Chapter 10 : Memories
Sehun tidak pernah sekalipun berpikir untuk menonton gay porn. Dengan berbagai alasan yang sampai sekarang mengganggu dirinya;
1). Dia bukan gay. Dari dulu sampai sekarang. Mungkin, dirinya adalah jonginsexual sekarang.
2). Penis milik pria lain sangat mengganggunya.
3). Sepertialasan pertama, dia kembali menekankan kalau dirinya.. BUKAN GAY.
Namun, demi kelangsungan hubungan "percintaannya"dengan Jongin. Ia rela melakukan research di beberapa situs yang menyediakan gay pornsecara gratis. Video pertama yang menarik perhatiannya berjudul 'fuck me, Bos' yang berdurasi sekitar 15 menit. Sesuai dengan judulnya, video itu secara singkat menceritakan skandal antara bos dengan sekertarisnya. Yang sama-sama pria, dan memiliki penis. Seperti dirinya dan Jongin.
Bos, atau juga top, dalam video itu menggesekkan kepala penisnya pada pipi sekertarisnya. Sebelum, akhirnya sekertaris itu membuka mulutnya dan memaksakan penis yang cukup besar itu ke dalam mulutnya. Sehun yakin kalau penis itu mampu menyentuh tenggorokannya. Sehun mengamati dengan sangat intens bagaimana kepala sekeritaris itu bergerak maju mundur dengan mata terpejam. Sesekali, tangannya meremas dan memijatballs lawan mainnya. Sekertaris itu memajukan dirinya mencoba untuk melahap seluruh milik bosnya itu. Sesaat, dia terlihat seperti tersedak.
Namun, karena sering melakukannya (hello, dia kan pornstar. Duh), pria itu dapat mengatasi semuanya dengan profesional. Ia menarik nafas dan tidak terlihat panik sama sekali. Kemudian, ia kembali menggerakkan mulutnya memberikan oral sex terbaik bagi lawan mainnya.
Sehun mulai membayangkan kalau sekertaris nakal itu adalah Jongin. Ketika, mereka akan menghadiri suatu rapat penting. Tiba-tiba saja, Jongin berlutut di bawah meja dan memberikannya blowjobselama meeting itu berlangsung. Lalu, dia akan mencoba sangat keras untuk menahan desahannya dengan menjambak rambut Jongin. Atau menekan kepala pria itu hingga hidung Jongin mengenai pubic hair-nya.
Ia akan membuat Jongin tersedak. Ia akan membuat Jongin tidak bisa memikirkan apapun, selain penisnya.
God, entah sejak kapan, penisnya sudah menegang dan meminta untuk dibebaskan di bawah sana. Sehun segera menurunkan zipper celana jeans serta mengeluarkan penisnya dari dalam boxer Calvin Klein miliknya. Matanya terpejam, membayangkan Jongin berada di atas kasurnya dengan kaki terbuka lebar, mengundang dirinya untuk masuk ke dalam sana. Satu tangannya mulai bekerja mengocok penisnya sendiri. Temponya cepat, tidak sabar untuk menemukan kepuasaan yang berujung pada orgasme.
Kepala Sehun terayun ke belakang. Di dalam otaknya, ia tengah membayangkan Jongin sedang menghisap penisnya dengan tatapan tertuju padanya. Begitu intens serta sekilas tampak polos, tapi juga memberikan kesan nakal dan menantang. Yang akhirnya membawa Sehun menunju orgasmenya.
Pria itu mengerang begitu cairan orgasmenya meleleh keluarmembasahi tangannya. Ia segera mengambil kotak tisiu yang berada di samping laptopnya. Ia membersihkan tangan serta penisnya. Namun, masih juga merasa kotor serta lengket.
Inilah satu dari banyak alasan mengapa ia tidak pernah suka bermasturbasi.
Sehun memutuskan untuk mandi. Meskipun, jam di dinding sudah mengarah pada angka 11. Ia melangkah malas menuju kamar mandi di pojok kamarnya.
