FOUND BUT LOST


Byun Seunghyun menyimpan sesal ketika dia mendengar Baekhyun yang masuk rumah sakit pun dengan alasan mengapa anak bungsunya itu berada disana. Dia datang dengan sedih namun Baekhyun menyakinkan dia sudah merasa lebih baik dan akan pulang keesokan harinya.

Baekhyun tak terlihat ingin membahas perihal kehamilannya itu namun dia tak bisa tetap diam ketika Seunghyun mulai mencercanya dalam penjelasan.

"Apa itu milik Sehun?" pria itu menembak cepat pada satu-satunya kandidat yang paling berpeluang menjadi pemilik janin yang tengah di kandung anaknya itu.

Namun Baekhyun memberikan gelengan dan serta merta kerutan pada wajah tuanya kian jelas terlihat.

"Lantas?"

Baekhyun tak memberi jawaban apapun lagi. Pandangannya dia bawa pada arah lain, pada jendela dan menatap awan di atas langit sana. "Yunho datang ke rumahku bulan lalu," Baekhyun berkata.

Raut bingung Seunghyun sebelumnya segera di gantikan oleh keterkejutan, "Dia menyakitimu?"

"Ya," angguk Baekhyun. "Dia mencekikku, jadi aku memukul kepalanya dengan miniatur keramik." Baekhyun membawa pandangannya pada orangtuanya itu kembali. "Dia mati karenanya."

Petir dalam kepala Seunghyun meledak, pundaknya berubah tegang dan dia benar telah berubah menjadi patung kala Baekhyun kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku membakar mayatnya seperti yang kulakukan pada Kris."

Seunghyun tak mampu berkata-kata. Tangannya terkepal perlahan di atas paha, berusaha keras untuk mengendalikan diri. Dengan apa yang telah Baekhyun lakukan pada Kris juga bagaimana sikap saudara-saudara tertuanya itu, mustinya Seunghyun tak harus terkejut hari ini akan datang.

Seunghyun tau betul bagaimana bencinya anak-anak sulungnya terhadap si bungsu. Tindakan yang mereka ambil terkadang sudah berada di ambang batas dan rasanya hanya dengan berbicara lembut meminta untuk berhenti takkan memberikan pengaruh apapun kecuali kematian yang akan menghentikan mereka.

Jadi, Seunghyun tak berpikir memiliki alasan untuk menyalahi Baekhyun atas apa yang dia lakukan. Maka yang bisa Seunghyun lakukan adalah mendukungnya, terlepas benar atau tidaknya tindakan itu.

"Kau tak harus mencemaskan apapun, aku akan mengurusnya untukmu." Kenyataan ini bukanlah kali pertama dia lakukan pun dengan kalimat yang nyatanya masih terdengar sama ketika Baekhyun mengatakan telah membunuh Kris dulu.

"Apa ada orang lain yang tau tentang hal ini?" Seunghyun bertanya.

"Ya," Baekhyun menjawab dalam anggukan.

"Siapa? Apakah Sehun?"

"Bukan," Baekhyun menatap sejurus Ayahnya itu, "tapi pengawalku Park Chanyeol."

Seunghyun membeliak selama beberapa saat. Nama Park Chanyeol tidaklah asing terdengar, sebenarnya merupakan nama yang takkan pernah luput Seunghyun enyahkan dalam pikirannya.

"Benar," dan Baekhyun nyatanya tak ingin menampik kesimpulan orangtuanya itu alih-alih membenarkan apa yang dia pikirkan tentang Park Chanyeol yang merupakan orang yang sama.

"Dia adalah Park Chanyeol pacar perempuan yang menindasku dulu, Park Chanyeol yang menjadi alasanku harus pindah ke Kanada, bertemu dengan Kris lantas di lecehkan olehnya. Dan juga—" Baekhyun menjeda kalimatnya sesaat, "dia adalah pria yang merupakan ayah dari janinku."

Dan sekali lagi petir meledak dalam kepala Seunghyun.

Baekhyun pulang keesokan harinya dari rumah sakit. Dia seorang diri ditemani Seunghyun yang kemudian pergi setelah memastikan Baekhyun baik-baik saja. Sowon dihubungi, meminta untuk datang dan menemani Baekhyun yang segera di sanggupi oleh perempuan itu.

