UPS SORRY

CHAPTER 11

PERFECT CHAPTER

Hallo jumpa lagi dengan saya hehehe , ini chapter 11 dan chapter terakhir selamat membaca dan sampai jumpa lagi untuk cerita MINE saya akan berusaha untuk menyelesaikannya (author minim inspirasi kabuuuuuurrrrrrr!) Happy Reading dan See You Soon . Maaf jika ceritanya dan akhirnya tidak memuaskan, saya sudah melakukan yang terbaik, terima kasih untuk semua pembaca setia, kalian penyemangat yang hebat Bye, bye, bye…

¶¶¶

Mino membuka kedua matanya perlahan ia tertidur setelah semalaman menunggui Seungyoon. Seungyoon membuka kedua matanya, menyapanya, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, seperti yang selama ini sering ia lihat pada film romantis. Sayang, kenyataan tak seindah itu. Kedua mata Seungyoon masih tertutup rapat.

Perlahan Mino mengenggam kembali tangan Seungyoon yang sempat terlepas saat dirinya tertidur. Sungguh ia tidak ingin tidur, namun tubuhnya melakukan hal diluar kontrol. Mino memperhatikan keadaan kamar Seungyoon yang sepi, ia melihat jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh pagi.

Mino menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya pelan, jika masih mungkin waktu untuk diputar, dirinya tidak akan mendekati genggam dengan lembut tangan Seungyoon. Jika pesan salah kirim itu tidak begitu menarik, jika ia memilih untuk mengabaikannya, jika ia membenci Seungyoon seperti yang lain, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.

"Hai, apa kau begitu suka tertidur Kang Seungyoon? Bukalah matamu, matahari sudah tinggi."

Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi. Tidak ada yang dapat diubah lagi, takdir seolah mempermainkan dirinya, mengapa takdir mengirimkan Seungyoon jika pada akhirnya akan berakhir menyakitkan seperti ini. Sebutir air bening jatuh membsahi pipi kanan Mino.

"Bangunlah Seungyoon, aku tidak ingin cerita ini seperti Romeo dan Julliet. Aku tidak suka roman picisan seperti itu, seharusnya kita membuat cerita yang lebih indah dari mereka bukan?" Mino tertawa getir sambil mengamati wajah Seungyoon. "Aku suka kisah cinta yang original." Sambung Mino, kemudian tawa getir itu kembali terdengar.

Suara pintu kamar yang berderit lembut, terdengar begitu nyaring di dalam ruang kamar yang sunyi. Mino menoleh menatap pintu, melihat Paman Seunghoon berdiri di sana.

Seunghoon membungkuk memberi hormat. "Tuan Muda waktunya Anda untuk makan dan membersihkan diri."

"Tidak Paman, aku ingin tinggal sampai Seungyoon membuka kedua matanya."

"Tuan Muda….,"

"Tidak Paman." Potong Mino, ia terdengar sangat kesal dengan perintah tersebut.

Seunghoon menarik nafas dalam-dalam mencoba bersabar dan memberi pengertian. "Keluarga Seungyoon ada di sini, dan jumlah orang yang diperbolehkan masuk hanya tiga orang Tuan Muda."

"Biarkan dua orang yang masuk." Ucap Seungyoon bersikeras.

"Mereka orang-orang terdekat Seungyoon, ibu Seungyoon, ibu Taehyun dan Taehyun sendiri. Pilihlah Tuan."

Mino menelan ludahnya dengan kasar, kalimat dari paman Seunghoon membuatnya tersadar bahwa dirinya sudah bersikap egois. Mereka adalah orang-orang yang sangat dekat dan menyayangi Seungyoon, jauh sebelum kehadirannya. Mino menarik nafas dalam-dalam, meski enggan ia memutuskan untuk pergi.

"Baiklah, aku akan keluar." Mino berdiri dari kursinya, perlahan ia lepas genggaman tangannya. "Aku pergi sebentar." Bisiknya pada telinga kanan Seungyoon, ia kecup pelan dahi Seungyoon.

Mino menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati pintu. Kedua matanya mulai terasa panas. Tidak ingin Seunghoon melihat air matanya, Mino bergegas berlari menerobos Seunghoon mengabaikan sekumpulan orang yang berada di depan kamar Seungyoon.

"Biar Anda saya antar pulang, Tuan Muda." Ucap Seunghoon yang berhasil menyusul Mino.

"Tidak, itu terlalu jauh. Antar aku ke apartemen Ayah yang jaraknya lebih dekat."

"Baik Tuan Muda."

