CHAPTER 10

"Kau terlihat bahagia, Sasuke." tanya Lee terheran-heran. Hari ini dia membawa 100 cd album terbaru Sasuke untuk ditandatangani. Semuanya akan diberikan secara gratis saat konser nanti.

"Benarkah?" Sasuke balas bertanya, sambil terus menggerakkan tangannya dengan lincah.

"Kau terlihat seperti orang bodoh kalau terus tersenyum seperti itu, hentikan." perintah Lee. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi kepada artis sekaligus temannya itu. Dia berbeda.

"Setidaknya aku orang bodoh yang tampan." gumam Sasuke.

"Apa katamu?" tanya Lee kesal.

"Sshh, jangan marah-marah. Aku harus menyelesaikan ini bukan? Kau ini bukannya datang pagi membawa makanan, malah membawa pekerjaan." gerutu Sasuke. Dia tahu Lee tidak benar-benar marah, karena dia memang sering mengganggunya.

"Aku baru ingat, aku sebenarnya datang untuk mengatakan sesuatu." Ekspresi Lee berubah serius, dan membuat Sasuke memperhatikannya. "Naruto sudah kembali."

"Naruto? Berarti Sakura juga." Menyebutkan nama itu membuat lidahnya terasa kelu, Sasuke jelas tahu ini bukan hal yang baik.

"Begitulah. Mereka akan segera menikah." kata Lee lagi.

Sasuke menarik nafas sebelum akhirnya berbicara lagi, "Itu yang terbaik. Setidaknya untuk kita semua."

"Apa kau yakin?"

"Ya, kenapa tidak? Aku tidak mungkin masih menginginkan dia kembali." Sasuke kembali menekuni pekerjaannya. Tangannya kembali menandatangani cd yang ada.

Lee tahu Sasuke memang sudah tidak menginginkan Sakura, tapi tentu saja perasaannya masih ada. Bagaimanapun dia adalah cinta pertama Sasuke. Lee yakin Sasuke pasti masih mengingat kekesalannya saat dia mendapati Sakura berhubungan dengan Naruto dibelakangnya. Meskipun mereka sudah berbaikan beberapa tahun yang lalu, tapi hati yang terluka pasti akan selalu meninggalkan bekas.

Memaafkan Naruto dan Sakura mungkin adalah keputusan paling berat yang pernah Sasuke ambil. Cinta pertamanya dan sahabatnya sejak kecil, ternyata berhubungan dibelakangnya. Sasuke tahu, terkadang cinta memang buta. Tapi dia tidak tahu, kalau dia akan menghadapi kejadian seperti itu. Dia pikir dia sudah terbebas dari mereka berdua, saat keduanya melanjutkan kuliah ke Amerika sementara Sasuke memutuskan melanjutkan studi musiknya ke Inggris. Siapa sangka dua orang itu akan kembali ke Jepang?

"Sasuke, kau dengar aku tidak?" teriak Lee ditelinganya.

"Maafkan aku, Lee. Apa yang kau bilang tadi?" tanya Sasuke tersadar dari lamunannya.

"Aku bilang mari cepat selesaikan ini, jadi aku bisa pulang."

.

.

"Oke, tiket sudah dipesan!" seru Tenten saat menyerbu masuk ke ruangan kerja Hinata dengan penuh semangat.

"Penginapan?" tanya Hinata.

"Sudah! Kau pasti suka penginapan yang aku pilih. Selama berlibur, kau mungkin mau membawa kameramu. Karena pemandangan di sana sangat indah! Kau bisa memotret sepuasnya." jelas Tenten.

"Itu terdengar menyenangkan! Ketika semua pekerjaan selesai, aku akan segera pulang untuk berkemas." seru Hinata bersemangat. Setelah pekerjaan yang melelahkan dan juga kejadian dengan Uchiha Sasuke beberapa waktu lalu. Liburan memang sangat diinginkan oleh Hinata. Lagipula dia memang pernah mendengar banyak fotografer yang memotret di sana. Dia pasti akan bersenang-senang dengan kameranya di Bali.

"Kalau begitu, aku pulang duluan ya? Aku harus mengurus beberapa hal." pamit Tenten.

"Baiklah, sampai jumpa besok. Oh ya, kapan kita akan berangkat?" tanya Hinata memastikan.