Baekhyun sebenarnya tak memiliki banyak hal yang ingin dia lakukan, dia berpikir untuk tidur sepanjang hari atau bersantai dengan menonton beberapa film. Namun kemudian yang dia lakukan adalah duduk pada pinggir kolam berenang dan membiarkan sepasang kakinya terendam disana.

Desau angin musim panas terasa sejuk menyapa. Hijau dedaunan halaman itu benar membantu meringankan pikiran Baekhyun. Sowon datang membawakan secangkir susu hangat dengan potongan strowberi yang selalu Baekhyun sukai.

"Saya akan pergi berbelanja, adakah yang Anda inginkan Presdir?" Sowon bertanya.

Baekhyun menggeleng karena memang tak menginginkan apapun. Sowon mengangguk paham dan pergi setelahnya.

Beriak air menyapa kala Baekhyun menggoyangkan kakinya. Tangannya mengambil satu potong strowberi dan mengunyahnya dengan nikmat. Suara ceklikan pintu menarik perhatian Baekhyun lagi, berpikir jika Sowon mungkin melupakan barangnya namun nyatanya sosok yang terlihat disana merupakan Chanyeol.

Rahang Baekhyun berhenti mengunyah sedang sipitnya melebar menatap tak percaya pada kedatangan pria itu berbanding terbalik dengan Chanyeol yang datang bersama senyum lebar menghias parasnya yang tampan.

"Sedang bersantai hm… Baekhyun?" Chanyeol menyapa.

Baekhyun melihatnya tak suka dan membuang muka. "Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun mengetus.

"Aku tiba-tiba ingin ramyun dan ingat kau memiliki banyak persedian," Chanyeol menggidikkan bahu acuh sembari masuk ke dapur. "Kau ingin sekalian kumasakkan?" tawarnya.

Baekhyun berdecih dan kembali menatap tak suka pria itu, "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan di rumahku!"

"Aku sedang masak ramyun Baek, bukankah aku baru saja mengatakannya." Sahut Chanyeol ringan.

"Apa?" Baekhyun memicingkan mata. "Apa kau sedang cari muka denganku?"

"Ya-ya, kau bisa menganggapnya seperti itu." Chanyeol menjawab sembari menghidupkan api. Wajan dia isi air, selagi menunggunya mendidih Chanyeol menyiapkan beberapa sayur juga sosis sebagai tambahan untuk ramyunnya.

Chanyeol melirik Baekhyun sesekali dan masih mendapati lelaki mungil itu menatapnya tak suka. Sarat kesal terlihat jelas namun Chanyeol enggan untuk peduli karena bukan itu tujuannya. Melihat Chanyeol yang mengindahi dirinya, Baekhyun kembali membuang muka dan tak sadar mengunyah buahnya dengan cepat.

Air yang merendam kakinya mulai membosankan terasa pun dengan suasana hatinya yang berubah berantakan. Chanyeol tak terlihat peduli dan benar menyiapkan dua mangkuk ramnyun dan meletakkannya di meja di dekat kolam berenang itu.

"Sudah siap~" Chanyeol mendayu mengatakannya. Dia menuju Baekhyun dan tanpa aba-aba menarik lelaki itu keluar dari kolam dan menuntunnya duduk di kursi.

"Hei!" Baekhyun menyergah terkejut. Sipitnya melotot dan Chanyeol malah tertawa. "Sebenarnya apa maumu Park Chanyeol!"

"Makan ramyum bersamamu Baek," sahut Chanyeol. "Mungkin sambil bercerita?"

"Apa?"

Tawa Chanyeol perlahan menghilang di gantikan senyum tipis kini. Sumpit di tangan mengaduk isi mangkuknya dan membiarkan kepulan asap berbaur bersama udara bersih di halaman itu.

"Aku pernah bilang tentang Ibuku yang seorang carrier 'kan?" Chanyeol memulai, dia menatap Baekhyun dan si mungil itu balas menatapnya datar.

"Kau pikir aku peduli?" Baekhyun balik bertanya.

