Happy Reading

BREATH

Disclaimer : Masasahi Kishimoto

Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura

Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya

DON'T LIKE! DON'T READ!

Chapter 11

Hinata memandangi wajahnya yang pucat di depan cermin, hasil karya dari tidak tidur semalaman di tambah muntah-muntah hebat di pagi harinya. Bukan hanya itu kepalanya juga terasa berputar-putar. Ini sudah pukul 8 pagi, tapi dia masih betah berada di dalam kamarnya di Mansion Hyuga. Nah loh?

Jangan heran! dia sekarang memang sedang berada di Konoha, sebenarnya sejak 2 hari yang lalu. Setelah berhasil membujuk Naruto untuk mengizinkannya berkunjung Ke Konoha dengan alasan merindukan sang ayah beserta saudaranya. Itupun dengan syarat harus mau pulang di antar oleh supir pribadi keluarga Namikaze jika tidak dia tidak di perbolehkan untuk pergi.

Hinata memaklumi ke khawatiran suaminya itu apalagi dia menolak untuk di antar oleh Naruto. Suaminya itu sudah terlalu banyak mangkir dari tugasnya sebagai Dirut saat mengurusi Hinata pasca keluar dari rumah sakit. Padahal alasan sesungguhnya, suaminya tidak boleh ikut karena dia ke Konoha untuk menyelidiki tentang kehamilan Sakura, lalu jika Naruto ikut.. rencananya bisa berantakan dong.

Bahkan dia manggut saja ketika suaminya mengatakan bahwa dia harus memberi kabar 2 jam sekali di luar jam tidur, dengan format sedang melakukan apa, sedang berada dimana, sedang bersama siapa, pulang jam berapa and so on and so for. Hah sudah melebihi anak SMA yang harus bilang ke Ortunya jika mau keluar malam aja. Tapi ya sudah lah demi kelancaran rencana dia melaksanakan dengan baik syarat dari suaminya itu. Namun hal itu hanya berjalan selama 2 hari, setidaknya sebelum pertemuannya dengan sang sahabat Kiba Inuzuka dan Shino Aburame.

Ceritanya, kemarin Hinata rasanya ingin sekali makan ramen Ichiraku, ramen yang di produksi oleh Paman Teuchi yang bertempat di depan Universitas Konoha tempat kuliahnya dulu. Jadilah dia hari itu memaksa sang adik untuk mengantarnya ke tempat itu. Hamabi yang biasanya terkenal dengan orang paling ogah di suruh untar-antar, (ya iyalah emangnya dia kurir) mengikhlaskan melepas julukannya itu demi mengantar sang kakak yang lagi ngidam. Dia kan takut kalau enggak di turuti nanti keponakannya terus-terusan ileran, menghancurkan image clan Hyuga yang terhormat.

Nah saat sampai di tempat tujuan Hinata langsung memesan dua porsi jumbo ramen pedas level 7 membuat Hanabi melotot sempurna dengan kelakuan kakaknya itu. tapi tak heran juga sih, suaminya kan memang maniak ramen fikir Hanabi akhirnya. Hanabi sendiri hanya memesan jus jeruk tanpa ramen, rasanya melihat kakaknya yang begitu nafsu menyantap makanan berkuah di depannya saja dia sudah kenyang duluan.

Saat Hinata akan menyantap ramen di mangkuk ke dua, setelah dalam waktu 3 menit dia menghabiskan seporsi jumbo ramen di mangkuk pertamanya, datanglah Shino bersama Kiba ke tempat tersebut. Bisa di tebak donk apa yang terjadi? Kiba langsung histeris melihat Hinata yang sudah beberapa bulan ini menghilang dari peradaban kaum mereka. Akhirnya mereka memutuskan duduk di meja yang sama untuk mengobrol.

Awalnya obrolan ringan seputar keadaan Hinata, namun suasana seketika menjadi tidak mengenakan bagi perempuan berambut indigo itu ketika Kiba menyebutkan tentang kehamilan Sakura. sebenarnya bukan kabar kehamilannya yang membuat dia tidak enak, melainkan suaminya, aka Naruto Namikaze yang di kait-kaitkan dengan kehamilan tersebut.