¶¶¶

"Bocah brengsek, cepat bangun kau tampak menyedihkan." Taehyun memandangi sang sahabat yang kini terbaring lemah. Meski ucapan sarkas keluar dari bibirnya tentu saja keinginan terbesarnya adalah melihat Seungyoon sehat kembali.

Seungyoon bangun dan melakukan berbagai kekonyolan bersama, saling memaki dan berbagai hal menyebalkan yang selama ini sering mereka lakukan. Taehyun mendesah pelan, berada di dalam kamar ini terlalu lama membuat dadanya benar-benar sesak.

"Cepat bangun bocah bodoh, aku—aku tidak bisa menemanimu setiap hari. Ujian kelulusan semakin dekat, kau tidak ingin melewatkannya bukan? Ingat impianmu, jadi cepatlah bangun." Taehyun menggenggam pelan tangan kiri Seungyoon, mengucapkan salam perpisahan di dalam hati. "Aku menunggumu, tidak. Kami menunggumu."

Taehyun berbalik kedua kakinya terasa begitu berat untuk melangkah meninggalkan kamar rawat Seungyoon. Kedua langkah kaki Taehyun terhenti, suara aneh terdengar. Ia berbalik, kedua matanya membulat sempurna. Ia bergegas menekan tombol panggilan darurat.

"Seungyoon!" pekiknya tertahan.

¶¶¶

"Paman, aku ingin ke suatu tempat sebelum kembali ke rumah sakit."

Seunghoon mengamati perubahan raut wajah Mino dari spion namun ia tidak mengatakan apapun untuk menanggapi ucapan sang Tuan Muda. "Bawa aku kemakam Ibu dan adik perempuanku."

"Akan saya laksanakan Tuan Muda."

Berikutnya Mino menempelkan wajahnya pada kaca jendela, mengamati pemandangan di luar yang sama sekali tidak menarik hatinya. Menunggu sampai saat dimana dirinya harus menghadapi ketakutannya yang selama ini selalu ia tekan dalam-dalam jauh ke dalam sudut hatinya.

Mino menatap nanar ke arah perbukitan di hadapannya. Pemakaman keluarga, keluarganya terlalu kaya untuk membeli beberapa hektar tanah untuk pemakaman keluarga. Mino hanya tersenyum getir saat meresapi semua tindakan ayahnya. Apa gunanya mempunyai tanah makam pribadi, jika kenyataannya orang yang kau cintai sudah tidak ada lagi. Itu tidak akan membuatmu lebih dekat dengan mereka yang sudah tiada.

Mino menganggap pemakaman pribadi hanya sebuah ungkapan rasa bersalah atas kebersamaan yang selama ini jarang sekali dilakukan. Dan saat salah satu anggota keluarga pergi, mereka tidak ingin kebersamaan yang sudah jarang itu menghilang begitu saja, keputusasaan untuk sebuah ikatan yang nyatanya memang sudah terputus.

"Tuan Muda, Anda ingin saya temani?"

"Tidak, Paman menunggu di sini saja. Oh ya tidak apa kan jika aku tidak membawa bunga atau sesuatu yang mereka sukai?"

"Tidak masalah Tuan Muda."

"Baguslah, aku tidak sempat memikirkan hal sederhana seperti itu. Aku benar-benar anggota keluarga yang sangat buruk."

"Tuan Muda, Anda..,"

"Aku pergi sekarang." Ucap Mino memotong kalimat Seunghoon begitu saja.

Udara perbukitan yang sejuk memenuhi rongga paru-paru Mino, aroma rerumputan begitu tajam tercium. Kedua kakinya berjalan menyusuri jalanan setapak dengan naungan pepohonan Sakura. Sinar matahari yang berhasil menembus celah-celah ranting pepohonan jatuh menyinari jalan setapak.

Dengan mantap kedua kaki Mino mulai menaiki anak tangga menuju ke suatu tempat yang selama ini selalu ia hindari. Kedua mata Mino menyipit. "Mungkin saja bisa, cobalah, mungkin saja kalian bisa melakukannya," gumam Mino pelan. "Ibu, Hana, cobalah, mungkin kalian bisa, cobalah, berdirilah di ujung tangga, sambut aku. Aku merindukan kalian, aku mohon, cobalah, sekali saja. Temui aku sekarang di ujung tangga cobalah."

Anak tangga terakhir sudah berhasil dilewati. Mino terpaku, bibirnya menyungging seulas senyum. Tentu saja hal itu tidak akan mungkin terjadi di dunia ini. Ibu dan adik perempuannya memang menyambut kedatangannya di ujung tangga, namun mereka menyambut dalam bentuk batu nisan angkuh, dengan nama yang tecetak dalam huruf hangul dengan warna emas.

