Disclamer: : Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


Eren sudah memutuskan untuk mengikuti kemanapun Rivaille pergi, ia rela jika harus melepaskan semuanya. Ia sudah yakin dengan pilihannya itu, ia ingin bersama dengan orang yang ia cintai untuk selamanya. Manik hijau itu bertemu dengan manik hitam dan terlihat keceriaan di wajah manis Eren.

"Terima kasih karena sudah memilihku, Eren." ujar Rivaille.

"Iya. Aku mencintaimu, Rivaille." gumam Eren.

Rivaille membelai wajah Eren dan wajah itu merona, manis sekali. Rivaille tidak bisa menahan dirinya untuk merasakan bibir manis yang ada di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya pada pemuda yang lebih muda dan kedua bibir itu saling menempel untuk merasakan kehangatan yang mereka miliki.

Ciuman yang lembut tanpa nafsu, bahkan rasanya bulan yang sedang bersinar dengan terang di malam hari seperti tersenyum melihat kedua pasangan ini. Tidak lama ciuman itu terlepas dan Rivaille melihat wajah kekasihnya yang tampak sangat merah. Ia membelai pipi kenyal itu dan menciumnya lembut.

Malam ini dihabiskan oleh mereka untuk bermesraan. Rivaille memeluk Eren dengan erat dan Eren membalas pelukan itu. Hanya berbagi kehangatan pelukan tanpa ada sepatah katapun yang keluar. Biarkan mereka merasakan masing-masing cinta dari debaran jantung yang mereka dengar satu sama lain.

'Seandainya waktuku terhenti saat ia memelukku.' batin keduanya.

.

.

.

Mikasa hanya bisa terdiam, ia memejamkan matanya dan merasa kesal karena tidak berhasil mengalahkan Rivaille. Ia malah kembali terluka, bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Ia merasa sekujur tubuhnya sakit karena serangan Rivaille. Armin memperhatikan Mikasa dan berusaha mendekati gadis itu, ia melihat raut wajah Mikasa yang terlihat sendu.

"Kenapa aku tidak bisa mengalahkannya?" gumam Mikasa.

"Bukan salahmu, Mikasa. Dark hanya lebih kuat dari kita, itu saja." ujar Armin.

"Tapi Eren? Bagaimana caraku menyelamatkan Eren jika aku seperti ini?"

Armin terdiam mendengar pertanyaan Mikasa, meski ia menyemangati gadis itu tetap saja keraguan akan kekuatan mereka ketika melawan Dark tetap ada. Bahkan sampai sekarang Armin bisa mengerti kenapa banyak yang gagal dalam misi untuk melenyapkan Dark, yang ada mereka akan dilenyapkan oleh sang pencuri ulung juga pembunuh keji itu.

'Tapi kenapa ia tidak membunuh kita?' batin Armin bingung.

Annie yang mendengar kata-kata Mikasa hanya bisa menghela napas, ia tidak mengerti jalan pikiran Mikasa. Mungkin ia sulit untuk mengerti gadis itu, Mikasa juga seperti memberi jarak jauh padanya agar ia tidak mendekat. Lagipula Annie juga bukan tipe gadis yang suka bersosialisasi, ia lebih suka menyendiri dan memperhatikan semuanya dari jauh.

"Kalau kau keras kepala nyawamu akan menjadi taruhannya, Mikasa." ujar Annie.

Mikasa menatap geram ke arah Annie, wajahnya terlihat penuh kebencian. Sasha sudah selesai memberikan pertolongan pertama pada Annie dan terdiam mendengar ucapan gadis berambut pirang itu. Armin juga sudah memberikan pertolongan pertama pada Jean dan membantu pemuda itu untuk bangun.

"Lebih baik kau diam!" ujar Mikasa dingin.

Sasha langsung mendekati Mikasa dan ia berusaha untuk mengobati Mikasa. Armin menatap Mikasa dan Annie, ia heran kenapa dua gadis ini sering sekali berselisih paham apalagi jika menyangkut dengan sikap keras kepala Mikasa. Jean yang dibantu oleh Armin untuk berdiri tampak terdiam dan menghela napas.

"Apa yang harus kita lakukan setelah ini? Apakah Dark akan meninggalkan kota?" tanya Jean.

"Kemungkinan itu ada, mengingat Dark tidak pernah menetap di satu tempat," jawab Armin. "Tapi kita tidak tahu kemana ia akan pergi."

"Aku tahu." ujar Annie.

"Eh?"

Semua tampak terkejut mendengar ucapan Annie, memang Annie satu-satunya yang mengetahui informasi tentang kemampuan Dark melebihi mereka. Pengalaman memang teman terbaik untuk belajar, bukan?

"Kurasa Dark akan pergi ke kota terdekat dari sini. Ia akan mencari target baru dan kembali melakukan hal yang sama." ujar Annie.

"Benarkah itu?" tanya Jean.

Annie mengangguk dan melirik ke arah Mikasa, ia melihat gadis itu tampak terkejut dan memilih untuk diam. Sasha terlihat memikirkan sesuatu, begitu juga dengan Armin. Mikasa berusaha untuk bangun dan menatap Annie dengan wajah datarnya.

"Timku memang memperhatikan Dark dan aku bisa menyimpulkan bahwa ia pergi ke kota terdekat."

Mikasa langsung saja bangun dan berusaha untuk pergi dari tempat ini, ia ingin pulang ke rumahnya dan beristirahat. Armin langsung menyusul Mikasa dan menggenggam tangan gadis itu agar Mikasa tidak terjatuh. Tapi Armin juga masih bisa merasakan tubuhnya sakit, bisa dibilang semua anggota tim ini merasa sekujur badannya sakit.

