COSMIC RAILWAY

Biancadeo

.

.

NINE

.

Kai tidak ingin Kyungsoo terlahir sama seperti ayahnya, namun pemandangan ini cukup untuk menjelaskan segalanya. Tidak ada perbedaan antara Do Youngha dengan Do Kyungsoo, keduanya memiliki kult pucat yang sama, manik biru kelam yang sama, cara tertawa yang sama bahkan taktik membunuh yang sama, cepat dan tuntas tanpa getar dan perasaan.


Keadaan semakin kacau saat Kyungsoo kembali menyodorkan pistol dengan peluru aktif ditangan, segalanya terjadi diluar kendali, bahkan Yerin yang telah mengenal Kyungsoo dengan baik pun melebarkan manik tidak percaya atas apa yang terjadi dengan sahabatnya. Tidak ada yang tahu setan apa yang kini merajai tubuh itu, hanya satu pepatah yang kini disetujui, bahwa buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Cepat atau lambat, Kyungsoo akan menyerupai sang ayah, baik itu fisik maupun batin, dan itu bukanlah suatu pertanda baik.

Kai benar-benar menahan nafas saat Kyungsoo berdiri tanpa goyah menghadapi Youngha, bahkan saat dibawah ancaman kematian sang anak. Ia tidak mempercayai apa yang ada didepan mata, sebagian hatinya menyatakan ini bukan Kyungsoo, namun apa yang terjawab oleh kenyataan adalah pria ini benar Do Kyungsoo, malaikat dari Cosmic dengan senyum hati, kini berubah menjadi monster yang haus akan darah serta suara tembak.

"Kyungsoo, dengarkan aku. Jika kau berani menarik peluru itu, maka..maka.. Haneul juga akan mati, anakmu.. anakmu akan mati" itu adalah Youngha yang berucap. Pria bangka itu bahkan bergetar saat berbicara, Kai meyakini Youngha juga tidak mengharapkan Kyungsoo tumbuh menjadi seperti ini. Bagaimanapun Kyungsoo adalah anaknya, bahkan satu-satunya.

"sayangnya aku tidak peduli. Ucapkan selamat tinggal pada dunia karena ajalmu akan menjemput" Kyungsoo berucap, designer itu menangis, air mata keluar dari pelupuk tanpa halang rintang, saat itu Kai meyakini Kyungsoo juga merasakan sakit yang mendalam.

"dengar nak, kau tidak akan—"

"DIAM!" belum sempat Youngha menyelesaikan apa yang akan diucap, Kyungsoo menginterupsi. Berteriak dengan isak samar.

"KAU HANYA AKAN MATI SETELAH INI, AKU BERSUMPAH—"

"Kyungsoo!" itu adalah Kai. Pelacur itu dengan bodoh pasang badan dihadapan Kyungsoo. membiarkan tubuhnya menjadi tameng guna melindungi peluru yang bisa kapan saja mengambil nyawa Youngha.

"kau tahu, kau hanya akan menjadi bajingan kotor yang membunuh ayahmu sendiri!" apa yang diucap Kai sungguh terdengar rapuh, pria ini bergetar dilutut, mencoba untuk tetap tenang namun gagal jika dihadapkan dengan benda berbahaya. Kai masih memiliki masa kelam, dimana tubuhnya disentuh oleh benda-benda yang bahkan tidak bisa ia ingat namanya.

Kyungsoo menatap Kai dalam diam, tidak ada tanda-tanda dari designer untuk menanggalkan pistolnya. Namun Kai tetap berdiri kokoh, memandang Kyungsoo dengan sayang, seakan meyakinkan bahwa ia masih memiliki Kai untuk sekedar menebar lelah.

Pertahanan Kai mulai runtuh saat melihat senyum licik Kyungsoo, itu hanya tarikan satu sudut bibir, namun cukup mampu membuat tulang kakinya melemah.

"kau juga ingin mati?" katanya lembut namun penuh ancaman, dengan itu manik Kai melebar jelas, tubuhnya mulai menolak untuk bertahan. Sungguh Kyungsoo tidak main-main, ia bisa saja membunuh siapapun didalam ruangan ini.

Tidak hanya Kai, baik itu Yerin yang kini berpegang pada Baekhyun, Jongdae yang meremas telapak Eunha, semuanya kaku begitu mendengar apa yang Kyungsoo ucap untuk Kai. Ini amat berkebalikan dengan hatinya, semuanya tahu bagaimana Kyungsoo mencintai Kai, namun saat ini apa yang tergambar dalam iris itu hanya ada kematian.

Alih-alih mundur, pelacur bodoh itu melangkah maju. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Sampai saat tubuhnya hanya berjarak satu meter dari pelatuk. Tubuhnya bergetar, semua orang tahu itu, berbeda dengan Kyungsoo yang masih tegap berdiri, tanpa rasa ragu, tanpa rasa takut. Sudut bibirnya masih membentuk seringaian dan semakin lebar begitu mangsa dihadapan semakin dekat pada peluru.

"Kai oppa! Apa kau gila?! Mundur!" itu adalah Yerin yang berteriak dari belakang, merasa ngeri melihat Kyungsoo yang menodong pistol tanpa gentar. Tidak ada jawaban dari Kai, pria itu masih diam ditempat.

Sementara itu Kyungsoo tersesat sejenak dalam keadaan, tidak ada senyum licik, tidak ada lagi gerak percaya diri. Maniknya mulai memerah menatap Kai, rahangnya mengeras dan pegangannya pada pistol goyah. Ini adalah Kai, ini adalah Jongin.

"Kai-ya dengar, kita harus keluar dari sini! Dia bukan Kyungsoo, pria ini gila, dia bisa membunuh kita disini kecuali kita keluar!" Baekhyun berucap keras, ia mengeratkan pegangannya pada Yerin, hendak menarik gadis itu keluar namun dengan tegas si gadis menolak. Dokter itu mendesah lelah, Yerin beranggapan bahwa Kyungsoo hanya sedang kalap. Namun bagi Baekhyun ini bukan sesuatu yang menganggu hati, secara medis Kyungsoo mungkin sehat tapi tidak untuk mental.

Seperti yang diduga, Kai tidak mendengarkan. Pria perunggu itu dengan berani semakin maju kedepan. Ia meyakini dalam hati bahwa Kyungsoo akan luluh. Sementara Kai berjalan maju, Kyungsoo mundur dengan takut. Dia tidak lagi tersenyum, maniknya bergetar dipenuhi dengan bongkah air mata. Kyungsoo menangis. Desaigner itu menangis dalam marahnya, nafas tak beratur dan gerak tubuh yang mulai menjadi acak. Kai barusaha untuk meraih tubuh itu, namun urung begitu Kyungsoo semakin mengeratkan pegangannya kembali pada pistol, bibir hati itu terlihat hendak mengucap sesuatu

"dia bukan ayahku, dia tidak pernah menjadi ayahku, dia merusak hidupku, dia pengacau! Aku menderita.. aku menderita.. apa kau tahu?! Dia membiarkan aku tetap hidup dengan mati rasa! Aku tidak pernah punya teman, tidak pernah punya kehidupan normal! Dia merebut hidupku, merebut ibuku, merebut impianku! Kau tahu apa?! Keparat itu menyiksa ibuku sejak lama! Sejak aku kecil, apa yang tersaji diotak ku adalah bagaimana cara ayah bertengkar dengan ibuku, menyentak ibuku, menyiksa ibuku! Aku benci keduanya, aku benci makhluk bajingan itu, aku benci ibuku! Bahkan.. bahkan.. ibuku.. dia meninggalkan ku tumbuh disini dengan manusia hina itu" Kyungsoo menarik nafas panjang, lututnya goyah namun tangan yang meremas pistol masih tetap kuat.

