*Author pov*

"waahhh tidak terasa ya, 2 bulan lagi kau akan melahirkan..." kata umma Ren saat dia menelpon anak tercintanya itu.

"hehehe iya umma.. coba kau tau bagaimana tubuhku sekarang,, aku sangat malu melihat diriku sendiri.." jawab Ren

"Kau kapan jadi pulang ke korea? Umma menunggumu..."

"minggu depan, umma.. aku berencana melahirkan anakku disana.."

"yasudah, kau jaga kesehatanmu baik-baik.. dan sampaikan salam umma untuk Aron ya.." kata umma Ren lalu menutup telpon.

Usia kandungan Ren kini telah memasuki bulan ke 7, dan dia memang sudah harus siaga jika sewaktu-waktu mengalami kontraksi. Aron pun lebih sering membantu dan menjaga Ren di rumah jika dia tak ada kegiatan.

Selain cemas menanti kelahiran anak pertamanya, dalam hati kecil Ren sebenarnya juga takut karena ini merupakan kali pertama dia akan melahirkan. Mengingat usianya yg masih muda juga, seharusnya dia masih bisa bersenang-senang.. dia tak pernah menyesali keputusannya untuk menikah muda.

"ini... aku sudah beli tiket.. 2 hari lagi kita berangkat" kata Aron saat dia memasuki rumah.

"iya,, aku sudah mengemasi barang-barang kita.. kita tinggal berangkat saja "

Aron mendekat ke arah Ren, memeluk istri cantiknya itu dengan penuh rasa sayang dan sesekali tak lupa dia mengusap perutnya yg buncit itu. Dia mencium kening, hidung, dan bibir Ren seperti biasanya.. dan Ren pun membalasnya walau dengan pelan.

"aiisshhhh... kau ini.." teriaknya saat Aron menggelitiki badannya.

"hahaha aku hanya menggodamu, cantik.."

"dasar penggoda !"

Mereka tertawa bersama, lalu mata mereka saling berpandangan dan mereka menyadari bahwa mereka saling mencintai satu sama lain.

"aku mencintaimu..." bisik Aron.

"aku mencintai kalian berdua.." balas Ren.

"berdua? "

"ya, berdua... kau dan anak kita.. aku mencintai kalian.."

Tiba-tiba ada yg mengetuk pintu rumah mereka, dan Aron sudah menebak bahwa yg datang adalah umma dan appanya..

"hai sayang.. kudengar kalian akan kembali ke korea, betul? " tanya umma Aron.

"ya, umma.. waeyo?"

"ani.. umma kemari ingin memberikan ini, " katanya sambil memberikan sebuah kotak besar.

"apa ini, umma?" tanya Aron.

"itu baju-baju untuk anak kalian nanti.. " jawab appa

"apa nanti umma tidak ingin menyusul kami ke korea? Yaah.. umma tidak ingin menyaksikan anak ini lahir? " tanya Ren sambil memperlihatkan ekspresi sedihnya.

"pasti... mungkin akhir bulan depan umma akan kesana.." katanya.

*Author pov end*

Ketika kau meyakini apa yg kau kira itu kebahagianmu..

Jangan pernah tidak memikirkan apa yg akan jadi resikomu..

*Ren pov*

Aku menyusuri jalanan rumah sakit, hari ini aku akan check up kondisi kehamilanku. Aku ada janji dengan dokter, dan aku memutuskan untuk datang sendiri saja.

"nyonya Ren... sebenarnya ada hal penting yg harus ku katakan padamu..."

"katakan saja dok..."

"sebenarnya, rahimmu itu tak cukup kuat jika harus melahirkan secara normal.. dan juga mungkin sebaiknya anak ini dilahirkan secepatnya karena itu akan membahayakanmu ! "

"aku tidak mau.. anak ini belum cukup matang untuk dilahirkan.. aku rela dok, jika aku harus menyerahkan nyawaku untuk anak ini, asal dia selamat.."

"baiklah, jika itu memang kemauanmu.. aku akan beri resep saja agar kandunganmu kuat. " katanya sambil menuliskan resep.

Aku berdiri sambil membawa resep itu dan segera pergi ke bagian apotik di rumah sakit ini. Sepanjang jalan, aku terus memikirkan apa yg dokter katakan tadi. Kenapa bisa semua ini terjadi? Apa karena umurku yg masih muda, sehingga rahimku belum kuat untuk melahirkan? Semua pertanyaan itu menggantung di pikiranku.

Aku berjanji tidak akan menceritakan itu pada Aron, nanti dia sedih... dan aku tak ingin melihatnya sedih dan menangis. Dia terlalu berharga untuk itu, hingga saat dia bertanya... ku bilang semua baik-baik saja.

