Manik birunya mencuri-curi pandang kearah Seijūrō yang terlihat asyik bercanda dengan Satsuki dan jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia senang melihat senyum Seijūrō yang terlihat sungguh bahagia.

Apakah mungkin, Sei-kun mulai menerima dirinya?

Kalau begitu, syukurlah.

Seijūrō akan terlihat lebih baik dengan senyum bahagia di wajahnya.


Million Stars


Mereka sudah sampai di mansion Keluarga Akashi. Seijūrō membuka pintu rumah kediamannya lalu mempersilakan sang Istri dan gadis kecil itu masuk ke dalam. Tetsuya bersama dengan Satsuki berjalan mengekor di belakang Seijūrō.

Langkah kaki si rambut scarlet hendak berbelok ke arah ruang tamu, namun sebuah pertanyaan dari Tetsuya menghentikan langkahnya.

"Sei-kun, ingin mandi dulu? Akan kusiapkan air panas untukmu."

Yang ditanya pun hanya menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan segaris senyum tanda mengiyakan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Tetsuya membalas dengan gestur mengerti, setelah itu ia pun berbalik menghadap Satsuki dan menepuk helai malamnya dengan lembut.

"Nah, Satsu-chan ingin makan sesuatu?"

Sepasang alis Satsuki bertaut dan terlihat sedang berpikir keras. "Um... Apakah ada strawberry milkshake, Tetsu-nii-san?"

"Ini bukan restoran cepat saji, bocah." Seijūrō dengan cepat membalas pertanyaan gadis itu seraya tertawa mengejek mendengar perkataan Satsuki dan dibalas dengan teriakan melengkingnya.

"Mou! Sei-oji-san menyebalkan!"

"Maa.. maa.. Sei-kun, berhenti menggoda Satsuki-chan. Nah, Satsuki-chan.. kalau strawberry milkshake tidak ada. Tapi, nii-san punya vanilla milkshake, tak apa?" Tetsuya memandang Satsuki dengan khawatir, ia takut jika gadis kecil itu akan menangis ditambah tadi ia diejek oleh Seijūrō.

"Oya? Kau diam-diam menyembunyikan minuman manis itu di lemari pendingin, Tetsuya?" Sebelah alis Seijūrō terangkat dan membuat Tetsuya membatu lalu menatap ke arah Suaminya dengan takut-takut.

"A-aku tidak menyembunyikannya, Sei-kun!" Tetsuya berujar mencoba menghindari tatapan Seijūrō yang seolah menelanjangi dirinya. Ia bahkan mencoba agar suara yang ia keluarkan tidak bergetar dan ternyata gagal total.

Seijūrō bergumam meragukan sembari mendekatkan tubuhnya kearah Tetsuya. Mengabaikan gadis kecil yang menatap sepasang pasangan itu dengan tatapan polosnya yang terlihat bingung. Si surai scarlet berbisik dengan suara baritone khas miliknya di telinga Tetsuya.

"Kau berbohong sayang.. Seorang pembohong harus diberi hukuman bukan? Kira-kira hukuman apa yang cocok untukmu nanti malam eh?"

Iseng, Seijūrō pun meniupkan nafasnya di telinga kanan Tetsuya dan direspon dengan pekikan kecil dan tubuh yang terserang tremor. Masih mencoba mencerna perlakuan yang baru saja si scarlet lakukan padanya hingga Tetsuya sadar dan merona sepenuhnya. Rona merah muda telah menyebar di seluruh paras hingga indera pendengarannya

Satu kata yang terlintas di kepala Seijūrō, sungguh luar biasa sekali responnya itu dan membuat dirinya tidak menyadari ketika sudut bibirnya mengembang bebas.

"Jangan lari nanti malam, ya. Sayangku."

Seijūrō mengecup sekilas sudut bibir Tetsuya dan menampilkan sepasang biner hetero yang berkilat serta seringai kemenangan yang tertuju padanya. Lalu, lelaki bersurai scarlet itu berlalu begitu saja meninggalkan Tetsuya dan Satsuki yang ternyata sedari tadi tengah menatap akuarium di ruang keluarga itu dengan antusias dan tidak memerhatikan interaksi antara Tetsuya dan Seijūrō yang tergolong intim tersebut.

