ULTIMA RATIO

Disclaimer : J.K Rowling

Author : Winterblume

TomMione Time-Traveller Fic

Romance & Adventure


Summary:

Akhirnya hari Pertempuran Akhir melawan Lord Voldemort telah datang. Harry, Ron, dan Hermione bertempur dengan gagah berani melawan musuh bebuyutan mereka- tapi kemudian sesuatu menjadi salah. Dan Hermione menemukan dirinya sendirian dalam situasi genting.


10

KONON MASTER PEVERELL TELAH MENULIS BUKU

.

Hermione terbangun cukup pagi keesokan harinya. Gadis-gadis lain masih nyenyak di tempat tidur mereka. Hermione berguling ke satu sisi dan mengerang kesakitan. Seluruh tubuhnya terasa sakit seolah dia sudah menjalani lomba maraton kemarin. Ini adalah efek kutukan Cruciatus dan Hermione bergidik tanpa sadar mengingat penderitaan yang ditimbulkan kutukan itu.

Namun semalam dia luar biasa beruntung. Dia bisa melarikan diri hanya karena kebetulan. Hermione yakin kalau saja pemuda itu, dia tidak tahu namanya, tidak mengancamnya dengan tongkat, Hermione pasti tidak akan bisa mencuri kesempatan untuk kabur dan Riddle pasti akan membunuhnya. Sebelum ini Riddle telah menghabisi nyawa ayah kandungnya, kakek nenek, dan Myrtle Merana. Apalah artinya jika dia mati juga? Sangat beruntung dia bisa kabur semalam.

Hermione harus bersyukur karena semalam yang dihadapinya hanyalah Tom Riddle remaja. Dia ragu akan mampu melarikan diri kalau yang menculiknya itu Lord Voldemort.

Situasinya di Hogwarts saat ini semakin genting. Jelas-jelas sekarang Riddle menganggapnya musuh. Sebelum kemarin, pemuda itu tidak pernah benar-benar menyerangnya secara fisik. Dia memang telah mengancam dan mengintimidasinya. Dia juga telah menggunakan popularitasnya untuk mengucilkannya. Namun sejauh ini, ia belum pernah mengutuknya atau menyakitinya. Nah malam tadi, Riddle akhirnya menggunakan salah satu kutukan terburuk terhadap dirinya.

Hermione berguling lagi berusaha mencari posisi yang lebih nyaman.

Awalnya ia datang ke Hogwarts untuk mencari jalan pulang ke masa depan dan tidak berencana bermusuhan dengan Tom Riddle. Sekarang dia sudah mencurigai Hermione. Dan Riddle tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan informasi darinya sampai berhasil. Keadaan Hermione saat ini berada di persimpangan. Dia harus tetap di Hogwarts karena Dumbledore ada di sini dan pria itu akan mendapatkan Tongkat Elder cepat atau lambat. Tapi di saat yang sama, ia tidak boleh lagi tinggal di Hogwarts karena Voldemort mengincarnya.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Hermione menghela napas dan duduk. Seluruh tubuhnya sakit dan yang diinginkannya adalah berbaring lagi lalu tidur selama seminggu atau lebih. Tapi sebaliknya, dia berdiri dan tertatih-tatih ke kamar mandi. Mungkin mandi air hangat akan membuatnya lebih baik.

Hermione melepas pakaian dan berdiri di bawah shower. Dia memutar keran dan air hangat menyiram tubuhnya.

Dia membiarkan air hangat mengguyurnya selama beberapa waktu dan mencoba tidak memikirkan masalah-masalahnya. Setelah mandi air hangat, Hermione memeriksa luka-lukanya. Dia tidak bisa melakukan apapun atas efek Cruciatus tapi setidaknya dia bisa mengobati pergelangan tangan kiri yang patah.

Sekitar dua puluh menit kemudian, ia melangkah keluar kamar mandi dengan pakaian yang lengkap dan perban melilit pergelangan tangan.

"Oh, Pagi, Hermione!" Rose menyapanya sambil menguap. Dia baru saja turun dari ranjangnya. "Kau bangun pagi hari ini."

"Ya, tidak bisa tidur lagi." Hermione menjawab sopan meskipun masih ada nada dingin dalam suaranya. Dia masih belum melupakan perlakuan mereka terhadapnya minggu-minggu lalu.

Hermione melihat gadis-gadis lainnya juga sudah bangun.

"Aku akan turun untuk sarapan." Dia memberitahu mereka lalu berjalan ke pintu.

"Oke, sampai ketemu." Lucia bergumam pelan.

Hermione meninggalkan ruang rekreasi Gryffindor dan menuju Aula Besar. Sambil berjalan ia mengeluarkan tongkat sihir yang dicurinya kemarin dan memeriksanya. Diameter tongkat itu lebih besar daripada miliknya, tapi panjangnya hampir. Kayu tongkat itu berwarna krem, mungkin kayu pohon birch. Dan intinya…?

Hermione mengalirkan sihirnya melalui tongkat. Cukup bagus, tetapi terasa aneh. Tongkat itu melakukan sedikit penolakan. Tapi lumayan bagus untuk digunakan meskipun membuatnya mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan lagi. Tongkat ini bukan kompensasi atas tongkatnya yang dicuri. Hermione diam-diam mengumpati Riddle.

Terpaksa dia harus mulai menggunakan tongkat baru, namun dia sangat mengharapkan tongkat lamanya kembali. Bukan hanya karena tongkat itu seribu kali lebih baik dibanding tongkat ini, tetapi tongkat lamanya juga merupakan penghubung nyata antara dia dengan zaman Sembilan-puluhannya.

Hermione mendesah dan dengan enggan menaruh kembali tongkat baru ke dalam sarung tongkatnya.

Hermione kemudian mencapai pintu Aula Besar. Masih ada keraguan untuk masuk ke Aula Besar. Kemungkinan besar Riddle akan ada di dalam sana dan Hermione tidak ingin melihatnya sekarang. Bahkan kalau bisa, dia tidak mau melihatnya untuk selamanya. Tapi mencoba menghindari Riddle adalah usaha yang sia-sia.

Hermione mengusap rambut semaknya.

Jika Hermione menghindarinya atau menunjukkan bahwa dia gelisah, maka Riddle hanya akan menyerangnya lebih keras lagi. Dia harus tampil kuat walaupun di dalam hati ia ketakutan.