Hinata langsung kehilangan nafsu makannya saat Kiba meyakini bahwa ayah dari bayi yang di kandung Sakura adalah Naruto. Katanya dia sempat bertemu dengan Naruto dan Sakura di Tokyo dan sempat mengobrol dengan mereka. Hormon negatif Hinata yang semenjak kehamilannya jadi sering muncul mulai menyebarkan virus negatif ke dalam otaknya membuat dia juga ikut-ikutan mempertanyakan kebenaran itu.

Apalagi sebelum dia ke Konoha, dirinya dan Naruto sempat beradu argumen tentang Sakura. Naruto sangat melindungi wanita itu. Dia juga belum mendapat keterangan tentang pria yang bersama dengan Sakura malam itu, bisa saja pria itu Naruto kan?. Kalau tidak salah Naruto mengatakan malam putusnya Sakura dan Sasuke adalah tanggal 2 Maret, sehari sebelum pernikahan mereka di langsungkan. Besar kemungkinan saat itu Naruto merasa frustasi dan memutuskan menghabiskan malamnya bersama dengan wanita yang dia cintai itu.

Jangan-jangan apa yang di katakan Kiba memang benar bahwa Sakura memang sedang mengandung anak Naruto. lalu selama ini Naruto hanya sedang berakting di hadapannya. Berpura-pura mencintainya untuk menutupi rahasia besarnya. Semua pemikirannya itu mengakibatkan dia berada dalam keadaanya yang sekarang ini. Berwajah pucat karena insomnia, tak nasfu makan, juga dia tidak meminum susu hamil dan vitamin hariannya.

Hinata bahkan tak memeperdulikan e-mail serta panggilan dari suaminya yang terus-terusan masuk ke dalam ponselnya sejak kemarin sore. Entahlah sudah berapa ratus panggilan tak terjawab dan berapa puluh e-mail dari Naruto yang di abaikannya. Pandangannya semakin memburam dan kepalanya semakin berputar, Hinata berpegangan pada meja untuk menyangga tubuhnya yang tiba-tiba melemah lalu kemudian jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Dia tak sengaja menarik nampan berisi segelas susu dan semangkuk sup yang di siapkan maid di atas meja, menyebabkan nampan beserta isinya tersebut jatuh kelantai menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.

.

.

.

.

Naruto terus uring-uringan dari kemarin sore, istri imutnya itu tidak mengirim kabar dan di Hubungi pun tak di jawab. Dia khawatir tentu saja, tidak biasanya istrinya seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanitanya itu.

"Hinata.. ayo angkat!" Naruto menggumam sendiri, Dia mengingat-ingat apa yang telah dilakukannya sehingga membuat sang istri jadi bersikap tidak seperti biasanya. Perasaan dia tidak berkata atau berbuat macam-macam. Istrinyapun baik-baik saja, saat terakhir kali mereka berkomunikasi. Bahkan dia masih melakukan tugasnya untuk mengirimi e-mail 2 jam sekali sesuai dengan syarat yang di tentukannya.

Namun sore harinya terhitung sejak pukul 4 Hinata tak lagi memberinya kabar, waktu itu dia bersikap biasa, kali saja Hinata sedang tidur siang jadi tak sempat memberi kabar. Sikapnya langsung was-was saat sampai pukul 6 sore wanitanya tetap tak memberikan kabar, bahkan ketika Naruto mencoba menghubungi ponsel istrinya namun nihil tak di angkat.

Maka tidak aneh jika dirinya sekarang mondar-mandir di depan meja makan di ruang makan Mansion Namikaze. Dia menolak tinggal di rumahnya jika Hinata tidak ada, jadi selama Hinata di Konoha Naruto menginap di rumah kedua orang tuanya.

Tadi pagi-pagi sekali, sang ibu dan ayah, Minato dan Kushina Namikaze pulang dari Rusia, setelah hampir satu bulan tinggal di sana. Untuk bulan madu katanya.. hah memang mereka mau punya anak lagi dengan usia sudah setua itu?