"Kami pamit dulu." ujar Armin dan ia mengantar Mikasa pergi.

Sekarang tinggallah Annie, Jean dan Sasha. Mereka bertiga juga sudah bangun, Sasha menatap kedua temannya yang tadi terluka itu. Raut khawatir terlihat di wajahnya, ia langsung mendekati Jean.

"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Sasha.

"Tidak apa. Lagipula tadi juga kau sudah mengobatiku." ujar Jean.

Sasha tersenyum dan ia melirik ke arah Annie, sepertinya gadis berambut pirang itu baik-baik saja. Ia menghela napas lega karena setidaknya ia bisa menolong teman-temannya saat mereka terluka. Kemampuan Sasha hampir mirip dengan Hanji meski tidak sehebat ibunya itu tapi ia juga cukup terampil walau terkadang sedikit ceroboh.

"Kurasa kita semua harus pulang." ujar Annie dan ia berjalan meninggalkan kedua temannya itu.

Jean dan Sasha memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, mereka berdua merasa misi yang mereka lakukan sedikit tidak membuahkan hasil. Tidak bohong jika Sasha berpikir misi yang mereka lakukan sia-sia, mereka tidak pernah berhasil menangkap Dark dan berakhir dengan kondisi yang terluka.

'Tapi ini semua demi misi, apalagi kita harus menyelamatkan Eren.' batin Sasha.


Pagi hari telah tiba, pemuda berambut coklat ini terbangun dari tidurnya dan ia melihat sosok kekasihnya yang berada disampingnya. Wajahnya mulai memerah saat melihat tangan kekasihnya itu yang merangkul pinggangnya dengan erat.

"Kau sudah bangun, Eren?" terdengar suara khas sang kekasih.

"Ah, hmm... Pagi Rivaille..." ujar Eren dengan semu merah di wajahnya.

Rivaille tidak berbicara apa-apa dan melihat wajah pemuda manis itu, wajah itu tidak pernah bosan ia pandang. Rasanya menenangkan saja bisa melihat manik hijau dengan rambut coklat itu. Ia telah terjerat dalam pesona seorang Eren Jaeger. Ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Eren lalu mulai membelai rambut coklat itu.

"Ri-Rivaille..." panggil Eren.

"Ada apa, Eren?" tanya Rivaille yang terus membelai rambut Eren dengan lembut.

"Kapan kita pergi ke kota berikutnya?"

Rivaille terdiam mendengar pertanyaan Eren, bahkan ia tidak membelai rambut coklat itu lagi. Eren menatap wajah Rivaille dengan tatapan yang polos tapi sedetik kemudian ia terkejut ketika sang kekasih mencium bibirnya kilat.

"Setelah ini juga bisa kalau kau mau. Kurasa semakin cepat lebih baik." ujar Rivaille.

Wajah Eren memerah dan ia menganggukkan wajahnya, ia tidak menyangka Rivaille harus menciumnya dulu baru memberikan jawaban. Sepertinya sang kekasih senang sekali menggoda dirinya. Rivaille membelai pipi Eren dan menciumnya lembut.

"Sebelum kita pergi, kurasa kita bisa bermain sejenak."

Tangan Rivaille mulai turun dan membelai leher Eren, ia juga mulai mencium dan menjilat pipi Eren. Eren merasa jantungnya berdetak semakin kencang dan membiarkan sang kekasih menyentuhnya seperti itu. Ia memejamkan matanya saat merasakan sang kekasih akan mencium bibirnya, tidak lama kedua bibir itu bertemu dan saling menghangatkan satu sama lain. Mereka berdua tidak ingin melepaskan moment bahagia ini, hanya kali ini saja biarkan mereka mengecap kenikmatan cinta itu.

.

.

.

Pagi hari yang berbeda terjadi pada Mikasa, gadis ini masih saja murung dan terus memikirkan sosok Eren yang tidak ada di sampingnya lagi. Ia menghela napas dan hanya bisa menatap kamar sebelah dengan tatapan sendu. Lagi-lagi ia kehilangan kesempatan untuk membawa Eren pulang bersama.

Kesal?

Tentu, Mikasa sangat kesal sekaligus sedih. Tapi ia masih berpegang pada satu harapan bahwa suatu hari nanti ia bisa mengalahkan Rivaille dan membawa Eren pulang dengannya. Ia tidak peduli jika Annie atau Armin menghalanginya, ia akan tetap maju demi Eren.

"Tapi darimana aku harus memulainya?" gumam Mikasa.

Ia sedang berpikir bagaimana cara untuk menyusul Eren. Ia tidak tahu dimana Eren tinggal sekarang, memikirkan Eren tinggal satu atap dengan rival abadinya itu membuat sang gadis berambut hitam emosi sendiri. Ia geram memikirkan hal itu dan berusaha bangun, ia menatap ke arah cermin yang ada di hadapannya.

Mikasa menyentuh matanya, ia ingat dengan jelas bahwa kemarin Rivaille hendak menusuk matanya dengan pedang yang selalu dibawa pemuda itu. Untunglah Armin bisa menghentikan Rivaille dan penglihatan Mikasa masih terselamatkan. Seandainya saja Rivaille benar-benar menusuk matanya ia yakin hanya bisa melihat dengan satu mata saja.

'Sial!' umpat Mikasa kesal.

Tiba-tiba saja pintu rumahnya diketuk, Mikasa segera menuju pintu dan membukanya. Ia melihat sosok Armin disana. Setelah dipersilahkan untuk masuk, Armin duduk di sofa dan memperhatikan Mikasa. Pemuda berambut pirang ini mengkhawatirkan sahabatnya.

"Kau tidak apa, Mikasa?" tanya Armin.