Hermione menguatkan dirinya dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu Aula Besar.

Dia masuk ke dalam. Langit biru cerah terpampang di langit-langit yang dimantrai dan menerangi Aula dengan cahayanya yang mengundang.

Tapi Hermione tahu bahwa suasana mengundang di Aula sama berbahayanya dengan langit biru Desember di luar.

Hermione menuju meja Gryffindor. Dia melihat Longbottom, Weasley, dan Lupin duduk di meja dan menikmati sarapan mereka. Longbottom melambai padanya. Tatapan Hermione tanpa sadar berjalan ke meja Slytherin. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang dia cari.

Riddle duduk santai di kursinya, memegang gelas di satu tangan dan edisi terbaru Daily Prophet di tangan yang lain. Saat Hermione melihatnya, Riddle mendongak dari koran dan tatapan mereka terkunci. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tapi Hermione bergidik saat melihat kebencian dan kemarahan di matanya. Dan semua itu ditujukan ke arahnya.

Hermione sempat melihat tangannya bergerak-gerak ke tongkatanya. Hermione menarik napas dalam-dalam dan kemudian dia melakukan sesuatu yang ceroboh : Hermione tersenyum manis padanya.

Ketika melakukan itu, dia bisa melihat mata abu-abu Riddle menyipit dan menjadi lebih dingin.

Kemudian Hermione melambai pada Riddle dengan ramah. Rahang pemuda itu mengeras dan Hermione yakin, satu-satunya alasan Riddle tidak mengutuknya di sini adalah orang-orang di Aula Besar. Hermione memutuskan kontak mata dengannya dan lanjut berjalan ke meja Gryffindor.

Hermione tahu kemungkinan besar dia telah menggali kuburannya sendiri. Tapi di sisi lain, situasinya akan tetap buruk, jadi mengapa tidak bersenang-senang sedikit?

.

Bagaimana caranya dia bisa lolos? Dia telah membuat DeCerto terpojok dan tak bersenjata namun dia berhasil lolos.

Riddle mengepalkan tangannya pada sebuah tongkat hitam, itu tongkat sihir DeCerto. Riddle duduk di salah satu sofa di ruang rekreasi Slytherin dan mood nya sangat buruk. Sihirnya berderak agresif di sekelilingnya membuat murid lain mengambil jarak jauh darinya. Mereka tahu lebih baik menghindar saja ketika dia sedang marah.

Tatapannya kembali ke tongkat di tangannya. Anehnya, rasanya nyaman. Sihir Riddle mengalir senang melalui tongkat sihir hitam itu. Permukaannya halus dan dipoles, jelas tongkat ini dirawat dengan baik.

Mendapatkan tongkat ini adalah satu-satunya hal yang sukses malam tadi, dengan putus asa Riddle mengakui. Rencananya adalah menculik dan memaksa DeCerto tunduk padanya. Tentu saja Riddle tahu DeCerto bukan lawan yang remeh sehingga ia pasti akan melakukan perlawanan. Tapi pendirian gadis itu tetap tidak hancur walaupun dipukul dengan kutukan Cruciatus. Ada alasan kutukan ini disebut 'tak termaafkan'. Cruciatus, sama seperti Imperius, adalah kutukan yang tidak bisa diblokir dan rasa sakit yang ditimbulkan begitu kuat sehingga sanggup membuat orang menjadi gila. Kutukan ini bisa menghancurkan mental seseorang, membuat mereka menderita dan memaksa mereka untuk memberitahu rahasia yang terdalam sekalipun.

Tapi, DeCerto telah menerima rasa sakitnya, dia tidak memohon, tidak memohon padanya, dan tidak menyerah. Dia telah menerima rasa sakit. Riddle teringat tatapan di mata cokelat karamel itu setelah ia memukul gadis itu dengan kutukan penyiksaan. Ada rasa sakit dan ketakutan di matanya, tetapi juga ada kegigihan dan pembangkangan. Dan ada juga…

Riddle memandang tongkat dengan gigi yang bergemeletuk.

Jijik?

Dia menarik napas dalam-dalam.

Dia sama sekali tidak mendapatkan apa-apa malam tadi. DeCerto tidak menyerah dan tidak memberinya apa-apa. Gadis Gryffindor itu masih saja menantangnya.

Pada awalnya, DeCerto tidak lebih dari masalah sampingan, tapi sekarang dia sudah jadi masalah nyata. Gadis itu kelihatannya tahu banyak tentang dirinya. DeCerto tidak seharusnya tahu. Darimana dia tahu tentang nama itu? Voldemort.

Setiap kali DeCerto menatapnya, ia punya perasaan tidak nyaman bahwa gadis itu tahu tentang dia. Tentang apa yang telah dia lakukan dan apa yang terjadi padanya. Tapi bagaimana dia bisa tahu? Dia tinggal di Inggris baru beberapa bulan. Jadi, bagaimana mungkin dia berhasil tahu banyak tentangnya? Apakah DeCerto hanya menebak-nebak? Tapi itu tidak mungkin, mengingat insiden di kelas Ramuan. DeCerto telah menyebarkan cerita menyedihkan tentang temannya yang, membuatnya terkejut, katanya mirip dengan Riddle. Riddle tentu saja tahu cerita itu hanya fiktif yang dikarang DeCerto untuk membalasnya dan membersihkan citranya di mata murid lain, tapi ada sesuatu yang mengganggunya.

Dalam cerita itu, teman DeCerto telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Apakah itu suatu kebetulan belaka? Atau bukan kebetulan? Berapa banyak yang diketahuinya?

Riddle memutar tongkat di tangannya melamun sementara sihirnya masih mengalir melalui kayu hitam itu.

Yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa DeCerto berhasil menghancurkan perisai pikirannya. Riddle memang bukan ahlinya Occlumency, setidaknya belum, tapi dia bukan amatiran. Namun, DeCerto telah menembus perisainya. Gadis itu memiliki akses ke pikirannya walaupun tidak memanfaatkan itu, malah gadis itu berusaha menyakitinya. Padahal kalau mau, DeCerto bisa saja membaca pikirannya. Riddle tidak bisa menerima kenyataan bahwa DeCerto bisa mengalahkannya saat itu. Itulah alasan dia menculiknya, tapi tetap saja tidak berhasil.

