I'm not in good condition right now.

Tapi udah kudu update karena udah diketik dari kemarin.

Ah, iya. Karena suatu hal aku ganti username. Walaupun aku juga belum kebiasa sih.

By the way, enjoy!

.

.

.

Kritik + saran dibutuhkan.

Bisa tinggalin sarannya di review.

By the way, enjoy!

.

.

.

Artikel: Kim Jongin x Do Kyungsoo, 'pasangan gay' terpopuler saat ini.

Source: Naver

[+7,565, -89] Menikahlah kalian berdua dan bergabunglah pada acara The Return of Superman jika sudah lahir Little Kim nanti.

[+5,872, -78] Bisakah mereka berkencan saja? Mereka memiliki chemistry yang bagus…

[+3,102, -112] Aku menyukai adegan ranjang mereka semalam. Apa mereka benar-benar melakukannya? Aku suka chemistrynya!

[+1,288, -34] Good genes! Good genes! Ayo segera buat Little Kim!

[+881, -13] Apakah web dramanya sudah berakhir? Gila, baru sekarang sebuah web drama menjadi trending di berbagai laman berita.

[+430, -41] Do Kyungsoo, noona mencintaimu!

Source: Nate

[+436, -64] Eww, menjijikkan. Apalagi melihat Do Kyungsoo.

[+309, -52] Ayolah, bagaimana bisa kalian menyukai pasangan tidak normal begini?

[+214, -73] Bukankah mereka pernah dirumorkan berkencan? Aigoo, tak kukira Kim Jongin seperti itu.

[+129, -45] Jadi berita kencan kemarin sebuah media play? Menjijikkan sekali.

[+88, -12] Siapa Do Kyungsoo? Seorang nugu?

[+45, -21] Media play, media play, media play yang menjijikkan.


"Kau sudah membaca artikelnya?" tanya Baekhyun sembari mengganti channel televisi.

"Hmm… Sudah… Seperti biasa… Nate selalu ditaburi garam…" Jongin menghela nafas. Dia memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya. Ponsel yang semula ia pegang dilemparkan sembarang arah—hingga nyaris terjatuh.

"Lalu?"

"Entah… Aku tidak bisa membayangkan kalau Kyungsoo Hyung membaca komentar buruk tentang dirinya."

Baekhyun mendecakkan lidahnya, "Hanya beberapa orang, Jongin-ah."

"Tapi dia sensitif dan pemarah sekarang," dia membuka matanya dan menatap Baekhyun, "bukankah sama dengan dirimu?"

"No, I am sassy. Kau harus tahu perbedaannya."

Jongin memutar bola matanya dan kembali bergulat dengan pikirannya. Dia membayangkan bagaimana jika Kyungsoo membaca komentar-komentar tentang dirinya. Bisa saja nanti Kyungsoo berdiam diri seharian. Ayolah, Jongin mengenal lelaki itu. Dia mengenal Kyungsoo yang sangat sensitif dengan ucapan-ucapan orang lain. Apalagi dengan sifatnya yang sebenarnya pemalu tersebut.

Dia sedang menunggu Kyungsoo yang belum pulang dari pekerjaannya sore itu. Jika bisa jujur, Jongin ingin melarang Kyungsoo bekerja. Apalagi akhir-akhir ini Kyungsoo sering berwajah pucat dan lemas—tentu membuat Jongin semakin tidak tega untuk membiarkannya pergi.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Jongin?"

Jongin terjaga dari lamunannya, "Sejujurnya aku ingin mengumumkan hubunganku, Hyung. Lagipula pendapat orang-orang tidak terlalu buruk."

"Bagaimana dengan Kyungsoo?"

"Itu yang aku pikirkan sekarang," dia menghadap ke arah Baekhyun yang sekarang berwajah murka karena tokoh kesayangannya dalam drama dibully habis-habisan, "dia menolak rencana tersebut. Dia mengatakan bahwa karierku akan terancam jika aku mengumumkannya—apalagi dengan statusku sekarang."

"Sebenarnya, alasan Kyungsoo lumayan benar. Tapi jika dilihat-lihat lagi, setelah drama itu keluar, banyak orang yang menawarkan pekerjaan untukmu. Selain itu, tidak sedikit yang mendukung hubungan kalian berdua."

"See? Aku berharap Kyungsoo Hyung berhenti mengkhawatirkan aku dan memikirkan dirinya sendiri saja."

"Bicarakan hal ini dengan agensi, Jongin."

Jongin mengangguk, "Agensi sudah memperbolehkan itu, Hyung. Mereka menunggu keputusanku untuk mengumumkan semuanya. Begitu juga dengan agensi Kyungsoo Hyung. Masalahnya hanyalah pada Kyungsoo Hyung sendiri."

"Kalau begitu kau hanya perlu meyakinkan Kyungsoo. Atau… buat saja sebuah kejutan. Dia tidak akan bisa menghindari hal itu."

"Kalau dia marah denganku?"

"Apa kau yakin dia akan marah dengan jangka waktu lama?" Jongin menggeleng, "Pikirkan saja. Aku yakin dia akan menghargai semua keputusanmu." Ucap Baekhyun yang sedikit membantu keraguan Jongin saat ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah teriakan, "Kami pulang!"

Jongin dan Baekhyun yang sekarang sedang menonton salah satu music shows itu pun menoleh ke sumber suara. Sedikit gerutu dari Baekhyun yang mengatakan bahwa suara tunangannya itu sangat nyaring dan membuatnya terkejut. Mereka berdua melihat Kyungsoo, yang berjalan dengan cepat—atau bisa dibilang cenderung berlari kecil—menuju kamarnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras hingga membuat ketiganya terkejut.

