"Apa apa dengan senpai" series [Pembalasan Dendam (nyipelet)]
Pair :
Mybby-Jihoon (bukan svt tapi winner) duet maut sama MinYoon buat yang gak puas
Demi Kang Seungyoon yang garang tetapi tak bisa berkela-ups keceplosan, salah-salah. Ulangi sj.
Demi ff sebelum chap ini yang amit-amit isinya –nahininih.
Song Minho benci dengan Lee Seunghoon.
Ibunya selalu menggeleng-gelengkan kepalanya saat bibir pas Mino kecil dengan mudahnya mengatakan kata 'benci' acapkali mengadu saat acara makan malam. Benci kodok lah, benci anak lelaki mudah menangis lah, benci anak yang mudah sekali jatuh padahal hanya ia senggol.
Alasan sepela maka dari itu ibunya hanya menganggapnya angin lalu. Entah karena itu rancaun anak kecil yang amat disayangkan mengenal kata 'benci' disaat tidak tepat –mungkin itu alasan dibalik kemampuan rappnya atau karena rasa bencinya hanya dibibir saja sampai sang ibu lelah untuk selalu mengingatkan anaknya berhenti bilang 'benci' sebab semuanya akan berakhir sama saja.
Buktinya sudah banyak; saat hari kasih sayang, taman kanak-kanak Mino mengadakan acara khusus yaitu memberikan cokelat kepada orang paling disayangi di kelas dan Mino mendapatkan banyak sekali cokelat dari teman-teman yang ia adukan karena kebenciannya, semuanya lelaki dan Mino kecil yang dewasa sebelum waktunya merengut jijik seharian sembari membawa cokelat itu kemana-mana di apitan lengannya.
Namun setelah itu yah, sampai rumah cokelat berukuran besar-besar itu dengan jumlah tidak sedikit berhasil ia lahap sendirian.
Tsundere memang tetapi Mino berani bersumpah bahwa manusia tsundere cukup Ilhoon seorang saja –bau bau the next Seungyoon sih, jangan sampai.
Hal tersebut terus berangsung sampai usia Mino yang ke-sembilan, tepat setelah Danah sudah cukup umur untuk mengetahui dan mengerti 'keburukkan' kakaknya itu.
Mino baru akan berhenti mengoceh sampai kuah ramyunnya muncrat kemana-mana kalau Danah sudah bilang...
...'hati-hati loh kak. Benci jadi cinta. Kaya cinta pertama kakak itu loh'
Danah memang sialan karena ibunya bakalan menginterogasinya terus menerus, padahal jawabannya akan tetap sama.
Karena kenyataannya memang begitu. Cinta pertamanya di bangku kelas 3 ditolak mentah-mentah setelah anak perempuan itu mengomentari betapa menggelikannya Mino –katanya mau membalas olok-olokkan Mino dulu; ia saat SD sangat alergi dengan anak perempuan baik-baik yang rambutnya selalu dikuncir rapih oleh ibunya, diantar jemput, bekal dihias sedemikian rupa. Katanya, aneh sekali anak itu begitu 'lurus'.
Sakit. Sangat malah. Makanya menginjak usia remaja, setelah tampangnya sudah 'lumayan' Mino tidak mau terjadi hal yang sama untuk kedua kalinya.
Canci sedikit harus digebet sebelum menyesal (penyesalan selalu datang terlambat bruh).
Karena ditolak cewek cantik seantero Yonggi-do lebih sakit daripada ditolak cewek biasa aja.
Tapi Mino berani bersumpah kalau bencinya kali ini tidak akan berujung cinta.
Amit-amit tujuh turunan, sudah punya Seungyoon juga.
Lagipula hari ini Seungyoon sangat manis padanya hehe. Mino jadi malu.
Oke kembali lagi ke Lee Seunghoon, masalah Seungyoon gampang. Selalu ada kesempitan dalam kesempatan.
Song Minho benar-benar benci pada Lee Seunghoon.
Dan sekarang ia menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam.
"Seungyoon-ie!"
"Astaga sudah kubilang berapa kali untuk memanggil seper-Aigo!" Seungyoon mengerutkan keningnya. "Ada apa Jinwoo hyung?" tanyanya bingung.