"Ibuku seorang carrier," Chanyeol melanjutkan tanpa peduli bagaimana tanggapan ketus yang dia dapatkan dari lawan bicaranya itu. "Karena ibuku seorang carrier jadinya dia lemah dan itulah mengapa dia mati. Dan… aku membenci carrier karena hal itu." Chanyeol menatap Baekhyun lembut.

Tatapan tajam Baekhyun perlahan mengendur dengan ketersiapan dalam dirinya untuk apa yang Chanyeol katakan. Bibirnya yang tipis terkatup rapat, dalam diam berharap Chanyeol kembali menguntai kalimatnya.

"Aku mengalami masa yang sulit ketika harus tinggal bersama Ibu tiriku lalu kemudian memutuskan pindah ke rumah adik Ibuku. Mungkin karena itu aku jadi anak yang nakal dan tak peduli dengan siapapun," Chanyeol melanjutkan. "Lalu di tahun terakhir di sekolah menengah atas, kau tiba-tiba saja masuk dan menjadi teman sebangkuku."

Baekhyun seharusnya menjadi siswa baru yang mengisi tahun pertama di sekolah menengah. Namun nilai akademiknya yang cemerlang membuat Baekhyun mampu menjalani fase kelas akselerasi dan bergabung dengan kelas dimana Chanyeol yang merupakan senior tingkat akhir.

"Sebagai junior kau cukup cari perhatian juga dengan senior ya Baek." Chanyeol tertawa dalam kalimatnya. "Aku ingat pernah menangkap basahmu diam-diam melihatku, mengikutiku di lorong bahkan masih mengajakku bicara walaupun aku suka mengetusimu."

Baekhyun mendengus tak suka dan membuang muka lagi. Kedua tangannya bersedekap di dada dan sekali lagi Chanyeol melihatnya dengan senyum.

"Aku tak suka saat kau melakukan hal itu," aku Chanyeol. "Bukan karena kau terlihat seperti penguntit tapi karena… kau mengingatkanku pada Ibu. Karena itulah aku tidak menyukaimu."

Sipit Baekhyun bergulir kembali pada Chanyeol. Kali ini berbalik pria itu yang menunduk, memperhatikan kepulan asap ramyunnya yang sudah hilang dan memandang refleksinya pada di dalam kuah kaldu.

"Sejak kejadian itu, aku terus mencarimu kemana-mana tapi kau tak pernah datang ke sekolah lagi. Disana aku baru menyadari aku bahkan tak tau siapa namamu walau kenyataan kau selalu ada dimana-mana mengikutiku. Mungkin kau pernah memberitau siapa namumu, mungkin karena aku lupa atau karena tak peduli jadi aku tak mengingatnya sama sekali. Terakhir kutau si bodoh penguntit itu sudah pindah sekolah dan namanya adalah Byun Baekhyun."

Chanyeol mendesah pelan. "Ada hal yang membuatku penasaran," Chanyeol berkata lagi. Pandangannya dia bawa sejurus pada Baekhyun dan menatap menyeluruh paras cantik itu.

Lembaran-lembaran ingatan akan sosok Baekhyun di masa lalu mengisi ingatan Chanyeol dengan nyata. Chanyeol mampu mengingatnya kini dan nyatanya tak banyak hal yang berbeda dari fisik Baekhyun.

Dia masih semungil dulu, senyumnannya masih semenawan dulu.

"Padahal aku sudah sejahat itu padamu, tapi mengapa kau masih saja berdekatan denganku?"

Desau angin kembali menyapa menerbangkan beberapa helai surai abu Baekhyun yang menjuntai, ujung poninya menusuk mata—seolah berusaha menyembunyikan sendu yang tersirat oleh tatapan polos anak-anaknya.

"Karena," suaranya pelan terdengar bersama angin. "kau adalah orang pertama yang berbicara denganku."

Chanyeol tertegun sedang hazelnya tertaut bersama milik Baekhyun tanpa sadar dia lakukan.

Chanyeol akhirnya tertawa hambar teringat kembali bagaimana dia memperlakukan Baekhyun. "Tapi tetap saja, aku memanggilmu bodoh." Gumannya.