Riddle melemparkan pandangan sebal ke tongkat hitam sebelum akhirnya ia memasukkan itu ke dalam saku lalu bangkit dari sofa.

Sepuluh menit kemudian ia tiba di Aula Besar dan duduk di kursinya yang biasa. DeCerto belum tiba di Aula saat ia melirik meja Gryffindor sekilas. Riddle menuang kopi ke gelas dan mulai membolak-balik Daily Prophet. Setelah beberapa saat membaca, tiba-tiba ia punya perasaan bahwa ada seseorang yang memandangnya. Dia mendongak dari koran dan matanya menemukan mata DeCerto.

Matanya menyipit seketika saat menatap langsung ke manik cokelat itu. DeCerto tampak tidak takut padanya sedikit pun, membuatnya marah setengah mati. Sial, dia sudah mengutuknya dengan salah satu kutukan paling jahat dan DeCerto berdiri di sana, menatapnya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Riddle bisa merasakan sihirnya mulai mendidih lagi. Tapi ia harus menahan diri agar sihirnya tidak berderak di sekitarnya. Dan di sana, DeCerto masih menatapnya sedikit bosan. Riddle benar-benar ingin mengutuk dia sekarang, tangannya gatal untuk menarik tongkat sihir.

Tiba-tiba DeCerto tersenyum padanya. Bukan seringai kemenangan, bukan, itu adalah senyum ramah dan manis memuakkan. Riddle lebih mengharapkan seringai jahat. Darahnya menggelegak lagi sekarang dan ia hampir tidak bisa mengendalikan sihirnya.

Puncaknya, DeCerto bahkan melambaikan tangan padanya dengan sangat bersahabat. Dan Riddle tahu satu-satunya alasan gadis itu melakukan ini adalah untuk membuatnya marah‒ dan itu berhasil.

DeCerto mengejeknya! Dan saat ini tidak ada cara untuk membalasnya. Tinjunya mengepal.

Kemudian DeCerto memalingkan muka darinya, seakan-akan Riddle tidak layak untuk mendapatkan perhatian lebih dari itu dan dengan riang melanjutkan perjalanan ke meja asramanya.

Riddle diabaikan, dengan gelora kemarahan yang menggelegak.

.

"Kau terlihat mengerikan!"

Hermione mengangkat alis pada Weasley dan duduk di sampingnya.

"Wah, terima kasih." Hermione berkata sinis. "Sekarang, aku merasa lebih baik!"

Dia meraih ceret teh namun menghindari tumpukan kentang goreng di depannya. Dia masih merasa agak mual dan sepertinya perutnya tidak mau menerima apapun.

"Apa yang terjadi?" Lupin bertanya sambil menyantap sandwich besar isi daging. "Malammu buruk?"

Hermione menghela napas dan mulai mengaduk tehnya dengan sendok.

"Seperti itulah," gumamnya letih.

"Benar-benar, Hermione!" Longbottom berkata, di depannya piringnya penuh dengan sosis dan kentang. "Kau harusnya ceria. Besok adalah awal liburan. Nggak ada PR selama tiga minggu ke depan!"

"Mmm." Hermione menjawab dengan kurang antusias.

Tapi Longbottom benar. Liburan Natal akan dimulai besok. Berarti hanya hari ini yang tersisa bagi Hermione untuk menyusup ke kantor Dumbledore dan melakukan pencarian, karena seminggu yang lalu ia sudah menandatangani formulir yang menyatakan dirinya akan meninggalkan Hogwarts selama liburan. Tentu saja, kemana lagi dia bisa pergi? Hermione sangat tidak tertarik untuk menghabiskan banyak waktu dengan Riddle. Dan setelah peristiwa malam tadi, Hermione bahkan tidak ingin berada dalam satu ruangan yang sama dengannya. Menghabiskan waktu tiga minggu dengan Riddle di kastil yang pastinya akan sepi? Sama saja dengan bunuh diri.

"Beritahu kami rencanamu selama liburan, Mione!" Suara Weasley membawanya keluar dari lamunan.

"Ya, Mayoni, khaw tidwhak pewnah membweri tawu kwami." Longbottom berhasil berkata dengan mulut penuh makanan.

"Benar juga." Hermione berkata pelan. "Aku akan mengunjungi beberapa teman."

Kebenarannya adalah, Hermione tidak benar-benar yakin apa yang harus dia lakukan selama liburan. Dia hanya tidak mau tinggal di Hogwarts. Semua dikarenakan Riddle dan Hermione hanya ingin menjauh dari kastil dan penghuninya. Hidup di periode waktu yang salah dan selalu harus bermain akting cukup melelahkan bagi Hermione.

Hermione tidak punya rencana lain selain menyelinap ke kantor Dumbledore. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali ke zamannya. Dan saat ini masih ada masalah sihir Elder yang bersemayam dalam dirinya. Hermione harus menyelidiki sihir ini. Waktu tiga minggu liburan pasti akan membantunya menyelidiki itu.

Dia hanya butuh waktu yang cukup untuk menyusun rencana-rencananya. Tanpa tekanan teman-temannya dan para profesor, dan tentunya tanpa tekanan akan rencana jahat Riddle. Tanpa itu semua dia yakin pasti bisa meninggalkan zaman Empat-puluhan ini untuk selamanya.

"Kau punya kenalan di Inggris?" Lupin bertanya.

"Ya." Hermione merasa buruk karena harus berbohong pada teman-temannya. "Mereka adalah kenalan orang tuaku. Aku akan tinggal bersama mereka selama liburan."

Hermione telah mengamati rutinitas sehari-hari Dumbledore selama beberapa minggu. Dan satu-satunya hal yang bisa dipastikannya adalah Dumbledore adalah pria tua yang semrawut dan tidak terorganisir. Terkadang ia tinggal di kantor sampai tengah malam. Apa saja yang dilakukannya Hermione tidak tahu. Mungkin saja Dumbledore mempelajari beberapa mantra gelap atau apa. Di hari-hari lain, pria itu meninggalkan kantor sangat cepat. Pernah suatu hari Hermione nyaris tertangkap. Saat itu, Hermione melihatnya pergi sekitar jam sembilan malam dan Hermione menunggu selama dua jam untuk memastikan Dumbledore benar-benar pergi. Kemudian dia memutuskan untuk mencoba masuk ke kantor. Baru saja akan melangkah keluar dari tempat persembunyian, Dumbledore menampakkan lagi batang hidungnya di koridor lalu masuk ke kantor. Untungnya, pria itu begitu sibuk dan tenggelam dalam lamunannya sehingga tidak menyadari Hermione. Hermione menduga Dumbledore sedang meneliti sesuatu. Hermione sendiri selalu mencari-cari tahu kapan pria itu tidur. Namun, meskipun dia memahami rutinitasnya, tetap saja itu membuatnya frustasi.