Fiuh~Bersyukurnya ia tak sempat melempar makian atau menghantam pelaku dengan nasi kotak yang berhasil ia selamatkan untuk acara makan pagi nanti. Dilempar wajah close-up penuh aegyo, suara imut, panggilan dengan tujuan tertentu jam 5 pagi? Gila!
Tapi dalam sekejab, otak cerdasnya langsung berputar. Jinwoo tidak terlalu pandai dalam menyampaikan maksud dan perasaannya jadi Seungyoon harus berpikir lebih cepat, menebak sebelum Jinwoo bersuara.
Konsumsi? Tadi aku mengantarkannya langsung, sudah aman dari ancaman vacuum cleaner Mino, Jiwon, dkk. Projektor? Tadi aku yang memasang dan sempat dipakai anak-anak untuk menonton film horror tengah malam. Kitabnya kurang? Ah...mana mungkin, sejak hari pertama tidak ada acara pinjam meminjam.
Lalu apa?
"S-sound system! MIC!"
Tak ada Nam Taehyun karena penolakkan untuk mengisi acara dengan suara tingginya maka ada Kim Jinwoo yang suka tak sadar diri suaranya itu...ah sudahlah.
Ada apa tadi? Sound system? Seksi perlengkapan ya?
Shit.
Seungyoon langsung memasang ekspresi sedatar mungkin. "Aku bukan seksi perkap, bahkan anggota organisasi rohani ini saja tidak. Aku kan hanya pengganti pengawas acara, bukan panitia," matanya memicing sejenak. "Hyung kan panitia. Ah tidak, sukarelawan. Kenapa harus turun tangan? Aku tidak melihat sedikitpun panitia inti atau adik kelas yang ketar-ketir mencari bantuan tuh, kenapa hyung ambil repot? Yang punya acara saja santai."
Ia mengulas senyum tipis, setipis kulitnya yang sudah merinding berkat udara dingin di luar ruangan ini.
"Lebih baik gunakan walkie talkie itu dengan baik untuk menghubungi guru, biarkan saja mereka selesai acara dibabat habis. Kasian hyung sudah jauh-jauh lari begini tapi nanti saat selepas acara dianggap tidak melakukan apa-apa."
Sepasang mata rusa Jinwoo terbelak. "Jangan gila, Yoon! Kalau acara ini hancur bukannya kamu akan dihabisi ketua OSIS?"
Fucking-true-honest-Kim Jinwoo terjadi lagi.
"Ya salah sendiri kenapa baik ketua bahkan wakilnya tidak dapat hadir, kalau aku yang 'merusak' rencana aku bisa menyerang mereka balik. Salahkan guru koordinasi eskul ini, kenapa memilihku yang posisinya jauh sekali bukannya perwakilan kelas atau sekretaris OSIS," mulut pedas Kang Seungyoon juga terjadi lagi. Meskipun begitu, Seungyoonn tetap ngeri juga.
Reputasi di kelas duanya ini sedang cerah-cerahnya, semua orang mendukung dirinya meskipun kelas 2 dikenal masa nakal-nakalnya. Orang-orang sangat kagum padanya dan menjadikannya contoh di tiap kesempatan manapun (kecuali di mata anak kelas 3 yang mencari-cari celahnya terus) dan ia tidak mau hanya karena acara yang jatuh karena alasan loh-aku-kan-bukan-panitia-hanya-pengganti-pengawas, reputasinya langsung jatuh bebas.
Dan pastinya, selesai acara dialah yang akan diminta laporan oleh kepala sekolah bersama ketua panitia. Mau bicara apa nanti kalau acara babak belur? Bahkan acara babak belur tampak lebih mengerikan daripada ada satu dua anak yang lepas dari pengawasan.
Persetanan dengan Shin Hoseok dan Chae Hyungwon. Awas saja kalian kerjasama tidak dapat hadir karena urusan one night stand. Kudoakan saja kalian tidak pernah jadian.
"-Semuanya sudah ketar-keti-Loh? Seungyoon! Mau kemana? Kok ditinggal?!"
Jaket tipisnya semakin Seungyoon dekap. "Mau mencari seksi perkap! Butuh banyak mic ya? Mau nyanyi kan?"