"Naruto duduklah.. ibu capek melihatmu dari tadi mondar mandir tak karuan" Kushina mulai terganggu dengan kelakuan putranya

"bagaimana aku bisa tenang bu.. jika Hinata tak memberikan kabar bahkan dia tak mengangkat telponku dan tak membalas e-mailku. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada nya dan juga calon anak kami" Naruto nyerocos, tak sadar bahwa dia sudah menyebutkan rahasia besar yang membuat mata Kushina dan Minato menatapnya tak percaya

"ap-apa yang kau katakan Naruto? ulangi!" Kushina bertanya tak sabaran

"apa maksud ibu?" Naruto bingung, dia belum sadar dengan ucapannya tadi

"kau bilang anak kalian?" Kushina mempertanyakan pendengarannya

"Oh shit.." Naruto lupa dia dan Hinata sengaja merahasiakan kehamilan itu, tadinya itu akan menjadi kado ulang tahun untuk ibunya yang jatuh dalam waktu beberapa hari lagi. tapi karena kepanikannya ini rencana yang sudah di susun sang istri itu malah berantakan. "mmm.. itu..ano...maksudku" Naruto terlihat gugup

"kau kenapa Naruto menjadi tertular kelakuan istrimu yang suka gagap? Cepat katakan" Kushina makin tak sabar

"hah... Hinata sekarang sedang hamil bu" Ya mau tidak mau dia harus membocorkan rahasia itu sekarang.

"benarkah! Ya tuhan.. akhirnya... tak sia-sia aku berdo'a siang dan malam untuk meminta cucu" Kushina mulai menjerit-jerit kegirangan sambil menangis tersedu-sedu. Membuat dua pria di hadapannya hanya bersweat drop ria.

"ekhem.." Minato berdehem menyadarkan sang istri yang mulai kumat sifat anehnya "jadi berapa usia kandungan istrimu Naruto?" lanjut Minato

"mm.. kalau tidak salah sekarang usianya menginjak 9 minggu ayah" jawab Naruto sambil mengingat-ingat usia kandungan istrinya yang di sebutkan dokter kandungan saat Naruto mengantar Hinata untuk check up sebelum berangkat ke Konoha.

Minato hanya mengangguk dan perhatiannya kembali pada Kushina yang sepertinya sudah sadar dan kembali ke sifat semulanya.

"lalu kenapa kau uring-uringan Naruto. ibu tadi dengar kau sebut-sebut Hinata tidak menghubungimu?" tanya Kushina

"iya...bu.. dari kemarin sore Hinata tidak memberiku kabar. Aku terus menghubunginya juga, dia tak mengangkat telponku atau tak membalas satu pun e-mail yang ku kirim. Aku khawatir" jawab Naruto

Kushina merasa terharu melihat putranya begitu mencintai Hinata, terlihat dari dirinya yang begitu kacau. Padahal Hinata tidak mengirimkan pesan padanya hanya dalam waktu beberapa jam saja. Tak sia-sia dia memutuskan untuk menikahkan putranya dengan putri sahabat baiknya itu.

"sudahlah Naruto, kau tenang saja tidak akan terjadi apa-apa pada Hinata, apalagi sekarang dia sedang berada bersama keluarganya. Kau tahu sendiri bagaimana protektifnya mereka pada Hinata. sebaiknya kau makan dulu, baru lanjut uring-uringannya." Komentar Kushina yang membuat Naruto serta Minato mengernyit aneh

"bagaimana kau ini sayang, masa uring-uringannya di lanjut?" Minato membuka suara sementara Kushina hanya mengangkat bahu tak peduli.

Naruto memutuskan untuk pergi dari ruang makan, tak ada gunanya juga dia berada disana. Ibu dan ayahnya sama sekali tidak membantu. Baru akan beranjak dar ruangan makan ponselnya berdering.

My Lovely Hinata is calling

Tanpa fikir panjang Naruto langsung menjawab.

"say..." baru juga Naruto akan berucap namun keburu di potong oleh orang di sebrang

"Naruto!"