"Hai kalian," ucap Mino pelan. Kedua kakinya membawanya mendekat. "Apa kalian masih mengingatku? Aku sudah besar sekarang, aku bukan lagi Mino yang dulu, aku bertambah tua. Apa kalian juga bertambah tua di sana?"

Mino berlutut di depan salah satu batu nisan, tangan kanannya terulur mengusap permukaan batu dengan pelan. "Kalian lebih dekat dengan-Nya kan? Maaf aku tidak pernah datang, hari-hari yang kami lalui tanpa kehadiran Ibu dan Han sangatlah berat. Kalian tidak memilih pergi aku tahu itu, tapi kesedihan selalu datang menghancurkan dengan berbagai cara."

Mino menarik nafas dalam-dalam, menenangkan diri. "Aku dan ayah terluka parah, sekarang aku sudah menemukan alasan untuk menjalani masa depanku. Tapi—bisa saja semua itu hilang dalam sekejap mata, seperti kepergian kalian. Dan jika itu terjadi…," Mino menggigit pelan bibir bawahnya rasa sesak tiba-tiba muncul menyerang. "Jika itu terjadi aku tidak tahu apakah aku masih mampu bertahan." Ucapnya cepat dalam satu tarikan nafas.

"Karena itu jika kalian sekarang berada dekat dengan-Nya, aku mohon sampaikan pesanku pada-Nya. Tolong, aku mohon, aku mohon, jangan ambil Seungyoon sekarang karena aku membutuhkannya. Aku mohon."

Mino mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat, air matanya tak mampu ditahan lagi. Butir-butir air bening nan hangat itupun mengalir dengan bebas menuruni dan membasahi wajahnya. "Aku mohon katakan pada-Nya, Ibu, Hana, aku mohon katakan pada-Nya, sampaikan permintaanku."

¶¶¶

Mino berjalan menyusuri koridor rumah sakit, ia mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sembab akibat menangis di depan makam Ibu dan adik perempuannya. Kedatangannya menarik perhatian semua orang, seketika itu juga seluruh pandangan tertuju padanya. Namun, pandangan Mino hanya tertuju kepada seorang perempuan paruh baya yang duduk di samping Nyonya Nam.

"Nyonya Kang," ucap Mino.

Perempuan paruh baya itu menoleh menatap ke arahnya dengan bingung. Mino melihat ibu Taehyun membisikkan sesuatu. Nyonya Kang mengangguk pelan kemudian tersenyum lembut kepada Mino. Ada perasaan hangat yang mengalir, rasa hangat yang sama saat dirinya bersama dengan Seungyoon. Tanpa sadar Mino mempercepat langkahnya mendekat.

Ia melepaskan kacamata hitam, memandangi lekat-lekat wajah penuh garis-garis umur di hadapannya itu. Seungyoon memiliki bentuk bibir yang sama dengan ibunya. Mino menjatuhkan tubuhnya di hadapan Nyonya Kang, berlutut. "Maafkan saya semua ini terjadi karena kesalahan saya. Jika terjadi sesuatu pada Seungyoon. Ijinkan saya yang akan mengurus Anda, maafkan saya Nyonya."

Kedua telapak tangan yang terasa hangat menangkup wajah Mino. Mino membuka kedua kelopak matanya, pelan, tidak ingin melihat kemungkinan terburuk dari ketakutannya terjadi detik ini juga. Jika Nyonya Nam memintanya untuk menjauhi Seungyoon karena kehadriannya hanya membahayakan bagi Seungyoon.

"Seungyoon anak yang kuat, tidak akan terjadi apa-apa padanya."

Kedua mata Mino terasa panas kembali, mungkinkah kali ini kata-kata mampu mengubah keadaan. Sebab kata-kata yang pernah ia dengarkan dulu tidak mengubah apapun.

"Ayah."

"Tidak apa-apa sayang, Ibumu dan Hana, mereka kuat tidak akan terjadi apa-apa."

"Benarkah?"

"Iya, mereka sangat kuat. Semua akan baik-baik saja."

Mino mengerjapkan kedua matanya, menyingkirkan semua kenangan buruk di masa lalu. ia ingin berharap, kali ini semua akan baik-baik saja, semua harus baik-baik saja, tidak akan ada hal buruk lain yang terjadi.

Petugas medis berlari dengan terburu-buru memasuki ruang rawat Seungyoon. Mino berdiri menghadang salah satu perawat, berusaha memperoleh keterangan. "Katakan padaku!" pekiknya.

"Maaf, tenanglah Tuan." Balas perawat itu tergesa kemudian menyusul petugas lain memasuki kamar.