Pria putih itu masih menangis, sesekali tertawa dalam ronta tangisnya. Kai memandang dengan sedih bagaimana kini Kyungsoo terlihat benar-benar gila, rapuh dan lemah. Ia tidak mengerti begitu banyak tentang bagaimana kehidupan kelam Kyungsoo. Apa yang samar diketahui Kai adalah pria ini kesepian sepanjang umurnya, hidup dalam gemerlap harta tanpa kasih sayang. Orang tuanya bercerai dan menjadi pewaris tunggal dari bisnis ternama. Sekilas Kai merasa Kyungsoo adalah sosok sempurna dengan senyum malaikat, namun melihat keadaan Kyungsoo sekarang, melihat bagaimana Yerin mulai teduduk dalam tangis, seakan mengerti kisah hidup si pria, Kai sadar Kyungsoo punya kehidupan mengerikan.

"aku dicipta untuk menjadi mesin uang, dia memperlakukanku seperti budak! Orang bodoh itu membesarkanku tanpa kasih sayang, dia bahkan menyakiti Jisoo ku, dia mengambil Jisoo ku, dia membunuh Jisoo ku, satu-satunya milikku, dia.. dia.. Seharusnya kau buang aku sejak awal, BAJINGAN! AKU TIDAK PERNAH KEBERATAN HIDUP DIKOLONG JEMBATAN SEKALIPUN ASAL ITU TIDAK DENGANMU! SEKARANG APA? KAU AKAN MENGAMBIL HANEUL? DARAH DAGINGKU? CUCUMU? KAU AKAN MENIKAMNYA JUGA DENGAN PISAU? AKU BAHKAN TIDAK PEDULI!" dengan itu Kyungsoo tertawa, lebar dan keras. Pria putih itu tidak memperhatikan bagaimana sekelilingnya melebarkan manik dengan tingkahnya, Kyungsoo benar-benar gila!

"MATI SAJA KALIAN SEMUA!" Kyungsoo berucap lagi, dan dengan itu ia benar-benar bersiap untuk menembak.

Desaigner itu memejamkan mata.

Menarik pelatuknya.

Tanpa aba-aba, kyungsoo merasakan tubuhnya terdorong jauh.

Telinganya menangkap suara tembak disambut dengan pecah kaca, keras dan memekak telinga.

Perlahan Kyungsoo membuka mata, tubuhnya ada dalam dekap hangat seseorang. Seperti waktu berlalu dengan lambat. Ia lebih dari tahu bahwa peluru itu meleset jauh ke jendela tepat disamping kepala Youngha, bahwa orang ini mendorong tubuhnya dalam peluk hingga peluru itu meleset, bahwa Kai mengamankan dirinya dalam tangis dan dekap hangat.

Kyungsoo gagal membunuh ayahnya. Kyungsoo gagal menelusupkan timah dalam kedalam tubuh Youngha.

Dari pangkal leher orang itu, Kyungsoo bisa merasakan maniknya menatap manik sang ayah. Itu adalah pandangan yang belum pernah dilihat Kyungsoo, iris itu menampakan kesedihan, sesal dan kecewa. Youngha tidak berhenti menatap Kyungsoo, seakan segalanya akan hilang dalam sekejab mata begitu pandang saling melepas. Kyungsoo melihat bagaimana sisa pengawalan Youngha mencoba melindungi tuannya, maniknya membuntuti langkah sang ayah sampai punggung itu menghilang.

Amarah Kyungsoo berkobar lebih dan lebih, ia meraung dalam pelukan Kai. Mendorong pria itu dengan tenaga yang tersisa, namun diluar dugaan Kai memeluknya lebih erat. Pria itu dengan tangguh menahan sakit setiap pukulan yang dilontar Kyungsoo, setiap berontak yang dilontar oleh Kyungsoo.

"MENYINGKIR! KAU MENGHALANGIKU! KAU MEMBIARKAN PRIA ITU PERGI, MENYINGKIR DARIKU!" Kyungsoo terus berteriak, ia meronta dan merintih dalam tangis. Terus memukul Kai tanpa ada tanda akan berhenti.

Jongdae bergerak cepat dibelakang, bartender itu berlari secepat kilat untuk menghadang Youngha serta pengawalannya. Ia juga meminta beberapa anak buah Kyungsoo untuk ikut membantu. Tidak berbeda dengan Jongdae, Baekhyun segera meraih tas jinjingnya, mencari obat bius serta jarum suntik, ini adalah satu-satunya cara agar Kyungsoo tenang dan tidak menyakiti Kai berlebih. Dengan cekatan Baekhyun mendekati dua orang itu, memberi kode pada Kai agar bertahan sedikit lagi sebelum kemudian menyuntikan obat bius kedalalm tubuh Kyungsoo. Beruntung karena obat itu bekerja dengan cepat, tidak sampai hitungan menit tubuh Kyungsoo bereaksi. Pria itu melemah dan jatuh kedalam pelukan Kai, menyandarkan kepala dengan aman dilekuk leher pelacur.

Kai masih diam ditempat saat Baekhyun berlalu untuk menyusul Jongdae, lengannya memeluk tubuh tidak sadar Kyungsoo lebih erat. Ia menangis dalam diam, memikirkan bagaimana segalanya menjadi cerita mengerikan. Kai telah masuk kedalam lubang Kyungsoo, ia memilih untuk jatuh dan tersungkur terlalu jauh. Menarik nafas panjang sebelum kemudian menyandarkan kepala Kyungsoo dalam pangkuan, memandangi wajah cantik itu dalam diam. Kyungsoo punya wajah apik bahkan saat pucat mendominasi, bibir hatinya tetap berwarna jambu dengan setitik darah mengalir dari sudutnya.

Ia tidak ingin meninggalkan Kyungsoo apapun yang terjadi. Kai hanya akan tinggal disisinya meski itu harus menyaksikan Kyungsoo berubah menjadi monster untuk kesekian kali.

Yerin masih diam ditempat, mendekat perlahan kearah tubuh Kyungsoo yang aman dalam pangkuan Kai. Pria ini adalah kebanggaan Yerin sejak masa kecilnya, Kyungsoo layaknya super hero, pahlawan tanpa jasa, melebihi superman bahkan batmansekalipun. Ini kali pertama Yerin melihat Kyungsoo jatuh terlalu dalam, meraung dalam tangis, bahkan membunuh seseorang dengan mudah.