Berkatilah Seungyoon yang masih berotak encer, totalitas akan posisi ketua kesiswaannya, tetapi juga masih fokus kepada eskul paduan sua-
"Bukan! Itu kan untuk nanti malam sebagai acara penutup. Ini buat pengisi materi!"
Matilah kau Kang Seungyoon.
Sebelum acara, ia sempat membaca proposal untuk mengetahui 'situasi' nanti dan dengar-dengar pengisi materinya sangat sulit untuk dicocokkan jadwal, biaya tinggi, dan sangat perhitungan akan waktu serta uang (susunan acara terus berubah karenanya huh). Kalau bukan karena sekolah tiap tahun maunya dia yang mengisi dan karena kehebatannya itu, Seungyoon kalau jadi panitia akan merobek habis surat undangan kehadirannya.
Seungyoon sih tidak mau mengeluarkan se-satu won pun untuknya, apalagi para panitia acara yang sudah ekstra kerja keras mencari dana dan sponsor demi memenuhi standaritas sekolah (sekolah menyebalkan) dan sekalipun pengaruh dirinya dalam keorganisasian sekolah sangat besar, tetap saja Shin Hoseok atau Wonho selaku ketua OSIS yang lebih tua darinya tak segan-segan untuk menyemprotnya nanti.
Dari belakang mulai terdengar suara keluhan dari si ceriwis Kim Jinwoo tapi Seungyoon tidak peduli.
Sudah ada beban kemungkinan acara akan hancur karena ngambeknya pengisi materi, di pintu masuk melihat Song Minho berdiri dengan pintu menjadi sandarannya semakin membuat bebannya bertambah.
Ia tidak pernah menyangka, 17 tahun ia hidup baru kali ini akan terlibat dalam rencana tak berguna dan penuh resiko. Dipelopori oleh Song Minho, otak dari semua masalah pula.
Kalau bukan untuk mengais image 'galak'nya yang sekejab berubah menjadi 'namja canci nan tsundere' berkat ucapan polos seorang Kim Jinwoo pagi buta kemarin karena mengiranya seorang gadis hobi berdandan, Seungyoon sih ogah.
Sejalan dengan seringaian Song Minho maka rencana itu akan terlaksana sebentar lagi.
"Ya ya ya? Seungyoon ayolah!"
"Ish, jauh jauh sana! Anak gadis tidak boleh bertemu dengan lelaki di acara suci begini!"
Seungyoon masih ngambek berat dan itu semakin membaut Mino ingin memanggilnya 'anak gadisq' terus menerus.
Untuknya dia ingat tujannya kesini.
"Yang malu bukan kamu aja!" Seungyoon pura-pura tak mendengar.
"Kalau kita bersatu, pasti sukses besar dan kita berdua akan disegani lagi!"
"Biasanya juga tanpa kerjasamaku, akan sukses berat," Seungyoon buru-buru menatap tajam adik-adik kelas yang lewat sembari melihatnya dan Mino di posisi...err...
"Aku kan kerjanya menangkap basah kalian semua jadi jangan sampai ketahuan saja soalnya disini yang anak kesiswaan hanya aku sa-Song Minho-ssi!"
Seungyoon geram dan Mino nyengir.
Kapan lagi coba bisa sedekat ini dengan doi supersibukmu? Kesempatan tak pernah datang dua kali bung!
Lagipula mereka kan sepasang kekasih, kecupan di pipi tak masalah bukan?
Yah meskipun Mino menyayangkan karena kecupan pertama mereka justru hanya di pipi dan di suasana tak ada enak-enaknya ini.
"Ini tempat umum," desis Seungyoon rendah dan menatapnya tajam. Mino hanya membalasnya dengan kedua alisnya yang bergerak naik turun. Siapa yang takut pada Kang Seungyoon kalau kau tau kelemahannya?
Otak dari segala masalah di sekolah mengetahui kelemahan orang paling berpengaruh di sekolah hehe. Goodluck sekali.
"Terus maunya di tempat tertutup? Remang-remang? Gelap-gelap-"
"Nanti hyung tidak akan kelihatan," Mino nyaris menyemburkan tawanya begitu menyadari betapa merahnya wajah seorang Kang Seungyoon. Siapa juga yang bisa menolak pesonanya huh?