"Semua orang memanggilku jalang, tapi kau tidak." Sambut Baekhyun.

Chanyeol bahkan tak tau apa yang lebih baik dari itu semua. Nyatanya dia tetaplah bagian dari orang-orang yang menjahati Baekhyun pula.

Nafasnya tertarik kembali sebelum kembali memutari mangkuknya dengan sumpit.

"Makanlah, nanti ramnyunnya dingin." Kata Chanyeol. Dia memulai suapan pertama dan sengaja menyerumput keras kaldu ramyun itu. "Omong-omong," Chanyeol berkata lagi. Sendu matanya berubah jenaka menatap Baekhyun yang masih bertahan pada posisi yang sama.

"Deokjun rindu dengan Hyung Cantik,"

Sipit Baekhyun kontan membola dan dia berubah gugup tiba-tiba.

Chanyeol tertawa, merasa senang karena telah berhasil menggoda mantan atasannya itu.

"Aku bahagia kau tak pernah membenciku selama ini, bahkan jika kau mencobanya kau tetap takkan bisa 'kan?"

Baekhyun menatap Chanyeol dalam kerjapan, sedetik kemudian berdecih dengan keras, "Jika kau bertanya siapa makhluk di bumi ini yang paling ku benci, sudah pasti itu kau!" sentaknya.

Chanyeol tidak marah, alih-alih kembali tertawa, "Mengapa aku tak bisa percaya?"

Baekhyun melotot dan dengan kesal menendang kaki Chanyeol dibawah meja. Cukup keras dan mengejutkan sampai Chanyeol tersedak karenanya.

"Aw Baek!" Chanyeol balas melotot dalam ringisan.

"Dan mana buahku!" Baekhyun menunjuk meja. "Kau melupakannya!"

"Habiskan dulu ramyunnya, kau ini bukan babi yang bisa menghabiskan seisi meja dalam satu kunyahan."

"Apa?!" Baekhyun lagi melotot. "Kau mengataiku apa?"

"Eh tadi aku memanggilmu apa?" Chanyeol mengerjab tanpa dosa, "Baby ya?"

Baekhyun kontan mengerjab dan dia benci dengan dirinya sendiri oleh rasa panas yang tiba-tiba merambati wajahnya. Baekhyun membuang muka dan dengan kasar bangkit dari kursi.

"Dasar bodoh!" Baekhyun mengutuk. Cepat-cepat dia menghentak langkah meninggalkan Chanyeol namun pria itu tak membiarkannya begitu saja.

Chanyeol mengejar cepat dan tanpa aba-aba menarik lengan Baekhyun lantas mengukungnya pada pintu.

"Hei—" Baekhyun memekik terkejut. Dia mendongak untuk mempertemukan hazelnya dengan Chanyeol dan seketika tercenung kala tatapan lembut itu menghujaninya.

Baekhyun berdesir hanya sebuah kecupan pada kening, lembut bersama hembusan nafas hangat Chanyeol pada wajahnya

"Berjanjilah kau akan melahirkannya," berat suara pria itu dalam mengetuk hati Baekhyun.

"Berjanjilah kau akan menjadi menjadi Pappa untuknya dan membiarkanku menjadi Appa untuk bayi kita."

"Cha-Chan—"

"Berjanjilah Baekhyun," tuntut Chanyeol. Pria itu merunduk, membuat Baekhyun kian terkukung di antara pintu dan tubuh besar Chanyeol. "Atau jika tidak—" Chanyeol menggantungkan kalimatnya dan kembali menggulirkan hazelnya pada seluruh paras itu.

Baekhyun tak sadar bagaimana ludahnya terteguk payah hanya dengan menanti apa lanjutan ujaran pria yang pernah menjadi pengawalnya itu.

Chanyeol tersenyum lagi lalu berbisik, "aku yang akan memaksamu untuk berjanji melakukannya."

"Apa—" Baekhyun tak sempat mengajukan protes kala bibir Chanyeol meraup tipis miliknya tiba-tiba.

