Jihoon tersenyum saat melihat dua pasang sneakers saat membuka kotak merah tersebut. Astaga, bagaimana Soonyoung tahu dirinya juga mempunyai rencana untuk membeli sneakers berwarna merah? Pemuda itu sudah seperti peramal saja.


-gimmelatte-

PRESENT

Interesting Feeling

.

Cinta pandangan pertama adalah sesuatu yang mustahil untuk seorang Kwon Soonyoung. Namun saat bertemu dengan gadis mungil yang menarik perhatiannya, akankah Kwon Soonyoung menarik semua perkataan itu?

.

Kwon Soonyoung x Lee Jihoon

Slight! Jishua (JihoonxJoshua), Cheolhan, Junhao, Meanie

.

Genre : romance, sad

Rated : T

.

WARNING

Typo(s), genderswitch, au, alur tidak menentu.


Tanpa pikir panjang lagi, gadis mungil itu langsung meraih ponselnya dan menghubungi pemuda yang membelikan sneakers di depannya ini. Jihoon tersenyum saat panggilan teleponnya itu di angkat dengan cepat oleh pemuda sipit itu.

"Soonyoung-ah."

"Iya, Ji?"

"Terimakasih sneakersnya."

"Sama-sama, bagaimana? Kau suka kan?"

"Aku sangat suka, dan bagaimana kau tahu kalau aku juga mempunyai rencana membeli sneakers berwarna merah?"

"Oh, benarkah? Kalau begitu, simpan saja uangmu untuk membeli sneakers yang kau inginkan nanti. Muat tidak? Aku membelikannya dengan menebak berapa ukuran kakimu."

"Sebentar." Jihoon memiringkan kepalanya –menjepit ponselnya diantara bahu dan kepala. Gadis mungil itu meraih sneakers berwarna merah tersebut, kemudian memakainya.

"Bagaimana?"

"Muat, walau ada sisa jarak sedikit."

"Baguslah kalau muat, tak apa ada jarak, jadi bisa kau gunakan dalam jangka waktu lama."

"Omong-omong, ini dua-duanya untukku apa satu untuk Haina?"

"Keduanya untukmu." Jihoon tersenyum senang. Astaga, koleksi sneakersnya semakin bertambah.

"Sekali lagi, terimakasih, Soon-ah."

"Sama-sama, sudah dulu ya, Ji. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan."

"Ah, ya, bye." Jihoon langsung memotong sambungan teleponnya. Gadis mungil itu menaruh ponselnya di nakas kecil, kemudian berjalan menuju ruangan kecil yang berada di dekat pintu, dengan membawa 1 kotak sepatu berwarna merah. Ruangan itu hanya berukuran 3x3 meter dan isinya hanya lemari untuk menaruh sepatu-sepatu koleksinya.

Jihoon menggeser lemari kayu itu, lalu mengeluarkan sneakers berwarna abu dari kotak sepatu yang ia bawa dan kemudian meletakkan sneakers tersebut. Jihoon melepas sneakers merah yang ia kenakan dan menaruhnya tepat di samping sneakers berwarna abu tersebut. Senyumnya mengembang melihat 2 sneakers di hadapannya. Ini adalah benda pertama yang Soonyoung berikan untuknya.

Saat Jihoon keluar dari ruangan tersebut, matanya membulat saat melihat sahabatnya itu main masuk saja. Jihoon berdeham dan hal itu sukses membuat gadis bertubuh kurus itu bergidik kaget.

"YAK!"

"Mwo?!" Jihoon menatap datar gadis di depannya ini.

"Aku kira kau tidak ada di apartment, Ji."

"Kalau kau melihat ada flatshoes hitamku disana, tandanya aku sudah pulang." Wonwoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Ada apa kemari?"

"Temani aku fitting gaun mau tidak?" Jihoon mengerutkan keningnya tak paham. Kenapa harus di temani Jihoon bukan dengan Mingyu saja? Kan jadi terlihat aneh kalau Jihoon yang menemani gadis itu. Nanti di sangkanya mereka berdua yang menikah.