Anehnya itu bukan suara Hinatanya, melainkan suara maskulin. Ciri khas seorang pria. Fikirannya sudah kemana-mana. Jangan-jangan istrinya di culik.

"Hei...siapa kau! Berani-beraninya memegang ponsel istriku. Mana Hinata?" Naruto menyentak

"begitu cara bicaramu pada kakak iparmu sendiri heh Naruto!"

Kaka Ipar? Oh astaga ternyata ini Sadako eh Neji maksudnya..

"Ahahaha...maafkan aku Neji.. aku kira kau yang menculik istriku?" Naruto tertawa canggung "ngomong-ngomong di mana Hinata?"

"Hinata masuk Rumah Sakit. Ku tunggu kau 7 jam dari sekarang untuk datang ke Konoha, jika tidak kau tak akan bisa bertemu dengan adikku selama-lamanya!"

"appa! Kau sudah gila Neji.. hei untuk sampai ke Konoha aku membutuhkan waktu 8 jam."

"jadi kau mengatakan aku gila. Kalau begitu 5 jam dari sekarang kau sudah harus ada di Rumah Sakit Konoha"

"buk.. " ucapannya terpotong karena sambungan telponnya ternyata telah terputus "dasar Sadako berengsek.. bagaimana bisa aku sampai Konoha dalam waktu 5 jam?" umpat Naruto sambil berlari menuju garasi mobil.

Waktu kematian Sasuke saja dia sampai harus menghabiskan waktu 14 jam untuk sampai ke Konoha,. selain karena jalan bebas hambatan menuju Konoha sedang di perbaiki sehingga dia terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih memutar, saat itu dia juga memakai mobil biasa.

Naruto membuka kain pelindung sebuah mobil yang terparkir apik di garasinya. Saat cover itu terbuka terlihatlah sebuah mobil sport berwarna Kuning. Kyubi.. Julukan yang di berikannya untuk Hennessy Venom GT. Si Kuning yang berkekuatan kuda ini bisa menempuh jarak 100 km hanya dalam waktu 2,7 detik. Mobil yang hanya di produksi 29 unit ini di bandrol dengan harga 1,5 juta dolar. Dia mendapatkan Mobil kesayangannya ini dari kakeknya Jiraya, sebagai hadiah atas usahanya meraih gelar sarjana. Hadiah yang memang di janjikan kakeknya itu jika Naruto lulus dengan gelar cumlaude.

Si kuning berharga yang di julukinya dengan Kyubi, bisa saja mencapai Konoha kurang dari 5 jam yang notabenenya berjarak 318 Km. Berdo'a saja jalanan tidak sedang ramai, sehingga dia bisa mengemudi kendaraan ini dengan kekuatan penuh.

.

.

.

.

Kushina dan Minato saling berpandangan ketika melihat putra mereka, berlari ke arah garasi sambil mengumpat.

"Suamiku.. ada apa dengan anakmu?" tanya Kushina pada Minato

"sayang.. dia anakmu juga. Dia memang serupa denganku, tapi kau lupa wataknya menurun dari siapa?" protes Minato

"ehehehe... iya.. iya dia anakku juga. Ada apa gerangan dengan anak kita?" ralat Kushina akhirnya.

Minato hanya mengangkat bahu lalu meminum airnya.

"sebaiknya kita hampiri saja dia" ajak Minato kemudian berdiri dan berjalan menuju garasi mobil di mansionnya. Kushina mengikuti suaminya dari belakang.

Pasangan suami istri itu tiba di Garasi, bersamaan dengan mobil kuning Naruto yang melesat keluar gerbang Mansion Namikaze.

"mau kemana anak itu dengan mobil sportnya?" tanya Kushina lebih pada diri sendiri. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian menekan beberapa nomor. Sementara Minato hanya terdiam melihat mobil sang putra menghilang dari pandangannya.

"anak itu .. kenapa telpon dari ibunya sendiri tak di angkat?" gumam Khusina sambil melihat ponselnya yang sedang meredial untuk menghubungi Naruto.