Hermione ingin menyelinap ke kantornya hari ini juga. Mungkin semuanya akan sia-sia dan Dumbledore tidak memiliki informasi tentang Relikui Kematian. Tapi Hermione tidak ingin menyia-nyiakan lebih banyak kesempatan lagi.

Jadi di sinilah Hermione sekarang, berdiri di lorong depan kantor Dumbledore. Dia sudah memutuskan untuk masuk ke kantor hari ini apapun risikonya. Dan kalaupun ia harus menunggu sampai subuh, dia akan melakukannya.

Hermione bersandar di dinding batu dingin dan mencoba menahan kuap. Kakinya kesemutan dan ia mulai ngantuk sekarang. Dia mengecek arlojinya, sudah jam 8:34 p.m. Nah, kelihatannya malam ini akan terasa sangat panjang. Lima menit kemudian, ia meluncur duduk bersandar di dinding dan kakinya ditekuk sehingga bisa meletakkan kedua lengannya di atas lutut.

Hermione duduk tepat di samping deretan baju zirah besar sehingga Dumbledore tidak akan bisa melihatnya ketika meninggalkan kantor.

KALAU dia meninggalkan kantornya, Hermione mengerang dalam hati.

Hermione tersentak dari kebosanannya saat mendengar langkah kaki datang ke arahnya. Kepalanya terangkat dan perlahan-lahan ia membungkuk ke depan untuk melihat melalui celah di baju zirah. Seseorang berjalan di koridor itu, tapi penerangan yang remang-remang membuatnya sulit mengenali orang itu. Mungkin cuma murid, pikir Hermione.

Saat orang ini tinggal beberapa meter darinya, Hermione bisa mengenalinya. Tom Riddle. Jantung Hermione mulai berdetak dengan cepat.

Ketika langkah Riddle melambat, Hermione merasa keringat dingin mengalir di keningnya. Tetapi dengan kelegaan luar biasa dia menyadari Riddle tidak melihatnya namun menghadap ke pintu tua kantor Dumbledore. Hermione tidak bisa melihat raut mukanya, tapi punggung pemuda itu yang lurus mengatakan bahwa dia tegang. Apa yang dia butuhkan dari Dumbledore? Hermione tahu kedua pria itu bermusuhan. Jadi mengapa Riddle di sini?

Riddle mengambil satu langkah maju ke pintu tapi tidak mengetuk. Hermione bertanya-tanya apa Riddle sedang memikirkan ide gila untuk mengutuk Dumbledore. Apa pun yang akan mereka bahas, dia harus mendengarnya. Hermione merogoh sakunya dan mengeluarkan pena bulu. Dia memegang itu di tangannya ketika memanggil sihirnya dan berpikir, Mutatio Arachne!

Pena bulunya berubah menjadi laba-laba hitam kecil. Saat transformasi selesai, dia melemparkan mantra lagi. Yang satu ini lebih rumit. Dengan mata terpejam, dia mengarahkan tongkatnya ke telinganya sendiri lalu mengarahkan tongkat ke laba-laba kecil di tangannya lalu berpikir,

Esto Oculus!

Esto Auricula!

Mantra itu selesai hanya beberapa detik. Setelah itu, dia membiarkan laba-laba turun dan merayap ke tempat Riddle berdiri. Pemuda itu masih menatap pintu. Hermione mendengarnya mengambil napas tajam sebelum mengetuk pintu.

"Masuk!" Suara Dumbledore terdengar dari dalam.

Riddle membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kantor. Hermione mengamati dengan senang saat laba-laba hitamnya berhasil masuk juga sebelum pintu tertutup lagi.

Saat pintu tertutup rapat, Hermione mengacungkan tongkat sihirnya ke pintu dan berbisik,

"Infit!"

Mantra ini mengaktifkan mantra yang tadi diberikannya ke laba-laba. Hermione menutup kelopak matanya. Melalui mata dan telinga laba-laba, Hermione bisa melihat dan mendengar segala sesuatu di dalam kantor Dumbledore. Mantra ini sangat berguna dalam lebih dari satu kesempatan. Ron menyebut ini Mantra Mata-Mata, Hermione mengingatnya dengan sayang.

Melalui laba-laba, Hermione melihat kantor Dumbledore yang masih berantakan dengan geli. Semua instrumen perak berserakan di semua tempat. Meskipun dari sudut pandang laba-laba, semua benda terlihat menjadi sangat besar. Dia mengarahkan laba-laba menuju lemari tua dan memanjat ke atas sedikit. Sekarang dari arah ini, Hermione memiliki penglihatan yang sempurna.

Dia melihat Dumbledore duduk di belakang meja. Buku-buku dan perkamen bertebaran di depannya. Namun Dumbledore tidak lagi memperhatikan pekerjaannya. Sekarang dia menatap pemuda yang berdiri di depan mejanya.

"Silahkan duduk, Tom." Dumbledore berkata sambil menunjuk kursi yang menghadap ke mejanya. Tanpa berkata-kata Riddle duduk di kursi. Punggungnya tegang dan ia menghadapi gurunya dengan wajah kosong.

"Kau tahu kan kenapa aku memanggilmu kesini?" Dumbledore bertanya. Hermione menyadari bahwa suaranya dingin dan binar di matanya hilang.

"Ya, Sir." Riddle menjawab tanpa emosi. "Kau akan menghukumku karena perbuatan jahat yang tidak pernah kulakukan."

"Kita berdua tahu bahwa kau bersalah, Tom." Dumbledore menatap mata Riddle yang balas menatapnya juga.

"Kau tidak punya bukti!" Untuk pertama kalinya Riddle menunjukkan kemarahan di wajahnya.

Dumbledore bersandar di kursinya, masih menatap Riddle dengan pandangan menusuk.

"Jangan membuat semuanya makin sulit, Tom. Berikan tongkat sihirmu padaku dan kemudian kau boleh pergi."