Berbeda dengan Yerin yang seperti kehilangan akal sehat, Eunha mengambil beberapa obat dari tas Baekhyun, membuat agar dirinya berguna dengan segera menyeka darah dari sudut luka ditubuh Kyungsoo dengan kain kasa serta beberapa obat lainnya. Dengan telaten Eunha membersihkan luka itu, membiarkan Kai tetap memandangi Kyungsoo serta Yerin yang masih terdiam ditempat. Manik bulat Eunha memandangi tubuh Kai yang juga sedikitnya terluka karena berontak Kyungsoo, ia berlari mengambil segelas air, menyodorkan kepada Yerin kemudian kembali beralih pada si pelacur. Kai terlihat hancur dan Eunha belum memahami bagaimana ini terjadi, mengapa Kyungsoo bisa jadi seperti ini atau siapa itu Haneul, namun Eunha memilih untuk mengabaikan. Gadis itu menyentuh lembut lengan Kai agar mendapat sedikitnya perhatian

"kita harus membersihkan lukamu, juga Kyungsoo, juga segala sesuatu disini. Ayo, berdiri" kata si gadis begitu Kai mendongak.


Mereka sepakat untuk membaringkan Kyungsoo diatas sofa dan memutuskan untuk tetap bersama didalam satu ruang, memilih untuk tetap bertempat diruang tamu dan tidak dibilik agar segalanya tetap aman. Walaupun penjagaan Kyungsoo ketat diluar, namun seisi rumah tidak ada yang ingin resiko lebih.

Kai masih memandangi Kyungsoo dari jarak terdekat, kali ini beberapa lukanya sudah tertutup perban, baik Kyungsoo maupun Kai, keduanya dalam keadaan baik. Eunha memeluk erat tubuh Yerin, memberi sentuh lembut pada lengan seakan meyakinkan segalanya akan menjadi baik. Keduanya telah mencoba berbagai cara menghubungi nomer bibi Patricia, mencari siapa saja yang bisa dihubungi, namun nihil. Jongdae sibuk merutuk pada diri sendiri karena gagal menangkap Youngha beserta anak buahnya, mereka terlalu cepat dan bahkan anak buah Kyungsoo tidak sanggup mengejar. Baekhyun tidak kalah frustasi, ia berulang kali menyentak anak buah Kyungsoo karena kehilangan jejak Youngha.

"kita harus punya rencana" Jongdae berucap diantara hening suasana.

"kita tidak butuh rencana, hanya cari Youngha dan jebloskan dia ke penjara" Baekhyun menimpali.

"tidak bisa seperti itu, polisi tidak akan bertindak jika tidak ada bukti nyata"

"apa maksudmu bukti nyata?! Kau sendiri adalah korban sialan! Kita semua sudah cukup sebagai bukti, kita bisa mendapatkan anak Kyungsoo jika pria bangka keparat itu masuk penjara!" Baekhyun kehilangan kesabaran, ia memandang Jongdae dengan marah.

"dengar, aku tidak tahu-menahu soal ternyata Kyungsoo memiliki anak, atau siapa Haneul, atau apa tepatnya yang sejak tadi dibicarakan oleh tua bangka itu. Hanya saja yang sedang kita hadapi saat ini adalah Do Youngha! Dia masuk dalam orang paling berpangaruh di negara ini, hukum Korea bahkan ada dibawah kuasanya! Jika kita bertindak gegabah, menurutmu apa yang bisa terjadi pada Haneul hah?!" apa yang diucap Jongdae sedikitnya dibenarkan oleh Baekhyun. Dokter itu terdiam ditempat, memikirkan bagaimana agar segalanya menjadi semudah membalik telapak tangan, namun ini benar bahwa mustahil mengalahkan ular berbisa tanpa senjata lengkap.

"Jongdae-ya, kau punya rencana?" kali ini adalah Kai yang berbicara, telapaknya masih berpegang pada lengan dingin Kyungsoo. Pelacur itu bahkan tidak sedikitpun beralih dari pria yang pingsan, menatap tubuh itu seakan Kyungsoo akan hilang dari pandangan begitu ia mengalihkan fokus.

"aku punya, tapi sebelum itu kita harus membiarkan Kyungsoo sembuh. Bagaimanapun, Kyungsoo adalah yang paling berperan disini, juga— seperti apa nanti rencananya, keselamatan bocah Haneul itu adalah yang paling penting, benar?" kata bartender sebelum kemudian diikuti oleh anggukan mantap Yerin juga Kai.

Eunha diam ditempat, ia masih tidak percaya bagaimana Kyungsoo ternyata telah memiliki seorang anak. Maniknya beralih menuju Kyungsoo yang terlelap nyaman disofa, jika dipikir lagi Kyungsoo adalah seorang yang hebat. Pria ini masih bertahan bahkan dibawah ancaman ayahnya terhadap orang-orang yang dicintai. Bagaimana nantinya Kyungsoo akan bertahan dengan Kai atau tidak, Eunha bahkan tidak tahu. Ia telah menyadari betapa hebat kekuasaan Youngha di Korea, jika ide dari Jongdae tidak berhasil maka entah bagaimana nasib malang darah daging Kyungsoo.

Eunha mengalihkan pandangan pada Jongdae, pria tampan itu masih menatap wajah tidur Kyungsoo, si gadis kemudian tersenyum menyadari bagaimana Jongdae bahkan mulai peduli ketika itu bukan menjadi masalahnya.

Kali ini segalanya haruslah berakhir baik, Kyungsoo akan cepat sadar dan menjalankan semua rencana, mendapatkan kembali Haneul dan juga menyingkirkan Youngha.


Beberapa jam berlalu dan kini mentari pagi mulai menerangi sekitar, Baekhyun dan Jongdae bergantian jaga sementara Kai tidak sekalipun terlelap ditempatnya. Pelacur itu masih memandangi wajah Kyungsoo, memindai setiap pahat indah yang dicipta tuhan. Kyungsoo adalah pria jenius yang tampan, tidak ada yang mengelak fakta itu, dan Kai mendapati dirinya tersenyum hanya dengan membayangkan ocehan sombong orang kaya ini.

Pria perunggu itu menghela nafas panjang, Yerin dan Eunha masih tertidur di sofa samping sementara Baekhyun menemani Jongdae didapur. Kai mencoba untuk tetap sadar, ia bahkan tidak ingat kapan kali terakhir tidur lelap. Kantuk mulai mendominasi dan pada akhirnya pun ia menyerah, masih memegangi tangan Kyungsoo kemudian Kai cepat terlelap disana.


Beberapa jam berlalu dan Kyungsoo mendapati dirinya tersadar, maniknya menyipit begitu terang suasana mendominasi penglihatan. Tubuh itu terasa kaku dan kepalanya mendadak pening, ia tidak lagi terkejut begitu melihat pergelangannya dililit oleh selang infus. Maniknya memindai sekitar, menitik fokus pada pria kecoklatan yang kini terlelap disamping, tangannya memegangi erat telapak Kyungsoo. Pria yang lebih putih tersenyum tipis dengan pemandangan ini, sekuat tenaga ia mencoba untuk bangun tanpa membuat suara, begitu maniknya menemukan sosok Baekhyun, Jongdae, Yerin serta Eunha yang tertidur diruang yang sama, saling berbagi keamanan dan kehangatan, Kyungsoo merasa sebuah benda tajam menembus telak ulu hati paling dalam. Orang-orang ini adalah apa yang ingin ia lindungi, namun apa yang terjadi kemarin hanyalah sebuah kekacauan.