Satsuki menyudahi kegiatannya untuk mengagumi akuarium yang berisi berbagai jenis ikan hias dan mendapati Tetsuya tengah melamun dan menatap kosong kearah tangga yang terhubung ke kamar tidurnya. Mengambil inisiatif, Satsuki menarik pelan ujung kemeja Tetsuya seraya berkata,

"Tetsu-nii-san? Daijoubu?"

Mendengar suara khawatir si gadis kecil, Tetsuya pun tersadar dengan cepat. Ia mengibaskan sebelah tangannya diudara dan kembali memfokuskan atensinya kepada satu-satunya gadis mungil disana.

"A-aku tidak apa-apa, Satsuki-chan. Ayo ke dapur, nii-san ambilkan satu gelas vanilla milkshake untukmu."

Mendengar Tetsuya berkata seperti itu, seketika membangkitkan semangat Satsuki dan mengangguk senang seraya tersenyum manis. Setelah menuangkan segelas vanilla milkshake untuk Satsuki, Tetsuya pun segera menyiapkan air hangat untuk Seijūrō dan menyuruh gadis kecil itu untuk menunggu dirinya di dapur.

Langkah kakinya berjalan dengan penuh kehati-hatian ketika meniti anak tangga yang terbuat dari marmer itu. Tetsuya membuka pintu kamarnya dan menatap ke sekelilingnya. Ia tidak mendapati sosok Seijūrō dimana pun.

Mungkin ia berada di perpustakaan?

Perpustakaan pribadi milik Seijūrō berada tepat di samping kamar mereka. Mungkin saja, Seijūrō sedang ingin membaca buku disana. Tanpa membuang banyak waktu, Tetsuya pun turun kembali menuju dapur. Iris aquanya menangkap sosok Satsuki yang masih asik menyesap segelas vanilla milkshake yang ia buat.

"Satsuki-chan, mandilah dulu ne?"

"Tidak! Satsu tidak ingin mandi!" Gadis itu menolak mentah-mentah ketika disuruh mandi oleh Tetsuya. Setelah dipikir-pikir, sepertinya Aomine pernah bercerita kepada lelaki manis itu jika gadis mungil bermarga Aomine itu memang sulit sekali jika disuruh mandi.

"Mau nii-san mandikan?" Tetsuya menawarkan diri untuk memandikan Satsuki. Mungkin tidak ada salahnya jika memandikan anak-anak sesekali.

"Ti-tidak! Baiklah.. Satsu mandi sendiri." Jawaban yang sungguh tidak terduga pun terlontar dari bibir gadis mungil itu.

"Bagus kalau begitu, Satsuki-chan membawa baju ganti 'kan?"

"Ha'i! Tadi ada pelajaran renang dengan Masako-sensei, namun Masako-sensei sedang izin cuti. Jadi, acara berenangnya tidak jadi~"

"Souka. Kalau begitu, habiskan milkshakemu dulu ne? Setelah itu mandi."

"Um! Wakatta~"

Sementara Satsuki menghabiskan segelas vanilla milkshakenya, Tetsuya bersiap untuk memasak makan malam.

.

.

Skip Time.

Kebetulan setelah Tetsuya selesai memasak makan malam, saat itu pula Satsuki telah selesai dengan acara mandinya. Ia telah berpakaian rapih dan tengah mencoba menyisir rambut panjangnya.

"Kenapa mandinya lama sekali Satsuki-chan?" Tetsuya bertanya kepada Satsuki seraya membereskan meja makan sementara gadis mungil itu masih terlihat sibuk dengan rambutnya.

"Ehehe.. Satsu main air dulu bersama tuan bebek~ ehehe."

"Oh.. ―pantas saja."

Apakah semua anak kecil suka sekali bermain air?

"Nah, kalau begitu tolong tunggu di meja makan ne? Setelah nii-san membersihkan diri, kita akan makan malam."

