Unexceptionable
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.
A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf
.
.
Enjoy!
.
.
Sakura mengusap tengkuknya saat merasakan ketegangan yang melingkupi ruang klub drama. Ia benar-benar tidak menyangka tantangan sederhana yang ia lontarkan kurang dari sepuluh menit yang lalu akan membawa aura gelap ke dua sosok yang duduk mengapitnya.
"Umm, apa sudah selesai?" tanyanya, berusaha memecahkan keheningan yang membuat suasana semakin tegang. Menurutnya.
Tubuh gadis manis itu tersentak saat suara rubiks yang disentakkan ke atas meja sampai ke telinganya.
"Kalian selesai? Bersamaan?" tanyanya saat menatap dua rubiks yang dimainkan Uchiha bersaudara sudah ada tepat di hadapannya. "Umm, baiklah."
Suara erangan kesal Sasuke adalah hal selanjutnya yang sampai ke telinga sang Haruno muda. Itachi melemparkan seringai mengejek dan menggelengkan kepala.
"Sepertinya kau masih harus banyak berlatih kalau kau ingin benar-benar mengalahkanku, otouto."
"Shut up."
"Work harder, okay?"
"Bastard."
Itachi hanya membalas panggilan penuh nada kekesalan dari sang adik dengan tawa sebelum melangkah meninggalkan ruangan.
"Kalau saja dia bukan asisten dosen di universitas ini, aku tidak akan segan untuk menggunakan panggilan yang lebih 'hebat' dari yang kugunakan tadi," gumam Sasuke dengan tatapan tajam yang mengarah pada satu kotak kecil berwarna merah yang ada diantara kotak-kotak kecil lain yang berwarna biru.
Sakura melepaskan tawa dan menggelengkan kepala. Pertengkaran dan persaingan kedua putra dari keluarga Uchiha itu memang termasuk event yang cukup sering terjadi.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau semua orang tahu kalian sering melakukan pertengkaran kekanakan seperti tadi," cetusnya sembari memperhatikan rubiks yang berhasil diselesaikan Itachi.
"Mereka tidak perlu tahu," balas Sasuke setengah bergumam.
Pertengkaran diantara dirinaya dan Itachi memang sering terjadi, tapi mereka berdua selalu memastikan bahwa tidak ada satu orang asing pun yang ada didekat mereka saat mereka melakukan 'tradisi' itu, karena berbeda dengan saudara pada umumnya, Sasuke dan Itachi sama-sama tidak menyukai ide untuk menunjukkan kedekatan mereka di depan mata banyak orang.
Fakta bahwa Itachi adalah salah satu alumni dan posisi yang kini disandang Itachi sebagai salah satu asisten dosen membuat lelaki itu memiliki dua status yakni sebagai senior dan sensei bagi Sasuke—dan itu menambah alasan mereka untuk tidak memamerkan kedekatan dimuka umum.
Sasuke dan Sakura menolehkan kepala hampir secara bersamaan saat pintu klub dibanting dengan cukup keras. Kekesalan yang sempat tersirat di wajah gadis bermarga Haruno itu menghilang sempurna saat menyadari Neji melangkah cepat mendekati dirinya. Perhatian Sakura dan Sasuke sama sekali tidak terarah pada pemuda berambut kecoklatan itu, melainkan pada pemuda lain yang ada di punggungnya.
"Sakura, tolong pergi ke klub kesehatan. Temui Ino dan katakan aku membutuhkannya disini. Cepat."
Gadis pemilik iris mata berwarna hijau itu hanya bisa mengangguk sebelum berlari keluar, sama sekali tidak mempedulikan kenyataan bahwa ia ikut membanting pintu.
"Apa yang terjadi?" Sasuke memperhatikan Neji yang dengan perlahan membaringkan Naruto di sofa yang sempat ia duduki bersama Sakura.
"Kelelahan dan dehidrasi—sepertiya. Aku tidak tahu pasti."
Sementara Neji duduk di lantai dengan punggung bersandar di kaki sofa, Sasuke menarik mantelnya yang tergantung dan melipatnya sedemikian rupa sebelum menyelipkannya ke bawah kepala sang Uzumaki.