"Iya. Kau sendiri? Kita semua... terluka karena pria brengsek itu." ujar Mikasa kesal.

"Sebenarnya misi ini bisa kubilang gagal."

"Kenapa?"

"Kita tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Para target telah tewas semua lalu kita yang terluka serta Eren yang diculik. Seharusnya kita bisa mengkategorikan misi ini sebagai misi yang gagal. Tapi secara pribadi, aku mengira masih ada satu jalan lagi agar misi ini bisa berhasil."

"Aku hanya ingin menyelamatkan Eren, aku tidak peduli lagi dengan misi kita."

"Kalau Sir Shadis mengetahui kau bicara seperti itu bisa-bisa kau terkena masalah."

Mikasa tampak tidak peduli dan ia melirik ke arah lain, yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara menyelamatkan Eren dari tangan Rivaille. Armin menatap Mikasa dan ia bangun dari posisinya di sofa.

"Aku berharap kau tidak melakukan hal yang gegabah. Aku pamit dulu."

Armin pamit pulang dan kembali suasana di rumah Mikasa sangat sunyi. Tidak ada suara apa-apa lagi, Mikasa juga memilih untuk diam daripada berbicara. Ia teringat bahwa kota mereka hanya memiliki satu gerbang besar yang menjadi satu-satunya pintu keluar-masuk bagi para penduduk. Semua orang pasti akan melewati gerbang ini.

"Aku yakin ia akan melewatinya dengan Eren. Saat itu tiba aku akan membunuhnya!"


Malam telah tiba tepatnya sekarang baru jam tujuh malam. Masih banyak penduduk dan beberapa orang yang berlalu lalang di kota. Gerbang kota pun masih senantiasa dalam penjagaan, tapi terkadang orang-orang yang menjaga gerbang terlihat bersantai. Mungkin mereka bosan karena seharian ini mereka menjaga gerbang, apalagi hal itu berulang setiap hari.

Rivaille dan Eren keluar dari rumah itu dengan memakai pakaian santai, hanya bermodalkan satu koper saja yang berisi beberapa barang penting. Di keramaian seperti ini kepergian mereka pun tidak akan dianggap aneh oleh orang-orang, hanya dianggap masyarakat biasa yang melewati gerbang.

Rivaille menggenggam tangan Eren dengan erat dan mereka berjalan bersama tanpa ada yang mencurigai. Lagipula tidak ada sosok kelima teman Eren itu sehingga mereka dapat berjalan dengan bebas. Petugas penjaga gerbang juga tidak melihat mereka karena terlalu banyak orang yang berlalu lalang malam ini.

Mereka dapat keluar dari gerbang dengan mudahnya, Rivaille langsung menggenggam tangan Eren dan membawa pemuda berambut coklat ini menjauh dari kota. Mereka akan ke kota berikutnya untuk memulai hidup baru disana. Setidaknya ia ingin agar Eren tidak perlu melihat teman-temannya lagi dan bisa pergi bersamanya dengan tenang.

'Maafkan aku yang egois Eren, tapi ini demi kamu juga.' batin Rivaille.

Setelah jarak mereka cukup jauh dari gerbang utama, Rivaille langsung saja menggendong Eren ala tuan putri dan membawa kekasihnya pergi menjauh dari kota ini. Mereka akan memulai hidup baru di tempat yang baru, seharusnya mereka merasa senang bukan?

.

.

.

Mikasa telah selesai bersiap-siap, ia sudah memakai seragam Recon Corps miliknya dan segera keluar dari kamarnya. Sekilas ia melirik ke arah kamar Eren dan wajahnya terlihat sendu, Mikasa juga terlihat sebagai gadis yang ekspresif jika menyangkut tentang Eren. Seolah-olah pusat dunia Mikasa adalah Eren itu sendiri.

Lagipula sekarang sudah jam 11 malam dan biasanya para penjaga gerbang sudah tidak terlalu sering berjaga. Mikasa keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah gerbang utama kotanya. Ia melakukan hal ini karena keinginannya sendiri, bukan karena misi atau mengikuti teman. Tidak, ia melakukan ini demi menyelamatkan Eren, satu-satunya keluarga yang berharga bagi gadis itu juga pemuda yang ia cintai.

Mikasa melihat beberapa penjaga yang terlihat tertidur, ada yang mengobrol dan tidak melakukan apa-apa. Dalam hati Mikasa kesal melihat tingkah mereka, tapi ia mengawasi gerbang itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.

'Dimana Eren?' batin Mikasa.

Mata hitamnya terus mengawasi tapi ia tidak melihat pergerakan apapun. Gadis ini bukanlah gadis yang gampang menyerah, malah cenderung keras kepala jika menyangkut apapun tentang Eren.

'Jika aku melihatnya aku akan membunuh Rivaille!'

.

.

.

Sepertinya kegiatan Mikasa ini terlihat sia-sia, ia sudah berjaga dan tidak tertidur. Sekarang sudah jam enam pagi dan mata Mikasa tidak terlihat lelah. Pikirannya terlalu fokus untuk menemukan Eren dengan harapan Eren akan melewati gerbang ini. Mikasa menghela napas karena ia tidak menemukan sosok yang dicarinya.

'Aku akan ke markas.' batin Mikasa.

Ia segera berjalan menuju markas Recon Corps, memang Mikasa datang terlalu awal tapi tidak masalah karena ia juga pernah mendengar dari Ymir dan Christa bahwa mereka berdua dan beberapa rekan setim lainnya selalu pulang pagi.

Tidak lama Mikasa sampai di markas dan melihat sosok Armin yang sudah berada disana, ia baru saja keluar dari ruangan Keith Shadis. Mikasa langsung mendekati pemuda berambut pirang itu, Armin terkejut melihat kedatangan Mikasa.