"Hari Rabu malam. Kita akan pulang pada hari Minggu. Cukup bukan?

"Lebih dari cukup. Itu sempurna."

"Baiklah, kalau begitu. Jangan bekerja terlalu keras." kata Tenten meninggalkan ruangan Hinata.

Hinata masih mengutak-atik beberapa foto kliennya. Dia selalu menginginkan kesempurnaan dalam semua karya-karyanya. Meskipun itu berarti terkadang dia bekerja sampai larut malam. Tetapi semuanya terbayar saat dia melihat wajah puas dari klien-kliennya, dan mungkin di situlah letak keistimewaan hasil karya Hinata.

"Hinata-san, ada proyek baru dari Kazao-san." seorang karyawan memasuki ruangan kerja Hinata.

"Proyek apa ini?"

"Kau tidak akan percaya, Hinata-san. Proyek ini lumayan menguntungkan. Pernikahan pewaris dari Uzumaki Corp. Perusahaan minyak terbesar se-Asia. Tuan Uzumaki Naruto dan tunangannya Haruno Sakura." jelas si karyawan, kemudian meletakan laporannya di meja Hinata.

"Mereka mau kita membuat pre-weddingnya," Hinata membuka laporan dan melihatnya sekilas, "lihat penawarannya ini. Cukup menggiurkan."

"Mereka juga meminta tema yang cukup menarik, Fairy tale. Bukankah itu keahlianmu, Hinata-san?"

"Tentu saja, hanya saja kita akan perlu banyak property untuk kali ini." Hinata menutup laporannya dan sedikit berpikir, menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan ini. "Katakan pada Kazao-san, kita mulai pembahasan proyek ini minggu depan setelah aku dan tenten pulang. Dia bisa mulai membuat konsep, kita akan bahas nanti bersama-sama."

"Baik, Hinata-san. Sesuai perintahmu."

"Terimakasih, kau sudah boleh pulang." perintah Hinata pada si karyawan.

Hinata juga telah selesai dengan pekerjaannya dan sudah siap untuk pulang. Hari sudah sore dan kantor mereka memang jam kerjanya hanya sampai jam 4 sore, kecuali kalau ada proyek. Pada proyek-proyek tertentu mereka bisa bekerja sampai tengah malam. Jalanan masih ramai, tapi ternyata tidak mudah menemukan taksi. Memang ada beberapa taksi yang lewat, tapi semuanya sudah ada penumpang.

"Sepertinya kau butuh tumpangan." Sebuah mobil berhenti di hadapan Hinata. Hinata menundukkan tubuhnya untuk bisa melihat ke dalam mobil.

"Sasuke-kun?"

"Butuh tumpangan, Hinata?" tanya Sasuke sambil membuka kacamata hitamnya.

"Sebenarnya aku sedang menunggu taksi, jadi sepertinya aku akan tetap menunggu saja." tolak Hinata secara halus. Meskipun mereka sudah bertetangga dengan baik, dan jangan lupakan kejadian tempo hari dan debaran jantung Hinata yang membuatnya terjaga sepanjang malam. Hinata merasa tidak seharusnya dia menerima pertolongan Sasuke terus menerus.

"Ayolah, Hinata. Kau mau pulang kan? Ayo aku mari ikut aku." ajak Sasuke.

"Yakin, tidak apa-apa?"

"Kenapa harus ada apa-apa?"

"Yah, siapa tahu nanti wanitamu akan marah dan lain-lain." elak Hinata.

"Tidak, tenang saja. Jadi ayo naik, sebelum aku diklakson oleh mobil di belakangku." kata Sasuke lagi, yang mana akhirnya berhasil membuat Hinata bersedia naik ke dalam mobilnya.

"Terimakasih, Sasuke-kun. Ini sudah kesekian kalinya."

"Seharusnya kau tidak perlu sungkan, lagipula ini bukan pertama kalinya bukan?"

"Iya, tapi aku jadi merasa tidak enak saja. Selalu menumpang di mobilmu." jelas Hinata. Sudah tidak terhitung berapa kali dia menumpang di mobil Sasuke. Untuk hubungan sebatas tetangga, wajar saja kalau Hinata merasa tidak enak.