"Ayo kita menjadi orangtua yang baik, hm…"

Baekhyun memikirkan apa yang Chanyeol katakan. Kenyataan hal itu benar mempengaruhi dirinya. Baekhyun tercenung sepanjang hari, pun setelah Chanyeol pergi dengan sepiring buah yang Baekhyun inginkan.

Baekhyun mengayunkan dirinya di atas ayunan. Pandangan dia bawa jatuh pada luaran balkon dengan langit biru menjadi teman inderanya. Baekhyun tak benar menyadari pula bagaimana tangannya menapak di atas perut, perlahan bergerak dalam usapan.

Sekarang, apa yang Baekhyun pikirkan adalah… apa yang harus dia lakukan?

Untuk calon bayinya juga status baru yang akan dia miliki pula, menjadi orangtua.

Sowon baru saja turun dari mobil ketika mobil yang Chanyeol kendarai ikut berhenti di sampingnya. Pria itu keluar, tidak sendiri melainkan bersama bocah berwajah nyaris serupa dengannya turun dari kendaraan roda empat itu.

"Pengawal Park," Sowon menyapa. Masing-masing tangannya menjinjing kantung plastik belanjaan yang lekas Chanyeol ambil alih setelahnya.

"Presdir memintaku datang," Chanyeol memberitau dusta. "Aku juga akan menginap malam ini," lanjutnya.

"Oh, benarkah?" Sowon berkedip terkejut. Pasalnya Baekhyun tidak mengatakan apapun padanya mengenai Chanyeol kecuali pesan Presdir Byun Seunghyun untuk memintanya tinggal sampai kondisi Baekhyun telah lebih baik.

"Ya, jadi kau bisa pulang lebih cepat hari ini." Chanyeol melebarkan senyum.

Sowon tersenyum kikuk sebelum akhirnya mengangguk paham lantas bergulir pada Deokjun yang berdiri di samping Chanyeol.

"Lihat, siapa Jagoan ini?" perempuan itu membungkuk di hadapan Deokjun dan mengusak puncak kepalanya.

"Selamat sore, aku Park Deokjun." Deokjun memperkenalkan diri sembari menunduk. Tingkahnya yang menggemaskan itu benar menciptakan tawa Sowon dan lagi melarikan tangannya pada helai rambut halus bocah laki-laki itu.

"Dia anakku." Chanyeol memberitau.

Sowon melirik Chanyeol dalam keterkejutan, tentang Deokjun juga status yang pria itu yang baru dia ketahui. Chanyeol terlihat masih muda dan Sowon tak berpikir sebelumnya jika pria yang sempat menjadi pengawal presdir itu telah berkeluarga pula.

"A-ah…" Sowon tersenyum kikuk lagi. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Sowon menunjuk mobilnya. "Jangan lupa untuk menyiapkan obat Presdir setelah makan malam," dia mengingatkan.

Chanyeol mengangguk paham dan melangkah pergi dari halaman. Deokjun mengikuti dengan antusias dengan kepala mendongak menatap Chanyeol.

"Appa apa ini rumah hyung cantik?" dia bertanya.

"Iyups!" Angguk Chanyeol. Dia menekan angka kombinasi kata sandi dan membuka pintu lebar-lebar.

"Wah~" Deokjun berdecak kagum. "Hyung cantik pasti sangat kaya." Matanya berbinar menatap keseluruhan ruangan utama rumah itu.

Chanyeol tersenyum lembut, "Ingin menyapa hyung cantik?"

Derap langkah terdegar dari tangga membuat atensi Baekhyun tertarik pada sumber suara. Dia menoleh, sedetik kemudian seruan riang ikut kembali menyapa indera pendengarannya.

"Hyung!"

Deokjun berlari menuju Baekhyun dengan senyum lebar sarat kebahagian berbanding terbalik dengan kerjapan keterkejutan Baekhyun disana.

"Deokjun?" Baekhyun menatap menyeluruh bocah itu. "Bagaimana bisa kau berada disini?"

"Appa yang mengajakku," jawab Deokjun. "Mengapa hyung cantik tidak bilang jika berteman dengan Appa?" bibirnya yang tipis merengut.

"A-ah…" Baekhyun berubah bingung untuk jawaban.