"dia sedang menyetir Kushina, mungkin nanti dia akan menghubungi kita. sebaiknya kita lanjutkan sarapan" ajak Minato sambil menggandeng tangan istrinya.

Benar saja sesampainya di meja makan, ponsel Kushina berdering.

"Naruto! kenapa kau tidak mengangkat telpon ibu tadi. Lalu kenapa kau pergi terburu-buru?" Kushina langsung mencerca Naruto yang berada di sebrang line telpon

"aku sedang menyetir bu.. jadi tak bisa mengangkat telpon dari ibu. Ini saja aku menggunakan mode handsfree agar bisa menghubungi ibu. Aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju Konoha. Hinata masuk Rumah Sakit"

"Apa! Ada apa dengan menantuku Naruto? kenapa kau tidak memberi tahu ibu, malah main melesat begitu saja?" Kushina mencak-mencak

"aku juga baru tahu tadi saat Neji menghubungiku dan dia hanya memberikan waku waktu 5 jam untuk sampai ke Konoha. Jadi aku tidak sempat memberi tahu ibu. Oh ya bu.. jika ibu mau ke Konoha tolong bawakan bungkusan yang ada di atas tempat tidur di dalam kamarku"

"baiklah.. jadi dimana kau sekarang Naruto?"

"aku sudah dekat dengan perbatasan Bu.. sudah dulu ya.. aku pergi bu.."

"ya tuhan anak itu, baru 10 menit dia sudah sampai perbatasan" gumam Kushina setelah menutup sambungan telponnya

"kenapa sayang?" Minato akhirnya membuka suara setelah melihat strinya meletakan ponselnya di atas meja

"Hinata masuk rumah Sakit, kita harus segera ke Konoha. Mmmm.. Minato bisakah kau mengeluarkan mobil merah dari garasi?"

"apa yang akan kau lakukan dengan mobil itu Kushina?" Minato bertanya was-was

"tentu saja kita akan memakainya menuju Konoha, agar perjalanannya lebih cepat. Kali ini aku yang akan menyetir. Ohh jangan menolak sayang, kau tenang saja meskipun aku sudah belasan tahun tak memegang mobil jenis seperi itu, aku masih mahir kok." Ujar Kushina menenangkan saat mellihat wajah Minato yang memucat.

Tentu saja wajah Minato pucat pasi, bagaimana tidak dia akan di ajak kebut-kebutan oleh istrinya yang selain cantik juga mahir mengendarai mobil di atas kecepatan rata-rata itu. hah dia jadi ingat pengalaman pertama di ajak menjadi pelanggar lalu lintas oleh si setan merah jalanan yang saat ini sudah menjadi istrinya.. Kushina Uzumaki.


Minato Namikaze, Putra dari orang tersohor di Konoha, Jiraya Namikaze dan Tsunade Senju. Pewaris tunggal dari perusahaan-perusahaan milik kedua orang tuanya itu merupakan pemuda yang tampan dan terkesan baik-baki, ciri-ciri seorang Mr. Nice guy gitu lah . Semenjak perceraian antara Jiraya dan Tsunade, Minato terpaksa mengikuti sang ayah untuk tinggal di Rusia. Sementara sang ibu menetap di Konoha. kedua orang tuanya memang sudah berpisah sejak umurnya 16 Tahun.

Namun hari ini sang pewaris muda yang sudah berumur 18 tahun itu sedang berada di Konoha, menghadiri launching pembukaan Rumah Sakit baru milik sang Ibu, Sekaligus pesta ulang tahun ibunya yang ke 46. Dia datang bersama dengan sang ayah. Akhir-akhir ini komunikasi antara ke dua orang tuanya sudah kembali membaik. Dan dia hanya berharap semoga saja di momen ulang tahun ibunya ini, kedua orang yang di sayanginya itu bisa rujuk kembali.

Minato sedang berdiri di samping meja yang menyediakan berbagai minuman saat ibunya menghamipri dia. Sang ibu datang bersama dengan seorang gadis.