Ia berpikir kalau malam ini akan menjadi malam yang panjang.
.
.
Seperti biasa, Jongin menghabiskan malam minggunya dengan semangkok besar popcorn dan film-film klasik yang di Netflix.
Bedanya, malam ini ia tidak bersama dengan Taemin. Yang biasanya selalu kekeuh menonton film Twlight, sekalipun dirinya tahu kalau Jongin sangat benci film vampir tidak jelas itu.
Jongin menonton film Interstellar dengan segelas cokelat panas dan semangkok popcorn, yang ditempatkannya sebagai pengganti Taemin. Matanya tertuju pada layar televisi, tapi pikirannya melayang memikirkan Taemin yang sudah empat hari tidak kembali ke flat mereka. Jongin tidak bisa menyangkal fakta bahwa dirinya sangat merindukan Taemin. Apapun yang terjadi, bajingan itu adalah sahabatnya. Akan sangat menyakitkan baginya, kalau pertengkaran bodoh semacam ini dapat meretakkan persahabatan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.
Ponsel Jongin yang berada di atas meja nakas berdering kencang. Menandakan kalau ada seseorang yang menelponnya. Sesaat, Jongin berharap kalau orang itu adalah Taemin. Namun, memikirkan Sehun yang daritadi mengirimkan pesan tidak penting padanya. Ia menduga kalau panggilan telpon tidak penting ini pun dari dirinya.
Namun, begitu melihat nama 'mom' tertera di layar ponselnya. Jongin langsung menelan ludah. Ia menerima panggilan telpon itu dengan satu tangan memijat hidungnya. Sebelum ibunya bicara, ia sudah merasakan migren menyerang kepalanya.
"Jongin, nini-ku sayang," seketika, Jongin ingin membanting ponselnya ke lantai. "kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau sudah memiliki kekasih baru sekarang?"
"Kenapa kau tidak menonton televisi? Jadilah, ibu-ibu pada normalnya yang suka nonton infotaiment. Dan bukannya nonton acara satwa liar di Afrika!"
"Apa yang salah dengan itu? Lagipula, sebagai dokter hewan yang bekerja di kebun binatang. Itu adalah hal yang bagus. Anggap saja sebagai referensi,"sanggah ibunya.
Kali ini, Jongin mulai memijat pelipis matanya. "Terserah, ma. Aku hanya tidak ingin kau dimakan singa atau terinjak gajah,"
"Kau tidak perlu mencemaskanmu, Nini," lagi-lagi, nama mengerikan itu. Jongin selalu bergidik ngeri setiap mendengarnya. "Jadi, ayo ceritakan soal Oh Sehun ini!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, ma. Dia tidak seburuk yang kau pikirkan,"tukas Jongin.
"Aku tidak memikirkan apapun, kok," tanda ibunya lalu terdiam sejenak. "Tapi, sekalipun aku memikirkan sesuatu. Itu pun demi kebahagianmu, boo. Aku tidak ingin kau tersakiti lagi,"
Jongin berpikir kalau ibunya sangat pantas mendapat gelar sebagai the best mom ever. Selain sangat mengerti dirinya, ia juga membesarkan dirinya sendirian setelah ayah Jongin meninggal karena sakit keras. Wanita itu memilih untuk tidak menikah lagi dan mendedikasikan seluruh hidupnya pada keselamatan satwa yang semakin terancam (dan juga, Jongin. Obviously).
"Sehun terlalu bodoh untuk menyakitiku," saking bodohnya, ia sampai tidak tahu kalau ia sedang menyakitiku atau tidak.
"Baguslah," ibunya terdiam sejenak membuat Jongin menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. "Kau tahu, kemarin Chanyeol menelpon ibu. Katanya, dia sangat ingin bertemu denganmu," lanjut ibunya memberitahu.