"Kalau begitu masak untukku lagi, sebagai gantinya. Bagaimana?" goda Sasuke.

"Oh? Jadi ini caramu untuk membuatku masak untukmu?" kata Hinata memainkan nada jengkelnya yang hanya bercanda.

"Ha ha, sebenarnya tidak. Aku ikhlas membantumu, lagipula aku senang melihatmu. Jadi aku akan lakukan apapun untuk melihatmu." jelas Sasuke sambil masih memfokuskan diri menyetir.

Hinata sedikit terkejut mendengar perkataan Sasuke, Sasuke senang melihatnya. Menyadari Hinata yang masih belum membalas perkataannya, membuat Sasuke sadar sepertinya dia mengatakan hal yang terlalu cepat untuk diucapkan. "Masakanmu, aku benar-benar ingin melihat dan memakan masakanmu. Iya, makanya aku akan dengan senang hati melakukan apapun untukmu." kata Sasuke cepat-cepat mencairkan suasana.

"Terimakasih, aku pasti akan memasak untukmu lagi." jawab Hinata pada akhirnya. "Tapi mungkin kau harus menunggu sampai minggu depan." tambahnya.

"Kenapa? Apa aku harus menunggu selama itu?" tanya Sasuke heran.

"Karena aku dan temanku Tenten, akan berlibur minggu ini. Kami kembali minggu depan." jelas Hinata singkat.

"Berlibur? Kemana?" tanya Sasuke penasaran. Apakah ini artinya dia tidak akan bisa melihat Hinata sampai minggu depan?

"Bali. Kami sudah merencanakan ini sejak tahun lalu. Tempat itu bagus, aku sudah mencari-cari di internet. Apa kau sudah pernah pergi ke sana, Sasuke-kun?"

"Sudah, untuk konserku. Hanya dua hari, dan aku pun belum sempat berkunjung kemana-mana. Hanya hotel, pantai, dan tempat konser."

"Hm, sayang sekali. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan memaksa tinggal lebih lama. Tempat itu sangat indah, dan banyak tempat wisata yang menarik."

"Sebenarnya aku juga ingin begitu, tapi saat itu kami punya schedule yang harus diikuti. Beberapa hari di tempat ini, lalu hari berikutnya di tempat lainnya. Begitu seterusnya sampai setahun." jelas Sasuke.

"Ah, sayang sekali yah. Oh, kita sudah sampai."

"Tunggu sebentar." Sasuke menghentikan Hinata yang sudah akan keluar dari mobilnya.

"Ada apa Sasuke-kun?"

"Ada dua orang di depan sana. Sepertinya bukan penghuni di sini."

"Mungkin mereka tamu atau penghuni baru yang butuh bantuan, ayo kita turun dan tanya apa mereka butuh bantuan." Hinata keluar duluan untuk menyapa dua orang itu, yang sepertinya adalah sepasang kekasih.

"Selamat malam, ada yang bisa kubantu?" tanya Hinata pada keduanya.

"Oh, selamat malam juga. Kami sedang mencari apartemen seseorang. Oh, Sasuke!" Pria itu berteriak sambil berjalan menuju Sasuke. Hinata memperhatikan pria itu kemudian memeluk Sasuke dan Sasuke juga membalasnya.

"Kapan kau datang, Naruto?" tanya Sasuke. Dia membalas pelukan sahabatnya.

"Tadi pagi, aku menemuimu pertama kali. Kau seharusnya senang! Ayo temui Sakura juga." ajak pria yang bernama Naruto itu.

Sasuke memandang ke arah Sakura, wanita dengan rambut merah muda yang pernah memiliki hatinya. Dia menghela napas panjang, "Apa kabar Sakura?" tanyanya.

"Kabarku baik, Sasuke-kun. Bagaimana denganmu? Oh, dan siapa temanmu ini? Tadi kalian keluar bersama." tanya Sakura.

Sasuke beranjak ke arah Hinata, dia memberanikan diri menggenggam tangan Hinata. "Dia Hyuga Hinata, kekasihku." jelas Sasuke.

.

.

.

Hinata merasa cukup terkejut, Uchiha Sasuke baru saja mengenalkannya sebagai kekasih kepada sahabat-sahabatnya. Ditambah dengan bagaimana Uchiha Sasuke menggenggam erat tangannya saat ini. Untuk beberapa detik Hinata terdiam dan terpaku.

