Declaimer Always Mashasi Kishimoto
But, this story and some weird words always be mine.
WARNING : OOC, AU, Fantasy, ETC.
Genre : Advanture, Fantasy, Romance, Friendship, Humor, etc etc.
Rate : T+
Pair : SasuSaku
Book One : Destiny We Choose.
By Selenavella
CHAPITRE : XI.
.
"Jadi…," Naruto menaruh telunjuknya di depan bibirnya. "Kau itu Sabaku Gaara?"
"Aa."
"Si pangeran paling ganteeeeeeng dari east part of Alearth?" tanya Ino dengan mata berbinar-binar.
"….kupikir itu sedikit berlebihan."
"Dan, kau siapanya Sakura?" tanya Kakashi.
"Aku temannya saat di Suna Town dulu."
Dan, entah mengapa Sakura sudah jengah mendengarkan beribu-ribu pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya. Semenjak mereka sampai di kapal Piever, semua teman-temannya itu tidak henti-hentinya membanjiri Gaara dengan pertanyaan. Sedikit banyak, ia merasa kasihan pada teman berambut merahnya itu. Ia tahu jelas, Gaara bukan tipe orang yang suka bersosialisasi.
Matanya tanpa sengaja memandangi Sasuke yang berada di dekat jendela kapal yang berbentuk setengah oval. Lelaki itu menampakan wajah datarnya. Sejak Gaara datang, Sasuke sedikit banyak kembali menjadi dirinya yang dulu lagi. Seolah-olah Sasuke yang ia kenal belakangan ini lenyap tak bersisa.
Ujung bibir kanannya terangkat ke atas. Diam-diam, ia penasaran. Apakah itu karena Sasuke cemburu?
Dengan cepat Sakura menggelengkan kepalanya.
Berani sekali ia berpikir seperti itu! Padahal sudah jelaskan! Lelaki itu menganggapnya menyebalkan! Jadi, untuk apa ia merasa cemburu. Dasar bodoh, pikiran macam apa itu Sakura!
"Sakura."
"Ya?" Sakura menatap Kakashi dengan alis yang terangkat. "Ada apa Kakashi?"
"Kau mau bengong terus sambil menatap Sasuke? Atau kau mau memasak?"goda Kakashi sambil menyeringai di balik maskernya. Ah, betapa ia menikmati menggoda murid kecilnya itu.
"Apa sih Sensei," gerutu Sakura. Ia membuang mukanya, lalu buru-buru bangkit dari posisi duduknya. "Aku ke pantry duluan."
Gadis bermarga Akasuna itu nyaris meninggalkan mereka semua, tapi suara seseorang menghentikan langkah Sakura.
"Biar kubantu, Sakura," ujar Gaara.
Sakura kembali di buat heran. Seingatnya, dirinya memang ditugaskan memasak. Kenapa Gaara mau repot-repot membantunya? Dan, memang…
" –Kau bisa memasak?" tanpa sadar, ia mengucapkan apa yang ia pikirkan terlalu keras. Ia lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan cepat begitu menyadari apa yang ia katakan. Ia lalu menyeringai. "Ups, maaf."
"Jangan meremehkan aku, ouka," Gaara mendengus. Ia lalu berjalan ke sisi Sakura. "Ayo?"
"Emh hm!" Sakura mengangguk antusias.
Dan, mereka berduapun berjalan beriringan ke pantry. Tanpa mereka tahu, sepasang mata onyx memandangi keduanya dengan pandangan benci yang terlihat jelas dari wajahnya. Pria Uchiha itu membuang mukanya dengan ekspresi muram.
"Cih, menyebalkan."
Apakah kau cemburu, tuan Uchiha?
.
.
"GAARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Dan, mata berwarna jade itu memandang mata hijau Sakura dengan tatapan datarnya. Ia mengerutkan keningnya. Kenapa gadis berambut merah jambu itu memandanginya dengan tatapan frustasi, eh?
"Hm?"
