Yifan menatap gusar langit mendung dengan angin kencang melalui kaca jendela. Sedari tadi Kyungsoo izin pergi jalan dengan muridnya—si Jongin hitam yang ntah mengapa menjadi dekat dengan dongsaeng kesayangannya, Yifan harus menginterogasi Jongin nanti—dan mereka belum pulang juga sampai sekarang. Ditambah cuaca sangat buruk dan Yifan tidak tahu mereka pergi kemana.
"sudahlah oppa, mereka pasti baik-baik saja." Hibur Tao melihat Yifan yang masih grasak-grusuk memegang handphonenya untuk menghubungi Kyungsoo—tapi tidak bisa karena sepertinya ponsel gadis itu tidak aktif.
"lagipula Jongin itu kan tampan dan keren. Kyungsoo pasti baik-baik saja." Ukh, sungguh ucapan Zitao tidak ada nyambung-nyambungnya. Membuat mood Yifan bertambah hancur. Si pirang tinggi mengambil jaket yang menggantung dan bersiap untuk pergi.
"Mau kemana?"
"aku kekamar Luhan sebentar, menyuruhnya untuk menghubungi Jongin."
"kekamar Luhan? Andwae! Aku ikut!" Tao bergegas mengambil jaketnya juga dan mengekor dibelakang Yifan. "Luhan itu cantik! Kalau oppa tiba tiba suka padanya bagaimana? Lagipula kalian hanya berdua dikamar, pasti akan terjad—"
Yifan mencium bibir kekasihnya untuk menghentikan omongan Tao yang makin ngelantur kemana-mana. Gadis bermata kucing itupun tersenyum malu saat Yifan menatapnya. "Jangan aneh-aneh Zie, aku hanya ingin mencari Kyungie." Yifan kemudian merangkul bahu gadisnya. "lagipula menurutku kau lebih cantik"
Pipi Tao sontak merona dan membuat Yifan terkekeh pelan. "Kajja!"
.
"noona!" Kyungsoo mendongak mendapati Jongin berlari tergesa kearahnya. Jonginpun ikut berteduh di pohon bersama Kyungsoo karena hujan turun semakin lebat.
"Jongin! Untunglah—" Kyungsoo langsung menghambur ke pelukan namja itu membuat Jongin membatu.
Ehm
Serasa taman ini beserta seluruh pulau Jeju milik mereka berdua.
Jongin mengelus pelan punggung Kyungsoo yang bergetar—apa ia ketakutan? Jongin tidak tahu—sambil bergumam "gwenchana noona, aku disini."
Diam diam dada Jongin terasa nyeri saat melihat Kyungsoo seperti ini. Ntah mengapa muncul tekad dalam dirinya untuk selalu melindungi si cantik ini.
"untunglah kamu datang, aku sangat ketakutan." Kyungsoo masih tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Jongin. Walaupun jaket Jongin sedikit basah, namun tubuh namja ini terasa sangat hangat.
"…."
"aku pernah tersesat saat kecil dan itu adalah kenangan yang sangat mengerikan." Tanpa Jongin bertanya Kyungsoo sudah memberi tahunya.
"tenanglah, aku tidak akan membiarkan noona sendirian lagi, aku janji." Jawab Jongin sambil mengelus kepala Kyungsoo lembut sambil sesekali mencium pucuk kepalanya.
pfft…kesempatan.
"gomawo, diam seperti ini sebentar saja tidak apa-apa kan? Kamu sangat hangat."
"bukan masalah, noona." Sampai matipun tak apa. Haha sepertinya ini hari keberuntunganku, batin Jongin.
"kita akan kembali saat hujan reda."
Kumohon agar hujan selamanya.
Well, alangkah baiknya kita tinggalkan mereka berdua saja untuk sekarang.
.
"Lu—" Yifan yang membuka pintu kamar hotel Luhan tanpa mengetuk—dasar tidak sopan—terkaget saat melihat pemandangan dihadapannya.
"ups!" Tao memekik kaget. "mian, apa kami menganggu?" ujarnya kepada Luhan dan err—Sehun yang ketangkap basah sedang berciuman.
"Wu Yifan, kau tidak diajarkan untuk mengetuk pintu ya?" ujar Luhan kesal sementara Sehun hanya mengusap tengkuknya—malu.
"aish ternyata siswa ku semuanya penakluk wanita."
"kau tidak mendengarkanku?"