"Wah, cantiknya kekasihmu Sasuke. Aku tahu kau pasti mendapatkan wanita-wanita cantik." goda Naruto.

"Terimakasih, Naruto. Selamat juga untuk pernikahan kalian berdua. Bagaimana kalau kita naik ke atas? Kita bisa mengobrol." ajak Sasuke.

"Ide bagus, udaranya sudah semakin dingin." jawab Sakura mengiyakan.

Hinata menarik tangan Uchiha Sasuke ke arahnya, namun sebelum dia bisa protes atau melakukan apapun, Sasuke sudah memohonnya untuk bekerjasama. "Kali ini saja, tolong aku."

Keempatnya kemudian tiba di dalam apartemen Sasuke. Ini kali kedua Hinata memasuki apartemen Uchiha Sasuke. Saat pertama kali datang, dia tidak begitu memperhatikan isi apartemen ini karena dia sedang sibuk mengurus Uchiha Sasuke yang sakit saat itu. Sekarang saat dia punya kesempatan lagi dia bisa melihat dengan jelas bahwa ada sebuah grand piano di ujung ruangan. Grand piano berwarna hitam, terbuka seolah-olah baru saja dimainkan. Kertas kertas musik juga berserakan disekitarnya, pemandangan yang biasa untuk seorang pianis.

"Silahkan duduk, aku akan membuatkan teh." Sasuke mohon diri izin ke dapurnya.

"Aku akan membantunya, buat diri kalian nyaman." Hinata ikut menyelinap ke dapur mengikuti Sasuke. Bagaimana mungkin Uchiha Sasuke meninggalkannya sendirian bersama sahabat-sahabatnya. Mereka bisa tahu dengan cepat kalau dia bukanlah kekasihnya.

"Ada apa ini, Sasuke-kun?" tanya Hinata, meraih poci teh dari tangan Sasuke dan dengan terampil melanjutkan membuatkan teh.

"Mereka sahabatku, baru pulang dari Amerika." jelas Sasuke, masih memperhatikan Hinata. Hyuga Hinata yang sedang berada di dapurnya.

"Oke, tapi kenapa kau bilang aku kekasihmu?"

"Oh itu, agak rumit. Akan aku jelaskan nanti. Bisa tolong aku untuk kali ini saja? Berpura-puralah menjadi kekasihku." Pinta Sasuke.

Hinata menatap ke arah Uchiha Sasuke, dia melihat pria ini sekilas. Dia pasti punya alasan untuk apapun permintaannya kali ini. "Baiklah, kali ini saja ya."

"Terimakasih."

"Silahkan diminum." Hinata menghidangkan teh kepada kedua tamu Uchiha Sasuke, dia juga memberikan segelas untuk Sasuke dan segelas untuknya. Kemudian dia duduk di sebelah Sasuke layaknya seorang kekasih.

"Apartemenmu masih saja berantakan, Sasuke. Apa kalian tidak tinggal bersama? Biasanya rumah lebih terkendali saat ada wanita." kata Naruto bertanya-tanya, rumah sahabatnya ini seperti rumah seorang bujangan.

"Kami tidak tinggal bersama, Hinata tinggal di dekat sini." jelas Sasuke.

"Kau tinggal di mana Hyuga-san?" tanya Sakura ikut tertarik.

"Aku tinggal di lantai bawah, jadi jaraknya dekat dengan Sasuke-kun." jelas Hinata.

"Jadi, jadi, apa panggilan sayang kalian? Kalian pasti punya kan?" Naruto semakin tertarik dengan kekasih baru sahabatnya ini.

"Kami. . " , "Kami belum punya panggilan sayang." Sasuke memotong perkataan Hinata terlebih dahulu. "Kami baru bersama, baru sekitar satu bulan." jelasnya. "Tapi aku senang memanggilnya, Cantik." ujar Sasuke sambil menggenggam tangan Hinata dan menatap langsung ke matanya.

"Begitulah, dia memang sering melakukannya." tambah Hinata. Jantungnya berdebar dengan kencang, dan dia merasa saat ini tangannya pasti sudah keringatan. Apa yang Uchiha Sasuke lakukan, dia tidak perlu menatapnya seserius itu bukan?