Ia bahkan hampir membunuh Jongin.

Kyungsoo nyaris membunuh Jongin.

Jongin, adalah apa yang menjadi segalanya bagi Kyungsoo.

Kyungsoo ingat sekarang, ia mengingat setiap detail kejadian kemarin. Bagaimana ia mengarahkan pistol aktif ketubuh ayahnya, bagaimana teman-temannya mencoba melarang, bagaimana ia membiarkan Youngha untuk membunuh Haneul, bagaimana ia membiar Jongin nyaris terbunuh, bagaimana— tunggu..

Haneul.

"Haneul" Kyungsoo berucap, tidak mengharapkan sosok Kai bangun dari samping.

Pria coklat itu menerjabkan maniknya pelan, kembali melihat iris biru Kyungsoo diantara terang dunia merupakan hal yang paling diharapkan muncul dalam benak. Dan benar, pria itu terbangun. Kyungsoo ada disana, duduk lemah diatas sofa empuk, manik birunya menerjab perlahan, melihat dengan miris keadaan disekitar.

"Kyungsoo" kata Kai dengan suara selembut mungkin. Ia menahan sekuat diri untuk tidak berhambur memeluk pria ini, Kyungsoo masih terlalu sakit, mungkin butuh waktu untuk menyerap apa yang telah terjadi kemarin. Kai masih tidak mengerti dengan sisi lain Kyungsoo, ia tidak memahami bagaimana sosok lembut ini bisa menjadi monster.

"Jongin" suara lembut Kyungsoo membuyarkan apa yang bersarang dalam pikiran Kai. Kali ini Kyungsoo terlihat seperti anak anjing yang hilang, maniknya membulat tanpa rasa bersalah. Ini berbanding terbalik monster Kyungsoo kemarin, satu hal yang bisa dipastikan oleh Kai sebelum dia menyambut Kyungsoo dalam peluk hangat.

Bahwa ia tidak akan melepas Kyungsoo lagi. Apapun yang terjadi.

Kai terkejut begitu merasakan lembab pada kain kemaja. Kyungsoo menangis disana. Tanpa peringatan Kai membungkus lengannya lebih erat, ia membingkai tubuh putih itu sekuat mungkin tanpa menyisakan celah, seakan meyakinkan bahwa ia akan selalu ada disana untuk Kyungsoo.

"aku hampir membunuhmu.. aku hampir membunuh kalian semua.. aku hampir membunuh ayahku sendiri.. aku monster.. aku—"

"shhh tenanglah, tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang terluka. Ini bukan salahmu, tidak apa-apa" Kai bergegas menenangkan, memberi sentuh lembut pada punggung pria yang terisak.

"kau bodoh! Aku bisa saja membunuhmu jika kau menghalangku seperti kemarin! Kau seharusnya tidak disana! Kau bisa mati dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!" Kyungsoo meninju tubuh Kai, dimanapun, dibagian tubuh manapun yang bisa membuat pria itu merasakan sakit. Kyungsoo marah pada diri sendiri, ia membenci dirinya sendiri, bagaimana ia bisa melukai Kai bahkan teman-temannya.

"tidak ada yang terjadi Kyungsoo, aku baik-baik saja okey. Tidak ada yang terjadi denganmu, tidak ada yang salah. Kita hanya harus memperbaiki semuanya. Mengerti?" pelacur itu melonggarkan pelukannya, mengangkat rahang Kyungsoo agar manik mereka bisa bertemu. Seakan mengingat sesuatu, iris biru Kyungsoo bergerak gelisah, ia seperti mencari jawaban dari manik Kai namun tidak menemukan apapun.

"Haneul.. Haneul, apa yang akan terjadi padanya? Dimana dia?" Desaigner itu bertanya.

"kita akan menemukan Haneul, Jongdae punya cara. Sembuhkan dirimu dan kita akan melakukan cara apapun untuk menemukan Haneul" Kai meyakinkan, lengannya membantu untuk menyangka tubuh Kyungsoo.

Perlahan ia memperhatikan bagaimana rupa Kyungsoo melembut. Pria ini adalah apa yang telah Kai pelajari didunia, kehidupan kelam atas siksa yang tertutup oleh akting dari mimik wajah. Kai tidak pernah berusaha untuk menutupi siksa seperti apa yang dunia berikan untuknya, ia selalu membiarkan alam mengetahui tentang apa saja yang ia takuti. Kai merelakan segalanya untuk menjadi korban, ia tidak pernah mau membuka dunia luar, tidak ingin menemukan sesuatu untuk dilindungi. Namun ini adalah sosok Kyungsoo, ia punya begitu banyak jiwa untuk dijaga, pria ini berusaha untuk tetap bahagia bahkan saat hidupnya diatur seperti robot. Jika dipikir lagi, Kyungsoo tak elaknya seperti benda mati, diperalat dan dipermainkan oleh ayahnya sendiri. Maniknya dibiarkan melihat jasad kekasih hati mati ditikam pisau, telinganya hanya untuk mendengar ancaman dari ayahnya untuk orang terdekat, penciumannya hanya untuk kertas, pekerjaan serta persenjataan, tubuhnya seperti bekerja karena dikontrol. Pria ini tidak punya apa-apa, namun dengan bodohnya Kyungsoo masih mencoba untuk melindungi banyak hal seakan dunia adalah miliknya.

Semuanya akan berjalan dengan baik, Kyungsoo-ya


Kyungsoo terus bermain dengan ujung kemeja, ia sudah mencoba berjam-jam merangkai permintaan maaf untuk teman-temannya atas apa yang terjadi, namun tetap saja apa yang keluar hanya menjadi kalimat acak. Dua hari berlalu semenjak Youngha datang mengacaukan keadaan, dan kini ke-enamnya berkumpul guna mendengar pidato Kyungsoo.

"yeah, aku tahu seorang sepertimu tidak pandai meminta maaf" Jongdae menjadi yang pertama berucap. Mendengar itu Eunha tanpa aba-aba memberi pukulan ringan dipuncak kepala kekasihnya, mengabaikan rengekan Jongdae hanya untuk kembali mendapat perhatian Kyungsoo.

"abaikan saja dia Kyungsoo oppa. Jadi bagaimana, apa kau sudah lebih baik? Karena kami harus punya banyak kekuatan untuk bisa bebas dari Youngha" itu adalah ucap ceria Eunha, gadis ini ahli dalam menyemarakkan suasana.

"aku tahu kau sudah punya cukup energi Kyungsoo, biarkan saja dia Kai, dia hanya meminta perhatian lebih darimu aku bersumpah" Yerin memutar bola mata malas melihat bagaimana Kyungsoo terus menempeli Kai seperti permen karet.

