Sebelum itu kita HARUS sepakat dari sini, kalau aku akan menggunakan OC, suka tidak suka aku akan menggunakan OC.
Declaimer : Yuuri On Ice Not Mine
Sebagai sesama manusia kita harus saling memaaf-kan, jadi maafkan lah diriku yang suka typo di chapter sebelum, sekarang dan ke-depan. Akan aku perbaiki secepatnya (kalau niat). Maafkan juga atas keterlambattan Update-nya.
Still Yuuri's POV
o0o
Chapter 09
o0o
Café Au Latte
'Hangat… nyaman dan menenangkan…' sudah lama sekali rasanya aku tidak merasa sangat tenang ketika bangun di pagi hari, aku berusaha menggerakkan tubuhku untuk bangun "Nm…" pinggangku mati rasa –tidak, lebih tepatnya setengah dari tubuhku, tidak bisa bergerak terasa sangat pegal.
Sssk…
"Hh…" tubuhku semakin dipeluk erat oleh seseorang… se –seseorang? Aku mengangkat kepalaku, memandang siapa seseorang yang memeluk tubuhku, surai platinum blond, wajah seperti boneka dan kulit persolen yang sangat mulus, tidak lupa dengan lekuk otot sexy di tubuhnya. Viktor Nikiforov, kekasihku, yang sekarang berumur 17 tahun, memeluk tubuh tubuhku erat, tidak pernah melepaskanku bahkan saat aku memohon padanya. Aku tertawa geli melihat aliran salifa yang menembus bibirnya yang terbuka lebar, aku bisa mendengar suara dengkuran –yang terbilang nyaring, dari tenggorokkannya. Merasakan tubuhku sudah bisa –sedikit, bergerak, aku mencoba bangun dari posisi tidurku yang memeluk Viktor "Nnh…" kaki dan pinggangku tidak punya tenaga untuk berdiri.
Aku kembali melihat wajah Viktor, memastikan apakah dia terbangun atau tidak. Setelah merasakan tenaga di kakiku kembali aku berdiri menuju arah kamar mandi –tidak mempedulikan keadaanku yang tidak mengenakan baju.
.
'Uwaaah…' aku menatap diriku sendiri di cermin, seorang bocah smp dengan kiss mark hampir di seluruh tubuhnya terpantul di cermin '…Dan lagi… jumlah cairan yang keluar dari anusku, Viktor benar-benar menandaiku sampai bagian terdalam' dan sekarang aku harus berpikir keras tentang bagaimana caranya untuk menutupi beberapa kiss mark di leherku.
Dari arah pintu kamar mandi, aku melihat pantulan sosok Viktor jalan sempoyongan dengan mata yang terlihat masih sangat mengantuk "…Selamat pagi Yuuri…" rambut panjangnya benar-benar berantakan dan sedikit kusut, dia merangkul tangannya dan menciumku dengan sangat lembut.
Aku tidak bisa menahan senyum kebahagiaan di bibirku. Karena perbedaan tinggi kami yang sekarang sangat jauh, aku terpaksa harus menjinjit untuk menciumnya balik dengan ekstra patukan di pipi kirinya "Selamat pagi Vitya" teringat akan sesuatu, aku mencubit kedua pipi Viktor, menariknya kuat.
Viktor menatapku heran "Hyuuryii?" aku tersenyum manis padanya.
"Terima kasih karena sudah memberikan tanda yang tidak bisa aku tutupi, Vityaaa…" tarikanku semakin kuat di pipinya.
"Hoph! Hihi-gyu hakhit!" tengengkkan Viktor membuat aku geli –apa lagi dengan ekspresinya yang sangat priceless. Setelah puas mendengar rengekkan dari Viktor, aku melepaskan tarikanku, meninggalkan bercak merah yang sedikit bengkak di kedua pipinya. Aku pergi keluar kamar mandi, tidak mempedulikan dengan tatapan kesal yang di berikan oleh Viktor.
"Yuuri juga memberikanku tanda yang mungkin tidak bisa hilang dalam beberapa hari" nada suara Viktor jelas terdengar sangat kekanakan di telingaku, tapi tunggu…
"Apa maksudmu? Aku tidak mengingat memberikan kiss mark… astaga…" kaget, ya… tentu saja, tapi bukan senyumman meledek yang di berikan Viktor padaku, bukan juga rambut panjang yang sengaja di angkatnya keatas –menunjukkan leher jenjangnya yang bersih tanpa kiss mark.
Melainkan yang membuat aku harus kaget adalah, garis –emn… goresan merah, lebih tepatnya bekas cakaran dari kuku. Aku bahkan bisa melihat sebagian dari bekas cakaran yang sepertinya menancap –berada di bahu belakang Viktor, bahkan sedikit mengeluarkan darah dan juga bekas gigittan dari gigi kecil juga ada di bahunya –dan aku tau betul siapa pelaku yang membuat punggung terukir dengan tanda bukti kalau Viktor telah melakukan sex dengan seseorang.