"sayang, kau sudah siap? Besok kita akan terbang ke korea " kata Aron.

"terbang? Kau punya sayap ya? " jawabku sedikit bercanda.

"hahaha... kau ini ada-ada saja !" katanya.

Keesokan harinya, kami berangkat pagi-pagi sekali ke korea karena pesawat yg kita tumpangi adalah pesawat yg berangkat paling pertama. Sepanjang perjalanan, aku terus saja tertidur karena aku pusing dan rasanya mual sekali.

Setelah berjam-jam di pesawat, akhirnya aku menginjakkan kakiku lagi di kota seoul ini. Umma sudah menungguku di depan bandara, dan Aron sedang mengambil koper kami.

"umma... " teriakku sambil berlari memeluk umma.

"hey, pelan-pelan..." kata umma sambil tertawa

"eeh kenapa umma tertawa -_- " tanyaku.

"hahaha, tidak ku sangka kau segemuk ini ya? " katanya sambil mengelus-elus perutku.

"ayo umma.. kita pulang saja" kata Aron saat dia datang.

*Ren pov end*

*Author pov*

2 bulan berlalu...

"UMMMMMAAAAAAA... !" teriak Ren saat perutnya sakit.

"yaa... ada apa? "

"tolong aku,, perutku sakit sekali... aaakuuuu akkan melahirkan... "

Umma Ren begitu panik karena saat ini hanya ada dia dan Ren di rumah, Aron sedang pergi membeli sesuatu di supermarket. Umma Ren langsung menelpon Aron, dan menyuruhnya untuk segera pulang.

"aahhhh aaaakkuuu tidak kuuat lagii, umma... " kata Ren lalu kemudian aku tak sadarkan diri.

Umma segera membawaku ke rumah sakit saat Aron telah tiba, mereka begitu panik dan takut jika hal buruk terjadi padaku.

"kita harus segera melakukan operasi untuk bisa menyelamatkan keduanya ! " kata dokter.

"bagaimana, Aron? " tanya umma pada Aron.

"lakukan saja apa yg terbaik ! " kata Aron lalu menunduk

Satu jam... dua jam...

Sudah 2 jam Ren ada di dalam ruang operasi. Tak henti-hentinya Aron berdoa dan sesekali dia mondar-mandir di depan pintu operasi. Umma Ren juga dari tadi berdoa untuk Ren.. sampai akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi..

"keluarga nyonya Ren..." sebut seorang suster saat keluar dari ruang operasi.

"ya,, saya suaminya" kata Aron.

"selamat.. istri anda sudah melahirkan seorang bayi laki-laki.. "

"ahh terima kasih suster.. bagaimana keadaan Ren? "

"nyonya Ren baik-baik saja, hanya saja dia sedikit kelelahan sekarang.. "

"bolehkah kami masuk, sekarang? " tanya umma Ren.

"tentu... silahkan..."

*Author pov end*

*Aron pov*

Saat pertama kali aku mendengar tangisan malaikat kecil yg ada di hadapanku saat ini, rasanya aku ngin sekali menangis. Tubuhnya yg begitu mungil, dan masih sangat lemah. Ku perhatikan wajahnya yg bagai malaikat itu, ya.. dia memang malaikat kecilku dan Ren.

Bayi lelaki ini wajahnya sangat tampan, perpaduan dari aku dan Ren. Alis dan matanya terlihat sepertiku, hidung dan bibirnya terlihat seperti Ren... oh ya, dan juga dia lelaki, sama sepertiku.

Ku ciumi bayi itu dalam pelukanku, ku ambil beberapa fotonya dan ku save untuk nanti ku kirimkan kepada umma dan appaku yg belum bisa datang kemari. Aku maklum, mereka sangat sibuk dengan bisnisnya di california.

"sayang... kau sudah lebih baik? " tanyaku saat melihat Ren membuka matanya.

"apa aku masih hidup? " tanyanya.

"tentu.. coba lihat ini anak kita, tampan sekali seperti aku"

Dia tersenyum, dan dia menggendong anak kami lalu menciuminya walau dalam keadaan duduk. Dia memperhatikan wajah anak kami dengan begitu detail, dia memeluk anak itu.

"jadi, siapa nama bayi kita? Kau sudah menyiapkan namanya, kan? " tanyaku.

"tentu... sudah aku siapkan sebuah nama yg bagus untuknya.."

"so? "

"kita panggil saja dia Zelo " kata ren sambil tersenyum memandangku.

*Ren pov end*

To be continued...