"Ada apa dengannya?" tanya Baekhyun khawatir.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Jongin, bisakah kau mengecek Kyungsoo? Sepanjang jalan dia mengerutkan wajahnya. Tapi jujur, aku tidak berani bertanya hal yang macam-macam pada dia."

Dengan sebuah anggukan, Jongin menyusul Kyungsoo ke kamar mereka. Dia sempat merasa ragu, karena takut Kyungsoo akan berteriak marah padanya. Namun karena Jongin merasa khawatir, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Dia mendapati Kyungsoo yang duduk di atas ranjang dengan kaki bersila dan bibir yang mengerucut.

Ketika melihat Jongin yang masuk ke dalam kamar, Kyungsoo berucap dengan nada menyindir, "Siapa Do Kyungsoo? Seorang nugu?"

Mendengar ucapan itu, Jongin terkekeh, "Aigoo… Do Kyungsoo sedang kesal, hm?"

Kyungsoo mengangguk cepat, "Penggemarmu! Menyebalkan sekali."

"Sorry. Aku tidak bisa berubat apa-apa untuk hal itu." Jawab Jongin dengan wajah memelas.

Kyungsoo masih mengerucutkan bibirnya. Meskipun Jongin sudah duduk di sampingnya dan mengusap-usap rambutnya untuk menenangkan, tetap saja, Kyungsoo merasa kesal. Dia merasa penggemar Jongin terlalu angkuh, disaat sebenarnya Jongin benar-benar berkencan dengannya. Apalagi ada yang mengatakan rumor kencannya hanyalah media play, membuat Kyungsoo ingin menyadarkan mereka semua bahwa idola mereka benar-benar seorang gay—dan gay karena dirinya.

"Jika kau bertemu dengan mereka, apa yang akan kau lakukan?"

Kyungsoo menoleh ke arah Jongin, "Aku? Aku akan menciummu di depan mereka!"

Mendengar jawaban itu, Jongin tertawa terbahak-bahak. Dia merasa keraguan dan kecemasannya beberapa saat yang lalu menguap begitu saja. Lelaki yang duduk di sampingnya itu tidak bersedih maupun berpikiran buruk. Ternyata justru sebaliknya, Kyungsoo merasa kesal dan ingin membuat orang-orang yang tidak mendukung hubungan mereka menyesal.

Memang, kebanyakan orang yang meninggalkan komentar buruk di artikel-artikel itu adalah penggemar Jongin. Mayoritas dari mereka tidak bisa menerima kenyataan dimana Jongin sudah berubah menjadi seorang gay—walaupun mereka tidak tahu jika Jongin sudah berubah menjadi gay. Bukan benar-benar gay, karena dia tidak bisa membayangkan untuk berhubungan dengan lelaki lain kecuali dengan Kyungsoo.

"Soo?"

Kyungsoo menoleh dan mendelik ke arah Jongin, "Hm? Apa?" tanya ketus.

Jongin terkikik dengan ulah kekasihnya tersebut, "Apa kau tidak ingin mengungkap hubungan kita ke media ataupun fans?" tanyanya.

Wajah Kyungsoo berubah lesu, "Aku menginkannya, Jongin. Sangat ingin. Apalagi setelah membaca komentar-komentar itu. Tapi… aku rasa belum waktunya."

"Eh? Mengapa begitu?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa jika kita belum benar-benar diterima. Apalagi masih banyak komentar buruk seperti itu—"

"Tidak semua, Soo. Banyak yang mendukung kita saat ini."

"Kariermu, Jongin. Aku tidak ingin membuat kariermu berakhir begitu saja."

Jongin menghela nafasnya. Apa yang menjadi dugaannya berakhir sebuah kebenaran. Kyungsoo tentu saja masih memikirkan bagaimana kariernya. Dia tahu jika Kyungsoo memahami bahwa menjadi seorang aktor adalah salah satu impian terbesarnya, tapi tetap saja, saat ini, prioritas Jongin bukan hanya menjadi seorang aktor. Dia juga memikirkan bagaimana kehidupannya jika sudah bereluarga nanti, apalagi setelah dia mendapatkan sebuah tanggung jawab besar—sebagai seorang calon ayah.

Pada akhirnya, Jongin menuruti apa yang dikatakan oleh Baekhyun. Entah dia merasa itu merupakan keputusan yang tepat atau bukan, tapi paling tidak dia sudah merencakan apa yang akan ia lakukan. Dia tahu resikonya, yang memungkinkan dirinya untuk mempertaruhkan kariernya. Tapi, dengan apa yang ia punya sekarang sudah membuatnya sedikit tenang. Lagipula, dia yakin kariernya akan baik-baik saja; dan akan lebih baik untuk ke depannya.

.

.

.

"Sudah siap?" tanya Jongin sembari menonton televisi di ruang tengah.

"Sebentar lagi, Jongin!" seru Kyungsoo.

Jongin mengecek jam tangannya. Sudah lebih dari 15 menit dia menunggu Kyungsoo untuk berganti pakaian. Mereka akan pergi keluar rumah untuk membeli makan malam. Kali ini Jongin yang memaksa Kyungsoo untuk makan di luar saja, dan Kyungsoo, dengan semangat mengiyakan ajakan Jongin. Tapi sudah cukup lama Jongin menunggu Kyungsoo yang—katanya—sedang mengganti pakaiannya.

Dengan rasa tidak sabar, Jongin berdiri dari tempat duduknya dan bergegas kembali ke kamar untuk mengecek apa Kyungsoo sudah hampir selesai atau belum. Setelah membuka pintu, Jongin mendapati kekasihnya itu sedang berkacak pinggang di depan almari pakaiannya dan meneliti baju apa yang harus dikenakan.