Kedua lutut Mino terasa lemas, iapun terjatuh, berlutut dia atas lantai rumah sakit yang dingin. Sekali lagi kata-kata tidak membantunya, tidak ada yang baik-baik saja, semuanya berjalan di luar keinginannya, sekali lagi takdir menunjukkan kekejamannya dengan cara yang sangat menyakitkan.

Sebuah pelukan menyadarkan Mino. Ayahnya, kini tengah memeluknya dengan erat. "Aku mohon lakukan sesuatu jangan biarkan dia pergi, Ayah. Aku mohon lakukan sesuatu." Ucap Mino ditengah isak tangisnya. Tuan Song hanya bisa terdiam sambil mempererat pelukannya.

Petugas medis mulai keluar satu persatu. Salah seorang dokter bertanya siapa kerabat terdekat pasien. Nyonya Kang berdiri, berbicara selama beebrapa detik. Mino tidak ingin mendengar apapun sekarang, ia tenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu sang ayah. Ia ingin melupakan dunia yang menyakitkan ini untuk beberapa detik.

Sebuah tepukan pelan pada puncak kepala Mino, membuatnya bergeming. "Masuklah, ucapkan sesuatu pada Seungyoon." Tatapan itu, Mino menggigit pipi bagian dalamnya. Tatapan yang sama seperti saat itu.

Paman Seunghoon membungkukkan badannya, mengulurkan kedua tangannya. Mino menerima uluran tangan itu, membiarkan paman Seunghoon membawanya ke dalam gendongan. "Jadilah anak yang baik, katakan sesuatu untuk Ibu dan adik perempuanmu."

Mino menatap paman Seunghoon heran, tatapan itu, sebuah tatapan yang tidak mampu ia artikan di usia dua belas tahunnya. "Kata-kata seperti apa yang bisa aku ucapkan pada peti mati?" paman Seunghoon hanya memberi tatapan yang sama tanpa memberi jawaban.

"Pergilah Mino."

"Aku—aku tidak bisa melakukannya Ayah."

"Kau pasti bisa." Ucap Nyonya Kang menggantikan Tuang Song yang seharusnya menajawab keraguan sang putra. Mino menelan ludahnya dengan kasar, kedua lututnya yang lemas ia paksa berdiri.

Tubuh yang dingin, tertutup selimut tempat tidur rumah sakit, adalah mimpi terburuk yang selama bertahun-tahun menghantuinya, dan kini setelah mimpi itu perlahan menghilang, apakah mimpi buruk itu kembali lagi menyapanya untuk kesekian kalinya.

"Seungyoon," pekikan suara Taehyun membuat Mino berjingkt. Perlahan tangannya kirinya yang gemetar hebat, menyingkap tirai penghalang.

"Seungyoon," ucap Mino tertahan.

"Belah tengah sialan kau mengataiku bocah brengsek."

"Kau mendengarku?"

"Tentu saja aku mendengarmu."

"Tapi kau juga sudah mengataiku belah tengah sialan, jadi kita impas."

Kedua orang yang tampak bahagia berdebat itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Mino. Hingga Seungyoon yang tidak sengaja mengalihkan pandangannya. "Mino," gumamnya pelan.

Taehyun menoleh, tersenyum simpul, kemudian berdiri dari kursinya. "Sekarang waktu untuk kalian berdua." Ucapnya pelan, iapun berjalan pergi melewati tubuh Mino yang masih berdiri terpaku.

"Mino, Song Minho." Panggil Seungyoon, merasa aneh dengan tingkah Mino yang hanya berdiri menatapnya. Seungyoon mengerutkan dahinya. "Hei! Apa kau baik-baik saja?! Jangan membuatku takut, apa kepalamu terbentur?!" pekik Seungyoon jengah.

"Kang Seungyoon," gumam Mino pelan.

"Ya, ini aku, siapa lagi." Balas Seungyoon santai.

Kedua mata Seungyoon membulat sempurna, nafasnya tertahan selama beberapa detik, saat Mino dengan mengejutkan berhambur dan mendekap tubuhnya dengan erat. Ia merasakan tubuh Mino bergetar hebat. Menangis, tidak salah lagi seorang Song Minho kini tengah menangis.

Seungyoon tersenyum simpul, kemudian kedua tangannya bergerak pelan untuk membalas pelukan Mino. "Kau tahu Taehyun telalu heboh, sampai-sampai dia menekan tombol darurat dan membuat keadaan menjadi panik. Aku malu sekali pada para dokter dan perawat yang datang." Seungyoon mulai bercerita sementara tangan kanannya mengusap-ngusap punggung Mino yang masih bergetar.