"Mikasa? Kau darimana?" tanya Armin. "Aku tadi ke rumahmu, tapi kau tidak ada disana."

"Aku sedang mengawasi gerbang." jawab Mikasa.

"Untuk apa?"

Armin terdiam dengan pikirannya dan ia baru menyadari sesuatu, ia menatap wajah Mikasa baik-baik dan bisa melihat mata Mikasa terlihat lelah. Ia yakin Mikasa tidak tidur semalam dan mengawasi gerbang. Apakah Mikasa berharap jika ia berada disana ia akan menemukan Rivaille dan Eren?

"Mikasa, kau jangan memaksakan diri." ujar Armin.

"Apanya?" tanya Mikasa.

"Aku tahu bahwa kau menunggu Eren disana kan?"

Mikasa terdiam mendengar ucapan Armin, gadis itu menatap ke arah lain dan mengeratkan syal merahnya. Ia tahu Armin itu peka terhadap situasi apapun, apalagi mereka teman sejak kecil dan wajar saja jika Armin sangat mengenal Mikasa dan Eren.

"Mikasa, kau boleh melakukannya tapi pikirkan kesehatanmu juga."

"Kurang tidur tidak akan membuatku mati kan? Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

Mikasa berjalan meninggalkan Armin, pemuda berambut pirang itu hanya bisa memperhatikan teman masa kecilnya yang terlihat rapuh. Ia tahu sejak Eren diculik oleh Rivaille ia bisa merasakan bahwa Mikasa tampak semakin tidak stabil dan emosinya gampang tersulut. Ia hanya berharap Mikasa tidak kelepasan untuk mengamuk dan bersikap kasar kepada siapapun yang menyulut emosinya.


Sudah tiga hari berlalu dan hasil pengintaian Mikasa tidak membuahkan hasil, ia tidak bisa melihat Eren dan Rivaille. Apakah ia lengah atau jangan-jangan mereka sudah meninggalkan kota? Mikasa tidak tahu dan ia berusaha untuk meneruskan kegiatannya itu. Dalam hati ia berharap bisa menemukan Eren tapi sepertinya takdir senang mengejek Mikasa untuk saat ini.

Mikasa tidak menemukan Eren dan ia menundukkan wajahnya, ia merasa sia-sia melakukan pekerjaan selama ini. Memang itu juga bukan bagian dari misinya, itu hanyalah keegoisan seorang Mikasa Ackerman.

"Eren..." gumam Mikasa.

"Mikasa, kau tidak mungkin selamanya seperti ini."

Terdengar suara seseorang dan Mikasa menoleh, ia menghela napas saat melihat sosok seseorang yang tidak ingin ia lihat. Kenapa diantara sekian banyak orang di kota dan markas Recon Corps hanya gadis ini yang datang? Seorang gadis berambut pirang dengan mata birunya.

"Untuk apa kau kemari, Annie?" tanya Mikasa.

Annie selalu menjadi seseorang yang datang pada Mikasa ketika gadis itu menghadapi masa yang sulit. Di mata gadis mungil itu Mikasa terlihat rapuh dan mirip dengannya ketika menghadapi masa lalunya. Mungkinkah karena persaamaan nasib? Mungkin saja. Annie mendekati Mikasa dan menatap gadis yang lebih tinggi darinya dengan tatapan datar.

"Sampai kapanpun kau menunggu, kau tidak akan bisa melihat mereka lagi. Aku yakin mereka sudah meninggalkan kota." ujar Annie.

"Darimana kau tahu?" tanya Mikasa.

"Aku yakin mereka sudah di kota lain dan tentu saja melewati gerbang ini dengan penyamaran yang bagus."

Mikasa terdiam mendengar ucapan Annie, ia menatap gadis itu dengan pandangan tajam. Annie tidak takut ditatap seperti itu dan gadis berambut hitam itu menghela napas. Ia menyentuh pundak Annie dan ada jeda diantara mereka.

"Kalau begitu apa kau mau membantuku mencari Eren?" tanya Mikasa.

"Berdua saja?" tanya Annie memastikan.

"Iya."

Annie sedikit terkejut mendengar ucapan Mikasa, sepertinya gadis itu sangat berharap padanya agar mau membantunya untuk mencari Eren. Ia sendiri tidak tahu apakah bisa membantu Mikasa atau tidak. Ia melepaskan tangan Mikasa yang menyentuh pundaknya itu.

"Aku tidak mau kalau berdua, aku akan mengajak semua tim kita." ujar Annie.

"Baiklah. Setidaknya kau bisa memberitahuku, terima kasih."

Mikasa langsung saja pergi meninggalkan Annie sendirian, gadis berambut hitam itu merasa sudah selangkah lagi untuk menemui Eren. Ia ingin segera bertemu dengan pemuda berambut coklat itu, ia rindu dengan Eren. Tapi tanpa Mikasa sadari bahwa sosok Annie menatapnya dari jauh dengan tatapan sendu.

.

.

.

Sepertinya usul Annie sudah tersebar ke Armin, Jean dan Sasha. Mereka bertiga juga tidak keberatan dan memang ingin melanjutkan misi untuk melenyapkan Dark. Annie satu-satunya yang memiliki informasi mengenai pergerakan Dark di kota lain berdasarkan pengalaman. Sekarang semua tim Mikasa berkumpul dan hendak membicarakan rencana ini.

"Jadi kapan kita akan memulai rencana untuk mencari Eren?" tanya Sasha.

"Apakah bisa besok? Aku ingin segera menemuinya dan membunuh si pendek itu." ujar Mikasa.