"Hyung aku rindu~" Deokjun merengek mengatakannya. Bibirnya yang merengut maju mundur dalam kuluman membuat Baekhyun tak mampu menahan gemas untuk bocah itu. "Mengapa tidak pernah datang lagi ke sekolah? Tidak ada yang membelikanku es krim."

"Oh, jadi kau hanya rindu pada es krim yang kutraktir?" Baekhyun menatap memicing bocah itu.

"Hehe…" dua jari Deokjun melayang di udara bersama cengiran dia perlihatkan kemudian.

Baekhyun berdecih main-main, perlahan-lahan ikut tertawa. Dia menepuk sisian ayunan yang dia duduki, "kemari." Ajaknya.

Deokjun melompat riang, segera menempatkan dirinya duduk di sebelah Baekhyun dan tanpa aba-aba memeluk pinggang carrier itu. Baekhyun sedikit banyak terkesiap, namun tak menolak alih-alih balas memeluk Deokjun.

"Appa bilang hyung cantik sedang sakit?" Deokjun mendongak menatap Baekhyun di atasnya. "Hyung cantik sakit apa?" tanyanya lagi.

"Hanya flu," Baekhyun menjawab asal.

"Flu?" Deokjun mengulang, "Hyung cantik manja sekali…" dia mencicit.

"Kau bilang apa?" Baekhyun kembali mendelik. Matanya yang sipit nyaris segaris menatap kesal bocah itu.

Deokjun mengangguk lagi, tanpa rasa takut juga rasa bersalah dia menutur kembali. "Aku pernah flu tapi hanya disuruh tidur di rumah, tidak sampai masuk rumah sakit."

Baekhyun menatap Deokjun datar, "Kau tau, aku sudah lama sekali ingin mencubitmu." Lantas tanpa aba-aba segera menggelitiki pinggang bocah itu.

"Hyung ampun ampun~" Deokjun tergelak berusaha menghindari serangan Baekhyun namun tampaknya carrier itu takkan membiarkannya begitu saja.

"Rasakan kau bocah nakal!"

Kenyatannya berapa banyak Baekhyun mengusir Chanyeol dari rumahnya, si bebal Park itu tak benar ingin mendengarkan alih-alih tetap tinggal bahkan ketika malam telah beranjak kembali. Itu membingungkan bagaimana Deokjun tak terlihat ingin berjauhan dengan Baekhyun dan lelaki itu pun tak terlihat keberatan sama sekali.

Deokjun tidur di kamar yang lain bersama Chanyeol sedang Baekhyun tidur seorang diri di kamarnya.

Pengaruh obat yang Baekhyun minum membuat kantuknya menyerang cepat dan Baekhyun terbangun keesokan paginya tanpa kehadiran dua orang itu.

Baekhyun pikir Chanyeol mendengarkan apa yang dia katakan untuk segera pergi, namun nyatanya Chanyeol hanya mengantar Deokjun ke sekolah dan kembali setelahnya.

Baekhyun memperlihatkan raut wajah kesal dan enggan untuk mengakui bagaimana desir darahnya melega oleh hal itu. Chanyeol tidak pergi, Chanyeol masih disini bersamanya.

Setelah menyelesaikan sarapan yang Chanyeol siapkan untuknya, Baekhyun mandi dan berpikir untuk menonton acara televisi bersama semangkuk salad yang dia sukai. Namun nyatanya bosan menyerang cepat dan layar berakhir menghitam kembali sedang kepala bertumpu di atas meja dalam bosan tanpa tau apa yang harus dia lakukan.

Chanyeol dari lantai bawah datang menghampiri, senyumnya terulas tipis melihat Baekhyun duduk di atas permadani dengan kepala di atas meja. Dia mendekatinya diam-diam lalu tanpa aba-aba menempatkan dirinya duduk di depan lelaki itu pun dengan posisi yang sama pula.

"Yak!" Baekhyun melotot atas apa yang Chanyeol lakukan. "Kau pikir apa yang kau lakukan?" dia menyalak namun enggan untuk menarik wajahnya. "Enyahkan wajahmu dari hadapanku!"