"Terima kasih," bisik Mino lemah namun Seungyoon masih mampu menangkap kalimat tersebut dengan jelas.

"Untuk apa?"

"Terima kasih karena kau tidak pergi." Mino melepaskan pelukannya, menatap wajah Seungyoon lekat-lekat, menangkup wajah itu, merasakan kehangatan dari kulit wajah Seungyoon, semua ini nyata, Seungyoon baik-baik saja. "Terima kasih banyak Kang Seungyoon."

Seungyoon tersenyum. Sungguh ini adalah saat romantis, namun wajah Mino yang menangis tampak sangat jelek sekarang. "Jelek, tidak cocok, hahahaha….,hmmmp."

Dengan sewot Mino menutup mulut Seungyoon menggunakan telapak tangan kanannya. "Aku sedang sedih malah tertawa, dasar!"

"Wajahmu jelek tau! Tidak percaya?! Lihat saja di cermin." Ucap Seungyoon setelah berhasil menyingkirkan tangan Mino dari mulutnya.

"Aish! Aku ingin memiliki momen romantis dengamu."

Seungyoon mengerutkan dahinya dan mulai bergumam tidak jelas, Mino tersenyum bahagia. "Aku senang kau baik-baik saja."

PLAAAKK! Sebuah pukulan mendarat mulus pada puncak kepala Mino. "Baik-baik saja kepalamu, sakit tau!" Seungyoon kembali berbaring sambil memegangi dadanya. "Jika aku tidak bisa ikut ujian kau semua salahmu."

"Maaf."

Sungguh Seungyoon hanya ingin bercanda, meski lukanya sakit, meski terancam tidak bisa mengikuti ujian, terancam tidak lulus tahun ini, namun melihat Mino baik-baik saja, Seungyoon berpikir apa yang ia lakukan sepadan. Namun wajah Mino yang menyedihkan itu tampak menjijikan.

"Kenapa tampangmu itu? Jangan menunjukkan wajah menyesalmu di hadapanku." Ucap Seungyoon dengan tegas.

"Semua salahku."

"Hentikan. Aku tidak suka wajah menyesalmu itu."

"Kau terluka dan hampir kehilangan nyawamu karena aku."

"Jangan merasa bersalah, karena aku sama sekali tidak merasa menyesal."

Mino menatap wajah Seungyoon lekat-lekat. "Benarkah? Kenapa?"

"Kau ini masih perlu bukti? Aku sudah berlari dan menghadang peluru untukmu, dasar Song Minho hitam jelek." Gerutu Seungyoon.

"Karena itu jangan melakukan hal itu lagi, aku tidak bisa kehilanganmu, berjanjilah untuk tidak melindungiku di masa depan."

"Permintaan ditolak."

"Kang Seungyoon…,"

"Kau pikir aku bisa hidup tanpamu." Ucap Seungyoon memotong kalimat Mino.

"Benarkah semua yang aku dengar?"

"Salah, kau salah dengar tadi suara perutku."

Mino tersenyum bahagia. "Terima kasih banyak."

"Apa ayahmu ada di sini?"

"Ya, kenapa?"

"Bisakah aku bertemu dengannya?"

"Untuk apa?!" pekik Mino tidak suka mendengar kalimat Seungyoon.

"Ingin saja, penting. Panggil ayahmu sekarang dan kau keluarlah, satu jam saja." Ucap Seungyoon santai seenak jidatnya.

"Tidak mau."

"Baiklah—aku akan keluar dan memanggilnya sendiri." Seungyoon mulai menggerakkan tubuhnya, susah payah ia mulai mendudukkan diri. Mino tidka tega melihatnya dan mulai membantu, menata bantal di belakang tubuh Seungyoon sebagai penyangga.

"Aku panggil ayahku, satu jam saja jangan lama-lama."

"Hmmm," ucap Seungyoon.

Akhirnya Mino berdiri, keluar dan memanggil sang ayah meski tidak rela. Tuan Song juga terlihat bingung dengan permintaan Seungyoon. "Jangan lama-lama masih banyak yang ingin bertemu dengan Seungyoon." Peringat Mino kepada ayahnya. Tuan Song hanya tersenyum maklum sebelum melangkah masuk.

"Kang Seungyoon, benarkah kau ingin bicara denganku?"

"Iya Tuan Song."

Setelah ayah Mino duduk Seungyoon langsung membuka percakapan. "Saya mencintai putra Anda maafkan saya Tuan, saya tahu saya tidak sepadan dengan keluarga Anda."