"Kita hanya pergi untuk makan malam biasa, Soo. Tidak untuk berkencan." Goda Jongin.

Kyungsoo mendelik, "Bukan itu, Jongin. Banyak dari celanaku sudah tidak cukup untuk kupakai." Ucapnya dengan wajah kesal.

"Pakai yang lain saja. Punyaku mungkin?"

"Terlalu panjang, Jongin…" rengek Kyungsoo.

"Lipat bagian bawahnya."

Dengan sedikit dengusan, Kyungsoo mengambil salah satu celana panjang milik Jongin—dan itu membuat Jongin terkekeh karena menurutnya Kyungsoo sangat lucu. Kemudian, lelaki bermata bulat tersebut pergi ke dalam kamar mandi dan agaknya mengejutkan Jongin sendiri.

"Untuk apa kau masuk ke dalam kamar mandi?" goda Jongin lagi.

"Berganti pakaian!"

"Kau masih merasa malu?" tanya Jongin yang sekarang menyandarkan dirinya di samping pintu kamar mandi.

Pintu itu terbuka dan Kyungsoo muncul dari sana, "Maksudnya?"

"Aku sudah melihatmu tanpa pakaian sama sekali, tapi kau masih saja masuk ke kamar mandi hanya untuk mengganti celana."

Mendengar ucapan itu, Kyungsoo merengek, "Jongin…"

Jongin terkekeh, "Maaf, maaf. Ayo, kita harus pergi sekarang. Aku lapar."

"Sebentar," Kyungsoo mengambil sesuatu dan menyodorkannya pada Jongin, "jangan lupa masker dan topinya."

Lelaki berkulit tanned itu mengerutkan alisnya, "Kau masih memerlukannya?"

Kyungsoo mengangguk, "Tentu!"

"Baiklah…" Jongin mengambil barang-barang yang disodorkan oleh Kyungsoo.

Keluar dari gedung apartment, Kyungsoo sudah siap dengan segala penyamarannya. Bahkan dia mengenakan kacamata hanya untuk menutupi matanya—karena dia mengatakan jika matanyalah yang paling menonjol dibandingkan bagian tubuhnya yang lain. Sedangkan Jongin sendiri benar-benar polos. Sangat amat polos hingga tidak mengenakan make up sama sekali karena dia mengganggap itu tidak begitu penting. Lagipula, wajah Jongin yang ber-make up dan tidak memiliki perbedaan banyak. Hanya membedakan mata, yang menurutnya, ketika dia tidak ber-make up, dia akan menemui Jongin yang mengantuk.

Di dalam mobil, Jongin mendengar Kyungsoo yang bergumam—atau bahkan menggeurutu. Dia mengeluhkan bagaimana badannya sudah melebar, bahkan sekarang dia menyebutkan bahwa dia sudah membengkak. Walaupun Jongin bersikeras bahwa Kyungsoo tetap sama, tapi pada akhirnya, Jongin hanya bisa diam karena kekasihnya itu menyatakan sebuah fakta dimana lima kilogram baru sudah menumpuk di badannya.

"Sebentar, aku harus mencari sesuatu," Jongin mencari-cari sesuatu—alasan sebenarnya—di dalam mobilnya, "bisakah kau masuk kesana lebih dulu? Aku akan menyusul nanti." Ucapnya pada Kyungsoo yang sudah siap dengan mode ninjanya.

"Baiklah. Aku pikir itu lebih baik. Karena dengan begitu, kita terlihat tidak datang bersamaan."

Jongin mengangguk dan membiarkan Kyungsoo keluar. Jongin sudah memperkirakan Kyungsoo memilih tempat yang sulit dicari oleh paparazzi. Lagipula tempat makan yang mereka tuju adalah tempat makan yang biasa Jongin kunjungi. Hanya saja, untuk datang bersama Kyungsoo adalah kali pertama mereka lakukan.

Setelah sekitar sepuluh menit hanya duduk di dalam mobil tanpa melakukan apapun, Jongin pun keluar dari mobil. Berbeda dengan Kyungsoo yang menutup wajahnya dengan rapat, Jongin justru sebaliknya. Dia tidak mengenakan apapun, hanya sebuah topi yang itupun dibalik dan membuat poni yang biasa menutupi wajahnya tidak terlihat.

Jongin tersenyum ketika memasuki restoran tersebut. Beberapa pelayan disana memang sudah terbiasa dengan kedatangannya, namun orang-orang yang ada disana tentu masih takjub. Jongin sendiri sempat menyapa pelayan-pelayan itu, bahkan sempat bertanya pada salah satu di antara mereka dimana lelaki bermasker—yang baru saja masuk—berada.

"Jongin—"

Kyungsoo tidak meneruskan kata-katanya ketika Jongin duduk di hadapannya tanpa mengenakan penutup wajah apapun. Bahkan sekarang, topi yang ia kenakan sebelumnya sudah dilepas. Dengan santai, Jongin langsung membuka dan membaca menu yang memang ada di hadapannya.

"Kau ingin makan apa, Soo?" tanya Jongin dengan mata yang masih meneliti menu tersebut.

"Jongin, kau tidak memakai maskermu—"

"Untuk apa?" Jongin meletakkan menunya dan menatap Kyungsoo dengan alis yang bertumbuk satu sama lain, "Aku sudah sering datang kemari untuk makan. Banyak pelayan disini yang sudah terbiasa dengan kedatanganku."

"Tapi kau datang bersamaku!" seru Kyungsoo yang terdengar seperti sebuah bisikan.

Jongin terkekeh, "Apa bedanya? Aigoo, lepas maskernya. Memangnya kau akan makan dengan mengenakan masker begitu?" godanya.