"Mingyu kemana?"

"Nanti dia menyusul, aku tak mau sendirian makanya aku mengajakmu."

"Dengan Seungkwan saja."

"Ia bilang ia sedang bersama dengan kekasihnya sekarang dan tidak bisa di ganggu." Jihoon memutar bolamatanya malas.

"Oke, oke, aku temani, kau tunggu di ruang tengah, aku mau ganti baju dulu" Jihoon langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk mengganti bajunya.

Jihoon menggembungkan pipinya malas. Kalau tau ujungnya akan begini, dia lebih memilih di apartment dan belajar saja. Jihoon menopang dagunya yang ia letakkan di paha. Matanya menatap datar pantulan dirinya di depan cermin yang berukuran lumayan besar. Di pojok sana, Mingyu dan Wonwoo sedang asik mengobrol dengan designer baju. Jihoon bingung sendiri. Bagaimana ia tak bingung, Wonwoo itu kan lulusan M.A in Fashion di salah satu universitas terkenal di Prancis, masa soal gaun pernikahan harus di serahkan ke designer lain? Kenapa tidak dirinya saja yang merancang itu semua?

Jihoon mengendikkan bahunya masa bodoh. Gadis mungil itu merogoh saku jaketnya yang bergetar. Senyumnya mengembang saat melihat nama 'Seungcheol oppa' tertera pada layar ponselnya. Sepertinya pemuda ini akan menyelamatkan dirinya dari pusaran kebosanan yang terus berusaha menariknya lebih dalam.

"Iya, oppa?"

"Ji, bisa kau ke café langganan kita?"

"Ah, café ya? Sekitar setengah jam lagi aku kesana tak apa kan?"

"Memang kau dimana?"

"Ah, aku sedang menemani Wonwoo fitting gaun pernikahannya."

"Yasudah, tak apa. Aku tunggu ya, di café biasa."

"Ya, oppa, annyeong." Jihoon melirik jam tangan yang ia kenakan. Ia harus berangkat sekarang juga, harus. Karena jarak dari butik ke café langganan mereka itu cukup jauh.

Gadis mungil itu berjalan menghampiri Wonwoo yang tengah duduk di salah satu bangku dengan sketchbook miliknya. Gadis bertubuh kurus itu mendongak –menatap Jihoon.

"Nu, sepertinya aku harus duluan."

"Loh, kenapa buru-buru?"

"Seungcheol oppa sudah menungguku di café dekat apartmentku."

"Ahh~" Wonwoo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Biar ku telpon Supir Kang untuk mengantarmu." Jihoon langsung menahan tangan gadis di depannya saat Wonwoo hendak meraih ponsel miliknya.

"Tidak usah, lagipula aku bisa naik bus."

"Pokoknya kau harus di antar oleh Supir Kang, jika tidak, aku akan marah." Nada otoriter Wonwoo keluar, dan Jihoon sudah tidak bisa apa-apa jika gadis itu sudah berkata dengan nada seperti itu.

"Oke, baiklah." Jihoon mengalah. Ia melepaskan tangan Wonwoo, membiarkan gadis itu untuk menghubungi supir pribadinya. Jihoon mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang berisikan gaun putih dan beberapa tuxedo putih yang bernuansa pernikahan.

"5 menit lagi supir Kang sampai di lobby." Wonwoo masih belum merubah pandangannya dari ponsel. Gadis itu melirik Jihoon yang tengah melihat-lihat gaun dengan tatapan yang mengatakan 'Aku ingin memakai salah satu gaun ini'. Senyumnya terulas sehabis membaca pesan dari Seungkwan.

"Gomawo, Wonu-ya." Jihoon tersenyum simpul. Wonwoo berdeham mengiyakan. Gadis bermata onyx itu menaruh ponselnya dan kembali menatap Jihoon.

"Ji, kau ingin pakai salah satu dari semua gaun ini?" dan Jihoon mengangguk pasti, namun air mukanya tiba-tiba berubah.