"Yak Oh Sehun! Berapa umur mu, hah? Beraninya bermain di kamar hotel seorang gadis." Bukannya menjawab pertanyaan Luhan, Yifan malah berbalik membentak Sehun—dasar anak pirang ini saja yang tidak kenal kata maaf—hal tersebut membuat Luhan geram dan Sehun hanya cengengesan bodoh dibelakangnya.
"YAK!" Luhan mencubit lengan si pirang dengan garang. "kau sengaja ingin membuatku kesal, ya? Jangan marahi Sehunku, dasar tonggos!"
"apa katamu? Dasar Rusa pedofil." Ujar Yifan menatap Luhan dengan tatapan mengejek.
"YAK!"
"MWO?!"
Zitao mendesah pelan, mendudukkan dirinya di sofa kamar Luhan sambil menonton mereka berdebat tidak penting. Sehun yang bingung dengan dua orang yang saling menghina itupun ikut duduk disamping Tao.
"jangan heran, sejak di universitas mereka memang sudah seperti itu." ucap Tao kemudian dibalas Sehun dengan anggukan.
"aku jadi takut disemprot Yifan sonsae saat disekolah." Sehun meringis mengingat hukuman yang akan ia terima bersama Jongin sekembalinya ke Seoul.
"tenang saja, aku akan mencegahnya." Entah mengapa Tao terlihat seperti malaikat penolong difikiran Sehun. "lagipula Yifan oppa tidak akan lama disekolah itu."
"huh? Kena—"
"YAAA KIM LUHAAAAN!" pekikan Yifan mengagetkan mereka berdua. Ternyata Luhan menggigit lengan Yifan saking geramnya.
Glek
Sehun menelan ludahnya.
Ternyata Lulunya ganas juga.
Zitao terkikik melihat ekspresi Yifan yang ingin menelan Luhan hidup-hidup. "sudahlah, kalian berdua. Oppa, kau tidak ingat tujuan kita kemari?"
Seakan baru saja disiram dengan air dingin wajah Yifan kembali focus. "Lu, hentikan. Aku ingin kau menghubungi si hitam itu. sekarang."
"huh?" Luhan masih menatapnya kesal sambil meminum air mineral dari botol di meja nakasnya—ternyata gadis ini kehausan karena berteriak—"hitam siapa yang kau maksud?"
"adikmu. Si perebut adikku."
"Jongin?" Tanya Luhan bingung.
"ya seingatku kau punya satu adik yang bernama seperti itu" Jawab Yifan kesal melihat Luhan yang lambat paham.
"ada apa dengannya dan Kyungsoo?"
"dia menculik Kyungie dan sampai sekarang mereka belum kembali."
"Oh—Ziezie, kau ingin cake?" Luhan cuek saja melihat Yifan yang seperti kebakaran jenggot. Gadis bermata rusa itu malah berjalan ke pantry—maklum, kamar gadis ini luas sekali—dan membuka kulkas yang tersedia disana. "aku punya strawberry cheesecake dan red velvet."
"ehm. Sebenarnya aku sedang diet, eonnie."
"diet hanya untuk orang yang tidak bersyukur." Ujar Luhan ketus, "jja~ karena kau tamu ku, maka harus dimakan, Okay?" Luhan menyerahkan piring berisi potongan cake itu pada Tao yang menerimanya seperti ogah-ogahan. Padahal sebenarnya dia ngiler berat. Salahkan timbangan di kamarnya yang membuatnya mati-matian menahan nafsu makan seperti ini.
"Nona Kim kau tidak mendengarkanku, hm?" Yifan ikut duduk disana dan menatap Luhan tajam.
"jangan berlebihan Yi. Kyungsoo akan baik-baik saja bersama Jongin."
"aku juga sudah mengatakan itu tadi." Sambung Tao.
"lagipula ini masih jam 8 malam, Sonsae." Ujar Sehun yang dihadiahi tatapan mengerikan oleh Yifan.
"pokoknya kau harus telfon Jongin dan menyuruh mereka pulang, sekarang. Cuaca sangat buruk diluar"
"aku tidak mau. Biarkan saja, palingan Jongin membawa Kyungsoo ke hotel terdekat."
"Kim Luhan—"
"pokoknya tidak mau. Titik."
"WAE?" ujar Yifan kesal.
"pulsaku habis."
Pfftt…
Yifan ingin menceburkan diri ke kolam renang rasanya.