"Setelah kuperhatikan sedekat ini, ternyata kau cantik juga." Chanyeol berucap tanpa peduli delikan yang Baekhyun arahkan padanya.

Carrier itu berdecih dalam putaran mata akan kalimat menggelikan itu.

"Serius Baek, kau memang cantik dan kupikir semakin cantik saat hamil. Err… apa itu namanya? Pregnancy glow?"

"Hentikan Chanyeol, kau membuatku mual."

Chanyeol tertawa, diam-diam membawa tangannya meraih telapak tangan Baekhyun dan meremasnya dengan lembut. Carrier itu terkesiap dengan pundak menegang atas apa yang Chanyeol lakukan. Dia hendak menarik tangannya dari genggaman itu ketika bisikan Chanyeol menguar hangat dalam inderanya.

"Sekali lagi, untuk apa yang terjadi di masa lalu… maafkan aku," Chanyeol berucap. Sipit Baekhyun bertaut dalam pada hazel itu, perlahan tenggelam dalam pusaran dambaan. Chanyeol mendekatkan dirinya, meraih bibir Baekhyun dan mengecupnya sekali sebelum benar membelitnya dalam pangutan.

Baekhyun mengerjab, tak menyangka akan ciuman tiba-tiba yang Chanyeol lakukan. Dia lekas menarik diri dan menegakkan tubuhnya untuk duduk. Chanyeol melakukan hal yang sama kecuali kerutan bingung lagi pria itu perlihatkan atas tingkah Baekhyun itu.

"Ada apa?" Chanyeol bertanya.

Si mungil itu tak menjawab, sedang dada Chanyeol dia dorong pelan hingga menciptakan spasi di antara tubuh mereka. Baekhyun mendongak perlahan dan membiarkan sipitnya menjelajahi paras tampan Chanyeol di atas sana.

"Aku akan mempertahankannya," Baekhyun berkata nyaris tak terdengar. Namun nyatanya itu mampu menciptakan senyum secerah matahari dari Chanyeol. Lega tersusupi dan Chanyeol tak mampu menahan diri untuk tidak memeluk lelaki mungil itu.

Namun untuk kedua kalinya, Baekhyun mendorong dada Chanyeol—menolak dan lagi menciptakan kerutan pada kening pria tinggi itu.

"Aku akan melahirkannya dan merawatnya… sendiri."

Senyum Chanyeol benar mengilang, "Apa?" suaranya terbata.

"Ayo kita akhiri semuanya disini Chanyeol, apa yang telah terjadi di hari lalu… ayo kita lupakan semua itu dan kembali menjadi orang asing."

"Baekhyun—"

"Aku tak ingin memiliki hubungan apapun denganmu, walaupun aku tengah mengandung benihmu sekarang… aku tak ingin kita memiliki hubungan lebih dari itu. Jadi, ayo untuk tidak bertemu lagi hm?"

"Baekhyun mengapa?" mata Chanyeol berubah panik untuk ujaran itu. "Apa karena aku pernah menyakitimu dulu?"

Baekhyun menggeleng.

"Lantas?" Chanyeol berubah tak sabaran. Pundak Baekhyun di rengkuhnya erat menghasilkan sebuah ringisan dari lelaki mungil itu.

"Aku hanya tak ingin." Jawab Baekhyun. "Aku hanya tak ingin bergantung kepada orang lain."

Chanyeol mencolos tak percaya. Rahangnya terbuka dan seketika seluruh kata dalam mulutnya melebur hilang.

Baekhyun menatap pria itu sekali lagi sebelum menarik diri dan beringsut pergi. Lengannya Chanyeol raih kembali dan mencengkramnya erat memaksa Baekhyun untuk kembali pada posisinya.

"Ada apa denganmu Baek?" Chanyeol benar-benar tak mampu memahami polah pikiran Baekhyun sama sekali. Lelaki itu membingungkan, sejak awal pertemuan mereka di bangku sekolah dulu, lalu sepuluh tahun kemudian hingga hari ini… Chanyeol masih tak dapat memahaminya.

"Aku baru saja mengatakannya padamu."

"Tak ingin bergantung pada orang lain?" Chanyeol mengulang, "alasan macam apa itu?" suaranya meninggi di akhir.