Kyungsoo melepas penutup wajahnya tersebut, "Kau harus mengenakannya jika diluar. Apa kau tidak takut jika paparazzi menangkap gambar kita?"

"Tidak. Untuk apa aku takut? Soo, kau malu berkencan denganku?"

"Bukan begitu maksudku! Aku hanya—"

"Mengkhawatirkan aku? Hey, kau hanya periu memikirkan dirimu dan our little Kim." Goda Jongin lagi.

"Jongin-ah…"

Jongin hanya bisa terkekeh ketika mendengar rengekan dari Kyungsoo. Seperti biasa, Kyungsoo tidak bisa mengalahkan perdebatan dengan Jongin. Baginya memang hanya Jongin yang tahu apa yang terbaik untuknya saat ini. Walaupun berkali-kali dia memikirkan bagaimana Jongin nanti, tapi berkali-kali juga Jongin meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.

"Bagaimana jika ada paparazzi yang menangkap gambar kita nanti?" tanya Kyungsoo yang langsung menancapkan garpunya ketika makanan datang.

"Hmm… mereka akan menyebarkannya ke media? Tapi pasti agensi akan menutupinya, Soo."

"Tapi bagaimana pengunjung lain yang melihat kedatangan kita?"

"Biarkan itu menjadi spekulasi diantara mereka. Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Apa kau lupa jika kau tidak boleh stress, hm?"

Kyungsoo mengangguk. Dia ingat, beberapa hari yang lalu dia dan Jongin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya dan little Kim yang akhir-akhir ini menjadi obsesi kekasihnya itu. Dokter mengatakan jika Kyungsoo terlalu stress, dan membuat dirinya pucat serta lemas. Setelah mendengar penjelasan dokter tersebut, Kyungsoo menerima ocehan dari Jongin tanpa henti. Selama perjalanan pulang pun Jongin tidak menghentikan ucapannya; bahkan mungkin malah terdengar agak emosi karena nada bicaranya yang cenderung naik.

Jongin memang jarang sekali marah padanya; bagi Kyungsoo begitu. Karena selama ini Jongin selalu sabar menghadapinya, bahkan memanjakannya walaupun hanya untuk menuruti keinginannya yang sepele. Tapi Jongin yang marah, baginya adalah Jongin yang jarang ditemui dan Jongin yang menyeramkan. Pernah suatu hari dia melihat Jongin membentak salah satu orang di agensinya karena menerima jadwal tanpa persetujuan Jongin dan Yixing terlebih dulu. Dan ketika Kyungsoo melihat hal tersebut, Kyungsoo menyadari bahwa dibalik kesabaran Jongin ada emosi yang bersembunyi.

"Jangan mengenakan masker dan topimu." Ucap Jongin ketika mereka sudah menyelesaikan dan membayar makanannya.

"Tapi, Jongin—"

"Kemarikan."

Jongin mengambil masker dan topi yang ada di tangan Kyungsoo. Dia hanya membiarkan Kyungsoo memakai kacamatanya. Karena bagi Jongin, Kyungsoo yang memakai kacamata adalah Kyungsoo yang sangat adorable. Bahkan lebih lucu daripada biasanya.

"Ayo pulang."

Jongin menarik tangan Kyungsoo ke genggamannya. Dia berjalan keluar dari restoran tersebut dan melewati banyak meja yang sekarang cukup penuh. Kyungsoo sendiri hanya berjalan mengikuti Jongin yang sudah menariknya. Dia juga melihat Jongin yang tersenyum puas layaknya baru memenangkan sesuatu—dan itu membuat Kyungsoo tidak mengerti. Dia memang mengetahui keinginan Jongin untuk mengumumkan hubungan mereka pada publik, tapi bukan dengan cara yang seperti ini.

Beberapa orang yang ada disana saling berbisik ketika melihat kejadian tersebut. Bahkan ada diantaranya mengarahkan ponsel pada mereka. Kyungsoo merasa tidak nyaman, tentu. Apalagi dengan tatapan menghujat dari orang-orang itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Jongin menginginkannya. Dia juga takut dengan reaksi orang-orang tersebut. Dia bisa membayangkan bagaimana murkanya fans Jongin yang sekarang sudah menjamur dimana-mana.

Kyungsoo merasakan genggaman Jongin yang tiba-tiba menjadi erat. Dia menatap Jongin, dan mendapati lelaki itu tersenyum padanya.

"Tenang saja. Kau bersamaku. Mereka tidak akan melakukan apa-apa padamu." Ucap Jongin seakan mengetahui apa yang ada di dalam otak Kyungsoo saat itu.

.

.

.

Yixing menyodorkan beberapa lembar kertas pada artis yang sekarang ditanganinya, Jongin. Sejak pagi hari, ponselnya tidak berhenti berdering. Agensi meminta dirinya untuk segera menjemput Jongin dan membawanya ke kantor. Yixing menghela nafasnya, dan menepuk pundak Jongin beberapa kali.

"Jongin, bukan begini caranya." Ucap Yixing.

"Hyung, aku tahu. Tapi hanya dengan begini Kyungsoo bisa menyetujui rencanaku."

Yixing menggelengkan kepalanya, "Jangan hanya karena agensi sudah menyetujui hubungan kalian, kau harus mengumumkan secara sepihak. Kau harus berbicara dulu pada kami kapan perkiraan waktunya kapan."

"Maaf, Hyung. Aku tidak bermaksud membuatmu repot."

"Tidak apa. Sudah menjadi resiko pekerjaanku, Jongin."