Kali ini, giliran Jongin yang kehilangan kata-kata. Mendengar nama Chanyeol diucapkan oleh bibir ibunya, berhasil membuat seluruh kenangan masa lalu itu terputar kembali seperti film di dalam otaknya. Park Chanyeol adalah suatu kenangan masa lalu yang sangat sulit untuk dilupakannya. Pria itu adalah sahabat kecil dan juga, cinta pertamanya. Chanyeol lah yang membuat Jongin tersadar kalau dirinya tidak pernah tertarik dengan para gadis seusianya waktu itu. Chanyeol juga lah yang membuatnya tersadar kalau mencintai seseorang dapat terasa menyakitkan.
"Oh, benarkah? Dia sudah pulang ke Korea?"
"Katanya, dia sudah pulang dari dua minggu yang lalu. Dia akan menetap di Korea selama beberapa tahun untuk merintis restorannya sendiri," jelas ibunya. Jongin mulai teringat akan saat pertama kali Chanyeol memasak untuknya. Hasilnya tidak buruk sama sekali, hanya saja berhasil membuatnya masuk rumah sakit karena keracunan. "Apa kau baik-baik saja?" ibunya mulai terdengar khawatir.
"Ya, kupikir aku baik-baik saja," bohong Jongin.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu pada Chanyeol. Jika, kau tidak ingin-"
"Sungguh, aku baik-baik saja," potong Jongin. Ia ingin segera mengakhiri panggilan telpon ini dan setelah itu bergegas untuk tidur. Tiba-tiba saja, ia merasa sangat lelah. "Ma, sudah dulu, ya. Aku ingin tidur,"
"Oke. Tidur yang nyenyak, Nina. Bye," kata ibu Jongin untuk terakhir kalinya.
Jongin lah yang memutuskan panggilan. Dia menatap layar ponselnya untuk beberapa saat dan mendapati ada notifikasi berupa pesan dari Sehun. Jongin membuka pesan darinya lalu tanpa dirinya sadari seutas senyum tersungging di bibirnya.
From : Oh Sehun
Sepertinya, orientasiku sudah berubah menjadi jongin-sexual
Ia segera mengetikkan balasan untuk pria itu. Setelah mengirimkan balasan pesan untuknya, Jongin kembali menonton film dengan kepala bersandar pada sofa. Ia menaruh ponselnya di atas meja nakas dalam mode silent. Matanya yang setengah mengantuk perlahan mulai terpejam. Film itu masih berjalan mengisi keheningan di dalam flat.
Ketika, Jongin akhirnya jatuh tertidur. Seseorang melangkah masuk ke dalam flat melintasi ruang tengah. Mata orang itu sesaat tertuju pada layar televisi yang menampilkan film favorit Jongin. Taemin melangkah maju menuju sofa. Ia berdiri di belakang sofa dan seperti dugaannya, Jongin kembali tertidur dalam posisi awkward yang akan membuat pria itu mengeluhkan punggungnya di pagi hari.
Seutas senyum samar tertarik di bibir Taemin. Ia menatap wajah Jongin cukup lama. Dalam hati, ia berbisik meminta maaf. Taemin menjatuhkan tas punggungnya di lantai lalu beranjak duduk di samping Taemin. Meskipun, ia kurang begitu tertarik dengan film Sci-Fi semacam Interstellar. Ia tetap menonton film itu dengan semangkok popcorn yang masih penuh di pahanya. Keesokan harinya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk meminta maaf pada Jongin dan memarahi pria itu saat Jongin mulai mengeluh karena punggungnya.
To : Oh Sehun
Wtf, Sehun.. aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirmu.
Minggu pagi akan terasa lebih indah jika ibunya tidak tiba-tiba berkunjung dan mengacaukan paginya.
Sehun menyesap kopinya dengan wajah muram. Manik matanya bergerak gusar mengikuti gerak-gerik ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ini bukanlah kunjungan biasa yang dilakukan setiap ibu normal pada anaknya. Sehun yakin ada maksud lain yang membuat ibunya rela bangun pagi, datang ke penthouse-nya, lalu menyiapkan sarapan untuknya.