"Ka-kau…" Sakura membelalakan matanya. "Dari mana kau bisa masak hah!"
"…" Gaara memutar matanya imajinatif. Kadang teman kecilnya ini sering berlebihan kalau bertindak.
"Kenapa bisaaaaaaaaaa! Terakhir kali kau memasak dulu itukan kau membuat buburmu menjadi sesuatu yang entah bisa dimakan atau tidak," Sakura menjulurkan lidahnya. Ia lalu terkikik. "Wah, sudah siap jadi calon suami ya?"
"Ouka," ujar Gaara pelan. "Berhenti mengingat-ingat momen itu."
Dan Sakurapun terkikik geli.
Gaara jelas membenci ingatan itu. 2 tahun lalu, saat Sakura tinggal di Suna Town, ia tinggal di rumah keluarga Akasuna, dan kebetulan Gaara masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Akasuna. Sasori yang dulu sangat sibuk, pernah meninggalkan Sakura di keluarga Sabaku barang sebentar. Dan dari situlah Gaara dan Sakura bisa dekat.
Tentang kejadian bubur, itu adalah hal paling memalukan yang pernah Gaara alami. Gaara bukanlah tipe pemuda yang sering wara-wiri di dapur, dan waktu itu tengah malam. Dan Sakura tengah sakit. Kepanikan membuat Gaara tidak bisa berpikir jernih. Alih-alih memasukan satu sendok garam, Gaara malah memasukan satu bungkus garam. Dan jangan lupakan, buburnya gosong karena ia lupa mengaduknya.
Bukannya berterima kasih, gadis itu malah tertawa dengan bubur buatannya.
Harusnya gadis itu bersyukur…
–Karena bisa memakan masakan Gaara yang pertama.
Soal Gaara pertama kali memasak untuk Sakura, rasanya cukup menjadi rahasianya sendiri. Ia tidak mau diledek lagi oleh Sakura.
"Aa, Temari memaksaku ikut kursus memasak bersamanya," ujar Gaara tanpa ekspresi. Ia lalu melepas celemek putihnya. "Kau juga sama tidak bisa memasak Ouka. Kau pikir, –aaaah."
"Iiiih," Sakura mencubit pipi Gaara gemas. "Kalau aku tidak bisa memasak kenapa hah!"
"Apa aku mengganggu kalian?"
Sakura dan Gaara menoleh pada orang yang tengah berdiri di depan pintu. Tanpa melepas cubitan di pipi Gaara, kedua orang itu menoleh bersamaan. Pemuda berambut raven tengah memandang keduanya dengan pandangan sebal –keki kalau boleh kukoreksi. Sasuke bisa di bilang masuk pada waktu yang salah.
"Sebenarnya aku tidak mau menugganggu acara kalian, tapi kami di luar nyaris mati kelaparan, jadi tolong cepat," Sasuke lalu berbalik dan menjauhi keduanya.
Mata Gaara dan Sakura saling bertatapan satu sama lain, seolah bertanya apa yang sebenarnya lelaki itu maksudkan. Dan ketika Sakura menyadari tangannya masih menempel di pipi Gaara. Iapun segera menariknya.
"Duh! Kenapa aku lupa sama mereka?" Sakura lalu buru-buru memasukan chicken fillet buatan Gaara ke dalam masing-masing piring.
"Dia cemburu ya?" tanya Gaara.
"Hah?" Sakura mengerutkan alisnya. Ia berhenti dari kegiatannya. Ia lalu tertawa setelah menyadari apa yang di maksudkan oleh teman kecilnya ini. "Mana mungkin dia cemburu! Sasuke itu manusia dengan es abadi! Dia tidak mungkin cemburu Gaaraaaaa! Hahaha."
"Biasanya orang seperti dia –atau dalam kasusnya sepertiku juga, tidak begitu pintar mengungkapkan ekspresi kau tahu," Gaara hanya mengangkat bahunya.