"Brengsek kau, tidak akan ada kesepakatan atas rencanamu itu. Batal."
"YAH!" Mino menahan pergelangan tangan Seungyoon. Susah sekali punya pacar Tsundere, waktu Ilhoon tidak sesulit ini.
"Ayolah, Kang! Dalam rencana ini hanya ada aku dan semua anggotaku tidak ada –berubah jadi alim semua. Jadi dijamin tidak ada acara keceng-kecengan dan hanya ada kau dan aku!"
"Apa yang kudapatkan kalau aku mau bekerjasama?"
"Err..." Mino memutar bola matanya, berpikir sejenak. Ia memang banyak mengikuti organisasi di sekolah tetapi sejauh ini sama sekali tak mengerti caranya 'melakukan' kesepakatan saling menguntungkan. Semua orang hanya menyuruhkan untuk berflirt atau kedip sebentar lalu dia akan mendapatkan kesepakatan paling menguntungkan.
Mungkin selepas acara ini, Mino akan mempelajari caranya dari Seungyoon mengingat mempunyai kekasih tidak akan membuatnya semudah itu berkedip.
Hitung-hitung modus juga sih, hehe.
"...Mendapatkan kecupan yang lebih baik?"
Dan Mino tidak pernah menyangka Seungyoon dengan wajah masih memerah langsung mengangguk lalu pergi begitu saja.
Haha, sialan.
Panitia acara ini benar-benar berisikan sekelompok remaja yang hormonnya sedang menggelegar, tidak ada sucinya sama sekali.
Seungyoon kembali dan Jinwoo tak perlu jauh-jauh berlari untuk mencubit perutnya.
"Aduh!" Seungyoon memang galak tetapi dengan alasan tak menyukai kekerasan dan cinta damai (kata Mino; bilang saja kalau menonjok yang ketonjok angin terus), dia tak akan pernah membalasnya melainkan tatapan bingung kali ini ia lemparkan kepada hyungnya.
Awalnya kening Jinwoo berkerut. Aneh. Kang Seungyoon yang tau semuanya kebingungan?
Tetapi begitu merasakan walkie talkie bersiap mengeluarkan suara, kepanikkannya menjadi-jadi.
Aku harus menyelesaikan masalah dengan Seungyoon dan bersembunyi!
"Kamu ini!" Seungyoon berteriak kembali. "Sengaja ya?! kenapa harus Lee Seunghoon yang kemari?"
Bagaimana perasaanmu saat tengah lari koncar kancir kesana-kemari, penuh peluh, dan berteriak meminta bantuan tiba-tiba dari walkie talkie terdengar suara crushmu berkata 'ya baik aku akan kesana'? Kena heartstroke sih iya!
Pasti aku terlihat jelek sekali:( Seunghoon pasti jadi il-
"Loh?" Ingatkan Kim Jinwoo untuk tidak mendorong Kang Seungyoon ke jurang terdekat.
Tapi terlambat, kepalan tangannya selalu bergerak lebih ce-
"Lee Seunghoon penanggung jawab perlengkapan kan? Tanggung jawab dialah! Kata adik kelas, yang meletakka mic mati tengah jalan itu Seunghoon. Dia bilang 'sudah serahkan semua pada kakak' dengan gaya sok keren," Oke, kecurigaan Jinwoo perlahan lenyap. Seungyoon sudah kembali menjadi dirinya yang ngegas.
"Seperti tidak tau Seunghoon hyung saja, playboynya tidak habis-habis! Pasti hyung yang biasanya mageran itu mau disuruh karena modus! Aku yakin tanpa diteriakkin dari walkie talkie, Seunghoon hyung pasti akan datang karena ini ren-"
Oh?
Benar juga, Jinwoo lupa kalau dari masa SMA sampai kuliah begini sifat playboy Seunghoon sama sekali tidak hilang. Bahkan dia mencari pengikut; Mino contohnya tetapi meskipun awalnya Mino lebih parah dari pada Seunghoon yang sempat tobat menjelang ujian, berkat Kang Seungyoon pemuda tan kelebihan hormon itu jadi lebih 'mengerti' dan berusaha menjaga perasaan.
Berbeda dengan Seunghoon yang semakin bertambah usia semakin jadi.