"Kalian manis sekali." komentar Sakura. "Ngomong-ngomong namamu seperti nama fotografer yang ingin kami pakai untuk pre-wedding kami. Hyuga Hinata bukan?" tanya Sakura lagi.

"Ah, jadi itu kalian? Uzumaki Naruto dan Haruno Sakura?" tanya Hinata terkejut, siapa sangka dia bisa bertemu calon kliennya secepat ini, seharusnya kan minggu depan. "Aku memang Hyuga Hinata, aku sudah mendapat laporan atas permintaan kalian. Kalian rupanya kenalan Kazao-san ya?"

"Ibuku yang mengenal Kazao-san, jadi kami direkomendasikan oleh Ibuku. Dia bilang kau adalah yang terbaik." jelas Sakura.

"Masih ada yang lebih baik dari aku, terkadang pemberitaan sedikit melebih-lebihkan."

"Tidak, mereka memang benar. Kau memang yang terbaik, Hinata. Cover albumku juga difoto oleh Hinata. Aku sangat menyukainya." tambah Sasuke membenarkan.

"Kalau begitu sepertinya kami tidak salah mempercayakannya kepada anda." kali ini Naruto yang berbicara. "Mari sudahi pembicaraan pekerjaan ini, sedikit tidak enak membahas pekerjaan di rumah seperti ini." tambah Naruto.

"Bagaimana kalau kita makan malam? Aku bisa memesan makanan dari restoran di dekat sini." Usul Sasuke, dia sudah mengambil ponselnya dan mulai menekan tombol-tombol di layar, tetapi Hinata sudah menahan tangannya terlebih dahulu.

"Bagaimana kalau biarkan aku memasak sebentar, bukankah tadi kau bilang kalau kau mau makan masakanku?" tanya Hinata. Memang benar, tadi Sasuke berkata soal masakannya. Mungkin memasak untuknya sebelum pergi dan kembali minggu depan lebih baik. Jadi saat Hinata kembali, dia tidak akan merasa mempunyai janji dengan siapapun. Kecuali dengan pasangan yang akan menjadi kliennya ini.

"Benarkah? Itu ide bagus! Tunggu saja, kalian akan menyukai masakannya." seru Sasuke senang dan bersemangat.

.

.

Sasuke dan Naruto asik mengobrol di ruang tamu, membicarakan masa lalu dan lain-lain. Mereka para lelaki sudah tenggelam dalam obrolan mereka. Sedangkan Sakura akhirnya memutuskan untuk membantu Hinata sebisanya di dapur. Sebisanya, karena memang Sakura tidak bisa memasak, dan Naruto tidak pernah mempermasalahkannya.

"Kau sangat terampil, Hyuga-san." puji Sakura kagum saat melihat cara Hinata memotong. Keahlian tingkat tinggi, layaknya seorang chef di restoran. Dia mengiris wortel dengan ukuran lidi, yang mana semua potongan memiliki potongan dan ketebalan yang sama, dia punya konsistensi yang tinggi.

"Aku hanya senang dan sering memasak saja. Kalau Haruno-san mau belajar, pasti bisa juga." jawab Hinata merendah.

"Um, boleh aku bertanya sesuatu?" Sakura bertanya lagi, yang kemudian hanya dijawab dengan anggukan oleh Hinata. "Kapan pertama kali kau bertemu dengan Sasuke-kun?"

"Hm, sekitar empat bulan yang lalu. Bagaimana denganmu?" jawab Hinata, memang baru empat bulan dia bertemu dengan Uchiha Sasuke. Dan tentu saja dia tidak akan pernah melupakan kejadian dimana dia dan Sasuke bertabrakan.

"Aku mengenalnya sejak kecil. Begitu juga dengan Naruto. Kami bertiga bersahabat sejak kecil." jelas Sakura.

"Senangnya punya sahabat sejak kecil."

"Iya, semua terkadang serasa menyenangkan selama dikerjakan bertiga. Kami tidak terpisahkan. Kemana-mana selalu bertiga, mengerjakan apapun bertiga, bahkan kami masih sekelas sampai kami lulus SMA." jelas Sakura lagi. "Sampai dimana kami mengenal cinta."