"Ha'i~"

Kaki kecilnya melangkah menuju meja makan di dapur mansion keluarga Akashi itu. Dengan cekatan, Satsuki menarik kursi makan yang lebih besar ukurannya dari dirinya, lalu memanjatnya.

Satsuki bermain-main dengan boneka kecil berbentuk kelinci yang selalu ia bawa di dalam tasnya untuk mengusir kebosanan. Hingga ia tidak sadar jika Tetsuya telah berada di belakangnya dengan pakaian rumah yang rapih. Tetes basah dari rambutnya sesekali membasahi bahu berlapis kemejanya. Ternyata Tetsuya baru saja menyelesaikan acara mandinya.

"Satsuki-chan, bisa tolong panggilkan Sei-kun untukku? Mungkin ia ada di kamarnya."

"Um! tentu saja, Tetsu-nii-san~"

Gadis kecil itu turun dari kursi makan dan berlari menuju ke arah tangga. Saat hendak menginjak anak tangga pertama ia terhenti.

"Ah! Sei-oji-san! Ayo makan malam, Tetsu-nii-san menyuruhku memanggil Sei-oji-san."

"Aku mengerti. Kau duluan saja bocah, aku akan membereskan pekerjaanku terlebih dahulu."

Seijuro kembali berjalan menuju ke perpustakaan, ia berencana untuk membereskan berkas-berkas yang baru saja selesai ia kerjakan sehabis membersihkan diri tadi dan memindahkannya ke ruang kerja yang berada di sudut kamarnya.

"Tetsu-nii-san, katanya Sei-oji-san akan membereskan peker—" Kalimat gadis itu dipotong oleh kedatangan Seijūrō yang tiba-tiba di meja makan itu.

"Aku sudah disini bocah, kau duduklah." Seijūrō mengeluarkan titahnya agar gadis mungil bermahkotakan navy blue itu menurutinya.

"Mou! Aku bukan bocah, Sei-oji-san!"

Satsuki menurut. Ia pun segera duduk di kursi makannya. Sedikit kesulitan karena tingginya berbeda jauh dengan kursi makan itu. Akhirnya, Seijūrō berinisiatif untuk mengangkat Satsuki dan mendudukkannya diatas kursi makan tepat dihadapan Tetsuya. Sementara yang digendong pun termangu.

"U-uh.. A-arigatō, Sei-oji-san."

Satsuki mnegucapkan rasa terima kasihnya dengan terbata sementara Seijūrō menjawabnya dengan gumaman dan senyum kecil yang terulas di wajahnya.

"Nah, ayo kita mulai makan malamnya." Tetsuya pun kembali menarik perhatian keduanya dengan berujar pelan.

"Itadakimasu."

.

.

Setelah selesai dengan makan malam mereka, Seijūrō memutuskan untuk bermain bersama Satsuki di ruang keluarga. Bukan bermain 'sih, mungkin lebih tepat jika disebut menjahilinya. Sementara Tetsuya masih berada didapur untuk mengelap piring bersih. Atensinya teralihkan begitu melihat ponsel miliknya yang berdering ribut.

Incoming call : Aomine-kun.

"Moshi-moshi, Aomine-kun?"

"Ou! Tetsu? aku sudah di depan pagar mansionmu, apakah Satsuki ada di dalam?" Aomine nampak terdiam dengan ponsel di telinganya, biner sewarna langit malamnya mengamati mansion yang ditempati teman kecilnya dengan tatapan terkagum.

"Masuk saja kedalam Aomine-kun. Iya, Satsuki ada di dalam." Tetsuya mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan Aomine.

"Baiklah."

Setelah menutup sambungan telepon itu, Tetsuya kembali mengeringkan piring yang basah. Mengusapnya dengan hati-hati.

.

.

Seijūrō tengah menyenderkan punggungnya di sofa berbahan beludru berwarna merah marun yang ada di ruang keluarga mansion Akashi dan di pangkuannya terdapat seorang gadis kecil yang asyik membaca sebuah buku? Err.. majalah?