"Minato! Kenalkan.. ini adalah Kushina Uzumaki, putri teman ibu.." Tsunade memperkenalkan Kushina pada Minato

"nah.. Kushina.. ini adalah putraku.. Minato Namikaze.." sekarang Minato yang di perkenalkan pada Kushina

"salam kenal Kushina.." ujar Minato

"salam kenal.." jawab Kushina

"kalau begitu aku akan tinggalkan kalian berdua disini" ujar Tsunade lalu beranjak dari sisi mereka.

Minato dan Kushina mulai terlihat mengobrol sepeninggalan Tsunade. Sebenarnya hanya Kushina yang berbicara karena Minato lebih banyak diam mendengarkan ocehan gadis di hadapannya. Gadis berambut merah itu dengan semangat bercerita tentang Konoha, sementara Minato hanya mengangguk-anggukkan kepala.

"hei Minato.. sepertinya kau bosan berada di sini, dari tadi kau terlihat diam saja?" tanya Kushina pada Minato yang dari tadi terdiam

"begitulah. aku memang kurang menyukai tempat-tempat ramai seperi ini" jawab Minato

"ooh.. hei ayo ikut aku"Tiba-tiba Kushina menarik tangan Minato menuju area parkir di luar gedung pesta

"kita mau kemana Kushina?" Minato di paksa naik ke sebuah mobil sport berwarna merah senada dengan rambut gadis yang sekarang sedang duduk di kursi pengemudi di sampingnya.

"kau bilang tidak suka dengan keramaian, maka aku berbaik hati akan membawamu menuju tempat yang pasti akan kau sukai" jawab Kushina "pakai sabuk pengamanmu Minato.. aku akan mengajakmu menari di jalanan" lanjutnya sambil menyalakan mesin kemudian menginjak pedal gas. Seketika mobil sport berwana merah itu meluncur cepat di jalanan Kota Konoha.

Minato berdebar-debar duduk di kursi, bukan karena perasaan gugup yang di pengaruhi oleh feromon, melainkan debaran yang diakibatkan oleh adrenalinnya yang terpacu akibat kecepatan mobil yang ditumpanginya saat ini. Dia melirik ke arah gadis di sampingnya yang dengan santainya tetap menyetir, sementara jam speedometer sudah menunjuk ke angka 160. Ya Tuhan seumur hidupnya di dunia Minato belum pernah membawa mobil di atas 120 km/jam. Dia hanya bisa berdo'a semoga Tuhan memberikan keselamatan pada mereka.

Belum lagi beberapa kali mereka menerobos lampu merah. Dia tak habis fikir pada gadis di sampingnya itu, masih bisa tenang setelah melanggar peraturan. Sekiar15 menit kemudian mereka tiba di sebuah tebing. Kushina menghentikan mobilnya beberapa centi dari ujung tebing, membuat jantung Minato yang dari tadi memnag sudah berpacu dengan cepat seolah-olah ingin berhenti seketika.

Kushina turun terlebih dahulu dengan santainya dari kursi kemudi. Sementara Minato masih mengatur nafasnya. Meredakan debaran jantungnya, tubuhnya lemas sekali. Dia menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan pelan, tak sadar jika pintu mobilnya sudah terbuka dar luar.

"hei Minato ayo turun" Kushina sudah berada di samping Minato, membukakan pintu mobil dari luar.

"..."

"Minato!" Kushina memanggil lagi tapi tetap tak ada jawaban dari pria di hadapannya. Dia akhirnya menatap wajah Minato yang terlihat pucat

"ya Tuhan Minato kau mabuk kendaraan? Aku tidak tahu kalau kau suka mabuk jika menaiki mobil. Aduh bagaimana ini. Hei ayo cepat turun jangan sampai muntah di jok mobil kesayanganku" Kushina mengoceh sambil mengguncang-guncang bahu Minato memunculkan siku-siku di kening pemuda bersurai kuning itu.

"aku tidak mabuk Kushina." Jawabnya kemudian membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil

"hehehe.. aku kira kau mabuk, habisnya dari tadi kau diam saja" ujar Kushina tertawa canggung

"kau.. kau apa-apaan tadi membawa mobil dengan kecepatan seperti setan. Dan apa lagi itu melabrak lampu merah seenaknya. Bagaimana jika terjadi kecelakaan atau ada polisi yang mengejar kita" tiba-tiba Minato mengeluarkan seluruh unek-unek yang sudah di pendamnya selama perjalanan.