"sehari yang lalu kau menangisi Kyungsoo seperti dia sedang sekarat, sekarang ketika dia bangun kau bahkan tidak menyapanya. Cih" Baekhyun mengubah duduknya mendekat pada Kyungsoo, menepuk pundak lelaki itu sebelum kemudian memberi senyum hangat.

Kyungsoo beralih menatap tepat kepada Yerin, gadis itu memalingkan wajah sekarang. Itu jelas terlihat bagaimana kulit putihnya mulai berkerut, kelopak yang sembab serta kebiasaannya bermain dengan kuku saat gelisah. Tanpa sadar Kyungsoo tersenyum, ia memiliki banyak orang disisinya yang peduli, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kyungsoo meyakini dalam hati, bersama maka segala akan menjadi lebih baik, ia akan bisa menemukan Haneul juga menghadapi ayahnya.

"kau tidak ingin memelukku?" itu adalah pertanyaan yang ditujukan Kyungsoo untuk Yerin. Si gadis menatap tangan Kyungsoo sejenak sebelum kemudian menangis tersedu, air mata turun dengan deras dan Kyungsoo memutuskan untuk maju mendekat.

"Oh sayangku" kata si pria sembari memeluk Yerin erat.

"kau benar-benar mengerikan" gadis itu berucap dengan suara lirih.

"aku tahu, aku tidak tahu bagaimana itu terjadi, hanya— aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun, kau tahu itu" Yerin menangguk samar diantara lekuk leher Kyungsoo, menerima setiap tanggapan yang diberikan.

Beberapa saat berlalu dan Baekhyun mulai jengah dengan pemandangan didepan, ia pacar Yerin demi tuhan. Tidak jauh berbeda dengan Kai, alih-alih bersikap malas seperti Baekhyun, pelacur itu berdeham agak keras, ia sadar Yerin berarti penting untuk desaigner itu tapi ini menurutnya sudah cukup.

"tidak perlu berpelukan terlalu lama jika perlu kau tahu" Baekhyun berucap sinis.

"yeah, ada banyak orang disini" Kai menambahi.

"Aw kalian berdua seharusnya tidak terlalu mesra, lihat mereka!" Eunha memberi peringatan, terkikk begitu Kyungsoo dengan kaku melepas Yerin dan kembali pada Kai yang hanya melirik dengan malas.

Yerin merajuk pada Baekhyun, gadis itu bahkan memberi kecup ringan yang pada akhirnya hanya diabaikan oleh sang dokter. Itu adalah pemandangan yang lucu menurut Kai, Yerin adalah gadis yang cantik juga dewasa, ia adalah malaikat penjaga untuk Kyungsoo. Pelacur itu mendapati dirinya tertawa melihat usaha Yerin untuk mendapat perhatian Baekhyun, mereka cocok satu sama lain begitu juga Jongdae dan Eunha.

Berbeda dengan Kyungsoo, alih-alih memperhatikan dua pasang dihadapan, ia lebih memilih menaruh fokus pada pria disamping. Kai begitu cantik dengan tawanya yang lepas seperti ini, Kyungsoo bersumpah dalam hati bahwa suatu saat ia akan membawa Kai melihat dunia luar tanpa ada rasa takut.

"jadi, aku butuh kalian untuk menemukan Haneul, teman-teman" Kyungsoo akhirnya berucap untuk meminta perhatian, bagaimanapun ia tidak bisa tenang jika belum mendengar kabar dari anak semata wayangnya.

"jadi Kyungsoo oppa, um— Haneul itu adalah anakmu? Bagaimana bisa?" Eunha bertanya dengan wajah polos. Desaigner itu tidak tahu bagaimana agar memulai cerita ini, ia tidak keberatan lagi untuk bercerita tentang Jisoo namun akan memakan waktu dan Eunha begitu sulit untuk memahami, otaknya lamban untuk mengolah. Jongdae disamping seperti mengerti keadaan, ia menghela nafas panjang sebelum kemudian memberi kode pada gadisnya untuk diam dan berucap

"yeah, sepertinya ini bukan saatnya untuk mengenang masa lalu. Fokus kita saat ini adalah menemukan si kecil Haneul itu"

"itu benar. Jadi mari kita pikirkan beberapa cara" Bekhyun menengahi, mengabaikan bagaimana wajah imut Eunha berubah menjadi masam.

"aku punya cara" itu adalah Jongdae, bartender tampan itu memberi senyum manis kearah Kyungsoo. Ah, Kyungsoo melupakan satu hal bahwa Jongdae dulunya adalah lulusan universitas ternama Korea, pria ini punya kapasitas otak pintar dan tidak ada yang meragukan.


Kyungsoo merutuk pada diri sendiri, mengapa tidak sejak awal ia mempekerjakan Jongdae untuk perusahaannya, karena sungguh pria ini punya ide gila yang brilian. Bartender itu pandai bidang teknologi, dia bisa meretas data, mengambil alih cctv bahkan menciptakan virus. Sejujurnya Kyungsoo meragukan ide ini, membagi dalam tim dan bekerja masing-masing. Ia masih berpegang teguh pada kesepakatan awal untuk selalu bersama, namun cara ini memang lebih mudah, toh mereka memiliki Baekhyun sebagai dokter jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Semuanya mulai bergerak sesuai rencana, tujuan awal mereka adalah mencari dimana Youngha menyembunyikan Haneul. Kai berjalan dengan Baekhyun, keduanya menuju lokasi dimana Haneul dan Patricia tinggal, mereka akan mengambil hasil cctv dalam beberapa hari terakhir. Kai berpikir Jongdae benar-benar cocok menjadi agen atau mata-mata, pria itu bahkan memiliki beberapa alat canggih yang diakui milik ayahnya. Kacamata yang dipakai Kai adalah salah satunya, itu memiliki layar canggih yang dikendalikan oleh Jongdae dari pusat, sehingga apa yang dilihat oleh Kai akan langsung muncul dilayar Jongdae. Kai tidak berpikir bahwa ada teknologi secanggih ini di Korea, jika saja Jongdae benar-benar meniti kariernya, entah itu dalam bidang bernyanyi atau IT seperti ini, mungkin pria itu tidak menghabiskan hidupnya hanya untuk berdiri dimeja bartender seperti orang bodoh.

Memiliki wajah tampan, otak cerdas, suara apik serta wanita secantik Eunha, apa kurangnya hidup seorang Kim Jongdae?

Kini baik Kai maupun Baekhyun berada dimobil Kyungsoo, keduanya dalam perjalanan menuju dimana Haneul serta Patricia tinggal. Menurut Baekhyun alangkah baiknya mereka tidak melibatkan pasukan Kyungsoo karena tentu akan memancing banyak perhatian, maka mereka bergerak sendiri, berharap dengan ini Haneul bisa ditemukan.

Kai adalah orang yang menyetir, Baekhyun disamping memetakan jalan serta mempersiapkan peralatan penting canggih milik Jongdae. Ada bunyi pesan masuk diponsel Kai dan ia merogoh sakunya untuk mendapatkan benda kotak pintar itu.