"Aku ingin, tapi dengan siapa aku memakai ini kelak?"

"Itu tidak usah di pikirkan, kau ingin gaun yang seperti apa? Aku yang design sendiri, khusus untukmu." Manik cokelat milik Jihoon berbinar.

"Aku ingin gaun berwarna putih yang mengkilau, tidak terlalu terbuka, ada renda di sekitaran bahuku, yang tidak terlalu mewah tapi tetap terlihat elegan." Jihoon membayangkan design gaun yang ia inginkan. Diam-diam, Wonwoo menggulung senyumnya selama Jihoon mengatakan keinginannya itu.

Seungcheol meggulung senyumnya saat gadis mungil yang mengenakan skinny jeans berwarna putih, dipadukan dengan kaos merah muda dan cardigan berwarna putih itu berjalan menghampirinya. Mata sipit itu semakin menyipit saat senyumnya mengembang. Kalau boleh jujur, Seungcheol sangat menyukai senyuman Jihoon.

"Maaf menunggu lama."

"Tak apa, Ji. Duduklah." Jihoon menganggukkan kepalanya, kemudian duduk di hadapan pemuda bermata tegas itu.

"Kau ingin pesan apa?"

"Ice lemon tea saja." Jihoon merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya.

"Oke kau tunggu di sini sebentar." Jihoon menganggukkan kepalanya. Ia memainkan ponsel miliknya. Jihoon sesekali mengecheck informasi terbaru kampus yang di tujunya. Saking asiknya memainkan ponsel, Jihoon sama sekali tidak menyadari sejak tadi ia sedang di paparazzi oleh pemuda di depannya.

"Serius banget." Jihoon menurunkan letak ponselnya dan tersenyum konyol. "Kau sedang apa memangnya?"

"Hanya mengecheck website saja." Seungcheol menganggukkan kepalanya paham. Ia mendorong cup berisikan ice lemon tea kearah Jihoon dan langsung di sambut senyuman oleh gadis mungil itu. "Gomawo, oppa." Seungcheol menganggukkan kepalanya lagi. Entah kenapa ia merasa Jihoon makin cantik saja. Apa mungkin ini efek akibat jarang bertemu dengannya, karena dirinya sibuk dalam mengerjakan skripsi?

"Ji, minggu depan aku wisuda." Jihoon yang menundukkan kepalanya itu langsung mengangkat kepalanya sedikit dan menatap pemuda di depannya. Bibirnya itu masih menempel dengan sedotan. Seungcheol yang melihat kelakuan gadis di depannya ini hanya bisa menatapnya gemas. Jihoon melepaskan sedotan dari bibirnya lalu kembali duduk seperti semula.

"Chukkaeyo, oppa~" Jihoon mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh tangan kekar milik Seungcheol.

"Kau bisa datang? Acaranya sabtu siang."

"Akan aku usahakan untuk datang." Jihoon tersenyum meyakinkan pemuda di depannya.

"Baiklah, aku sangat berharap kau bisa datang, Ji." Seungcheol membalas senyuman gadis di depannya ini. "Oh iya, tadi kau habis darimana?"

"Tadi aku habis menemani Wonwoo fitting gaun pernikahan."

"Wonwoo mau menikah? Kok aku tidak tahu ya."

"Iya, dia mau menikah bersama Mingyu dua bulan lagi. Lagipula Wonwoo baru memberitahu orang yang dekat dengannya saja." Seungcheol menganggukkan kepalanya paham.

"Kau jadi ingin mengambil s2, Ji?" Jihoon mengangguk mengiyakan.

"Aku sudah mendaftar dan do'akan yang terbaik, pengungumannya dua minggu lagi."

"Dua minggu lagi? Memang kau ingin kuliah dimana?"

"Negara impianku, semoga saja aku lulus."

"Amin." Seungcheol mengaminkan. Ia ingin gadis di depannya yang sudah ia sukai -sebelum Jihoon berpacaran dengan Jisoo ini menggapai semua cita-citanya.

