiap bagian tubuhnya. Luka-lukanya yang belum sembuh benar telah terbuka kembali dan kali ini bahkan jauh lebih perih.

"Kau cukup memberiku kunci sialan itu saja, pecundang! Apa susahnya?" bentak Eris seraya menendang ke bagian ulu hati Astarte yang masih belum bisa bangun. "Atau kau memang sudah bosan hidup, tuan putri?" sambung Eris, menendang perut Astarte lagi dan lagi, tak peduli erangan kesakitan gadis itu. "Kalau begitu kau harus hancur!"

"Aku tak pernah takut hancur…" sahut Astarte lirih, di sela-sela rintihannya karena Eris masih saja belum puas menendanginya.

Tanpa diduga Astarte menangkap salah satu kaki Eris yang akan menendangnya sekali lagi dan menjungkalkan iblis wanita itu. Dengan susah payah, mengabaikan rasa sakit dari beberapa rusuknya yang retak, Astarte bangkit dan menghantam wajah Eris beberapa kali. Di saat lawannya itu sedang terhuyung, Astarte membenturkan kepalanya sendiri ke kepala Eris sekuat-kuatnya, membuat Eris ambruk tak berdaya.

"Itu saja? Semudah itu?" seru Astarte, mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang pecah dengan punggung tangannya.

Sebenarnya nafasnya sudah mulai sesak dan beberapa bagian tubuhnya memar-memar parah, tapi Astarte harus memastikan kalau dia sudah menahan Eris cukup lama sementara Ginny menemukan Shura.

Selama sekian menit Astarte menunggu reaksi Eris yang masih terkapar tak bergerak, sampai akhirnya dia memutuskan kalau Eris memang sudah benar-benar tak berkutik lagi. Namun baru beberapa langkah dia berbalik meninggalkan Eris, tiba-tiba saja seutas cambuk membelit kaki kanan Astarte dan menariknya hingga terjerembab.

"Kau sudah mengujiku terlalu jauh, tuan putri! Kali ini aku tidak akan main-main!" seru Eris geram. Gurat-gurat di wajahnya menunjukkan dia sangat murka sekarang.

Satu sentakan dari cambuk itu membuat tubuh Astarte terhempas dan jatuh bergulingan. Eris yang belum puas, menghentakkan cambuknya lagi dan membuat tubuh Astarte yang masih terjerat terombang-ambing seperti daun yang terbawa angin, sampai akhirnya dengan sengaja menghantamkan tubuh Astarte ke sebatang pohon besar.

Nafas Astarte hampir habis. Rongga dadanya mulai panas dan tulang punggungnya sakit bukan main. Sementara kepalanya yang nyeri berdenyut-denyut. Kakinya masih terjerat cambuk dan Eris pun tampak tak berniat melepaskannya sampai tubuhnya benar-benar remuk. Dengan agak kesulitan, gadis itu meraih sebilah trisula yang tersimpan di pinggangnya dan memutuskan belitan cambuk Eris dengan sekali sabet.

"Aku juga tidak sedang main-main, Eris!" balas Astarte dengan nafas memburu. Keningnya bocor dan mengalirkan darah merah pekat melalui kedua matanya, agak mengganggu pandangan.

"Bagus kalau begitu!" cibir Eris, menyentakkan cambuknya hingga ujungnya menghasilkan bunga api.

Sementara itu Astarte sudah meraih trisulanya yang satu lagi dan bersiap menerima serangan lawannya. Ujung cambuk Eris kembali meluncur tanpa sempat terelakkan, menyambar wajah Astarte dan merobek pipi kirinya yang mulus. Cambuk Eris terayun sekali lagi dan menyabet perut Astarte hingga meninggalkan bekas luka yang dalam dan memanjang. Belum sempat Astarte menghindar lagi, cambuk Eris menghajarnya lagi dan menghempaskan salah satu trisulanya jauh-jauh.

"Kau lihat sendiri, tuan putri. Tak ada gunanya melawanku. Hanya sia-sia belaka," gumam Eris, menyentakkan cambuknya semakin liar dan dalam sekali kibasan, tubuh Astarte kembali terpelanting.