From : Designer Cosmic

Jangan terluka, okey?

To: Designer Cosmic

Kau juga, jangan bertindak bodoh, kumohon

From : Designer Cosmic

I will, aku mencintaimu.

To : Designer Cosmic

Aku tahu. Berhati-hatilah.

"perhatikan jalanmu anak bodoh! Lihat dirimu, kau tersenyum sendiri hanya dengan membaca pesan Kyungsoo" Baekhyun berucap dari samping, dokter itu menampilkan sungging tipis pertanda memaklumi.

Kai tertawa, ia melirik Baekhyun sekilas kemudian meletakan kembali ponselnya. Pelacur itu mengucap doa dalam hati untuk keselamatan Haneul serta Kyungsoo. Ia sungguh berharap segalanya menjadi lancar dan kembali seperti sedia kala.


Disisi lain, Kyungsoo dan Eunha berada di dalam kantor Youngha. Ini mengerikan karena kali pertama Kyungsoo kemari setelah sekian lama. Keduanya menunggu perintah dari Jongdae untuk maju, Yerin sedang berada dipusat keamanan kantor, mengambil semua data cctv serta mencari sambungan kabel agar semua sistem cctv masuk kedalam jaringan computer milik Jongdae. Yerin adalah salah satu dari orang yang pernah diberi akses untuk masuk kedalam, wanita ini adalah satu dari orang kepercayaan Youngha dan sejujurnya tidak pernah menjadi ancaman, maka gadis ini dapat masuk dengan mudahnya.

Yerin segera memantau keadaan, wajahnya menampilkan mimik cantik tanpa dosa sehingga pekerja tidak ada yang menaruh curiga. Gadis itu sesekali berucap kealat kecil ditelinga yang menghubungkan aliran komunikasi dengan Jongdae.

"Yerin perhatikan sekitar, cari cctv disana sehingga aku bisa tahu dimana tempat yang tepat kau bisa menancapkan alat itu tanpa terekam" Jongdae memberi perintah.

"kau sungguh bisa melihat semua keadaan lewat kacamata ini? Woah keren!" Yerin berulang kali mengagumi setiap barang milik Jongdae, seharusnya ia bisa kaya raya dengan menjual semua barang canggih ini.

Tanpa banyak bicara Yerin segera bertindak, ia berpura-pura untuk mengambil beberapa berkas serta catatan penting sembari maniknya memindai sekitar ruang. Gadis itu gelisah saat menemukan banyak cctv diberbagai sudut, jika seperti ini ia khawatir tidak ada kesempatan untuknya mengalirkan jaringan data pada Jongdae.

"Yerin, dengar. Aku melihat semua cctvnya, sekarang dengar baik-baik. Kau berjalan kesebelah kanan, disana ada papan dengan label Cosmic besar bukan? berjalanlah kesana dan berusaha untuk terlihat sedang mencari berkas, dibalik papan itu ada satu computer menyala, satu computer itu menyimpan semua data. Kau bisa tancapkan kabelnya disana dan segera sambungkan dengan jaringanku, kau bisa bergerak cepat bukan? Aku bisa melihat cctv tidak merekam daerah itu karena sedang tertutup papan" Yerin mengangguk samar menghadapi perintah Jongdae.

Bukan suatu hal sulit untuk Yerin memanipulasi wajah, ia punya wajah cantik memikat. Tidak akan pekerja yang sadar atau menaruh curiga. Gadis itu dengan mudah berjalan kesebelah kanan, mengambil berkas disana dan bersembunyi dibalik papan. Tangannya gemetar saat mencoba untuk menancapkan alat Jongdae, ia terlalu takut jika berbuat salah. Alat terpasang dan kini si gadis mulai mengklik beberapa perintah di komputer agar semua jaringan keamanan terpasang ke komputer Jongdae. Yerin tahu bahwa pekerja keamanan disini tidak bodoh untuk menyadari komputernya sedang diretas, namun ia tetap berharap dalam hati agar otak Jongdae berjalan lebih cepat dari jaringan data dan Kyungsoo cepat bertindak bersama Eunha untuk mengambil segala hal mencurigakan di kantor Youngha.

Yerin berhasil dan kini tinggal menunggu loading data untuk penyambungan. Gadis itu mengamati sekitar, ia merutuk dalam hati karena waktu lama yang dibutuhkan untuk mencapai angka 100%. Yerin mulai gemetar saat seseorang datang, seorang pria dengan badan besar dan cerutu disebelah kanan. Yerin memandang jijik dan mengkerutkan alis, bagaimana bisa seorang keamanan menggunakan rokok saat ditengah pekerjaan diruang bersih tanpa polusi?

"apa yang kau lakukan disini?" kata si pria dengan garang, maniknya menaruh curiga dan Yerin mulai kehabisan akal untuk bertindak. Tubuh rampingnya berusaha untuk menutup layar dan berharap dalam hati agar pria jelek ini tidak sempat melihat apapun. Begitu maniknya menangkap asap yang keluar dari mulut si pekerja keamanan, sebuah ide muncul dan bersarang dalam otak.

"aku sedang mengambil berkas lama Cosmic, tuan Kyungsoo memintaku untuk mengambil arsip lama, dan hei— aku atasanmu! Bukankah dilarang merokok disini? Buang rokokmu diluar atau aku akan melapor!" tantang Yerin dengan berani, beruntung karena pria itu segera tergagap dan menunduk dalam, meminta maaf dengan sesal sebelum kemudian melangkah keluar. Terkadang Yerin lupa dengan status tingginya dikantor, ia masih menganggap semuanya atasan tanpa sadar bahwa ia bekerja langsung dibawah perintah Kyungsoo.

Berbalik kebelakang dan ia segera mengucap syukur begitu loading menunjukan angka 95%. Si gadis bersiap untuk pergi dan mengambil asal arsip yang ada, menumpuk sisanya dan tersenyum senang begitu mendengar suara Jongdae disebrang memekik girang.

"ASAAA! Aku berhasil mendapat data semua cctv dan komputerku tersambung kejaringan! Yerin, kerja bagus! Sekarang aku bisa meretas data dan memunculkan virus selama Kyungsoo dan Eunha menyelinap masuk ke ruangan Youngha— Ah Yerin, sekarang keluar dari sana, aku akan mengarahkanmu. Kyungsoo, tunggu perintahku untuk masuk dan Eunha, kumohon sayang, jangan mengacau" Yerin terkikik begitu mendengar Jongdae meminta gadisnya untuk tidak mengacau. Eunha masih muda dan kekanakan, Yerin selalu berpikir bahwa pasangan itu menggemaskan. Gadis itu terdiam sejenak ditempat, berpikir bahwa alat ini sungguh hebat, ia bahkan bisa berkomunikasi dengan beberapa orang sekaligus!

"Yerin, apa yang kau pikirkan? Cepat keluar dari sana, ada pintu disebelah kirimu, ambil itu dan ikut arahanku kemudian cepat kembali kemari!" Jongdae kembali memberi perintah, dan Yerin mengangguk mengerti. Gadis itu segera mengikuti arahan Jongdae dan berhasil keluar dari sana.