...

Soonyoung mengusak rambutnya kasar. Sepertinya kali ini ia akan kalah, sama seperti kejadian 3 bulan yang lalu. Oh, siapapun tolong datang dan bawa pergi Soonyoung. Terserah mau kemana, yang terpenting dirinya bisa kabur sekarag.

"Tidak ada alasan lagi, Kwon." Belum berujar, ibundanya itu langsung menyalip perkataan yang akan di ujarkan oleh si putra. "Kau sudah 3 kali tidak hadir di acara makan malam, kali ini kau harus ikut, jangan membuat malu umma." Lagi-lagi, Soonyoung sama sekali tidak di beri kesempatan untuk berpendapat. Oh ayolah, semua orang itu kan memiliki hak dan kewajiban, namun sepertinya itu tak berlaku jika sudah berhadapan dengan Ny. Kwon.

"Baiklah, aku ikuti kemauan umma, tapi dengan satu syarat." Sebenarnya Soonyoung tak tega melakukan ini dengan sang ibu, namun mau bagaimana lagi? Kalau tidak seperti ini caranya, Soonyoung tak akan bisa memainkan alur ceritanya dengan baik.

"Umma harus mengikuti apa yang aku ingin kan, dan umma harus mendukungku, bagaimanapun situasinya nanti. Keinginanku bisa aku ajukan kapan saja, dan umma hanya perlu berkata 'iya' di setiap keinginanku nanti." Soonyoung menatap sang ibu dengan selidik. Ia sepetinya akan menghapus kalimat karma dalam kamus kehidupannya dan menebalkan kalimat pembangkang pada kamus kehidupannya.

"Arra, umma menyanggupinya asal malam ini kau ikut dengan umma." Soonyoung berteriak riang dalam hati. Hampir aja ia tersenyum sebelum sebuah pemikiran terlintas di otak cerdasnya. Bisa saja kan ummanya menyanggupi tapi nantinya malah mengatakan tidak atau pura-pura lupa perjanjian ini? Haruskah Soonyoung membuat surat bermaterai?

"Aku akan ikut jika umma benar-benar bisa menyanggupi keinginanku kelak."

"Iya, sayangku, akan umma sanggupi." Namun bukanlah Kwon Soonyoung jika langsung terpercaya dengan kata-kata sang ibu. Biarkanlah ini mengalir seperti air. Biarkan jalan cerita yang di susun oleh Soonyoung mengalir dan bemuara pada pilihannya. Do'a kan saja semoga Soonyoung berhasil.

"Yasudah, aku pulang dulu, umma." Soonyoung bangkit dari duduknya dan menyambar kunci sedannya.

"Pulang? Ini rumahmu."

"Pulang ke apartment, disini panas, huft." Soonyoung berjalan menuju pintu kayu itu sembari mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya. Soonyoung langsung mempercepat langkahnya menuju sedan miliknya, kemudian menancap gas langsung ke tempat tujuannya.

Disinilah Soonyoung sekarang, di depan pintu aluminium bernomor 7889 yang merupakan apartment milik sepupunya. Soonyoung menekan bel yang berada di sisi pintu. Password? Soonyoung sama sekali tidak tahu password apartment milik pemuda blasteran bermarga Choi itu.

"Oh, Soonyoung oppa, masuk." Soonyoung tersenyum simpul saat melihat kekasih sepupunya itu yang membukakan pintu untuknya.

"Hansol dimana?" Soonyoung melangkahkan kakinya memasuki apartment sepupunya yang 2× lebih luas daripada apartment miliknya.

"Ada, lagi main ps." Seungkwan menunjuk ruang tengah menggunakan dagunya. "Oh iya, oppa ingin minun apa?"

"Yang ada saja." Soonyoung langsung mengarahkan kakinya berlawanan arah dengan arah kaki Seungkwan. Pemuda sipit itu langsung duduk tepat di sebelah pemuda berdarah Amerika-Korea itu.