"Dia itu menyebalkan, dingin, dan tidak mungkin menyukaiku Gaara. Kau lihat deh tatapan matanya," Sakura masih melanjutkan menata piring masing-masing orang. "Mustahil."
"Terserah apa katamu Ouka."
.
.
"Kenapa tidak ada rameeeeeeeeeeeeeeeen?" teriak Naruto frustasi. Pemuda berkulit tan itu lalu memajukan bibirnya. "Tidak lengkap kalau tidak ada ramen!"
"Kalau kau makan ramen terus, yang ada kau itu nanti perutnya membuncit Naruto," Sakura menaruh piring Sasuke di hadapan si bungsu Uchiha itu. "Nah! Ayo kita makan!"
"Itadakimasu!" ujar mereka semua berbarengan.
Suasana di ruang makan itu terlihat lebih cerah. Mungkin karena mereka semua itu dekat sebelumnya, jadi suasana di ruang tengah itu terasa hangat. Kapal ini tidak memiliki ruangan makan. Tapi, ruang tengah tempat berkumpul sangat nyaman untuk dijadikan ruang makan.
"Huaaaaaaaah! Kenyang!" Naruto memukul-mukul perutnya pelan.
"Lebih enak di bandingkan ramenkan?" Sakura menjulurkan lidahnya.
"Ramen itu tidak baik Naruto," tambah Gaara.
"Hiiii, kalian seperti klub pembenci ramen aja," cibir Naruto. "Kenapa kompak sekali sih kalian berdua?"
"Maksudmu?" gadis itu merenyitkan keningnya.
"Heeeeeeeeeeee, Sakura-chan!" Ino tersenyum jahil. "Maksudnya, jangan-jangan kau dengan Sabaku-san itu pacaran yaaaa?"
"Jangan mulai menyebarkan gosip Ino," gerutu Sakura. "Kami itu teman tahu!"
"Yang benar saja! Padahal kalian cocoook! Yakan Naruto?" Ino meminta persetujuan Naruto. Lelaki berambut kuning itu mengangguk setuju dengan Ino.
"Lagipula kau teman merahku, bisa kupertimbangkan mengenai restu untuk berpacaran dengan Sakura," Naruto mengangguk-angguk seolah-olah ia tengah memikirkan hal yang sulit.
Keempat orang ea rahs mengobrol tanpa menyadari tatapan dingin yang di lemparkan Uchiha. Sasuke memilih memandangi langit di luar kapal Piever mereka. Pemuda berambut hitam ini tidak begitu tertarik tentang apa yang mereka obrolkan.
"Cemburu eh?" ujar Kakashi dengan suara rendah.
Jarak Kakashi dan Sasuke memang cukup jauh dari Naruto dan yang lainnya, sehingga ucapan Kakashi tidak mungkin terdengar sampai sana.
"Maksudmu apa," Sasuke terdengar malas menjawabnya. "Jangan berbicara yang tidak-tidak Kakashi."
"Maksudku, kenapa aku melihat seperti matamu berapi-api ya? Seperti ingin mencekik Sabaku Gaara di tempat? Akuilah kau cemburu," goda Kakashi.
"Tidak mungkin, aku tidak ada perasaan apapun terhadap Sakura," gerutu Sasuke.
"Kapan aku berbicara kau cemburu pada Sakura?" Sasukepun menyadari bahwa ia terkena perangkap Kakashi. Sialan. "Aku tidak bilang begitu loh, Sasuke."
"…"
"Tidak bisa membalas lagi ya?"
Dan, mata Sasukepun akhirnya menganalisis gadis yang duduk di sebrangnya. Ia melihat mata hijaunya berbinar-binar saat menjawab candaan Gaara –yang menurut Sasuke sama sekali tidak lucu. Ia tidak pernah mendengar gadis itu tertawa seperti itu.
Sesuatupun rasanya mencubit hati Sasuke.
–apa benar ia cemburu?
.
.