"Apa yang terjadi?" tanya Hinata penasaran.

"Aku dan Sasuke-kun berkencan."

Hinata merasa dadanya tercekat, tangannya dengan konstan berhenti bergerak selama beberapa detik. "Oh." Hinata berusaha tetap bersikap biasa dan melanjutkan masakannya.

"Kami saling jatuh cinta, sangat. Kami merasa dunia hanya milik berdua, kami sangat dimabuk cinta. Aku bahkan masih mencintainya sampai saat ini."

"Tapi, Haruno-san, bukankah kau akan segera menikah dengan Uzumaki-san?" tanya Hinata setelah berhasil menenangkan nada suaranya.

"Pernikahan kami masih tiga bulan lagi. Bulan April masih lama, semua hal bisa terjadi. Apalagi Naruto sudah mulai bertingkah dan mulai membuatku marah."

Mulai membuatnya marah? Hinata merasa kesal mendengar omongan wanita di depannya ini. Gaya bicaranya sangat sok dan dia merasa seolah-olah dia bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan.

"Aku mengatakan ini hanya karena aku peduli padamu, Hyuga-san. Aku hanya ingin kau bersiap-siap jika saja suatu saat aku merebut Sasuke-kun. Kau pasti tahu reputasinya kan? Bergonta-ganti pasangan bukan hal baru untuknya dan kau pasti sudah menyiapkan diri jika itu akan terjadi lagi."

"Kau benar." Hinata membenarkan perkataan Sakura, dia kemudian menghadap Sakura agar berbicara langsung menatapnya. "Aku memang sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya jika saja hal-hal itu terjadi. Dan terimakasih atas peringatanmu sebelumnya, aku sangat menghargainya. Sekarangan makanan sudah hampir matang, kau bisa bergabung kembali bersama SAHABAT-mu." kata Hinata dan langsung mengacuhkan Sakura lagi.

Sakura langsung meninggalkan dapur dengan langkah kemenangan, dia sudah sukses memprovokasi Hinata. Hinata sendiri bingung kenapa dia bisa terprovokasi oleh perkataan Sakura, padahal dia bahkan bukan kekasih Uchiha Sasuke. Dia merasa kesal, sekaligus bingung. Bukan hanya bingung kenapa dia bisa terprovokasi, tapi juga bingung dengan apa mau Sakura. Dia sudah akan menikah, dan dia masih mengharapkan untuk kembali mendapatkan sahabat yang merupakan mantan kekasihnya itu. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh wanita itu?

"Kau baik-baik saja?"

"Sasuke-kun!" seru Hinata terkejut, dia bersyukur dia tidak mengayunkan pisau ke arah Sasuke. "Semuanya baik-baik saja, dan ini sudah matang. Ayo bantu aku menghidangkannya."

.

.

.

"Wah makanan yang enak sekali, terimakasih Hyuga-san. Kami pasti akan berkunjung lagi untuk masakanmu ini." puji Naruto. Sama hal dengan semua orang yang sudah memakan masakan Hinata, semuanya pasti menginginkan yang kedua kalinya.

"Iya, tadi sangat enak. Lain kali kami akan berkunjung lagi. Selamat malam." Sakura berpamitan, dia dengan ramah mencium kedua pipi Hinata. Yang membuat Hinata kesal adalah kenyataan bahwa dia juga melakukannya pada Uchiha Sasuke.

"Hati-hati di jalan." ujar Sasuke.

Dia dan Hinata kembali masuk ke dalam apartemennya. Hinata dengan sukarela membantu Sasuke membereskan sisa makan malam mereka tadi. Setelah semua selesai, Hinata yang lelah duduk di salah satu sofa Sasuke.

"Terimakasih banyak, Hinata."

"Tidak masalah, senang bisa membantu." balas Hinata.

Hinata mengedarkan pandangannya dan memandang ke grand piano yang sudah menarik perhatiannya sejak dia masuk. "Bisa kau memainkannya?"

"Oh, kau melihatnya. Baiklah, sebagai rasa terimakasihku. Ayo!" Sasuke duduk di kursi, sementara Hinata berdiri bersandar pada piano itu. Tangannya bersiap diatas tuts-tuts piano itu. "Apa yang ingin kau dengar?"