"Jangan main sendiri, ayo tanding." Soonyoung meraih satu joystick yanh berada di meja kaca.

"Oke." Hansol merestart ulang game yang ia mainkan dan menambahkan Soonyoug sebagai 2nd player.

Jemari Soonyoung memainkan joystick dengan lihainya. Sesekali ia melirik kearah Hansol yang kelagapan sendiri tak bisa mengimbangi permainannya. Soonyoung terus saja menggempur pertahanan sepupunya hingga tulisan K.O muncul pada layar 42 inch itu.

"Yak! Hyung, kau curang!" Hansol membanting joysticknya di atas karpet tebal. Ia menatap sebal Soonyoung yang memenangkan permainannnya.

"Aku tidak curang, kaunya saja yang tidak bisa bermain."Soonyoung menyeringai membuat pemuda di depannya itu mengendus sebal.

"Kau yang curang, hyung." Hansol masih tetap ngotot kalau Soonyoung yang curang.

Seungkwan yang melihat perdebatan itu hanya menggelengkan kepalanya. Gadis mungil itu tetap diam, tak mau ambil pusing dengan perdebatan mereka. Seungkwan menaruh 3 gelas orange juice di meja kaca yang berada di hadapannya.

"Sudahlah, Choi Hansol, kalau kau kalah terima saja, jangan mengelak seperti itu."

"Kau lebih membela si sipit ini? astaga, hah." Hansol mendesah sebal di akhir kalimatnya.

"Aku tidak membela Soonyoung oppa, aku hanya berbicara fakta disini, Choi." Hansol memutar bolamatanya jengah.

"Ya, baiklah, aku mengaku kalah." Seungkwan dan Soonyoung tersenyum puas saat mendengar pemuda blasteran itu akhirnya mengakui kekalahannya.

"Kenapa kemari, hyung? Menggangguku dengan Kwannie saja."

"Aku juga kesini karena ada perlu dengan Kwanniemu bukan denganmu." Hansol mengatupkan bibirnya rapat, sedangkan Soonyoung hanya terkikik ringan.

"Kwan, kau sudah tanya Wonwoo?"

"Sudah, tadi aku sudah mengiriminya pesan dan sudah di jawab."

"Jawabannya apa?" Seungkwan meraih ponselnya, kemudian memberikan kepada Soonyoung. Mata sipit itu membaca dengan seksama setiap kalimat yang tertera di pesan yang di kirimkan Wonwoo. Soonyoung tersenyum penuh arti setelahnya. Sepertinya sebuah keinginan harus ia wujudkan walau perjalanannya masih panjang.

Jihoon menopang dagunya bosan. Kenapa ia harus di libatkan dalam acara makan malam bersama keluarga Kwon lagi? Kenapa?

"Unni jadi ikut atau tidak?" Jihoon menoleh kearah sang adik yang sudah rapih. Hah, jika dirinya harus ikut, tandanya ia akan memakai dress lagi? Berdandan feminism lagi? Jujur, Jihoon sendiri malas untuk berdandan feminism, it's not Lee Jihoon style. Haruskah Jihoon perang batin lagi seperti 3 bulan lalu? Peran batin untuk ikut atau tidak. Gadis mungil itu masih terdiam di tempatnya, ia ingin belajar sebenarnya, namun entah kenapa, rasa malas itu melingkupi dirinya dan hati kecilnya itu menyuruhnya untuk ikut. Jihoon bangkit dari duduknya.

"Aku ikut." Jihoon langsung melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya. Jihoon menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya dari dalam. Astaga, ia harus pakai apa kali ini? Jihoon tidak punya banyak dress, yang ia punya itu hanya skinny jeans, tennis skirt, sweater kebesaran, kaos kebesaran dan cardigan. Haruskah ia pakai tennis skirt dengan kaos atau sweater? Namun, ayolah, ini kan acara keluarganya dengan keluarga Kwon, masa iya dirinya harus memakai tennis skirt yang dipadukan dengan kaos atau sweater?