Beberapa menit kemudian, ibunya duduk sambil menyodorkan sepiring waffle serta pancake untuknya. Sehun tahu kalau sebaiknya ia menahan diri dan menanyakan apa maksud kedatangan ibunya. Namun, perutnya berkata lain sehingga memaksanya untuk melahap sarapan tersebut dahulu. Tidak lebih dari sepuluh menit, piring itu sudah kosong tidak tersisa satu potongan kecil pun.
"Aku lapar," sahut Sehun begitu mata ibunya tertuju pada dirinya.
Sehun kembali menyesap kopinya sebelum berbicara. Ibunya masih terdiam dengan senyum mengembang. Untuk pertama kalinya dalam setahun ini, ibunya terlihat seperti ibu normal pada umumnya. Dan bohong, jika Sehun tidak menyukai ibunya yang seperti ini.
"Apa maumu?" pertanyaan itu terlontar begitu Sehun menyadari kalau ibunya tidak akan pernah bisa menjadi sosok ibu yang selalu diinginkan. Wanita itu terlalu egois untuk bisa melihat kalau Sehun masih membutuhkannya – membutuhkan kasih sayangnya.
Alis ibunya terangkat naik, memasang wajah bingung. "Memangnya tidak boleh kalau ibu mengunjungimu?"
"Aku tidak bodoh, oke? Aku tahu kalau ada maksud lain dari kunjung ibu ini," jawab Sehun ketus.
Ibunya menghela nafas. Ia sudah menduga kalau Sehun tidak akan semudah itu dibodohi oleh perhatiannya. "Aku ingin kau memutuskan pacar gay-mu itu!" ibunya memerintah tanpa berkaca pada dirinya sendiri.
"Kau tidak bisa mengatur hidupku! Aku tidak akan memutuskannya," teriak Sehun.
"Aku ini ibumu! Apa kau lupa?" bibir wanita itu bergetar. Sehun tidak tahu lagi apakah air mata yang kemudian mengalir jatuh dari matanya itu nyata atau tidak.
"Kau memang ibuku. Tapi, kau tidak pernah benar-benar menjadi ibuku! Apa ada ibu yang seperti dirimu?" Sehun menggelengkan kepalanya. Wajahnya mengeras serta matanya mengilat tajam. Ia tidak akan termakan lagi oleh sandiwara ibunya. "Tidak. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apa kau masih pantas untuk kupanggil ibu?"
Ibunya tidak menjawab. Hanya isak tangis wanita itu yang terdengar sekarang. Sehun bangkit berdiri memilih untuk menenangkan diri di dalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamar lalu merebahkan diri di atas kasur. Matanya kembali terpejam serta pikirannya terpusat pada satu memori yang selalu dijaga olehnya.
Beberapa potongan memori masa kecil itu mereka ulang di dalam otaknya. Ia dapat mengingat jelas wajah bahagia ayah serta ibunya ketika mereka sedang piknik bersama di pinggiran Sungai Han. Waktu itu, Sehun masih berusia lima tahun. Ia masih mengingat jelas senyuman lebar ayahnya saat ia sedang berlari mengejar ibunya. Memori itu masih terasa hangat di dalam dirinya. Seperti baru terjadi kemarin dan bukannya bertahun-tahun yang lalu.
Sehun tidak pernah bisa membenci ibunya. Karena ia tahu kalau wanita itu bisa menjadi ibu terbaik yang dahulu sempat dimilikinya. Jika saja, ibunya mau berubah. Mungkin, semuanya tidak akan menjadi serumit ini.
.
.
"Aku minta maaf!" teriak Taemin membuat Jongin berhenti mendesakkan sendok sereal ke dalam mulutnya. "Aku benar-benar minta maaf,"
Mata Jongin bergerak naik dari perut kotak-kotak Taemin (sejak kapan bajingan ini shirtless?) dan terpaku pada wajah memelasnya. Dengan mulut penuh sereal, ia berbicara dalam bahasa alien, "Ashu jusha miewnta muuf!"