Mata Riddle melebar saat itu dan dia mendesis,

"Kau tidak boleh mengirimku kembali ke sana! Ini bukan liburan musim panas!"

Dumbledore mengangkat alis lalu menyatakan dengan suara dingin yang belum pernah Hermione dengar sebelumnya,

"Kita sudah punya kesepakatan tentang ini. Kau bisa menyerahkan tongkat sihirmu padaku sekarang dan meninggalkan Hogwarts untuk liburan Natal, atau aku akan memastikan kau dikeluarkan dari sekolah. Ini adalah keputusanmu, Tom."

Bibir Riddle membentuk garis tipis sekarang dan kerutan muncul di antara alisnya. Mata abu-abunya terbakar oleh kebencian membunuh ke arah Dumbledore. Di sisi lain, Dumbledore masih menatapnya penuh harap, tampak tidak terpengaruh oleh amarah Riddle.

Tiba-tiba Riddle bangkit dari kursinya. Dia melihat sengit pada Dumbledore. Tak satu pun dari mereka yang bergerak. Riddle masih menatap Dumbledore marah sementara Dumbledore tidak terpengaruh dan hanya memandang ingin tahu.

Perlahan Riddle merogoh jubahnya dan mengeluarkan tongkat sihirnya. Buku-buku jari tangannya memutih saat menggenggam tongkat. Kemudian dengan sangat perlahan ia meletakkan tongkatnya di meja Dumbledore. Pria tua itu terus memperhatikan gerak-gerik Riddle. Saat tongkat putih itu berbaring di meja, Riddle menjauh beberapa langkah, masih menatap tongkat sihirnya.

"Setelah liburan kau bisa datang ke kantorku dan aku akan mengembalikan tongkat ini padamu." Ucap Dumbledore datar.

Tatapan Riddle berjalan kembali ke wajah si penyihir tua itu, manik abu-abunya memancarkan emosi dingin. Tanpa banyak bicara ia berbalik dan menuju ke pintu lalu meninggalkan kantor.

Hermione harus berusaha untuk keluar dari mata laba-laba dan berkonsentrasi pada matanya sendiri. Dia bisa melihat Riddle menyusuri koridor dengan cepat. Lalu ia masuk lagi ke mata laba-laba. Dumbledore masih duduk di mejanya. Sekarang pria itu memegang tongkat Riddle dan menatap benda itu sedih. Setelah beberapa saat kemudian Dumbledore berdiri, melangkah ke salah satu lemari dan menaruh tongkat itu di laci. Dia mengunci laci dengan mantra yang tidak dikenal Hermione. Setelah tongkat itu disimpan, Dumbledore kembali ke mejanya dan lanjut membaca buku-bukunya.

Hermione memutuskan untuk meninggalkan penglihatan ajaibnya. Dia mengarahkan laba-laba ke bawah lemari untuk duduk di sana. Kemudian dia berusaha kembali ke inderanya sendiri. Dia membuka mata dan melihat lorong sepi lagi, bukan kantor Dumbledore. Kemudian Hermione mengacungkan tongkat sihirnya ke pintu kantor dan berpikir, Finite!

Dengan itu mantra yang ada pada laba-laba hilang. Dan sekarang pena bulu tua lusuh tak berdosa tergeletak di bawah lemari kantor Dumbledore.

Hermione menyandarkan punggungnya ke dinding batu.

Tentang apa itu tadi?

Dumbledore mengambil tongkat Riddle. Dan apa yang dikatakan Riddle? 'Kau tidak boleh mengirimku kembali ke sana!'

'Ke sana' itu jelas panti asuhannya. Hermione bingung. Dia pikir Riddle hanya kembali ke panti asuhan selama liburan musim panas. Setidaknya itulah yang diceritakan Harry. Dia tahu Riddle teramat sangat membenci panti asuhan itu.

Tentu saja dia benci, Hermione memutar matanya. Secara itu adalah panti asuhan Muggle. Dan kalau ada orang yang sangat membenci Muggle, orang itu adalah Riddle. Dia benci harus terpaksa hidup dengan Muggle rendah.

Dasar bajingan jahat!

Tapi kelihatannya, kembali ke panti asuhan selama liburan Natal telah menjadi semacam hukuman bagi Tom Riddle. Dia terpaksa meninggalkan tongkatnya ke Dumbledore dan kembali ke panti asuhan yang dibencinya. Berarti Dumbledore punya sesuatu untuk mengancam Riddle. Karena seorang Riddle tidak akan pernah menuruti kehendak Dumbledore kalau tidak ada sesuatu.

Lalu apa 'sesuatu' itu? Hermione bertanya-tanya.

Dan Dumbledore mengancam akan mengusir Riddle dari Hogwarts? Tapi mengapa Dumbledore menunggu. Jika memang dia memiliki bukti kejahatan Riddle, seharusnya dia mengusir Riddle dengan segera. Riddle adalah bajingan jahat. Dia tidak pantas menjadi murid di Hogwarts. Hermione penasaran kenapa Dumbledore ragu-ragu. Apakah bukti saja tidak cukup untuk membuat Riddle dikeluarkan? Apakah Dumbledore berharap dia entah bagaimana bisa menyadarkan Riddle? Menunjukkan Riddle jalan yang benar, sehingga Riddle berubah? Kalau memang demikian, maka ia sangat keliru, pikir Hermione. Riddle sudah tidak bisa diubah lagi.

Selama tiga jam ke depan Hermione masih duduk di tempat yang sama dan masih kepikiran tentang adegan yang disaksikannya di kantor Dumbledore. Dia merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang menjelaskan sikap Dumbledore dan berbagai skenario tentang mengapa dan bagaimana Dumbledore mengancam Riddle untuk menjalani hukumannya. Seiring berjalannya waktu, skenario-skenario tebakannya malah menjadi semakin konyol. Akhirnya dia keluar dari lamunan saat melihat Dumbledore meninggalkan kantor.

Setelah satu jam pria itu pergi, Hermione akhirnya mulai bertindak sesuai rencananya. Dia berdiri dan berjalan ke pintu kantor. Kemudian mengarahkan tongkatnya ke koridor sambil bergumam,

"Incipio!"