Tuan Song tersenyum ramah. "Aku sudah menerimamu Seungyoon jangan berpikir macam-macam, istirahat yang cukup supaya kau bisa cepat pulang."

"Tuan Song, apa Anda tahu ada satu hal yang sangat saya benci di dunia ini."

"Apa Seungyoon? Katakan mungkin aku bisa membantumu melenyapkannya."

"Belas kasihan, saya sangat benci dengan belas kasihan. Katakan apakah Anda merestui hubungan kami sebelum atau sesudah penembakan?"

Tuan Song terdiam, sudah sangat lama ada seseorang yang berani menantangnya seperti sekarang. Memberinya pertanyaan telak. "Setelah penembakan."

"Baiklah…," desah Seungyoon. "Sekarang saya mohon katakan apa yang harus saya lakukan agar terlihat pantas untuk Anda dan putra Anda."

"Jadilah dirimu sendiri, jadilah yang terbaik itu saja sudah cukup."

"Anda mengatakan yang sebenarnya bukan? Bukan karena belas kasihan?"

"Tenanglah Seungyoon, semua yang aku ucapkan bukan berdasar belas kasihan."

"Terima kasih banyak Tuan Song."

"Oh satu lagi jangan memanggilku Tuan Song itu terdengar ganjil, panggil aku Ayah." Ucap Tuan Song sebelum berbalik dan meninggalkan ruang perawatan. Seungyoon membenarkan posisi duduknya, ia tersenyum simpul. Keputusan telah dibuat.

Pintu kembali berdecit, kepala Mino menyembul terlebih dahulu sebelum seluruh tubuhnya melangkah memasuki kamar. "Apa kau ingin bertemu dengan yang lainnya?"

"Ya, aku ingin bertemu dengan Ibu, Taehyu, Ibu Taehyun, siapa lagi ya? Semua yang aku kenal." Ucap Seungyoon tanpa dosa.

"Baiklah aku panggil mereka," balas Mino kecewa.

Seungyoon tertawa melihat reaksi kecewa Mino yang terlihat begitu konyol. "Aku hanya bercanda, masuklah."

Mino mengerutkan keningnya, selama beberapa detik ia masih menatap heran. Namun, ia tersenyum setelah sadar apa yang Seungyoon ucapkan. Mino mendekatati ranjang tempat Seungyoon duduk dengan tumpukan bantal sebagai penopang tubuhnya. Mino duduk dan meraih menggenggam tangan Seungyoon.

"Aku memiliki dua permintaan setelah keluar dari rumah sakit."

"Hmm…, apa katakan saja."

"Aku tidak akan mengatakannya sekarang."

"Kenapa?"

"Nanti kau akan terkejut mendengar permintaanku."

"Kau ingin aku melamarmu?!" pekik Mino dan PLAKK! Sebuah pukulan kembali mendarat di puncak kepalanya.

"Tidak, kau ini masih muda kenapa menikah terus yang ada di dalam otakmu."

"Memang kenapa jika menikah muda? Itu lebih bagus daripada menunggu sampai umur empat puluh tahun." Sungut Mino sembari mengusap-ngusap pucuk kepalanya yang terasa panas akibat pukulan Seungyoon tadi.

"Sudahlah aku mau tidur sekarang, aku lelah." Ucap Seungyoon.

"Permintaanmu bagaimana?!" pekik Mino.

"Bersabarlah nanti kau juga akan tahu sendiri." Balas Seungyoon, perlahan ia menggerakkan tubuhnya, mengganti posisi duduk dengan posisi berbaring tentu saja dengan bantuan Mino.

"Tidurlah." Ucap Mino sambil membenahi selimut Seungyoon. "Aku akan keluar dan berbicara dengan yang ibumu."

"Tidak, tinggalah." Ucap Seungyoon menahan tangan Mino untuk pergi.

Mino mengulas senyum simpul. "Aku akan ada di sini sampai kau tidur."

"Terima kasih Mino."

"Tidurlah yang nyenyak Seungyoon." Bisik Mino pelan, sambil mengamati kedua kelopak mata Seungyoon yang mulai tertutup. Meski penasaran dengan permintaan Seungyoon, Mino mencoba untuk menekan rasa penasarannya tersebut dan mencoba bersabar sampai tiba saatnya Seungyoon memberitahukan.

¶¶¶

Setelah dirawat selama lima hari, Seungyoon diijinkan keluar dari rumah sakit. Permintaan pertama Seungyoon adalah meminta waktu selama tiga hari kepada Mino untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga dan sahabatnya dan selama tiga hari itu, Seungyoon meminta Mino untuk tidak berusaha menemuinya. Dan selama tiga hari tersebut Mino berusaha keras untuk melawan keinginannya bertemu dengan Seungyoon.