Kushina memandang santai Minato yang wajahnya sudah tidak pucat lagi. di gantikan wajah tampan khas blasteran membuat Kushina bersemu merah melihatnya.

"kau tenang saja Minato, selama kau berkendaraan denganku kau tidak akan mengalami kecelakaan atau tertangkap polisi. Kecepatan seperti tadi sebenarnya bukan kecepatan maksimumku. Itu masih standar" jawab Kushina santai menyembunyikan rona merah pipinya yang tadi muncul

"dasar gadis aneh!" gerutu Minato

"hei.. aku bukan gadis aneh tahu. Aku normal" Kushina mengelak

"gadis normal itu, bersikap feminim meskipun dandanannya tomboy. Nah kau... memakai gaun tapi membawa mobil seperti setan merah" gerutunya lagi

"sudahlah Minato.. aku kesini demi kau, tapi kau malah meledekku" Kushina cemberut membuat Minato menyesal telah menjelek-jelekan gadis di hadapannya

"iya..iya aku minta maaf. Jadi ada apa di tempat ini?" akhirnya Minato mengalah

"ayo ikut aku" Kushina menarik tangan Minato ke sisi tebing

"wow..wow Kushina kau tidak bermaksud mengajakku untuk terjun dari tebing ini kan?"

"tentu tidak bodoh.. lihatlah ke bawah sana" Kushina memerintah

Minato menatap pemandangan yang berada di bawah kakinya. Cahaya-cahaya yang di pancarkan dari lampu-lampu di kota Konoha.

"aku tidak tahu jika Konoha punya pemandangan seperti ini. Ujar Minato menganggumi pemandangan di hadapannya

"hmm.. ini namanya tebing Hokage. Jika aku sedang ingin menyendiri, aku selalu datang ke tempat ini. Anggaplah tempat melarikan diri dari dunia luar" jawab Kushina dengan pandangan mengarah kedepan.

Minato mengalihkan pandangan ke gadis yang ada di sampingnya. Seketika dia terpana menatap gadis di hadapannya itu. wajahnya yang hanya terpoles sedikit make up membuat kecantikan gadis itu tetap memancar, dan rambut indahnya yang tergerai berwarna merah berkibar tertiup angin semakin memancarkan kecantikan gadis itu. membuat jantungnya kembali berdebar lebih cepat. Debaran yang berbeda dengan debaran saat dirinya sedang di bawa kebut-kebutan oleh gadis yang sekarang di perhatikannya.


"Minato!" Kushina mengguncang-guncang bahu suaminya yang dari tadi malah melamun

"ah.. i-iya.. ada apa sayang?" tanya Minato saat dirinya tersadar dari lamunan tentang pertemuan pertamanya dengan istrinya tersebut.

"Ya Tuhan Minato dari tadi aku berbicara kau tidak mendengarnya?" gerutu Kushina yang hanya di jawab maaf dari suaminya itu

"aku bilang kita harus secepatnya ke Konoha, jadi keluarkan mobil merah yang ada di garasi. Aku yang akan menyetir" ulangnya lagi

"kita pakai mobil biasa saja ya sayang, aku yang akan menyetir" tolak Minato

"jika kita pakai mobil biasa dan kau yang menyetir, bisa-bisa kita tiba di Konoha saat sudah tengah malam. Cepat turuti perintahku!" mode marah Kushina mulai keluar membuat Minato mau tak mau mengikuti kemauan istrinya itu. hah.. semoga kali ini dia tidak terkena serangan jantung mendadak.

.

.

.

.

Naruto berlari-lari kecil di lorong Rumah Sakit Konoha. Untunglah hari ini jalanan tidak terlalu padat jadi dia bisa sampai ke Konoha dalam waktu 4, 5 jam. Tadi sesampainya di Rumah Sakit dia bertanya pada resepsionist tentang ruang rawat istrinya.