Perjalanan dari Lilth memang tidak jauh. Tapi cukup melelahkan. Sakura menopang dagunya pada sisi jendela oval kapal Piever. Kapal dengan bentuk mirip piringan ini terbang di langit dengan lumayan cepat. Sakura menghela nafasnya, langit malam hari ini rasanya begitu gelap.
Pikirannya terbang pada Ibunya yang terbaring di ranjang di tempat yang jauh di sana. Sedikit banyak dirinya merasakan khawatir. Ia anak yang tidak becus…, menjaga Ibunya saja ia tidak mampu. Kenapa –
"Apa yang kau pikirkan Haruno?"
Suara dingin Sasuke membuat Sakura menolehkan kepalanya. Sasuke menyender pada dinding besi, mata hitamnya memandang Sakura tanpa emosi. Lelaki itu kelihatan belum tidur. Dan, belum mengantuk sepertinya.
"Kau belum tidur?" Sakura mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hn," gumamnya pelan. "Kenapa kau di sini?"
"Hehehe," Sakura tertawa pelan. "Hanya berpikir sedikit. Sepertinya misi kali ini cukup berbahaya yah? Ah, aku khawatir tidak bisa menjalankannya dengan baik."
Sasuke mengangkat bahunya, ia lalu berjalan ea rah Sakura, namun ia terhenti dengan jarak tidak terlalu jauh dari Sakura. "Kau akrab dengan Sabaku ya."
"Dia orang yang berbaik hati merawatku ketika Sasori-nii pergi misi bersama Akatsuki, atau bersama Deidara-nii. Gaara sangat baik padaku, dia teman yang baik dan pendengar setia," kekeh Sakura.
"…"
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"…"
"Sasukeeeeeeeeeeee?" tanya Sakura. Alih-alih menjawab, pemuda itu malah membuang mukanya, dan memilih memandangi langit dari jendela besar di kapal mereka. "Heeei? Kenapa kau –"
Sebuah senyuman jahil muncul di wajah Sakura. Ia lalu meloncat turun dari jendela yang ia duduki.
"Kau cemburu ya?" gadis itu menghampiri dan mencolek bahu Sasuke.
"Jangan bercanda," dengus Sasuke. Ia berusaha memunggungi Sakura, menyembunyikan rona yang ada di wajahnya.
"Ah, jadi benar! Wah wah wah, aku tidak menyangka! Hihihi, ternyata kau bisa jatuh cinta juga ya!" seru Sakura riang. Ia lalu tertawa-tawa. "Ya ampuuun, bagaimana jika seisi Damasquile tahu hal ini! Oh la la la, Karin pasti mati saking cemburunya! Ha ha ha!"
"Sakura," ujar Sasuke dalam nada mengancam, dengan cepat ia memutar tubuhnya. Karena pemuda itu tidak tahu Sakura ada tepat di belakangnya, mereka kali ini menghadap satu sama lain dalam jarak dekat. Wajah Sakura yang mendongak memandangi Sasuke terlihat mulai memerah, jarak mereka terlalu dekat. Pemuda itu bahkan rasanya bisa mendengar detak jantung Sakura.
Keheningan melingkupi keduanya.
Tidak ada salah satupun yang berbicara, keduanya saling menatap ke dalam iris mata satu sama lain. Seolah-olah terjebak dalam dunia mereka, bagi keduanya waktu berjalan sangat singkat. Perlahan-lahan, tanpa Sasuke sadari wajahnya mulai mendekat pada Sakura. Gadis itu memang kebingungan pada awalnya, namun akhirnya ia menutup matanya dan membiarkan instingnya mengambil alih.
Tinggal sedikit lagi…
–Sayangnya takdir tidak merestuinya.
Suara benda terjatuh membuat mereka berdua langsung tersadar dan melompat menjauhi satu sama lain. Keduanya saling membelakangi dan membuang wajah keduanya yang sama-sama memerah –atau lebih tepatnya Sakura yang merona hebat sementara Sasuke hanya sebuah titik samar merah.