Jongin tersenyum kecil dan meneliti lembaran-lembaran kertas tersebut. Dia melihat gambar dimana dirinya menggandeng tangan Kyungsoo keluar dari restoran semalam. Jongin mulai melihat perubahan badan Kyungsoo yang sudah mulai berisi, dan itu membuat dirinya semakin gemas.

"Kalian sangat cocok, jujur saja." ucap Yixing yang ikut melihat foto-foto itu.

"Benarkah?" Yixing mengangguk, "Tak kukira aku menjadi gay karena dia."

"Eh? Kau dulu bukan seorang gay?"

"Bukan, Hyung. Aku dulu pernah berkencan dengan Seulgi—"

Yixing mendelik ke arahnya, "Kang Seulgi?" Jongin mengangguk, "Bagaimana bisa dia berkencan denganmu—I mean dia sangat cantik…"

"Hyung! Kau berkata aku jelek, begitu?"

"Aku tidak mengatakannya. Kau menyimpulkan hal itu sendiri."

"Sialan."

Jongin mendelik ke arah Yixing sebelum mendaratkan matanya pada foto-foto itu lagi. Dia mendapati salah satu foto Kyungsoo sedang menatap tepat ke arah kamera. Jongin mengerutkan alisnya, dan menyadari jika Kyungsoo tahu ada kamera yang sedang mengintai mereka. Tapi Kyungsoo tidak membahasnya sama sekali, menandakan bahwa dia tidak peduli dengan kamera-kamera pengintai tersebut.

Dia tertawa kecil. Berpikir bahwa Kyungsoo sudah mulai terpengaruh dengan segala macam bujukannya selama ini. Bujukannya agar tidak peduli dengan omongan orang di sekitarnya, dan bujukan agar mereka bisa mengumumkan hubungan di depan fans dan media. Padahal, jika dingat-ingat lagi, Jongin sebelumnya bukan seorang gay. Jadi semuanya terasa berbalik, karena sekarang, Jonginlah yang bersikeras untuk mengumumkan semuanya.

"Kenapa kau ingin mengumumkan hubunganmu, Jongin?" tanya Yixing.

"Aku? Hmm… entah. Aku juga tidak mengerti mengapa."

"Lalu, mengapa kau memaksa Kyungsoo hingga seperti ini?"

Jongin meletakkan foto-foto yang ia pegang ke atas meja, "Hyung, aku ingin melindunginya. Lagipula ini berawal dari kesalahanku. Bayangkan saja, beberapa bulan lagi, dia akan berubah menjadi paus biru. Bukankah menjadi hal yang aneh kalau dia berjuang sendirian? Aku harus bertanggung jawab, Hyung."

"Aku akan memberitahu Kyungsoo."

"EH? Apa?"

"Kau menyebutnya dengan sebutan paus biru!"

Jongin tergagap ketika menyadari apa yang ia ucapkan sebelumnya, "Jangan Hyung! Aku bisa dibunuh Kyungsoo nanti!"

Yixing memicingkan matanya, "Apa kau menyebutnya dia paus biru ketika berkumpul dengan Chanyeol dan Bihun—"

"Sehun, Hyung. Astaga—"

"Nah, Sehun—aku ingat namanya Bihun. Bukannya kalian sering berkumpul bersama?"

Jongin mengangguk, "Mereka menjadi saudara seperjuanganku sekarang. Kami menjadi bulan-bulanan pasangan kami—"

"Pengecut."

"YA! Bayangkan saja jika kau berada di posisiku, Hyung! Aku seperti harus berpikir di setiap kata yang akan aku ucapkan karena takut akan menyinggung dia—"

"NAH! Lalu bagaimana bisa kau menyebut dia sebagai paus biru?"

"Hei, jangan kau beritahu Kyungsoo, Hyung. Dia akan mendiamkanku jika kau membocorkannya."

"Baiklah. Aku akan melupakan hal itu—" Yixing mengambil tablet PCnya dan menunjukkan sesuatu pada Jongin, "Oh! Dua minggu lagi kau harus pergi ke Osaka selama tiga hariuntuk shooting CF dan video clip milik duo seriosa itu."

"Dua minggu lagi? Dua minggu lagi Kyungsoo Hyung akan melaksanakan fan meeting, Hyung. Aku tidak tega jika harus meninggalkannya sendirian."

"Tapi jadwalmu sudah disusun, Jongin."

Jongin mendengus. Dia masih ingat bagaimana Kyungsoo mengatakan bahwa dua minggu lagi dia harus melaksanakan fan meeting sebelum dia melakukan hiatus. Jongin tentu tahu, bagaimana repotnya melakukan persiapan fan meeting. Apalagi Kyungsoo baru saja acting pada drama dimana dia harus menyanyi—bisa dipastikan bahwa pada saat fan meeting nanti, dia harus melakukannya.

Sejujurnya, Jongin tidak tega jika harus meninggalkan Kyungsoo sendiri. Kyungsoo sendiri sangat bergantung pada kekasihnya. Lagipula, Kyungsoo tidak bisa bergantung sepenuhnya pada Chanyeol karena manajernya itu juga menghadapi Baekhyun yang sekarang menjelma menjadi singa tidur. Rencananya, Jongin ingin menemani kemanapun Kyungsoo pergi, tapi jika begini, dia tidak bisa melakukan apapun; atau mungkin mengusahakan hal yang lain.

"Hyung, apa tidak bisa diatur ulang?"

"Akan aku usahakan Jongin. Memangnya Kyungsoo benar-benar tidak bisa ditinggalkan?"

"Aku yang tidak tega, Hyung."

Yixing memicingkan matanya, "Tak kukira kau peduli dengannya hingga seperti ini—"

Belum selesai Yixing berucap, ponsel Jongin berbunyi. Kyungsoo.

"Iya, Soo?" ucap Jongin dengan senyum bodohnya.