Mengapa Jinwoo tidak berpikir sampai situ ya? Bukan bukan, bukan hanya masalah mic yang membuat Seunghoon langsung bilang 'ya, aku akan datang secepatnya kesana' setelah mendengar teriakkan Jinwoo dari salah satu walkie talkie adik kelas yang menyala.
Tetapi perihal keikutsertaannya selaku relawan di acara ini. Apa Seunghoon datang hanya untuk modus? Atau karena ada dirinya?
Haha.
Jinwoo jadi sedih sendiri memikirkannya. Ternyata sudah lulus 2 tahun yang lalu tak ada perubahan selain gaya berpakaiannya, masih tetap polos.
Kim Jinwoo yang polos.
Itu yang Seunghoon katanya selepas upacara kelulusan Jinwoo dulu dan setelah itu, Jinwo jadi terus kepikiran sampai bertekad untuk berubah. Baginya, nada bicara Seunghoonn saat itu seperti seorang kakak terhadap adiknya. Seakan-akan Jinwoo hanyalah adik kecil yang perlu dilindungi. Yang tidak mengerti apa-apa soal dunia di luar sana. Tak lebih dari itu.
Aku kan mau disebut lelaki dewasa juga!
"-katanya dia habis tidur di villa, butuh waktu lama untuk sampai –kecuali dia lari seperti biasanya mengejar mahasiswi lewat sekolah du-YAH! HYUNG! MAU KEMANA?!"
Jinwoo sudah tidak mendengar apapun lagi. Daripada menyusul Seunghoon yang pastinya akan berakhir super mengenaskan, Jinwoo lebih memilih bersembunyi di antara barisan anak perempuan (oh apa kalian tau aula yang micnya rusak adalah aula berisi wanita semua? Kalau belum, sudah w beritau ya) sembari memperhatikan apa benar Seunghoon datang demi mencuci mata atau karena dirinya.
.
.
.
.
.
Tanpa siapapun sadari, Seungyoon sudah mengulas senyum yang akan mengundang siapapun yang melihatnya tetapi Mino –yang bersembunyi di balik semak-semak belakang Seungyoon tersenyum lebih mengerikan lagi.
'wahahah mampus kau hyung' – smh
Telat telat telat!
Barukali ini Seunghoon sepanik ini. Dasar mic sialan!
Padahal saat ditelepon terus menerus dan walkie talkienya terus berbunyi, Seunghoon tengah berleha-leha di dalam villa yang tak ada orang satupun (jelas, dia kan kabur. Mana ada panitia yang meskipun tak bertugas bisa beristirahat begitu). Sudah susah-susah kabur agar tak ketahuan, acara istirahatnya jadi terganggu!
Bukannya tadi sudah kucek semua? Bagaimana bisa satu mic rusak menganggu seluruh speaker atau sound systemnya sampai perlu dibawakan mc yang berpasangan dengan speaker lain?
Keluh kesahnya juga ikut terganggu saat suara keras Seungyoon memekakkan telinganya.
"Disini hyung! Iya disini! Sudah nyaris 7 menit ini!"
Sialan Kang Seungyoon dengan stopwatch anti telatnya dan anak-anak yang mengajakku bertaruh agar tidak telat dalam hal apapun.
Lainkali mungkin Seunghoon harus berhati-hati dalam mengajak taruhan.
"Lambat sekali sih kau, hyung," Mino entah habis dari mana tiba-tiba muncul di sebelahnya, dengan santainya menaiki tangga batu perlahan-lahan –menyamakan langkah dengan yang lebih tua sembari melempar senyum ejekkan.
Seunghoon melempar tatapan penuh kebencian.
"Kalau laki bantu bukannya ketawa!"
Disuruh tidak ketawa, malah Mino membalasnya dengan suara tawa super menyebalkan.
Kalau bukan karena ada Seungyoon di depan, Seunghoon rela mengajak Mino berguling-guling menuruni tangga karena bergulat deh.
Sayangnya, Seungyoon yang marah lebih menyeramkan daripada apapun. Kekerasan atau memukul sih tidak, hanya membalikkan meja kok.
"Itu kan bukan tugasku, aku cuma pengunjung," ledeknya yang minta disumpel kaus kaki adik kelas tingkat pertama, Choi Youngjae.