Alih-alih merasa gelisah, Eunha terus menggerutu disamping Kyungsoo. Keduanya kini berada diarea parkir kantor menunggu perintah dari Jongdae.

"aku tidak percaya dia tidak khawatir padaku dan bahkan memintaku untuk tidak mengacau. Pacar macam apa?!"

"kau yang menyebutnya pacar idaman, kau menyukainya meski selalu ditolak dan sekarang kau berulang kali protes hanya karena dia tidak khawatir, oh tuhan!" Kyungsoo memberi respon untuk semua gerutuan Eunha, gadis itu hanya diam ditempat, kesal karena merasa tidak ada yang membela.

Keduanya membiarkan hening mengambil alih, Eunha sibuk bermain dengan jemarinya, sejujurnya ia merasa gelisah. Gadis itu takut ketahuan, ia melirik Kyungsoo sekilas yang mencengkram setir dengan kuat, dalam hati Eunha menyimpan banyak empati untuk Kyungsoo, pasti berat untuk menjalani hidup seperti ini. Jongdae benar, semuanya benar bahwa ia tidak boleh mengacau, Eunha meyakinkan dalam hati bahwa semua ini harus berhasil.

"kalian berdua Kyungsoo, Eunha. Aku berhasil menguasai cctv kantor, sekarang kalian keluar dari mobil dan ikuti arahanku untuk masuk. Tenang, tidak akan ada yang melihat kalian di cctv karena semuanya dibawah kendaliku, bergeraklah dengan cepat karena jika tidak kita akan ketahuan, mengerti?" Jongdae berbicara dengan lantang, ia seperti bos yang memberi perintah pada anak buahnya dan Kyungsoo mendapati dirinya tidak terbiasa dengan itu.

"apa kau sedang memerintahku sekarang?" Kyungsoo menjawab malas, jika kalian lupa maka saya ingatkan lagi bahwa Kyungsoo adalah pria sombong yang selalu memerintah.

"dengar, aku adalah kapten disini tuan Cosmic. Semua dibawah kendaliku, jadi jangan berani membantah atau kau ku keluarkan dari tim! Sekarang keluar dari sana dan mulai bekerja!" mendengar itu Kyungsoo berdecih, ia malas mendengar Jongdae namun apa daya jika memang semuanya ada dibawah kendali computer canggih milik Jongdae.

"oh dan Kyungsoo dengar satu lagi!"

"apa lagi?!" Designer itu berteriak hampir marah, ia baru saja akan keluar dari mobil namun urung begitu Jongdae berteriak dari sebrang.

"jika kau membiarkan Eunha terluka maka kau akan kubunuh, okey?" mendengar itu Eunha melirik Kyungsoo sejenak yang sedang memberi senyum singkat. Si gadis menahan malu, pipinya semerah tomat saat tidak bisa menahan bahagia, Eunha mencintai Jongdae tentu saja dan semua orang tahu itu.

"kau senang?" tanya Kyungsoo pada Eunha.

"tentu saja, jika anak laki-laki bernama Haneul itu ditemukan, aku akan mentraktirnya makanan enak setiap hari!" si gadis lalu mengedipkan sebelah matanya pada Kyungsoo. Eunha merangkak keluar mobil duluan tak lupa dengan kacamata canggihnya.

Kyungsoo masih diam ditempat, ia sungguh ingin menangis saat itu juga. Pria ini teramat sangat mencintai Haneul, ia bersumpah dalam hati bahwa Youngha akan segera mati ditangannya jika sesuatu yang buruk menimpa anaknya.

"Kyungsoo, kau tidak apa-apa? Mari bekerja" Jongdae berucap lagi begitu menyadari Kyungsoo belum bergerak.

"yeah, mari bekerja"


Baik Kai maupun Baekhyun telah mengikuti setiap arahan Jongdae, mereka menggunakan penutup wajah agar tidak dikenali, memeriksa sekeliling rumah sebisa mungkin tanpa menaruh curiga. Jongdae berpikir masih adanya anak buah Youngha yang berjaga disana, maka bartender itu memutuskan untuk tetap menuntun Kai dan Baekhyun dijalur aman.

Mereka telah menemukan beberapa cctv resmi yang dipasang dibeberapa sudut dijalan, namun anehnya tidak ada cctv yang langsung mengarah kerumah Patricia. Beberapa saat yang lalu keduanya telah meminta salinan cctv dari kepolisian terdekat, namun Baekhyun meyakini bahwa itu hal yang percuma karena tidak ada cctv yang merekam tepat kerumah yang ditargetkan.

"tidak apa-apa, bawa pulang salinannya. Kita bisa memeriksa banyaknya mobil yang berhenti disana dan meretas black box mereka, aku meyakini pasti ada black box yang merekam kejadian. Sekarang kembalilah kalian" Jongdae memberi mandat dan mereka sepakat untuk setuju.

Dalam perjalanan kembali ke mobil, Kai sekali lagi melihat pemandangan rumah itu. Ini adalah tempat tinggal hangat, tempat Haneul tumbuh dengan kasih sayang Patricia. Pelacur itu membuat kepalan tinju dengan tangannya, ia bisa saja menghabisi Youngha jika pria itu bukan ayah Kyungsoo. Baekhyun disamping menepuk pundak si pelacur, memberi senyum manis seakan meyakinkan bahwa Haneul dalam keadaan baik. Begitu Kai tenang dan memutuskan untuk kembali berjalan, maniknya menemukan satu cctv dibalik tiang, itu kecil dan tersembunyi. Kacamata Jongdae memperbesar layar untuk meyakinkan apa yang dilihat dan benar itu adalah sebuah cctv yang mengarah langsung kerumah Patricia. Baekhyun mendongak untuk mengikuti apa yang dilihat Kai, dan maniknya melebar saat melihat benda kecil aktif berkelip merah yang menempel diatas sana.

"tidak salah lagi itu adalah cctv, tunggu, aku akan mencari kira-kira dimana pusatnya. Kalian berdua menyingkir dari sana, carilah tempat bersembunyi" perintah Jongdae.

"baik" Baekhyun segera menarik pergelangan tangan pelacur, mencari tempat dan memantau dari balik semak-semak.

"Kai-ya kau tahu, ini sangat keren! Aku selalu ingin menjadi mata-mata seperti ini" dokter itu berucap.

"aku selalu ingin menjadi super hero" Kai memberi tanggapan, Baekhyun mengkerutkan kening sebelum kemudian berucap

"seperti Avengers?" mendengar itu Kai mengekrutkan kening, itu adalah kata asing untuknya.

"apa itu Avengers?" pertanyaan itu cukup untuk membuat mulut Baekhyun menganga, ia tidak mengerti lagi dijaman apa Kai hidup selama ini.

"kau tidak tahu Avengers?" kali ini Kai menggeleng sebagai respon. Baekhyun dengan prihatin menghela nafas panjang.

"kau harus meminta Kyungsoo untuk mengajari banyak hal tentang dunia luar—"

"aku menemukan dimana pusatnya kawan!" apa yang akan diucap Baekhyun dipotong oleh suara Jongdae dari sebrang.