Yixing hanya bisa melirik artisnya itu dengan tatapan bosan. Seperti biasanya, dia akan menjadi orang ketiga jika Jongin sudah menelepon—atau ditelepon—Kyungsoo. Terkadang, Yixing merasa geli mendengar apa yang mereka bicarakan—karena semua yang mereka bicarakan tidak penting sama sekali. Bahkan terkadang, selama setengah jam menelepon, Jongin hanya berusaha menawar makanan apa yang Kyungsoo inginkan. Benar-benar childish, begitulah.

"Kyungsoo-ya!" Yixing mendekatkan bibirnya pada ponsel yang menempel di telinga Jongin, "Tadi Jongin memanggilmu dengan sebutan paus biru!"

Dan beberapa detik kemudian, Yixing mendengar ucapan, 'aku tidak bermaksud begitu, Baby—maafkan aku' dari bibir Jongin disertai dengan wajah yang panik. Yixing won the battle this time.

.

.

.

"Kau masih marah padaku?" ucap Jongin yang menghadapkan badannya pada Kyungsoo.

"Hm."

"Yixing Hyung berbohong, Soo—"

"Tidak mungkin!" Kyungsoo mendelik ke arah Jongin yang sekarang menyangga kepalanya dengan tangan kirinya tersebut, "Yixing Hyung terlalu jujur untuk berbohong. Mengaku saja, kau memanggilku dengan sebutan paus biru, bukan?"

Jongin bergerak dan mendesak ke arah Kyungsoo. Dia melingkarkan lengan kanannya di pinggang Kyungsoo dan menyusupkan wajahnya pada celah antara leher serta pundak kekasihnya tersebut. Clingy Jongin, of course. Memang, akhir-akhir ini Jongin akan menggunakan jurus itu jika Kyungsoo sedang marah atau merajuk. Karena dia tahu, Kyungsoo tidak bisa menahan amarahnya dengan jangka waktu yang lama.

"Maafkan aku… aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan seperti itu lagi. Aku berjanji." Gumam Jongin dengan suara yang tidak jelas.

Kyungsoo menghela nafasnya dan memainkan jari-jemari Jongin yang mendarat di pinggangnya itu, "Menyebalkan. Kau yang membuatku tumbuh besar begini."

"My sperm."

"Hish! Jongin!" Kyungsoo menepuk tangan lelaki itu dengan cukup keras, "Bisa-bisanya kau berkata begitu!"

Jongin menatap mata Kyungsoo yang mendelik itu, "Tapi aku benar—by the way, kenapa perutmu belum besar—"

"Kau ingin aku cepat-cepat berubah menjadi paus biru? Begitu?"

Menyadari apa yang baru saja ia ucapkan, Jongin tergagap, "Bu-bukan begitu, maksudku—ayolah…" ucapnya dengan nada menyerah.

Kyungsoo terkikik, "Sangat menyenangkan melihat kau memelas begini."

"Dan kau menyukainya?"

"Sangat." Ucap Kyungsoo dengan anggukannya.

Malam itu Jongin pulang lebih awal. Pekerjaannya sudah ia selesaikan lebih cepat dengan alasan ia mengantuk dan lelah. Padahal itu semua hanyalah bualan. Dia ingin melakukan apa yang ia lakukan sekarang; cuddling.

Ingin Jongin membahas semua rencananya, tapi dia sudah menduga jika Kyungsoo akan menolak semuanya. Sebenarnya Jongin tahu jika kekasihnya itu mulai tidak peduli dengan ucapan orang-orang, tapi tetap saja, untuk mengumumkan hubungan mereka di depan publik bukan perkara mudah. Sesungguhnya Jongin tidak mengerti, situasi saat ini selayaknya terbagi. Antara Kyungsoo yang belum siap, atau Jongin yang diburu waktu.

"Ah, Soo."

"Hmm?"

"Pada saat kau melakukan fan meeting nanti… aku tidak bisa menemanimu. Secara tiba-tiba aku ada jadwal pada hari itu."

Kyungsoo menatap Jongin lekat-lekat dengan alis yang meringsut dan bibir yang mengerucut. Terlihat bagaimana ada raut kekecewaan disana. Jongin sendiri membalas tatapan itu dengan ragu—tahu jika Kyungsoo akan marah atau mungkin sekadar mengungkapkan rasa kecewanya.

"Sorry." Ucap Jongin lagi.

Dia sudah berusaha untuk hati-hati. Memilih kata-kata yang tepat agar kekasihnya itu tidak merajuk padanya. Namun sepertinya, usahanya berujung gagal. Terlihat bagaimana Kyungsoo yang tidak bereaksi dengan ucapannya baru saja—atau mungkin Kyungsoo masih berpikir harus menanggapinya seperti apa. Karena, seperti yang Jongin tahu, dia sudah berjanji untuk mengantarkan kemana pun—bahkan menjemput—Kyungsoo pada fanmeeting nanti.

"Kau marah padaku?" tanya Jongin.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak marah padamu. Hanya saja aku merasa kecewa."

"I know. Aku memaklumi itu. Tapi—"

"Sudah menjadi resiko. Aku tahu itu."

Mereka berdua terdiam—dengan tatapan mata yang tidak beralih. Tapi beberapa detik kemudian, Jongin mendengar sebuah helaan nafas disertai badan yang bergerak mendekat—lebih tepatnya—meringkuk ke arahnya. Ketika Jongin mengecek apa yang dilakukan kekasihnya, dia mendapati mata itu sudah terpejam.

Crap. Batin Jongin.

"Kau mengantuk?" tanyanya dengan tangan yang mengusap rambut Kyungsoo yang bagi Jongin terasa fluffy.