Benar, orang itu adalah aku.
Aku memalingkan wajahku dari bekas tindakan criminal yang aku lakukan "Cepat mandi… aku perlu latihan untuk performance-ku besok…" aku bisa mendengar suara tawa dari kamar mandi, yang membuat pipiku semakin panas 'Uuhk… memalukan…' aku melepas handuk di pinggangku dan mengambil celana dalam –yang untungnya tidak kotor, memakainya dengan sedikit butuh perjuangan, mengingat pinggulku yang terasa pegal dan bibir anusku yang sedikit bengkak.
'…Baru jam 6 pagi…' pikirku saat melihat jam yang mengantung di dinding. Aku mengambil ponselku yang aku letakkan di sebelah ponsel Viktor, LED dari yang menandakan ada notifikasi menyala terang "Panggilan tidak terjawab dari Minako-sensei?! 132 kali?!"
"Ada apa?" dari sudut mataku, aku bisa melihat Viktor keluar sambil mengeringkan rambutnya, sudah mengenakan pakaian –sweater turtle neck dan celana kain berwarna hitam.
'Kuso… kakko yokaa…' aku nemepik sisi fan boying-ku dan menunjukkan ponselku pada Viktor "Minako-sensei menelponku sampai sebanyak ini" Viktor mengambil ponselku dan menyerahkan kain –ah, bukan… sweater turtle neck berwarna putih dan legging? Hitam ke-padaku. Tentu saja aku dengan senang hati memakainya. Sweater yang di berikan Viktor sedikit kebesaran dan longgar, panjang bajunya menggantung sampai bawah pinggangku dan panjang lengannya sampai menutupi setengah dari telapak tanganku, tapi untung Legging yang Viktor berikan just fit dan panjang pas sampai menutupi mata kakiku. Turtle neck dari sweater ini sangat membantuku untuk menutupi kiss mark yang ada di leherku.
Vrrrrr! Pip!
Aku terperangah melihat Viktor yang mungkin panggilan masuk di ponselku, tanpa melihat siapa yang memanggil ke ponselku "YUURI! ASTAGA! SYUKURLAH! AKHIRNYA KAMU MENJAWAB! DI MANA KAMU?! SAAT AKU PULANG TADI KE KAMAR, KAMU TIDAK ADA?!"
Dengan cepat aku merebut kembali ponselku, menunggu sampai omelan panjang Minako-sensei –yang mengalahkan rapper- selesai "Maafkan aku karena tidak memberikan kabar Minako-sensei! aku baru saja mendapatkan teman dari Russia" aku bisa melihat Viktor yang membuat wajah yang mengatakan really Yuuri? Friend? "Kita bermain di kamarnya…" aku mendekati Viktor yang duduk di pinggir kasur, Viktor dengan senang hati membiarkanku duduk di atas pangkuannya, kami saling berhadapan, menyatukan keningku dengan keningnya "…Lalu kami ketiduran" walau sekarang aku menutup mataku, aku bisa merasakan kalau Viktor tersenyum jahil mendengar kalimat terakhir yang aku ucapkan. Dia mengalungkan lengannya di pinggulku, mengusap dan sedikit memijitnya pelan.
Dari sebrang sana, aku bisa mendengar Minako-sensei menghela nafas lega dan juga frustasi "Kalau begitu aku ingin kamu kembali ke kamar sekarang! Kita perlu ke gedung di mana kompetisi besok di gelar, dan tidak pakai lama! Aku tidak mau mendengar keluhanmu!"
Piiipt!
Aku mengeluarkan desahan pelan saat pijatan Viktor membuat otot di pinggulku rileks "We need to go…" Viktor mengangguk, membenam kepalanya di bahuku, menghirup nafas panjang dan membuangnya perlahan. Masih mengenggam ponselku dengan satu tangan, aku mengalungkan lenganku di bahunya, membenam wajahku dalam helaian rambut yang terurai di bahunya, bau shampoo dan masih sedikit basah, serta rasa hangat yang membuat tubuhku sangat rileks, semuanya dari Viktor '…Ini semua terasa seperti mimpi…'
"Ini semua terasa seperti mimpi"
"…Pft-!"
aku tidak bisa menahan tawaku saat mendengar gumamman Viktor di bahuku "…Yuuri?"
Aku memberikan jarak antara tubuh kami dan menatap Viktor yang terlihat bingung "…Aku juga memikirkan hal yang sama" mata Viktor sedikit melebar dan kemudian sebulir air mata turun dengan perlahan dari matanya "…Cengeng…" gurauku, mengelap air matanya yang jatuh dengan jariku.
"Aku tidak mau dengar itu darimu…" detik berikutnya kami sama-sama tertawa dan kembali memeluk satu sama lain "I love you"
Aku mempererat pelukanku "Fufu… I know"
.