Neji meringis pelan, sama sekali tidak mengira kalau Sasuke akan menarik kerah kemeja yang dikenakannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya adik Uchiha Itachi itu dengan nada datar.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Kelela—"
"Bukan padanya, tapi padamu," potong Sasuke cepat. "Menggendongnya kemari tidak mungkin membuat tubuhmu lebam seperti ini kan? Kecuali ada hal lain yang terjadi sebelum kau membawanya kemari."
Sasuke mengeratkan genggaman tangannya dan menahan tubuh Neji agar tidak bergerak. Warna biru yang menghiasi bagian bahu dan sisi leher Hyuuga satu itu sama sekali bukan indikasi yang baik, dan Sasuke yakin apapun yang terjadi sama sekali tidak dalam batas yang baik.
"Apa yang terjadi padanya? Astaga, suhu tubuhnya cukup tinggi. Neji, lebih baik kau bawa dia ke ruang klubku sekarang."
Sasuke melepaskan genggamannya dan membiarkan lelaki yang memiliki tubuh beberapa senti lebih tinggi darinya itu kembali menggendong Naruto di punggung untuk dibawa ke ruang klub kesehatan.
"Apa yang kau lakukan disitu, Sasuke? Kau tidak ikut bersama kami?" tanya Sakura yang masih berdiri diambang pintu setelah membiarkan ketiga temannya melangkah pergi.
"Kau bisa pergi lebih dulu. Aku akan menyusul nanti."
.
-0-
.
Untuk kesekian kalinya pemuda dengan iris mata oniks itu menghela napas panjang, menahan kekecewaan yang menggelayut di perasaannya.
"Aku tidak tahu kenapa kau tidak bisa menggunakan jabatanmu itu, sekali saja, untuk mencari informasi semacam ini."
Kerlingan bosan dari sepasang mata lain dengan iris yang sama tampak membalas perkataan yang ditujukan pada sang pemilik.
"Bukannya aku tidak bisa menyalahgunakan posisiku, tapi memang tidak ada perkelahian yang terlapor kepada dosen ataupun petugas jurusan."
Sasuke menggelengkan kepala, merasa usahanya untuk meminta bantuan sang kakak benar-benar tidak berguna. Ia pikir posisi Itachi sebagai asisten dosen dapat memberiya celah untuk mencari tahu perkelahian yang melibatkan Neji, tapi ternyata ia tidak mendapatkan apapun.
"Lagipula kenapa kau tiba-tiba mencari tahu apakah ada perkelahian yang terjadi hari ini? Ada temanmu yang terlibat didalamnya?" Itachi kembali memfokuskan pandangan ke laptopnya yang masih menyala. Ia harus memperbaiki slide presentasi untuk materi perkuliahan besok.
Sasuke menghela napas dan bangkit dari duduknya. Pertemuannya dengan sang kakak yang sama sekali tidak membuahkan hasil membuatnya tidak memiliki alasan untuk tinggal di ruang dosen ini lebih lama.
Langkahnya menelusuri koridor kampus terhenti saat telinganya menangkap pembicaraan dua orang gadis yang berdiri tak jauh dari ruang dosen yang baru saja ia tinggalkan.
"Kau yakin mereka berkelahi? Jangan berkata yang tidak-tidak," gadis dengan panjang rambut sebahu menggelengkan kepala kepada gadis lain yang berdiri tepat di sampingnya.
"Aku juga tidak tahu apakah mereka berkelahi atau tidak, tapi aku mendengar suara geraman kesal dan suara pukulan beberapa kali. Aku juga yakin tidak ada orang lain di ruangan itu kecuali mereka berdua," tutur gadis yang diberikan gelengan kepala.
"Kalau kau menyebutkan nama orang lain, aku bisa membayangkannya. Tapi kalau kau bilang Neji senpai dan Naruto senpai berada di satu ruangan yang sama dan berkelahi... umm... bukankah itu tidak masuk akal? Maksudku, kita tidak pernah satu kali pun mendengar kalau mereka berkelahi. Bertengkar saja kurasa mereka tidak pernah."
Sasuke terpaksa mengalihkan perhatiannya kepada pemilik lengan yang baru saja menepuknya dari arah belakang. Ia mengerutkan dahi saat menatap sepasang mata beriris hijau yang dipenuhi air mata.