Loh kenapa tidak di laut saja?
O-ow, Yifan itu takut ikan hiu, mana berani dia.
.
Ternyata doa Jongin dikabulkan, langit sudah menggelap namun hujan tak kunjung berhenti. Kyungsoo dipelukannya sudah mulai kedinginan, Jongin harus bertindak cepat sebelum Kyungsoo-nya sakit karenanya.
"noona"
"hm" ujar Kyungsoo yang masih menyamankan diri dipelukan Jongin—sudah berapa lama mereka seperti ini? Jongin tidak tahu.
"kita pulang saja, ya? Sepertinya hujannya akan lama berhenti." Kyungsoo hanya mengangguk.
Jongin memutar otaknya agar Kyungsoo tidak kebasahan. Ia kemudian melepaskan pelukan Kyungsoo—walaupun tidak rela—serta melepaskan jaketnya dan memasangkannya pada Kyungsoo—menyisakan balutan kaos polo putih pada tubuhnya—Walaupun sedikit lembab, namun bagian dalam jaket itu masih terasa hangat. Kyungsoo hanya diam menurut kemudian menerjapkan matanya lucu saat Jongin memasangkan Hoodie yang menutupi hampir setengah wajahnya. Jongin tersenyum gemas, ukh lucu sekali. Rasanya ingin kubawa pulang.
"sudah hangat, noona?" Kyungsoo mengangguk lagi.
"tapi nanti Jongin kedinginan." Ucap Kyungsoo cemas.
"bukan masalah, ayo." Jongin berjongkok dihadapan Kyungsoo.
"eh, kenapa?" Tanya Kyungsoo bingung.
"aku akan menggendong noona."
"tapi aku bisa jalan sendiri, Jongin."
Jongin menggeleng keras, "nanti kaki noona basah, terus masuk angin. Lalu jika noona terpeleset bagaimana?"
Kyungsoo terkekeh pelan melihat Jongin yang cerewet. "baiklah, tapi aku ini berat, lho."
"bukan masalah" Jongin tersenyum saat merasakan berat Kyungsoo di pikulnya. Gadis ini tidak ada berat-beratnya sama sekali. Mengapa ia tidak percaya diri?
"pegangan yang erat, noona."
.
"lalu?" Luhan yang sedang berbicara dengan Jongin melalui ponsel Sehun—Yifan tidak mau rugi meminjamkan ponselnya untuk menelfon si hitam, katanya—ditatapi Yifan begitu intens nya. Tao yang melihat itu agaknya terheran melihat Yifan yang bertingkah seolah Jongin benar-benar menculik Kyungsoo.
"kau bermalam disana?"
"…."
"baiklah. Akan kusampaikan pada Yifan. Jaga dirimu dan Kyungsoo."
"apa katanya?" Tanya Yifan langsung sesaat setelah Luhan menutup panggilan.
"kau ini tidak bisa membiarkanku bernafas sebentar saja ya? Mereka menginap di hotel Shinju"
"M-MWO? Kau serius, Lu?! Sialan si Jongin itu, aku akan menyusul kesana."
"tidak bisakah kau tenang, sedikit? Adikku tidak sebrengsek itu kau tahu?" Luhan menatap Yifan kesal. "ada pohon tumbang yang menghalangi jalan karena angin kencang, baru akan diangkat esok hari dan mereka tidak bisa lewat sekarang. Oleh karena itu mereka menginap di hotel terdekat."
"kau yakin mereka tidak—"
"ku yakin Jongin cukup sadar untuk menjaga gadis yang disayanginya."
Yifan terdiam.
"oppa, sudahlah. Terimakasih, Lu. Kami akan kembali kalau begitu." Tao membungkuk dan menarik tangan Yifan untuk berdiri. Namja pirang itu masih mendengus kesal namun mengikuti langkah Tao keluar kamar Luhan.
"bye!" ucap Luhan pada Tao sambil tersenyum kecil melihat Yifan yang badmood. Tanpa gadis bermata seperti rusa itu sadari, sepasang tangan memeluknya dari belakang. Nafas hangat Sehun membuat Luhan kegelian.
"Hun-ah—"
"Lu" ujar Sehun dengan suara beratnya yang membuat Luhan merinding.
"w-wae?" ujar Luhan gugup.
"sampai dimana kita tadi?"
.
"m-mwo? Cuma tersisa satu kamar?" ujar Jongin kesal. Resepsionis hotel itu menunjukkan raut meminta maaf.