Dan sekarang waktu tiga hari itu sudah selesai. Mino keluar mengenakan jas terbaiknya, Seungyoon meminta untuk bertemu di taman kota. Permintaan yang sebenarnya sedikit memberatkan, sebab Mino tidak begitu menyukai tempat yang ramai dengan privasi terbatas seperti taman kota, namun, demi Seungyoon apapun akan ia lakukan.

"Mino. Sudah lama menungguku?"

"Lumayan…..," gumam Mino sedikit kecewa, dirinya sudah memakai jas terbaik sedangkan Seungyoon datang dengan kaos oblong berwarna cokelat muda, celana jins selutut, dan topi hitam polos.

"Kenapa menatapku seperti itu?" dengus Seungyoon tidak nyaman dengan pandangan yang ditujukan padanya.

"Hah," desah Mino frustasi. "Kenapa selera berpakaian kita tidak pas," keluhnya.

"Kau ini, aku pikir ada masalah yang serius." Ucap Seungyoon sambil mendudukkan dirinya di atas bangku taman di samping Mino.

"Baiklah, apa yang akan kita lakukan setelah tidak bertemu selama tiga hari," goda Mino sembari memainkan kedua alisnya. Seungyoon hanya melempar tatapan jijik sebelum menghadiahkan sentilan pada dahi Mino.

"Kau ini selalu menghancurkan momen romantis yang ingin aku lakukan." keluh Mino, mengusap-usap dahinya yang kini pasti sudah memerah.

"Tidak akan ada hal istimewa yang akan kita lakukan untuk hari ini, singkat saja. Aku sudah berbicara dengan ayahmu."

"Tentang?"

"Tentu saja tentang hubungan kita. Ayahmu setuju sih tapi hanya belas kasihan saja, jadi aku memaksa ayahmu untuk berbicara. Beliau ingin aku melakukan hal yang aku sukai, mewujudkan impianku, dan menjadi yang terbaik."

"Lalu?" hanya itu yang Mino ucapkan sebab dia masih bingung akan ke arah mana pembicaraan ini selanjutnya.

"Aku akan menjadi yang terbaik agar pantas untukmu."

"Apa?!" pekik Mino bahkan ia berdiri dari bangku tamannya, Seungyoon menoleh menatap Mino karena terkejut. "Kau tahu seharusnya aku yang mengatakan hal keren itu kepada ayahku dan ibumu, bukannya kau yang mengatakannya!" protes Mino.

Seungyoon hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Memangnya aku harus bersikap lemah," keluh Seungyoon. "Duduklah kau terlalu berlebihan, memalukan." Perintah Seungyoon sambil menggerakkan tangan kanannya meminta Mino memperbaiki sikapnya.

"Hah!" dengus Mino, ia merapikan jasnya kembali sebelum duduk, menyilangkan kakinya dan mulai menampilkan sikap berwibawanya yang tadi sempat menghilang.

"Setelah diijinkan keluar permintaan pertamaku adalah agar kita tidak bertemu selama tiga hari, dan sekarang aku akan mengatakan permintaan keduaku."

"Baiklah, katakan saja akan aku dengarkan baik-baik."

"Tiga hari sebagai latihan saja, selanjutnya aku ingin kita tidak bertemu lagi selama lima tahun."

"Seungyoon, kau main-main kan?"

"Tidak aku tidak main-main." Seungyoon menoleh menatap Mino dengan serius. "Lima tahun, selama lima tahun itu aku ingin mewujudkan impianku kau juga harus melakukan hal yang sama. Pantaskan dirimu untuk ayahmu."

"Seungyoon, aku tidak mungkin melakukan hal itu?! mintalah yang lain. Aku mohon."

"Tidak, itu permintaanku. Apa ini berat?"

"Sangat berat."

Seungyoon tersenyum simpul. "Jika kita berhasil melewati lima tahun ini, aku yakin di masa depan semuanya akan lebih baik."

"Kau memikirkan masa depan?"

"Tentu saja, jadi bagaimana? Hanya lima tahun jika kita bekerja keras waktu lima tahun itu tidak akan terasa." Ucap Seungyoon mencoba meyakinkan.

Mino menurunkan kakinya, menumpukkan kedua sikunya ke atas lutut. "Lima tahun, apa kita masih bisa berkomunikasi tentu saja tanpa bertemu, seperti permintaanmu."

"Tentu, tapi hanya saat akhir pekan saja agar kita tetap fokus pada tujuan masing-masing."