Perlahan-lahan, Astarte mencoba bangkit meskipun seluruh persendiannya terasa hancur lebur. Kedua tungkai kakinya nyaris tak mampu menyangga tubuhnya dan kini mati pun akan terasa sangat menyenangkan demi mengakhiri semua rasa sakit yang menderanya ini.

"Mati kau!" seru Eris lantang, kembali mengayunkan cambuknya.

Namun detik berikutnya iblis itu menjerit kesakitan. Lolongannya terdengar ke seluruh penjuru. Tanpa Eris sadari, tiba-tiba saja trisula Astarte sudah menancap tepat ke telapak tangannya, memaku tangannya pada batang pohon di belakangnya dan secara efektif mencegah iblis wanita itu menggunakan cambuknya lagi.

"Kita mati sama-sama kalau begitu," desis Astarte, berjalan menghampiri Eris dengan langkah sempoyongan.

"Apa...? Kau kira apa yang sedang kau lakukan, bodoh?" seru Eris murka. Meski begitu, ada nada ketakutan yang coba disembunyikannya dalam suaranya. Apalagi saat Astarte mulai menodongkan telapak tangannya ke arah Eris dan berkonsentrasi. "Kau tidak bisa mengeluarkanku dari tubuh ini! Kau tidak bisa mengirimku ke neraka lagi, brengsek!"

Eris semakin panik saat Astarte mengabaikannya dan terus berkonsentrasi. Iblis itu merasakan seolah ada api yang sedang berkobar di dalam tubuhnya. Sesuatu mencoba merangsek keluar melalui organ-organ di dadanya. Didorong oleh rasa takut, Eris mencoba mencabut trisula Astarte yang masih menancap kuat di telapak tangannya, mengacuhkan darah hitam kental yang mengalir deras dan menampakkan otot-otot beserta daging yang robek.

"Yang gaib memburu yang gaib!" teriak Eris putus asa, trisula Astarte menancap terlalu dalam. "Kau sedang bunuh diri, gadis bodoh!"

Astarte tetap bergeming. Matanya terpejam rapat, tak peduli darah sudah mulai mengucur deras dari kedua lubang telinga, lubang hidung dan kedua sudut matanya. Paru-parunya terasa terbakar dan lehernya seolah tercekik semakin kuat di setiap detiknya. Namun dia tetap nekat melakukannya. Dia tak peduli lagi dengan rasa sakit, dia hanya ingin melakukan apa yang dianggapnya benar.

Eris mulai batuk-batuk hebat. Kedua matanya yang kuning terang melotot dan tampak ekspresi kesakitan teramat jelas di wajahnya. Sementara gumpalan-gumpalan asap hitam mulai keluar dari mulutnya yang terbuka lebar, diiringi oleh suara lolong mengerikan. Sosok iblisnya mulai meninggalkan wadah manusianya.

Tak lama, Astarte mulai terbatuk-batuk. Kerongkongannya serasa ditoreh-toreh puluhan mata pisau, sakit bukan main. Dia pun semakin kesulitan bernafas. Pandangannya semakin gelap. Batuknya menghebat, sampai-sampai gadis itu muntah darah. Namun ia tetap menolak berhenti.

Gumpalan asap hitam bergulung-gulung mengitari tubuh Eris yang sudah lemas sama sekali. Dengan susah payah, Astarte mulai melafalkan beberapa baris kalimat asing.

"Dios nos ayuda por favor enviados este demonio de nuevo a donde está pertenece…" nafas gadis itu semakin tersengal-sengal. "En su bendíganos sobrevivirá."

Seketika gumpalan asap hitam itu tersedot sebuah pusaran yang mendadak muncul di angkasa, sampai akhirnya menghilang tanpa bekas. Tubuh Eris roboh. Tanah di sekelilingnya berubah menjadi merah membara dan tubuh tak bernyawa itu mulai mengepulkan asap putih beraroma busuk.

Sementara itu Astarte tak mampu merasakan apa-apa lagi saat tubuhnya ambruk ke tanah. Energinya terkuras habis-habisan. Pandangannya sudah benar-benar gelap. Dia buta. Begitu pula dengan keheningan mencekam yang tersisa. Dia telah kehilangan indra pendengarannya juga. Kini yang bisa dilakukannya hanyalah terkapar menanti ajal…