Atau kaus kakinya saja, lebih ampuh aromanya.
"Aku menyusul my baby Seungyoon saja ya. Sepertinya dia sudah tidak sabar bertemu denganku dan berlovely ria! Bye, jomblo!"
"YA! HOOBAE KURANG AJAR!"
Seunghoon curiga kalau mic rusak berkat acara rap tak bermutu dari Song Minho dan aksi anarkis suka menendangnya sampai mengenai speaker.
"Lainkali..." Seungyoon berusaha menutup mulutnya, mencegah bibirnya untuk bergetar. "Kalau membuat susunan panitia, carilah banyak anak lelaki yang tidak modal tinggi berbadan bagus tapi tak bisa dihandalkan!"
"Mirror please," Mino mengejek sembari mengeratkan rangkulannya pada pinggang ramping Seungyoon. Lagi-lagi karena kesempatan tak pernah datang dua kali.
Padahal ekspresi Seungyoon sudah masam, selaku ketua kesiswaan tindakkan Mino dapat disidangkan ke dalam pele-sudahlah, nanti saja setelah sampai sekolah^^
"Kalau bukan karena aku sangnamja, aku tidak akan mau dan tidak akan kuat membawa ini!" Meskipun hanya speaker kecil, harus diakui bahwa beratnya cukup lumayan. Terlalu berat untuk dipanggul di bahu tetapi punggungmu bisa terasa sakit jika terus menunduk untuk mendorongnya bergerak.
Seungyoon jadi kasian sendiri melihatnya. Seunghoon kan tidak pernah bagus untuk urusan bahu dan punggungnya yang sering cedera.
Tapi dia tak bisa banyak membantu, ingat kerjasamanya dengan Mino? Itu semua untuk ini dan demi kebahagiaan pasangan gajadi-jadi ini.
"Hyung...hati-hati membawanya, nanti micnya jatuh dan rusak lagi."
Seunghoon memutar bola matanya dan masih terus mendorongnya menuju ke aula, sama sekali tak menyadari nada khawatir di dalamnya yang –ehem membuat Mino memandangnya tak suka.
Jadi dia hanya peduli pada kelangsungan acara ini daripada kesehatanku?
Fine! Ayo satu setengah meter lagi, Seung! Setelah ini kau akan bisa tidur dengan damai di dalam villa!
Seorang gadis berkaos abu-abu –sama seperti anak-anak di sudut-sudut ruangan membisikkan sesuatu ke arah seorang wanita paruh baya yang duduk tenang di barisan terdepan.
"Wah sepertinya bala bantuan kami sudah datang hahaha," Tak ada yang menyahuti tawa canggung tersebut. 8 menit sudah mereka habiskan hanya untuk mendengar celotehannya tentang hidup
"8 menit menunggu yang tidak buruk bukan? Beruntungnya suara saya cukup keras untuk terdengar sampai ujung ruangan."
Jinwoo yang berkamuflase menjadi wanita (tidak, tidak juga sih. Ia hanya memakai kain panjang dan hoodie abu-abu bertudung mengingat ini daerah terlarang untuk para lelaki datang) mengerutkan keningnya.
Seunghoon benar-benar datang?
Pandangannya beralih ke arah gadis berkaos abu-abu tadi yang bergerak agak menjauh dan kembali bersandar pada pintu samping, barisan teman-temannya yang menatap penuh harap.
Aigu, cantik...tak heran kalau Seunghoon rela bangun dari hobi tidurnya untuk melihat canci canci;;
Kecemasannya sudah berada di tingkat tertinggi saat tiba-tiba pintu samping kanan yang lebih dekat dengan pembicara terbuka lebar.
Seunghoon benar-benar datang!
Seunghoon dengan rambutnya yang agak acak-acakkan sehabis bangun tidur muncul sembari mengangkat sebuah benda hitam kotak...speaker?
Tapi Jinwoo bilang kalau hanya mic yang tidak menyala, bukannya itu hanya perlu ditukar atau diperiksa oleh ahlinya? Karena seingatnya tiap angkatan banyak yang mengerti IT dan seharusnya tidak perlu menunggu sampai 8 menit untuk-
Ya ampun kalau sampai membawa speaker ya pantas saja 8 menit! Bahkan seharusnya lebih kecuali berlari dengan seberat itu!