Armin terdiam dan tampak mempertimbangkan keputusan Mikasa, mereka juga tidak melakukan apa-apa selama ini. Sepertinya bukan ide yang buruk untuk segera melaksanakan misi ini daripada Rivaille dan Eren pergi semakin jauh.

"Baik, besok saja kita pergi mencari Eren," ujar Armin. "Berarti kita semua harus siap dengan kemungkinan bertarung dengan Dark."

Semuanya mengangguk dan tampak setuju dengan ucapan Armin, Mikasa sudah mempersiapkan diri untuk bertarung dengan Rivaille. Ia tidak tahu dengan teman-temannya tapi ia memiliki persiapan yang menurutnya sudah cukup.

'Tunggulah aku, Eren.' batin Mikasa.

.

.

.

Sedangkan di kota lain lebih tepatnya di sebuah penginapan sederhana ada sosok pemuda berambut coklat dan berambut hitam yang sedang berada di sebuah kamar. Lebih tepatnya Rivaille sedang meminum kopi sedangkan Eren sedang merebahkan dirinya di ranjang.

Sudah tiga hari mereka menginap disini dan Rivaille tidak melakukan pekerjaan sebagai pencuri, ia memang sedang mencari target di kota ini. Mungkin karena ia membawa Eren, ia juga ingin berada di sisi Eren lebih lama. Rivaille mendekati Eren dan duduk di sisi ranjang, ia membelai rambut pemuda yang lebih muda.

"Ri-Rivaille?" Eren terkejut dengan sentuhan Rivaille itu dan wajahnya memerah.

"Kenapa? Aku tidak menyentuhmu tiga hari dan tubuhmu sudah sensitif seperti sekarang." ujar Rivaille yang sengaja menggoda Eren.

Wajah Eren langsung saja memerah dan memilih untuk menatap ke arah lain, ia tidak ingin manik hitam itu menatapnya. Tapi Rivaille tidak kehilangan akal untuk menatap Eren, ia menaiki ranjang dan menindih Eren. Eren terkejut dan sontak menoleh ke arahnya. Lihat, mata mereka kembali saling bertemu.

"Kau harus menatapku jika aku sedang bicara, Eren."

"Aah, tapi..."

"Tapi kenapa?"

Rivaille mulai menggerakkan jari-jarinya untuk membelai leher sang pemuda berambut coklat itu, seperti yang diharapkannya ia mendengarkan suara merdu sang kekasih itu. Eren berusaha menahan suaranya dan menganggap Rivaille hanya ingin menggodanya, memang sudah biasa ia diperlakukan seperti ini dan tidak heran bahwa tubuh Eren sendiri juga merindukan sentuhan ini.

"Ri-Rivaille? Aahnn..." desah Eren pelan.

Rivaille tidak menjawab apa-apa, hanya menyeringai ketika mendengar sang kekasih mengeluarkan suara yang menggoda dan memanggil namanya. Hal yang indah bukan? Rasanya ia ingin terus mendengarkan suara anak ini hingga akhir hayatnya. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Tapi pada dasarnya bulan dan matahari tidak bisa bersama, mereka adalah dua hal yang saling bergerak sendiri-sendiri dan tidak pernah sekalipun bertemu. Bagaimana mungkin jika mereka bisa menyatu?

Rivaile berusaha mengesampingkan pikiran-pikiran seperti itu, yang ia lihat sekarang adalah sosok Eren disampingnya. Ia tidak perlu memikirkan hal lain, hanya desahan demi desahan yang menemani gendang telinga Rivaille. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka.

.

.

.

Malam hari telah tiba dan Rivaille melihat Eren yang sedang memejamkan mata. Tidak seperti yang diharapkan, tadi siang Rivaille hanya menggoda Eren dengan menjilat leher dan bermain atas saja. Ketika Eren terangsang dengan cueknya ia menghentikan kegiatan itu dan keluar dari kamar mereka. Ketika ia kembali ia melihat Eren yang masih tertidur.

'Dasar bocah.' batin Rivaille.

Rivaille duduk di samping ranjang dan membelai rambut coklat Eren, ia menatap wajah manis itu dengan baik lalu mengecup keningnya. Siapa yang menyangka dengan orang yang dicintai Rivaille bisa seromantis ini? Bahkan bersikap baik pada orang lain pun mungkin ia jarang melakukannya pada siapapun.

Ia menatap wajah itu dan berharap sang kekasih terbangun, tapi ia juga tidak sabar menunggu sang kekasih terbangun. Ia mencium kening Eren lalu turun ke pipi dan menjilatnya, tangannya membelai lehernya dan turun untuk mengecupnya. Sepertinya Eren mulai sedikit terganggu dalam tidurnya, sesekali mendesah pelan.

"Bangun, Eren. Apa harus aku sentuh dirimu agar bangun?" bisik Rivaille di telinga Eren dan ia menjilatnya.

"Aah?" Eren langsung bangun dan terkejut saat melihat wajah kekasihnya ada di hadapannya."Ri-Rivaille! Ka-kamu harus tanggung jawab."

Wajah Eren memerah dan menunduk malu sedangkan Rivaille tetap memasang wajah datarnya, kata-kata Eren sungguh ambigu dan mungkin mengundang salah paham bagi yang mendengarnya. Tapi apa peduli Rivaille? Ia membelai rambut Eren dan mengecup kening pemuda yang lebih muda dengan lembut.

"Aku akan tanggung jawab atas dirimu untuk sekarang dan selamanya." ujar Rivaille serius.

Sepertinya Rivaille memang ingin membuat Eren semakin jatuh ke dalam pesona cinta yang dibawanya. Tangan Rivaille turun dan menggenggam tangan Eren dengan erat, ia menatap manik hijau itu. Manik hijau yang terlihat indah dan bersinar terang layaknya matahari.