Jihoon menggeser pintu lemari, kemudian mata sipitnya itu menatap satu-persatu baju yang di gantungkan. Matanya berbinar saat melihat sebuah dress berwarna biru muda. Jemari lentiknya meraih dress tersebut dan mengeluarkannya. Jihoon membalik badannya kearah cermin di belakangnya. Senyumnya mengembang saat ia melihat dirinya cocok menggunakan dress pendek selutut ini.

Jihoon berjalan menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Sekali lagi, gadis mungil itu berdiri di hadapan cermin besar. Senyumnya terus saja mengembang. Jihoon berjalan menuju nakas kecil yang banyak terdapat jepitan rambut, bandana, kalung, dan jam tangan. Jihoon meraih kalung berwarna putih kemudian megambil 3 jepit rambut berwarna hitam. Jihoon kembali lagi ke cermin besar itu. Gadis mungil itu mengalungkan kalung yang ia ambil tadi, dan memakaikan 3 jepit rambut di sebelah kanan. Jihoon tersenyum ringan saat ia meras cocok dengan stylenya kali ini. Kaki-kaki mungil itu berjalan menuju lemari bajunya. Jihoon merendahkan badannya dan menarik laci bagian bawah. Tangannya langsung menarik salah satu tas selempang kesukaannya. Sebelum keluar dari kamar, Jihoon sempatkan untuk memoles wajahnya terlebih dahulu. Oh tolong ingatkan gadis mungil ini bahwa makan malam ini di tujukan untuk membahas pertunangan Soonyoung dengan Haina bukan dengan dirinya.

Jihoon melangkahkan kakinya menuju ruangan kecil yang berada di dekat pintu utama. Jihoon menggeser pintu lemari kayu itu dan meraih sebuah flatshoes berwarna putih, kemudian memakainya. Kenapa ia jadi bersemangat seperti ini kalau ujung-ujungnya juga dirinya akan menelan kepahitan cinta terlarang?

Soonyoung menatap kagum kearah Jihoon yang datang bersama orang tuanya dan Haina tentunya. Awalnya Soonyoung merasa bosan, namun saat melihat gadis mungil itu, entah kenapa rasa bosan itu hilang begitu saja. Cantik, Jihoon sangat cantik malam ini. Soonyoung merasa jantungnya berdegup kencang saat manik hitamnya bertemu dengan manik cokelat milik gadis mungil itu. Tak perlu berpikir 2 kali, Soonyoung benar-benar jatuh cinta pada sosok mungil yang mengenakan dress berwarna biru muda itu. Sepertinya Soonyoung harus menelan ludahnya sendiri. Ia jatuh cinta dengan Jihoon sejak pertama kali mereka bertemu.

Pemuda sipit itu terus saja mengambil kesempatan untuk melirik Jihoon. Sumpah, jantung Soonyoung ingin lepas dari sarangnya saat matanya kembali bertemu dengan mata Jihoon. Lebay? Biarkan saja, Soonyoung sudah benar-benar jatuh hati dengan gadis mungil ini.

"Bagaimana kalau kita pakai konsep ala Eropa saja?" Soonyoung langsung mengalihkan pandagannya kearah ibunya. Astaga, ibunya memang benar-benar serius dengan pembicaraan kali ini.

"Soonyoung kau setuju?" Soonyoung tersenyum bodoh kearah ibunda Jihoon. Sepertinya kali ini Soonyoung masih harus berada di jalur alur yang dimainkan oleh sang ibu. Menuruti semua kemauan sang ibu dan baru membangkang setelahnya.

"Aku setuju saja dengan apa yang imo, dan paman inginkan."

"Jangan panggil imo mulai sekarang, panggil umma saja, dan panggil suamiku appa, arra?" Soonyoung mengangguk menyanggupi permintaan Ny. Lee. Bagaimana tidak menyanggupi, kalau dirinya berjodoh dengan Jihoon nantinya, pasti Soonyoung juga akan memanggil Ny. Lee dengan sebutan umma.