Mantra penangkal pun aktif. Mantra itu akan mengingatkannya kalau ada seseorang datang ke koridor. Itu memberinya cukup waktu untuk meninggalkan kantor kalau Dumbledore kembali. Memang masih berisiko. Dia cukup terkejut Dumbledore tidak melihat laba-laba hitam itu tadi.

Jadi dia harus buru-buru menyelesaikan pekerjaan di sini. Hermione mengacungkan tongkat sihirnya ke pintu kantor. Dia memanggil sihir dan menyalurkannya ke pintu. Sihirnya segera menghantam penangkal Dumbledore seolah-olah itu adalah dinding. Dia mengecek penangkal itu dan lega itu hanya mantra penangkal sederhana yang dikenalnya. Dumbledore jelas tidak mengharapkan seseorang akan masuk kantornya. Hermione melihat ke mantra penangkal yang dipasangnya di koridor. Tapi dia tidak berhenti mengalirkan sihir ke penangkal di pintu, dia berniat untuk menghancurkan itu. Setelah beberapa detik, ia bisa merasakan perubahan yang memuaskan. Penangkal itu hancur.

Hermione meraih gagang pintu dan membuka pintu ke kantor Dumbledore. Dia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Suasana menenangkan menerpanya sekali lagi. Tapi kali ini dia punya bisnis di tempat ini. Dia adalah seorang pencuri dan penyusup. Hermione harus mengingatkan dirinya sendiri.

Hermione menyalakan tongkatnya dengan Lumos dan merayap ke meja Dumbledore. Buku-buku tersebar di seluruh meja. Hermione mengangkat satu dan membaca sampulnya, Penciptaan Benda Magis dan Sihir yang Melekat Pada Mereka. Dia meraih buku-buku lain, Daya Sihir Objek Tak Hidup, Cara Mentransfer Sihir.

Naluri kutu buku Hermione sangat mendambakan membaca-baca buku ini, tetapi dia memiliki hal-hal lain yang harus dilakukan. Dengan sayang ia meletakkan kembali buku itu di atas meja dan kembali mencari. Dia menuju ke rak buku besar yang menutupi dua dinding kantor sekaligus. Akan memakan waktu beberapa jam untuk mencari di rak itu secara manual. Hermione terpaksa mencarinya dengan sihir. Tidak cukup menyeluruh tapi dia tidak punya banyak waktu. Jadi ia memikirkan tentang subjek yang ingin dicarinya.

Relikui Kematian, Tongkat Elder!

Dia berkonsentrasi sangat keras lalu mengangkat tongkatnya, mengarahkannya ke arah rak dan berbisik,

"Invenio!"

Beberapa detik kemudian, beberapa buku melompat menuju Hermione. Hatinya kecewa saat menghitung ternyata cuma tiga buku. Dia menangkap mereka dan memeriksanya. Kekecewaan semakin bertambah setelah membaca semua judulnya. Buku-buku ini sudah pernah ia baca. Salinan buku-buku ini ada di perpustakaan. Semua ini tidak berguna untuknya.

Dengan lambaian tongkatnya, buku terbang kembali ke rak. Hermione berpaling dari rak dan menyusuri kantor lagi. Dimana Dumbledore menyembunyikannya? Hermione mencari ke semua laci dan lemari tapi sia-sia. Dia juga tidak menemukan sesuatu yang menarik di samping beberapa ceret teh jahat yang mencoba menggigit jari-jarinya.

Yah, berarti tidak ada apapun yang berguna di sini, Hermione menduga dengan frustasi saat duduk di kursi Dumbledore di belakang mejanya. Di kantor ini tidak ada sesuatu yang dicarinya. Well, kecuali laci tempat Dumbledore menyimpan tongkat sihir Riddle, dia belum berhasil memecahkan penangkalnya. Jika Dumbledore telah menyembunyikan sesuatu dengan sihir, maka Hermione pasti akan merasakan itu. Dia tengah mengusap hidungnya lelah saat tatapannya jatuh ke keranjang sampah di lantai. Ada sepotong perkamen kuning yang dilihatnya atau lebih tepatnya dia melihat sebuah nama di perkamen itu, Flamel.

Hermione mengambil perkamen dari keranjang sampah lalu merapikannya di atas meja.

Albus,

Ini benar-benar sensasional! Fenomenal! Aku tidak percaya memegang naskah ini di tanganku. Bagaimana bisa kau menemukannya? Ini sangat luar biasa. Aku bersyukur kau memberiku kesempatan untuk mempelajari sepotong sejarah sihir ini. Aku tahu betapa lama kau mencari sesuatu seperti ini. Dan sekarang aku menyesal karena pernah mengejek keuletanmu.

Aku yakin ini akan membawa kita beberapa langkah lebih maju dalam penelitian kita. Peverell bersaudara adalah master sejati dalam seni mereka.

Kita harus segera bertemu. Ada banyak hal yang harus dibahas dan aku baru selesai membaca dua bab pertama.

Kita bisa bertemu di apartemen baruku di London. Aku memiliki laboratorium hebat di sini. Apartemenku ada di Jalan Foxham nomor delapan. Datanglah kapan pun kau mau.

Salam hangat,

Nicholas Flamel

Hermione membaca satu kata yang menarik perhatiannya, Peverell. Peverell bersaudara adalah pencipta asli Relikui Kematian. Hermione merasakan sukacita saat tahu apa yang tersirat dalam surat itu. Ada naskah asli yang ditulis sendiri oleh Peverell bersaudara? Dia harus mendapatkan buku ini bagaimana pun caranya. Dia pasti akan menemukan sesuatu dalam buku ini yang akan membantu kesulitannya. Mungkin itu adalah tiket untuk pergi dari sini. Akhirnya dia akan bisa meninggalkan zaman ini dan kembali ke masa depan.

Tangan Hermione bergetar saat mengayunkan tongkat sihirnya di atas surat dari Flamel. Salinan surat itu muncul dari udara tipis. Dia meremukkan surat Flamel yang asli dan membuangnya lagi dalam keranjang sampah. Dia ingin pergi dari kantor ini dalam kondisi kantor yang sama seperti ketika pertama kali ia memasukinya.

Hermione meninggalkan kantor dengan salinan surat yang aman dalam saku jubahnya dan menutup pintu. Setelah itu, dia memasang lagi mantra penangkal di pintu kantor Dumbledore. Pria itu tidak akan pernah tahu bahwa seseorang masuk ke kantornya malam ini.