"Eren, jika aku melamarmu apakah kau akan menerimaku?"

"A-ah... Aku..."

"Kalau kau tidak ingin menjawabnya dulu tidak apa, tapi tolong terima hadiah yang akan aku berikan padamu."

Rivaille melepaskan tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kotak berwarna merah dan Eren sangat terkejut ketika kekasihnya membuka kotak itu. Terlihat sebuah cincin perak dengan lambang dua sayap yang berbeda warna. Rivaille memakaikan cincin itu pada jari manis Eren, jantung berdetak kencang sekali dan wajahnya sudah sangat memerah. Rivaille masih menggenggam tangan Eren dan tersenyum melihat jari manis Eren yang memakai cincin pemberiannya.

"Ketika kita akan menikah akan aku belikan cincin yang lebih indah lagi untukmu," Rivaille membelai jari manis Eren dan mengecupnya dengan lembut.

Eren merasa sangat terkejut sekaligus bahagia, rasanya ia bisa saja menangis saat ini. Bagaimana tidak ketika kau sudah memilih untuk bersama dengan kekasihmu setelah melewati banyak rintangan dan berakhir dengan dilamar seperti ini? Setitik air mata mengalir dari kelopak mata Eren, ia langsung saja memeluk tubuh kekasihnya itu.

"Rivaille! Aku sangat bahagia, bahagia sekali. Te-terima kasih..." ujar Eren pelan dengan suaranya yang berusaha menahan tangis.

Rivaille tersenyum dan membelai punggung Eren agar pemuda itu lebih tenang dan tidak menangis. Bukan hanya Eren saja yang menangis bahagia, tapi Rivaille juga merasakan hal yang sama. Ia tidak menyangka akan menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus dan ia bisa mengikat orang yang ia cintai. Mungkin sebut saja mereka baru bertunangan, belum menikah.

"Rivaille hiks... aku sangat bahagia... Aku mencintaimu, Rivaille." ujar Eren yang masih menangis.

Rivaille melepaskan pelukan itu dan melihat wajah sang kekasih, air mata masih mengalir di wajahnya. Rivaille menghapus air mata Eren itu dengan jarinya dan mengecup kelopak mata Eren dengan lembut. Wajah Eren langsung saja memerah dan manik hijaunya bertemu dengan manik hitam Rivaille. Tatapan tajam Rivaille telah menjerat hatinya.

"Aku juga sangat mencintaimu, Eren." ujar Rivaille dengan senyuman lembut yang hanya ia perlihatkan pada Eren.

Mereka saling mendekatkan wajah dan berciuman dengan mesra, tidak ada yang bisa mendeskripsikan seperti apa kebahagiaan yang dirasakan dua pemuda ini. Mereka ingin cinta mereka menyatu dan inilah yang mereka dapatkan, hubungan mereka sudah lebih serius saat ini. Mungkin ini adalah awal dari lembar kehidupan selanjutnya.


Pagi hari sudah tiba, kelima anggota muda Recon Corps berkumpul di depan gerbang kota. Mereka akan pergi ke kota Trost untuk mencari Rivaille juga Eren, kota Trost adalah kota terdekat dari kota mereka dan Annie yakin Rivaille dan Eren ada disana.

Annie, Armin. Jean, Mikasa dan Sasha telah siap dengan senjata mereka masing-masing, bagaimanapun juga mereka akan kembali berhadapan dengan Rivaille yang selalu saja membuat mereka terluka. Armin melirik ke arah Mikasa yang memasang wajah datarnya, tapi ia bisa merasakan bahwa gadis itu ingin sekali bertemu dengan Eren.

"Kalau begitu ayo kita berangkat." ajak Sasha.

Mereka semua mengangguk dan segera pergi ke kota Trost yang tidak terlalu jauh dari kota mereka, mungkin hanya membutuhkan waktu satu jam dengan berjalan. Tapi mereka sudah terbiasa melakukan misi di luar kota dengan naik kendaraan ataupun tidak seperti saat ini. Yang penting adalah menyelesaikan misi.

.

.

.

Tidak lama mereka berlima telah sampai di kota Trost, mereka melewati gerbang yang dilalui banyak orang. Mungkin mereka sedikit mencolok karena memakai seragam Recon Corps, tapi tidak apa. Semua orang tahu Recon Corps adalah organisasi kepolisian, tapi tidak tahu bahwa sebenarnya mereka seperti pembunuh yang berkedok polisi.

"Sekarang kita akan kemana? Tidak mungkin mencari Eren di kota seluas ini tanpa mengetahui informasi apa-apa." ujar Jean.

"Aku memang tidak memiliki informasi dimana dia tinggal." ujar Annie datar.

"Aku akan mencarinya dimanapun dia berada." ujar Mikasa yang langsung saja meninggalkan teman-temannya.

"Mikasa?!" Armin tampak panik dan ingin menyusul Mikasa.

"Biar aku saja yang mengikutinya." ujar Annie.

"Aku juga." tambah Sasha.

"Baiklah. Tolong jaga Mikasa dan kita akan bertemu di tempat ini jika tidak membawakan hasil. Paling lama dua jam lagi dari sekarang." ujar Armin langsung.

Annie dan Sasha langsung menyusul Mikasa, mereka bertiga akan mencari Eren atau Rivaille. Sedangkan Armin dan Jean juga akan mencari kedua orang itu. Akhirnya mereka berpencar agar mudah menemukan Eren atau Rivaille.

Tapi memang tidak ada jaminan mereka bisa menemukan Rivaille dan Eren hari ini. Kota Trost adalah kota yang luas dan mereka sama sekali tidak tahu keberadaan dua orang itu. Layaknya gambling dan mereka tidak tahu apa hasil yang didapatkan nanti. Mereka semua hanya bisa pasrah pada keadaan tapi tidak dengan Mikasa yang sangat berharap akan menemukan Eren dengan cepat.