"Sei-oji-san, apakah Sei-oji-san menyukai Tetsuya-nii-san?"

Gadis itu berujar tiba-tiba seraya menatap majalah yang ternyata adalah majalah khusus pemain basket luar negeri yaitu NBA. Satsuki menatap profil sosok kapten dari tim Cleveland Cavaliers ia menatap lelaki plontos yang bernama James LeBron itu kagum.

Seijūrō nampak berpikir, hal itu terbukti karena kedua alisnya terlihat bertaut dan otaknya pun berputar untuk mencari jawaban yang cocok untuk ia lontarkan kepada gadis kecil yang tengah duduk di pangkuannya.

Aku? Tetsuya? ... Mencintainya?

Karena respon dari Seijūrō dirasa terlalu lama, Satsuki pun memilih untuk menutup majalah basket yang tadinya tengah memperlihatkan profil dari tim Golden State Warriors dan meletakkannya di meja. Gadis itu memusatkan perhatiannya kearah Seijūrō dengan berbalik menatap pria itu dan menatapnya dengan pandangan curiga.

Aku suka sekali saat Tetsuya tersenyum.

Saat dirinya merona malu. Saat dirinya salah tingkah. Saat dirinya menenangkanku dan,

saat dirinya mau menerimaku apa adanya...

Seijūrō merasa jika dadanya menghangat, ia merasa jika kepingan kosong yang ada didalam sudut hatinya telah terisi.

Apakah aku mencintainya?

Biner heterochrome itu membelalak begitu melihat ekspresi manis yang Satsuki perlihatkan kepadanya sembari berkata. "Kau mencintai Tetsu-nii-san, Sei-oji-san."

Ia termangu, tatapannya memandang wajah tersenyum Satsuki dengan kosong.

Aku mencintainya?

Benarkah?

Lamunan Seijūrō terhenti begitu suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan penting yang akan menyangkut masa depannya nanti. Gadis yang berada di pangkuannya pun menatap kearah dirinya dengan senyum lebar.

"Ah— Sei-oji-san, ada yang mengetuk pintu. Boleh Satsu yang buka?"

Seijūrō tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut Satsuki dan mengangguk menyetujui gadis manis itu.

"Arigatō, Sei-oji-san. Mungkin saja itu Papa~"

Kaki kecilnya pun segera melangkah meninggalkan Seijūrō yang masih terduduk di sofa seraya mencerna perkataan yang baru saja Satsuki katakan padanya.

Papa? Oh. Aomine Daiki kah?

"Oi, jangan berlari bocah!"

Ucapan Seijūrō bagaikan angin lewat di telinga gadis kecil itu. Menggeleng pelan karena tidak menyangka jika ada anak gadis yang hiperaktif seperti Satsuki hadir di kehidupannya. Sungguh berada di dekat Tetsuya merupakan hal yang istimewa. Ia dapat mengenal bermacam-macam emosi dan hal baru jika berada disekitar lelaki manis itu.

Satsuki telah berada didepan pintu berukuran raksasa milik mansion Akashi. Kedua tangan mungilnya mendorong pintu itu dan mendapati sebuah senyum hangat yang sangat ia rindukan tengah menyambutnya.

"Papa!" Panggilnya heboh dan langsung melompat ke pelukan lelaki berkulit tan yang masih mengenakan seragam kerjanya.

"Easy lil' girl. Kau ini semangat sekali hm?" Aomine dengan sigap langsung mengangkat tubuh Satsuki di udara dan memutarnya pelan membuat gadis itu berteriak senang hingga tidak menyangka jika si tuan rumah yang merangkap sebagai kepala keluarga dari mansion yang dikunjunginya tengah berada di hadapannya.

"Aomine Daiki eh?"

Netra sewarna biru malamnya pun membola dan dengan refleks ia memeluk Satsuki dengan erat begitu menatap sepasang iris heterokrom yang terlihat berbahaya.

"... K-kau?!"


つづく


a/n : Well.. Ao up! Semoga suka yaa dan terima kasih supportnya selalu.