"dimana itu?" Kai bertanya.

"tapi ini ilegal, akan berbahaya jika kalian hanya berdua" Jongdae memberi kesimpulan, ia meragukan rencana yang satu ini.

"ku pikir tidak ada salahnya memeriksa sedikit" Kai memberi masukan hanya untuk diberi tatapan tajam oleh Baekhyun.

"kalian yakin?" bartender itu bertanya sekali lagi.

"tidak tidak Jongdae, bocah ini bicara asal, abaikan dia. Kami akan pulang sekarang—"

"tidak hyung dengarkan aku, ini bisa jadi satu-satunya cara. Kita hanya akan memeriksa, jika tidak dimungkinkan maka kita kembali, okay?" kali ini pelacur itu memohon untuk persetujuan Baekhyun. Sang dokter memandang wajah Kai sejenak sebelum kemudian menghela nafas panjang dan mengangguk lemah.

"baik, terus ikuti arahan ku dan jangan bertingkah! Sekarang ambil jalan sisi kiri"

Keduanya terus mengikuti arahan Jongdae dengan waspada, Baekhyun terus memegangi ujung kemeja milik Kai, ia tidak ingin sendirian dan selain itu terlalu enggan untuk menghadapi tinju Kyungsoo jika saja Kai hilang dari pandangan.

Beberapa saat berlalu dan dengan alur dari Jongdae mereka berhasil menemukan satu rumah kecil diujung jalan. Itu cukup tersembunyi dan sepi penghuni. Kai melangkah maju perlahan dan Baekhyun mengikuti, dokter itu sempat berpikir bagaimana ada nyali sebesar milik Kai yang dengan berani maju ketika mengetahui bahwa bahaya bisa saja dengan mudah mengintai.

Pelacur itu mengkerutkan alis begitu melihat pintu terbuka sedikit, tanpa menaruh curiga dengan perlahan Kai membuka pintu dan masuk kedalam. Itu adalah ruang kecil dengan beberapa komputer yag dibiarkan menyala, ada kaleng bekas makanan yang baru saja habis dan beberapa botol bekas susu.

Baru saja pria coklat itu hendak menoleh kebelakang untuk memanggil Baekhyun, ia melihat ada orang lain dibelakang Baekhyun dan mencoba memperingati namun terlambat karena pintu rumah tertutup rapat tanpa aba-aba. Kai menjadi panik, ia berusaha menggedor pintu, berteriak dan mengumpat, namun terhenti begitu gendang telinganya menangkap suara Baekhyun yang memohon dari luar. Kai menjadi tak terkendali, ia gelisah dan ketakutan, langkahnya perlahan mundur, peluh membanjiri kening dan nafasnya tak karuan.

"kita mendapat mangsa tuan" Kai membuat kepalan tangan begitu mendengar suara dari belakang, dengan perlahan pelacur itu menolehkan kepalanya hanya untuk mendapati seorang pria dengan pistol ditangan. Kai mengenal pria ini, dia adalah suruhan Youngha.

Sial, ini jebakan!

"apa maumu?!" Kai bertanya tanpa rasa takut, maniknya menantang pria bersenjata dihadapan tanpa rasa gentar.

Alih-alih menjawa pertanyaan Kai, pria aneh dihadapan mengambil ponselnya, ia terlihat menghubungi seseorang. Manik Kai melebar begitu pistol ditodongkan ke arahnya tanpa aba-aba. Kali ini tubuh pelacur itu gemetar melawan pistol, telapaknya berkeringat dan otaknya menolak untuk berpikir. Begitu terdengar suara dari arah ponsel, manik Kai melebar, jantungnya seakan berhenti dan udara disekitar serasa tidak lagi bersisa

"yeah, aku sudah meletakkan bom diruangan Youngha. Kau bisa menyalakannya sekarang"

Mendengar itu Kai terjatuh dari tempatnya, lututnya menabrak lantai dan telapaknya mengepal keras. Ia menangis dan berteriak putus asa pada Jongdae

"JONGDAE, KELUARKAN KYUNGSOO DARI SANA! KELUARKAN MEREKA DARI SANA! ADA BOM DIRUANGAN YOUNGHA, AKU MOHON, KYUNGSOO!" pelacur itu meronta tidak karuan, memberontak dengan kasar.

Kai tidak sadar bahwa kini ia sudah dikelilingi oleh banyak pria, beberapa diantaranya bersenjata dan lainnya membawa peralatan tali. Ia tidak begitu peduli pada apa yang akan terjadi kelak, apa yang ada diotaknya adalah keselamatan Kyungsoo. Kai marah dan ia tidak ingin ditindas, saat itu juga tubuhnya melangkah maju, Kai sendirian dengan tidak imbang melawan banyak pria bersenjata, namun ia sama sekali tidak peduli. Pukulan demi pukulan datang silih berganti, tubuhnya terasa mati akan rasa, pelacur itu tidak lagi mengalah, ia terus memukul dan berontak, tidak sama sekali ada tanda untuk berhenti, Kai terus melempar pukulan, tendangan, erangan, rutukan bahkan tangisan.

Tidak ada yang berhenti sampai saat tubuh pelacur itu layu dilantai dengan darah tumpah ruah.


"Kai-ya? Kai? YA KAI? KAI? KAU MENDENGARKU? KAI?" Jongdae berteriak dengan panik begitu tidak ada jawaban dari Kai, ia mencoba menghubungi Baekhyun namun hasilnya tetap nihil. Hal terakhir yang didengar oleh bartender itu adalah bom yang dipasang diruangan Youngha, ini sama saja dengan bunuh diri, apa mereka hanya akan membakar habis kantor mereka begitu saja?

Meski panik namun Jongdae mencoba untuk mengendalikan diri, kekasihnya juga ada disana demi tuhan. Bartender itu beralih menghubungi Kyungsoo, ia berdoa dalam hati agar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi dan segera mengucap syukur begitu suara Kyungsoo tersengar dari sebrang

"yeah Jongdae"

"Kyungsoo-ya dimana kau?!"

"apa maksudmu dimana, aku sedang berada dikantor Youngha—"

"Keluar dari sana segera Kyungsoo! Ada bom yang dipasang disana, kau dan Eunha harus cepat keluar!"

"Apa?"

"KELUAR DARI SANA BODOH! CEPAT! KYUNGSOO AKU PERINTAHKAN KAU KELUAR DENGAN CEPAT ATAU—"

Jongdae berhenti berbicara begitu jaringan tiba-tiba terputus, bartender itu mendapati lututnya melemas, air mata mengalir dari pelupuk mata dan ia terduduk dilantai sembari meronta. Tidak pernah terfikir dalam otak bahwa segala gerakannya akan terbaca musuh, Youngha adalah lambang kuasa Korea, tidak ada yang menandingi bahkan itu hukum sekalipun.

Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!

.

.

to be continue

.

.

Hai, semoga menikmati

Terimakasih untuk yang telah memberi review, follow dan favorite

Jangan lupa saran dan pendapat selalu diterima💓💓💓

See You!