Annie dan Sasha berdiri di samping Mikasa, mereka juga membantu untuk mencari Eren. Tapi memang sulit sekali mencari sosok seseorang di keramaian seperti ini, apa hampir mustahil untuk menemukannya? Annie hanya memberikan informasi yang ia tahu dan berharap Mikasa bisa menemukan Eren dengan caranya sendiri.

"Hmm, sulit sekali mencari Eren." ujar Sasha yang memakan kentangnya.

"Jangan banyak berkomentar, Sasha. Sebaiknya kau membantuku juga."

Mikasa menatap ke sekelilingnya, yang ada hanya beberapa toko juga banyak orang yang berlalu lalang. Mikasa terus memperhatikan setiap orang yang berambut coklat, bahkan ia sampai salah mengira seseorang sebagai Eren. Ia menghela napas dan terus mencari tanpa peduli sesulit apapun, Sasha dan Annie juga berusaha membantu Mikasa.

'Dimana Eren?' batin Mikasa.

Mata hitam Mikasa melihat sosok pemuda berambut hitam yang sedang berjalan dengan pakaian biasa, entah kenapa langkah kakinya terus membawanya menemui pemuda itu. Semakin cepat malah, langkah kaki Mikasa semakin cepat untuk menyusul pemuda itu.

"EREN!" panggil Mikasa langsung dan menggenggam tangan pemuda itu.

Pemuda itu menoleh dan ternyata benar ia adalah Eren, betapa terkejutnya Eren melihat Mikasa ada di kota ini disertai dengan Annie dan Sasha. Manik hijaunya tampak terkejut dan melirik ke arah lain, ia tidak bisa melarikan diri lagi. Mungkin ia harus menjelaskan yang sebenarnya kepada adik angkatnya ini.

"Mikasa? Kenapa kau disini?" tanya Eren basa-basi.

"Tentu saja untuk membawamu pulang dari pria tidak tahu diri itu!" teriak Mikasa dan wajahnya terlihat sangat serius.

Annie dan Sasha tidak berani menginterupsi pembicaraan Mikasa dan Eren, mereka yakin Mikasa memiliki banyak hal yang ingin dibicarakan dnegan Eren. Sudah lama juga mereka tidak bertemu, dan Mikasa langsung saja memeluk Eren dengan erat. Eren dan kedua gadis yang lain tampak terkejut melihat tindakan Mikasa itu.

"Mi-Mikasa?" tanya Eren.

"Kau tahu aku sangat merindukanmu. Aku khawatir dengan dirimu." ujar Mikasa yang tidak melepaskan pelukannya dari Eren. Bahkan ia terus memeluk Eren dengan erat seperti tidak rela jika kehilangan sosok pemuda berambut coklat itu.

"Maafkan aku..."

"Kembalilah padaku, Eren. Kita semua harus menjalankan misi kita untuk melenyapkan Dark. Kita anggota Recon Corps, kau tahu itu kan?"

Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa itu, tentu saja ia sangat tahu dengan posisinya. Seharunya ia yang membunuh Rivaille tapi ia tidak bisa melakukannya karena ia sangat mencintai pemuda itu, bahkan ia telah bertunangan dengan pemuda berambut hitam itu. Ia akan menyatukan ikatannya dengan Rivaille dan tidak ada yang bisa menghentikan mereka.

"Apa gunanya juga kau tinggal bersama dengannya? Kenapa Eren?" tanya Mikasa lagi.

Eren terkejut mendengar pertanyaan seperti itu, ia menatap ke arah lain dan melepaskan Mikasa yang memeluknya dengan erat. Mikasa sedikit terkejut dengan tindakan Eren dan wajahnya terlihat kecewa. Annie dan Sasha melirik ke arah Eren dan Mikasa secara bergantian.

"Eren?" tanya Mikasa.

"Aku tidak bisa menjawabnya. Yang bisa kukatakan padamu adalah aku hidup bahagia dengan Rivaille sekarang."jawab Eren.

Eren langsung saja pergi meninggalkan Mikasa dan kedua temannya begitu saja, ia tidak memiliki urusan lagi dengan teman-temannya, mungkin ia tidak ingin ditanya lebih jauh tentang hubungannya dan Rivaille. Annie terdiam dan ia mengetahui ada sesuatu yang Eren sembunyikan, itapi ia tidak mengatakannya pada Mikasa.

Tapi Annie dan Sasha lebih terkejut lagi saat melihat Mikasa langsung saja berlari meninggalkan merekam sepertinya ia hendak mengikuti Eren. Kedua gadis itu berusaha menyusul Mikasa agar mereka tidak terpisah dan ingin tahu apa tujuan gadis berambut hitam itu sebenarnya.

.

.

.

Mikasa terus mengikuti Eren dari belakang, ia bersyukur karena Eren tidak menyadari kehadirannya. Ia berusaha menyembunyikan dirinya dengan baik dan terkejut melihat Annie juga Sasha yang ada di belakangnya. Tapi Mikasa tidak banyak berkomentar dan memilih untuk meneruskan kegitannya. Annie dan Sasha juga berusaha menyusul Mikasa, mereka tidak bergabung dengan Mikasa karena tidak ingin Eren mengetahui bahwa mereka sedang membututinya.

Tidak lama langkah Mikasa terhenti di depan sebuah penginapan, ia melihat Eren masuk ke dalam tempat penginapan itu dan Mikasa terdiam. Annie dan Sasha telah berhasil mendekati Mikasa, mereka berdua terdiam melihat Mikasa.