Kyungsoo menggeleng, "Tidak."

"Lalu?"

Lelaki bermata bulat itu membuka mata dan mendongakkan kepalanya, "Aku… aku hanya berpikir."

"Tentang apa?"

"Tentang diriku sendiri. Aku bertanya mengapa aku sangat bergantung padamu. Am I that clingy? Apa aku merepotkan?"

"Jika dikatakan merepotkan, kau sangat merepotkan," Jongin mendapati wajah Kyungsoo berubah memelas dan dia terkekeh, "tapi asal kau tahu, itu sudah menjadi kewajibanku. Karena aku yang membuatmu begini."

"Aku akan mengubahnya sedikit demi sedikit—"

"No! I mean—kau tidak melakukan kesalahan. Tenang saja."

Kyungsoo terdiam. Dia hanya mengangguk dan kemudian mendaratkan hidungnya di dada Jongin. Seperti biasanya, dia menghidup bau parfum yang benar-benar melekat di badan Jongin. Jika sedang merasa insecure begini, entah mengapa, aroma badan Jongin sangat menenangkan. Bukan hanya itu, disaat dia gugup ataupun gelisah, hanya dengan menghirup aroma parfum Jongin, dia akan merasa tenang. Bukan aroma parfum, tapi aroma parfum yang sudah bercampur dengan keringat Jongin. Jadi satu-satunya jalan adalah mengenduskan hidungnya begitu. Terdengar creepy, tapi mau bagaimana lagi.

"Jongin-ah."

"Hm?"

"Anak kita nanti… kau menginginkan dia perempuan, atau laki-laki?"

Jongin terkekeh dengan pertanyaan Kyungsoo yang secara tiba-tiba mencuat entah darimana asalnya itu, "Sejujurnya… aku menginginkan dia lahir sebagai laki-laki. Tapi—"

"Why?" Kyungsoo lagi-lagi mendelikkan mata lebarnya pada Jongin.

"Tapi—"

"Bukankah lucu jika anak kita perempuan? Aku ingin mendandaninya—bayangkan saja jika dia memakai rok berwarna kuning dan berlarian di rumah?"

"Dengarkan aku terlebih dulu," Jongin kemudian menggenggam pipi Kyungsoo hingga bibir itu benar-benar mengerucut, "kau harus diam. Kalau tidak aku akan menciummu," dia terkikik karena wajah Kyungsoo berubah kesal, "Soo, aku tidak mempermasalahkan bagaimana dia terlahir nanti—entah dia seorang perempuan atau laki-laki. Yang jelas, aku ingin dia terlahir sehat, dan kau juga."

Kyungsoo berucap—setelah Jongin melepas genggaman tangannya, "Apa aku terlalu egois?"

"Tidak."

"Baiklah," dia menggerakkan tangannya di atas perutnya yang masih rata itu, "aku tidak mempermasalahkan juga dia terlahir perempuan atau laki-laki. Tapi, jika dia terlahir laki-laki, aku ingin dia mirip denganmu. Tapi jika dia terlahir perempuan, aku ingin dia mirip denganku."

"Hei! Kenapa begitu?"

Kyungsoo terkikik dengan nada bicara Jongin yang tiba-tiba meninggi, "Karena dia akan cantik jika mirip denganku, dan akan tampan jika mirip denganmu. Bukankah menyeramkan jika dia perempuan tapi berwajah sepertimu?"

"Do Kyungsoo…"

Kyungsoo terkikik sembari memainkan pipi Jongin—menariknya berulang kali lebih tepatnya. Jongin sendiri lebih memperhatikan bagaimana tawa Kyungsoo mengembang di wajahnya. Pipi yang gemuk itu mengembang dua kali lipat, barisan gigi yang terlihat sangat rapi, hidung yang mulai mengerut, dan mata lebar yang entah bagaimana menghilang dibalik kelopaknya. Jongin sendiri terkadang mempertanyakan berapa usia kekasihnya tersebut. Bahkan berulang kali Mingyu mengatakan—jika Jongin dan Kyungsoo bersama—Jongin terlihat seperti seorang lelaki pedofil.

"Cepat tidur, Baby…" ucap Jongin yang bergerak memposisikan Kyungsoo dengan benar.

"Sebentar lagi, Daddy!"

"YA! Kenapa kau memanggilku begitu?"

"EH? Bukankah anak kita nanti memanggilmu begitu? Super Daddy!"

Jongin menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak. Anak kita tidak akan memanggilku dengan sebutan Daddy."

Kyungsoo mengerutkan alisnya dan bersiap untuk tidur, "Lalu, dengan sebutan apa dia akan memanggilmu?"

"Papa. Dia akan memangglku Papa."

Kyungsoo tidak mengerti. Pada awalnya, dia ingin anaknya memanggil Jongin dengan sebutan Daddy dan Appa untuk dirinya. Tapi diluar dugannya, Jongin menolak untuk dipanggil Daddy dan memilih untuk dipanggil dengan sebutan Papa.

Kyungsoo sudah mulai memejamkan matanya. Lagipula sudah hampir pukul 12 dan mereka—sebelumnya—terlalu lama untuk bercengkrama. Terlalu lama memang, karena mereka bersiap untuk tidur mulai pukul sembilan. Bayangkan saja, hampir tiga jam mereka hanya cuddling dan membicarakan hal-hal kecil tentang hari mereka. Rasa kantuk sudah hampir menyapa Kyungsoo, hingga sebuah rasa ingin tahu membangunkan otaknya pada tahap kesadaran.

"By the way, Jongin."

Jongin yang sudah setengah sadar itu menjawab, "Apa?"

"Kenapa anak kita tidak boleh memanggilmu dengan sebutan Daddy?"