"Jadi kau setuju?" Ny. Lee kembali menanyakan hal yang sama kepada Soonyoung.

"Aku setuju saja, umma." Bisa Soonyoung lihat dengan mata kepalanya sendiri kalau air muka Jihoon mendadak jadi keruh.

Bukan pulang ke apartment miliknya, Jihoon malah melangkahkan kakinya menuju kamar apartment '4835'. Gadis mungil yang masih menggunakan dress itu memasukkan password apartment yang sudah di hapalnya, kemudian membuka pintu itu secara kasar. Entah mengapa moodnya jadi hancur, padahal dari sebelum datang ke acara makan malam itu, moodnya baik-baik saja. Jihoon langsung melepas flatshoesnya dan menggantinya dengan sandal rumah.

Jihoon memutar langkah kakinya menuju dapur, namun tidak ada sahabat tersayangnya di sana, begitu pula di ruang tamu. Jihoon menoleh kearah pintu kayu di depan pintu berwarna biru itu terbuka dan menampakkan sang sahabat.

"Ji? Aku tak tahu kalau kau datang." Wonwoo menatap aneh sahabatnya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Jihoon kali ini.

"Biarkan aku menginap beberapa hari di sini dan bantu aku cari flat yang murah saja." Wonwoo mengerutkan keningnya tak paham. Ia melihat penampilan Jihoon dari atas sampai bawah, dan selanjutnya Wonwoo bisa menarik kesimpulan.

"Kau habis makan malam?" tak ada jawaban. "Dengan keluarga Soonyoung?" masih tak ada jawaban. Gadis mungil itu masih bungkam. Dari hal itu juga Wonwoo sudah tau persis apa jawabannya. Bukannya menjawab, Jihoon malah berlalu mendahului Wonwoo masuk ke dalam kamar yang dulu pernah di tempatinya. Wonwoo makin mengerutkan keningnya tak paham. Gadis bertubuh kurus itu langsung berjalan memasuki kamar bernuansa biru itu.

"Ji, kau baik-baik saja?"

"Kapan sih pengungumannya? Rasanya aku ingin pergi sekarang juga." Jihoon mengacak-ngacak rambutnya. Ia mengabaikan pertanyaan dari Wonwoo.

"Ji." Wonwoo berjalan mendekat, kemudian menarik bangku meja rias dan duduk tepat di depan Jihoon. "Kau kenapa? Cerita." Wonwoo mengulurkan kedua tangannya, kemudian menggenggam jemari Jihoon dengan erat.

"Apa merasakan cinta itu harus sesakit ini? Apa harus aku yang menelan kepahitan lagi? Kenapa Tuhan sangat tidak adil kepadaku?" Wonwoo menghela napas. Ia mulai paham dengan arah bicara gadis di depannya ni.

"Cinta itu memang sesuatu yang menyakitkan, cinta itu manis di awal dan belum tentu berakhir dengan manis juga. Kepahitan hidup juga tak di inginkan semua orang, namun jika ini sudah garis takdir Tuhan, kita bisa apa? Tuhan itu adil, Ji." Jihoon menundukkan kepalanya. Berbulan-bulan kemarin, ia sudah bisa meyakinkan dirinya bahwa dirinya bisa melupakan dan melepas Soonyoung yang akan menjadi milik Haina, bukan miliknya. Namun kenapa acara makan malam tadi membuat pertahanannya yang selama ini kuat menjadi goyah? Apa karena Jihoon terlalu cinta dengan sosok Kwon Soonyoung?

"Apa aku merasakan ini karena aku terlalu cinta dengannya?"

tbc


Halo~

Gim back lanjutin ff ini, nih. Kalo alurnya ngebosenin, maaf banget yaaa:'( gim lagi stress banyak tugas yang harus di kumpulin dalam waktu dekat. Gim mau ucapin terimakasih buat yang udah setia baca ff ini dan ngasih review, kalian itu penyemangat gim.

Udah dulu ya, sampai ketemu di chapt selanjutnya~

Bye~