Malu.
Jelas kedua manusia ini sama-sama malu.
'Apa yang kau lakukan brengsek,' Sasuke memaki dalam hatinya.
'ASTAGAASTAGAASTAGAASTAGAASTAGAASTAGAASTAGA!'
Sepertinya Sakura bisa mengidap penyakit jantung lama-lama jika ia terus deg-degan dengan hebat begini.
"Ka-Kau! I-Ini –"
Sasuke menggaruk tengkuknya seraya berjalan menjauhi Sakura. "Hn."
"SASUKE!" maki Sakura. Ia memutar tubuhnya, dan menatap Sasuke dengan tatapan galak. Ia lalu menghentakan kakinya ke lantai. "Sudah! Lupakan saja!"
Dan, derapan langkah gadis itu terdengar di lantai menjauhi ruangan itu. Sementara sang gadis pergi dengan wajah kesal, sang pemuda malah berwajah tenang, bahkan tersenyum tipis. Tipis sekali tepatnya.
Tepat setelah kedua orang itu keluar dari ruangan itu. Tiga orang yang saling berimpiran di bawah meja langsung keluar, mereka semua menghela nafas lega. Tentu sesak berada di bawah meja itu, deg-degan takut ketahuan, dan hanya tertutupi oleh taplak meja berwarna biru gelap.
"NARUTO BODOOOOOOOOOOOOOH!" maki Ino, ia memukul kepala Naruto cukup keras. "Kau sih! Padahalkan sedikittttttttttttttttttttt lagi!"
"Yarre yarre, sudahlah kasihan Naruto, Ino," kekeh Kakashi. Matanya melirik pintu dimana 'pasangan' itu pergi setelah awkward moment tadi. "Kukatakan juga apa, pasti mereka bertemukan."
"Uuuh, sakit tahu Ino!" Naruto mengembungkan pipinya dan mengelus-elus kepalanya. "Si teme itukan sudah kukatakan pasti suka! Katanya tidak sukaaa, eh malah maju maju main cium saja!"
Ah, ah, ah…
Seandainya Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura tahu bahwa pembicaraan mereka di kuping.
3 orang itu pasti sudah terkapar mati.
.
.
To Be Continue
.
.
ENDING SONG
Intro
Terlihat Sakura yang berjalan di atas padang pasir dengan baju putih, hanya punggungnya saja yang terlihat. Tangannya terlihat menyeret pedang berwarna perak dengan batu biru di pegangan tangan pedang tersebut. Semakin lama Sakura terlihat makin mejauh dari kamera
moshi ano hi no ame ga yonde itanara
kitto sure chikatte itadakeka mo
Hujanpun turun membuat gadis itu mengengadahkan kepalanya. Kamera semakin dekat dan kemudian berputar menghadap gadis itu dan dari wajahnya terlihat jelas gadis itu tersenyum lembut seraya menutup matanya. tapi, dalam satu detik wajahnya berubah. Matanya membelalak ngeri.
itsumo toori no jikan ni basu ga kitetanara
kimi to wa deau koto ga nakattanda ne
kemudian gambar menjadi berwarna abu-abu dan gambarpun berpindah menjadi gambar jam yang berjalan mundur. Gambar Sasuke, Naruto, Ino, Kakashi dan Gaara. Kemudian gambar ke-5 orang tersebut bersatu dalam satu slide dan slide tersebut pecah seperti kaca.
moshi mo sukoshi demo ano shunkan ga zuretetara
futari wa chikatta unmei wo tadotte shimatteta
scene dimana ke-6 orang itu berkumpul dalam kapal piever dan tertawa satu sama lain muncul. Gambar kemudian menghitam, kemudian gambar Sakura memenuhi setengah layar, dan kemudian di susul gambar Sasuke memenuhi sisanya. Dan Sakura dan Sasuke yang bersebelahan saling melirik satu sama lain dan senyuman kecil terlihat terbentuk dari sudut bibir mereka.