Mino menggigit pelan bibir bawahnya, berulang kali ia mengusap wajahnya, masih enggan untuk mengabulkan permintaan Seungyoon. Sungguh, ini adalah permintaan yang sangat berat. Saat dirinya begitu mencintai Seungyoon dan sekarang Seungyoon meminta waktu lima tahun untuk tidak bertemu.

"Seungyoon," gumam Mino. "Bisakah waktunya diperpendek?"

"Tidak bisa. Lima tahun itu sudah mencakup masa pendidikan di perguruan tinggi dan masa mencari perkerjaan. Bisa saja lebih lama."

"Tidak!" pekik Mino, "Jangan pikirkan apapun kenapa kau harus mencemaskan pendidikan dan pekerjaan jika aku….," Mino tidak melanjutkan kalimatnya melihat ekspresi wajah Seungyoon yang terlihat tidak suka. "Baiklah lima tahun."

"Terima kasih banyak, ini juga berat untukku tapi ada hal lain yang harus kita pikirkan selain cinta bukan? Ambisi dan impian pribadi yang harus diwujudkan juga pembuktian bahwa kita berdua bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin."

"Seungyoon…,"

"Aku tidak ingin kita berdua menyesal di masa depan karena tidak berusaha keras untuk mengejar impian. Cinta terkadang memang membutakan dan jujur aku juga takut jika apa yang kita rasakan sekarang hanya emosi sesaat, jadi aku rasa waktu lima tahun cukup untuk mempertimbangkan apakah perasaan ini hanya emosi sesaat atau cinta sejati. Lima tahun, pasti membuat kita berdua lebih dewasa."

Mino terdiam mencerna setiap kata yang Seungyoon ucapkan. "Kau benar, aku juga mencemaskan hal yang sama. Baiklah jika itu yang terbaik, dan jika kau benar-benar ingin membuktikan kepada ayahku, aku terima."

"Kau juga harus bekerja keras selama lima tahun itu Mino."

"Baiklah, baiklah, aku akan melakukan hal yang sama dengamu, kita sukses sama-sama."

"Bagus." Ucap Seungyoon sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. "Oh ya!" pekik Seungyoon. Ia bergegas mengambil sesuatu dari dalam saku celana jinsnya. "Untukmu, kau boleh tertawa jika ini terlihat konyol."

"Terima kasih, ini tidak terlihat konyol." Ucap Mino tulus sembari menerima anting berbentuk bintang berwarna hitam pemberian Seungyoon.

"Sebelah kanan untukmu dan sebelah kiri untukku."

"Kau menindik telingamu juga?"

"Kau pikir aku anak polos," dengus Seungyoon kesal.

"Kau terlihat polos." Balas Mino bersikeras.

Keduanya memasang anting pada telinga masing-masing. Mino menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. "Lima tahun lagi ya."

"Hmm, lima tahun lagi, kita akan bertemu di tempat yang sama di musim panas."

Mino menoleh menatap Seungyoon, sebuah senyum tulus terukir di wajah tampannya. "Aku akan menunggumu lima tahun lagi Kang Seungyoon."

"Aku juga Song Minho."

Mino bangkit dari duduknya ia berdiri di hadapan Seungyoon kemudian menarik lembut tangan kanan Seungyoon, membawanya berdiri. "Berjanjilah kau tidak akan berpaling." Ucap Mino pelan.

Seungyoon hanya tersenyum simpul. "Seungyoon," peringat Mino.

"Lima tahun bisa saja kita berubah pikiran kan? Jangan mencemaskan hal macam-macam." Seungyoon menyentuk dahi Mino dengan telunjuk kanannya. "Lakukan yang terbaik, itu saja."

"Kau tidak khawatir jika aku berpaling?!" pekik Mino mulai frustasi.

Seungyoon menggeleng pelan. "Tidak, jika itu yang terbaik." Mino melempar tatapan tajam, sungguh permintaan Seungyoon ini membuatnya ragu-ragu. Mino membuka mulutnya namun belum sempat ia mengatakan sesuatu, dirinya dikejutkan oleh pelukan erat Seungyoon. "Percayalah, lakukan yang terbaik percayalah. Jika aku yang terbaik untukmu tidak akan yang berubah, tidak akan ada yang berpaling."

Mino masih merasa cemas dengan kesepakatan ini, namun kalimat Seungyoon kembali menenangkannya, memang sangat berat, namun seperti yang Seungyoon ucapkan lima tahun akan merubah segalanya. Jika saat terberat ini terlewati dengan baik, selanjutnya akan menjadi lebih mudah. Lima tahun tidak akan terasa jika diisi dengan kerja keras bukan?

"Lima tahun," gumam keduanya bersamaan.

END…