Chapter 11

Computer

.

Virus komputer adalah program komputer yang dapat merusak perangkat lunak komputer.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC, typos, super pendek, dan sederet kesalahan lain.

Pair: ObiHina

Rate: K+

Happy reading minna-san

.

.

Hinata melangkahkan kakinya ke halaman belakang sekolah dengan sedikit tergesa. Ada seseorang yang ingin ia temui. Orang yang bisa ia harapkan untuk membantunya menyelesikan masalah yang ia hadapi.

Pagi ini laptop-nya mendadak terserang virus setelah membuka e-mail dari seseorang yang tak dikenalnya. Awqalnya Hinata mengira pengirimnya adalah temannya yang mengganti account. Tapi siapa yang mengira kalau isinya ternyata virus yang nyaris membuat laptop-nya mati total.

"O-Obito-senpai," panggil Hinata pada pemuda ber-goggle yang tengah serius dengan konsol game-nya.

"Ya?" Obito mem-pause game-nya untuk memberi perhatian pada kouhai-nya.

"Bi-bisakah senpai membantu saya?" tanya Hinata, "Laptop saya kena virus."

"Sini, biar kulihat," kata Obito.

"Hinata menyerahkan laptop yang dibawanya pada Obito. Pemuda bermarga Uchiha itu membuka laptop milik Hinata untuk memeriksa virus itu. Hinata hanya bisa berharap-harap cemas. Bagaimana tidak? Dalam laptop itu berisi folder-folder tugas pelajaran sekolah. Salah satunya harus ia berikan pada guru akhir pekan ini. Tugasnya sudah selesai, ia hanya tinggal meng-edit-nya saja. Sayangnya, ia tak punya copy-an data itu.

Kesimpulannya, laptop-nya HARUS sembuh dari virus terkutuk itu.

"Ba-bagaimana?" tanya Hinata.

"Kerusakannya lumayan parah. Terus terang ini virus jenis baru. Aku belum punya software untuk mengatasinya. Yang bisa kulakukan hanya mencegah penyebarannya saja," kata Obito.

"A-apa?" mata Hinata langsung berkaca-kaca. Ini bukan sekedar masalah laptop-nya. Tapi isi di dalamnya. Tugas-tugas yang telah ia kerjakan mati-matian harus hangus tak bersisa. Mengulang kembali dari awal pun tak mungkin. Waktunya terlalu sempit.

"Kemarilah," Obito menepuk bangku semen yang hanya berisi dirinya.

"Hiks…" isak Hinata.

Obito merebahkan kepala Hinata di bahunya, "Jangan bersedih. Aku berjanji akan membantumu. Kupastikan laptop-mu selesai dalam tiga hari. Tugas-tugasmu pun akan selamat."

"Be-benarkah?" tanya Hinata.

"Tentu," jawab Obito.

"A-arigatou, Senpai," ucap Hinata.

"Kalau kau tidak keberatan, panggil aku Obito saja," tukas Obito.

"Ba-baik," jawab Hinata.

Obito membelai rambut Hinata, mencoba memberinya ketenangan. Sementara Hinata, hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merona di dada senpai-nya itu.

.

.

.

Uchiha Obito, seorang pemuda yang punya sikap hangat dibandingkan Uchiha lainnya. Dia memang tak secerewet dan se-hyperactive Naruto, tapi dia juga tidak dingin seperti Shino.

Diam-diam Hinata sudah mengaguminya. Tapi ia terlalu malu untuk menyatakan perasaannya. Lagipula ia yakin banyak gadis yang juga jatuh hati pada pesona senpai-nya. Dan bagi Obito, mungkin ia hanya menempati urutan kesekian.

Itulah sebabnya, rasanya wajar bila Hinata gugup saat harus berduaan dengan Obito. Memang bukan kencan. Saat ini ia ada di rumahnya dan menunggu Obito selesai memperbaiki laptop-nya.

"Obito-kun ma-mau minum apa?" tanya Hinata.

"Apa saja yang kau tawarkan," jawab Obito tanpa mengalihkan pandangan dari layar di depannya.

Lagi-lagi Hinata merona," Ju-jus atau teh dingin?"

"Apa saja boleh," jawab Obito.

"A-aku tidak tahu yang mana yang lebih disukai Obito-kun," ucap Hinata.

Obito mengalihkan pandangannya untuk menatap Hinata, "Kau mau tahu apa yang lebih kusukai?" tanyanya. Ia menghela nafas dan menanti reaksi Hinata. Saat gadis itu mengangguk, ia meneruskan ucapannya, "Kamu."

"E-eh?" Hinata refleks meraih selembar majalah untuk menutupi wajahnya. Ia tak mau Obito melihatnya blushing parah.

"Sudah ku duga, kau akan malu-malu begitu. Tapi sepertinya kau memang lebih cantik kalau malu-malu," kata Obito.

"O-Obito-kun, la-laptop-ku ba-bagaimana?" tanya Hinata masih belum melepas majalah yang menutupi wajahnya. Hanya mata lavender-nya yang diam-diam mengintip.

"Sudah selesai sejak kemarin," kata Obito, "Tapi aku sengaja tidak memberitahumu. Kalau aku bilang, pasti kau akan mengucapkan terima kasih lalu menghilang. Tentu saja itu akan lebih menyulitkanku mendekatimu."

"O-Obi-kun ja-jahat," Hinata melepas majalah yangmenutupi wajahnya yang semerah buah cherry. Ada gurat kekesalan yang tak mampu ditutupi sulung Hyuuga ini.

Obito hanya terkekeh. Ia menarik pinggang Hinata untuk membuat gadis itu duduk di pangkuannya.

Meski terlihat cemberut, tapi Hinata juga menyadarinya. Jika bukan karena virus itu, mereka tak akan sedekat ini. Jangankan bermimpi untuk dipeluk dan dipangku Obito seperti ini. Membayangkannya saja dia sudah panas dingin.

"Sekarang aku mau dengar jawabanmu," bisik Obito di telinga Hinata.

"Y-ya," balas Hinata lirih.

Obito mengeratkan pelukannya. Sebuah seringai muncul di wajahnya. Ah, seandainya Hinata tahu siapa orang yang telah mengirimkan virus itu padanya. Tapi biarlah itu menjadi sebuah rahasia.

Ya! Rahasia yang hanya diketahui Tuhan, Obito, author dan reader fanfiction ini.

.

Owari

.

.

Thank's to: Lee Sungrin , smile *NaruHina? Pair tersulit bagi saya. Habisnya Naruto mirip ma seseorangyang sebaiknya saya lupakan #walah, kok malah curhat*, haru , Ai HinataLawliet, OraRi HinaRa, azalea ungu *DeiHina lagi saya bikin di Bahasa Perancis , soalnya Obito kan pake pelajaran kompie*, asyafujisaki, uchihyuu nagisa, dan Lolytha-chan.

Dengan jujur saya mengakui, chapter ini terinspirasi dari teman saya yang pake cara yang sama dengan Obito. Cara yang satu ini memang sedikit 'gila'. Tapi orang-orang kreatif selalu dapat tempat di hati saya.

Entah kenapa saya selalu merasa kalau Obito sama Matt-nya death Note mirip. Mungkin karena sama-sama ber-goggle kali ya.

Seperti biasa, sumbangan review dan concrit akan selalu dinantikan.

Molto Grazie.