._._._._._._.

Keesokan harinya, Hermione terbangun dan untuk pertama kalinya tidak merasakan kegelisahan seperti kemarin-kemarin. Surat yang ditulis Flamel ke Dumbledore ini adalah harapan baru untuknya. Akhirnya, ia bisa melihat cahaya di ujung terowongan gelap. Kembali ke periode waktunya sendiri kelihatannya bukan sesuatu yang mustahil lagi. Dia hanya perlu mendapatkan buku itu dan kemudian dia akan menemukan beberapa informasi dalam naskah Peverell yang akan membawanya pulang ke masa depan.

Hermione melompat riang dari tempat tidurnya dan meraih beberapa pakaian dari kopernya. Dia tidak perlu memakai seragam karena hari ini adalah awal dari liburan Natal. Hogwarts Ekspres akan meninggalkan stasiun Hogsmeade jam sebelas siang dan Hermione bermaksud naik itu nanti. Dalam surat Flamel, dia memberitahu Dumbledore di mana dia tinggal. Jadi, yang harus Hermione lakukan adalah pergi ke apartemen Flamel di London dan mencuri buku Peverell.

Hermione meninggalkan kamar dan berjalan menuruni tangga ke ruang bersama. Dia ingin segera pergi sarapan lalu kembali ke kamar lagi untuk mengemasi barang-barangnya. Saat berjalan di ruang rekreasi, ia melihat gadis tahun pertama atau kedua mendekatinya gugup.

"Permisi." Gadis kecil itu menyapanya malu-malu.

"Ya, Sayang?" tanya Hermione ramah.

"Kepala Sekolah ingin berbicara denganmu." Gadis itu berkata cepat.

Jantung Hermione deg-degan mendengarnya. Jangan bilang kalau mereka tahu tentang penyusupannya ke kantor Dumbledore?

"Kata kunci ke kantor Kepala sekolah adalah 'Infigo'!" Ucap gadis kecil itu lagi kemudian menambahkan dengan suara kecil,

"Dan…dan Profesor Legifer ingin bertemu denganmu juga."

Hermione mencoba untuk tidak panik, dia tersenyum ramah pada si gadis.

"Terima kasih, Sayang."

Gadis itu mengangguk, sepertinya lega bahwa ia telah berhasil menyampaikan pesan itu. Hermione, di sisi lain, tidak merasa lega sedikit pun. Ia meninggalkan ruang bersama dan menuju ke kantor Kepala Sekolah.

Mereka tidak mungkin tahu, ia mencoba meyakinkan dirinya. Dia sama sekali tidak meninggalkan jejak di kantor Dumbledore.

"Infigo!" Hermione berbisik ke patung gargoyle yang menjaga kantor Kepala Sekolah.

Patung gargoyle berputar naik sehingga mengekspos tangga melingkar yang menuju ke kantor. Hermione merasakan gejolak di perutnya saat menaiki tangga. Sesampainya di atas, dia mengetuk pintu kayu kantor Dippet dengan enggan.

"Masuk!" Dia mendengar suara Kepala Sekolah.

Hermione membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kantor. Ruangan itu masih terlihat seperti terakhir kali dia berada di sini. Ruangan itu sangat rapi, tidak ada satu pun benda yang berserakan. Kaca lemari dengan piala-piala emas dan medali berdiri dengan gagahnya di salah satu dinding kantor. Meja besar mengintimidasi yang terbuat dari kayu hitam berada di tengah-tengah kantor, mendominasi suasana ruangan. Di belakang meja, Dippet duduk di kursinya yang nyaman. Rambut berubannya dipangkas pendek, potongan rambut yang sesuai dengan baju bordiran dan rompi abu-abu di bawah jubah penyihir hitamnya. Saat ini Dippet tengah membaca beberapa perkamen di meja.

"Anda ingin bertemu saya, Kepala Sekolah?" tanya Hermione sopan.

Dippet mendongak dari kertas. Tatapan kerasnya menatap Hermione. Hermione merasa sedikit lega saat menyadari Dippet mengerutkan alis, berusaha untuk mengingat siapa dia dan mengapa dia di sini. Pasti bukan tentang penyusupannya ke kantor Dumbledore.

"Ah, tentu saja, Ms. DeCerto," kata Dippet dengan suara sombongnya. "Biasanya kepala asrama yang harus berbicara padamu sekarang. Tapi sayangnya Profesor Dumbledore mendadak harus meninggalkan Hogwarts dan tidak akan kembali sampai akhir liburan."

Hermione merasa Dippet agak terganggu dengan tugas ini dan ingin menyelesaikannya secepat mungkin.

"Ya, Sir," katanya.

Dippet meraih setumpuk kertas yang tersusun rapi dan mengambil satu.

Ia mengamati kertas itu kemudian menatap Hermione lagi.

"Kau berencana untuk meninggalkan Hogwarts selama liburan, Ms. DeCerto. Aku kira kau tidak punya keluarga di Inggris, jadi di mana kau berniat untuk tinggal?"

Dippet tampaknya tidak terlalu tertarik pada rencananya untuk liburan. Jelas tugas ini mengganggunya karena saat ini kepala asramanya tidak ada untuk melaksanakan tugas ini.

"Saya punya beberapa kerabat di Inggris, Sir. Saya akan tinggal bersama mereka selama liburan." Hermione menjawab.

Dippet meliriknya lagi dan mengangguk singkat. Dia tampaknya memang tidak tertarik dengan kehidupan Hermione sehingga tidak bertanya lagi.

"Bagus sekali, Ms. DeCerto, kuharap liburanmu menyenangkan." Dippet mengatakan dengan acuh karena ia mulai membaca tumpukan kertas baru lagi.

Hermione menganggap itu sebagai tanda untuk pergi dan berkata,

"Semoga liburan anda juga menyenangkan, Kepala Sekolah."

Dippet tidak mendongak dari kertas atau menunjukkan bahwa ia mendengar Hermione. Jadi Hermione pergi meninggalkan kantornya. Dia merasa agak lega tadi itu bukan tentang aktivitasnya semalam. Tapi semua akan jadi lebih mudah kalau saja Dumbledore meninggalkan Hogwarts sebelum liburan, pikir Hermione saat melewati patung gargoyle. Dia pasti tidak akan susah-susah menunggu dan mengintai kantornya.