Dia sekarang sudah berada di lantai empat, mencari nomor kamar yang di tempati sang istri.

406, 407, nah ini dia 408. Ruang rawat yang tadi di beritahukan resepsionist. Saat dia akan membuka pintu runagan itu, tiba-tiba ada orang yang memegang bahunya. Naruto membalikan badan dan melihat sang kaka ipar, Neji Hyuga memandangnya dengan nyalang dan satu orang lagi sahabat dari kakak Iparnya itu Rock Lee.

"Nej.." ucapannya terpotong saat Neji menariknya menjauh dari ruang rawat Hinata kemudian Naruto menerima sau pukulan di wajahnya

"apa-apaan kau Neji?" tanya Naruto tak terima

"itu balasan karena kau menyakit adikku bodoh" jawab Neji tajam

"apa maksudmu?"

"kau tidak usah berpura-pura Namikaze. Aku sudah mendengar semuanya. Selama ini kau membohongi adikku kan? Di belakangnya kau masih berhubungan dengan Sakura Haruno?" Neji berkata dengan amarah yang memuncak.

Dia baru tiba dari luar kota saat Hanabi mengabarkan Hinata yang masuk Rumah Sakit Karena stress dan kelelahan. Neji yang penasaran dengan apa yang membuat Hinata, adik yang di rindukannya itu sampai terbaring di Rumah sakit menuntut keterangan dari Hanabi. Sebelum dia berangkat ke luar kota kemarn pagi dia sempat bertemu dulu dengan Hinata dan ke adaannya masih baik-baik saja. Hanabi akhirnya menceritakan tentang obrolan mereka di kedai Ichiraku bersama Kiba dan Shino.

Setelah mendengar semua cerita Hanabi akhirnya dia langsung menghubungi Naruto. Neji benar-benar marah pada pria di hadapannya ini, dia tak sabar rasanya ingin melayangkan kembali pukulan pada wajah pria bodoh itu.

"tunggu Neji.. aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Sakura. Ya dia memang sekarang berada di Tokyo, aku sedang membantunya. HInata juga tahu mengenai hal ini. Jadi kau jangan asal menuduh Neji" jawab Naruto tdak mau kalah

"membantu apa maksudmu hah? Membantu menyembunykan kehamilannya begitu. ja..."

"ap-apa maksudmu Neji. Jadi Sakura sedang hamil?" sebuah suara menghentikan perkataan Neji. Itu bukan suara Naruto, namun suara Lee yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan perseteruan dua pria di hadapannya. Lee memegang tangan Neji yang hendak memukul Naruto

"kau jangan ikut campur Lee.. ini urusanku. Pria ini sudah menghamili wanita lain dan dia juga menghamili adikku."

"cukup Neji. Kau tidak bisa menuduhku sembarangan seperti ini. Ya Sakura memang hamil, tapi bukan hamil anakku. Dia hamil anak Sasuke. Aku hanya membantunya menyembunyikan kehamilan dari keluarga Uchiha" bantah Naruto

"heh.. kau kira aku bodoh sepertimu Namikaze? Sakura bukan hamil anak Sasuke. Dari dulu hubungan antara Sakura dan Sasuke sudah tidak akur jadi tidak mungkin Sasuke menghamili Sakura. lagi pula wanita yang di sukai Sasuke bukanlah Sakura" Neji berujar dengan menahan amarah

"apa maksudmu?" Naruto bertanya tak percaya

"kenapa Namikaze.. kau tidak bisa mengelak lagi bukan?" Neji siap melayangkan pukulannya pada Naruto namun lagi-lagi sebuah tangan menahannya

"tunggu Neji.. jika..jika ayah dari bayi yang di kandung Sakura bukanlah Sasuke, kemungkinan bayi itu adalah anakku" Ujar Lee membuat Naruto dan Neji membelalak tak percaya.


Chapter 11.. semoga ceritanya tidak semakin ngaco ya! dan semoga tidak mengecewakan pembaca.

Oh iya terima kasih untuk yang sudah mereview.. jangan lupa review dengan kata-kata yang enak di baca ya..

sampai jumpa chapter selanjutnya.