"Boleh request?" tanya Hinata.

"Biasanya tidak bisa, tapi kali ini special. Jadi, silahkan. Apa lagu yang kau inginkan?"

"Bagaimana kalau Thousand Years dari Christina Perri?" tanya Hinata.

"Pilihan yang bagus." Jemari Sasuke kemudian menari dengan lincah diatas tuts pianonya menghasilkan nada-nada indah yang memenuhi seluruh ruangan dan juga hati Hinata.

Nada-nada yang menghipnotis Hinata yang tanpa sadar menyanyikan lirik lagu itu, lirik lagu yang sangat romantis, menyatakan penantian cinta, pernyataan cinta, dan kesetiaan cinta. Seperti judul lagunya, menggambarkan kesetiaan cinta selama ribuan tahun. Hinata otomatis bertepuk tangan saat lagu telah selesai. Dia merasa lebih baik setelah mendengar permainan Sasuke.

"Satu kali lagi." pintanya.

"Baiklah, aku baru membuat lagu ini. Masih setengah, karena inspirasinya belum ku dapat." kata Sasuke sambil menekan beberapa tuts dan nada-nada indah mulai mengalun indah. "Aku membuat ini sambil memikirkan seorang wanita." kini Sasuke menatap Hinata yang berada di depannya.

"Wanita ini menarik perhatianku. Dia wanita yang aneh. Dia tidak tertarik padaku, aku bingung harus bagaimana. Awalnya dia begitu keras kepala, sangat menjengkelkan. Mengingatnya bisa membuatku sakit kepala seharian. Tapi semakin aku mengenalnya aku semakin tertarik padanya." Sasuke mendapatkan perhatian dan tatapan dari Hinata. "Wanita ini begitu suci, polos, cantik dan baik hati." Alunan indah mulai memenuhi ruangan lagi dan kali ini membuat Hinata terdiam sekaligus terpukau.

Lagu yang baru setengah itu akhirnya berakhir, lagu yang indah, memang bakat Uchiha Sasuke tidak bisa diragukan lagi. Karya-karyanya memang yang terbaik.

Sasuke menunggu-nunggu, apa yang akan Hinata katakan padanya? Apa respon wanita ini? Dia hanya diam saja menunduk, apakah menurutnya lagu itu bagus? Sasuke bisa gila kalau saja dia tidak mendengar suara Hinata dalam beberapa detik lagi.

"Apa kau masih mencintai Haruno-san?" Hinata akhirnya menatap Sasuke lagi. "Apakah alasan kenapa kau memintaku berpura-pura karena dia?" tanyanya lagi.

Sasuke terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Hinata. Seolah-olah itu adalah pertanyaan tersulit yang pernah dia dengar. Separuh dirinya ingin berkata itu tidak benar, karena saat ini dia benar-benar tertarik pada Hinata. Tapi separuh dirinya juga tidak bisa berbohong, perasaannya untuk Sakura masih ada, bahkan setelah wanita itu mengkhianatinya. Uchiha Sasuke masih mencintai Haruno Sakura, dan akal sehatnya benci dengan hal itu.

Mendapati dia tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Hinata akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri. Dia meraih tasnya dan memakai sepatunya bersiap pulang. "Selamat malam, Uchiha Sasuke-kun."

TBC

JENG JENG ~~~

Update kilat lgsg 3 chapter setelah vakum berbulan.

pertama sya mau minta maaf karena menghilang hahaha

karena sudah mahasiswa smester akhir, jadi semakin fokus kuliah.

dan sekrang saya sedang menyusun tugas akhir saya, yaitu skripsi 0.0

teman2, tolong doakan saya supaya skripsi lancar, cpt slsai, seminar dan sidang lancar hahaha *maaf maruk.

supaya saya bisa fokus ngerjain FF ini lagi.. wkwkwk

semoga 3 chapter yang update skligus ini mendapat review yang baik dari teman2 smua ^^

semoga semua suka dengan kelanjutan cerita ini.

bagi yang punya kritik dan saran yang membangun FF bisa dikemukakan di pojok review.

akhir kata, bagi para teman2 pembaca please read and review.

tapi jangan flame sya haha.. masih newbie..

Ms. Na0yuk1 signing out, see you next time!