Jinwoo kembali menelisik penampilan pemuda maba tersebut. Oh oke, rambut acak-acakkan terkesan keren sama sekali bukan aib tapi keringat sebanyak itu di udara dingin begini...sampai merembes ke jaket...
Omo! Bagaimana dengan cedera tu-
Disaat Jinwoo merasa khawatir karena kesehatan Seunghoon dan baik-baik saja karena pemuda itu tetap terlihat tampan, sebuah teriakkan memecahkan semuanya.
"KAK! KOK ADA LAKI-LAKI DISINI? BUKANNYA KITA GAK BOLEH LIAT APALAGI DIDATANGI LAKI-LAKI?!"
Jinwoo panik. Ia kira dirinya ketahuan berada disini tetapi begitu teriakkan itu selesai, para gadis sekitarnya yang nampak terpaku sama sepertinya saat melihat kedatangan Seunghoon (oke, mari berharap tak ada yang merasa terpesona selain dirinya) langsung menimpali teriakkan tersebut.
"Tau nih kak! Daritadi aku juga liat kakak kelas laki-laki berkeliaran disini! Jadi kita doang yang gak boleh liat mereka tapi mereka boleh? Ini namanya gak adil! Pelecehan melalui pandangan!"
"Zina nih kak."
"Kakak ceweknya juga daritadi bisa ketemu sama yang cowok, kok kita nggak?"
"Kakak ceweknya bisa masuk ke aula cowok, kok kita nggak?"
Dan masih banyak lagi yang membuat kekhawatiran Jinwoo semakin bertambah, akan tetapi...
...Saat ia menoleh lagi ke arah pemuda Lee tersebut, ia justru melambaikan tangannya sembari tersenyum...mesum?
Jadi Seunghoon benar-benar datang demi adik kelas?! Lalu kenapa aku harus ikut acara ini kalau alasannya bukan diriku? Benar-benar! Kenapa aku harus mengkhawatirkan dia huh!
"YAAA! LEE SEUNGHOON!"
Seunghoon berhenti melambai.
Jinwoo berdiri dan melepaskan kamuflasenya, semakin menambah kehebohan akan kehadiran lelaki di antara mereka. Apalagi mereka adalah alumni yang terkenal; Seunghoon dengan tebar pesonanya dan Jinwoo berkat kemurahan hati serta kecantikkannya.
Seunghoon memucat dan segera menurunkan tangannya.
Sementara Mino sudah nyaris roll like a buffalo, tertawa layaknya tak ada hari esok.
Kisah cinta ala drama akan berlangsung dalam 1...2...3...
Lalu Seunghoon langsung menghilang dari aula –yang ia sangka aula lelaki karena ya, memang dia yang mengurus perkap aula lelaki sembari mengeluarkan sumpah serapah.
"SONG MINHO! KANG SEUNGYOON!"
Seungyoon tidak tau bahwa mengerjai orang akan semenyenangkan ini. Apalagi berada di bawah pengawasan Song Minho.
Like partner in a crime, Joker and his lover –Harley Quinn.
.
.
.
-apaansihdramaamat
geuli pisan:(( yaelah 11 halaman bikin lelah:(( tapi udah sesuai janji kan:(( jangan lupa belajar buat ujian! sebentar lagi senin guys hehe.
((buat yang request mungkin jjproject, bap, dkk itu bakalan ada di project selanjutnya. bukan di aads. project selanjutnya baru ada 2/3 ide chingur dan itu -tampaknya- dua oneshot dan satu series;; mau bikin series lagi tapi kayanya di wattpad setelah sick selesai hehehehehehehe jadi karena next project masih diikut gak tau adanya kapan -karena enak bikin ff sekaligus banyak- pindah ke wattpad? selesai tanggal 10 ya hmmmmmmmmm ujian udah selesai dan gabut yeu! karena mau ngedit ulang bad bloodnya -jung baru baca ff ala wattpad gitu jadi kebawa disini dan...berasa kebanting;;)) terimakasih sudah membaca btw, laf ya! -jung
next part a.k.a last part, Binhwan! prepare guys~