Hermione berjalan menyusuri koridor. Dia masih punya satu janji lagi untuk dihadiri. Lima menit kemudian dia berdiri di depan kantor Profesor Legifer dan mengetuk enggan.

"Ya?" Hermione mendengar jawaban dari suara yang menjijikkan itu.

Saat Hermione masuk, dia menemukan Legifer duduk di belakang mejanya dan menatap dingin pada Hermione.

"Aku tidak perlu heran, bukan?" Legifer berkata dengan nada menegur sebelum Hermione punya kesempatan untuk buka mulut.

Tatapan dingin Legifer beralih dari Hermione ke jam yang tergantung di dinding.

"Keterlambatanmu selalu spektakuler."

Hermione mengangkat alisnya. Tapi dia merasa Legifer tidak mengatakan apapun tentang jam berapa Hermione harus ke kantornya.

Legifer bersandar di kursinya dan mata tajamnya memindai Hermione lagi. Lalu ia berkata dengan suara tajam,

"Sekarang, Ms. DeCerto, ketidakmampuanmu untuk mengikuti pelajaranku cukup memprihatinkan."

Hermione berusaha menelan mentah-mentah penghinaan ini agar tidak berteriak di depan muka profesor.

"Aku tidak akan mentolerir setiap siswi yang gagal di pelajaranku, tidak peduli betapa tidak berbakatnya mereka." Legifer melirik Hermione sinis.

"Jadi, aku ingin kau mengerjakan ini selama liburan."

Legifer mendorong sebuah buku tebal yang tergeletak rapi di meja menuju Hermione. Hermione mengambil buku dan membaca sampulnya: Etiket untuk Penyihir Rumah Tangga Muda.

Jemari Hermione bergetar marah saat ia menatap buku itu.

"Kuharap kau mengumpulkan ringkasan tertulis setelah liburan." Legifer berucap dengan tegas.

Pandangan Hermione beralih dari buku ke profesor yang duduk di depannya.

"Ya, Profesor." Hermione menjawab dengan suara ditekan.

"Kau boleh pergi." Legifer menyuruh Hermione pergi.

Hermione langsung kabur dari kantor itu. Sihirnya sudah mulai berderak marah dan dia takut tidak akan bisa mengendalikannya saat di kantor tadi.

Dengan buku konyol terjepit di bawah ketiaknya, Hermione berjalan kembali ke ruang rekreasi Gryffindor.

Penyihir tua bodoh!

Sekarang, Hermione harus melewatkan sarapan gara-gara si penyihir jahat itu. Dia masih harus berkemas dan bergegas ke Hogwarts Ekspres yang akan berangkat jam 11:00 tepat.

Suatu hari nanti akan kupatahkan batang lehernya dan kemudian aku akan mengutuk wanita itu tanpa ampun!

.

Hermione berdiri, koper di tangannya, di peron Stasiun Hogsmeade dan memperhatikan Hogwarts Ekspres. Kereta itu masih tampak sama. Besar, lokomotif uap nya, banyak gerbong dengan kompartemen-kompartemen di dalamnya dan tentu saja kebisingan di seluruh penjuru peron.

Kereta api, Hogsmeade dan para murid, semua itu sama seperti yang diingat Hermione selama enam tahun di Hogwarts. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk melihat kembali seserpih bagian dari masa lalunya. Meskipun jauh di lubuk hati, Hermione tahu dia bukan bagian dari hal ini lagi. Dirinya berdiri di sini dengan koper di tangannya dan berpura-pura. Dia bukan lagi seorang murid, dia bukanlah salah satu dari mereka.

"Hei, Hermione." Sebuah suara di sampingnya berkata. "Ada sesuatu yang salah?"

Hermione berbalik. Di sampingnya berdiri Longbottom, Lupin, dan Weasley. Lupin yang baru saja berbicara menatapnya khawatir.

"Tidak, tidak kok." Hermione menjawab dan mencoba tersenyum meyakinkan mereka. "Aku baik-baik saja."

Longbottom mengernyitkan alisnya berpikir, lalu tiba-tiba ceria dan berseru,

"Oh, tentu saja. Kau pasti belum pernah melihat Hogwarts Ekspres, kan?"

Hermione tidak memprotes karena Longbottom benar. Hermione Granger memang telah melihatnya pertama kali saat berumur sebelas tahun dan gugup menanti perjalanan ke kastil ajaib. Tetapi Hermione DeCerto belum pernah menggunakan Hogwarts Ekspres karena ia adalah murid pindahan dari Perancis.

"Ini sangat menyenangkan." Longbottom melanjutkan dengan antusias. "Kita akan duduk di kompartemen kemudian kita bisa bersantai-santai sedikit. Kau tahu, pemanasan untuk tiga minggu ke depan lho!" Dia menyeringai nakal.

Hermione tersenyum padanya dan dua pemuda lainnya.

"Ya, mari kita lakukan itu."

Dia memperkuat genggamannya pada koper dan mengikuti tiga anak laki-laki itu ke kereta. Yang perlu dilakukannya sekarang hanya bersantai-santai. Setidaknya hingga sampai di London nanti.

Kemudian, ia harus menyusun rencana lagi. Hermione berencana untuk menyewa kamar di Leaky Cauldron lagi. Setelah itu ia harus mencari apartemen Flamel. Mudah-mudahan ia akan menemukan buku yang sangat dibutuhkannya.

Tapi untuk saat ini, dia akan menikmati waktu bersama teman-temannya. Sama seperti yang selalu dilakukannya dulu ketika pulang dengan Hogwarts Ekspres.

.

To be Continued


.

Loha lagi,,,, chapter ini agak pendek emang dan gak ada interaksi Tom-Mione, tapi tenang aja, di chapter2 setelah ini interaksi mereka bkalan lebih seru dibanding sebelumnya, ^^

Tengkyu banget ya buat yg udah baca dan review chapter kemaren,, Oh, ya ada yg nyaranin supaya judul fic ini juga diterjemahin,, Cherry mau sih, tapi entah kenapa rasanya bakalan aneh kalau judulnya juga ditrjemahin,, Lagipula, Cherry gak menemukan terjemahin yang bener2 pas buat judul fic ini,, hehehe, secara Ultima Ratio kayaknya bukan bahasa inggris deh... ^^

Semoga kalian semua menikmati chapter ini,,,, ^O^