Aku menekan tombol bel di pintu kamar tempat aku dan Minako-sensei menginap, di sebelahku, Viktor merangkulku dengan sangat protektif. Wajahnya jelas mengatakan kalau dia masih ngat laki-laki pegawai hotel yang mengejarku semalam dan tidak sengaja bertemu lagi tadi di depan lift sebelum turun ke lantai 3 –di mana kamarku berada, aku sempat melihat wajahnya yang terlihat menginginkan tubuhku, tapi kemudian Viktor menarikku dan menciumku ganas di depan sang pegawai, setelah itu dia menekan tombol untuk menutup pintu lift dengan kasar, meninggalkan sang pegawai yang membatu.
Aku mendengar handle pintu di putar dari dalam dan dari sana "..Yuuuuuriiii…" keluar Minako-sensei yang seperti zombie dengan kantung mata berwarna hitam yang sangat tebal di bawah matanya.
"Aah… Minako-sensei… maafkan aku karena tidak memberikan kabar!" guru ballet-ku terlihat mau memberikan omellannya lagi, tapi terhenti, pandangannya terpaku pada sosok di sebelahku –yang melambai dan tersenyum lebar pada Minako-sensei.
"Hi~!" aku mendengus pelan, sikap Viktor di sebelum dan sekarang, selalu sama.
"Ini Viktor Nikiforov, pemenang grand prix junior tahun lalu…"
Minako-sensei mengangguk pelan "Aku tau itu… tapi bagaimana kamu bisa mengenalnya?"
"Ah… itu…" aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal. aku merasakan lengan Viktor yang tadi merangkul-ku, berpindah menjadi sebuah pelukkan ringan.
"Kami bertemu di lift! Tim Russia kebetulan kemari karena kami ingin melihat competitor yang mungkin akan berkompetisi di world cup!" di dalam hati, aku menertawai diriku sendiri yang tidak pandai bohong. Tapi, tidak bisa di bilang dengan apa yang baru saja Viktor katakana tadi itu bohong, tidak semuanya bohong.
Minako-sensei terlihat memikirkan sesuatu, matanya terlihat birsinar di balik kacamata ber-frame merahnya –menandakan kalau dia baru saja mendapatkan ide, yang mungkin saja akan menjatuhkan aku kedalam neraka "Kalau begiu…" dia mengeluarkan kalung tanda identitas milikku dan yang satu lagi… untuk tamu khusus mungkin? Kemudian menyerahkan identitas yang satunya ke Viktor "…Bawa ini, dan…" Minako-sensei menghilang dari pintu kamar, menuju kedalam dan mengambil sesuatu "…Ini juga!" dia memberikan mini travel bag berwarna merah yang di geret dengan kedua satu tangannya –dan tentu saja di dalamnya terdapat sepasang sepatu skate-ku "…Semua yang kamu butuhkan ada di dalam sana"
"Eh?"
"Aku mau tidur…" sebelum Minako-sensei menutup pintunya, di menatap kearah Viktor "Lalu kau, Viktor"
Dari sudut mataku, aku bisa melihat Viktor tersenyum dan mengangguk pelan "Mn! Aku mengerti!" Viktor menarikku menjauh dari Minako-sensei yang melambaikan tangannya dan menghilang dari balik pintu kamar.
"Vi –Viktor?" aku masih belum mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, Viktor menatapku dengan senyum ceria di wajahnya.
"Aku akan menjadi pelatihmu untuk hari ini!" dia mengedipkan sebelah matanya padaku, membuat aku yakin pada diriku sendiri, kalau pipiku semakin memerah.
.
Sesampainya di dalam stadium yang sudah di penuhi oleh competitor dan pelatih mereka 'Lebih besar dari yang aku bayangkan…' suara gesekkan es, aroma es dan udara dingin yang di sebabkan es, semuanya membuat aku merasa rileks.
"Yuuri"
"Hmn…?" aku mengangkat kepalaku setelah selesai dari kegiatanku untuk mengikat tali sepatu skate-ku, Viktor menatapku serius.
"Kalau aku melarangmu untuk tidak melakukan quad di latihan ini, apa kamu akan mendengarkannya?"
Aku menatapnya heran "…Kenapa?"
Kali ini Viktor berlutut di depanku, meletakkan tangannya di lututku, mengusap ibu jarinya perlahan "Aku masih khawatir dengan kondisi tubuhmu…"
'…Kondisi tubuhku?' aku memikirkan sejenak dengan maksud dari kata-kata Viktor, dan kemudian menemukan jawabannya –jawaban yang membuat wajahku terasa panas "…Aku akan mendengarkannya…" suaraku terdengar seperti sedang berbisik, tapi aku yakin Viktor mendengarnya, dia tersenyum lembut padaku.
"Kalau begitu naiklah ke-atas rink, aku ingin melihatmu menggoda-ku di depan para competitor lain…" Viktor mengulurkan tangannya padaku, membantuku bangun dari kursi "…Lalu buktikan pada dunia kalau kau telah merebutku lagi" bisiknya dengan suara sexy di telingaku.
"…Baka!"
.
Aku yakin, kalau aku bisa menggoreng telur di atas pipiku, karena wajahku kembali di buat panas olehnya.