"Ino meminta Neji senpai membawa Naruto senpai ke rumah sakit."
"Hn?"
Sakura menundukkan kepala dan menarik ujung mantel yang dikenakan pemuda dihadapannya. Uchiha muda itu menghela napas panjang dan menganggukkan kepala, mengerti apa yang diinginkan pemilik tangan yang kini ia genggam itu. Tanpa ragu putra bungsu keluarga Uchiha itu kembali melangkahkan kaki, kali ini tidak hanya meninggalkan ruang dosen, melainkan juga meninggalkan gedung fakultas dan keluar dari area kampusnya.
.
..
-0-0-0-
..
.
"Beri aku alasan yang tepat untuk lebam yang kau miliki di tubuhmu itu, Hyuuga."
Neji mengerang pelan dan menghela napas berat, mengutuk kesialan yang ia alami di pagi hari seperti ini. Entah kenapa ia menyesali penolakan yang ia berikan kepada Ino saat gadis itu menawarkan diri untuk membelikannya satu gelas kopi moka ukuran besar seperti yang sedang dipesannya sekarang.
"Tidak bisakah kau menunggu sampai pesananku datang dan semua nyawaku terkumpul? Aku tidak tidur semalaman, kau tahu?"
Raut wajah putra tunggal keluarga Hyuuga itu melembut saat pelayan datang membawakan pesanannya. Tanpa ragu pemilik rambut kecoklatan itu segera menikmati asupan kafein yang selalu dibutuhkannya setiap hari dan bergumam pelan saat menikmati minumannya itu.
"Kau tidak tidur semalaman?" Sasuke menaikkan alis, menatap lurus sosok yang duduk berhadapan dengannya.
"Aku tidak bisa tidur dengan posisi duduk, sekeras apapun aku berusaha. Aku tidak bisa melepaskan pengawasanku selama masa kritis seperti tadi malam."
Neji menghentikan gerakan tangannya yang hendak mendekatkan gelas ke bibirnya saat menyadari apa yang baru saja terlontar dari mulutnya. Perlahan ia mengangkat pandangan dan menatap sepasang mata beriris gelap yang menatapnya dengan sorot serius, meminta penjelasan lebih lanjut.
"Kelelahannya benar-benar membuat Ino memaksaku untuk membawa Naruto kemari. Aku tidak mengerti masalah medis, untuk keterangan lebih jelas kau bisa bertanya kepada Ino. Yang jelas dokter yang memeriksa Naruto memintaku untuk mengawasinya semalaman dan aku tidak bisa untuk menolak kewajiban itu."
"Kenapa?"
Neji menaikkan alis sembari melemparkan tatapan heran kepada lawan bicaranya.
"Karena dia adalah tanggung jawabku, tentu saja. Kau pikir apa yang akan kau lakukan kalau sahabatmu berada dalam posisi seperti itu?"
Pemilik iris mata berwarna keperakan itu kembali menikmati kopinya yang mulai dingin. Walaupun ia masih ingin menikmati waktunya di kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempat sahabatnya dirawat, ia tidak bisa berada di tempat ini lebih lama dari yang seharusnya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau sangat melindunginya jika kau tidak memiliki perasaan pada pemuda berisik satu itu."
"Apakah aku harus memiliki perasaan tertentu kepada seseorang hanya untuk berdiri di depannya dan melindungiya dari semua hal buruk yang mungkin dia dapatkan?"
"Aku tidak tahu, tapi kurasa kau harus memiliki perhatian lebih untuk bisa melakukan semua itu."
"Kalau begitu, mungkin aku memang memilikinya," Neji meletakkan gelasnya ke atas meja dan bangkit dari duduknya. "Aku tidak tahu apakah ini bisa membuatmu tenang, tapi aku tidak mencintainya seperti yang kau curigai. Kau tidak perlu takut, aku tidak berniat mempersulit usahamu menjodohkannya dengan kakakmu."
.
.
TBC
.
.
Review Reply:
.
.
Kicchan: udah baca? Udah tinggalin review juga kah? :3 Update-annya akan selalu muncul setiap minggu kok ^^