Baekhyun menatap Chanyeol datar dengan retina bergerak pelan menahan pelupuk yang tiba-tiba menguap.

"Apa kau lupa kita bukanlah siapa-siapa?" Baekhyun balik bertanya.

"Baek—" Chanyeol mendengus, matanya terpejam selama seperkian detik. "Kau sedang mengandung bayiku demi Tuhan!"

"Tapi itu bukan alasan kau menyukaiku 'kan?"

"Apa?" lagi untuk kesekian kalinya Chanyeol mencolos tak percaya atas apa yang Baekhyun ujarkan padanya.

Baekhyun mendengus kasar dan menarik lengannya dari cengkraman Chanyeol. "Jika kau bertanya mengapa aku menerimamu sebagai pengawalku karena kupikir aku bisa membalas semua perlakuanmu di masa lalu. Aku sudah mengawali semuanya dengan cara yang salah dan aku tak ingin membuat semuanya menjadi lebih rumit." Deru nafasnya bergulung oleh sebaris kalimat dalam suara yang meninggi.

"Kau tau aku tidak baik-baik saja Chanyeol, kau tau mentalku bermasalah lantas mengapa kau ingin tetap tinggal dengan orang gila sepertiku? Karena aku tengah mengandung anakmu, lalu apa kau pikir aku akan mati jika hanya merawatnya seorang diri?" bibir Baekhyun bergetar mengujarkan tiap patahan kalimatnya.

Chanyeol terpekur diam membiarkan indera menangkap betapa rapuhnya lelaki itu.

"Lihat, kau memang tak memiliki alasan apapun." Guman Baekhyun sedih. Dia menyeka wajahnya kasar dan mengambil langkah cepat berlalu dari sana. Chanyeol tak sempat mencegah hingga debuman pintu terdengar keras dari kamar lelaki itu.

Chanyeol menatapnya kosong bersama perasaan yang berubah kecamuk tiba-tiba.

Chanyeol hanya tak ingin mengakui jika nyatanya apa yang Baekhyun katakan merupakan hal yang benar adanya. Mereka memang tidak memiliki alasan untuk bersama. Perasaan cinta itu… mereka tidak saling memilikinya.

Baekhyun menutup berkas terakhir lalu kembali menikmati cokelat miliknya yang Sehun bawa. Baekhyun menikmatinya dengan tenang sedang Sehun menatapnya dalam diam—menunggu untuk apa yang hendak Baekhyun katakan.

"Aku memutuskan untuk mempertahankan bayi ini," Baekhyun memulai di antara kunyahan dalam mulutnya, "Aku juga berencana untuk pindah dan tinggal bersama Ayah. Jadi selama itu aku mempercayakan perusahaan padamu."

Sehun mendengus pelan mendengar hal itu, "Pada akhirnya kau memang akan memilih Park Chanyeol." Sehun berguman kecewa. "Kau pasti sangat menyukainya."

Kali ini berbalik Baekhyun yang mendengus, matanya bahkan terputar sekali—kentara akan sarat merendahkan atas apa yang pria itu katakan padanya.

"Harus berapa kali kukatakan, cinta itu hanya omong kosong." Baekhyun berdecih. "Aku tak pernah ingat mengatakan akan bersamanya, yang kukatakan adalah mempertahankan bayiku saja. Berhentilah bersikap naïf dan hidup hanya dengan tujuan memiliki cinta dan pasangan, kau tetap akan mati jika ya atau tidak memilikinya."

"Jadi?" Sehun mengerjab.

"Aku," Baekhyun menunjuk dirinya sendiri lalu mengusap perutnya. "Akan menjadi orangtua tunggal untuknya, seperti yang Ayah lakukan padaku."


bersambung


Sebenarnya ini adalah ending yang udah aku pikirin sebelum mulai ngetik chapter pertama, tapi kok rasanya rada hm hmm hmmm...

Jadi aku mutusin untuk nambah 1 chapter lagi (semoga) tapi kalo readernin ngerasa ini udah isoke(?) yowes tak end in disini wkwkwkw...

makasih yang udah sempetin baca, see you again~