Mata Jongin terbuka. Dia sebenarnya tidak ingin membahas hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, Kyungsoo menanyakannya, dan dia diwajibkan untuk menjawab dengan alasan yang tepat.

"Baby, jika anak kita memanggilku dengan sebutan Daddy, kau pasti akan melakukannya juga secara tidak sadar di depan umum. Jika saja, kau melakukan itu di depan Chanyeol Hyung atau Sehun—mereka bisa memikirkan arti Daddy yang lain—bukan ayah yang sebenarnya."

"Ah… I see…"

Jongin menghela nafasnya, "Mereka benar-benar berotak mesum," dia tersenyum kecil, "ayo tidur sekarang, Soo."

"Baiklah, aku akan tidur," Kyungsoo mendekatkan wajahnya dan mencium Jongin sekilas, "Daddy." Ucapnya dengan wajah yang jahil.

Disaat itu Jongin terperanjat. Melihat bagaimana mata Kyungsoo yang berbinar ke arahnya. Otaknya bergerak lambat untuk mengerti apa yang dimaksud oleh Kyungsoo—dan mengapa Kyungsoo memanggilnya Daddy.

"Soo—"

"I'm your only baby, Daddy!"

Dan rencana tidur mereka dibatalkan hanya dengan satu kalimat saja.

.

.

.

TBC.


"Maaf aku terlambat." Ucap Chanyeol dengan Baekhyun yang mengekor di belakangnya.

Baekhyun sendiri, yang baru saja masuk langsung berlari dan berseru, "Luhannie!"

Jongin mengerling ke arah manajer lamanya itu. Sedangkan tunangan Baekhyun bergerak duduk di hadapannya. Di samping Chanyeol sendiri ada Sehun, yang menyesap kopinya sembari melirik ke arah kekasihnya yang sekarang bercengkerama dengan Baekhyun. Di samping Jongin, Yixing sedang sibuk menelepon pihak manajemen dan bernegosiasi agar jadwal Jongin diubah.

"Aigoo… mereka berdua." Gumam Jongin.

"Untung saja Kyungsoo tidak ada." Ucap Chanyeol menimpali.

"Mereka bertiga mungkin heboh sendiri—" Sehun meletakkan cangkirnya dan mencibir, "Hyung! Aku baru saja pergi kemari—aku melihat barang bagus dan bla bla bla—" ucapnya sembari memperagakan bagaimana Baekhyun, Luhan, dan Kyungsoo jika sedang berkumpul.

Chanyeol dan Jongin tertawa. Mereka membenarkan bagaimana ucapan Sehun—beserta bagaimana tingkah dari mereka bertiga. Memang, ketiganya—Baekhyun, Luhan, dan Kyungsoo—sekarang menjadi dekat. Begitu pula pasangan mereka, yang juga menjadi sangat dekat hanya karena berbagi penderitaan mereka masing-masing.

"Luhan Hyung terlihat sangat berisi jika dibandingkan waktu pertama kali bertemu." Ujar Jongin.

Sehun mengangguk. "Dia sudah meminta celana dan pakaian baru, Jongin. Sudah tak terhitung berapa uangku yang terbuang untuk pakaian baru."

"Sama denganku!" Chanyeol membelalakkan matanya dengan jari yang menunjuk ke arah Sehun, "Baekhyun kemarin baru meminta celana jeans baru—dengan alasan pahanya sudah tumbuh lebih besar."

"Aigoo," Jongin menghela nafas dan menyandarkan punggungnya, "paus biruku pasti akan bertindak begitu sebentar lagi. Beberapa hari ini saja dia sudah mengenakan pakaianku."

"Siap-siap saja, Jongin. Si badak China itu sudah mengosongkan dompetku. Kau harus menyisihkan uang untuk pakaian hanya karena mereka beralasan macam-macam."

Chanyeol mengangguk, "Apalagi jatah makan mereka juga bertambah, Jongin. Mereka makan dua kali lipat."

"Benar! Kalau itu aku sudah merasakannya." Seru Jongin.

"Benar, bukan? Baekhyun saja juga sudah berubah menjadi kuda nil sekarang. Makanan seperti masuk ke dalam perutnya tanpa dikunyah sama sekali."

Perbincangan itu berlanjut. Sesekali mereka melirik ke arah Baekhyun dan Luhan yang terlihat heboh dengan entah apa yang mereka bicarakan. Terkadang mereka juga menertawakan satu sama lain jika merasa ada cerita lucu—atau sebuah derita yang patut ditertawakan. Hingga beberapa saat mereka teralihkan oleh Yixing yang meletakkan ponsel dan tersenyum pada mereka bertiga.

"Luhan-ah! Baekhyun-ah!" Luhan dan Baekhyun menoleh pada Yixing yang baru saja memanggilnya, "Mereka berdua menyebut kalian dengan nama badak China dan kuda nil." Katanya—tanpa dosa—sembari menunjuk ke arah dua pria yang ada di hadapannya.

"Wait, Hyung—"

Melihat kejadian itu, Jongin mengangguk, "Aigoo… semoga beruntung, kalian berdua. Aku sudah merasakannya beberapa hari yang lalu karena hal yang sama."

"Jongin, help us—" pinta Chanyeol ketika melihat Baekhyun sudah bersungut-sungut.

Jongin tersenyum dengan bahagianya, "Tidak sebelum kalian merasakan derita yang sama denganku."

Disaat itu Yixing tertawa kecil, "Hari yang indah ya, Jongin." Ujarnya dengan ceria layaknya tidak melakukan kesalahan apapun.


Akan segera selesai dan ditambah satu chapter epilog.

Just wait for it!

Nana.