"kami mohon maaf Tuan, sekarang ini sedang musim liburan ditambah terjadinya kecelakaan pohon tumbang membuat banyak pengunjung check-in malam ini." Jongin menghela napas jengah. Sejujurnya ia ingin mencari hotel lain, namun melihat wajah Kyungsoo—dengan tubuh yang tenggelam dalam jacket Jongin—berusaha menahan kantuk, Jongin akhirnya memesan kamar itu.
"gwenchanayo, noona?" Tanya Jongin perihal apakah Kyungsoo bermasalah jika satu kamar dengannya. "aku janji tidak akan macam-macam."
"gwenchana. Aku tahu itu" Kyungsoo tertawa kecil dengan mata berair—sungguh, ia sangat mengantuk dan hanya membutuhkan sebuah ranjang sekarang.
"kamsahamnida." Ujar Jongin saat menerima kunci kamar yang diberikan resepsionis. Ia kemudian menuntun Kyungsoo untuk memasuki lift. Saat ini mereka hanya berdua saja didalam lift dan menuju kamar mereka—ekhm, wajah Jongin sepertinya sudah memerah—dilantai 12.
"noona.." panggil Jongin memecah keheningan.
"hm?" ucap Kyungsoo sambil mengucek matanya. Namun tangannya segera ditahan Jongin. "jangan ucek matamu, itu tidak baik." Jongin tersenyum lembut membuat dada Kyungsoo bergemuruh hebat.
"apa noona sangat mengantuk?" Kyungsoo hanya bisa mengangguk malu.
"aku tidak biasa tidur terlalu malam, Jongin." Satu lagi poin tentang Kyungsoo.
"ayo kugendong saja." Jongin kembali berjongkok dihadapan Kyungsoo.
"ah-annieyo, kau pasti lelah. Lagipula—"
"ayolah noona, aku tidak apa-apa. Lagipula ini masih dilantai 5. Aku tidak ingin noona kelelahan."
"tapi.."
"noona bisa tidur dipunggungku, ayo." Kyungsoo menggeleng.
"aku terlalu merepotkanmu."
"gwenchana" Jongin tertawa kecil. "lagipula noona tidak berat, kok. Ayolah, kakiku bisa kram kalau berjongkok terus seperti ini." Kyungsoo akhirnya menyerah dan menyamankan tubuhnya dalam gendongan Jongin.
Jongin kemudian berdiri dengan Kyungsoo dipunggungnya, tubuhnya sedikit menggigil merasakan hawa AC yang rendah—ditambah ia hanya memakai kaos polo yang sudah basah terkena hujan tadi. Jongin tidak merasakan pergerakan yang berarti dari Kyungsoo. Apakah ia sudah tertidur?
"noona?"
Tidak ada jawaban. Jongin tersenyum kecil mendapati Kyungsoo yang tertidur begitu cepatnya. Akhirnya lift terbuka dan mereka sampai di lantai 12. Jongin berjalan di lorong menuju kamar mereka. Setelah sampai didepan pintu, dengan satu tangan ia berusaha mengambil kunci kamar dari kantung jeansnya.
Click
Pintu terbuka. Jongin segera membaringkan tubuh Kyungsoo di ranjang satu-satunya, kemudian melepaskan jaket Jongin yang lembab, serta sepatu gadis itu. Jongin kemudian menyelimuti gadis itu dan tersenyum melihat Kyungsoo yang tertidur seperti bayi.
Melihat Kyungsoo yang menggeliat lucu dalam tidurnya, Jongin tak kuasa menahan rasa gemasnya. Ia mencium lembut kening Kyungsoo cukup lama menyalurkan rasa sayangnya pada gadis yang dikasihinya itu.
"goodnight." Ujarnya lembut sambil mengusap pelan rambut Kyungsoo. Setelah memastikan Kyungsoo cukup nyaman, Jongin segera membaringkan tubuhnya di sofa untuk menjemput alam mimpi.
To Be Contiuned
saya gamau banyak cuap-cuap. cuma mau bilang maaf banget karena lama banget ga ngupdate ff ini. sempat kena writer-block tapi yeah I can handle it.
makasih yang masih mau ngikutin ff ini dan jangan lupa reviewnya agar saya punya semangat buat ngelanjutinnya ^^
ps : dont forget to read my ff 'TWINS' too.
peace and love!
-prettyace