Walaupun, Taemin sama sekali tidak tahu apa yang Jongin ucapkan. Pria itu memilih untuk menganggukkan kepalanya sambil meremas bahu Jongin. "Iya, Jongin. Iya," dan setelah itu, mereka kembali bersahabat lagi. Jongin membiarkan Taemin menghabiskan serealnya dan Taemin membiarkan Jongin mengeluh tentang punggungnya.
Seperti biasa, mereka melewati pagi dengan rebutan remote tv atau saling menendang di atas sofa. Kali ini, Taemin membiarkan Jongin menang dan terpaksa menonton acara pencari hantu di saluran Syfy. Dia juga membiarkan Jongin menguasai sofa mereka. Intinya, pagi ini Taemin berperilaku lebihbaik kepada sahabatnya. Katanya, itu sebagai permintaan maaf karena telah menjadi bitch yang menyebalkan disaat Jongin membutuhkannya.
"Hei, kau tidak pergi keluar atau melakukan sesuatu bersama Sehun hari ini?" tanya Taemin saat acara setan itu (akhirnya) selesai.
Jongin melirik ponselnya lalu berbalik melirik Taemin. "Huh? Maksudmu, seperti date begitu?"
"Iya, seperti date atau entahlah. Kau yang lebih jago kalau urusan relationshit seperti ini. Kau tahu, kan, kalau aku hanya pernah pacaran sekali. Itu juga cuma tiga bulan atau malah kurang," Taemin menghitung jarinya berusaha mengingat berapa lama dia berpacaran dengan Minho. Sebelum, akhirnya menyadari kalau Minho itu lebih cocok dijadikan teman sekaligus fuck buddy-nya.
"Well, I'm not a whore like you. Anyways, aneh tidak sih kalau aku mengajak Sehun kencan? Aku tidak mau memberi kesan kalau aku sangat ingin berkencan dengannya. Well, mungkin aku memang ingin berkencan. Tapi, ada baiknya kalau-"
"Stop, Jongin!" Taemin membekap mulut Jongin dengan telapak tangannya. "Ambil ponselmu, dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan daritadi!"
Jongin mendelik jengkel ke arah Taemin. Namun, dia melakukan apa yang Taemin perintahkan lalu kembali menendang bokong Taemin. Seperti rutinitas mereka setiap minggu pagi, Taemin dan Jongin kembali menendang dan menyakiti (secara fisik) satu sama lain sampai ponsel Jongin berbunyi 'krongg' menandakan kalau ada seseorang yang mengirimkan pesan padanya.
Jongin memukul kepala Taemin untuk terakhir kalinya. Sebelum, meraih ponselnya dan melihat notifikasi pesan yang ternyata dari Sehun.
From : Sehun
Kencan pertama kita! Fuck yeah, Jongin.
Akhirnya, Kim Jongin mengajakku berkencan. I feel like a fucking princess now lol
Jongin tertawa kecil layaknya seorang idiot. Ia mulai memikirkan apa jadinya kalau orang-orang yang selama ini menganggap Sehun super hot atau sebagai Sex God mengetahui kalau sebenarnya pria itu seperti anak berusia lima tahun yang super childish. Jongin menggelengkan kepalanya lalu bangkit berdiri.
Dan untuk serangan terakhir, Taemin menendang bokong Jongin sampai pria itu terjatuh.
"KENA KAU, BITCH!"
.
.
Rin's note :
Nggak ada sekai's moment.. but, I hope you like this chapter.. awalnya aku udah nulis smutt di chapter ini cuma KEHAPUS! Jadi, aku bikin dari awal lagi dan mutusin smutt-nya next chapter aja setelah mereka date. 4 atau 3 chapter lagi fanfic ini bakal END huhuhu..
p.s sehut is so hot and yet, so childish and kind of cute..
p.s.s chanyeol nggak bakal jadi tokoh antagonis gitu kok.. he's straight lol (SPOILER SPOILER)