"Jadi disini tempat tinggal Eren?" tanya Sasha.

"Mungkin saja. Tadi ia masuk ke sini." ujar Annie.

"Aku akan masuk ke dalam." ujar Mikasa.

"Mikasa sudahlah, kita sudah tahu dimana Eren tinggal bukan? Tidak usah memaksakan diri untuk masuk ke dalam bukan?" ujar Sasha.

Mikasa menghela napas tapi ia tetap pada pendiriannya, ia hendak mendekati penginapan itu dan masuk ke dalam. Tapi ia terkejut saat melihat pintu itu terbuka dan emosi Mikasa benar-benar tersulut saat melihat pemandangan di depannya, sosok Rivaille sedang menggenggam tangan Eren dan mereka berjalan bersebelahan.

"Cih." decih Mikasa.

Annie dan Sasha terdiam, mereka melihat Mikasa sudah sangat kesal dan hampir saja mengeluarkan pistol. Annie langsung saja menahan tangan Mikasa dan menatap gadis yang lebih tinggi darinya dengan pandangan datar.

"Tidak ada gunanya juga kau menyerang mereka saat ini. Kita harus memberitahu Armin dan Jean tentang kebeardaan mereka." ujar Annie.

"Itu benar. Tapi dimana kita mencari mereka berdua?" tanya Sasha.

"Kau tidak mendengar ucapan Armin? Kita akan menemui mereka di tempat awal kita berpencar tadi." ujar Annie.

"Ah iya juga."

Ketiga gadis ini berjalan kembali ke depan gerbang Trost, disana mereka akan bertemu dengan Armin dan masih berusaha menahan emosinya tapi wajahnya terlihat menyeramkan, seperti siap memangsa siapapun yang berani menganggunya. Annie dan Sasha juga tidak berkeinginan untuk mengganggu gadis itu.

Tidak lama mereka sampai di depan gerbang Trost. Disana sosok Armin dan Jean telah menunggu mereka, Sasha langsung mendekati mereka dengan langkahnya yang cepat. Armin tersneyum kepada teman-temannya tapi ia terdiam saat melihat raut wajah Mikasa yang terlihat menyeramkan. Sepertinya terjadi sesuatu.

"Bagaimana dengan pencarian kalian?" tanya Sasha.

"Tidak membuahkan hasil. Kami tidak menemukan Eren." ujar Armin.

"Aku sudah lelah mencarinya dan meminta Armin kembali kemari," tambah Jean. "Lalu bagaimana dengan kalian?"

Suasana langsung hening, tidak ada yang menjawab pertanyaan Jean. Hanya suara keramaian kota saja yang menemani mereka semua. Annie melirik ke arah Mikasa dan ia tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Mikasa menjelaskan situasi, ia yakin pasti gadis itu akan semakin kesal.

"Kami berhasil menemukan tempat tinggal Eren." ujar Annie.

"Benarkah? Dimana?" tanya Armin.

"Di sebuah penginapan yang tidak jauh dari sini, karena Mikasa menguntit Eren hingga akhirnya kami bisa mengetahui letak dimana Eren tinggal."

"Armin, aku tidak peduli! Malam ini aku akan membawa Eren pulang dan kita akan meninggalkan kota Trost ini." ujar Mikasa.

"Mikasa?! Jangan bilang kau akan melawan Dark sendirian lagi? Kau pantang menyerah ya?" gumam Jean.

"Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu darimu."

"Sudah. Lebih baik kita membantu Mikasa saja," ujar Sasha. "Mikasa kau ingin membawa Eren pulang kan?"

Sasha memikirkan sebuah cara dan ia memberitahu teman-temannya dengan berbisik. Mereka semua terkejut mendengar ide Sasha, tidak seperti biasanya Sasha menyarankan hal seperti ini. Bahkan mereka tidak menyangka Sasha memikirkan hal itu.

"Menculik Eren?" tanya Mikasa.

"Iya. Ini terdengar gila dan nekad, tapi jika kita bisa menculik Eren dari Dark itu sudah bagus. Kita harus tahu letak kamarnya dan membawa Eren pergi ketika Dark tidak menyadarinya." ujar Sasha.

"Kuakui itu ide yang gila, Sasha. Tapi aku suka dengan tantangan." ujar Jean.

"Tidak kusangka kau memikirkan hal seperti itu." ujar Annie.

"Tapi ini beresiko besar, bukan?" tanya Armin.

Sasha mengangguk dan semuanya terdiam. Mikasa terlihat senang, sepertinya ia menyukai ide Sasha yang terkesan nekad seperti dirinya itu. Armin bisa melihat wajah Mikasa yang tampak serius itu.

"Kita akan mencobanya. Tidak, aku akan mencobanya!" ujar Mikasa mantap.

"Jadi kau akan melakukannya sendirian?" tanya Armin bingung.

"Iya. Ini semua demi Eren. Apapun akan aku lakukan demi dirinya."

To Be Continued

A/N: Hai semuanya, maaf banget chapter ini terlambat update. Padahal aku sudah membuatnya dan mengetik di keramaian bukan hal baik karena dicurigai. Ketika mengetik di malam hari aku malah terhambat dengan maraton anime. #gak tanggung jawab

Terima kasih kepada Earl Louisia vi Duivel, Azure'czar, elfri, Nacchan Sakura, Sedotan Hijau, Kim Arlein 17 dan Novula serta silent readers yang membaca fic ini...^^

Chapter ini sudah mendekati final act dan tidak ada perubahan ending. Jadi selamat menikmati ending-nya di chapter depan dan akan ada epilogue untuk fic ini. Akan ada juga 2 jenis spin off dari pair lain yang terlihat dari fic ini.

Sampai jumpa di chapter berikutnya...^^