kimi to onaji mirai wo zutto issho ni mite itai
onaji hoshi wo onaji bashou de mitsumete you yo
Terlihat gambar hujan yang turun dari langit yang gelap, kemudian berpindah menjadi bunga mawar merah yang basah terkena air hujan,kemudian berpindah lagi menjadi gambar Sakura dan Sasuke yang berhadapan di guyur oleh air hujan berjalan semakin mendekat dengan satu sama lain. Sementara Sakura memakai gaun, dan Sakura memakai jasnya.
kimi no egaku mirai ni watashi wa iru no kana
Gambar Sasuke dan Sakura memenuhi layar, mereka berdua saling berhadapan. Wajah keduanya sama-sama tersenyum.
onaji sora wo onaji omoi de miagete itai yo
Kemudian sebuah jam saku membelah layar dan gambarpun menjadi berwarna abu-abu, ekspresi keduanya berubah menjadi sedih. Gambarpun menjadi buram.
tatoeba namida no hi mo hare no hi mo futari de
Kemudaian Sceene berubah menjadi lebih terang berpindah menjadi padang rumput hijau, dan Sakura berlari dari arah kamera menuju ke depan yang di ikuti Ino dan Naruto. Dan kemudian Kakashi, Sasuke, dan Gaara berjalan santai mengikuti mereka bertiga.
onaji michi wo itsumade mo te wo tsunaide arukemasu you ni
Kemudian kamera seperti melihat ke arah ke-5 orang itu dari sudut pandang Sakura. Tangan Sakura kemudian terulur ke arah 3 orang di belakangnya. Dan kemudian Sasuke tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya ke arah Sakura juga.
kimi to onaji mirai wo zutto issho ni mite itai
onaji hoshi wo onaji bashou de mitsumete you yo
kemudian kamera berputar kembali dan menunjukan Sakura yang menarik tangan Sasuke dan berlari bersama dengan senyuman terpatri di wajah keduanya. Gambarpun berpindah dan menunjukan jam kembali dengan waktu yang berhenti.
kimi no egaku mirai ni watashi wa iru no kana
onaji sora wo onaji omoi de miagete itai yo
Kemudian scene berpindah menjadi ketika Sakura bangun di ranjangnya di kapal piever. Tangannya memijit kepalanya, dan senyuman terulas. Dan kamerapun maju dan melewati tubuh Sakura menuju jendela kamarnya di kapal piever dan menunjukan pemandangan di luar kapal piever.
Outro
Tulisan destiny we choose terbentuk di langit biru, kemudian kamera berputar-putar dan kembali masuk ke kapal piever menyorot Kakashi, Naruto, Sasuke, Sakura, Ino, dan Gaara kemudian keluar kembali menuju ke jendela.
(Lagu: If – Kana Nishino)
.
.
Arc 1 : Damasquile.
(closed)
.
.
AUTHOR NOTE'S:
HAHAHAHAK TAU KOK TAU AKU LAMA GAK UPDATE! MAAFKAAAN! *gaknyante *capslockjebol
Btw, happy sasusaku fanday! Maaf telat, urusan kampus benar-benar menyita perhatian hiks. Oh iya, dengan ini arc 1 resmi di tutup! Hihihi, dan petualangan di mulai!
Oh ya, maaf ya kalau misalnya gak memuaskan udah lama ga nulis jadi feelnya mungkin ya gitu deh ya. Dan, semoga chapter depan bisa bareng sama dark moon ya updatenya.
Berdasarkan profile saya, iya saya emang hiatus dan entah sampai kapan. Atau tepatnya semi-hiatus kali ya? Jadi, mungkin darkmoon&dwc ini bakalan di updatenya bulan depan…
-atau bulan depannya lagi.
Yap, bunuh saja saya.
.
.
SPECIAL THANK'S FOR :
Everyone.
The silent reader, the reader, the reviewer.
I love you!
Xoxo.
arissachin
